Mianhae, Saranghae
.
.
.
.
.
Chapter 8
.
.
.
.
.
Minho yang masih dalam keadaan shock melihat ayah dan ibunya berteriak di hadapannya hanya bisa menatap bingung pada ayahnya yang kini sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tubuh mungilnya yang tertahan dengan sabuk pengaman membuatnya tak leluasa menjangkau wajah ayahnya yang terlihat kalut. Hingga mereka tiba di halaman rumah Siwon. Jika kalian berpikir Siwon akan kembali ke resort dan tidur di mansionnya, maka kalian salah karena Siwon kembali ke rumah orang tuanya.
"Si-Siwonnie? Ya! Anak siapa yang kau bawa? Ya! Siwonnie! Jawab Umma!" Nyonya Choi yang sedang membereskan sisa makan malam berteriak histeris ketika melihat anaknya menggendong anak kecil lucu yang sedang tidur naik ke kamarnya tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Berkali-kali Nyonya Choi mencoba untuk memanggilnya, namun namja tampan itu tak kunjung menjawab panggilannya.
"Siwonnie! Ya! Siwonnie!" Nyonya Choi berlari menaiki tangga, mengejar Siwon yang sedari tadi menulikan telinganya.
"Siwonnie buka pintu kamarmu dan jelaskan semua yang terjadi!" Ibu Siwon itu menggedor pintu kamar dengan ornament salib di depannya, berharap sang empunya kamar akan keluar.
"Aku ingin menenangkan diriku, Umma. Tolong jangan ganggu aku dan anakku." Jawab Siwon pelan setelah membaringkan Minho di ranjangnya.
"A-anak? Anak siapa yang kau maksud? Ya! Siwonnie, kapan kau punya anak?" Nyonya Choi malah lebih keras menggedor pintu kamar putranya, bahkan sedikit menendang.
"Nanti setelah aku tenang akan aku beritahu. Sudahlah Umma, pergilah dari depan pintu itu." Siwon malah mengusir halus ibunya yang masih setia menunggunya di depan pintu.
"Ya! Kau berhutang penjelasan pada Umma! Awas kalau kau tidak menjelaskan semuanya, Umma pastikan akan memata-mataimu nanti!" Marah Nyonya Choi sambil melangkah menjauhi pintu kamar putranya.
.
.
Kibum, Yunho, dan Seunggi mendatangi gereja. Kibum mencoba mencari Minho setelah Yunho yang dihubunginya untuk membantu mencari mereka memberi saran untuk datang ke gereja ini. Matanya basah karena menangis. Kakinya lemas, seakan tenaganya sudah tak tersisa. Pikirannya kalut, memikirkan nasib anaknya yang entah dibawa kemana oleh Siwon, bahkan di gereja pun ia tak menemukan mereka.
"Pastur Kim, Anda yakin tidak melihat Pastur Choi membawa Minho kemari?" Kibum mengintrogasi setiap pastur yang ada di ruangan itu. Kibum, Yunho, dan Seunggi sedang berada di aula bangunan asrama pastur. Tentu saja para pastur itu terkejut melihat kedatangan tiga orang namja yang mencari salah satu pastur mereka.
"Kami benar-benar tidak melihat Pastur Choi mendatangi gereja. Lagipula hari ini Pastur Choi tidak memiliki jadwal misa maupun jadwal mengurus panti asuhan." Jawab Pastur Kim, kepala asrama pastur di sana.
"Tapi Pastur Choi pergi dari rumah membawa anakku. Aku harus mencarinya di mana?" Kibum kembali menangis.
"Pastur Shim, coba tolong panggilkan Suster Park, mungkin dia mengetahui keberadaan Minho dan Pastur Choi." Saran Pastur Kim pada seorang Pastur di sebelahnya. Tak lama kemudian Suster Park datang tergopoh-gopoh menghampiri Kibum.
"Kibummie! Ada apa dengan Minho? Kudengar ia menghilang. Demi Tuhan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Suster Park pada Kibum.
"Suster Park, Minho dibawa kabur oleh Pastur Choi. Mereka bertengkar sebelumnya dan Pastur Choi membawa Minho. Kami pikir mereka kemari." Seunggi mewakili Kibum yang sudah menangis terisak.
"Kibummie, kami tidak melihat Pastur Choi sama sekali dari pagi. Kami pikir hari ini bukan jadwal Pastur Choi, biasanya dia akan ada di kantor ayahnya. Ah~ beberapa hari yang lalu Pastur Choi sempat bilang bahwa dia memiliki rumah baru. Mungkin dia ada di sana." Sahut Suster Park lagi. Tak lama kemudian mereka berpamitan untuk ke resort Siwon yang disebut sebagai rumah barunya.
Di resort Siwon…
"Maaf, kau lihat Direktur Choi kemari? Ah, aku Jung Yunho, sepupu Direktur Choi." Yunho mencegat seorang karyawan resort itu untuk menanyakan keberadaan Siwon.
"Maaf Tuan, Direktur Choi sudah pergi bersama anaknya sekitar pukul 7 tadi, setelah itu Direktur tidak kembali lagi kemari." Sahut karyawan itu.
"Apa… Direktur Choi tidak memberitahu kapan akan kembali?"
"Sepertinya tadi Direktur Choi mengatakan tidak akan kembali jadi Beliau menyuruh kami untuk membersihkan mansion besok sekaligus menyiapkan kamar bagi Presdir Choi." Jawab karyawan itu lagi.
"Baiklah, jika dia kembali katakan aku mencarinya." Yunho melangkah keluar dari resort itu dengan langkah gontai. Kibum yang sedari tadi menunggu di mobil menyambutnya dengan gelisah. Sedangkan Seunggi sudah permisi terlebih dahulu karena ada panggilan pasien.
"Hyung, otte? Siwon Hyung ada di sana? Dia bersama Minho? Apa Minho sudah makan malam?" Kibum bertanya bertubi-tubi pada Yunho yang hanya menjawab seluruh pertanyaan itu dengan gelengan. Kibum mendadak merasa lemas lagi, seakan-akan kehilangan seluruh tulang yang menyangga tubuhnya ketika melihat gelengan kepala Yunho.
"Bummie, Hyung tahu satu tempat lagi, tapi Hyung sedikit ragu apakah Siwonnie akan datang ke sana atau tidak." Yunho terlihat ragu, entah tebakannya benar atau tidak bahwa sepupunya ada di tempat tersebut.
"Bawa aku ke sana, Hyung. Aku harus memastikan sendiri bahwa dia ada atau tidak di sana." Kata Kibum yang sekarang sudah mengencangkan sabuk pengamannya.
"Baiklah, kita berangkat ke sana. Tolong siapkan mentalmu, Bummie. Kita akan ke rumah mertuamu sekarang juga." Jawab Yunho lagi sambil menatap Kibum yang sudah membelalakkan matanya. Jadi maksud Yunho adalah rumah Tuan dan Nyonya Choi? Oh, demi Tuhan, Kibum bahkan tidak pernah berani bermimpi akan menginjak rumah itu.
.
.
"Ummaaaaaa… Aku dan anakku lapar, apa ada makanan?" Siwon mengetuk pintu kamar orang tuanya. Setelah sedikit menunggu, Nyonya Choi dan Tuan Choi kemudian keluar kamar.
"Anak nakal! Bagaimana mungkin kau pulang dengan seorang anak? Anak siapa itu? Jelaskan padaku!" Nyonya Choi yang keluar membawa bantal guling langsung memukuli Siwon dengan bantal itu.
"Aw, Umma, anakku juga kena pukul. Aduuh, Appa, selamatkan Minho dari amukan Umma juseyo!" Siwon sibuk menangkis pukulan bantal dari ibunya, sedangkan Minho yang tadi digendongnya sudah berpindah ke gendongan Tuan Choi.
"Minho? Jadi anak itu Minho? Cucuku… Mianhae, apa Halmeoni menyakitimu?" Nyonya Choi menghentikan pukulannya pada Siwon kemudian membelai halus rambut Minho. Bocah laki-laki 3,5 tahun itu menyembunyikan wajahnya pada dada kakeknya.
"Gara-gara kau cucu kita jadi ketakutan. Kita setiap hari memimpikan dia ada di gendongan kita, tapi kau malah membuatnya ketakutan, Yeobo." Tuan Choi menimang-nimang tubuh Minho yang sedikit bergetar. Anak itu sudah cukup shock dengan pertengkaran orang tuanya tadi sore, ditambah lagi insiden pemukulan ayahnya oleh neneknya sendiri.
"Mianhae, Minho-ya, ayo sini sama Halmeoni, kita makan enak. Kau suka udang? Meoni akan memanaskan sup udang untukmu." Nyonya Choi menggendong Minho turun ke dapur, menghangatkan sup udang kemudian mendudukkan Minho di kursi makan.
"Tadi saja marah-marah, sekarang perhatiannyaaaaa…." Siwon menyindir sikap ibunya yang tiba-tiba saja baik pada Minho.
"Itu hanya berlaku pada Minho karena Umma tahu bahwa Minho cucu kan… Ups!" Nyonya Choi menutup mulutnya ketika dirasa dirinya salah bicara.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku? Apa kalian mengetahui sesuatu?" Siwon menatap tajam kedua orang tuanya
"Begini, Siwonnie, kemarin Appa sudah menceritakan bagaimana Minho pada Umma. Sepertinya Umma juga ingin cepat-cepat punya cucu, jadi Umma sudah mengganggap Minho cucu kandungnya, sama seperti Appa. Bukankah begitu, Yeobo?" Tuan Choi berakting lagi di depan Siwon. Sementara istrinya sudah mengangguk cepat mengiyakan perkataan suaminya.
"Benarkah?" Tanya Siwon sambil menyeruput supnya dan kedua orang tuanya hanya mengangguk mengiyakan.
Siwon memilih melanjutkan makan malamnya bersama Minho. Suasana ruang makan itu seketika menjadi tenang. Tuan Choi memilih untuk memotong buah-buahan yang kemudian dijadikannya salad sementara Nyonya Choi menyuapi Minho. Tak lama kemudian, setelah mereka selesai makan, Siwon membawa Minho kembali ke kamar dan kedua orang tuanya ke ruang tv untuk sekedar bersantai. Hampir setengah jam pasangan suami istri itu bersantai dan tanpa mereka sadari ada seorang namja tampan dan tinggi memasuki rumah dan menghampiri mereka.
"Jumma… Jussi… Yunnie datang mencari Siwonnie, apa dia ada?" Yunho langsung mendudukan dirinya setelah memeluk sekilas bibi dan pamannya dari belakang.
"Yunnie, Jussi kira siapa yang memeluk kami. Siwonnie sudah tidur. Ada apa kau mencari Siwonnie malam-malam begini? Ini sudah hampir jam 11 malam." Tuan Choi membenarkan letak kacamatanya sambil menatap Yunho.
"Ada yang ingin bertemu dengan Siwonnie."
"Nugu? Ada apa memangnya? Malam-malam begini?" Nyonya Choi terlihat penasaran pada Yunho.
"Cakhanman, aku panggil orangnya." Yunho kemudian berdiri lalu menemui orang yang sedang duduk di ruang tamu.
"Hyung… Shireo…" Kibum yang melihat kedatangan Yunho langsung menggeleng lemah, entah apa yang ditakutkannya.
"Kajja Bummie, katanya kau mau bertemu Minho." Yunho menarik tangan Kibum mengajaknya bertemu dengan kedua orang tua Siwon.
"Omo! Minho Umma!" Pekik Nyonya Choi setelah melihat orang yang diseret oleh Yunho di belakangnya.
"A-a-annyeong haseo, Presdir Choi, Nyonya Choi." Kibum membungkuk gugup. Jantungnya berdebar kencang dan tangannya sudah sedingin es.
"Duduk dulu. Oh, ada apa ini? Matamu bengkak, kau habis menangis?" Tuan Choi menghampiri Kibum dan duduk di sebelahnya. Nyonya Choi juga ikut duduk di sebelah Kibum, menghapus jejak air matanya yang masih membentuk garis di kedua pipi bulatnya.
"Presdir, Nyonya… Aku…" Ucapan Kibum terputus oleh protes yang dilayangkan oleh Nyonya Choi. "Eeei, panggil kami ahjumma dan ahjussi atau kau bisa memanggil kami appa dan umma. Katakan ada apa kau kemari diantar oleh Yunho?"
"Ne? Aku… Aku mana mungkin memanggil…" Kalimat Kibum terputus setelah melihat pandangan mata menuntut dari Tuan dan Nyonya Choi. "Ah, aku mencari Minho. Siwon Hyung membawanya. Siwon Hyung emosi, jadi aku takut Siwon Hyung akan mencelakai dirinya sendiri dan Minho." Cerita Kibum pasrah, walau hatinya terasa sedikit janggal dengan sambutan orang tua Siwon. Apa mereka tahu yang sebenarnya?
"Aigoo, mereka baik-baik saja. Siwonnie dan Minho ada di kamarnya, baru saja naik setelah makan malam. Sebenarnya ada apa?" Nyonya Choi menjawab keresahan Kibum.
"Siwon Hyung melihatku berpelukan dengan mantan sunbaeku. Sebenarnya kami hanya melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, tapi dia menuduhku berciuman dengan sunbaeku, lalu dia pergi membawa Minho karena marah padaku dan tidak mau mendengar penjelasanku. Aku… Hiks… Aku… Hiks.. Hiks…" Sahut Kibum sambil terisak lagi. Kedua tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya.
"Sudahlah, kami sebenarnya sudah tahu hubungan kalian. Siwonnie adalah ayah kandung Minho, benarkan? Siwonnie cemburu melihat mantan istrinya bersama orang lain." Tuan Choi seenaknya memberikan pendapat.
"N-ne… Siwon Hyung mantanku. Dia ayah kandung Minho. Dan aku masih sangat mencintainya. Aku tidak berniat mencari penggantinya selama ini. Aku bertahan walaupun dia selalu menggantung perasaanku. Tapi dia adalah namja yang bertanggung jawab dengan anaknya. Aku selalu percaya bahwa Siwon Hyung akan selalu melindungiku dan Minho. Karena itu…" Kibum dengan gamblangnya menjelaskan hubungannya dengan Siwon. Entah kenapa dengan sangat mudahnya ia mengakui semuanya. Tapi belum selesai ceritanya Siwon muncul di ruangan itu sambil berkacak pinggang.
"Jika kau memang masih mencintaiku, lalu bagaimana dengan apa yang aku lihat dengan mataku?" Tanya Siwon dengan aura marah dan berapi-api.
"Siwonnie!" Semua yang ada di ruangan itu kaget melihat kemunculan namja berlesung pipi itu.
"Demi Tuhan, Choi Siwon, aku tidak berciuman dengan Lee Seunggi seperti yang kau tuduhkan!" Kibum berdiri menghampiri Siwon dan mencoba menerangkan permasalahannya lagi.
"Aku tidak peduli dengan yang kau katakan padaku! Lebih baik jika kau pergi dan jangan ganggu Minho. Mulai hari ini Minho tanggung jawabku." Usir Siwon pelan sambil membalikkan tubuhnya.
"Siwonnie, kau tidak bisa seenaknya saja memisahkan ibu dan anaknya! Aku tidak akan mengijinkanmu!" Yunho yang sebenarnya juga emosi melihat keegoisan sepupunya mencoba menengahi.
"Lebih baik kau diam, Hyung! Aku tidak meminta pendapatmu untuk mencampuri urusan rumah tanggaku!" Bentak Siwon pada Yunho, tak lama kemudian terjadi kasus Yunho yang memukuli wajah Siwon karena saking kesalnya.
"Rumah tangga katamu? KAU BAHKAN TERLALU BANYAK MENYAKITI KIBUMMIE! Kau berani menyebut hubungan kalian sebagai sebuah rumah tangga?" Yunho melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah sepupunya. Siwon pun membalas pukulan Yunho hingga tak menyadari Minho terbangun dan keluar kamar. Namja kecil itu mencoba mencari ayahnya dan menemukan ibunya sedang didorong oleh ayahnya saat akan melerai perkelahian ayah dan pamannya.
"Ummmaaaaaaaa! Kenapa Umma menangis? Appa jahat! Kenapa Appa buat Umma menangis?" Minho berlari ke arah ibunya sambil sesenggukan. Segera Kibum memeluknya erat, tak dihiraukannya sakit di kepalanya yang sempat membentur ujung meja. Sementara Siwon sudah menghentikan pukulannya pada Yunho.
"Umma kenapa? Huweee~~" Minho menangis tersedu, kedua tangan mungilnya menangkup pipi ibunya.
"Umma tidak apa-apa. Minho baik-baik saja? Ada yang luka, huh?" Kibum melepas tangan Minho kemudian memeriksa tubuh anaknya, mungkin saja Siwon melakukan penganiayaan pada anaknya.
"Ani, Minho baik-baik caja. Umma uljima~~" Minho mendekap erat ibunya, mencoba menghibur sosok orang yang melahirkannya itu. Tapi sayang, moment ibu dan anak itu harus cepat terpisah. Siwon menarik tangan Minho dan menjauhkannya dari Kibum.
"Minho, naik ke kamarmu!" Bentak Siwon pada anaknya.
"Chileo!"
"Turuti kata-kata Appa!"
"Chileo! Minho tidak mau punya Appa yang membuat Umma menangis! Pastul Choi jahaaat!" Minho menggigit tangan Siwon yang menarik tangan mungilnya hingga tangan ayahnya terlepas dari tangannya. Minho berlari pada ibunya yang segera merengkuhnya dalam pelukan hangat.
Melihat moment ibu dan anak itu, Yunho berinisiatif untuk mengamankan Siwon sebelum sepupunya itu ingin memisahkan mereka lagi. Tuan Choi membantu Kibum berdiri, memapah namja cantik itu dan membiarkan istrinya menggendong Minho.
"Yeobo, kita ungsikan Kibummie dan Minho ke ruang baca. Siwonnie biar Yunho yang mengurusnya." Ajak Tuan Choi meninggalkan ruang tv yang terlihat sedikit kacau itu. Yunho membungkuk sekilas melihat kepergian paman dan bibinya. Setelahnya mereka benar-benar menghilang, Yunho mendorong tubuh Siwon ke atas sofa.
"Hei, Siwon-ah, ini bukan kau. Ini bukan dirimu. Kau sedang dikuasai setan mana, eoh?" Yunho ikut menghempaskan dirinya di atas sofa dan memijat keningnya yang terasa pening.
"Kibummie selingkuh di depanku."
.
.
Kibum masih sesenggukan menangis di hadapan orang tua Siwon. Minho juga masih betah duduk di pangkuan ibunya. Sedangkan kedua orang tua itu menatap iba pada keduanya. Nyonya Choi menghela napas berkali-kali dan suaminya hanya bisa melihat tanpa bicara.
Tok… Tok… Tok…
"Nyonya, ini teh yang Nyonya minta." Seorang maid datang dengan nampan di tangannya. Maid itu menaruh tiga cangkir teh di atas meja dan segelas susu cokelat kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu setelah tugasnya selesai.
"Minho sini sama Meoni saja. Biarkan ummamu minum supaya tenang." Nyonya Choi mengambil Minho dari pangkuan Kibum. Bocah kecil itu menurut, ia mulai meminum susu cokelatnya di pangkuan sang nenek dan membiarkan ibunya meminum teh hangat untuk menenangkan dirinya.
"Kibummie, kami sebenarnya sudah lama ingin kalian tinggal di sini. Kami ingin sekali rumah ini jadi lebih berwarna karena kehadiranmu dan Minho, Kibummie." Ucap Tuan Choi memulai perbincangan dengan jujur pada Kibum.
"Ta-tapi… Kenapa harus kami?" Tanya Kibum linglung. Ia tak menyangka kedua orang tua Siwon menginginkannya untuk tinggal di rumah mereka.
"Yeobo, keluarkan…" Perintah Tuan Choi pada istrinya yang sedang berjalan menuju sebuah rak. Nyonya Choi mengambil sebuah kotak seperti brankas kecil berwarna biru dari dalam lemari yang ada pada rak itu.
"Ini semua kami temukan di kamar Siwonnie beberapa bulan yang lalu. Kami pikir, kau adalah mantan istri Siwonnie sebelum dia jadi pastur. Benarkah itu?" Tanya Nyonya Choi sambil mengeluarkan satu per satu benda yang ada dalam brankas itu. Ada foto, cincin kawin, dan beberapa berkas termasuk fotokopi akta kelahiran dan akta baptis Minho.
"Ani, itu tidak benar. Siwon Hyung tidak pernah menikahiku." Jawab Kibum mengelak. Karena seingatnya ia tak pernah mengikat janji sehidup semati bersama Siwon.
"Mwo? Lalu, Minho…" Tuan Choi nampak terkejut, tak percaya bahwa sesungguhnya anaknya tak pernah menikah. Jadi cucunya adalah anak hasil hubungan di luar nikah?
"Aku hamil dan Siwon Hyung tidak mau bertanggung jawab awalnya. Aku meninggalkannya dan dia punya kekasih baru. Sampai suatu hari aku akan melahirkan Minho, kami kembali bertemu di gereja. Saat itu dia belum jadi pastur. Siwon Hyung menemaniku melahirkan dan memberikan nama pada anaknya sebelum pergi ke Jepang empat jam setelah kelahiran anaknya. Dia memberi nama Choi Minho pada anak ini." Cerita Kibum panjang lebar. Hampir seluruhnya diceritakan oleh Kibum dan didengarkan dengan seksama oleh Tuan dan Nyonya Choi.
"Begitulah kejadiannya sampai kami bertemu lagi saat aku akan membaptis Minho. Entah memang kehendak Tuhan atau bagaimana aku juga tidak tahu bahwa Siwon Hyunglah yang membaptis anaknya sendiri." Kibum mengakhiri ceritanya.
"Jadi Siwonnie sendiri yang membaptis Minho? Oh, ini pasti sudah jadi rencana Tuhan." Pekik Nyonya Choi.
"Aku juga berpikiran begitu. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk hidup seperti ini. Kami masih saling mencintai, tapi terhalang oleh status Siwon Hyung. Bagiku hidup dengan Siwon Hyung dan Minho saja sudah cukup. Aku tidak berani bermimpi Siwon Hyung akan melepas kepasturannya dan menikahiku." Ujar Kibum dengan penuh kepasrahan. Kibum bahkan tak berani menatap mata Tuan dan Nyonya Choi.
"Apa yang terjadi malam ini menggambarkan besarnya perasaan di antara kalian berdua. Berhentilah menyiksa diri kalian dan mulailah hidup layaknya sebuah keluarga. Appa akan membicarakannya dengan pihak gereja besok." Saran Tuan Choi bijak pada Kibum.
"Jangan. Aku mohon, ijinkan Siwon Hyung mengabdi pada Tuhan. Lebih baik aku yang mengalah. Asalkan Siwon Hyung selalu ada untuk Minho itu sudah cukup. Sangat cukup, hiks…" Kibum kembali menangis. Nyonya Choi menghampirinya kemudian memeluknya.
Sementara di ruang tamu…
"Kau mengatakan Kibummie selingkuh? Memangnya kau siapanya? Kau pacarnya? Suaminya? Kau hanya ayah dari anaknya. Kau bukan siapa-siapanya lagi. Apa hakmu untuk melarang Kibummie berhubungan dengan namja lain?" Yunho berkata sinis pada Siwon. Yunho geram, seakan-akan Siwon benar-benar keterlaluan dengan hubungan rumitnya bersama Kibum.
"Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya, Hyung." Kata Siwon sedikit berbisik. Jika saja Yunho tidak berada di sampingnya mungkin ia tidak akan mendengar kata yang diucapkan Siwon.
"Berhentilah menjadi pastur dan nikahi dia."
"Sudah pernah kulakukan. Aku mengajukan pengunduran diri, tapi gereja menolaknya. Katanya mereka tidak bisa membiarkanku pergi begitu saja." Siwon melemah, seberkas keraguan tergambar jelas di wajahnya.
"Lalu mereka membiarkan seorang pastur di gereja mereka mendua?"
"Ne, aku memang mendua. Mencintai Tuhan dan Kibummie. Aku tidak bisa memilih salah satu di antara keduanya."
"Kalau kau kembali menghamili Kibummie, apa mereka akan menolak pengunduran dirimu sekali lagi?" Saran Yunho dengan nada serius.
"Hyung… Bagaimana mungkin kau mengajukan saran sekonyol itu?" Siwon memukul lengan Yunho sambil memasang wajah masam. Hei, sadarkah kau Choi Siwon, bahwa saran itu benar-benar serius dilontarkan sepupumu?
"Aku tidak bisa melihat sepupu dan iparku menderita karena menahan perasaan kalian masing-masing. Pikirkanlah itu. Aku pergi dulu, kasihan Jaejoong dan Changmin di rumah. Ini sudah hampir tengah malam." Yunho berdiri, mengelus pelan kepala Siwon layaknya anak kecil. Wajar Yunho melakukan itu, Siwon adalah adik sepupu yang paling dekat dengannya sejak kecil.
Nyonya Choi menutup pintu kamar Jiwon, putri bungsunya, yang dipinjam oleh Kibum dan Minho untuk semalam ini. Kebetulan pemiliknya sedang kuliah di London, jadi kamar itu sedang kosong. Nyonya Choi menghela nafas berat ketika melihat putranya duduk dengan tatapan kosong di ruang tamu memegang cangkir kopi di tangannya. Tanpa memperdulikan anaknya, Nyonya Choi melangkah memasuki kamarnya.
"Mereka sudah beristirahat?" Tanya Tuan Choi ketika melihat istrinya memasuki kamar mereka.
"Minho sudah tidur dari tadi, Kibummie juga sudah tidur. Aku mengusap rambutnya sebentar dan dia memanggilku umma dalam tidurnya. Aku tidak menyangka menantu kita beban hidupnya sangat berat, tidak akan seberat ini jika anakmu yang bodoh itu tidak melukai perasaannya. Aku rasa aku mulai menyayanginya, terlebih saat tahu bahwa dia seorang yatim piatu." Nyonya Choi menatap suaminya sambil mengerutkan dahinya. Kepalanya terasa berat memikirkan semua hal yang baru saja diketahuinya.
"Jangan menyebut Siwonnie itu hanya anakku. Dia anakmu juga. Sudahlah, mereka sudah dewasa, anak mereka juga sudah tiga tahun. Mereka pasti bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Masalah kau menyayangi Kibummie, aku juga merasakan hal yang sama. Dia menantu yang sangat baik." Tuan Choi menyandarkan kepala istrinya di pundaknya. Membantu meringankan kekhawatiran istrinya.
"Ne, aku hanya khawatir Kibummie tidak bisa menyelesaikan kuenya besok untuk acara grand opening resort Siwonnie besok." Ujar Nyonya Choi setengah bercanda.
"Tenang saja, aku sudah menyuruh Shindong, bos Kibummie membereskannya. Ah, Yeobo, aku berpikir untuk mewariskan sebagian kekayaanku pada Minho."
"Ne? Kau akan mewariskan hanya sebagian? Kenapa tidak semuanya?" Nyonya Choi memukul dada suaminya dengan bantal guling.
"Aku hanya berjaga-jaga, siapa tahu kita punya cucu kedua, ketiga, atau bahkan sebelas cucu nantinya. Aku hanya ingin adil pada setiap cucuku. Kenapa kau senang sekali memukul sih?" Tuan Choi memegang tangan istrinya yang hendak memukulnya lagi.
"Oh, aku kira kau pelit pada Minho. Aku setuju, kita buatkan akta waris secepatnya. Ingat Kiho, S-E-C-E-P-A-T-N-Y-A!" Nyonya Choi memandang suaminya dengan pandangan mengintimidasi hingga suaminya hanya mengangguk cepat.
Pagi hari menjelang, Siwon telah menghilang dari rumahnya. Namja tampan itu harus mengecek persiapan terakhir sebelum sore nanti ia mengadakan hajatan pembukaan resort terbarunya. Siwon bahkan tampak serius melakukan pekerjaannya. Keringat membasahi tubuhnya, karena ia sendiri ikut membantu karyawannya menyiapkan pesta. Sejenak terbayang di benaknya wajah sedih Kibum yang mungkin sedang membuat kue pesanan ayahnya. Sedikit rasa bersalah terbersit dalam hatinya.
"Pastur Choi, Kibummie mengirimkan kue pertamanya pagi ini. Katanya ini tidak masuk hitungan orderan. Ini kue untuk para karyawanmu. Kasihan mereka lelah bekerja siang dan malam." Shindong, bos toko kue tempat Kibum bekerja datang ke resort sambil membawa dua kotak besar kue.
"Shindong Hyung, ini berlebihan. Kibummie masuk hari ini?" Siwon menerima kotak kue itu kemudian menyerahkannya pada karyawannya.
"Tidak, dia menakar bahan adonan kue ini kemarin, aku hanya mencampur semua bahan dan memanggangnya. Setelah jadi, aku bawa kemari." Shindong berkata sambil menaruh beberapa botol minuman cola yang ternyata juga disiapkan oleh Kibum kemarin.
"Oh, bagaimana pesanan ayahku?"
"Kibummie bilang dia akan bekerja di rumah untuk sebagian kuenya. Sebagian lagi, dia menyuruh beberapa asistennya yang mengerjakannya di toko. Kalau boleh tahu kenapa Kibummie tidak masuk hari ini?" Shindong seperti penasaran dengan absennya Kibum hari ini. Tak biasanya namja cantik itu absen tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Dia tidak memberi kabar apapun padaku." Siwon mengendikkan bahunya, pura-pura tidak tahu dengan alasan absennya Kibum.
"Baiklah, aku kembali ke toko. Aku pastikan jam 5 sore nanti kue-kue itu akan meluncur ke tangan Pastur Choi." Shindong pamit sambil melambaikan tangannya yang dibalas lambaian tangan juga oleh Siwon.
"Hahaha… Arraseo, Shindong Hyung. Ah, datanglah bersama Nari Noona dan Sekyung nanti sore!"
.
.
Rumah mewah itu dipenuhi aroma kue-kue harum yang dibuat Kibum. Ini adalah jenis kue ketiganya, sesuai pesanan mertuanya Kibum membuat masing-masing 50 buah dari 10 jenis yang dibuatnya. Tangannya yang cekatan, mood yang baik, dibantu beberapa koki dan maid keluarga Choi, kini Kibum mengolah adonan jenis kue keempatnya. Oven besar yang diletakkan di teras belakang rumah dan juga berkilo-kilo bahan kue serta alat-alatnya itu dibeli langsung oleh Tuan Choi dan Kibum tadi pagi untuk membantu tugas menantunya. Nyonya Choi juga terlihat sibuk bertanya pada Kibum mengenai bahan-bahan makanan yang diminta oleh menantunya sejak jam 6 pagi tadi. Belum lagi Minho yang sudah bermain dengan adonan kue di mangkuk kecil yang diberikan ibunya karena bocah lucu itu tak henti merengek ingin ikut membuat kue.
"Kibummie ~ ~ Umma boleh menaburkan kismis di cake chiffon ini?" Nyonya Choi memegang mangkuk berisi kismis yang sudah direndam dengan rose wine oleh Kibum. Ah, rupanya Nyonya Choi sudah merayu menantunya. Berkali-kali Kibum memanggilnya 'Nyonya' tapi sekian kali juga Nyonya Choi mencoba mengajarkan Kibum memanggilnya 'Umma' dan berhasil, pagi ini Kibum memanggil kedua orang tua Siwon dengan sebutan 'Appa' dan 'Umma'.
"Tentu, Umma boleh menaburkannya, tapi jangan terlalu banyak, nanti rasa cranberriesnya hilang. Akan lebih baik jika Umma mencincangnya terlebih dahulu, rasa wine dalam kismisnya akan keluar bersama aroma kismisnya sendiri." Ujar Kibum seraya tersenyum pada ibu mertuanya. Kibum tak menyangka orang tua Siwon akan sangat baik dan menyayanginya. Coba saja sejak dulu Siwon menikahinya.
"Tuan Muda, ini harus aku apakan? Tepungnya sudah aku ayak, gula halusnya juga sudah, lalu apa aku harus memasukkan telur dan mengocoknya?" seorang maid yang sedang memegang mangkuk berisi tepung terigu menghampiri Kibum yang sedang mengolah bahan segar seperti buah jeruk yang diambil daging buahnya, kiwi, strawberry, dan beberapa buah segar lainnya untuk toping kue tart yang akan dibuatnya.
"Jangan memanggilku tuan muda, aku tidak nyaman dengan panggilan itu. Semua asistenku di dapur memanggilku oppa. Jadi panggil saja aku Kibum Oppa, Bummie Oppa, terserah kalian saja. Nah, sekarang kocoklah telurnya secara terpisah lalu tambahkan margarine cair, baru kau masukkan tepungnya perlahan. Gunakan speed kencang untuk mengocok telur dan gunakan spatula saat kau masukkan tepungnya." Kibum mencontohkan cara mengocok telur pada maid itu.
"Kau lebih pantas dipanggil unnie, Kibummie. Atau seongsaenim, kau mengajarkan kami membuat berbagai jenis kue. Umma rasa Umma akan membuat toko kue sendiri nanti berkat ajaranmu." Kelakar Nyonya Choi.
"Hahaha… Tapi aku tetaplah namja, Umma. Kalau Umma membuat toko kue sendiri, maka aku tidak akan mau jadi pegawai Umma. Karena aku mau jadi bosnya dan Umma jadi bakernya."
"Hahahaha… Kau pintar bercanda. Ini, sudah jadi, tinggal masukkan dalam oven kan?" Nyonya Choi menunjukkan loyang berisi adonan kue yang tadi dibuatnya.
"Ne, tolong masukkan dalam oven, Umma." Kibum membuka pintu oven, membiarkan mertuanya memasukkan adonan kue chiffon yang dibuatnya.
.
.
Hari semakin sore dan pesta pembukaan resort akan segera dimulai. Siwon menyambut kedatangan tamunya dengan antusias. Begitu juga dengan ayah dan ibunya yang sedang bersama Minho. Tangan keduanya tidak lepas dari tangan mungil Minho. Sementara Kibum merasa aman meninggalkan Minho bersama mertuanya selama ia mengecek kue hasil karya asistennya. Satu per satu kolega dan rekan bisnis keluarga Choi datang ke pesta itu. Siwon juga menyempatkan diri menghampiri teman-temannya semasa kuliah dulu bersama Kibum, yaitu Yesung-Ryeowook, Kyuhyun-Sungmin, Donghae-Eunhyuk.
"Selamat Siwonnie, kau punya resort baru. Boleh dong aku membuka cabang Mouse Rabbit di sini?" Seorang namja tampan dengan kepala besar menyambut kedatangan Siwon ke tempat duduk mereka bersama.
"Hahaha.. Yesung Hyung, Ryeowookie, Donghae-ah, Eunhyuk Hyung, Sungmn Hyung, Kyuhyunnie, dan… Siapa anak manis ini?" Siwon mencoba menggendong seorang bayi laki-laki gendut.
"Kenalkan, ini Kim Jongin, alias Kai. Bayi kami yang baru lahir." Yesung mengambil kembali anaknya yang terlihat mulai menangis.
"Ah, kalian sudah punya bayi lagi! Aku jadi iri." Siwon mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal mengetahui sahabatnya bahkan bisa punya anak lagi.
"Berhentilah jadi pastur lalu buat anak yang banyak dengan Kibummie!" Yesung memukul pelan bahu Siwon, membuat namja berstatus pastur itu salah tingkah.
"A-ah~ ne… Akan kupikirkan saranmu, Hyung." Ujar Siwon dengan gugup kemudian beralih pandangan di sekitar 6 namja tersebut, mencari namja-namja kecil yang jadi sahabat anaknya
"Anak-anak di mana? Apa mereka tidak ikut?" Siwon mencoba mencari Onew, Jonghyun, Key dan Jino.
"Tuh, sedang bersama Minho. Eh, kami ingin membagi kabar gembira padamu." Sahut Donghae yang sedang memeluk istrinya, Eunhyuk sambil mengelus perutnya.
"Kabar apa?"
"Hyukkieku sedang hamil lagi! Tidak hanya Hyukkie, Sungmin Hyung juga sedang hamil." Donghae menunjuk Sungmin dengan dagunya.
"Wow! Chukkae! Aku turut senang." Ujar Siwon tulus. Ia pun ingin punya seorang anak lagi, tapi…
"Kuda Hyung! Kau tidak ingin punya anak lagi?" Seorang namja evil memanggilnya di tengah-tengah lamunannya tentang seorang anak.
"Dasar setan! Jangan memanggilku kuda di depan banyak orang begini! Sungmin Hyung, kau tahan punya suami evil seperti dia?" Siwon menjewer telinga sahabat yang sudah seperti dongsaengnya sendiri itu.
"Jangan pedulikan setan ini. Kalau perlu bacakan alkitab untuknya agar setan dalam tubuhnya menghilang." Ucap Sungmin cuek sambil melahap beberapa kue buatan Kibum.
"Baiklah, suruh dia datang ke gereja, akan aku baptis ulang dia agar malaikat yang baik hati mengusir setan dalam tubuhnya." Siwon melepas tangannya dari telinga Kyuhyun.
"Kurang ajar kau, Hyung. Eh, serius tidak mau nambah anak lagi? Tadi kami menghampiri Kibum Hyung, katanya dia ingin punya anak lagi tuh. Hehehe… Cepatlah menyusul, kasihan Minho sendirian." Kata Kyuhyun sambil melirik kepada Kibum yang sedang membagikan cupcakes pada anak-anak mereka di sudut ruangan.
"Aku pastur, Kyu." Siwon mencoba mengingatkan Kyuhyun.
"Makanya, berhenti dari gereja lalu ajak Kibum Hyung bercinta. Akan aku pinjamkan buku jurus bercinta terbaru. Kau kan sudah lama tidak melakukannya, jadi pasti sedikit kaku." Kyuhyun berbisik pada Siwon hingga wajah pastur tampan itu memerah. Walaupun berbisik, suara Kyuhyun tetap terdengar di antara yang lainnya. Dan lihatlah pasangan Yewook dan Haehyuk sudah terkikik geli mendengarnya.
"Ehm, aku rasa tidak perlu. Terima kasih, Kyu." Siwon menjauhkan dirinya dari Kyuhyun.
"Oke, kalau kau membutuhkan buku itu, aku akan dengan senang hati meminjamkannya untukmu." Kyuhyun mengeluarkan sebuah buku dari balik jasnya, Siwon membelalakkan matanya, tak habis pikir bagaimana dongsaengnya itu bisa membawa buku seperti itu ke pestanya.
"Ehm… Kyu!" Siwon memberi deathglare terbaiknya pada Kyuhyun namun namja evil itu malah asik mengobrol dengan yang lainnya. Merasa dicueki, Siwon beralih hendak menghampiri Kibum, Minho dan kawan-kawannya.
"Opppaaaaaaaaa!" Suara seorang yeoja menghentikan langkahnya. Dicarinya sumber suara itu dan ia menemukan seorang gadis dengan hanbok berwarna merah-ungu dan rambut yang ditata cantik menghampirinya.
"Jiwon-ah, kau pulang? Kau benar-benar pulang? Oppa kira kau tidak bisa datang karena sibuk kuliah." Siwon memeluk yeoja yang ternyata adik kandungnya itu.
"Tentu saja aku sibuk kuliah, aku mendapat telepon dari Appa, katanya aku punya keponakan lucu makanya aku pulang. Eodi? Eodiseo?" Jiwon melepas pelukan kakaknya dan sibuk mencari sosok keponakannya di antara tamu-tamu yang hadir.
"Itu, yang memakai hanbok biru di antara tiga anak laki-laki itu." Siwon memutar tubuh Jiwon ke arah sekumpulan anak-anak yang sedang menyantap cupcakes di halaman resort.
"Omo! Keponakanku sudah besar! Kau mengadopsinya?" Jiwon menutup mulutnya, tak menyangka keponakan yang ia kira seorang bayi ternyata sudah besar.
"Ani, dia anak kandungku. Dia lahir saat kau kelas 1 SMA." Ujar Siwon santai.
"Ne? Berarti hampir empat tahun? Tega sekali Oppa merahasiakannya dariku. Oppaaaa! Kau.. Aisssh… Jinjja!" Jiwon memukulkan tas pestanya ke kepala sang kakak dan menghentakkan kakinya kesal.
"Usianya tiga setengah tahun. Dia lucu kan?"
"Omo! Oppa, jangan bilang kau punya anak di luar nikah sebelum jadi pastur?"
"Bingo! Sudahlah, lebih baik kau temani Umma dan Appa. Mereka pasti merindukanmu. Mereka akan bercerita banyak untukmu tentang anakku." Siwon menggiring adiknya untuk bertemu kedua orang tuanya. Sekaligus mengenalkannya pada rekan bisnisnya.
"Oppa, kenalkan aku pada ibunya." Rengek Jiwon pada Siwon.
"Ibunya? Itu dia, namja yang sedang membersihkan tangan anakku." Siwon menunjuk Kibum yang sedang mengelap tangan dan mulut Minho yang belepotan cream karena cupcakes.
"Tapi dia namja? Tidak masalah sih, dia cantik sih. Nanti sajalah aku berkenalan dengannya. Aku mau ke tempat Umma dulu dan jangan mendorongku." Jiwon berjalan menjauh sambil terus memperhatikan Kibum, namja yang sudah memberinya keponakan.
Siwon melepas adiknya dengan senyum kemudian ia teringat dengan tujuannya untuk menghampiri Kibum dan Minho. Sebelum itu, Siwon mengambil sebuah cupcakes kacang merah dengan hiasan banyak fondant berbentuk hati kecil-kecil dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Tinggal dua langkah lagi dan langkah Siwon harus terhenti karena ditahan oleh seseorang.
"Ehm, chukkae Siwon-ssi, mianhae, aku datang tanpa diundang. Aku hanya ingin meluruskan masalah kita bertiga." Seunggi tak disangka hadir di pesta tersebut. Wajah Siwon yang tadinya ceria langsung berubah masam ketika melihat namja yang dianggap saingannya itu.
"Oh, aku sedang sibuk saat ini. Dua hari lagi kita bertemu di toko kue Kibummie lalu kita bicara. Permisi, ada sesuatu yang perlu aku urus." Ucap Siwon ketus kemudian beranjak meninggalkan Seunggi.
"Apa kau terlalu egois sampai tidak ingin bicara denganku?" Balas Seunggi tak kalah ketusnya hingga menghentikan langkah kaki Siwon lagi.
"Aku hanya ingin acaraku tidak diwarnai keributan. Jika kau ingin bertemu kekasihmu, dia ada di sebelah sana. Permisi, aku harus menyapa tamu-tamuku." Siwon pergi tanpa memandang Seunggi lagi. Kali ini ia berhasil berada bersama teman-teman Minho, sementara sang anak sudah hilang bersama ibunya. Dan Seunggi yang ditinggalkannya masih menggerutu karena merasa tak dianggap olehnya.
Duk… Duk… Duk…
Sebuah suara datang dari arah panggung dan semua tamu mencurahkan perhatiannya pada orang yang sedang berdiri di panggung itu. Tunggu, di sana ada empat orang, yaitu Tuan Choi, Nyonya Choi, Jiwon dan…. Minho? Aigoo, Kibum dan Siwon begitu panik begitu melihat Minho ada di atas panggung. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena Nyonya Choi mendeathglare mereka jika berani mendekati panggung.
"Selamat malam yeorobeun. Aku sangat gembira pada malam ini salah satu cabang baru Hyundai Hotel akan diresmikan. Selama ini aku perhatikan wilayah Gwangju semakin berkembang. Gwangju memiliki potensi besar di bidang pariwisata. Aku yakin resort ini akan mampu menjadi pilihan penginapan dengan harga terjangkau untuk para wisatawan yang berkunjung ke Gwangju." Tuan Choi memberikan sambutan singkatnya di depan para tamu sebagai owner dari resort ini.
"Ah, Tuan Choi memang pintar melihat peluang besar di depan mata." Seorang rekan bisnis mereka menyahut.
"Hahaha… Itu karena Siwonnie, putraku. Dia hidup di daerah ini sudah hampir 4 tahun. Kalian pasti tahu bahwa Siwonnie adalah pastur di gereja dekat sini. Ini juga berkat menantuku dan cucuku yang tinggal di sini." Balas Tuan Choi dengan wajah sumringah dan menimbulkan banyak tanda tanya di kepala tamu yang hadir.
"Menantu?"
"Cucu?"
"Jiwon-ssi sudah menikah?"
Itulah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh para tamu. Mereka bertanya-tanya tentang siapa menantu Tuan Choi. Hanya tujuh orang tamu yang tidak terkejut dengan statement itu. Siapa lagi kalau bukan Yesung-Ryeowook, Donghae-Eunhyuk, Kyuhyun-Sungmin, dan Lee Seunggi. Ah, andai Hangeng-Heechul dan Yunho-Jaejoong ada di sini maka bertambah pula orang yang tahu hubungan mereka.
"Oh, aku lupa memperkenalkan mereka pada kalian. Yeobo, bawa Minho kemari." Tuan Choi memanggil istrinya dan Minho begitu melihat wajah kebingungan pada tamu-tamunya.
"Ini dia cucuku. Cucu kesayanganku. Namanya Choi Minho, penerus keluarga Choi, pewaris Choi Corp." Tuan Choi menggendong Minho di lehernya, seakan sangat bangga pada bocah itu. Jelas saja dia bangga, selama ini harapannya mempunyai cucu harus dikubur begitu Siwon memutuskan jadi pastur.
"Dia adalah anak Siwonnie sebelum dia menjadi pastur. Maaf kami baru mempublikasikannya sekarang, karena kami pun baru menemukannya setelah Siwonnie bercerai dari mantan istrinya. Dan itu dia menantu kami yang sedang memakai hanbok merah muda dan berdiri di dekat meja buffet. Kibummie, kemarilah, naiklah ke atas panggung dan perkenalkan dirimu. Jiwon-ah, bawa Kibum Oppamu kemari." Nyonya Choi berbicara pada tamu undangan yang hadir. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menggosip. Siwon mendadak pucat mendengar ucapan ibunya terlebih lagi ketika adiknya menuruni panggung untuk menjemput Kibum. Belum sampai Jiwon pada Kibum, ada teriakan dari tempat Kibum berdiri tadinya.
"Akh! Tolong! Siapapun! Menantu Tuan Choi pingsan!"
To Be Continued…
Haaaaaaiiiii…. Author datang lagiiii… Sebenarnya chap ini rate-M, tapi berhubung bulan puasa dan author tidak ingin mengganggu ibadah readers tercinta, jadi rate-M dari chap ini terpaksa di-cut dan akan disambung chap depan yang mungkin juga jadi chapter terakhir dari FF ini. Akhir kata, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa dan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Ingat reviewnya ya? ^^V
