Halo minna, apakabarnya? Nai bawa update terbaru ini hehehe. Kalo boleh curhat sebenarnya ini satu-satunya fic Nai yang sama sekali tidak akan berbelok dari ide awal. Fic multichaps yang lain biasanya mengalami sedikit pengembangan. Hehehehehe. Enjoy please.

.

Disclaimer : I only own the story

.

.

.

DOG BOY AND CAT GIRL

.

.

.

CHAPTER 8

Kiba POV

"Inuzuka Kiba!"

Teriakan melengking seorang wanita terdengar di kelas XI-2 membuat si empu nama menoleh kemudian menelan ludahnya kasar.

"Ha-hai sensei."

Guru berbadan super seksi itu mendekati Kiba dan menatapnya tajam.

"Kalau kau punya waktu untuk melamun, lebih baik sekarang kau keluar membersihkan toilet di lantai ini."

Kiba menatap gurunya sebal kemudian bangun dengan enggan dan berjalan keluar kelas. Ia sudah tidak mau lagi berdebat dengan sang guru yang menurutnya hanya membuang waktu dan tenaga. Saat melewati bangku kosong di barisan depan, sorot matanya menyendu.

Kiba berjalan menuju ke toilet yang terletak di ujung lorong. Setelah mengambil perlengkapan yang diperlukan, ia memulai pekerjaannya itu. Tangannya terus bergerak dengan cekatan membersihkan lantai kamar mandi. Pikirannya sudah tidak lagi pada sinkron dengan raganya. Yang ada dalam kepalanya saat ini adalah bayangan wajah seorang gadis yang tengah menangis dalam diam. Kiba berjengit merasakan hatinya yang seakan tercubit ketika memorinya mengingat kejadian malam itu. Matanya memejam sebelum sikat di tangannya terlepas. Kiba terduduk lemas menyandarkan punggung pada dinding kamar mandi, mengabaikan celananya yang menjadi kotor.

"Arrghh Sialaaann! BAKA!" teriaknya frustrasi sambil mengacak-acak rambut cokelatnya.

Ia mengusap wajahnya kasar. Dirinya kini dipenuhi penyesalan, dalam hati ia merutuki alkohol yang mempengaruhinya malam itu, kemudian mengumpat kebodohannya. Bagaimanapun ia mengingat jelas runtutan kejadian nista yang ia lakukan. Bagaimana tatapan mata gadis itu saat Kiba menyerangnya, bagaimana deras air suci menuruni pipi gadis itu saat Kiba menyentaknya. Kiba meringis, ia akui dirinya benar-benar terlarut dan menikmati permainan itu. Pemuda itu tidak munafik mengakui bahwa saat itu perasaan bangga muncul dalam dirinya karena menjadi yang pertama untuk sang gadis. Namun, justru akhirnya perasaan terluka lah yang ia dapatkan. Ketika terbangun dari tidurnya di tengah malam ia mendapati Tamaki menangis sesenggukan di ujung kamar. Ketika pagi harinya ia mendapatkan tamparan yang cukup menyakitkan dari tangan mungil gadis itu. Bukan menyakitkan secara fisik, tetapi hati.

.

"Tamaki, ma-maaf."

Dalam sekejap, sebuah tamparan mendarat di pipinya.

"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi Inuzuka!"

Kiba hanya bisa mematung memandang pintu kayu di depannya yang menutup dalam satu sentakan keras.

.

Dan hatinya semakin hancur ketika esok harinya ia mendengar kabar kepergian gadis itu.

"Tamaki siang tadi pamit berhenti kerja. Katanya ada keperluan yang harus diselesaikannya di Sora-ku. Dia juga bilang tidak akan kembali ke Konoha lagi."

Ucapan bernada sedih dari sang kakak membuatnya semakin terpuruk. Kiba menyadari bahwa yang ia rasakan saat ini jauh lebih menyakitkan dibanding saat kehilangan Akamaru dulu.

Kiba menangis, menitikkan air matanya. Ia tahu gadis itu berbohong kepada kakaknya demi bisa menghindarinya. Ia tahu di luar sana gadis itu tengah berjuang sendirian. Bahu pemuda itu berguncang, mengingat bagaimana kerasnya kehidupan sang gadis. Dan ia telah dengan bodohnya semakin menambahkan beban pada kehidupan gadis itu.

"Kiba?"

Pemuda anjing itu mengusap air matanya kasar kemudian mendongak, mendapati sahabat kuningnya menatapnya bingung.

"Lu nangis?" tanya Naruto. Dari nadanya saja Kiba tahu bahwa Naruto tengah khawatir.

"Nggak."

Kiba bangkit berdiri dan keluar dari pintu kamar mandi. Naruto menahannya dengan menarik bahu pemuda itu pelan.

"Ini tentang Tamaki?"

Kiba berhenti melangkah, kedua tangannya mengepal erat. Ia tahu benar bagaimana watak Naruto. Pemuda kuning itu sangat peduli pada kawan-kawannya. Ia selalu siap mendengar dan memberikan solusi jika kawannya sedang bermasalah. Meskipun terkadang saran yang diberikannya sangatlah bodoh. Setidaknya dengan sikapnya saja Naruto sudah mampu membuat mereka kembali tertawa.

Kiba masih ingat dengan baik, ketika dulu Sai patah hati karena Ino terus-terusan menolaknya, gadis pirang itu masih kepincut dengan si bungsu Uchiha. Atau saat Sasuke ada masalah dengan kakaknya, Itachi. Naruto selalu ada di barisan depan untuk mendukung mereka.

"Bisa kita bicara, Naruto?"

Sebenarnya Kiba merasa geli sendiri saat mengucapkan kalimat seformal itu pada Naruto. Biasanya kan mereka selalu ceplas ceplos tanpa formalisasi saat sedang berbicara.

Naruto mengangguk dan mengekori langkah Kiba.

.

Mereka kini berada di atap sekolah yang sepi tentu saja karena saat ini jam pelajaran masih berlangsung. Naruto duduk di samping Kiba yang sedang berbaring dan mereka sama-sama menatap awan. Dipikir-pikir mereka jadi mirip Shikamaru di sini.

"Tamaki pergi."

Naruto menoleh memandang wajah sahabat biang onarnya. Baru kali ini ia melihat wajah Kiba yang benar-benar kacau. Bahkan lebih kacau dari saat Kiba kehilangan Akamaru.

"Aku tahu, Hinata bilang dia kembali ke Sora-ku karena ada urusan dengan keluarganya di sana."

"Tamaki hanya punya nenek dan itupun sudah meninggal. Itu sebabnya dia pindah ke Konoha."

Naruto menautkan alisnya pertanda heran. Mata birunya menatap bingung wajah Kiba.

"Lalu kenapa sekarang dia malah kembali lagi ke sana?"

"Dia menghindariku."

Naruto masih bingung belum bisa menangkap ke arah mana pembicaraan Kiba tersebut. Setahunya hubungan Tamaki dan Kiba memang sudah merenggang sejak kematian anjing putih besar itu. Tapi gadis itu masih tetap bertahan di sini kan? Kenapa baru sekarang dia menghindari Kiba?

"Ta-"

"Aku memperkosanya, Naruto."

Bibir tipis pemuda rubah itu menganga kemudian mengatup.

Cukup lama.

Helaan nafas terdengar.

"Lu bodoh, anjing!"

.

.

.

Tamaki POV

Sudah seminggu dirinya meninggalkan Konoha dan menetap kota ini. Berbekal uang tabungan yang ia sisihkan dari upahnya membantu Uchiha Hana serta sedikit bantuan dari Utakata, dirinya bisa dengan mudah mendapatkan flat murah di pinggiran kota. Meski murah, flat ini cukup bersih dan nyaman untuk ia tinggali. Tamaki sudah berniat untuk memulai hidup barunya dan mengubur kenangan kelamnya. Setiap hatinya ingin terlena dalam ingatan yang menyakitkan, dengan cepat otaknya memerintahkan seluruh sel tubuhnya untuk mencari kegiatan yang membuatnya melupakan ingatan itu. Di sini lah ia sekarang, Tamaki yang dengan ceria menjalani hari barunya.

Namun, satu yang masih mengganjal di pikirannya. Adalah bagaimana ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Uang tabungannya pasti semakin lama akan berkurang dan akhirnya habis. Sebelum itu terjadi gadis ini bertekad untuk kembali mengadu nasib dan mencari pekerjaan.

Hari ini misalnya, di bawah cahaya sinar matahari yang hangat, ia melangkahkan kakinya. Tidak seperti Konoha, kota ini cenderung kecil dan sederhana. Kota ini didominasi oleh lahan pertanian yang hampir ada di sepanjang jalan. Kau tidak bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan cepat karena sedikitnya usaha toko yang dibuka di sini. Kalau ingin mendapatkan barang-barang elektronik misalnya, kau harus pergi dan membelinya ke kota sebelah yang berjarak dua jam lamanya jika ditempuh dengan angkutan umum.

Tamaki berbelok ke kanan saat ia sudah mencapai tikungan. Berdasarkan petunjuk dari tetangga flatnya seharusnya di sini ada tempat yang sedang ia cari. Iris sewarna madu itu berbinar senang saat mendapati sebuah tempat yang dipenuhi tanaman hias dan bunga-bunga yang telah dipetik.

Sara Florist

Terhenyak gadis itu kemudian terkikik geli. Sebenarnya ia merasa heran mengapa di kota kecil seperti ini ada toko bunga yang cukup besar. Kemudian ia mempercepat langkahnya dan memasuki gerbang toko tersebut.

"Selamat datang di Sara florist. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko yang berrambut merah panjang.

"A-ano, nama saya Tamaki."

"Oh, kau yang tinggal di sebelah Fu ya? Yang ingin bekerja di sini? Dia sudah menceritakan padaku tadi pagi sebelum berangkat mengantar susu. Jadi kau yang bernama Tamaki?"

"Iya.."

"Aku Sara, owner toko ini, nah ayo sekarang aku jelaskan pekerjaanmu."

Tamaki mengangguk. Selanjutnya kedua gadis memulai kegiatannya. Sara menjelaskan kepada Tamaki bahwa sebenarnya toko mereka tidak terlalu banyak menjual bunga untuk kota ini. Tetapi pesanan yang datang dari kota lain lah yang paling banyak dan bahkan membuat Sara kuwalahan dalam mengerjakan pesanan tersebut. Toko ini mengambil stok dari perkebunan warga sekitar selain juga memiliki kebun sendiri di bagian belakang toko. Kemudian Sara memilah dan mengepaknya. Biasanya tiap akhir minggu akan datang mobil dari berbagai kota yang akan mengambil bunga tersebut sebagai stok. Terkadang pesanan bisa membludak saat musim pernikahan tiba. Toko bunga dari kota lain tersebut enggan mengambil bunga yang masih belum dirangkai. Mereka akan memesan rangkaian bunga seperti yang mereka inginkan. Saat itulah pekerjaan Sara menjadi merepotkan. Terlebih sejak satu bulan lalu ketika satu-satunya pegawai mengundurkan diri karena sedang hamil.

"Tapi upah di sini tidak terlalu besar, Tamaki. Bagaimana?" tanya Sara saat keduanya sudah mulai memilah-milah stok bunga yang baru saja datang dari supplier.

"Tidak masalah Sara-san. Yang penting cukup untuk kebutuhan hidupku sehari-hari."

Sara tersenyum menatap pegawai barunya tersebut.

"Kalau Cuma untuk keperluan sehari-hari sih bisa bahkan masih ada yang bisa ditabung. Hanya saja untuk keperluan kuliah mungkin sedikit berbeda."

Tamaki terdiam, senyum yang tadi menghias bibirnya kini menghilang.

"Aku tidak ingin kuliah Sara-san. Lagipula SMA saja aku belum lulus."

Sara menautkan alisnya keheranan, menatap gadis yang beberapa tahun lebih muda darinya tersebut.

"Whoaaa.. Aku kira kau sudah lulus SMA tapi tidak mampu melanjutkan kuliah. Ng.. bagaimana kalau kau tetap bersekolah menyelesaikan SMA mu di sini?"

Tamaki hanya menggeleng pelan. Sara semakin menatap bingung gadis itu. Bagaimanapun dia tidak tahu asal usul gadis itu atau yang menyebabkannya pindah ke kota ini. namun firasatnya mengatakan bahwa pasti ada suatu masalah besar yang membuat Tamaki melarikan diri dari Konoha.

.

.

.

Hari ini Tamaki menghabiskan waktunya di toko bunga. Sambil bersenandung ringan tangannya berkerja membentuk rangkaian dari berbagai bunga yang diambilnya dari kebun belakang. Pikirannya tentang tugas sekolah ia abaikan sementara ini.

Sekolah?

Ya, dengan paksaan dari Sara akhirnya Tamaki mau melanjutkan sekolah. Atau tepatnya bukan melanjutkan tetapi mengulang karena secara kebetulan juga bertepatan dengan tahun ajaran baru. Ia masuk ke salah satu SMA yang dekat dengan tempat tinggalnya sekarang. Memulai dari kelas X karena Tamaki tidak mau repot-repot mengurus pindah sekolah, utamanya ia tidak mau lagi kembali ke Konoha.

Saat sedang asyik dengan pekerjaannya, tiba-tiba Tamaki merasakan sesuatu seolah bergejolak dalam perutnya, mendesak untuk keluar. Mual luar biasa. Dengan cepat ia berlari meninggalkan pekerjaan menuju ke kamar mandi.

"Hoeeeeekkkk.."

Tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya membuat gadis itu merasa heran. Kemudian ia melangkah kembali sebelum sebuah pemikiran gila tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Mendadak tubuh ramping gadis itu menggigil, panas dan dingin serentak merambat ke sekujur badan. Jantungnya berpacu dengan cepat hingga sakitnya benar-benar terasa dari luar. Tamaki meremas dadanya kuat, air mata mulai mengaliri pipi putihnya.

"Tidak. Pasti hanya masuk angin."

Namun keraguan yang enggan hilang membuatnya berlari meninggalkan toko dan menuju ke apotik yang berada di seberang jalan.

.

"Tamaki!"

Sara masuk ke dalam toko dengan membawa dua mangkok di masing-masing tangannya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Tamaki tapi yang ditemuinya hanyalah rangkaian bunga yang belum beres masih berserakan di lantai. Ia meletakkan kedua mangkok tersebut di meja dan berjalan menuju ke bagian dalam toko.

"Tamaki.. Aku membawakan ramen untukmu, ka-"

Ucapan wanita itu terhenti saat didengarnya suara isak tangis dari dalam kamar mandi. Diketuknya pintu kamar mandi dengan rasa penasaran.

"Tamaki? Kau baik-baik saja?"

Tidak lama pintu itu terbuka sedikit, Sara menariknya dan terkejut saat merasakan tubuhnya tengah dipeluk erat. Tamaki menangis di pelukannya membuatnya bingung dan hanya mengusap pelan punggung gadis itu. Sebelum bibirnya terbuka untuk menanyakan apa yang terjadi, matanya menangkap sebuah benda kecil yang tergeletak di lantai kamar mandi. Seketika iris cokelat wanita itu melebar saat melihat dengan jelas tanda yang tercetak di sana.

"Ta-Tamaki? Kau ha-hamil?"

.

.

.

TBC

.

.

.

Gimana? Singkat banget ya chapter ini? Mungkin besok belum up ya, gantian sama fic yang lain.

Arigato untuk reviewnya, fav dan follow nya.