PUZZLE
Pair : WonKyu, HaeBum, HanChul
Genre : Romance, family
Disclaimer : All is belong to God, Super Junior belong to Elf except Yesung for me #plak
Warning : miss typos, OOC, YAOI (Except Heechul female), fast chennel, bad language, etc.
.
.
::[]::
PUZZLE
By JojoHye
::[]::
.
.
"Lepaskan."
"Ho?" ( Mwo? ) Kyuhyun masih dalam proses mencerna kalimat.
"Lepaskan!" Nyalinya menciut saat nada bicara Siwon meninggi. Ada apa? Adakah yang salah?
"Hung..." ( Hyung... ) Akhirnya ia menurut. Dengan terpaksa ia melepaskan dekapannya lalu menatap sang namjachingu untuk meminta penjelasan kenapa sifatnya berubah seperti ini. Padahal baru siang tadi namja ini melukai hatinya. Dan dengan sangat baik hatinya Kyuhyun memberi maaf hanya dengan satu syarat 'Jangan tinggalkan aku'. Bahkan Kyuhyun tak meminta apapun lagi.
"Kyuhyun-ah..." Siwon menghela napas berat. Tak sedikitpun matanya menatap Kyuhyun. "Bisakah kita akhiri ini?"
DEG
"Ho...hoha? Aha hakhudhu?" ( Mwo... mwoya? Apa maksudmu? ) Akhir? Akhiri apa? Apa yang diakhiri?
"Aku, aku ingin melepasmu, Kyuhyun-ah."
DEG
"Ahu hehang hehih hung, hu hohon hahan herhanha." ( Aku sedang sedih hyung, kumohon jangan bercanda. ) Namja rambut ikal itu tersenyum kecut. Sesungguhnya ia mengerti benar makna dalam kalimat yang dilontarkan Siwon, namun sekuat tenaga ia menolaknya. Menolak semua arti kalimat Siwon yang berputar-putar dalam otaknya.
"Aku serius."
Tidak, ini hanya lelucon yang dibuat Siwon untuk menghiburnya. Kyuhyun yakin itu hanya sebuah lelucon.
"Haeho?" ( Waeyo? )
Siwon menegakkan tubuh Kyuhyun. Dicengkramnya kuat kedua bahu rapuh milik namja itu kemudian menatapnya seakan menusuk.
"Kau, perebut impianku. Kau merebut Hangeng ahjussi dariku."
DEG
Perebut? Apa? Hangeng ahjussi? Merebut Hangeng ahjussi?
Sungguh, kali ini Kyuhyun tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud Siwon.
"Tak ku sangka kau benar-benar picik, Kyuhyun-ah." Cengkraman itu perlahan lepas dari bahu Kyuhyun. Namja itu masih diam dihadapan sang namjachingu yang sudah menatapnya penuh kebencian. Kyuhyun masih berkutat dengan pikirannya, mencari-cari arti dari tiap kalimat Siwon.
"Aku benci kau, namja bisu!"
DEG
Kyuhyun terhenyak dengan apa yang baru saja didengarnya.
Namja bisu.
Apa Siwon yang mengatakannya tadi? Semoga ia hanya salah dengar. Semoga...
Namun, kenyataannya Siwonlah mengatakannya.
Ia lihat Siwon sudah pergi berlalu meninggalkannya. Ditatapnya punggung kekasihnya itu dengan nanar. Inikah yang dimaksud sebagai 'akhir'? Tak terbayang sedikitpun jika cintanya akan berakhir seperti ini, akhir yang sangat menyakitkan bahkan lebih dari itu.
Namja bisu!
Kalimat itu terus terngiang dalam telinganya sementara jantungnya berdenyut sakit entah untuk keberapa kalinya. Lagi-lagi hanya sebuah kalimat mampu menjadi garam yang menaburi lukanya. Bagai panah beracun yang menancap dalam di hatinya. Namjachingunya sendiri kini menghina keadaannya. Ia merasa tertipu dengan janji Siwon. Janji yang menyatakan bahwa Siwon tak akan meninggalkannya meski keadaanya seperti ini. Hanya sebuah janji palsu.
Kyuhyun meremas jarinya menahan sakit sementara cairan bening mulai terkumpul dalam sudut matanya, bersiap untuk kembali meluncur. Dengan gontai ia pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Semoga lukanya juga akan tertinggal disana.
.
.
::[]::
.
.
Donghae menatap sedih ke arah lorong gudang kosong milik pabrik samping sekolahnya. Ia menemukan sosok namja menyedihkan yang tengah duduk menangis di sudut ruangan kumuh itu.
'Lagi-lagi menangis,' ujarnya miris dalam hati.
"Aa... hiks, hiks..." ( Appa... hiks, hiks... ) Namja yang menenggelamkan kepalanya di balik lututnya itu terisak.
'Kyuhyun-ah kau terluka lagi?'
Namja itu tak masuk sekolah hari ini, dia bahkan mendapatkan alfa. Hal yang jarang sekali dilakukannya mengingat anak itu adalah orang yang sangat rajin. Dan sekarang, Donghae menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pakaian lusuh dan kotor, beberapa luka kecil di tubuhnya, serta sepeda yang tergeletak disampingnya juga terlihat lecet seperti habis terjatuh dengan keras.
Donghae menatapnya iba, ingin rasanya ia hampiri namja itu lalu memeluknya, membiarkan namja itu menangis dibahunya, melepas semuanya yang menjadi beban berat untuknya.
Tapi tidak bisa. Kakinya seolah tercekat oleh fakta jika NAMJA ITU MEMBENCINYA. Fakta yang membuat kakinya lumpuh meski ia ingin berjalan. Akhirnya ia hanya mampu merutuki ke-pengecut-annya dari balik tembok bata yang sejak tadi menyembunyikannya dari namja itu.
Saat kepala menoleh lagi, yang ada hanya desiran debu. Tak ada siapapun. Kemana perginya namja itu? Menghilang lagi. "Kyuhyun-ah? Eodiga?"
.
.
Kyuhyun mengayuh sepedanya cepat dengan kekuatan penuh yang masih dimilikinya. Setelah satu malam ia puas menangis –ya meski sekarang air matanya masih sesekali mengalir- dan pusing memikirkan takdir yang seolah mempermainkannya, akhirnya ia memutuskan pergi menemui seseorang. Seseorang yang mungkin bisa dijadikannya untuk sekedar bersandar. Ummanya –orang yang dianggapnya sebagai umma-, Leeteuk.
Kyuhyun tahu, mustahil menempuh jarak menuju panti asuhan dengan menggunakan sepeda. Seoul dan Gangwon-do itu jauh, apalagi sepedanya sedikit mengalami kerusakan setelah semalam ia terjatuh.
Namun ia sangat membutuhkan Leeteuk sekarang. Ingin ia mengadu pada Leeteuk, menceritakan segalanya, menumpahkan semua kesedihannya, juga untuk mencari sebuah alasan. Alasan kenapa Siwon menyebutnya dengan 'Perebut Hangeng Ahjussi'. Yakin, Kyuhyun sangat yakin Leeteuk tahu sesuatu. Bukankah yeoja itu ibu ketua panti asuhan yang sempat mengurus ia dan Siwon saat kecil? Tentu saja pasti tahu. Bukan Heechul atau Hangeng sendiri, tapi Leeteuk. Yap.
Roda sepedanya terus berputar, melintasi sebuah jembatan dengan bukit pada sisi kanan dan kirinya. Sekali lagi bulir-bulir permata bening itu mengalir. Lukanya terasa sangat perih terkena hembusan angin.
.
Sekarang sendiri...
Meskipun ada banyak orang disini, tetap saja merasa sendiri...
Bahkan angin pergi meninggalkanku...
Daun-daun jatuh kekeringan...
Semuanya pergi...
Hanya aku yang bicara sendiri...
Ruangan kosong dihati ini...
Gelap...
Aku sendirian...
.
Sudah satu jam Kyuhyun mengayuh sepedanya tanpa berhenti walau sedetik. Rasanya pegal memang, tapi ia ingin cepat sampai. Tak di pedulikannya pening di kepalanya yang mendera sejak beberapa menit yang lalu, mungkin efek menangis semalaman. Pandangannya juga mulai agak mengabur. Ayuhan sepeda mulai melambat seiring tenaganya yang kian terkikis.
Sedikit demi sedikit tubuhnya terasa lemas. Bagaimana tidak? Sejak tadi malam ia belum memasukan makanan sama sekali ke dalam perutnya. Namun ia tetap berusaha sadar dan melanjutkan mengayuh sepedanya. Jika ia tak ingat ia sedang ada di jalanan, mungkin saja tubuhnya sudah lunglai dan oleng.
Matanya sempat tak sengaja tertutup sebentar saking ia merasa letihnya. Sekejap saja ia teledor, sekarang ia serasa melihat appanya sedang berdiri di hadapannya. Appa yang semalam sempat menemuinya kini berada di tengah jalanan yang cukup ramai.
"AA!" ( APPA! ) teriak Kyuhyun. Ia harap appanya mendengar dan segera minggir ke tepi jalan.
"AA! Hehat hinghir! Ihi herhahaya!" ( APPA! Cepat minggir! Ini berbahaya! ) Appanya justru tersenyum padanya seolah tak menghiraukan kekhawatirannya.
"AA! Aish..." ( APPA! Aish... ) Dengan gerakan super cepat yang entah muncul darimana, Kyuhyun mengayuh lagi sepedanya sekuat tenaga. Bagaimanapun caranya ia harus menghampiri ayahnya dan segera membawanya ke tepi jalan sebelum ada mobil atau kendaraan lain yang mungkin akan membahayakannya.
- Bahkan ia lupa, jika appanya telah pergi ke surga -
Semakin dekat.
Semakin dekat lagi.
Sudah sangat dekat.
Namun sosok appanya tiba-tiba menghilang. Kemana? Kemana appanya yang tadi berdiri di ujung jalan? Tidak ada!
Kyuhyun mengejapkan matanya sekali untuk memastikan. Dan yang muncul di hadapannya kini adalah sebuah truk pengangkut susu, bukan appanya. Tepat di hadapan matanya hingga ia juga terhenyak.
Tangannya segera menarik rem, namun sepedanya tak kunjung berhenti. Matanya melotot saat menyadari rem sepedanya blong, mungkin akibat terjatuh tadi malam. Ia ketakutan setengah mati juga panik. Masih berusaha menghentikan sepedanya yang justru jadi bertambah oleng.
BRAK
.
.
PRANG
Heechul terbangun dari tidurnya. Perasaan tak enak dalam hatinya berhasil membuatnya membuka mata. Dilihatnya gelas yang tadinya terletak di atas meja samping ranjang rawat Kibum kini pecah berkeping-keping di lantai. Perasaannya makin tak enak.
"U... umma..."
"Kibummie, kau sudah sadar?" Perasaan tak enak itu berubah lega saat sebuah suara lemah memanggil namanya. Anaknya sudah sadar, dan sekarang terlihat sedang menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya.
"Umma, ini dimana?" tanya Kibum lemah.
"Ini rumah sakit, chagi, gwaenchanayo..." Heechul mengusap kepala Kibum lembut kemudian mengecupnya sayang. "Kepalamu masih sakit?"
"Sedikit, umma..."
"Kibummie, kau sudah sadar?" Hangeng yang baru saja masuk segera menghampiri anaknya dengan senyum yang terkembang. "Kau sudah baik-baik saja?"
"Ne, appa." Kibum mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya namun yang dilihatnya hanya sang appa dan sang umma. "Kyunnie, dia dimana?"
DEG
Aih, iya benar, sejak semalam anak itu tidak muncul disini. Sebegitu tidak berartinyakah Kyuhyun hingga Hangeng dan Heechul bahkan tak menyadari jika namja itu menghilang.
"Mungkin Kyuhyun sudah pulang ke rumah. Jangan pikirkan dia, pikirkan saja kesehatanmu dulu," kata Heechul menenangkan.
'Kyunnie, apakah kau sangat marah pada hyung? Sampai hyung terlukapun kau tidak peduli? Seperti itukah?'
.
.
Tubuh namja itu terpental jauh lalu menggelinding hingga akhirnya menabrak pagar pembatas jalan setelah sebelumnya dihantam keras oleh truk pengangkut susu. Sepedanya terus berputar-putar bergesekan dengan aspal sebelum akhirnya remuk terlindas roda sebuah truk besar bermuatan besi.
Kyuhyun sudah tergeletak di sudut jalan, jika saja tak ada pagar pembatas yang membuat tubuhnya tersangkut mungkin ia sudah jatuh ke dalam jurang di sisi kiri. Nafasnya tersengal-sengal karena paru-parunya seolah disumbat oleh darah yang mengalir dari rongga hidungnya. Darah yang juga mengucur deras dari kepalanya mulai membuat warna aspal yang awalnya kelabu menjadi merah pekat.
Ia masih tersadar meski tubuhnya kini terasa sangat ringan seakan nyawanya tengah ditarik.
'Appa, apa tadi kau datang untuk menjemputku?'
'Apakah appa tidak mempunyai cara lain untuk menjemputku dengan lebih baik? Ini sakit, appa...'
'Appa, bisakah aku memohon sekali ini saja padamu?'
'Tolong, selamatkan aku, kali ini saja, jebal...'
'Setidaknya biarkan aku berpamitan dengan appa angkatku, umma, Bummie hyung, dan Wonnie hyung.'
'Appa... kau mendengarku?'
Doa yang terlantun dalam hening ruang hatinya. Kyuhyun bahkan tak sanggup lagi untuk membuka mulut. Ia yakin sedikit saja mulutnya terbuka, maka darah akan keluar dengan melimpah.
"Uhuk... uhuk..." Benar'kan, darah kini tertumpah keluar saat tak sengaja ia terbatuk.
"Nak, kau baik-baik saja?"
'Appa, kumohon tolong aku...'
.
.
'Kyunnie, sedang apa, chagi? Kau merindukan umma, hum?' Yeoja itu mengelus foto kusam yang menampilkan sesosok anak kecil tengah tersenyum riang dengan gigi ompongnya. Anak manis yang tengah memegang bola.
'Kau tahu, sekarang umma juga mempunyai putra yang tampan sepertimu. Namanya juga sama, Kyuhyun. Tapi, sifatnya berbeda jauh denganmu. Dia sangat nakal, angkuh, pembangkang, menyebalkan. Tidak sepertimu. Kau anak manis, ceria, penurut, anak yang baik.'
Ia menghela napasnya. Perasaan tak enak yang terus mengganggunya sejak tadi membuatnya tiba-tiba ingin melihat wajah putra kecilnya. Menuntunnya untuk kembali menatap foto yang telah lama ia simpan di dalam ruang dompetnya.
"Maafkan umma...," ujarnya dengan suara yang mulai bergetar. Jemarinya terangkat menghapus air mata yang menuruni lekuk pipinya tanpa ijin.
'Mianhae nae Kyunnie, jeongmal mianhaeyo... Andai saja umma bisa menjelaskannya waktu itu padamu, kau tak perlu terluka. Maafkan umma...' Ia menutup mulutnya, tak membiarkan satu isakanpun terlolos. Selama ini diam-diam ia terus menangis jika mengingat sosok putra kecilnya yang begitu ia rindukan. Bertahun-tahun tak lagi ia memeluknya dengan penuh sayang, tak lagi menepuk-nepuk tubuhnya sebelum anaknya itu tidur, tak lagi menyanyikan lagu selamat tidur untuknya.
"Kau dimana, chagi? Umma benar-benar merindukanmu. Bogoshipoyo..." Ia merengkuh foto itu seolah merengkuh tubuh putranya ke dalam pelukan yang dibuatnya sehangat mungkin. "Umma ingin kau kembali..."
Inilah air mata yang selama ini tersembunyi. Yeoja paruh baya itu menyembunyikan kesedihannya selama ini, menyimpan dalam-dalam rasa rindunya untuk putra kecilnya, Kim Kyuhyun. Kerapuhan di balik topeng Kim Heechul...
.
.
Hari ini Siwon datang menjenguk Kibum sepulang sekolah. Setelah mendengar kabar dari Heechul bahwa Kibum sudah sadar, ia langsung melesat menuju rumah sakit.
"Kau mau jalan-jalan kemana? Kepalamu sudah tidak sakit?" tanyanya.
"Ke taman saja hyung, kepalaku baik-baik saja." Siwon menurut saja apa kata namja yang tengah duduk di kursi roda yang didorongnya ini.
Baru sampai di depan pintu keluar rumah sakit, perjalanan mereka terhambat oleh keramaian para perawat yang tiba-tiba berbondong-bondong menghampiri sebuah mobil ambulance.
"Sepertinya ada korban kecelakaan, Kibummie."
Kibum terus memandang para perawat itu. Sebenarnya yang menjadi fokus penglihatannya adalah siapa yang menjadi korban kecelakaan itu. Entah ada apa dengan hatinya yang memaksanya untuk tahu. Perasaanya sungguh tak enak, nama 'Kyuhyun' sejak tadi terus merasuki pikirannya.
"Hyung, bisakah kau melihat siapa orang yang jadi korban itu?"
"Memang kenapa? Itu bukan urusan kita." Aish... Siwon kau menyebalkan! Walaupun itu bukan urusanmu, harusnya ada sedikit rasa peduli.
"Aku akan melihatnya sendiri..."
"Arraseo, arraseo, aku akan melihatnya..."
Siwon berjalan mendekat ke arah keramaian itu, ditinggalkannya Kibum yang masih terduduk di kursi roda. Sesekali ia menoleh, memastikan Kibum masih baik-baik saja. Ia berusaha menerobos segerombolan para perawat itu, dengan susah payah. Hingga akhirnya ia berhasil berada tepat di hadapan sang korban.
DEG
Namja yang terlihat sangat mengenaskan terpampang jelas di depan matanya. Penuh dengan darah pekat dan luka dimana-mana. Namja itu seperti sudah kehilangan nyawa. Semuanya membuat Siwon terhenyak hingga ia hanya bisa mematung di tempatnya. Matanya yang tadi penuh kefokusan kini hanya menatap kosong.
'Kyuhyun-ah...'
DEG
DEG
DEG
'Kyuhyun-ah...'
Roh-nya seakan terlepas saat itu juga. Hingga para perawat berlalu pergi membawa namja penuh darah itu menuju ruang UGD, Siwon masih mematung. Tubuhnya serasa tak bertulang lagi sampai akhirnya ia jatuh terduduk masih dengan syok yang amat dalam.
Satu fakta yang membuatnya benar-benar seperti di hempaskan oleh angin. Namja itu...
NAMJA yang tadi malam baru saja ia melepasnya.
Namja yang itu, benarkah?
Itu... namja itu... Kyuhyun-nya?
Kibum menatap Siwon dengan bingung. Kenapa tiba-tiba namja tegap itu duduk lemas setelah melihat korban kecelakaan? Ia menjalankan kursi rodanya untuk menghampiri Siwon, namun Siwon justru berlari mengejar gerombolan para perawat itu dan meninggalkannya.
"HYUNG!" Teriakannya sama sekali tak didengar. Sempat terbersit rasa sakit di hatinya. Ia merasa Siwon mencampakannya.
"Kibummie, sedang apa disini?" Kibum yang masih menunduk karena kecewa tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara appanya, Hangeng.
"Appa..."
.
.
Para perawat itu terus membawa ranjang dorong yang di atasnya terbujur tubuh seorang namja. Langkah mereka terlihat sangat tergesa-gesa, mengingat keadaan namja itu begitu parahnya. Sementara Siwon masih berlari mengekor di belakang mereka, juga dengan wajah panik, cemas, khawatir, dan entah apa lagi.
'Kyuhyun-ah...'
Hingga di depan pintu ruang gawat darurat, langkah kakinya dihentikan oleh dua orang perawat yang kemudian menutup pintunya rapat-rapat. Ia ingin melawan rasanya, tapi percuma saja, malah ia pasti akan membuat keributan.
Akhirnya ia hanya duduk dengan menutup wajah dengan kedua tanganya. Rasa gelisah benar-benar menderanya. Ia tak bisa berpikir jernih sama sekali.
"Siwon-ah?" Bahunya tiba-tiba ditepuk oleh seseorang. Ia melihat Hangeng, Heechul dan Kibum kini sudah ada di hadapannya setelah ia mendongak.
"Ahjumma..."
"Ada apa Siwonnie? Kau tiba-tiba meninggalkan Kibummie tadi, untung saja appanya datang."
"Ah mianhae ahjumma."
"Hyung, kenapa kau lari?" tanya Kibum. Wajah yang sempat mengguratkan kekecewaan sekarang telah kembali menjadi wajah damai seperti biasanya.
"Ahjussi, ahjumma, Kibummie, Kyu... Kyuhyun... Kyuhyun ada di dalam..." Suara Siwon terdengar sangat parau.
"Mwo?"
"Dia yang kenjadi korban kecelakaan itu Kibummie..."
DEG
DEG
DEG
Inikah jawaban kerisauan Kibum sejak tadi? Jawaban kenapa nama adiknya terus ada dalam otaknya?
Inikah?
Apakah juga jawaban dari kegelisahan Heechul? Namja yang memiliki nama yang sama dengan putra kecilnya itu sedang di ujung maut?
Benarkah?
Sementara Hangeng? Ia kini hanya mampu merutuki kebodohannya sebagai seorang ayah yang tak bisa menjaga putranya dengan baik, tidak mempedulikan anaknya sama sekali. Bahkan sekarang saja ia tak mampu menolong anaknya yang tengah sekarat. Bodoh!
Cklek
"Uisa?"
"Kalian keluarganya?"
"Ne." Pertanyaan dokter dijawab dengan kompak oleh Hangeng, Heechul, Kibum, dan Siwon.
Dokter itu terlihat menghela napas dalam. "Maafkan kami, tapi Tuhan berkehendak lain, Tuan..."
DEG
"Apa maskud anda, uisa?" Sama sekali Hangeng tak mengerti ucapan dokter dihadapannya ini.
"Kami sudah berusaha menyelamatkannya, tapi kondisinya benar-benar tidak memungkinkan. Tubuhnya tidak kuat lagi."
...
...
Ia menerobos masuk ke dalam ruangan, sementara yang lainnya masih dalam keadaan tercengang. Kyuhyun yang mereka sia-siakan sudah pergi. Puaskah?
Tubuh namja yang biasanya terlihat angkuh itu sudah terbujur kaku. Nyawanya sudah benar-benar di cabut oleh Tuhan, walau selang infus dan alat bantu oksigen masih terpasang namun monitor pendeteksi jantung yang menampilkan garis lurus itu sudah membuktikan bahwa Tan Kyuhyun telah pergi.
Langitpun tiba-tiba mendung. Setitik demi setitik air jatuh dari angkasa. Awan tebal saling bergelut sementara warna kelabu menyelimutinya.
Tangannya bergetar hebat. Hanya untuk menyentuh tubuh namja itupun Hangeng tak kuat. Air mata yang telah lama tak muncul di kelopak matanya sekarang mengalir seperti rintik gerimis di luar sana. Kyuhyun yang dititipkan oleh mendiang istrinya tak dijaga dengan baik. Sungmin pasti akan kecewa padanya.
"Kyu... Kyunnie, ireona... Ini appa..."
Hening.
"Kyunnie ingin appa melakukan apa supaya Kyunnie mau bangun?"
"..."
Dikecupnya kening sang anak lembut, menyuruhnya kembali membuka mata.
"Kyunnie, appa mohon jangan ikut bersama umma-mu. Tinggalah bersama appa. Appa berjanji akan menuruti semua yang Kyunnie inginkan. Appa tidak akan lagi memukul Kyunnie..."
"..."
"Kyunnie..."
Di sudut lain, namja berperban kepala yang duduk di atas kursi roda tengah berusaha menolak takdir yang sedang di'hadiah'kan Tuhan untuknya. Air matanya seolah ber'terima kasih' atas kado yang sangat menyakitkan ini. Bagaimana bisa Tuhan begitu 'baik' padanya?
Sosok Kyuhyun yang selama ini bahkan masih sangat berbekas dalam angan-angannya
"Hyung, Kyunnie ingin menyanyi Gomsemari..."
"Bummie hyung..."
"Bhummie hung..."
"Uhfaaa..."
"AHU HENHI HAHIAN!" ( AKU BENCI KALIAN! )
Dulu ia yang pergi meninggalkan Kyuhyun. Apa sekarang karma sedang bertindak? Apa karma sedang menghukumnya? Kyunnie kecilnya yang dulu menangis memintanya kembali kini justru pergi meninggalkannya.
Rasanya sekarang juga ia ingin bunuh diri. Semua yang ada dalam hidupnya terasa menyakitkan. Padahal baru saja ia menemukan adiknya, sekarang justru Tuhan mengambilnya. Semua terasa hanya kebahagiaan sementara untuk awal pertunjukan menyakitkan. Palsu.
.
"Aku benci kau, namja bisu!" Kalimat terakhir yang diucapkannya sendiri terus berdengung dalam telinga Siwon. Kalimat terakhir yang di ucapkannya sebagai 'Salam Selamat Tinggal' untuk Kyuhyun. Andai saja Tuhan mengijinkan waktu berputar ke belakang ia bersumpah akan melenyapkan kalimat itu. Haruskah sekarang ia pergi ke langit? Membujuk Tuhan mengabulkan permintaannya?
Bodoh!
Tuhan juga tahu seberapa brengseknya kau, Choi Siwon. Tuhan yang telah menghadirkan Kyuhyun sebagai bunga terindah untukmu justru kau yang membuatnya mati kekeringan.
Untuk apa menangis? Percuma! Apa air matamu bisa mengembalikan Kyuhyun?
.
.
"Uisa..." Seorang perawat berlari cepat menuju ruangan dokter.
"Ada apa?"
"Korban kecelakaan itu, jantungnya kembali berdetak."
"Jeongmal?"
"Ne, uisa..."
Dokter segera berlari kembali menuju ruang UGD yang lima menit lalu baru ditinggalkannya. Dengan cepat ia menyuruh para perawatnya memasang beberapa alat pada tubuh pasiennya.
Hangeng, Heechul, Kibum dan Siwon yang juga berada dalam ruangan merasa terkejut atas kedatangan mendadak dokter dan para perawat. Melihat layar monitor yang menunjukan garis-garis yang bergerak lemah, ada secercah harapan di hati mereka.
'Ya Tuhan, tolong kembalikan Kyuhyun...'
'Tuhan, aku janji tidak akan membuatnya terluka lagi...'
'Aku akan menjaganya dengan baik Tuhan, aku mohon biarkan Kyuhyun kembali pada kami...'
Tak berapa lama, dokter melepas stetoskop dari telinganya dan tersenyum. "Tuan, dia selamat. Ini keajaiban," katanya masih dengan tersenyum.
Seketika langit berubah cerah... Senyumanpun terkembang dari keempat orang itu. Heechul memeluk Kibum, Hangeng dan Siwon tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada Tuhan. Terbukti, air mata ketulusan mereka mampu mengembalikan Kyuhyun.
"Tapi...," kata dokter tiba-tiba menggantung.
"Ada apa uisa?"
"Sepertinya ada masalah pada otaknya, mungkin akibat benturan keras. Kami akan melakukan CT scan terlebih dahulu untuk memastikan."
"Baiklah uisa, saya mohon sembuhkan anak saya. Berapapun biayanya saya akan penuhi. Gamsahamnida..." Hangeng menjabat tangan sang uisa sebagai ucapan terima kasih.
.
.
::[]::
.
.
Kyuhyun masih terbaring diatas tempat tidurnya sejak tadi malam. Kibum terus saja menemaninya meski beberapa perawat menyuruhnya beristirahat karena keadaannya belum pulih. Ia tak peduli, yang terpenting adalah terus berada di samping Kyuhyun. Ia takut Kyuhyun akan pergi meninggalkannya seperti kemarin.
Heechul sedang mengambil beberapa pakaian di rumah sedangkan Hangeng sedang berbicara denga dokter tentang hasil CT scan semalam.
"Tuan, sepertinya putra anda mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya. Kepalanya robek dan ada kerusakan di salah satu bagian batang otaknya, serta penggumpalan darah di bagian sekitar otak belakangnya." Hangeng memperhatikan dengan baik gambar yang ditunjukan oleh dokter sembari telinganya menangkap penjelasan dari dokter.
"Tuan tentu tahu apa fungsi bagian batang otak. Itu berfungsi menghantarkan impuls dari saraf menuju otak untuk di proses menjadi sebuah informasi. Jika bagian ini mengalami gangguan, maka kepekaan terhadap rangsang juga akan terganggu. Dan ini terjadi pada putra anda. Putra anda akan kehilangan kesadarannya. Dia akan mengalami koma."
DEG
Koma?
Tidur yang sangat dalam?
Kyuhyun akan koma?
"Tuan, jika pasien kehilangan kepekaannya maka ia tidak dapat menerima rangsang apapun apalagi meresponnya. Semua sistem rangsangannya akan berhenti menyalurkan impuls. Putra anda juga akan mengalaminya, dia tidak dapat mendengar, melihat, mencium, atau merasakan apapun meski anda akan mencubit atau memukulnya. Bahkan yang lebih berbahaya, bisa-bisa putra anda akan tiba-tiba berhenti bernafas jika kami tidak memasang respirator."
Berhenti bernafas? Bukankah itu sama dengan mati?
"Dan mengenai penggumpalan darah di bagian belakang otaknya, saya sarankan kita harus segera melakukan operasi. Jika tidak, ini hanya akan memperburuk keadaanya."
"Baiklah uisa, segera lakukan apa yang terbaik untuk putra saya. Tolong selamatkan dia, saya mohon."
.
.
::[]::
.
.
"Ya! Hae! Kau tidak menjenguk Kyuhyun?" Donghae berjalan lunglai. Semangatnya sangat down hari ini karena Kyuhyun tak masuk sekolah lagi. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan namja sialan bernama Zhoumi, teman sekelasnya dan Kyuhyun.
Tunggu, tunggu.
Menjenguk?
"Menjenguk?" tanyanya bingung.
"Ne, dia masuk rumah sakit. Kau tidak tahu?"
"Rumah sakit?"
"Ne," jawab Zhoumi mengangguk. "Aku dengar dari Hangeng ahjussi, kemarin Kyuhyun kecelakaan."
Deg
Bagaimana bisa Zhoumi bilang Kyuhyun kecelakaan kemarin? Padahal jelas-jelas Donghae kemarin melihatnya menangis.
"Dimana?"
"Apanya yang dimana, Hae?"
"Tentu saja rumah sakitnya, bodoh!"
"Tidak usah berteriak juga aku dengar, Hae. Dia di rumah sakit Seoul."
"HAE! Kau mau ke rumah sakit? Ya! Ya! Jangan tinggalkan aku, ikan, aku ikut." Zhoumi berlari mengejar Donghae yang telah lebih dahulu melesat.
.
.
Donghae sampai di rumah sakit. Entah kemana hilangnya namja koala yang tadi mengikutinya berlari dari belakang. Ia terus mencari keberadaan ruang ICU, karena resepsionis mengatakan jika Kyuhyun ada di ruangan itu.
Dari kejauhan ia melihat Kibum yang duduk di kursi roda. Disana juga ada satu orang namja dan seorang yeoja, pasti itu orang tua Kyuhyundan Kibum. Segera saja ia berlari kecil untuk mendekat. Tiga orang itu hanya diam, tidak menyadari kehadirannya. Sepertinya masing-masing dari mereka sedang memikirkan sesuatu, raut wajahnya juga dipenuhi kecemasan.
Donghae bermaksud menanyakan sesuatu pada Kibum, namun niatnya itu terhenti saat manik matanya menemukan sebuah kata yang terukir pada papan kayu yang tergantung di atas pintu ruangan di hadapannya, 'Ruang operasi?' Barulah ia tersadar jika ini bukan ruangan ICU.
Apa yang sedang di operasi itu Kyuhyun?
.
.
Satu jam berlalu, akhirnya dokter keluar membawa kabar yang cukup melegakan. "Operasinya berhasil, Tuan."
Hangeng menghembuskan napas lega kemudian menjabat tangan dokter yang telah menangani operasi Kyuhyun dengan sukses. "Terima kasih, uisa. Anda benar-benar telah menyelamatkan putra saya."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tuan. Saya hanya membantu. Mohon Tuan ikut dengan saya terlebih dulu."
Hangeng dan Heechul pergi bersama dokter itu sementara Kibum masih menunggu Kyuhyun keluar dari ruang operasi. Para perawatpun akhirnya keluar ruangan dengan membawa ranjang dorong Kyuhyun.
Donghae yang sejak tadi hanya berdiri tanpa suara, menatap lekat-lekat wajah namja yang kini terbaring di sebuah ranjang dorong dengan infus dan alat pernapasan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, namja yang terbaring di ranjang yang dibawa oleh para perawat itu adalah... namja angkuh yang dicintainya. Benarkah? Namja yang biasanya menatapnya dengan penuh kebencian itu hanya terpejam, tubuhnya terlihat sangat lemah dan rapuh, seperti boneka kayu ringkih yang bisa hancur kapan saja.
'Kyuhyun...'
"Hae-ah? Kenapa kau disini?"
"Ki... Kibum hyung? Aku..."
"Arraseo, ikutlah denganku, aku akan menceritakan tentang Kyuhyun."
.
.
Langit kelam dan dinginnya udara yang menyelimuti kota Seoul malam ini menemani namja itu duduk di bangku taman rumah sakit. Pikirannya kosong sejak berjam-jam yang lalu. Sejak Kibum menjelaskan tentang keadaan seseorang yang di cintainya.
Donghae menatap semuanya dengan pandangan hampa.
Bagaimana mungkin namja itu bisa jadi seperti ini?
Koma? Benarkah ada yang seperti itu? Ia kira itu hanya ada di film-film.
Lalu jika benar-benar ada, kenapa itu terjadi pada Kyuhyun?
Kenapa harus namja itu?
Apa artinya Kyuhyun tidak akan lagi bangun? Tidak akan lagi menatapnya meski penuh rasa benci? Tidak akan lagi bermain piano di studio musik sekolah? Tidak akan lagi tersenyum?
Tidak akan lagi menangis?
Sebulir air bening melintasi pipinya. Tak disangka orang seperti Lee Donghae bisa secengeng ini.
"Kyuhyun-ah..."
"Kyuhyun-ah..."
Bibirnya terus saja menggumamkan nama itu. biar saja orang menatapnya aneh. Biar saja orang menyebutnya gila. Biar saja hujan turun membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Biar saja ia yang sakit. Tapi tolong jangan biarkan Kyuhyun seperti ini.
Ia tahu jelas betapa menderitanya Kyuhyun selama ini. Namja itu terlampau sering terlihat menangis dalam diam. Semua air mata telah menjelaskan balada hidupnya yang begitu menyedihkan. Tapi kenapa namja itu terus saja menutupi lukanya dengan segala keangkuhan?
'Meski kau angkuh, tetap saja lukamu terlihat jelas di mataku.'
Donghae bangkit dari duduknya. Ini sudah malam dan ia harus pulang. Besok ia janji akan datang kembali untuk Kyuhyun. Akan menghabiskan waktunya untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi namja itu. Walau ia bodoh, semoga saja ada yang bisa dipersembahkan untuk Kyuhyun.
Deg
Kakinya yang mulai melangkah tiba-tiba saja berhenti tatkala dilihatnya sosok brengsek yang benar-benar membuat setan dalam dirinya terbangun dari tidur.
"Choi Siwon..."
Matanya menatap tajam dengan penuh api amarah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk mengumpulkan segala dendam yang ada di hatinya. Mungkin memberi sebuah pelajaran pada namja itu akan melampiaskan segala rasa marahnya.
"CHOI SIWON..." Ia berlari menghampiri sosok yang tengah berjalan santai itu dan kemudian...
BUAGH
.
.
::[]::
TBC
::[]::
.
.
Wah, gimana chapter ini? Kalo jelek bilang aja di review, ok?
Oh iya, saya Cuma mau mengucapkan JEONGMAL GOMAWO atas review yang melebihi 50... Readersku tercinta, SARANGHAEYO... Gak nyangka banget bisa dapet review sebanyak ini. Demi Allah, saya bener-bener berterima kasih...
LOVE YOU READERS...
Bolehkah saya meminta review chap ini juga?
Plis... sebelumnya terima kasih sekali...
