HunHan

Male-pregnant!

.

Story belong to rosavine and thatweirdo on asianfanfic.

.

Original link (delete space):

www. asianfanfics . com . story/ view / 671232 /

.

70% Literally

30% Meaning

.

.


Side Story


[Drabble] Cemburu

Luhan benci berdandan, dan dia bahkan lebih membenci acara semacam ini. Ini adalah acara untuk orang kaya dan istimewa dimana semua orang menampilkan senyum sedikit terpaksa dan tidak tulus. Setiap kata bisa memiliki seribu makna, tergantung pada bagaimana kau menafsirkannya. Ini sangat membosankan dan Luhan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk keluar dari sini. Dia lebih suka berada di rumah dengan piyamanya yang nyaman sambil duduk di depan televisi dengan secangkir coklat panas di tangan.

Tapi tidak ada cara keluar dari sini ketika Jongdae menerima undangan atas namanya, dan itu akan tidak sopan meninggalkan pesta di tengah jalan. Dengan senyum terpampang di wajah, Luhan berusaha untuk tidak banyak bicara dan berharap waktu akan berlalu lebih cepat. Dia berada di tengah-tengah pembicaraan dengan seseorang bernama Mr Kim ketika Oh Sehun melewatinya.

Pria itu memasuki ruangan seakan dia pemilik tempat ini, dan itu tidak mengejutkan ada seorang wanita muda yang merangkul lengannya. Wanita itu benar-benar menakjubkan dengan kulitnya yang bagus dan juga gaun merah ketat. Mereka menjadi pasangan yang mencolok dan Luhan melihat wanita itu menertawakan sesuatu yang Sehun katakan. Merasa marah tanpa alasan yang jelas, Luhan berkeinginan untuk melemparkan kue ke wanita berwajah cantik itu.

Atau mungkin ia hanya harus menggunakan dasi Sehun untuk mencekik pria sialan itu karena tampak begitu tampan hari ini. Tapi dia tidak melakukannya dan malah melangkah keluar menuju balkon untuk mencari udara segar. Ini konyol, dia bukan orang yang kasar secara alami dan bersama siapapun Oh Sehun atau bahkan tidur dengan siapapun dia harusnya itu bukan urusannya. Mereka hanya partner seks, tidak lebih dan tidak kurang. Luhan tidak harus begitu posesif karena dia tidak punya hak untuk itu.

"Hei, cantik." Seorang pria tampan berdiri di sampingnya, memberikan Luhan senyum kekanakan. "Apa yang kau lakukan di sini, sendirian?"

Luhan ingin menyuruh orang itu pergi sampai dia ingat Oh Sehun dan wanita menakjubkan dengan gaun merah. Karena Sehun bersenang-senang dengan orang lain, kenapa Luhan tidak melakukan hal yang sama? Mereka tidak punya hubungan apapun lagian.

"Mungkin aku sedang menunggumu untuk menemukanku," kata Luhan dengan kenakalan di matanya dan pria itu bergerak lebih dekat. Dia begitu dekat sehingga jika Luhan bergerak sedikit lagi, dia bisa menciumnya dan—

"Singkirkan tanganmu darinya jika kau masih menghargai hidupmu," Ancaman datang dari seorang yang tidak lain adalah Oh Sehun. Pria di samping Luhan menyingkirkan tangannya segera, ia melihat wajah Sehun sebelum meninggalkan mereka berdua dengan terburu-buru.

Hebat, hebat sekali.

Luhan akan bersenang-senang dan Oh Sehun datang kemudian merusak semuanya. Menunjukan ketidaksenangannya, Luhan menolak untuk melihat Sehun.

"Aku sarankan padamu untuk jangan membiarkan siapapun menyentuhmu begitu bebas seperti itu, kalau tidak aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang nanti akan aku lakukan." Sehun memperingatkan dan Luhan melipat tangannya, melotot pada Sehun.

"Apa hak-mu? Kau boleh bergaul dengan seorang wanita, menggodanya di depan semua orang tapi kenapa aku tidak boleh melakukan—"

"Jangan buat kesalahan, kau milikku." Sehun memiringkan wajah Luhan. "Tidak ada yang boleh menyentuh apapun milikku."

"Lalu bagaimana dengan wanita itu?" Luhan membalas kembali sebelum menyadari apa yang baru saja ia katakan. Sial, sekarang dia ingin mengubur dirinya karena pertanyaan bodoh tidak disengaja ini.

"Wanita itu bukan seseorang yang harus kau urus," Sehun menyatakan sederhana dan Luhan ingin memukul wajahnya. "Tapi aku harus mengakui melihat wajah putus asa-mu agak menghibur."

"Aku—Tidak, wajahku—aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan," Luhan jelas berbohong.

Sehun menyeringai, "Kau cemburu."

"Tidak, aku tidak. Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus cemburu? Kau bisa pergi dan melakukan seks dengan siapapun, aku tidak peduli." Luhan keras kepala menolak untuk mengakuinya, kenyataannya, dia benar-benar sangat cemburu, "Sebenarnya, kenapa kau disini? Tidak bisakah kau disana saja dengan dia?"

"Kau cemburu," ulang Sehun lagi, seringai semakin tegas di wajahnya.

"Aku bilang, aku tidak," Luhan menghentakkan kakinya kekanakkan untuk menegaskan. "Terserah, aku akan—"

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sehun sudah memagut bibirnya. Dia menarik Luhan lebih dekat, memperdalam ciuman mereka. Luhan menemukan dirinya melingkarkan lengan di leher Sehun, jari-jarinya mengacak rambut Sehun, ia mengerang tanpa malu-malu.

Sehun melepaskan ciuman mereka setelah beberapa saat, dan Luhan senang pria itu menahan tubuhnya, karena lututnya sekarang sudah berubah menjadi jelly. Mereka berdua sedikit terengah-engah dan mata Sehun menggelap. "Ayo, keluar dari di sini."

Luhan hanya bisa mengangguk dan membiarkan Sehun membawanya keluar. Sebelum pergi, ia melihat wanita bergaun merah melihatnya sengit dan wajahnya menggelap, bahkan lebih ketika ia melihat Sehun menempatkan tangannya di punggung Luhan. Dia harusnya tidak melakukan itu, tapi Luhan memberi wanita itu senyum cerah dan lambaian selamat tinggal sebelum keluar dengan Sehun.

.


[Drabble] Pindah (Ini kejadiannya jauh sebelum Luhan hamil, sebelum HunHan tinggal bersama)

Luhan pergi keluar untuk membeli bahan makanan dan ketika dia pulang rumahnya sudah kosong. Ya, rumahnya telah dikosongkan dari barang-barang pribadinya, hanya menyisakan apapun yang sudah ia beli. Semua yang bisa ia temukan adalah keycard di meja dapur, yang memberinya dugaan kuat tentang siapa yang sudah melakukan ini.

Meraih kartu, Luhan menggerutu ketika ia berjalan ke rumah si pelaku. Menggunakan kartu di tangannya, Luhan tidak terkejut ia bisa membuka pintu. Dia akan melampiaskan kemarahannya pada si pelaku ketika ia menyadari bahwa pemilik rumah itu tidak berada di rumah saat ini. Bagus sekali.

Masuk ke dalam rumah, karena hanya itu yang bisa dia lakukan setelah apa yang si bajingan pengecut itu lakukan padanya, Luhan mengintip sedikit. Dia sudah sering disini, berkali-kali, dia malas menghitungnya, atau mengakuinya, mereka selalu berada di kamar tidur sehingga tidak pernah ada kesempatan bagi Luhan untuk menjelajah rumah ini.

Melihat sekeliling, rumah ini mengejutkan kosong. Warnanya di dominasi hitam, perak dan merah. Semua furniturnya berkualitas tinggi, begitupun peralatan rumah tangganya. Membuka lemari es, ia memutuskan harus mengisi perutnya sebelum menjelajah lebih jauh.

Mengambil beberapa telur dan bahan lain yang ia butuhkan, Luhan memulai. Dia asyik mencari resep di beberapa halaman web, sehingga tidak menyadari Oh Sehun sudah pulang. Itu sampai ketika Sehun melingkarkan lengannya di pinggang Luhan.

"Bagaimana harimu?" Sehun bertanya, menempatkan ciuman di lehernya.

"Fantastis," jawab Luhan sinis, menyikutnya pergi. "Aku pulang ke rumah untuk menemukan semua barang-barangku menghilang. Butuh sesuatu untuk dijelaskan?"

"Aku pikir kita harus tinggal bersama," jawab Sehun menyatakan.

Luhan berbalik untuk menghadapnya, berpikir bahwa pria itu memukul kepalanya atau sesuatu. Mereka telah sepakat untuk menjaga hubungan kausal ini tanpa pamrih—tunggu sebentar, Luhan menyadari ini agak terlambat, Sehun tidak pernah benar-benar setuju untuk itu.

"Tidak, aku menolak untuk tinggal denganmu." Luhan menolak tegas.

"Kau tidak punya hak untuk itu," Sehun mengatakan kepadanya membuat Luhan mendengus.

"Dasar tolol—Sialan! Kita tidak dalam 'hubungan' semacam itu, dan tidak ada sesuatu diantara kita lagian, jadi jangan lakukan apapun yang menyulitkanku lebih lanjut!" Luhan harus menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

"Aku akan membuatmu menjadi milikku," Sehun meraih Luhan, menariknya lebih dekat. "Aku akan menandaimu sebagai milikku."

"Aku—Kau tahu apa? Aku tidak mau menjadi milikmu jadi—"

Sebelum Luhan bisa melengkapi kalimatnya, Sehun sudah menciumnya. Dia menciumnya keras dan lama, menyudutkan Luhan ke dinding. Tangannya menyelinap ke bawah bajunya, Sehun menarik itu dan melemparkannya sembarangan ke lantai.

Cukup katakan, Luhan kehilangan argumennya hari itu.

.


—Chapter 7—


.

Pulang ke rumah untuk menemukan seorang wanita disana bukan apa yang Luhan pikirkan. Belum lagi wanita itu sangat cantik dengan rambut hitam, bingkai ramping dan kulit mulusnya. Itu membuat Luhan merasa seperti ikan buntal di sampingnya. Wanita itu tersenyum melihat dia dan bahkan berdiri untuk menyambut Luhan, yang mana terlihat konyol karena ini adalah rumah Luhan dan harusnya dia yang melakukan itu, bukan wanita ini. Dengan senyum terpaksa di wajahnya, ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan wanita itu.

Parfumnya sangat menyengat, memuakkan dan musky, saat itu Luhan nyaris ingin muntah, tapi ia menahannya. "Kau siapa?"

"Oh! Sehun tidak memberitahumu aku akan berada disini ya? Aku Seoyeon." Dia memberi Luhan senyum mempesona saat ia mempersilahkannya untuk duduk.

"Dia tidak bilang apapun," Luhan memberi tahu dan melihat gadis itu cemberut.

"Sehun bisa jadi pelupa kadang-kadang," Seoyeon mengibaskan tangannya. "Pokoknya, aku akan tinggal disini mulai sekarang, karena Papaku mengusirku dari rumahku—"

"Tinggal untuk menetap?" Luhan bertanya untuk memastikan ia tidak salah dengar, karena ini harusnya hanya menjadi rumahnya. Ya, diusir dari rumah itu menyedihkan tapi Sehun bisa menempatkan dia di Hotel atau tempat lain, bukan di sini.

"Ya, aku akan menetap di sini." Seoyeon berkata. "Aku harap kita bisa bekerjasama."

Memaksakan senyum lagi, Luhan mengangguk sebelum beranjak menuju kamar tidur. Seseorang perlu menjelaskan sesuatu.

.

.

"Sehun, ada seorang wanita di rumah kita." Luhan langsung bicara ke inti tanpa basa-basi. Setelah kejutan yang Sehun berikan padanya, pria itu harus bersyukur ia tidak memulai dengan berteriak di telepon.

"Apa kau bicara tentang Seoyeon? Maaf, aku terlalu sibuk dan lupa untuk memberitahumu." kata Sehun. "Jangan khawatir tentang dia, dia akan tinggal dengan kita sampai—"

"Tidak," Luhan memotong. "Aku tidak ingin dia tinggal bersama kita."

"Luhan," Sehun mengembuskan napas jengkel. "Dia putri dari salah satu rekan bisnisku. Ayahnya memintaku untuk menjaganya—"

"Tidak," Luhan semakin emosi sekarang, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak ingin dia tinggal bersama kita."

"Mengertilah, bisakan?" Sehun di ujung kesabaran. "Dia hanya akan tinggal selama seminggu atau sampai—"

"Kau bisa menyuruhnya tinggal di hotel atau dimanapun," seru Luhan.

"Ayahnya memintaku untuk menjaganya—"

Dengan itu, Luhan menutup sambungan telepon dan membuang ponselnya sampai membentur dinding.

.

.

Luhan turun setelah itu dan melihat Seoyeon di dapur. Melihatnya memasak membuat Luhan semakin gelisah karena memasak adalah tanggung jawabnya di rumah. Melihat Luhan, Seoyeon memberinya senyum lain.

Itu tidak membuat Luhan tenang, ia merinding melihat senyum palsu itu. Dia memutuskan kemudian dan sekaranglah ia perlu tahu apa tujuan Seoyeon disini. Sebut dia gila atau paranoid tapi ada sesuatu tentang wanita ini yang tidak bisa ia percaya.

"Seoyeon, katakan padaku kenapa kau di sini?" Luhan berdiri di sampingnya, melihat dia mencincang wortel.

"Apa yang kau bicarakan?" Seoyeon tampak bingung. "Aku disini karena aku tidak punya tempat lain untuk tinggal."

"Berhenti pura-pura, apa tujuan sebenarnya kau disini?" Luhan bertahan karena ia tahu bahwa Seoyeon sepenuhnya memahami dia.

Menjatuhkan wortel ke dalam panci air mendidih, Seoyeon mengambil waktu untuk menjawab Luhan. "Apa yang kau pikirkan?"

"Aku berpikir kau di sini untuk mencuri Sehun," Luhan menyuarakan kecurigaannya dan Seoyeon menutup tutup panci sebelum beralih pada Luhan.

"Sejujurnya, aku tidak datang kesini untuk mencuri dia." Seoyeon memeriksa kukunya yang sangat terawat. "Aku disini untuk mengambil tempatku seharusnya berada. Dia harusnya bersamaku dan kau adalah sesuatu yang tidak terduga."

Mendengar ini darinya tidak membuat Luhan merasa lebih baik, itu hanya membuat dia takut karena wanita ini serius.

"Aku mengenal dia sejak lama, dan aku harusnya menjadi istrinya tapi kau—" Seoyeon menunjuk Luhan, memelotot padanya. "—muncul dan merusak segalanya."

"Aku mengandung anak—"

"Kalau begitu semuanya akan selesai kalau anak itu menghilang, kan?" Seoyeon mengangkat alis pada Luhan. "Aku tidak akan pergi dari sini tanpa cincin pertunangan di jariku."

.


Luhan menatap kanvas kosong di depannya, dia harusnya membuat sesuatu untuk pembukaan pameran, tapi dia tidak bisa menemukan ide untuk memulai. Kalimat Seoyeon masih berdenging mengganggu dalam pikirannya dan ia bertanya-tanya apa ini adalah mimpi buruk.

Pertama dan terpenting, ia masih tidak yakin bagaimana ia harus menyebut hubungannya dengan Sehun. Sekarang, muncul masalah lain yang membuat situasi semakin rumit. Kenyataan bahwa Seoyeon adalah wanita cantik tidak membantu dan Luhan memucat jika harus dibandingkan dengan dirinya.

Luhan harus berjuang kembali, mengklaim tempatnya, tapi sungguh, dimana tempat ia sebenarnya di hati Sehun? Wanita itu mengenal Sehun sejak lama, ia tidak tahu apakah Sehun sudah menuduri Seoyeon atau jika dia pernah—hentikan.

Menempatkan tangannya di perut, ia bingung untuk apa yang harus ia lakukan. Mendesah, Luhan menuju ke sofa dan berbaring disana. Dia akan tidur siang pertama-tama, segala sesuatu yang lain bisa menunggu.

.

.

Membuka matanya, ia melihat Sehun menatap dia dengan kelembutan di matanya. Sehun bergerak ke sampingnya untuk membantu dia bangun, sebelum mengalungkan jaket di atas bahunya. "Aku tidak ingin kau masuk angin."

"Aku mengirim Seoyeon ke sebuah hotel sekarang," Sehun memberitahu.

"Maaf, aku hanya sedang emosi sekarang dan aku—"Luhan menghela napas. "Dia cantik, bukan?"

"Luhan—"

"Aku beban, ya? Kalau aku tidak hamil, kau tidak akan terpaksa tinggal denganku." Dengan setiap kata itu dia bicara, Luhan bisa merasakan dindingnya runtuh. Tapi dia tidak bisa berhenti sekarang, ia harus mengeluarkan ini dari dadanya. "Dia harusnya menikah denganmu, kan? Apakah keberadaanku menghancurkan segalanya?"

Membawa dia dalam pelukannya, Luhan mulai menangis. Ia merasa sangat rentan sekarang. "Maafkan aku."

"Aku tidak berencana menikahinya atau siapapun," kata Sehun. "Kau tidak perlu minta maaf, sebaliknya aku berterima kasih padamu, untuk datang dalam hidupku."

"Apa kau yakin? Bagaimana jika suatu hari kau memutuskan ingin—"

Sehun menggeleng, "Tidak akan datang hari seperti itu karena aku sudah benar-benar terpikat padamu dan aku tidak bisa melihat yang lain."

"Aku lapar," Luhan tersenyum diantara air matanya. "Adik bayi kita ingin makan."

"Ayo, mari kita beri makan kalian berdua." Sehun menarik Luhan, tangannya yang lebih besar memegang tangan Luhan yang lebih kecil. Luhan memutuskan ia menyukai perbedaan yang begitu kontras itu.

.

.

.

.

.

—TBC—


Author's note;

Mari katakan kalau ini tidak akan menjadi yang terakhir kalinya kamu melihat Seoyeon.

Tentang fic ini, aku akan mengakhirinya dalam dua puluh bab atau mungkin kurang karena aku tidak punya banyak rencana sebelumnya dan aku hanya menulis apa yang menyerangku.


Translator's note:

Tinggal beberapa bab lagi untuk ini selasai. Ugh, pengen cepet-cepet selesai dan melanjutkan All I Care About. Kangen sama Bambi, Sehun-ah, dan pasangan sialan-kurang-ajar-konyol Chanbaek. Aku bakal berusaha dobel apdet lagi supaya ini—semoga—tamat sebelum Ramadhan. Dan All I Care About—semoga—bisa menemani waktu menunggu buka puasa kamu (buat kamu yang berpuasa)

Eung...terimakasih untuk semua pembaca. Yang memberi respon maupun yang enggak.

Dan seperti biasa kalo ada yang gak ngerti silahkan bertanya.

.

.

.

520!