Aaahh.... setelah stress selama dua minggu akhirnya ku bisa update Chapter 8! Oh iya, jalan ceritanya nggak ada hubungannya sama judul kok. Itu cuma plesetan, nanti juga tau maksudnya. Baiklah, tanpa asam basa (baca: basa basi), Selamat Membaca!!

Disclaimer: Persona, shadows and Dark Hour belongs to ATLUS. And Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA


Chapter 8 A Death

Minggu, 3 Mei 2009
Pagi hari 08.00
Kost Hadi

*Beep, beep, beep* "*sigh* Siapa sih yang sms pagi-pagi begini?!" keluhku sambil mengambil HP-ku. "Hoi, bangun jelek!! Matahari udah di atas kepalamu!!" isi dari sms tersebut. 'Figures, pasti makhluk itu.' pikirku setelah tahu itu sms dari Arif. Sahabat SMA ku yang kuliah di UGM. "Heh, nggak bisa apa sehari aja nggak gangguin tidurku yang tenang?! Ini masih PAGI!!" balasku kepadanya.

"Nggak bisa, rasanya enak aja gangguin orang tidur. Apalagi kalo orang itu kamu. Oh maaf, kamu bukan orang."

"What the heck?!! Apa maksudmu dengan 'bukan orang'?!! Btw, ada urusan apa kamu sms ke aku? Selain iseng tentunya."

"Kalo selain iseng, ya nggak ada."

"Oke, kalo begitu ya udah!!"

"Tunggu!! Aku sms karena bosan... T.T"

"UTS kamu sudah keluar?" entah kenapa Arif tidak langsung membalas.

"Ada topik lain?" akhirnya dia membalas.

"Oke, ku ngerti. Ku juga susah kok"

"Huh, seandainya semua mata kuliah semudah 1+1=2"

"Baka! Banyak lulusan nggak berkualitas dong! Oh iya, bagaimana keadaan di sana?"

"Aku belum makan, beliin sesuatu dong!"

"Maksudku bukan keadaanmu! Tapi Heri dan sekitarnya"

"Oh, yang lain. Heri pensiun jadi duelist Yugioh."

"What?!! Kenapa? Dia kalah melulu? Padahal dia yang paling jago di antara kita."

"Bukan, katanya dia males soalnya udah pake kartu asli semua. Nggak kayak kita yang masih pake kartu proxy."

"Ah, terserah dia sih. Tapi kartunya nggak dibuang 'kan?"

"Nggak kok, daripada dibuang mendingan buatku!"

"Salah, mendingan buatku. Kartuku masih dikit tau!"

"Itu harapan kalian berdua. Karena tidak akan kuberikan meskipun aku pensiun." tiba-tiba Heri, sahabat SMA ku sekaligus teman satu kost Arif mengirim sms.

"Ah, yang diomongin udah datang. Kabur dulu ah...." kata Arif

"*grabbed Arif* Sebentar ya Gir, aku mau ngurus Arif dulu. *mengasah pisau*" kata Heri

"TIIIDAAK!!!!" teriak Arif histeris

'Sepertinya ini sms terakhir Arif.' pikirku. Sekitar 3 menit aku baru dapat sms lagi

"Nah Gir, ada apa tanyain soal aku?" kata Heri

"Nggak ada apa-apa kok. Ku cuma heran, kenapa kamu pensiun jadi duelist." balasku

"Oh, sebenarnya bukan gara-gara yang lain pake kartu asli. Aku pensiun sementara kok, soalnya aku sibuk ikut organisasi kampus. Makanya aku stop dulu. Nanti liburan juga main lagi." jelas Heri

"Bagus deh, daripada kamu nggak ada kerjaan. Kayak makhluk yang barusan kamu bantai." kataku

"Aku masih hidup tau!! Tapi sekarat...." tiba-tiba Arif sms lagi

"Udah buat permintaan terakhir?" tanyaku bercanda

"Ah...give me moe girl to release my boredom." jawabnya

"Sepertinya nggak mungkin, meskipun kau akan mati. Yah, lebih baik kamu mati aja deh, daripada nggak ada kerjaan di sana." ejekku

"Enak aja! Aku juga punya kerjaan tau!!" kata Arif kesal

"Let me guess, tidur, makan, baca manga, nonton anime. Mahasiswa kok jarang di kampus ya?" tebakku

"Siapa bilang?! Aku sering di kampus kok!" kata Arif mengelak

"Iya arahnya, tapi nggak langsung ke kampus. Malah pergi ke warnet." tambah Heri

"Emang kamu nggak ada tugas ngetik atau apa gitu? Biar laptop kamu nggak sia-sia." tanyaku ke Arif.

"Aku 'kan menggunakan laptopku sebaik mungkin. Hampir semua kegiatan sehari-hariku menggunakan laptop." kata Arif membela diri

"Maksudmu kegiatan yang tadi ku sama Heri tebak? Lebih baik kamu menggunakan laptopmu untuk hal-hal yang lebih berguna. Sekaligus menghilangkan kebosananmu." kataku memberi saran ke Arif

"Oke, nanti kupikirkan. Udah dulu ya! Aku laper nih, belum sarapan." kata Arif menyudahi kegiatan sms kami

"Aku juga mau makan sama Arif. Lagian nanti aku ada rapat. Kapan-kapan kita sms-an lagi ya!" tambah Heri

"Oke, ku juga mau tidur lagi. Jadi.....JANGAN GANGGU AKU LAGI!!" kataku menulis sms terakhir ke mereka.

Tiba-tiba aku merasakan Social Link lagi. 'Thou art I, and I am thou. Thou who shalt have our blessing to create the Moon Arcana.' Kartu Arcana itu masuk ke dalam pikiranku. 'Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Tapi kayaknya Arcana Social Link ini berlawanan dengan Arcana Grup Bronkz-Nyet. Apakah kedua grup memang berlawanan ya?' pikirku sambil tiduran.

'Baru kali ini aku melihatmu sms-an selama dan se'ramai' tadi. Seakan-akan kalian ngobrol pada satu tempat. Aku aja nggak pernah kayak gitu.' kata Shadow tiba-tiba berbicara. "Baru lihat ya?! Hebat 'kan, baru sms aja udah rame. Kalo kita ngumpul, satu gedung bisa hancur gara-gara saking gilanya kami bercanda." kataku bangga. 'Kayaknya itu bukan sesuatu yang harus kau banggakan.' kata Shadow sweatdropped. "Terserah deh, ku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih! *hoam*" kataku kembali memejamkan mataku.

*kriiingg* HP-ku kembali berbunyi, kali ini telepon. "Ah, siapa sih?! Rasanya mau tidur dengan tenang dari semalam kok susah banget sih?!" teriakku kesal sambil mengambil HP-ku. "Halo, Hes ya? Kamu jangan pulang terlalu siang ya! Besok 'kan masih kuliah, jadi masih bisa ketemu teman-temanmu lagi. Lagian kamu nggak bawa pakaian ganti lebih banyak. Jadi nggak mungkin kamu nginap lagi 'kan?" kata Ibuku menyuruhku pulang.

"Iya, paling nanti Hes pulang dari Kost Hadi jam sepuluh. Hes masih ngantuk nih soalnya." jawabku. "Makanya kalo tidur jangan kemalaman. Nanti kamu capek terus malah jadi sakit. 'kan repot kalo kamu sakit." kata Ibuku menasehatiku. "Iya, soalnya tadi malam ada acara di kampus. Makanya jadi kemalaman tidurnya." kataku mencari alasan. "Ya udah, jangan lama-lama ya! Nggak enak 'kan ngerepotin Hadi melulu. Daah!" salam Ibuku mengakiri pembicaraan kami.

'*sigh* Gara-gara banyak gangguan jadi nggak bisa tidur deh. Ya udah, mendingan ku keluar kamar dan liat keadaan yang lainnya. Kira-kira masih pada tidur atau udah bangun ya?' pikirku sambil bangkit. 'Palingan udah pada bangun. Mereka 'kan nggak semalas kamu.' jawab Shadow mengejek. "Siapa bilang ku males?! Ini 'kan masih pagi! Suara Ayam jago aja nggak kedengaran." kataku kesal. 'Jelas nggak kedengaran. Sekarang tuh jam 9 pagi, bukan jam 5 pagi!!' balas Shadow juga kesal.

"Okay fine, kali ini ku kalah deh. Cukup perangnya, pagi-pagi udah ribut! Hari ini terlalu bagus untuk dihancurkan begitu saja." kataku menghentikan perdebatan kami. Aku langsung keluar kamarku (sebenarnya sih kamar Adi) dan melihat Hadi dan Adipta berada di ruang tengah sambil menonton TV.

"Akhirnya bangun juga. Gimana kakimu, masih sakit?" sambut Hadi. "Udah mendingan. Lho, kok kamu di sini Ton? Bukannya semalam setelah kita balik dari Tartarus kamu langsung pulang ke kost kamu?" tanyaku bingung. "Iya, aku barusan datang. Abis bosen sih, di kost aku nggak ada yang bisa diajak ngobrol soal semalam, jadi aku ke sini." jawab Adipta. "Oh begitu, terus Hari mana?" tanyaku lagi. "Dia langsung pulang. Katanya ada urusan di rumah." jawab Hadi sambil memainkan gitarnya. Hal ini merupakan kebiasaannya di pagi hari, kalau tidak ada kuliah pagi tentunya.

"Pagi amat pulangnya, apa dia nggak capek ya? Padahal dia yang paling banyak kena serangan semalam." kataku sambil membuat susu coklat. "Bukannya kamu juga kena serangan berkali-kali? Kalo nggak ku tolong mungkin kamu yang paling parah lukanya." tanya Hadi. "Iya, untung aja kamu datang. Thanks ya!" jawabku sambil minum.

"Oh iya, kayaknya semalam kamu pake serangan yang lebih kuat dari biasanya. Kok bisa sih?" tanyaku penasaran. "Maksudmu skill Zionga? Baru minggu lalu aku dapat skill itu setelah mengalahkan shadows terkuat, pas kamu membangkitkan kekuatanmu." jawab Hadi. "Sepertinya skill itu merupakan perubahan dari Zio, kekuatannya juga lebih besar. Aku juga sama, skill Garu milikku berubah menjadi Garula." tambah Adipta.

"Maksudmu setiap serangan bisa berubah jadi lebih kuat?" tanyaku belum mengerti. "Bukan hanya serangan, skill lainnya juga bisa meningkat. Seperti skill penyembuh Nana. Tadinya skill itu disebut Dia. Setelah kekuatannya meningkat, skill itu berubah menjadi Diarama. Efeknya pun meningkat." jelas Adipta. "Begitu ya. Kalo gitu skill ku dan Shadow juga bisa meningkat dong?!" kataku bersemangat. "Tentu saja, asal kamu sering menghadapi shadows pasti kemampuanmu meningkat. Jadi jangan cuma tidur aja tiap malam, sekali-kali kamu juga pergi keluar dan menghadapi shadows di luar Tartarus." saran Hadi.

"Lho, memangnya ada shadows juga di luar Bogor?" tanyaku kembali bingung. "Ada kok, tapi nggak sekuat dan sebanyak di dekat IPB. Mungkin karena pusatnya memang di sini, jadi mereka lebih banyak." jelas Adipta. "Tapi bukan berarti setiap malam kamu harus melawan mereka. Kamu juga Hadi, kamu tuh yang paling suka menghadapi mereka setiap malam." kata Adipta menasehati kami. "'kan kita harus sering latihan kalo mau jadi lebih kuat." kata Hadi mengelak.

"Iya, tapi kalo keseringan justru bikin kamu cepat lelah, terus kuliah kamu jadi terganggu deh." balas Adipta. "Ya aku tau. Aku juga pake istirahat kok. Sekuat apa pun seseorang, pasti membutuhkan istirahat." kata Hadi. "Bagus deh kalo kamu ngerti. Oh iya Gir, seingatku dari data yang diberikan Feby pertama kali. Shadow tidak memiliki serangan elemental, melainkan serangan fisik saja. Kenapa sekarang Shadow bisa memiliki serangan elemental?" selidik Adipta. "Selain itu, senjata kita tidak memiliki serangan elemental. Kenapa senjatamu bisa ada?" tambah Hadi.

"Oh iya, kalian belum tau ya? Setelah kemampuanku bangkit, aku tidak hanya bisa memanggil Shadow saja, tapi juga dapat menggunakan berbagai Arcana Card yang kuperoleh dari Social Link. Jadi Shadow bisa memakai berbagai skill tergantung dari Arcana Card yang kupakai untuk memanggilnya. Arcana Card itu juga bisa digunakan untuk meningkatkan serangan senjataku." jelasku. "Hah?!!" mereka berdua kaget mendengar penjelasanku.

"Tidak mungkin! setiap orang hanya memiliki satu Arcana Card. Meskipun dia mengambil kartu yang lain, pasti dia hanya mendapatkan Arcana Card yang sesuai kepribadiannya! Tidak mungkin satu orang bisa memiliki berbagai Arcana dalam dirinya!" kata Adipta kaget. "Oh ya, buktinya ku bisa. Awalnya sih ku cuma punya Fool dan Death Arcana. Tapi setiap kali ku ngobrol dengan orang lain, ku dapat Arcana Card baru. Bahkan ku dapat dua Arcana dari kalian." jelasku lagi.

"Maksudmu, setiap kali kamu berinteraksi dengan orang lain, kamu memperoleh Arcana Card baru?!" tanya Adipta berusaha memahami perkataanku. "Yup, you're right! Aku menyebutnya Social Link. Semakin dekat hubunganku dengan seseorang, maka kekuatan Arcana Card dari orang itu juga meningkat. (Kalo nggak salah sih gitu kata Igor)" kataku sambil mengingat perkataan Igor.

"Wow, selain memiliki kepribadian ganda ternyata kamu juga memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai Arcana Card. Kamu benar-benar lain daripada yang lain ya!" kata Hadi. "Is that a compliment? Atau ada maksud tertentu dari perkataanmu itu?" selidikku. "Ah, begitu aja curiga. Tentu saja aku memujimu. Berarti kamu bisa memakai bermacam-macam senjata dong?!" tanya Hadi. "Eh, kalo soal itu ku nggak tau deh. Ku belum pernah coba sih." jawabku sambil berpikir.

Tiba-tiba HP Adipta berbunyi. Dia langsung membaca sms yang baru diterimanya. "Wah, kayaknya aku nggak bisa lama-lama di sini. Biasa, orang penting selalu dibutuhkan. Bahkan pada hari libur. Kalo gitu aku pergi dulu ya! Sampe ketemu hari Selasa!!" pamit Adipta langsung pergi dari Kost Hadi. "Ya udah kalo gitu, ku juga mau mandi dulu." kata Hadi sambil meletakkan gitarnya. "Oh, kamu pulang ke Jakarta hari ini? Kamu sih enak, Senin nggak ada kuliah. Ku libur cuma sehari gara-gara kemarin masih UTS. Dunia ini memang kejam." kataku lemas.

"Jangan lemas gitu kenapa?! Dunia ini memang kejam, tapi bukan berarti semuanya tidak berjalan dengan baik 'kan?! Buktinya kita punya Persona untuk menghadapi shadows yang menjadi sumber masalah dari Apathy Sindrome. Lagian kita harus bisa menghadapi dunia ini dengan tegar. Karena itulah yang disebut dengan kehidupan." jelas Hadi serius. Awalnya aku bengong mendengar perkataannya, lalu aku langsung tepuk tangan setelah dia selesai bicara. "Hebat! Tumben kamu bisa pidato, biasanya kamu cuma bisa melawak." kataku sambil tepuk tangan.

"*bletak* Enak aja! Emangnya aku cuma jadi badut penghibur apa?! Kalo Hari sih mungkin." kata Hadi sambil memukul kepalaku. "Aduuh, ku 'kan cuma bercanda! Lagian maksud perkataanku memujimu kok!" kataku sambil memegang kepalaku. '*sigh* Payah deh, saat-saat begini nih yang membuatku menyesal berada di dalam pikiranmu. Aku juga sakit tau!' protes Shadow dalam pikiranku. 'Kita 'kan satu, jadi share the pain dong!' kataku ke Shadow.

"Udah ah, aku mau mandi dulu. Nanti kesiangan." kata Hadi mengambil handuknya lalu masuk ke kamar mandi. "Ya udah, ku juga mau beres-beres dulu." kataku kembali ke kamar.

Setelah aku selesai membereskan barangku, aku langsung mandi begitu Hadi keluar dari kamar mandi. Akhirnya sekitar jam 10 kami meninggalkan Kost Hadi. Aku pun berpisah dengan Hadi setelah kami naik bus masing-masing, karena arah perjalanan kami berbeda. Untungnya saat itu di dalam bus tidak terlalu banyak penumpang, sehingga aku mendapatkan tempat duduk. Tidak lama setelah aku duduk, aku langsung tertidur.

'Hoooii!! Kamu tuh baru bangun dua jam, masa udah tidur lagi!!' teriak Shadow. 'Apaan sih, ganggu orang tidur aja?! Ku 'kan emang gampang ketiduran kalo di bus atau mobil.' kataku setelah terbangun. 'Setidaknya lihat keadaan dulu dong! Lagian kamu harus waspada setiap saat. Biasanya di kendaraan umum banyak terjadi kejahatan.' kata Shadow menasehatiku. 'Maksudmu copet? Tenang aja, meskipun ku tidur, tasnya ku pegang erat kok. Dompet juga susah diambil, soalnya kantongku dalam. Lagian 'kan ada kamu, jadi ku nggak usah kuatir kalo ada copet.' jawabku santai.

'Damai banget jawabanmu itu!! Mentang-mentang ada aku yang selalu waspada, kamu bisa tidur dengan enaknya! Tidak!! Kalo misalnya ada copet saat kamu tidur, akan kubiarkan dia. Biar kamu tau rasa!' kata Shadow kesal. 'Fine, ku akan berusaha untuk nggak tidur, puas?!' kataku mengalah. 'Yeah, I'm satisfied now.' jawab Shadow puas.

'Tapi kalo cuma bengong melihat jalan sih bosan! Setidaknya kita ngobrol apa gitu, biar ku nggak bosan.' kataku mulai bosan melihat jalan. 'Nggak ada yang perlu kita bicarakan.' jawab Shadow datar. 'Ya kalo gitu ku bisa ketiduran lagi dong!' kataku kesal. Tiba-tiba aku teringat tentang request Elisa semalam. 'Oh iya Dow, semalam pas ku lagi di toilet kamu ngobrol apa sama Elisa?'. 'Nothing important.' jawabnya singkat. 'Come on, I'm your another self right? So there's no need to have a secret without I knowing it.' bujukku agar Shadow memberitahu rahasianya.

'Okay, I'll tell you. Pas kamu lagi di toilet, aku tanya kepada Elisa soal hadiah yang akan kita dapatkan setelah menyelesaikan request dia.' kata Shadow akhirnya bicara. 'Oh iya, ku lupa soal hadiahnya. Apa yang dia kasih?' tanyaku penasaran. 'Tadinya sih uang, tapi karena menurutku nggak terlalu penting. Jadi ku minta Tower Arcana Card sebagai gantinya.' jelas Shadow. Aku langsung mengambil Wild Card. 'Oh, you're right. I can feel it inside this card.' kataku sambil menggenggam kartu itu.

'Wait a sec, uang yang mau dia kasih sebelumnya berapa banyak?' tanyaku baru sadar. 'I don't know. Habis uang nggak terlalu penting buatku.' jawab Shadow santai. 'What the heck!! Kalo nilainya lebih besar dari harga Tower Arcana ini gimana? 'kan sayang uang sebanyak itu ditolak!' teriakku histeris. 'Nggak usah histeris gitu kenapa?! Belum tentu lebih banyak. Lagian kartu itu lebih penting. Uang masih bisa diperoleh dari berbagai cara, tapi kartu itu tidak mungkin diperoleh di mana-mana.' jelas Shadow menenangkanku.

'But still, kalo lebih banyak 'kan enak. Ku bisa simpan sisa uangnya setelah kita ambil kartunya, jadi lebih untung.' kataku lemas. 'Ya udah lain kali kamu deh yang menentukan pilihan soal hadiahnya. Makanya jangan keluyuran pas ada hal penting yang mau dibicarakan!' kata Shadow menasehatiku. 'Yeah, yeah, terus kalian ngomong apalagi? Ada request baru nggak?'. 'Oh iya aku lupa bilang. Seingatku dia meminta sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Coba ku ingat dulu, apa ya...' kata Shadow sambil berusaha mengingat. '*sigh* Kayaknya penyakit Amnesia-mu masih belum hilang seluruhnya.' keluhku.

'I remember it! She ask you for a date. She want to visit a mall on this world. There's a mall near your campus right? The one we came to watch movie yesterday.' kata Shadow berhasil mengingatnya. 'You mean, Botani Square?! You're right, I can take her to that place.' jawabku. Kami terdiam beberapa saat. "A DATE??!!" teriakku kaget. Semua orang di dalam bus langsung melihatku.

"Ah....maaf, tadi saya sedang mengigau." kataku sambil meminta maaf kepada semua orang di dalam bus. Mereka langsung swatdropped mendengar alasanku. 'What do you mean by 'date'?!' teriakku dalam pikiran. 'What up? She just want to see the mall with us, nothing else. So I accept her request.' jawab Shadow bingung.

'Maksudku, aku 'kan belum pernah ngajak cewek jalan-jalan berdua denganku di mall. Apa yang harus kulakukan?!' kataku panik. 'Nggak berdua kok, aku nggak dihitung?' ralat Shadow. 'Jangan bercanda deh, kamu 'kan nggak kelihatan. Jadi pasti cuma aku sama Elisa. Aaarrggh!!' kataku stress. Orang yang duduk disebelahku bingung melihatku. 'Hey, jangan stress gitu dong! Orang-orang pada ngeliatain kamu tuh!'. Aku langsung sadar dan berusaha kembali tenang. 'Just stay calm and everything will be alright.' kata Shadow menenangkanku.

'Okay, I'm fine now. Sekarang yang jadi masalah....apa yang harus kulakukan saat jalan-jalan dengannya?!' kataku mulai tenang. 'Nggak usah terlalu dipikirkan, lakukan saja hal-hal yang biasa kamu lakukan dengan teman-temanmu. Emang kamu benar-benar belum pernah jalan-jalan sama cewek?' tanya Shadow. 'Kalo rame-rame sih pernah, tapi ini 'kan situasinya berbeda. Aaarrggh....pusing!! Bagaimana ini Dow?!' kataku bingung. 'None of my business.' jawabnya datar. 'Aaarggh!!' aku kembali stress.


Senin, 4 Mei 2009
Sore hari 16.00
Botani Square

Setelah kuliah hari ini selesai, aku langsung menuju ke Botani Square dengan motorku. Sambil masuk ke dalam mall tersebut aku masih bingung memikirkan apa yang harus kulakukan nanti. Akhirnya aku sampai di depan pintu Velvet room. 'Masuk nggak ya? Duh, ku nggak yakin nih!' pikirku terdiam di depan pintu itu. 'Udah nggak usah dipikirin, masuk aja. Semuanya pasti akan lancar. Yah, mungkin nggak semuanya.' kata Shadow. "Ah, terserah deh! Apapun yang terjadi nanti, aku tidak peduli!" kataku sambil membuka pintu.


Velvet Room

"Welcome to Velvet Room. How can I help you today?" kata Elisa menyambutku. 'Ah....dia ada di sini. Dia enggak ada hari libur apa?!' pikirku. "Well....how should I say it? I want to ask you for a da...da...da..." kataku terbata-bata. "We want to ask you for a date today." kata Shadow menggantikanku berbicara. "Oh, I have been waiting for you to say it. Master, may I going out with them now?" tanya Elisa kepada Igor. "Of course, I don't mind it." jawab Igor. "Well, shall we going now?" tanya Elisa sambil menuju pintu keluar. Kami langsung mengikutinya. "Have a nice day!" salam Igor. 'Yeah, I hope so...' pikirku sambil keluar.


Botani Square

"*sigh* First thing first, can you speak Indonesian? Because it will be odd if we talking in English, even though you look like foreign. Besides, it will be better if we talk in Indonesian. You know, I'm not really confident with my English." kataku memintanya memakai bahasa Indonesia. "Tentu saja, tidak masalah kok." jawabnya tersenyum. "Bagus, sekarang enaknya kita ngapain dulu?" tanyaku sambil berpikir.

"Oh!!" tiba-tiba Elisa langsung berlari menuju air mancur. "Inikah yang disebut dengan air mancur? Tempat untuk meminta suatu keinginan dengan melemparkan koin ke dalamnya." kata Elisa sambil memperhatikan air mancur itu dengan seksama. "Eh....nggak juga sih. Ku nggak yakin jika keinginanmu akan terkabul meskipun kau melakukannya." kataku ragu.

"Kalau begitu mari kita buktikan." kata Elisa sambil mengambil dompetnya. "Euh....nggak usah banyak-banyak kok koinnya." kataku. "Tenang saja, aku sudah melakukan persiapan jika hal ini terjadi. Di dalam dompet ini terdapat koin Rp 100 sebanyak 10.000 koin." katanya sambil membuka dompetnya. "10.000 koin? Berarti..... sejuta dong?!" kataku kaget.

Kemudian Elisa membalik dompetnya sehingga koin-koin berjatuhan di atas air mancur tersebut. 'Hujan koin....nggak sayang ya, uang sebanyak itu cuma untuk mencoba kalo harapannya terkabul atau tidak?' pikirku sambil terus memperhatikan koin-koin berjatuhan seperti hujan. Orang-orang mulai memperhatikan kami. "He-hei, kau tidak perlu membuang sebanyak itu!" kataku berusaha menghentikan Elisa. "Oh, karena keasyikan memberikan koin, aku jadi lupa menyebutkan keinginanku. Yah...." kata Elisa lesu. Akhirnya dia pun menghentikan kegiatannya.

"Maaf, aku jadi lupa kalau kau ingin mengajakku jalan-jalan. Shall we going?" tanya Elisa sambil melihat sekitarnya. 'Gimana nih Dow?! Enaknya ke mana ku bawa dia?' tanyaku dalam pikiran. Tapi Shadow tidak menjawab. 'Cih, pake pura-pura nggak dengar! Awas kau nanti!' pikirku kesal. "Jadi, kita mau ke mana?" tanya Elisa. "Euh....gimana kalo....hm....ah, gimana kalo kita keliling mall dulu. Jadi kamu bisa melihat semua tempat yang ada di sini." jawabku sambil berpikir.

Kami pun berjalan menuju escalator untuk turun ke lantai bawah. Tiba-tiba Elisa melihat sebuah tempat senam. "Oh, sepertinya ini tempat untuk melatih kekuatan seseorang ya?! Apakah mereka berlatih untuk menghadapi shadows?" kata Elisa sambil memperhatikan tempat itu. "Eh....bukan, tempat itu digunakan untuk berolahraga sehingga badan mereka tetap sehat dan bugar. Lagian nggak semua orang tau soal Dark Hour." jawabku.

"Oh, begitu ya. Sepertinya menyenangkan ya! Apa aku bisa mencobanya?" tanya Elisa. "Euh....gimana ya? Kalo nggak salah hanya orang tertentu deh yang bisa masuk ke sana. Lebih baik kita lihat tempat lain saja dulu, gimana?" tanyaku mengajaknya pergi. "Sayang sekali. Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita." jawab Elisa menurut.

Kira-kira selama setengah jam kami mengelilingi Boqer. Sepertinya Elisa kurang mengetahui tentang dunia ini. Sebab banyak hal yang menarik perhatiannya. Bahkan counter HP pun menarik perhatiannya. 'Apa dia nggak pernah keluar dari Velvet Room sebelumnya? Sekecil itukah dunianya?' pikirku melihat Elisa yang penasaran dengan berbagai hal.

"Anggir, boleh aku membeli ini?" tanya Elisa sambil menunjuk sebuah handphone. Saat kulihat harganya, 'What the heck?! Dua juta?! I'm death!' pikirku panik. "Eh, apa nggak ada model lain yang kamu inginkan?" tanyaku berharap dia memilih yang lebih murah. "Oh, menurutmu kurang bagus ya? Kalau begitu....yang mana ya?" kata Elisa sambil melihat model lainnya. 'Semoga dia pilih yang lebih murah. Bukan, yang amat sangat murah saja!' kataku berharap. "Ah, bagaimana kalau yang ini?!" kata Elisa menunjuk handphone lain.

"Yang ma-NA?!!" kataku kaget melihat harganya. 'Tiga setengah juta?! Ini malah lebih parah! Aaarrgh!!' aku langsung stress. "Bagaimana Gir, boleh 'kan?!" tanya Elisa memohon. "Euh....yah...." mulutku bergerak sendiri, saking pusingnya aku tidak tahu mau ngomong apa. 'Bagaimana apanya?! Bagaimana dengan dompetku?!! Shaaadoow!!!' teriakku dalam pikiran. 'Okay-okay, I'll help you!! Now, be quiet!!' akhirnya Shadow menjawab panggilanku.

"Terima kasih karena sudah membeli di sini! Kapan-kapan datang lagi ya!" kata si penjual sambil memberikan kotak handphone yang sudah dibungkus tas plastik. "Ya, sama-sama!" balas Elisa menerima tas itu. "Eh....?!" aku langsung bengong melihatnya. "Bagaimana Anggir, bagus 'kan handphone-nya?" kata Elisa sambil mengeluarkan handphone dari kotaknya. "Eh....sejak kapan kamu membelinya?" tanyaku bingung. "Lho, tadi 'kan kamu bilang iya. Makanya aku langsung membelinya. Memangnya ada yang salah?" tanya Elisa jadi bingung.

"Maksudku, siapa yang bayar?" tanyaku ragu. "Tentu saja aku sendiri. Harganya murah sih, jadi aku bisa membelinya. Lagipula tidak sopan jika aku memintamu untuk membayarnya." jelas Elisa. 'Definisi 'murah' menurut dia itu seberapa ya?' pikirku sambil sweatdropped. "Memang kamu bawa uang berapa banyak?" tanyaku penasaran. "Aku hanya bawa sedikit kok. Kata Master aku tidak boleh boros. Jadi aku hanya membawa seratus juta rupiah." jawabnya santai. 'Shadow, sepertinya ku mau mati....tolong gantikan aku ya....' kataku serasa mau pingsan.


POV Shadow

"Lho, Anggir kenapa? Kok jadi kamu yang muncul, Shadow?" tanya Elisa kepadaku. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau kami bertukar posisi?! Padahal keadaan fisik Anggir tidak berubah. Seharusnya orang lain tidak bisa membedakan kami semudah itu!" tanyaku kaget. "Oh, itu mudah. Auramu sangat berbeda dengan Anggir, jadi aku tahu kalau kalian berganti posisi. Atau boleh kusebut 'Mind Change'?!" jelas Elisa. "I see....soal Anggir, dia merasa pusing, jadi aku yang menggantikan dia. Ayo kita jalan lagi." ajakku. "Kamu tidak mau membeli HP?" tanya Elisa. "Tidak perlu, aku sudah punya kok. Meskipun tidak sebagus punyamu." jelasku. "Oh, begitu. Baiklah, ayo kita lanjutkan.".

Kemudian kami melihat toko peralatan elektronik. 'Semoga dia tidak mengacaukan barang-barang di sini.' pikirku kuatir. Untungnya meskipun Elisa penasaran dengan berbagai benda yang ada, dia tidak mencobanya (baca: merusaknya). Lalu Elisa membeli sebuah MP3 Player. Sepertinya dia sangat tertarik dengan benda itu.

'Aduuuh....sepertinya ku baru mengalami mimpi terburukku. Eh....ternyata memang kenyataan ya....' kata Anggir akhirnya sadar. 'Oh, sudah sadar. Mau tukeran lagi?' tanyaku. 'Nanti aja deh, bisa-bisa ku pingsan lagi. Udah ke mana aja?'. 'Kami baru keluar dari toko elektronik. Elisa membeli MP3 Player, tapi harganya wajar bagi kita kok.' jawabku. 'Oh, bagus deh. Oh iya, gimana kalo kita ajak dia ke bioskop?! Abis itu baru pulang.' saran Anggir. 'Good idea! Okay, akan ku bawa dia ke sana.' kataku setuju.

"Hey Elisa, bagaimana kalau kita nonton di bioskop sebelum kita pulang?" tanyaku. "Boleh juga, ayo kita ke sana!" kata Elisa setuju. Kami pun kembali ke lantai tiga. Saat kami akan masuk ke bioskop, Elisa melihat air mancur lainnya yang tidak jauh dari air mancur sebelumnya.

"Oh, ternyata ada dua air mancur di sini! Apakah karena banyak orang yang membuat permintaan di sini, jadi dibuat dua air mancur? Tunggu sebentar ya, aku mau mencoba membuat permintaan lagi. Kali ini aku tidak akan lupa!" kata Elisa berlari ke air mancur. Selagi dia sibuk, aku pun membeli tiket.

"Maaf lama menunggu. Kita jadi menonton 'kan?" tanya Elisa. "tentu saja, aku baru saja membeli tiketnya. Ngomong-ngomong, kamu minta apa sih?" tanyaku penasaran. "Oh, tadinya aku bingung mau minta apa. Lalu aku punya ide. Aku minta agar aku mempunyai sebuah permintaan." jawabnya polos. Aku pun sweatdropped mendengarnya. Kami langsung masuk ke dalam studio.

Selesai menonton, Elisa menceritakan kalau dia sangat menyukai film tadi. Aku hanya menanggapi perkataannya. Tiba-tiba.... '*Praaangg* Thou art I, I am thou. Thou who shalt have our blessing to create the Fortune Arcana.' sebuah social Link baru muncul. "Ah....Elisa, kau juga merupakan Social Link?!" tanyaku kaget. "Oh, ternyata dugaanku tepat! Aku memang sengaja memintamu untuk mengajakku agar Social Link-mu bertambah. Lagipula aku masih ingin menjelajahi tempat lain yang ada di dunia ini suatu hari nanti." jelas Elisa. "Thanks!" kataku tersenyum kecil. "Ayo kita kembali ke Velvet Room." ajak Elisa.


POV Anggir
Velvet Room

"How it's going? Are you enjoying yourself?" tanya Igor menyambut kami. "Yes Master, I'm very happy today. We came to mall and I experience a lot of new things. Even I bought a handphone." jawab Elisa ceria. "Hohoho....so you really enjoying yourself. I'm glad to hear that!" kata Igor senang. "Dia sih enak, tapi ku enek!" kataku berbisik ke Shadow. "Jangan ngomong begitu. Meskipun kita kerepotan tapi kita dapat Social Link baru." balas Shadow.

"Thank you for today! And as a reward for your kindness, I'll give you this." kata Elisa memberikan MP3 Player yang tadi dibelinya. "Is this for me? Are you sure?" tanyaku ragu. "Of course, you can have it. and I have modified some part of it after I bought it." katanya. "Modified it?" tanyaku bingung. "Yes, if you want to hear a song you like, you just need to think about that song, and it will play that song. Even you can hear a song that fits with the situation around you." jelas Elisa. "Wow cool, thank you very much! I really like it!" kataku gembira.

"Tuh 'kan, tadi katanya enek." ejek Shadow kepadaku. "Ssst! Shut up!!" kataku malu. Igor dan Elisa bingung melihat kami. "Ah....it's nothing. Okay, I think we should leave now. See you next time!" kataku berpamitan sambil menarik Shadow keluar. "I'll be waiting for your next visit." salam Elisa.


Malam hari 18.30
Botani Square

"Wah, akhirnya ku punya MP3 Player! Bahkan lagunya tinggal mikir langsung keluar! Ini sih benar-benar hebat!!" kataku berjalan menuju pintu keluar. 'Mood-mu benar-benar berubah drastis dari lima menit yang lalu. Katanya tadi nggak enak ngajak jalan Elisa. Sekarang udah kayak anak kecil dapet mainan baru!' ejek Shadow. "Iya deh, lain kali ku nggak akan berpikiran seburuk itu. Habisnya, tadi Elisa benar-benar membuatku seakan-akan kena serangan jantung!" kataku kalah. 'Ya sudahlah. Sudah malam nih. Lebih baik kita pulang sekarang. Lagipula besok masuk pagi.' kata Shadow mengingatkanku. "Ah, jangan ingatkan aku soal itu.... Let's go!!" kataku semangat.


Sekarang mengertikan maksudku dengan plesetan pada judul?! Terima kasih kepada para pembaca baik yang review maupun yang hanya lurking. Yang penting kalian mau meluangkan waktu kalian untuk membaca cerita ini. Juga special thanks kepada Kirazu Haruka, Mocca-Marocchi, Iwanishi Nana, dan Tri-Edge yang telah mereview chapter sebelumnya. Sudah dulu ya, badanku pegal banget nih gara-gara ngajak jalan Elisa.

(Shadow: emangnya beneran?!)

Nggak sih, cuma ku dapat merasakan penderitaanku saat itu meskipun cuma fiksi.

(Shadow: Yeah, I know how you're feel.)

Sudah, jangan membuat pembaca pusing dengan membaca percakapan kita. Read us on next chapter!!