Chapter 8
You and Aegya are mine!
All Cast © Tuhan dan Eomma Appanya
You and Aegya are mine! © FujoAoi
Rate : M-Preg
.
.
.
.
Di sinilah Xi Luhan sekarang berada, namja manis berkulit putih itu harus meninggalkan keluarganya demi kebahagian seseorang yang ia impikan untuk kembali bersamanya, ia harus tinggal di Jeju. Oh Sehun, namja dingin yang menantikan Luhan kembali ke pelukannya dan pelukan hangat anaknya, Oh Se Han. HunHan. M-Preg, typo kebanyakan. DLDR. Love EXO, Love HunHan!
.
.
.
.
"Sebenarnya…" Se Han menatap wajah Luhan yang memucat.
Brak…
Seorang namja paruh baya masuk bersama beberapa orang lelaki kekar, Oh Sungmin. "Bawa dia pergi!"
Luhan kaget. Orang-orang berbadan kekar itu menarik jarum infusnya dengan keras dan membawanya pergi. "EOMMA! APA-APAAN INI?!"
Urat-urat Sehun menegang. Ia menatap wajah Eommanya sengit. Se Han sendiri tampak ingin melempar Halmeoninya ini dengan apapun yang bisa melukai Halmoeninya dengan rasa yang sama seperti Eommanya.
"Kau tidak perlu tau, Sehun! Sebaiknya secepatnya urus perceraianmu dan segera nikahi Taeyeon!" Sungmin kemudian mendekati Se Han dan menarik Se Han pergi.
"EOMMA!" Sehun menepis tangan Sungmin agar tidak membawa Se Han pergi.
Sungmin menatap wajah anaknya meremehkan. "Kau tidak tau apa-apa Sehun!"
Se Han mulai muak dengan situasi yang terjadi. "HALMEONI! AKU TAU SEMUANYA! DARI A HINGGA Z APA YANG TERJADI ANTARA HALMEONI DENGAN EOMMA DAN APPAKU!"
"Anak kecil diam saja!" Sungmin segera menarik paksa Se Han dari Sehun.
Se Han menepis tangan Sungmin berulang kali. "KAU IBLIS KEJAM! MENJAUH KAU IBLIS!"
Sungmin menatap Se Han dengan tatapan tidak percaya. "O-Oh… Rupanya, malaikat sudah menjadi setan kecil, eoh?"
Sehun semakin tidak mengerti. Apa yang terjadi sebenarnya?!
"Kau dan Eommamu sama saja. Manusia tak tau diuntung. Kau, Oh Se Han, hari ini aku mencoretmu dari daftar pewaris keluarga Oh! Luhan benar-benar. Sudah mau aku membantu finansialnya saat itu!"
Sehun tergagap. "A-Apa maksud Eomma?"
"Dia menjual dirinya untukmu. Ia dibayar hanya untuk mengandung anakmu Sehun. Dan setelahnya, ia harus pergi. Tapi, ia melanggar kontrak. Dan inilah akibatnya. Aku dan Appamu, akan segera menikahkanmu dengan Taeyeon agar nama keluarga kita menjadi bersih lagi. aku tidak mau ada perusak nama keluarga ki—"
PLAK…
Sehun terpaksa menampar wajah manis Eommanya ini. Tangannya sudah panas dan berkedut-kedut mengingat bagaimana Eommanya mengatakan hal sesakit itu padanya.
"Jadi, Eomma dan Appa membawanya padaku. Dan kemudian menjauhkannya dariku ketika aku mulai mencintainya?" Sehun berteriak sambil terisak. Hatinya tercabik-cabik mendengar kenyataan yang terus di tutupi Eommanya selama empat tahun belakangan.
Sungmin masih tertohok dengan kelakuan anaknya. 'Cinta benar-benar gila!' batin Sungmin. Se Han kemudian pergi dan segera mengikuti Luhan diam-diam. Sehun dan Sungmin tidak tau Se Han telah pergi.
"EOMMA! KENAPA EOMMA MENGENALKANNYA PADAKU?! KENAPA KAU MENIKAHKANKU DENGANNYA?! DAN KENAPA KAU MAU, MEMILIKI CUCU DARINYA?! KENAPA BUKAN LANGSUNG DENGAN TAEYEON SAJA?! WAE?! WAE?! WAE?!"
Sungmin terdiam. Semuanya terbongkar, salahnya jika ia sudah tersulut emosi. Ia kehabisan kata-kata.
"Ka-Karena dia… Namja… Yang bisa memberikanmu… Keturunan yang jelas… Yah, begitu. Yeoja diluar sana banyak yang memiliki seribu wajah ketika berhadapan dengan namja. Mereka menipu. Mereka menyakiti namja seperti kita. Aku tidak ingin, cucuku dan kau akan sakit hati karena seorang yeoja yang mungkin membuat kalian kesepian karena meninggalkan kalian atau hanya mengambil harta keluarga kita. Hanya itu."
Sehun berjalan gontai menuju Sungmin yang tersenyum kecut. Ia mendorong Sungmin untuk segera duduk di sofa tempat Se Han duduk tadi. Sehun kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia menangis, tapi sambil tersenyum kecut.
Sungmin melihat putra tunggalnya yang hancur berkeping-keping. Sehun mengambil baju bayi dan note yang ia bawa tadi. ia menyerahkan itu ke Sungmin. Sehun kemudian memberikan handphonenya dan segera masuk ke kasur Luhan untuk tertidur.
Sungmin membuka baju bayi itu dengan tangan bergetar. Ia kemudian membuka note yang Sehun berikan. Sungmin mulai menitikkan air matanya. Ia membuka handphone Sehun. Ia melihat bagaimana perkembangan Se Han sejak ia bayi hingga empat tahun lebih terakhir. Se Han yang awalnya tumbuh seperti anak-anak biasa, walaupun tanpa Eommanya, namun mulai berubah seiringnya waktu.
Se Han mulai sering murung di beberapa saat ketika Sehun tinggal pergi. Ia menangis. Ia mengerucutkan bibirnya. Hingga puncaknya ketika Sungmin membuka sebuah video.
Di video itu, Se Han sedang tertidur pulas. Ia menangis dan mengigau dalam tidurnya.
"Eomma… Jebal dorawa… Bogoshippoyo Eomma… Kr… Eomma… Eodigayo?... Kr… Kr…"
Sungmin sudah tidak sanggup lagi. Ia segera berdiri di samping Sehun. Ia kemudian mengelus surai anak tunggalnya lembut.
"Ne… Eomma salah Sehun… Eomma kira… Luhan hanya tempat kau akan menanamkan benih… Ternyata salah… Kau jatuh dalam pesonanya…"
Sehun tertawa mengejek. "Terlambat Eomma. Aku tidak memaafkan Eomma lagi. Aku akan segera melepas marga Oh yang ku pakai saat ini. Terlalu berat bagiku…"
Sungmin kemudian memeluk tubuh anaknya. "Mianhae… Sehun… Mian…"
Sehun segera menyingkirkan tubuh Sungmin dan segera pergi. Ia meninggalkan Sungmin sendirian di dalam ruangan itu. Ia segera mencari Luhan. Walaupun ia tidak tau kemana. Tapi, ia yakin, cintanya ke Luhan akan membawa Luhan kembali padanya.
.
.
.
.
Luhan sudah terikat di sebuah kursi. Ia berada di sebuah ruangan tertutup dan ia baru saja sadar dari pingsannya. "Kata Bos, kita boleh melakukan apa saja padanya, bukan?"
Lelaki bertubuh kekar lain kemudian mengangguk setuju. Mereka kemudian mengambil balok kayu dan segera memukuli Luhan. Luhan memuntahkan darah. Badannya penuh dengan memar.
"Salahmu, kau mengkhianati Bos sejauh ini. Kau makhluk hina! Mana ada namja memiliki rahim sepertimu!"
DUAK…
Satu pukulan kuat yang membuat Luhan muntah darah dan pingsan. Kursi tempat Luhan didudukkan tadi pun ikut hancur berkeping-keping. Tak jauh dari mereka menyekap Luhan, Se Han sedang mencuri dengar dan segera mencari telefon umum agar bisa menelpon Appanya.
Tut… Tut…
Cklek…
"APPA! JIKA AKU TIDAK KEMBALI NANTI DALAM KEADAAN HIDUP, APPA HARUS MENYELAMATKAN EOMMA YA! SARANGHAEYO, APPA!"
Tut… Tut…
Se Han segera berusaha masuk. Ia menemukan sebuah lubang yang cukup untuk membawa dirinya masuk ke dalam ruangan tempat Luhan di sekap.
"Wah, anak kecil pemberani. Mau menyelamatkan Eomma, eoh?"
Se Han segera mengejar tubuh Luhan, tapi Se Han di tarik oleh lelaki tadi. "EOMMA! EOMMAAAAA!"
Luhan tersadar dari pingsannya. Matanya kabur. Ia melihat Se Han meronta-ronta seperti ingin berlari padanya.
DUAK…
Se Han di pukul tepat di perut kecilnya. Ia memuntahkan darah. Dan, Luhan melihat Se Han tertawa dan kemudian tertidur pulas. "Rasakan itu anak nakal!"
Di mulut Se Han mulai mengeluarkan darah. Ia terjatuh seperti orang pingsan. "Ayo kita bakar tempat ini!"
Orang-orang itu mulai keluar. Tak lama, api mulai membakar tempat Se Han dan Luhan disekap. Se Han dengan langkah tertatih segera memeluk tubuh Luhan. Ia senang. Walaupun ia mati, ia akan selalu bersama Eommanya. Asap semakin tebal. Oksigen semakin sulit di dapat.
Tatapan Se Han mulai blur…
DUAK…
Se Han samar-samar melihat appanya datang bersama seseorang…
"A-A-Ap-Appa…"
.
.
.
.
Flashback
Sungmin melihat Sehun melaju dengan mobilnya. Ia segera menelpon supirnya untuk segera menjemputnya. Tak lama, supirnya segera membawa Sungmin pergi dari Rumah Sakit.
Sungmin menelpon Sehun berulang-ulang. Tapi tetap tidak diangkat. Hingga akhirnya teleponnya yang ke 7 diangkat Sehun. "Yeoboseyo? Nuguseyo?"
Sungmin menangis lagi. "Se-Sehun… Eomma… Eomma tau… Kemana Luhan dibawa…"
KCIIITTTTTTTT…
Sungmin mendengar suara mobil diberhentikan mendadak. Mata Sehun membesar karena mendengar itu. "Ke-Kemana Luhan? Kemana Luhan?" Nada pertanyaan Sehun mulai naik.
"KEMANA LUHAN? JAWAB AKU! SIALAN!"
Sungmin serasa tertusuk ribuan pisau di dadanya saat ini. Sehun tidak akan pernah berkata kasar jika ia tidak dalam keadaan terdesak.
"Lu-Luhan dibawa ke…"
.
.
.
.
Sehun segera mengangkat tubuh Luhan, di dalam tubuh Luhan, ada Se Han yang berlumuran darah. Sehun segera keluar. Semua orang berbadan kekar itu sudah dalam keadaan tidak bisa apa-apa lagi. Sehun pun dalam keadaan terluka parah. Karena, orang-orang di luar terlalu banyak jumlahnya dan tenaga mereka jauh lebih besar.
Sehun menaruh tubuh Luhan di jok belakang dan tubuh Se Han di jok depan. Kemudian Sehun segera melajukan mobilnya ke rumah sakit, rumah sakit lain tempat Sehun bisa menyembunyikan dirinya dan keluarganya dari Eommanya dulu.
"U-UISAAA! U-UISAAAA!" Sehun berteriak-teriak di lorong UGD rumah sakit. Beberapa perawat segera mengangkat tubuh Luhan seperti yang di perintahkan Sehun. Sehun sendiri menggendong Se Han.
Kemudian dua orang perawat mengambil Se Han dari gendongan Sehun. Sehun kemudian langsung jatuh terduduk di depan pintu UGD. Ia kemudian menuju kursi dan duduk di sana.
Ia meratapi foto Luhan yang ia jadikan wallpaper selama 4 tahun terakhir. Tak lama, layar sentuh itu basah karena air matanya.
Sungmin kemudian datang sambil tergopoh-gopoh. Sehun menatap Sungmin sengit. "Kenapa kau kemari?" Nada Sehun menjadi sangat tajam dan menusuk hati Sungmin.
"Aku melacak nomor handphonemu."
Sehun menatap Eommanya datar. "Pergi…" Sungmin menolak untuk pergi. Ia tetap berdiri di depan Sehun dengan air mata yang terus mengalir.
"Pergi, Eomma!" Sehun terisak ketika mengatakan kalimat itu. Ia tau, ia sudah berdosa besar pada Eommanya. Tapi, kenapa Eommanya harus melakukan ini padanya. "PERGI!"
Sungmin memeluk tubuh rapuh Sehun lagi. Ia kenal dengan Sehun sedari kecil. Tapi, kali ini ia benar-benar tidak kenal Sehun sedikit pun. Sehunnya sudah dewasa. Ia yang salah. Ia terlalu mengekang Sehun kali ini.
Sungmin ingin membuka mulutnya, ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, ia terlanjur tergugu. Ia merasakan tangan Sehun memeluknya erat. Ia tau, itu bukan lagi perasaan kasih sayang, tetapi pelampiasan semua kebencian dan kemarahan Sehun.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Di sini adakah yang bergolongan darah O?" tanya seorang perawat dengan tergesa-gesa. Sehun langsung melepaskan pelukannya dari Sungmin. "A-Aku! Aku bergolongan darah O!"
"Kami membutuhkan darah anda secepatnya. Baik Nona Oh dan anak anda membutuhkan darah anda!" Sehun kemudian segera mengikuti perawat tadi. Ia harusdi test dulu.
Ia segera berbaring di ranjang yang di sediakan. Ia merasakan ada benda yang masuk ke dalam kulitnya. Tak lama, benda itu kembali di tarik.
Sehun terbaring di ranjang itu beberapa saat. Hingga seorang perawat lain datang. "Darah anda cocok!"
Sehun tersenyum lega. "Cepat! Ambil darahku sebanyak-banyaknya!" Tapi, perawat itu menggeleng. "Anda juga terluka tuan. Kami tidak bisa membahayakan anda!" Sehun mengerut marah. "KU BILANG AMBIL YA AMBIL!"
Perawat itu menatap ngeri kepada Sehun. Sehun langsung memposisikan dirinya agar darahnya bisa diambil sesegera mungkin. Sehun tertidur karena terlalu lelah.
.
.
.
.
Cahaya lampu ruang inap menyilaukan mata Sehun. Ia bangun dan meringis pelan. Sungmin langsung mengelus pucuk kepala laki-laki semata wayangnya ini. "Sehun… Gwaenchana?"
Sehun seperti tidak mendengar apa yang di katakan Sungmin. Ia melihat beberapa perban dan bekas luka yang sudah mengering di tubuhnya. Ia juga menggunakan baju pasien.
Sehun segera bangkit dan pergi keluar. Ia mencari Luhan dengan keadaan sempoyongan. Sungmin sendiri melihat kepergian Sehun dengan tangisan yang tidak berhenti. Sungmin semakin menangis mengingat keadaan Luhan dan Se Han.
Flashback
Pelita siang hari sudah kembali ke dalam peraduannya. Saat itu langit sudah kembali di selimuti gelap. Uisa keluar dari ruang UGD. Tak lama, dua ranjang keluar di tarik dan di bawa oleh beberapa perawat. Sungmin langsung bertemu dengan uisa tersebut. "Uisanim. Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka baik-baik saja?"
Uisa terdiam. "Untuk Nona Luhan, ia mengalami beberapa luka di lambung sebelumnya. Dengan keadaan yang seperti ini, luka itu semakin parah. Sedangkan untuk Se Han…"
Sungmin mencengkram tangan uisa, "Bagaimana keadaan Se Han? Ba-Bagaimana? BAGAIMANA! KATAKAN!" Uisa itu menghela nafas panjang.
"Se Han mengalami shock. Ia koma saat ini hingga waktu yang tidak bisa saya tentukan. Dan juga beberapa luka di fisik mau pun di dalam. Ia mengalami hal yang buruk, psikisnya juga mempengaruhinya."
Sungmin melepaskan cengkramannya. Ia mencari tempat duduk yang bisa menenangkannya sekarang. Ia terpekur dengan semua luka batin dan fisik yang ia akibatkan. Ia terlalu memaksakan kehendak. Ia terlalu berharap banyak hingga sejauh ini. Buktinya, semua harapannya hanya membuat manusia terluka.
Flashback end
Sehun berhenti di stasiun perawat dan mencari ruangan Luhan. Sungmin kemudian mendekati Sehun. "Ia berada di lantai 5. Eomma antarkan, hm?"
Sehun tidak peduli. Ia masih menunggu data dari perawat yang ia tanyai. "Sehun… Dengarkan Eomma. Eomma tau dimana dia." Sehun tidak menoleh barang secuil pun.
"Nona Luhan berada di lantai 5 ruangan 512. Teman saya akan mengantar anda tuan. Anda kelihatan tidak sehat." Sehun mengangguk pelan. Sungmin menatap Sehun yang berpandangan kosong. Sehun duduk di kursi yang berada di koridor, menunggu seorang perawat membawa kursi roda.
Setelah kursi rodanya datang. Sehun langsung di bantu oleh perawat itu untuk pergi ke ruangan Luhan. Sungmin hanya melihat Sehun yang menghilang di balik pintu lift. Airmatanya jatuh perlahan.
.
.
.
.
Sehun meminta perawat itu pergi dan membawa kursi roda itu. "Aku bisa berjalan sendiri sekarang. Aku tidak ingin istri dan anakku tau bahwa aku selemah ini." Sehun kemudian membuka pintu kamar berwarna putih itu perlahan.
Bibir Sehun bergetar. Tubuhnya menegang. Dadanya sesak seketika. Air mata berlomba untuk meloncat turun dari matanya.
Ia berjalan pelan sambil memegang dinding dingin. Terkadang tubuhnya serasa akan terjatuh. Terlalu sakit melihat keadaan Luhan dan Se Han yang seperti itu. Mereka berbaring tidak berdaya dibantu oleh alat-alat penunjang hidup.
Sehun semakin miris melihat Se Han kecilnya memakai alat-alat yang banyak dan bergerak dengan cepat. Selang di sana sini. Ia mendekat ke arah ranjang Se Han. Ia mengelus surai hitam Se Han perlahan. Tangannya bergetar setiap menyentuh sehelai rambut Se Han.
Ia memegang dan mengelus pelan tangan kecil tak berdosa yang berubah warna dari kemerahan menjadi pucat melebihi kulit putihnya. Tangan kecil itu ditusuki oleh beberapa jarum. Hidung dan mulut Se Han juga di masuki oleh beberapa selang yang cukup besar.
Sehun kemudian mendekati Luhan. Ia bisa merasakan betapa dinginnnya tubuh Luhan saat ini. Kulit Luhan di penuhi luka lebam. Luhan di kelilingi kabel dan selang yang lebih sedikit daripada Luhan.
Sehun sudah cukup melihat semuanya. Ia merasakan akan segera mati saat ini juga. Ia berjalan untuk mencapai sofa. Ia membaringkan tubuhnya di sofa. Sehari sudah, mimpi buruk itu terlewati.
Ia bisa-bisanya tertidur saat Se Han baik Luhan tengah membutuhkannya.
.
.
.
.
Kyuhyun sedang melihat beberapa foto dari handphonenya. Ia melihat keadaan keluarga kecil anak kandungnya sendiri berada di ujung tanduk.
Kakao…
Kyuhyun melihat pesan yang baru masuk.
Sehun dan Se Han semakin parah dari hari ke hari. Luhan menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Kakao…
Kita batalkan rencana pernikahan ini dengan Taeyeon. Kita bayar saja uang ganti ruginya.
Kyuhyun bak mendapatkan perintah dari pemimpin perang yang menyuruhnya melakukan gencatan senjata. Ia memencet layar sentuh itu beberapa kali.
"Tuan Shin. Segera temui keluarga Kim Taeyeon. Dan bayarkan uang kompensasi kita seperti yang telah aku siapkan dulu!"
"Ne, Sajangnim!"
.
.
.
.
1 month later…
Luhan membuka matanya perlahan. Cahaya matahari pagi langsung menghadap padanya.
"Luhan!/Hyung!/Ge!" panggil Jaejoong, Kyungsoo, dan Tao.
Luhan mengalihkan pandangannya ke sampingnya. Ia melihat tiga orang yang menatapnya khawatir. Ia menarik ujung bibirnya dan tersenyum selebar mungkin. "Annyeong!"
Tao langsung menangis melihat keadaan Luhan. Tubuh Luhan semakin kurus. Tao menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh kecil Kyungsoo. Kyungsoo sendiri sedang mengusap dahi Luhan. Jaejoong tersenyum senang ke Luhan.
"Taemin dan Minho mencarimu setiap hari sejak kau menghilang. Aku juga khawatir aku akan kehilangan seorang dari karyawanku." Kata Jaejoong dengan nada bercanda.
"Jinjja? Besok aku akan segera bekerja!" Luhan tersenyum. "YAK! KAU MEMBERI HARAPAN PALSU! MANA MUNGKIN PASIEN SEPERTIMU BISA KELUAR RUMAH SAKIT?!"
Luhan lagi-lagi hanya tersenyum. "Kyung… Dimana Sehun?"
Kyungsoo hanya bisa diam. Ia menatap wajah Jaejoong sebentar. Jaejoong mengangguk pelan sambil tersenyum kecut.
"Hyung, sekarang kau tidak di Jeju lagi. Kau sudah berada di Seoul. Dan semuanya sudah berlalu sebulan." Kyungsoo menghela nafasnya. "Sehun sedang sakit, Hyung"
Pernyataan Kyungsoo merubah ekspresi Luhan. Luhan tidak mau menatap Kyungsoo, Tao ataupun Jaejoong. Tao yang sudah menangis tersedu-sedu akhirnya memilih pergi keluar.
"Banyak yang terjadi hyung. Sehun sedang berada di rumah megahnya. Se Han sudah sadar beberapa hari lalu. Tapi…" Luhan menangis mendengarkan semuanya. "Tapi apalagi? Apa Tuhan belum cukup menyiksaku?" tanya Luhan dengan nada yang ia coba untuk menunjukkan bahwa ia tidak menangis.
"Tapi… Pernafasan Se Han tidak bisa berjalan seperti anak-anak normal lagi. ia menghirup asap terlalu banyak. Dan tinjuan di perutnya juga menyebabkan pernafasannya terganggu."
"Keluar kalian semua." Perintah Luhan. Air matanya sudah mengalir deras. Kyungsoo dan Jaejoong mencoba menenangkan Luhan. "PERGI! KU BILANG PERGI!"
Kyungsoo dan Jaejoong akhirnya keluar dari ruangan inap Luhan dengan langkah berat dan mengkhawatirkan psikis Luhan. Luhan menjambak rambutnya. Ia sudah tidak sanggup hidup lagi. Ia sepantasnya mati.
Jaejoong mengawasi tindakan Luhan di dalam kamar melalui kaca yang ada di pintu. Kyungsoo sendiri menenangkan Tao yang menangis tak henti-henti. Tao yang merasa sangat bersalah disana. Ia yang menyebabkan semuanya. Ia memukul dadanya berulang kali. Dan berulang kali pula Tao hampir pingsan.
Tak lama, Lay, Xiumin, Baekhyun, Kai, dan Kris datang. Kris langsung memeluk Tao, ia menenangkan dan meyakinkan Tao bahwa itu semua bukan kesalahan Tao. Tao semakin menangis mendegarkan semua penuturan Kris. Tak lama, Tao benar-benar pingsan.
Jaejoong lengah karena Tao yang pingsan. Tanpa ia sadari, Luhan sudah terjatuh dari kasurnya. Selang infusnya ia lepaskan. Ia menangis sambil meringkukkan badannya di lantai.
Brak…
"LUHAN!"
.
.
.
.
Sehun sedang menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat jelas. Ia sudah 2 hari tidak tidur. Sama sekali tidak.
Sehun hanya tidur, makan, ke kamar mandi, dan kembali tidur. Separuh hidupnya menghilang. Ia tidak bisa ke rumah sakit untuk sekedar menjenguk. Terlalu sakit untuknya jika ia ke rumah sakit.
Tok Tok…
"Sehun…" Sungmin masuk ke kamar Sehun untuk menggantikan baju Sehun.
Baju Sehun yang kemarin sudah sangat bau. Sehun sudah tidak beraktifitas apa-apa lagi semenjak kejadian memilukan itu terjadi.
"Sehun…" panggil Kyuhyun yang baru masuk.
Ia menarik tangan Sehun untuk segera bangun. Sehun akhirnya bisa duduk. Ia tidak melihat Kyuhyun maupun Sungmin. Matanya perlahan tertutup. Sehun kemudian pingsan.
"Sehun… Jangan main-main…" Kyuhyun membangunkan anaknya itu.
Tapi, tak ada nafas yang keluar dari hidung Sehun. Kyuhyun yang takut Sehun ada apa-apa atau Sehun sedang berbohong kemudian memegang dada Sehun. "Sehun… Jangan main-main… Eomma ingin mengelap tubuhmu…" ujar Sungmin.
Kyuhyun tertunduk dalam. Air matanya jatuh.
"Sehun… Jangan tinggalkan kami… Sehun… Dorawaseo… Sehun…"
"SEHUNNNNNNNNNNNNNNNNNN!"
.
.
.
.
Luhan berada di atas ranjangnya. Ia sedang di periksa.
Pip pip pip pip…
Detak jantung Luhan semakin lemah…
Pippppppppppppppppppppp…
Garis panjang terpampang di layar berwarna hitam dengan garis berwarna hijau.
Orang-orang semakin panik. Beberapa di antaranya menangis.
.
.
.
.
Se Han yang tertidur kemudian menghembuskan nafas terakhirnya…
.
.
.
.
END
Eh, salah…
.
TO BE CONTINUED
TBC
.
.
Akhirnya ini FF update juga…
Kemaren udah banyak yang protes sama Aoi ya, masalah FF yang updatenya telat ini…
Ya, mau gimana lagi, modem sama wifi Aoi gak bisa ngebuka FFn lagi…
MOHON MAAF SEMUAAAAAAAAA
Setelah ini Aoi bakalan fokus ke Diamond Tear, soalnya udah lama banget nggak update itu FF, udah lumutan dia…
Eh, untuk semua penggemar EXO, selamat ya! Kita udah punya official website yang benar-benar ramai. Aoi saja saat ini masih berusaha untuk mendaftar. Yang udah daftar, selamat ya!
Oke, reviewnya udah Aoi jawab ya, yang punya akun. Yang guest, Aoi belum bisa balas. Soalnya Aoi ngejar publish ini cepat.
.
.
.
Aoi sekarang udah punya blog baru (lagi) yang khusus untuk pelarian FFn
Ini linknya…
.com
.di
Yang mau daftar, silahkan PM Aoi
Dan yang request pertemanan sama Aoi di FB, mohon ibox terlebih dahulu. Aoi takut nanti, jika ada yang gak berkenan dengan HunHan tiba-tiba ngebash atau ngapain Aoi. Hanya itu.
.
.
.
RnR plissss
