Diclaimer :Tite Kubo
Terimaksih banyak buat yang sudah mereview:
sava kaladze, Aine Higurashi, Jee-ya Zettyra, Fajariku Nagashi, Chappynk I, Riztichimaru, girlinlightblue, Zheone Quin, avia chibi-chan, aRaRaNcHa, Yurisa-Shirany Kurosaki, Hekka, Maicon Gay, rukiahinata
Chapter 8: Aneh!
"Lihat aku Rukia," pinta Renji.
"..."
Aku hanya bisa menuruti Renji, kutatap mata Renji. Sungguh aku tidak tahu harus berkata apa. Kamisama tolong aku, aku tidak ingin suasana seperti ini. Aku tidak mau menyakiti seseorang.
"Renji, aku tidak menyangka kau akan mengatakan semua ini. Aku tidak tahu harus menjawab apa, yang kuinginkan bukanlah mencari pacar. Melainkan punya banyak teman sebanyak-banyaknya, kuharap kau bisa mengerti Renji," ucapku sambil menatap tajam Renji.
"..."
Diam, itulah yang dilakukan Renji. Berbagai kekecewaan tergambar jelas pada raut wajah Renji, wajah yang tadinya ceria kini berubah menjadi muram. Aku yang menyadari hal tersebut berusaha memberi pengertian lagi pada Renji.
"Renji! Aku tahu kau orang yang kuat, dan aku percaya diluar sana banyak yang menantimu. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin kau sakit hati karena aku tidak bisa menyukaimu. Bagiku kau adalah sahabat yang paling bisa mengerti aku, dan aku tidak mau merusak persahabatan itu. Kau mengerti Renji?" jelasku panjang lebar, berharap Renji akan mengerti.
"Aku bisa mengerti!" jawab Renji sambil tersenyum memandangku.
Ya, senyum yang terlihat sangat dipaksakan oleh pemiliknya. Sakit sekali aku melihat senyum itu, aku merasa bersalah. Seperti itukah rasanya saat kita menyukai seseorang tapi ternyata orang itu sama sekali tidak ada rasa terhadap kita.
"Terimakasih Renji, kau memang sahabat baikku," ucapku berusaha bahagia.
"Tapi kuharap kau tetap mau menerima kalung itu," ucap Renji sambil menunjuk pada kalung yang kupegang.
"Tapi..." ucapku terpotong karena disela Renji.
"Katanya aku sahabatmu? Tentunya kau tidak akan menolak barang pemberian sahabatmu ini dong," ucap Renji sambil menyunggingkan senyumnya.
"Aduh, aku jadi tidak enak," ucapku yang merasa tidak enak.
"Sudahlah, sini kupakaikan," ucap Renji sembari mengambil kalung itu dari tanganku dan langsung memakaikannya dileher jenjangku ini.
"..."
"Aduh cantiknya kau ini Rukia, beruntung sekali lelaki yang mendapatkanmu besok," puji Renji terhadap kecantikanku.
Mendengar pujian Renji itu aku jadi blusing sendiri, rasanya aneh sekali. Harusnya Renji marah karena aku menolaknya, tapi yang terjadi sebaliknya. Mungkin itulah yang dinamakan mencintai dengan tulus, lebih senang melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang yang sangat dicintainya.
-Malam harinya-
'Ichigo! Apa maksud sikapmu tadi siang itu? Kau ini membuatku merasa tidak nyaman saja, sesungguhnya apa maumu itu? Aku benar-benar tidak habis pikir akan jalan pikiranmu itu,' gumamku dalam hati.
Aku memcoba memejamkan mataku untuk tidur, tapi wajah Ichigo malah terpampang jelas diotakku. Kupikir Ichigo juga sedang memikirkan aku, harapanku sih seperti itu.
-Esok paginya-
Hari ini aku berangkat bekerja pagi-pagi sekali, karena tugas hari kemarin sudah menantiku. Sepanjang jalan menuju tempat kerja otakku selalu memikirkan Ichigo, padahal aku berusaha utuk tidak memikirkannya. Saat aku belok ditikungan tiba-tiba ada motor berhenti tepat disampingku, karena penasaran akupun menengok motor itu. Rasa-rasanya aku kenal motor itu, tapi milik siapa? Aku sedikit lupa. Saat aku sedang berpikir keras tentang siapa pemilik motor itu tiba-tiba sang pengendara motor membuka helmnya. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata dia Ichigo. Tapi kenapa pagi-pagi dia sudah disini? Dan mengapa menghampiri aku seperti ini? Beribu pertanyaan menyerang otakku.
"Ichigo? Sedang apa kau disini?" tanyaku pada Ichigo.
"Aku hanya lewat, apa kau sudah makan pagi?" tanya Ichigo kemudian.
"Belum!" jawabku singkat.
"Ayo kita sarapan dulu, naiklah kemotor," ajak Ichigo sambil menyuruhku untuk memboncengnya.
"Tapi? Aku harus segera bekerja," ucapku pelan.
"Hmm... masih jam 8, bukankah kau masuk kerja jam 9? Tenang saja, hanya makan didekat sini saja kok," ucap Ichigo berusaha menenangkan kekhawatiranku.
"Baiklah," ucapku kemudian naik kemotor Ichigo.
Dan tidak beberapa lama kamipun melesat menuju rumah makan yang memang tidak jauh dari tempat kerjaku. Aku memesan nasi goreng, dan Ichigopun juga memesan menu yang sama.
"Kau masih gemar nasi goreng?" tanyaku pada Ichigo.
"Tentu saja masih, sejak dulu sampai sekarang aku akan selalu setia pada nasi goreng," ucap Ichigo semangat empat lima.
"Oh!" kataku ber'Oh' ria.
"Oh iya Rukia, nanti kau yang bayar semua ini ya?" ucap Ichigo.
"Apa? Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Kau kan sudah jadian sama Renji, dan sebagai ungkapan rasa bahagiamu itu kau harus mentraktirku," ucap Ichigo sambil melahap nasi goreng didepannya.
'Kenapa Ichigo berpikir aku sudah jadian sama Renji?' tanyaku dalam hati.
"Hey Rukia! Kau mendengarkanku kan?" tanya Ichigo membuyarkan konsentrasiku.
"I...ya! Baiklah," jawabku kemudian.
"Apa kau sangat menyukai Renji?" tanya Ichigo tiba-tiba.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" jawabku sambil bertanya.
"Ha ha ha, tidak kau jawabpun aku juga sudah tahu. Kau sangat menyukai Renji," ucap Ichigo yang sontak membuatku tidak percaya.
"Saat ini aku tidak sedang menyukai seseorang, karena hanya membuat sakit," ucapku sambil memasukkan sesendok nasi goreng kemulutku.
"Lalu kenapa kau pacaran sama Renji?" ucap Ichigo sambil menatapku tajam.
"Kapan aku bilang aku pacaran sama Renji?" tanyaku balik pada Ichigo.
"Kapan ya?" tanya Ichigo dengan tampang bloon.
"Aku tidak pernah mengatakan aku pacaran sama Renji, karena kami memang tidak pacaran," jelasku sambil terus memakan nasi goreng.
"Jadi aku salah tebak dong?" ucap Ichigo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar sok tahu!" ucapku sambil menjulurkan lidah pada Ichigo karena aku sedang mengolok-olok Ichigo.
"Berarti aku masih ada harapan!" ucap Ichigo kecut.
"Ya, harapan untuk memakanmu!" ucapku dengan nada mengejek.
"Dagingku tidak enak Rukia, tulangku juga tidak enak!" tambah Ichigo meladeni gurauanku.
Aku tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini, tapi aku berharap inilah yang terbaik buat semuanya.
Setelah sarapan bersama Ichigo kemudian mengantarkanku ketempat kerja, aku merasa sangat terharu. Kenapa Ichigo jadi sebaik dan seperhatian seperti itu? Padahal kan dulu tidak seperti itu? Aku jadi penasaran.
-Malam harinya-
'Aduh! Pusingnya, jadi pengen tidur aja. Badan rasanya capek, tapi entah mengapa mata ini sulit untuk terpejam. Otak ini selalu terbayang Ichigo, aku sungguh tidak tahu kenapa bisa demikian. Apakah ini yang dinamakan menyukai seseorang tanpa sebab? Aku juga tidak tahu,' gumamku dalam hati.
Lama sekali otak ini tidak mau kompromi untuk tidur, sampai mata ini terlihat sangat sayu. Setelah agak pagi akhirnya aku terlelap dan terbuai mimpi juga, sampai tidak terasa matahari pagi sudah terbit dan menyinari bumi ini. Hari ini hari minggu, jadi aku bisa bermalas-malasan dikost. Hal yang sering kulakukan dihari minggu adalah hibernasi total, biar badan ini tidak kelelahan.
"Rukia! Ayo cepatlah, bukannya kau ingin ikut jogging?" teriak salah satu teman kostku didepan pintu kamar.
Aku yang masih mengantuk mencoba membuka mata, dan melirik jam didinding. Ternyata memang sudah siang.
"Iya kak! Aku jadi ikut, tunggu sebentar ya? Aku mau cuci muka dulu," ucapku sambil bangkit dari tempat tidur.
"Okelah kalau begitu, aku tunggu dibawah yak?" ucap temanku yang bernama Matsumoto Rangiku.
Dengan gontai karena masih ngantuk aku berjalan menuju kamar mandi, dengan segera aku membasuh wajah dan membersihkan wajahku dengan sabun cuci muka. Ternyata sangat segar dan membuatku fress. Setelah selesai mencuci muka dan sikat gigi aku segera kembali kekamar dan segera mengganti pakaian olahraga, bukan pakaian olahraga sih, tapi lebih tepatnya pakaian santai . Tidak lupa juga ponsel selalu kukantongi dalam celana, mana pernah pacarku yang setia itu aku tinggalkan begitu saja.
"Ayo! Aku sudah siap," ucapku pada Rangiku.
"Ok! Kita jalan dulu ya? Setelah sampai ditaman baru kita jogging," usul Rangiku.
"Iya, terserah kak Ran saja," jawabku singkat.
Kami berjalam menuju taman, tapi kami lewat jalan 'Sunday Morning' acara setiap hari minggu pagi. Banyak sekali pengunjungnya, karena disana dijual berbagai kebutuhan anak kost. Harganyapun juga harga anak kost, dari mulai pakaian anak-anak, dewasa, perlengkapan makan, perabot rumah tangga, mainan, pokoknya berbagai macam dan variasi deh.
Kami melewati jalan 'Sunday Morning' itu, karena masih pagi jadinya tidak terlalu ramai.
"Kak Ran! Bagaimana kalau kita beli makanan? Aku lapar," usulku pada Rangiku.
"Boleh juga! Kita mau beli apa?" tanya Rangiku kemudian.
"Hmm... kita beli cireng saja, sepertinya enak!" usulku sambil menunjuk penjual cireng.
"Oke! Ayo kita kesana!" ucap Rangiku sambil menyeretku ke penjual cireng itu.
"Kau mau beli berapa Rukia?" tanya Rangiku padaku.
"Dua ribu saja, kau mau beli berapa?" ucapku pada Rangiku.
"Sama aja, aku juga dua ribu mas," ucap Rangiku centil pada penjual cireng itu.
Setelah membeli cireng kami segera melanjutkan perjalan menuju taman, setelah sampai ditaman aku mengambil tempat duduk dibawah pohon. Enak sekali, sambil menikmati cireng dan melihat orang berlalu-lalang berlari kesana kemari.
"Ayo Rukia! Kita mulai jogging," ajak Rangiku padaku.
"Ah, aku tidak ah! Kakak saja, aku kan tidak berniat untuk jogging. Aku hanya menemani sambil berphoto-photo, sana! Jogging sendiri, aku jadi pengawas saja," ucapku tanpa dosa pada Rangiku.
"Ih! Kau ini, masa aku lari sendirian?" ucap Rangiku sebal.
"Kakak tidak sendirian, tuh banyak orang yang jogging juga," ucapku sambil menunjuk ibu-ibu yang sedang jogging juga.
"Ah! Ya sudahlah, kau ini menyebalkan," ucap Rangiku sembari berlari memulai joggingnya.
Aku memang tidak suka olahraga, aku kesini hanya menemani kakak yang pengen jogging. Dan tujuanku adalah cuci mata sambil bernarsis ria. Samar-samar dari kejauhan aku melihat sosok yang mirip Ichigo, tapi apa benar itu Ichigo? Rasanya sangat mustahil, tidak mungkin Ichigo ada disini. Mungkin ini efek mataku yang mulai tidak normal.
Lama-lama sosok itu semakin jelas, dan sosok itu juga semakin mendekatiku. Dan kurasa dia memang benar-benar Ichigo, dan ternyata itu memang benar.
"Rukia?" panggil Ichigo sambil melambaikan tangannya kearahku.
"Ichigo?" jawabku agak terkejut.
"Sedang apa kau disini? Kau mau olahraga?" tanya Ichigo yang tiba-tiba sudah duduk disampingku.
"Aku? Aku tidak... aku hanya menemani temanku jogging!" jawabku tidak karuan karena merasa canggung.
"Kenapa kau tidak ikut jogging sekalian? Biar sehat," ucap Ichigo.
"Aku tidak terlalu suka olahraga, lagian setiap pagi aku juga sudah olahraga," kataku sambil menatap Rangiku yang sedang serius jogging.
"Olahraga apa?" tanya Ichigo sambil menatap tajam kearahku.
"Setiap pagi kan aku berjalan dari kost sampai tempat kerja, dan itu sudah termasuk olahraga," jawabku sok cool.
"Kau ini, dari dulu tidak berubah! Sekali-kali olahragalah, biar badan jadi sehat," ucap Ichigo sok menasehatiku.
"Hah, malas!" ucapku enteng.
"Bagaimana besok kalau kau dapat suami seorang olahragawan? Bisa menderita hidupmu nanti," ucap Ichigo menakut-nakutiku.
"Benar juga ya? Bagaimana kalau suamiku nanti seorang olahragawan? Setiap
pagi diajak olahraga, sangat menyiksa sekali," ucapku sedikit takut.
"Dasar bodoh!" ucap Ichigo mengejekku.
"Menyebalkan! Ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada disini sepagi ini?" tanyaku penasaran pada Ichigo.
"Itu? Aku kebetulan sedang menginap dirumah teman, dan karena aku ingin jogging makanya aku kesini," jawab Ichigo sekenanya.
"Begitu ya?" ucapku tidak yakin akan jawaban Ichigo.
"Ah capeknya!" ucap Rangiku yang tiba-tiba datang dan ambruk disampingku.
Sementara aku dan Ichigo memperhatikan Rangiku bersama-sama, karena kedatangan Rangiku tiba-tiba dan tanpa segan-segan ambruk disampingku. Rangiku yang sadar kalau sedang diperhatikan dua pasang mata akhirnya menoleh kearah kami dan menatap tajam pada Ichigo.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ucap Rangiku sambil menatap tajam aku dan Ichigo.
"Tidak ada apa-apa kok," jawab Ichigo sambil meringis aneh.
"Kau siapa?" tanya Rangiku pada Ichigo.
"Aku temannya Rukia, perkenalkan namaku Ichigo Kurosaki," ucap Ichigo memperkenalkan diri.
"Jadi kau yang namanya Ichigo itu ya?" tanya Rangiku berbinar-binar.
"I...ya! memang kenapa?" tanya Ichigo penasaran.
"Oh... jadi kau yang namanya Ichigo itu? Rukia sering bercerita tentangmu lho!" ucap Rangiku sambil melirik jahil kearahku.
"Yang benar?" ucap Ichigo semangat.
"Ih... Kak Ran! Kakak ini apa-apaan sih? Kan aku tidak pernah bercerita tentang Ichigo," ucapku blusing.
"Ah, sudahlah Rukia, kau jangan malu-malu anjing seperti itu," ucap Rangiku sambil tersenyum jahil.
"Sialan kau Kak!" ucapku kesal pada Rangiku.
"Memang Rukia suka bercerita apa?" tanya Ichigo pada Rangiku.
"Buanyak sekali pokoknya!" ucap Rangiku sambil terus memasang muka jahat.
"Ih, sudah diam kau Kak!" ucapku agak marah pada Rangiku.
"Yee... kau marah ya Rukia? Tenang saja, tidak akan ada masalah. Kupikir Ichigo juga tidak masalah," ucap Rangiku tanpa dosa.
Ichigo hanya senyam-senyum aneh mendengar penuturan Rangiku, sedangakan aku malunya bukan main. Semua rahasiaku terbongkar oleh sikap konyolnya Rangiku. Mana semua yang pernah kuceritakan pada Rangiku diceritakan ulang pada Ichigo lagi, aku kan malu. Sungguh tidak bisa dipercaya, tapi kenapa reaksi Ichigo malah terlihat bahagia seperti itu? Apa sesungguhnya yang terjadi?
~~~~ T B C ~~~~
Hyaaa... sungguh Chapter yang gaje *meringis gaje*
Kuharap para readers tidak kecewa, lagi tidak ada ide sama sekali.
Jadi malah jadi garing kayak kerupuk udang *kagak nyambung banget deh*
Ok! Bagi para readers yang baik dan tidak sombong, silangkan tekan REVIEW dibawah ini...
*mohon dengan sangat*
