Chanyeol tidak mengerti dengan sikap Baekhyun semalam. Pagi harinya kali ini diawali dengan kegelisahan. Dengan tergesa ia memakai pakaian mengajarnya lalu berlari menuju lift yang membawanya pada parkiran apartementnya. Dengan cepat ia menaiki mobilnya lalu melaju dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya.
Hingga ketika mobilnya telah berada tak jauh dari halte bus, ia menajamkan pengelihatannya. Ia mendesah lega ketika mendapati sosok mungil berseragam yang tak asing baginya.
Bibirnya tersenyum kecil menatap lelaki yang bersamanya semalam. Setidaknya Baekhyun telah sampai dirumahnya dengan selamat, dan Chanyeol sangat senang dengan hal tersebut.
Chanyeol masih tetap disana, menunggu hingga bus yang akan mengantarkan Baekhyun kesekolah datang. Saat lelaki itu masuk kedalamnya, Chanyeol akhirnya melajukan mobilnya pelan mengekori bus tersebut.
.
Bunnybtm
ChanBaek
.
Baekhyun berjalan disekitar koridor sekolahnya dengan earphone yang menyumpal lubang telinganya. Dengan wajah datarnya, ia masuk kedalam kelasnya lalu duduk dibangkunya. Ia mengeluarkan sebuah buku kosong dari tasnya, lalu mencoret-coret asal kertas tersebut.
Ketika Tiffany duduk didepan mejanya, Baekhyun tidak menghentikan gerakan tangannya bahkan ia mengacuhkan temannya itu.
Tiffany melepaskan earphone yang menyumpal telinga Baekhyun. "Hei, ByunBaek. Kau kenapa? Lesu sekali?"
Pertanyaan Tiffany sama sekali tak ia jawab. Baekhyun kembali menyumpal telinganya dengan earphone miliknya dan kembali mencoret-coret asal buku kosong didepannya.
Tiffany mengerucutkan bibirnya kemudian merampas buku Baekhyun dan mencabut paksa earphone Baekhyun dari ponselnya yang ia letakkan di jas seragam Baekhyun. "Katakan, kenapa, Baekhyun?"
Baekhyun menggeleng. Ia melipat kedua tangannya diatas meja lalu menaruh kepalanya disana. Ia memejamkan matanya.
"Apa kau marah karena aku kembali berpacaran dengan Taeyeon?"
"Tidak. Pergilah, aku sedang ingin sendiri."
Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya. Sejujurnya ia tidak mengerti apa yang salah dengannya.
Baginya, ucapan Chanyeol semalam sangat menyakitkan. Jika selama ini Chanyeol tidak punya perasaan terhadapnya, kenapa lelaki itu memberikan dirinya kenyamanan? Menciumnya? Bahkan hampir menyetubuhinya.
Apa Chanyeol hanya menginginkan tubuhnya? Apa dirinya serendah itu dimata Chanyeol?
"Hiks..." satu isakan kembali keluar dari bibirnya. Baekhyun menyumpahi dirinya yang tiba-tiba menjadi sangat cengeng. Dia akui, kalau ia memang sudah jatuh kedalam pesona gurunya itu, ia menyangka kalau Chanyeol menyukainya –mencintainya. Maka dari itu, ia berani untuk jatuh kedalam pesona Chanyeol. Namun kenyatannya tidak. Hidupnya seperti terbalik, cinta pertamanya sangat menyakitkan.
Tiffany yang baru saja ingin kembali ketempat duduknya mengurungkan niatnya ketika mendengar isak tangis dari Baekhyun. Ia berlutut disamping Baekhyun, mengintip wajah Baekhyun yang tersembunyi dibalik lipatan tangannya. "Baek..." ia menarik kursi lalu duduk disamping Baekhyun.
"Ada apa? Ceritakan padaku."
"Tiff... Sakit sekali, hiks."
Tiffany menarik tubuh Baekhyun. Ia membawa lelaki itu kedalam pelukkannya. Tangannya mengelus punggung Baekhyun dengan pelan. "Menangislah..."
.
.
Di tengah pelajaran yang diajarkan Chanyeol, mood Baekhyun semakin memburuk saat melihat lelaki itu. Ketika lembar soal kuis dibagikan, Baekhyun hanya menatapnya malas. Berbeda dengan teman-temannya yang bersorak karena kuis kali ini merupakan pilihan ganda.
Baekhyun menyingkirkan kertas soal menjauh darinya, ia kembali menaruh kepalanya diatas lipatan tangannya kemudian memejamkan matanya. Dibandingkan mengerjakan soal tersebut, Baekhyun memilih untuk mengunjungi dunia mimpinya.
Sekiranya hal tersebut dapat meluapkan mood tidak mengenakan didalam dirinya.
Ditengah tidur ayamnya yang tenang, sebuah langkah terdengar mendekatinya. Baekhyun mendecih pelan, mengetahui milik siapa langkah tersebut
"Byun Baekhyun? Kau tidak mengerjakan soal milikmu?"
"Aku malas," jawab Baekhyun seadanya. Ia semakin menyamankan posisi kepalanya. Baekhyun menguap kecil lalu kembali memejamkan matanya.
"Cepat kerjakan, atau kau akan kuberi nilai E."
"Berikan saja, aku tidak peduli. Kau menginginkan aku tidak naik kelas, aku juga tidak peduli!"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tajam. Bola matanya bergetar, merasakan sesuatu yang basah akan mengalir dari sana. Tidak ingin terlihat lemah dihadapan gurunya, Baekhyun mengalihkan pandangannya kemudian menarik kertas soal kuis lalu mengisinya dengan asal.
Tanpa mempedulikan tatapan seluruh teman sekelasnya, Baekhyun berdiri lalu meletakkan kertas soal miliknya didepan dada Chanyeol.
"Aku selesai," setelah itu ia berjalan keluar kelas meninggalkan Chanyeol yang terpaku pada tempatnya.
Suasana kelas yang tadinya hening, berubah penuh dengan bisik-bisik murid lainnya. Kebanyakan dari mereka juga menatap bingung kearah sang guru yang masih berdiri dalam diam.
Chanyeol menghela nafasnya kemudian kembali berjalan kedepan kelas. Ia menatap murid-muridnya dengan tatapan datarnya. "Lanjut kerjakan, tanpa ada suara."
Setelah ucapan tersebut keluar dari bibirnya, suasana kelas kembali hening. Walaupun beberapa dari murid yang lain masih bercakap lewat tatapan matanya.
Tiffanya menatap pintu yang terbuka setengah, dimana Baekhyun keluar lewat sana. Setelahnya ia menatap gurunya yang tengah duduk dengan tatapan lurusnya. Ia menghela nafasnya, kemudian menggelengkan kepalanya. Lalu kembali mengerjakan soal dihadapannya.
.
Chaeyeon menusuk-nusuk pipi Baekhyun dengan telunjuknya. Ia mengerucutkan bibirnya karena Baekhyun yang masih diam, mengacuhkan dirinya. "ByunBaek~" panggilnya. Chaeyeon memeluk lengan Baekhyun. "Aku traktir ice cream, yuk!"
"Lepas!" Baekhyun menepis tangan Chaeyeon, ia kembali meletakkan kepalanya diatas lipatan tangannya. Telinganya kembali dia tutup dengan earphone. Mencoba menghindar dari sekitar."
Chaeyeon menatap Baekhyun dengan wajah cemberutnya. Ia mendekap dirinya, kedua tangannya ia lipat didepan dadanya. "Huh, menyebalkan!"
Tiffany menggelengkan kepalanya. Ia menjitak kepala Chaeyeon, memarahi temannya yang tidak pernah mengerti keadaan. Ia heran, Chaeyeon tidak pernah dewasa. Tiffany duduk disamping Baekhyun, melepaskan earphone yang dikenakan lelaki mungil itu. Walaupun mendapat penolakan dari Baekhyun, ia tetap bersikeras melepaskan benda tersebut.
"Telingamu akan sakit," ucapnya sambil mengambil earphone tersebut, lalu memasukkan pada saku blazer yang dikenakannya. "Ada apa denganmu?" Tiffany menghela nafasnya melihat Baekhyun menggeleng kuat. Ia tau, kalau temannya ini belum siap untuk bercerita.
"Kau itu kenapa, Baek? Berita kau melawan pak Chanyeol tersebar diseluruh kelas dua."
Dengusan keluar dari mulut Baekhyun ketika ucapan tersebut keluar dari bibir Jongin. Baekhyun berdiri dari tempatnya, memukul meja dan mencondongkan tubuhnya kearah Jongin. "Lalu apa masalahnya?"
"Menurutku kau keterlaluan. Bagaimanapun dia seorang guru."
"Persetan dengan hal itu!"
"Cukup," Tiffany menarik Baekhyun, membuat lelaki itu kembali duduk ditempatnya. Ia melotot kearah Jongin, menyuruh lelaki berkulit tan itu agar diam. "Baekhyun, habiskan makan siangmu."
"Aku kenyang," dengan kasar Baekhyun mendorong piring yang berisikan makanan miliknya yang sama sekali belum disentuh agar menjauh. Ia mendorong kursinya, lalu berdiri meninggalkan meja yang ditempati teman-temannya. Berjalan cepat keluar kantin dengan langkah yang terburu.
Jongin menatap kesal kearah Baekhyun yang perlahan menjauh. Lelaki Kim itu mendengus. "Dia aneh sekali."
"Kau lebih aneh."
Lirikan tajam diberikan Jongin untuk Sehun yang duduk disampingnya. Ia memutar bola matanya malas. "Ya ya. Bela saja kekasihmu itu."
Sehun mengangkat bahunya acuh. Ia berdiri dari tempat duduknya, bersiap meninggalkan kantin. "Aku duluan. Aku akan ke perpustakaan," ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya dan berjalan santai keluar kantin.
Jongin kembali mendengus. "Cih, bilang saja ingin menyusul Baekhyun."
"Kau berisik sekali sih!" Tiffany mendorong tubuh Jongin kuat-kuat. Wanita itu menatap sebal kearah Jongin lalu pergi menjauh dari tempatnya. Diikuti oleh Chaeyeon yang menyempatkan diri untuk menjulurkan lidahnya kearah Jongin.
Menyadari semua teman-temannya meninggalkan dirinya, Jongin tiba-tiba panik lalu berdiri mengejar Tiffany dan Chaeyeon yang telah keluar dari daerah kantin. "Hei, kenapa kalian semua meninggalkanku!"
.
Seperti biasa, Baekhyun akan keruangan Chanyeol untuk mengumpulkan tugasnya. Dan beruntungnya, hari ini adalah hari terakhir dirinya mengumpulkan tugas. Dapat dipastikan, ini adalah hari terakhir dirinya berinteraksi dengan Chanyeol. Baekhyun berharap, dirinya tidak berurusan lagi dengan lelaki itu.
Dengan langkah malas-malasnya, Baekhyun menyeret kakinya menuju ruangan Chanyeol. Buku tulisnya ia gulung, lalu ia pukul-pukul di telapan tangannya.
Sampai didepan pintu ruangan sang guru, Baekhyun mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun pintu yang tidak tertutup rapat membuat suara sayup-sayup terdengar. Tangannya berhenti diudara kemudian terkepal.
"Aku sudah membeli dua tiket. Kau datang harus datang ya, Chanyeollie~"
"Baiklah baiklah."
Baekhyun tersenyum miring mendengar percakapan tersebut. Ia mendengus pelan dan membalikkan badannya. Membatalkan niatnya untuk menemui Chanyeol. Langkahnya semakin menjauh dari ruangan Chanyeol.
"Pantas saja bu Sunbin selalu diruangannya..." gumamnya dengan senyuman miris. "Chanyeollie ya..."
Langkahnya mengarah ke atap sekolahnya. Ia duduk dibawah tangki air, meluruskan kakinya dan mendongak menatap langit diatasnya. Tangannya ia letakkan diatas dadanya yang berdenyut sakit. Bibirnya ia gigit ketika tangisnya akan datang kembali.
"Cukup, Baekhyun. Kau tidak boleh cengeng!" ucapnya dengan tangan yang menepuk-nepuk kedua pipinya. Baekhyun menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan. Menaruh tekad pada dirinya agar berhenti menangisi lelaki brengsek seperti Chanyeol.
Baekhyun merogoh saku blazer yang dikenakannya. Ia mendesah kesal, mengingat earphone miliknya berada ditangan Tiffany. Alhasil Baekhyun membuka ponselnya, memeriksa blog miliknya yang terlupakan sejak dirinya dekat dengan Chanyeol.
Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Membaca komentar para pengikutnya yang merindukannya. Mereka semua mencari dirinya yang telah lama tidak memposting apapun disana.
Benar. Seharusnya Baekhyun tidak boleh melupakan para pengikut setianya, para lelaki bodoh yang selalu melontarkan kalimat cabul padanya. Setidaknya hal tersebut selalu membuatnya puas, tidak membuatnya merasa sakit karena mencintai seseorang.
Baekhyun menipiskan bibirnya. Ia akan kembali menyapa para pengikutnya. Tangannya menurunkan zipper celana seragamnya. Ia mengurut pelan penisnya yang masih tertidur, ketika telah setengah bangun Baekhyun menaikkan penisnya dan menurunkan sedikit celana dalamnya. Membuat kepala penisnya yang berwarna kemerahan mengintip dari dalam.
Baekhyun mengarahkan kamera ponselnya pada selangkangannya. Ia memotret daerah selangkangannya, kemudian tersenyum ketika melihat hasilnya.
Belum puas, Baekhyun menurunkan bagian depan celana dalamnya. Ia menggenggam penis mungilnya dengan satu tangan, sedang tangan yang lain memotret penisnya.
Setelahnya, ia memposting dua foto tersebut dengan caption: 'merindukanku?'
Ketika postingannya telah ia sebar, Baekhyun membenarkan letak penis dan celananya kemudian memejamkan matanya untuk tidur sejenak.
.
.
Sunbin menatap lembar soal dihadapannya dengan kepala yang menggeleng. Ia membuat suara mencebik, mengundang lelaki dihadapannya menoleh kearahnya.
"Ada apa?"
"Ini," ucapnya sambil menyerahkan lembar soal bernamakan Byun Baekhyun. "Dia sangat lemah dipelajaran Biologi."
Chanyeol menatap lembar soal tersebut dalam diam. Ia beralih menatap pada guru wanita dihadapannya. "Tapi bagiku dia murid yang paling pintar."
"Pintar bagaimana?" Sunbin menatap kertas soal Baekhyun dengan kening yang mengerut. "Jawabannya semua salah."
Chanyeol hanya diam dan tersenyun kecil. Ia kembali memeriksa kertas ulangan anak lainnya. Sedangkan kertas milik Baekhyun ia ambil lalu dilipat dan dimasukkan kedalam laci. Chanyeol mengambil ponselnya, ketika benda persegi itu menyala. Membuka notif yang masuk dengan wajah datarnya.
"Biasanya dia kemari untuk mengumpulkan tugas..."
"Aku pergi dulu," tanpa mempedulikan ucapan yang dilontarkan Sunbin untuknya, Chanyeol berjalan keluar ruangannya dengan tergesa. Tangannya meremas ponsel miliknya, kaki panjangnya melangkah cepat menuju atap sekolah.
Sesampainya disana, Chanyeol mengedarkan pandangannya. Hingga maniknya menangkap tubuh lelaki mungil yang tengah duduk bersandar dengan mata terpejam. Ia berdiri disamping lelaki tersebut. "Ternyata kau disini, aku menunggumu mengumpulkan tugas terakhirmu."
Perlahan mata sipit si lelaki mungil terbuka. Menatapnya dengan tatapan terkejut yang langsung berubah menjadi tatapan datar.
Baekhyun yang dikagetkan oleh Chanyeol langsung berdiri dan tanpa mengucapkan kalimat apapun, ia berniat meninggalkan atap sekolah. Namun tarikan keras pada lengannya membuat dirinya berdiri berhadapan dengan tubuh tinggi Chanyeol.
"Baekhyun, ada apa dengamu?"
"Ada apa denganku?" Baekhyun mengnyernyit dan menunjuk dirinya sendiri. "Tidak ada yang salah denganku."
"Kau berubah."
"Aku tidak berubah! Kita memang seperti ini, bukan?"
Baekhyun melepaskan cengkraman Chanyeol, mencoba meninggalkan lelaki tinggi tersebut. Namun lagi-lagi usahanya gagal karena Chanyeol yang kembali menarik tangannya. Bahkan kali ini tangan Chanyeol melingkar di pinggangnya.
"Baek..."
"Lepas Chanyeol!" Baekhyun menggerak-gerakkan tubuhnya acak, mencoba melepaskan pelukan Chanyeol. Ia menatap tajam kearah Chanyeol yang masih menatapnya dengan tatapan datarnya.
"Tenanglah," tangan Chanyeol yang berada dipinggang Baekhyun merambat hingga ke punggung sempit lelaki mungil itu. Ia menggerakkan tangannya, mengelus punggung tersebut mencoba menenangkan Baekhyun.
Namun reaksi yang diberikan Baekhyun tak dapat ia duga. Chanyeol melepaskan dekapannya, tangannya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras dari Baekhyun. Matanya menatap Baekhyun sendu.
Baekhyun menatap tangannya dengan mata yang bergetar. Ia mendongak, menatap Chanyeol yang juga tengah menatapnya. Baekhyun menegaskan rahangnya, tidak mempedulikan tatapan sendu dari Chanyeol.
"Mulai sekarang... Jangan menemuiku lagi."
Usai mengucapkan kalimat itu, Baekhyun berlari meninggalkan Chanyeol yang bergeming ditempatnya. Lelaki yang lebih tinggi menatap pintu atap dalam diam.
"Sebenarnya... Apa salahku?"
.
oOo
.
Halo halo, udah update cepet kan? Hehe. Aku rampungin chapter ini pas lagi dibandara, jadi maaf kalo ada typo atau kata-kata yang kurang 'ngeh' ya~ nanti kalo ada waktu lebih aku edit.
Btw, mungkin banyak yang kurang suka atau gak suka karena muncul konflik, gak sesuai ekspektasi kalian kayaknya. Dari awal aku udh bilang kalo ff ini gak pwp ya~ jadi mungkin adegan naena masih dua atau tiga chapter lagi kkk. Jalan cerita begini udah aku pikirin mateng-mateng dari awal kok, jadi gak ada perubahan kedepannya. Tapi tenang aja, aku udah nyiapin mau kayak gimana nanti nc nya wkwk.
Dan karena sodara dari ff ini – Head Over Heel mau tamat, secara gak langsung ff ini juga mau tamat. Cuma dalam waktu lebih lama dan chapter lebih banyak wkwk. Abis dua ff ini selesai plus ff Picnic, entah bakal ada project ff baru lagi atau engga. Belom kepikiran. Mungkin mau lanjut ff lama yang belom end. Semoga aja moodnya kekumpul ya.
Oke ini udah kepanjangan... Terimakasih banyak buat yang udah review, fave dan follow cerita ini^^ jangan lupa review lagi ya hoho.
See you~ *ps minggu ini aku ga bakal update cerita apapun ya hehe.
