DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Kurapika Kuroro (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
After that fateful day, destiny seemed to cross their paths every now and then. – "Kita harus bersikap seolah kita tidak saling mengenal."
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for Nothingness by Kurapika Kuroro. Various rated. Now it's rated T for this chapter.
Telah mengalami penyesuaian supaya lebih nyaman dibaca, tapi diusahakan tidak merubah isi cerita.
Dan kamu akan sering blushing membaca tiap chapter cerita ini =^v^=
Termasuk aku yang nerjemahinnya!
A/N :
Happy reading^^
.
.
.
CHAPTER 8 : MISSING YOU PART 2
Sosok yang pucat berdiri di tengah-tengah ruangan yang gelap. Ia memakai mantel hitam berhiaskan bulu-bulu putih, celana kulit yang ketat dan sepatu bot berwarna hitam-merah yang tebal. Rambut pria itu disisir ke belakang, dengan raut wajah yang sukar untuk ditebak. Ia tengah mendiskusikan misi selanjutnya bersama para anggota Ryodan, yaitu sebuah pelelangan di Kota Sonisco. Tiba-tiba, Kuroro berhenti saat secara tidak sengaja melirik ke sepasang Mata Merah.
Ia berdiri di sana menatap kedua bola mata itu yang mengapung di dalam tabung, seolah waktu berhenti di sana. Para anggota Ryodan menunggu Danchou mereka untuk melanjutkan diskusi.
Machi, seorang wanita dengan rambut berwarna biru dan wajah tanpa emosi memandangnya dengan kedua tangan disilangkan di dada. Ia mengira Kuroro sedang berpikir keras mengenai strategi untuk misi mereka dan merenungkannya.
Shizuku, seorang remaja dengan penampilan yang lugu melepaskan kacamatanya, mengelap lensanya, lalu memakainya kembali. Pimpinan Gen'ei Ryodan memberi mereka jeda sebentar, perlu waktu beberapa menit bagi Shizuku untuk menyerap perkataannya bukan?
Franklin, seorang pria dengan rupa seperti Frankenstein dan berukuran tiga kali lebih besar, melihat ke kanan dan ke kiri, tak ada seorangpun yang akan tahu bahwa dia bosan, 'kan?
Coltopi, wanita pertama yang memiliki rambut seperti pengepel lantai, dan Bonorenofu, seseorang yang mungkin saja dikira cosplayer yang berperan sebagai mumi. Mereka tidak bergerak sama sekali. Ya…setiap lima detik sekali mata keduanya akan berkedip. Lagipula, tak ada yang peduli 'kan?
Mata Feitan menyipit. Orang akan berpikir bahwa ia memejamkan mata, karena matanya cukup sipit.
Phinks, dengan tangan kanan diletakkan di pinggangnya, melihat ke arah Nobunaga sambil menaikkan sebelah alis matanya yang sebenarnya tidak ada. Nobunaga yang berjongkok di lantai hanya mengangkat bahunya.
Shalnark satu-satunya orang yang tidak hanya punya keberanian tapi juga memiliki penalaran yang cukup untuk mengira bahwa pemimpin mereka sedang terhalang pikirannya oleh sesuatu atau sedang melamun. Pemuda berambut pirang pasir itu melirik ke arah ponselnya. Hampir satu menit Kuroro berhenti bicara dan berdiri di sana seperti patung menatap sesuatu yang membuatnya terjebak. Shalnark mengikuti arah pandangan Kuroro dan hingga akhirnya tertuju kepada Mata Merah yang indah itu.
Menurut Shalnark, ia tak dapat menyalahkan pemimpin mereka untuk mengagumi benda berharga itu…memang harta yang indah untuk dipandang. Tapi tetap saja aneh, Kuroro mengagumi Mata Merah dengan berlama-lama seperti itu.
"Hm…," gumam Shalnark sambil menatap Mata Merah yang mengapung.
Ia menoleh untuk melihat kepada Kuroro, tapi sama sekali tidak ada petunjuk. Seperti yang telah diduga, tapi kemudian sekilas bayangan seorang gadis pirang muncul di benak Shalnark.
'Si Pengguna Rantai,' ucapnya dalam hati.
Mungkin Danchou mereka ingin memiliki kemampuan Si Pengguna Rantai? Sekarang pemimpin mereka itu bisa menggunakan Nen-nya lagi, tapi kenapa dia belum memulai rencana untuk memburu Si Kuruta? Mungkin karena Kuroro Lucifer dikenal sebagai pemimpin yang tidak egois, ia menyingkirkan hasratnya untuk mendapatkan kemampuan yang langka itu dan memilih misi lain demi keuntungan Gen'ei Ryodan. Penghormatan Shalnark terhadap Kuroro pun bertambah, ia yakin bahwa Danchou mereka adalah pria hebat untuk diikuti. Jadi Shalnark memutuskan untuk mengangkat topik mengenai pemburuan Si Kuruta dalam rapat mereka. Mungkin ini adalah tanda terima kasih bagi para anggota Ryodan untuk mempertimbangkan hasrat pemimpin mereka.
"Danchou," kata Shalnark.
Mata Kuroro membelalak saat mendengar ucapan Shalnark. Apakah ia baru saja melamun? Saat ia melihat Mata Merah yang ditempatkan secara sembarang bersama dengan barang-barang curian lainnya, ia berhenti dari diskusinya dengan para anggota Gen'ei Ryodan dan menatap mata itu. Dan bukannya bola mata mengapung itu yang dia lihat, melainkan Mata Merah yang melekat pada wajah yang terukir dengan cantik, rambut pirang halus dan berkilau yang dipotong pendek sedikit melewati dagu. Terhubung ke tubuh mungil yang memakai baju khas Suku Kuruta. Bayangan gadis itu tidak sedang tersenyum atau menatapnya tajam. Tapi hanya berada di sana…berwarna merah seperti batu ruby yang menarik hati.
Ya, Kuroro tidak menyadari bahwa ia telah memberikan cukup waktu bagi Ryodan untuk mengetahui bahwa pikirannya sedang tidak bersama mereka. Ia berterimakasih karena Shalnark-lah yang telah menyadarkannya kembali ke dirinya yang biasa. Apakah ia merindukan Kurapika?
"Ngg…Danchou," Shalnark melanjutkan.
"Ya Shalnark, tentang pengelompokan," Kuroro berkata seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya.
"Umm…Danchou, aku sedang berpikir mengenai Si Pengguna Rantai," Shalnark mengangkat topik yang ia harap tidak akan mengakibatkan perlawanan yang tidak perlu, khususnya dari Si Samurai yang keras kepala.
"Terima kasih unutk membahas hal itu, Shalnark! Ya Danchou, tentang Si Pengguna Rantai!"Nobunaga mengetukkan gagang pedangnya.
"Hm…Kurapika?" Kuroro bertanya sambil meletakkan tangan kanannya di dagu.
Pandangan Machi menjadi curiga saat mendengar nada suara pemimpin mereka. Caranya mengucapkan nama Kurapika sungguh aneh. Dan jika Machi tak tahu apa-apa, mungkin ia akan berpikir bahwa Kuroro telah terpesona pada Gadis Kuruta itu bahkan merindukannya. Tapi Machi menyingkirkan instingnya itu, mungkin Danchou mereka hanya rindu untuk bertarung kembali dengan Si Pengguna Rantai atau ia tertarik pada kemampuannya.
"Apakah kita hanya akan membiarkannya kabur begitu saja?"
Sebuah suara yang terdengar seperti menantang itu bergema di seluruh ruangan. Suara itu datang dari Feitan, seorang pria bermasker, tentunya ia sedang menantang Nobunaga dan yang lainnya untuk memburu keturunan terakhir Suku Kuruta.
"Ya, anak itu! Bahkan aku ingin mendapatkannya, dan menunjukkan apa yang pantas dia terima! Aku akan membuatnya menderita," Phinks berkata sambil menggertakkan jemarinya, menimbulkan suara berderak seolah ia sedang bersiap-siap memberikan sebuah tinjuan ke rahang seseorang.
"Hm…Baiklah, cukup sudah. Danchou, aku penasaran dengan kemampuan Nen-nya," Shalnark memotong perkataan ketiga rekannya.
"Kemampuan Nen-nya?" tanya Kuroro, mendorong Shalnark untuk melanjutkan ucapannya.
"Ya, kami akan memburunya jika kau menginginkan kemampuan Nen-nya," ia memberitahu Danchou mereka dengan antusias.
Pandangan mata Kuroro menjadi lembut seolah ia tengah berada di awang-awang.
"Ya, hm…temukan dia, temukan Kurapika."
Ide Shalnark sepertinya bisa diterima, pemuda itu memang anggota yang pintar. Idenya membuat Kuroro tersenyum tipis.
Sekarang, bukan hanya Machi yang menyadari nada suara Kuroro yang terdengar tidak biasa saat ia mengatakan tentang Si Pengguna Rantai, tapi Shalnark pun menyadarinya. Nada suara Danchou mereka terdengar seperti gembira untuk pemburuan itu dan sebenarnya membuat Machi penasaran juga kenapa Kuroro menggunakan istilah 'temukan' daripada 'memburu'.
"Danchou, saat kami menemukan Si Pengguna Rantai…," seru Nobunaga, ia terdengar gembira, senang atas pembalasan dendam yang bisa segera ia capai.
Kuroro mengarahkan matanya pada Nobunaga saat mendengar nada suara samurai itu, karena suaranya menunjukkan bahwa ia memang akan membunuh Si Kuruta saat ia punya kesempatan. Jadi sebelum Nobunaga dapat menyelesaikan perkataannya, Kuroro memberikan perintahnya.
"Aku menginginkan Kurapika hidup-hidup…jangan mencelakainya hingga ia sampai tak punya cukup kekuatan untuk bertahan," Kuroro menugaskan kelompoknya.
Phinx tersenyum mendengar perintahnya, "Tidak berarti kita tidak bisa menyakitinya," ia mengedipkan sebelah matanya kepada Feitan.
"Ya, pasti menyenangkan," Feitan terkekeh.
Kuroro melihat mereka satu per satu. Dan tiba-tiba ia teringat pada kesepakatan itu…
"Kita tidak boleh saling menghubungi satu sama lain, segala bentuk komunikasi tidak diperbolehkan…"
"Kita harus bersikap seolah kita tidak saling mengenal."
Kuroro hampir saja tertawa, karena kondisi itu menggambarkan seperti mantan kekasihnya memberitahu harus bagaimana sikap di antara mereka nanti setelah putus. Ia dapat melihat wajah cemberut Kurapika jika mengetahui bahwa Gen'ei Ryodan sedang mengejarnya. Tapi sebelum ia tenggelam ke dalam pikirannya, membayangkan bagaimana reaksi Kurapika nantinya, Kuroro harus mengatur kelompoknya dan memilah-milah mereka berdasarkan kemampuan yang mereka miliki.
Ia menatap Phinks, Feitan dan Nobunaga. Ketiganya lebih baik tidak dikelompokkan dalam satu grup untuk menemukan Kurapika karena satu alasan : mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak bertarung. Menilai kemampuan mereka bila berada dalam pertarungan satu lawan satu dengan Si Kuruta, perbedaannya sekitar enam puluh sampai empat puluh persen di mana Kurapika berada di level yang lebih tinggi. Tapi mereka akan menyerang Kurapika secara bersamaan, tiga lawan satu…Kuroro ragu Si Pirang itu akan bisa selamat. Jadi Kuroro terpaksa memisahkan mereka bertiga hingga ia tidak akan kehilangan anak buahnya maupun kehilangan Kurapika.
'Hm…jadi ke mana aku harus menempatkan kalian?' Kuroro bertanya dalam hati.
Ia mulai dengan kelompok yang menurutnya adalah kelompok yang sempurna.
"Aku akan membagi kalian ke dalam tiga kelompok," pria berambut hitam itu mengumumkan. "Shal, Nobu dan Coltopi kalian akan menjadi kelompok pertama dan tujuan kalian ke Rumah Nostrad."
"Roger Danchou," Shalnark mengangguk.
"Yosh! Aku akan membuatnya membayar perbuatannya!" seru Nobunaga.
"Kelompok berikutnya…"
Suasana menjadi hening.
"Machi, Phinks dan Bonorenofu menuju ke Kota Sonisco."
"Aku merasa aku akan bertemu dengan badut itu lagi," Machi merengut.
Phinks bersiul.
"Pasti Hisoka," ia menyikut Machi.
"Kelompok terakhir," kata Kuroro lagi. Lalu ia berhenti sejenak…dan melanjutkan, "Shizuku, Feitan dan Franklin , kalian kelompok terakhir…pergilah menuju ke kota di dekat Sonisco."
Feitan menghela napas. "Kelompok pertama yang menemukan Si Kuruta mendapatkan semua kesenangan".
Nobunaga menyeringai sambil meraih pegangan pedangnya.
"Aku bertaruh, akulah yang akan menemukannya."
"Huh, kita lihat saja nanti," komentar Phinks dengan sinis.
"Ingatlah perintah-perintahku untuk misi ini," Kuroro menyela percakapan mereka bertiga. "Satu, aku menginginkannya hidup-hidup," ia memandang ke setiap anggotanya tapi pandangannya tertuju sedikit lebih lama kepada Phinks, Feitan dan Nobunaga. "Dua, aku menginginkan tubuhnya utuh," Kuroro menyelesaikan perintahnya.
"Eh, Danchou," Nobunaga mendekati Kuroro.
"Ya?" jawab Kuroro.
"Jadi apa yang akan kami lakukan padanya?" Nobunaga memandang Kuroro dengan pandangan seolah pemimpin mereka itu kini memiliki satu kepala lagi yang tumbuh di lehernya.
"Seperti yang aku katakan, temukan dia," kata Kuroro datar.
"Kau menginginkannya hidup-hidup? Dan kau melarang kami untuk memutilasinya!" Nobunaga merengut, berpikir bahwa Danchou mereka telah mengatakan sesuatu yang paling aneh.
"Kau tahu dengan jelas apa yang harus kau lakukan, Nobunaga. Kau sudah memahaminya di dalam hatimu," jawab Kuroro dengan nada suara yang mengerikan.
"Sekarang, jika kalian tidak punya pertanyaan lain," ia menempatkan kedua tangannya di saku mantelnya. "Misi dimulai," ia mengumumkan dan duduk di kursinya.
Saat Kuroro membuka bukunya, semua anggota Gen'ei Ryodan pergi ke tujuan yang telah ditugaskan Kuroro.
"Kurapika," Kuroro bergumam dan melanjutkan membaca bukunya.
"Kota Yang Hilang," ia membaca judul buku itu dan tersenyum.
'Kurapika akan senang membaca buku ini,' batinnya.
TBC
.
.
A/N :
Review please…^^
