CHAPTER 8
.
.
.
Kelanjutan…
.
.
WARNING! MOHON YANG DI BAWAH UMUR TIDAK USAH MEMBACANYA ATAU SKIP AJA! BUAT JAGA-JAGA…
.
DON'T LIKE DON't READ!
.
EASY, RIGHT?
.
.
.
Sakura berjalan cepat menjauh dari Sasuke dan Hinata. Ia menangis tanpa sebab yang pasti. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba ia merasa –tidak rela- melihat Sasuke dan Hinata berpelukkan. Kenapa ia merasakan sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya? Sakitnya jauh lebih sakit saat terusuk jarum.. lebih sakit dari saat terkena demam… itu jauh lebih menyakitkan… Dadanya terasa sesak.. membuatnya sulit bernafas…
Tak kuasa.. tak sanggup…
Ia memukul-mumukul pelan dadanya, berusaha mencari udara sebanyak-banyaknya.. menghirup.. mengeluarkan… sama, masih sesak! Ia kembali menangis…
"Sakura? Kau tak apa-apa? Kau menangis?" Tanya Gaara yang kebelulan saja searah dengan arah balik Sakura.
Sakura tak bisa menjawabnya.. ia bingung mau bagaimana. Iapun langsung dipeluk Gaara. Gaara hanya mencoba menenangkannya. Baginya Sakura tak hanya sekedar teman sekelas tapi Sakura sudah mencuri hatinya akhir-akhir ini. dan yang jelas ia sudah memastikannya berulang kali.
"Sudah jangan menangis! Aku akan mengantarkanmu pulang…" Tawar Gaara yang disetujui Sakura.
Sakura seolah melupakan rencananya memberi kejutan pada Sasuke. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingin segera pulang dan istirahat. Hatinya terasa sakit.
Sakura dan Gaara tidak tahu jika di ujung seberang jalan sana, ada mata merah menyala yang sedang mengawasi mereka. Mata hitam pekat itu seolah menghilang, berganti dengan mata merah yang memiliki aura membunuh… mata miliki Uchiha Sasuke.
Ia mengeratkan kepalan tangannya tanda tak suka. Tanda benci. Tanda kesal. Tanda marah. Tanda ingin memukul. Tanda ingin meluapkan emosi.
Hinata tahu sasuke mengeluarkan aura dingin yang jauh lebih menyeramkan dari sebelum-belumnya… membuatnya gemetaran.. ketakutan.. bahkan untuk sekedar bertanya ada apa saja mulutnya tak berani berucap…
Sasuke terlihat berbahaya…
Hinata hanya mengangguk saat Sasuke mengajaknya pulang. Ia semakin tak mengerti dengan mood Sasuke yang selalu berubah-ubah dengan cepat… Memang benar, Sasuke itu sulit dipahami. Meskipun jika ia boleh sombong menklaim jika dirinyalah orang paling mencintai Sasuke, tapi ia mengakui jika dirinya tak mengerti apa-apa tentang Sasuke. Cinta sepihak memang menyakitkan. Berusaha di sampingnya namun terasa jauh dan semakin sulit dipahami… Ya, sudah biasakan ia menangis dalam hati? Meski tak terdengar, tapi raut wajah sendunya cukup untuk sekedar mewakilinya.
Hinata mencoba terus bersabar…
.
.
Mereka, Sakura, Gaara, Sasuke, dan Hinata berada di satu kereta yang sama. Meski dua pasangan itu saling tak menyadari, setidaknya hanya Sasuke yang sedari tadi terus mengawasi Sakura. Matanya tak sedetikpun mengalihkan pandangannya pada Sakura. Pada tubuh ramping itu yang dipeluk erat lengan Gaara. Ia tak menyukainya. Membuat amarahnya semakin bertambah.
Sepertinya ia ingin segera melayangkan bogem mentah pada laki0laki Sabaku itu…
Sakura akan berhenti di stasiun Kurama, Sasuke dan Hinata di stasiun Rinegan. Sasuke mengamati Sakura yang selalu digandeng Gaara dari dalam kereta. Sasuke bahkan melihat Gaara kembali memeluk Sakura saat kereta yang ia tumpangi meninggalkan stasiun Kurama.
Sebenarnya Gaara harus ke stasiun Sharingan, tapi ia khawatir dengan Sakura jadi memutuskan untuk mengantarkan Sakura pulang lebih dahulu. Bukankah Gaara sosok laki-laki yang baik hati?
.
Setelah Sakura dan Gaara turun di stasiun Kurama,mereka berdua berjalan sebentar menuju apartemen mini milik Sakura. Gaara rupanya baru tahui jika Sakura sudah tinggal sendirian di apartemen. Ini pertama kalinya ia ke tempat tinggal Sakura. Ia merasa senang..
Semua orang di apartemen nampaknya belum pada kembali. Terlihat dari ventilasi pintu yang padam di dalam. Lampu myang mati! Sakura masih saja sesegukan, sakura tidak berbicara apapun sedari tadi ia menemukan sakura menangis. Jujur saja, Gaara merasa iba dan penasaran dengan apa yang terjadi pada Sakura. Ini pertama kalinya ia melihat Sakura yang super ceria bisa menangis seperti ini.
Ternyata ia masih belum tahu banyak hal tentang gadis pujaannya itu… Sakura masih banyak menyimpan rahasia… di balik senyumnya yang meneduhkan, rupanya tersimpan luka yang menyedihkan. Itu yang sekarang Gaara pikirkan. Iapun mulai bertanya, bisakan dirinya menjadi sosok penyembuh untuk Sakura?
Entahlah…
"Jika kau tak mau menceritakannya sekarang, aku akan menunggunya lain kali. Jangan dipendam. Menangis saja jika ingin menangis, Sakura…! Tidak apa-apa…" Kata Gaara.
Sakura mengangguk dan tanpa ada niat lain, Gaarapun berpamitan pulang.
"Kuharap kau baik-baik saja, Sakura…" Batin Gaara dari luar bangunan Apartemen. Ia berjalan pulang setelah memastikan Sakura masuk ke dalam apartemennya.
Sakura memasuki apartemennya dengan gontai… Bahaya, kini kepalanya terasa sangat pusing. Lelah, letih, dan banyak pikiran rupanya membuat kepalanya pening juga. Ia mulai merasa jika suhu badannya pun meningkat.
"Aku yang menginginkan mereka bersama tapi kenapa aku justru menjadi seperti ini? kenapa aku memiliki rasa tidak suka.. tidak rela.. kenapa sakitt sekali?... Ya Tuhan… apa yang sebaiknya aku lakukan setelah ini? Ini ulahku sendiri….. Naruto benar, akupun mulai dipermainkan permainanku sendiri… Apa aku benar-benar memiliki perasaan pada Sasuke? Aku memang menyayanginya. Sangat!… Tak kusangka, melihat kedekatan Sasuke dengan gadis lain membuatku sesakit ini…. Haah? Kepalaku pusing sekali. Sepertinya aku akan sakit.. aku harus membeli obat sebelum semakin parah!" Sakura memakai jaket kembali jaket Gaara yang dipinjamkan kepadanya. Mengunci apartemen dan berjalan ke luar menuju mini market untuk membeli aspirin dan paracetamol.
.
/
Setelah mengantar Hinata harusnya jika belok kiri ia akan sampai di rumahnya. Tapi pikirannya yang semrawut dan berputar-putar tentang Sakura membuatnya mengambil jalan lurus menuju stasiun Rinegan, membeli tiket ke stasiun Kurama. Ia ingin segera menemui Sakura! Ya! Sakura!
Ia harus menemui gadis itu….
Sasuke harus memastikannya ada hubungan apa Sakura dan Gaara. Kenapa mereka semakin dekat saja padahal dirinya sendiri mulai kesulitan mendekati Sakura. Kenapa Gaara mencium sakura, kenapa Sakura terlihat bahagia saat itu.. kenapa Sakura tak menolak ciuman Gaara.. Bukankah mereka Cuma berteman? Bukankah Sakura itu hanya dekat dengannya? Tidak ada laki-laki lain yang boleh mendekati Sakura! Seperti itu kan? Seperti yang selama ini terjadi.. layaknya Sakura adalah miliknya… dan milikinya haruslah tetap miliknya…
kenapa? Kenapa? Kenapa?
Begitu egois? Wajar, salahkan jika itu dirasakan oleh sosok layaknya keluarga yang selalu tinggal bersama?
KENAPA?
KENAPA?
Masih tanya kenapa kesal?
Otak Sasuke sudah penuh dengan pertanyaan yang menjejali dan memuakkan. Ia harus segera bertemu dengan Sakura.
Bagaimana bisa Sakura melakukan hal yang menurut Sasuke itu menyakitinya? Tidakkah cukup hanya dirinya yang boleh memiliki Sakura? Selama ini sebagai keluarganya…. Apa perlu ia menegaskan kepemilikkan dirinya atas Sakura?
Haruskah?
Kenapa ia menginginkan hal itu?
Sekali lagi, KENAPA?
.
Entah bagaimana atau memang alam sedang memahaminya, sesampainya di stasiun Kurama,, hujan deras muncul begitu saja. Petirpun terdengar menggelegar. Payung? Sasuke maupun Sakura tak membawanya. Sasuke berlari cepat ke apartemen Sakura sementara Sakura juga berlari cepat setelah membeli obat-obat yang diinginkan.
"Jika aku tak ingin sakit maka aku harus melupakan perasaanku pada Sasuke. Kita bersaudara, aku tidak boleh egois… Kurasa ini demi kebaikan semuanya…" Batin Sakura di bawah rintikkan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Kembali, ia akan mencoba memegang teguh prinsip awalnya. Ia harus melupakan perasaan anehnya itu. Ia tidak mau terus berkepanjangan karena yang baru saja sudah sangat menyakitkan apalagi jika berkepanjangan? Sakura bahkan selalu berfikir psimis akan dirinya sendiri…
Maa ia hanya tidak tahu harus bagaimana… Jika semua terasa buntu, maka kembali ke pilihan awal adalah yang terbaik, kan?
Manusia memang seperti itu…
/
Sakura sudah sampai di apartemennya. Ia mengambil handuk dan berniat mengeringkan rambutnya yang basah, tapi tiba-tiba suara bel pintu mengagetkannya. Iapun membuka pintu apartemennya. Ia hampir melonjak kaget karena melihat sosok yang berputar-putar di otaknya berdiri di depannya.
"Sa-sasuke-kun…"
Sasuke terlihat sangat buruk… baju yang basah, rambut yang berantakkan dan mata-onyx itu menghilang menjadi merah darah! Itu bahaya.. itu sama seperti waktu itu waktu kesalahpahaman dengan Daiki waktu SMP. Sakura mundur selangkah. Ia tahu betul, Sasuke pasti diluuar kendali. Sasuke begitu menakutkan, ini bahkan jauh menakutkan dari pada waktu itu..
Jika Sasuke diluar kendali, lalu apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu? Lagi-lagi semua terasa membingungkan…
Sasuke mengunci apartemen Sakura. Ia berjalan mendekati Sakura, Sakura memundurkan langkah setiap Sasuke berjalan mendekatinya.
"Sa-sasuke-kun, ka-kau kenapa? A-apa kau baik-naik saja?" Sakura memberanikan dirinya untuk bertanya walau jujur saja, ia tahu jika mustahil Sasuke akan menjelaskannya dengan gamblang.
Tiba-tiba, Sasuke justru menyeret kasar Sakura ke kamar. Sakura terus saja meronta-ronta karena perbuatan Sasuke. Apalagi saat Sasuke menghempaskan Sakura ke ranjang.
"SASUKE! SAKIT! ADA APA DENGANMU, HAH?"
"cih.."
"Jika kau marah padaku, tak perlu sekasar ini! Ini sudah kerterlaluan!" air mata yang tadinya sempat terhapus hujan kini mulai jatuh lagi. Sakura kembali menangis. Tenaga Sasuke cukup menyakitinya. Sungguh, pergelangan dan punggungnya terasa sakit. Ia juga sangat takut menghadapi Sasuke dengan mata merah seperti itu…
Sasuke tak mengindahkan perkataan Sakura. Sasuke mendekati Sakura di ranjangnya. Ia lalu duduk di samping Sakura. Sakura hanya melihatinya dengan tatapan takut. Ia tahu itu, nafas tak beraturan dan tubuh gemetaran Sakura sudah menjawabnya.
Sasuke menyibakkan poni basah Sakura. Mengelus pelan pipi putih pucat Sakura. Tangan kiri Sasuke mencoba menahan pinggang Sakura. Lalu dengan kasar ia menciumi bibir Sakura. Menciumi, menyesap, mengigit…
Sakura yang tak terima dengan perlakuan Sasuke, langsung mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya. Ia hanya berhasil membuat Sasuke berhenti menciuminya.
Nafas Sakura kembali tersengal-sengal.. ia harus mengumpulkan banyak oksigen atas ciuman Sasuke di bibirnya. Itu terlalu mendadak hingga membuatnya tersentak kaget dan tak menduga..
"SASUKE! KAU GILA, HAH? KA-KAU.. KENAPA?"
Sakura tidak tahu harus melontarkan apa…. fikirannya blank… blow mind.. rasanya ciuman baru saja seolah.. ah.. itu.. membingungkan…
Mereka berdua saling bertatapan tajam. Sakura ingin mendapatkan pengakuan Sasuke, jika alasan sulit, setidaknya minta maaf saja dapat melegakan Sakura. Sakura pasti akan memaafkannya dan berusaha untuk melupakan ciuman kasar Sasuke.
Sakura bukanlah orang yang mudah membenci hanya karena satu kesalahan seperti itu. Ia akan mempertimbangkan banyak hal… Jika Sasuke mau minta maaf, maka dengan ikhlas Sakura akan memaafkannya. Bukankah mereka berdua bersaudara?
Sakura mengharapkan seperti itu..
Namun, harapannya sirna setelah Sasuke mendorong kasar tubuhnya keranjang dan menindihnya. Sasuke kembali mencium bibirnya dengan kasar. Sasuke menghisap bibir tipisnya, mengigit bibirnya mengabsen gigi-gigi rapinya bahkan bermain gila dengan lidahnya…. Membuatnya semakin kesulitan bernafas… terasa sesak dan jauh lebih menyakitkan…
Tidak..
Tidak..
Ini tidak boleh..
Ia harus segera menyadarkan Sasuke…
Ia harus mendorong tubuh Sasuke…
Berusaha… dan berusaha… meski sulit…
.
Sakura tak mampu berbuat banyak untuk mencoba mendorong tubuh Sasuke dari atas tubuhnya. Sasuke benar-benar mengunci tubuhnya…
Cukup lama menciumi bibir Sakura Sasuke melepaskan pautannya. Mereka berdua terlihat kehabisan oksigen.
"Sasuke… jangan… sudah.. aku akan memaafkanmu…" Tangis Sakura.
Rasanya melihat Sakura yang meronta dan menangis saat ini seolah membuat Sasuke semakin senang. Ia ingin membuat Sakura lebih menangis lagi!
Gila…
Sasuke bahkan seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Sisi gelapnya terlalu kuat hingga menutupi cahaya terangnya. Yang ada hanya Sakura, hanya Sakura dan hanya Sakura.
Sakura yang ada di depannya.. Sakura yang menangis.. Sakura yang meronta.. Sakura yang kehujanan.. Sakura yang nampak indah di balik baju basahnya.. Sakura yang tadi membuatnya kesal… ciuman dengan Gaara.. pelukkan dengan Gaara… Semua tidak boleh dimaafkan..
"Sasuke, aku akan memaafkanmu! Jadi, kumohon lepaskan aku! Menyingkirlah dari tubuhku! Hikss… kau menakutkan, Sasuke…"
Minta maaf pada Sakura? Apa yang salah? Harusnya Sakura yang harus minta maaf padanya. Sakura bersikap sok polos, seolah tidak terjadi apa-apa anatara ia dan Gaara. Sakura harus meminta maaf atas ciumannya dengan Gaara! Itu keegoisan paling tak masuk akal Sasuke!
Sasuke enggan membalas kata-kata Sakura. Ia hanya ingin segera memiliki Sakura!
Sasuke kembali menciumi bibir Sakura. Membungkap mulut Sakura yang sedari tadi terdengar 'cerewet' di telinganya. Sasuke bahkan semakin berani dengan menciumi leher mulus Sakura. Meninggalkan bekas-bekas merah di sana. Seakan ingin segera menunjukkan jika Sakura sudah ia miliki.
Sakura hanya meringis kesakitan karena perbuatan Sasuke…
"Sasuke… Berhentilah… Sakit…"
Berkali-kali ia menggumamkan permintaan agar Sasuke melepaskannya. Sepertinya memang percuma, Sasuke semakin gila karena tangannya kini mulai masuk di balik bajunya Sakura sembari ia sibuk menjamah leher Sakura, mengusap perutnya Sakura yang ratanya, merabanya, memijatnya, me….
Bosan menjamah leher Sakura, Sasuke beralih membuka paksa bajunya Sakura, membuangnya entah kemana. Hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Tubuh Sakura nampak indah di matanya. Mulus putih, dan menggoda. Tubuh tertutup pakaian yang selalu dipandangi cowok-cowok di luar sana. Tubuh yang membuatnya penasaran akhir-akhir ini terpampang jelas di depannya. Tubuh yang membuatnya berfikir tak waras dan menggila…
Tubuh yang membuat dirinya frustasi…
Tak mau berlama-lama, Sasukepun Mendaratkan kecupan, ciuman, membuat jejak-jejak kepemilikkan… Ia tak ingin menyia-nyiakannya.. Tidak akan! Sejengkalpun tidak akan! Ini terlalu indah hanya untuk sekedar dipandangi…
Sakura semakin menangis ketakutkan. Ia tak bisa melepaskan diri dari Sasuke yang jauh lebih besar dari dirinya. Ia tak bisa berbuat banyak saat Sasuke menyetuh bangian atas tubuhnya… Teriakan penolakannya bahkan tak didengarkan soleh Sasuke.
Sakura merasa dirinya tak berguna…
Ia menangis. Suaranya bahkan bisa di dengar oleh Sasuke. Tapi Sasuke terlihat menulikan diri. Sasuke juga tak memandang wajahnya. Sasuke hanya sedang sibuk dengan tubuh bagian atasnya. Sasuke seperti tak memperdulikannya… Terlalu asyik dengan dunianya..
Rasa pusing di kepala Sakura semakin terasa, badannya juga mulai semakin memanas. Ini karena demam atau memang karena Sasuke?
Entahlah, yang jelas ia ingin segera lepas dari Sasuke…
Rasanya ia merasa jijik dengan dirinya sendiri…
.
].
Sasuke mulai melepaskan pakaian dalam Sakura. Ia melepaskan kaitan bra milik Sakura. Sakura berusaha memberontak, enak saja Sasuke berbuat seperti itu padanya. Tidak boleh!
Sakura pun mendorong tubuh Sasuke dengan segenap tenaganya….
Namun Sasuke berhasil melepaskan kaitan itu sesaat sebelum Sakura mendorong tubuhnya menjauh. Merasa hampir telanjang, dengan sangat cepat Sakura mengambil selimut di sampingnya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
PLAAAKKKK
Sakura menampar pipi Sasuke sangat keras.. sangat keras.. tangannyapun sampai bergetar.
"CUKUP SASUKE! KAU GILA, HAH! APA YANG ADA DI OTAKMU ITU? KA-KAU MEN-MENCOBA ME-MELECEHKANKU?" Muaakk, Sudah cukup, sebelum terlembat ia harus menyadarkan kegilaan Sasuke.
Sasuke memegangi bekas tamparan Sakura di pipi kirinya. Ia pun menoleh ke arah Sakura. Menatap tajam adik tirinya itu. Tamparan Sakura cukup perih. Terasa menyengat.
Berani-beraninya Sakura menamparnya…
"Cih… Kau melupakan ulang tahunku, Sakura." Akhirnya Sasuke mengeluarkan suaranya.
Hah?
HAH?
Haruskah Sakura cengo?
Hanya karena lupa ulang tahun, Sasuke hampir melecehkannya? Sasuke adalah laki-laki tergila yang pernah ia temui…
Tapi benar juga… Karena ia merasa sakit melihat kebersamaan Sasuke dan Hinata, iapun menjadi lupa akan hari ulang tahun Sasuke yang penting itu. Jadi iapun merasa bersalah…
"Go-gomen… Aku melupakannya…"
"Maaf?"
"Sa-sasuke, kumohon maafkan aku.."
"Aku menginginkan hadiahku.."
"A-aku sudah menyiapkan ha-hadiah untukmu. A-ada di dalam tas situ.." Sakura menunjuk ke meja riasnya yang ada di dekat ranjangnya.
"Bukan itu, aku menginginkanmu!" Kata Sasuke to the point. Ia malas berputar-putar. Ia tahu betul bagaimana kemampuan loading otak Sakura.
Sakura mencolos. Menginginkannya berarti melakukan hubungan terlarang, kan? Rasanya ia tak terlalu bodoh untuk memakanai kata itu. "Tidak, tidak bolah…, itu tidak benar, Sasuke…"
"Sakura…"
"…"
"Apa kau tak menyayangi" Sejenak Sasuke berfikir. "… kakakmu?"
Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kan? Dia sangat menyanyangi Sasuke, kakaknya yang paling berarti. Mereka sudah lama tinggal bersama, kan? …. "Aku menyayangimu. Sangat menyanyangimu!"
"Kalau begitu, ayo kita lakukan!"
"Jangan, itu tidak benar!"
"Aku tak akan pernah memaafkanmu jika kau menolak permintaanku!"
Egois. Itu yang Sakura fikirkan. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah terlalu pusing menanggapi Sasuke. Tenaganya juga terasa melemah, tubuhnya terasa berat. sepertinya demamnya mulai beraksi.
"Kediamanmu kuanggap persetujuan, Sakura."
Sasuke lantas menarik paksa selimut yang Sakura pakai untuk menutupi tubuhnya. Ia juga melepaskan celana dalam milik Sakura. Ia kembali menindih Sakura. Meski ada perlawanan dari Sakura tapi tak begitu berarti. Sasuke kembali melanjutkan aksinya menjelajahi tubuh Sakura. Ia sudah tak sanggup lagi menahan gejolak hasratnya yang menggelora. Memaksanya untuk segera menuntaskannya…
Lagi… lagi… dan lagi…
Tubuh hangat Sakura semakin menguatkan keinginannya, hasratnya…
Sasuke sudah kepalang tanggung. Berusaha menahannya, tapi malam ini ia sudah tak bisa. Terlalu menyakitkan…
Persetan dengan ayah…
Persetan dengan ibu..
Persetan dengan kakaknya…
Persetaan dengan hubungan kakak-adik…
Sasuke sudah tak peduli lagi…
\
"Sas.…su..keeh.. ja-jangan….!"
Tidak bisa berhenti.. tidak bisa berfikir jernih… semua terasa panas.. ingin lebih dan lebih…
.
.
Sakura menangis dalam diam… Hentakkan tadi terasa sangat menyakitkan…
.
Semua terasa kabur…
Semua sudah hilang… dan tak tersisa sedikitpun…
.
.
Like a fool
.
.
Malam semakin larut, semakin membisu. Hujan tak kunjung reda. Suara gemerciknya terdengar seirama bak alunan melodi yang indah. Petirpun menyambar keras seolah sedang melayangkan protes kepada alam. Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam.
Permainan panas itu masih terus berlanjut. Semakin lama, semakin memanas dan menggairahkan. Semakin sulit untuk dihentikan. Seperti percuma karena sudah terlanjur. Kali ini,, setanpun masih berkuasa. Menyungingkan tawa akan kemenangannya di singgasana neraka…
.
.
Waktu terus berputar. Hujan dan petir mulai mereda. Alunan melodi air hujan yang terdengar indah itu mulai menghilang. Sunyi dan sepi. Suara desahan, erangan, dan rintihan memecah keheningan malam. Mengambil tempat tersendiri di antara Sakura, Sasuke, dan malam itu.
Mata Sakura terus saja mengeluarkan air mata, meninggalkan sungai kecil nan hangat di pipinya. Ia sudah lelah memohon untuk dilepaskan. Semua teradi begitu saja… dalam hitungan detik semua hilang.. mahkota berharganya dan mungkin juga hidupnya terasa semakin kabur.. Bukankah semua sudah taka da artinya? Gadis dengan prinsip harga diri tinggi pasti akan berfikir seperti itu. Bagaimanapun, kesucian adalah harga mati!
Bagaimana jika kesucian itu direnggut secara paksa?
Sakit dan kecewa..
Sudah pasti itu!
Bahkab mungkin rasanya ingin mati saja…
.
.
Hampir tiga jam permainan panas itupun akhirnya usai. Sasuke melepaskan Sakura. Sakura terlihat terkulai lemas tak berdaya. Mereka saling menatap satu sama lain. Tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Hanya kembang-kempis dada yang mencoba mencari tambahan oksigen karena kelelahan. Sakura menatap nanar Sasuke, iapun meneteskan air mata sebelum akhirnya terlelap dan tak sadarkan diri.
Sasuke lantas menyelimuti tubuh Sakura. Ia memakai pakaiannya kembali lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Langkahnya terasa berat. ia merasa seakan menjadi sosok lain yang asing baginya. Kenapa ia bisa diluar kendali seperti itu? Menjadi liar dan tak waras hanya karena emosi yang tak jelas. Membuatnya kesulitan berfikir jernih dan bertindak nekat. Ia bahkan menyakiti 'adik' kesayangannya itu..
Ia melukai Sakura..
Itu lebih dari sekedar menyakitkan..
Ia menyakitinya…
Membuatnya menangis..
Membuatnya kesakitan..
Membuatnya kecewa padanya..
Semua sudah terjadi..
Ia tak bisa membalikkan keadaan..
.
.
Ia melecehkan Sakura….
.
.
.
Sasuke membasuh wajahnya. Mencoba memandangi dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi.
Tubuh atletis, tampan, dan tinggi. Itulah yang orang-orang katakan akan dirinya. Orang baik, sopan, ramah, sang anak emas sepertinya tak berguna lagi untuknya. Ia hanyalah iblis laknat yang bersembunyi di topeng malaikat yang terlihat sempurna.
Wajah iblis itu kini telah terbuka topengnya…
Semakin terlihat nyata dan jelas…
Semakin menunjukkan jati dirinya…
Sasuke mengepalkan tangannya.. Ia ingin memukul keras bayangannya di cermin itu… Bayangan asing yang tak bermoral. Bayangan diri yang dikuasai setan, iblis. Bayangan yang memuakan. Bayangan yang harus ia terima jika itu memanglah dirinya.
Sasuke semakin mengepalakan tangannya. "AAAAAKKHHH…" Ia berniat memecahkan cermin yang memantulkan bayangan dirinya, Tapi ia berhenti sebelum memecahkan kaca itu, ia tertunduk lalu meneteskan air mata…
"Sakura, gomen…."
.
.
Sasuke menagis…
.
.
.
To be continue….
.
.
.
Bagaimana?...
.
No coment deh….
.
.
Ambil nafas dan keluarkan… silahkan tunggu sampai chapter depan… XD
