Naruto by Masashi Kishimoto
Hate become Love
Chapter 8
Break up
"Reuni tadi menyenangkan sekali kan Shika?" Tanya Naruto yang sedang dalam perjalanan pulang dengan Shikamaru.
Shikamaru hanya menjawabnya dengan gumaman tidak jelas yang membuat pacar berambut pirangnya itu kesal dan menghentikan langkahnya yang juga menghentikan langkah Shikamaru karena mereka sedang bergandengan tangan.
Ia membalik tubuh Shikamaru dan dengan sedikit berjinjit ia mencubit pipi pemuda yang lebih tinggi darinya itu dan berkata, "kenapa kau ini jadi seperti si teme jelek itu? Hobi sekali bergumam tidak jelas!"
"Afhuh! Hei lefhaskhan fhifhikhu," ucap Shikamaru tidak jelas karena pipinya semakin dicubit oleh Naruto.
"Ha? Aku gak ngerti maksudmu tuh! Hehehe rasakan cubitan maut ala Naruto!" ejek gadis pirang itu sambil tertawa iseng.
Satu tangan yang menggenggam tangan kiri Naruto yang tengah mencubit pipi Shikamaru membuat tawanya hilang dan tergantikan dengan rona merah di wajah, terlebih saat Shikamaru menatapnya intens.
Pemuda itu tersenyum mendapati wajah merona sang kekasih di depan matanya. Tangan kanannya semakin erat menggenggam tangan gadis itu. Sedangkan tangan kirinya bergerak ke atas kepala sang gadis dan,
Tak!
"Aduh!"
Jeritan sang gadis merupakan sound effect atas perbuatannya yang menjitak kepala pirang yang lebih pendek sekitar 15 cm darinya itu.
"Shika apa-apaan sih? Sakit kan?" keluh Naruto sembari mengusap kepalanya yang dijitak.
"Itu balasan atas perbuatanmu tadi tahu!"
"Tapi kan sakit!"
"Kau pikir pipiku tidak? Dasar gadis perkasa!" ejek Shikamaru sambil menggandeng kembali tangan Naruto untuk mengajaknya melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Naruto melotot mendengar ucapan Shikamaru, "apa maksudmu dengan kalimat terakhirmu itu hah?"
"Hehehe, hanya bercanda. Kau ini cepat sekali emosi, jadi asyik mengganggumu," jawab Shikamaru dengan bercanda.
Naruto menggembungkan pipinya khas kalau ia sedang kesal, "kh, kau sama saja dengan Sasuke. Hobi sekali menggangguku. Sudah cukup aku dipanggil senter, cumi-cumi, toa, dan dobe olehnya. Sekarang kau malah menambahkan dengan gadis perkasa. Gak asyik benget deh!"
Shikamaru menghentikan langkahnya saat mendengar nama Sasuke disebut lagi oleh Naruto. Tangannya pun melepas genggamannnya pada gadis pirang yang tengah menatapnya heran.
"Ada apa?" Didengarnya suara Naruto bertanya padanya, namun ia hanya diam.
Yang dirasakannya saat ini hanyalah rasa panas di dadanya. Rasa panas karena nama pemuda lain terus disebut dalam intensitas yang tidak lama dan sangat mulus keluar dari bibir pacarnya. Dan ia tidak kata lain,
Ia cemburu.
Emosi yang jarang menguasainya pun sedikit demi sedikit menyisip masuk ke dalam hati dan pikirannya melalui celah-celah rasa tidak suka itu. Dan perlahan, memenjarakan pemikiran jernih yang ia miliki, dan mengambil alih semua kontrol atas diri pemuda itu.
Ia sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana, yang ia tahu saat ini kekasihnya sudah berada dalam pelukannya. Dan pelukan itu semakin erat dari waktu ke waktu. Menandakan rasa posessif yang teramat sangat.
Sedangkan Naruto masih sulit mencerna kejadian yang menimpanya. Ia hanya merasa ditarik oleh sesuatu yang sangat cepat dan semua cahaya lampu dan bulan menghilang dari daya tangkapnya.
Menyadari udara yang dapat masuk ke rongga pernapasannya semakin menipis, saat itulah Naruto sadar bahwa ia tengah dipeluk erat oleh Shikamaru. Terlalu erat malah, hingga ia sulit untuk bernafas.
Tidak ingin berakhir dalam dekapan sang pacar yang kelewat erat dan kemungkinan besar akan memunculkan headline di koran pagi keesokan harinya dengan bunyi: SEORANG GADIS DITEMUKAN TEWAS KEHABISAN NAPAS DALAM DEKAPAN ERAT SANG KEKASIH
Itu sangat tidak tragis untuk dialami oleh dirinya yang belum genap berusia 15 tahun. Hei, bulan oktober masih dua bulan lagi guys!
Naruto pun segera memberontak dengan mencengkram erat baju Shikamaru dan menariknya untuk memberikan sinyal SOS pada pacarnya itu, karena ia sama sekali tidak bisa berteriak dikarenakan kepalanya yang ditahan Shikamaru di dadanya.
Tarikan kencang di bagian belakang bajunya membuat Shikamaru sadar akan perbuatannya yang hampir menewaskan sang pacar. Dengan segera ia melepaskan pelukan mautnya dan menatap Naruto khawatir.
"Kau tidak apa-apa?"
Naruto hanya menggeleng sebab ia masih sibuk menghirup oksigen untuk menyambung hidupnya.
Mendapati wajah pias Naruto -yang andai saja ada penerangan yang cukup sudah dipastikan pucat pasi- Shikamaru menggumamkan maaf berkali-kali dengan wajah yang menyiratkan penyesalan.
"Kau ini kenapa? Kau aneh tahu!"
"Maaf."
Tidak suka dengan wajah Shikamaru yang merasa bersalah, Naruto mengusap pipi Shikamaru agar melihatnya. "Aku tidak apa-apa," Naruto berujar dengan suara lembut. Satu lagi pesona yang memerangkap Shikamaru pada gadis pirang di hadapannya. Terkadang ia bisa begitu dewasa dan sangat lembut.
"Tidak ingin bercerita padaku?" Tanya Naruto lagi pada Shikamaru yang masih menatapnya dalam diam.
"…."
"Baiklah, kalau kau ingin menjadikannya rahasiamu. Dasar tuan merepotkan, hihi." Usai mengatakan itu Naruto langsung menarik tangan Shikamaru untuk menuntunnya pulang. Namun baru beberapa langkah berjalan, Shikamaru sudah mendekapnya dari belakang. Kali ini erat, namun tidak membuatnya sulit untuk bernafas.
"Shika?"
"Jangan sebut namanya."
"Shika?"
"Tolong jangan sebut namanya lagi."
"…."
Ada rasa perih yang menyapa hati gadis pirang itu saat ia paham siapa yang dimaksud oleh Shikamaru. Ingin ia menyanggupi permintaan itu, namun hatinya terasa sesak saat memikirkannya. Namun ia pun tak ingin melukai pemuda yang sudah menjadi pacarnya selama hampir enam bulan itu.
Yang bisa dilakukannya hanya diam. Sebab lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Menyanggupi permintaan Shikamaru, sama saja menyiksa hatinya. Namun untuk menolak dan melihat pemuda itu tenggelam dalam kesedihan, ia pun tak bisa. Karena hatinya akan ikut terluka. Semuanya berakhir dengan luka di hatinya. Jadi jawaban apa yang harus ia berikan?
Dilema.
Ia terjebak dalam dilema.
"Aku mohon jangan pernah menyebut namanya saat kau masih menjadi milikku. Karena kau adalah musim panasku. Milikku. Hanya milikku saja."
Hati gadis beriris safir itu semakin trenyuh mendengar permohonan tersebut. Ia tersenyum miris saat akan menjawab permintaan sang kekasih.
"A- Sasuke?"
Hati Shikamaru andai bisa mungkin sudah retak sana-sini dan dengan sekali tiupan akan hancur menjadi debu mendengar ucapan yang terlontar dari pacarnya. Apa ini berarti dia memilihnya? Itulah pertanyaan yang melintas di hati seorang Shikamaru.
"Shi….shika lepas. Ada Sasuke, tidak enak dilihat begini," suara bergetar karena malu itu menyadarkan Shikamaru dari alam bawah sadarnya yang merana. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dari kepala Naruto yang menjadi tumpuan dagunya dan mendapati Sasuke tengah menatap mereka berdua dengan pandangan khas cueknya.
Shikamaru tersenyum masam dan melambaikan tangan kanannya, namun tangan kirinya tetap setia memeluk Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa menunduk malu.
Malu karena didapati dalam keadaan yang cukup ehem…. Mesra dengan Shikamaru. Well, mungkin wajar untuk sepasang sejoli. Namun sejujurnya ini pertama kali –ralat- yang kedua kalinya ia dipeluk Shikamaru termasuk pelukan maut beberapa menit sebelumnya.
"Sebaiknya jaga sikap kalian, malam-malam begini malah berbuat mesum," ucap Sasuke sinis dan menusuk hati.
Ctek!
"Kenapa? Kau cemburu heh?" balas Shikamaru dan kembali memeluk Naruto (yang masih tertunduk) dengan kedua tangannya.
"Untuk apa aku cemburu? Gadis berdada kecil seperti dia hanya kau yang suka," sahut Sasuke lagi.
Ctek! Ctek!
"Hm, tidak juga kok. Dia tetap manis walaupun sedikit perkasa."
GROAAAAAAAARRRRRRRRR!
Duk! Buk! Bat!
"OUCH!"
Pssshh…!
Buk! Buk! Buk! Grab!
"Arggh!"
"LEPASKAN RAMBUTKU BAKA DOBE!" bentakan Sasuke menggema di jalan.
Ada yang paham apa yang terjadi?
Baik kita kembali ke kalimat terakhir Shikamaru, "Hm, tidak juga kok. Dia tetap manis walaupun sedikit perkasa."
GROAAAAAAAARRRRRRRRR!
Bukan lagi rahasia bila mengetahui bahwa seorang Namikaze Naruto bukanlah tipe gadis yang sabar. Apalagi akan diam selama lima menit hanya untuk mendengarkan dirinya diejek habis-habisan tidak hanya oleh pemuda yang dia cap sebagai rival tetapi juga oleh sang pacar tersayang.
Mari kita lihat apa saja yang membuat seorang Namikaze Naruto mengamuk bagai monster:
Kedapatan tengah dipeluk malam-malam dan ucapan Sasuke yang mengatainya berbuat mesum. Cek!
Disebut gadis berdada kecil oleh Sasuke. Cek!
Panggilan 'gadis perkasa' dari pacar tersayang sungguh tidak mengenakkan untuk didengar. Cek.
Jadi, dengan kepala tertunduk, wajah dipenuhi perempatan jalan yang mungkin bukan hanya pembuluh vena yang bersilangan tapi semua pembuluh darah dan tapis(?), plus kedua tangan yang mengepal erat.
Langkah pertama yang dilakukannya adalah menyikut perut Shikamaru.
Duk!
Mengarahkan tinjunya ke atas tepat ke arah rahang Shikamaru.
Buk!
Dan menginjak kaki Shikamaru dengan setulus hati.
Bat!
Dan menghasilkan teriakan "OUCH!" dari Shikamaru. Lalu berlari secepat kilat ke arah Sasuke yang hanya berjarak kurang dari tiga meter.
Pssshh…!
Mengarahkan tinju beruntun ke arah perut sang rival.
Buk! Buk! Buk!
Dan menjambak rambut chicken butt Sasuke dengan niat yang lebih dari suka rela dan setulus hati.
Grab!
"Arggh!" dan inilah teriakan kesakitan sang Uchiha Sasuke yang merupakan korban kedua penganiayaan Namikaze Naruto, "LEPASKAN RAMBUTKU BAKA DOBE!" bentakan Sasuke menggema di jalan.
Terakhir, dengan mata yang masih menunjukkan pandangan Kyuubi, si siluman ekor Sembilan, dia berteriak penuh amarah, "Brengsek kalian berdua!"
Dan lari menembus kegelapan malam.
Adakah yang tahu, Naruto benci kegelapan dan setan?
"Ck, si dobe itu semakin mengerikan," sahut Sasuke yang sibuk merapikan rambut emonya.
"Hehe, gara-gara kau memanggilnya 'si dada kecil' kan?" timpal Shikamaru.
Sasuke melirik Shikamaru, "bukannya karena kau memanggilnya 'gadis perkasa'?"
"Jadi kita berdua ya?" Tanya Shikamaru.
"Kurasa."
Hening melingkupi keadaan dua pemuda korban penganiaayaan gadis berambut pirang itu. Tak ada di antara mereka yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu. Mereka hanya berdiri memandang bulan purnama yang berwarna kuning keemasan. Mengingatkan mereka pada seseorang yang memiliki aura yang sama. Seorang gadis berambut pirang keemasan yang sangat ceria dan hangat seperti matahari, namun juga lembut bagai bulan purnama.
Bukankah bulan mendapatkan sinarnya dari cahaya matahari?
"Kau berubah Sasuke," ujar Shikamaru tanpa mengubah konsentrasinya terhadap dewi malam yang sedang ditutupi oleh awan yang berarak. Sejenak, keremangan menghiasi mereka berdua. Cahaya dari lampu jalan tak cukup untuk memperlihatkan ekspresi seperti apa yang terpasang di wajah mereka masing-masing.
"Hn, benarkah?" pemuda berambut raven berantakan (karena habis dijambak Naruto) itu bertanya.
"Ya. Sangat," jawab Shikamaru, "bukankah sejak kau membuatnya menangis di tangga atap waktu itu kau tidak peduli lagi padanya?"
Diam. Itulah respon Sasuke.
Shikamaru menyeringai mendapati respon itu, lalu ia melanjutkan, "Atau kau hanya pura-pura tidak peduli?"
"…."
"Tapi kurasa lebih tepat bila dikatakan, kau berpura-pura tidak peduli padanya karena segan dengan sikapnya yang tidak peduli padamu?"
"Aku sudah lupa."
Lupa? Apa yang dilupakannya? Sasuke bahkan tidak mengerti alasan macam apa yang dia keluarkan. Dia hanya tidak ingin menjawab 'tidak tahu' di depan ketua kelasnya semasa SMP itu.
"She. Is. My. Summer," ucap Shikamaru dengan penekanan intonasi di setiap kata yang ia ucapkan, "MINE."
Dan Sasuke bisa melihat tatapan serius Shikamaru saat menyatakan lima kata itu. Tatapan serius yang juga membangun sebuah benteng kokoh untuknya agar tidak mencoba meraih musim panas di hati seorang Shikamaru.
"I know it very well," balas Sasuke tegas. "Aku tidak akan merebutnya darimu."
"Aku harap kau tidak menggunakan alasan 'sahabat' untuk dekat dengannya Sasuke, karena aku orang yang posesif sama sepertimu," ujar Shikamaru lagi.
"Apa maksudmu dengan kalimat itu?"
"Aku hanya tidak ingin menyakitinya dan lebih parah merusaknya hanya untuk membuktikan padamu bahwa dia milikku. Karena dia terlalu suci untuk itu…"
"Aku bukan sahabatmu bila tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiranmu Uchiha Sasuke."
Sasuke tersenyum kecil mendengar ucapan Shikamaru, "You're the best of my bestfriend huh?" dan dia melakukan salam yang biasa dia lakukan dengan Shikamaru dulu, yaitu dengan mengadu kepalan tangan mereka.
"Hoahm, pembicaraan serius begini benar-benar merepotkan. Sama seperti kau dan dia," ucap Shikamaru setengah menutup mulutnya yang menguap.
"Kalau begitu pulang saja," jawab Sasuke.
"Tidak bisa, aku harus mencarinya," tolak Shikamaru
Sasuke mengernyitkan keningnya, "setelah dihajar kau masih mau mencarinya?"
"Bukan begitu, dia benci gelap. Aku khawatir pada pacarKU." Usai mengatakan itu ia pun meninggalkan Sasuke untuk mencari Naruto.
Naruto berdiri di tengah jalan dengan tubuh kaku. Keringat dingin mengalir di wajahnya. Matanya tak lepas dari pemandangan di depannya.
Di depannya telah berdiri sesosok mahluk berbaju putih dengan rambut panjang menjuntai sampai ke pinggang dan matanya menatap kosong pada Naruto. Hanya satu kata yang terlintas di pikiran Naruto, Kuntilanak.
Jangan tanya bagaimana dia bisa bertemu dengan mahluk sejenis setan bernama kuntilanak seperti yang ada sekitar lima meter di depannnya itu. Seperti yang kita ketahui, karena kesal dengan Sasuke dan pacarnya tersayang (Shikamaru), Naruto yang penuh emosi lari meninggalkan mereka tanpa tolah toleh dan baru berhenti saat dia melihat si Kunti (lanak).
Sejujurnya Naruto ingin segera lari saat melihat mbak Kunti menghadang di jalan, namun sayang otak dan kaki tak mau bekerja sama dan berakhirlah ia di tempat ini. Jalan entah di mana dengan tubuh gemetar ketakutan dan keringat dingin membanjiri yang semakin banyak saat dia melihat si Kunti mendekat padanya.
Setelah berada kira-kira dua langkah dari Naruto barulah si Kunti berhenti melangkah dan Naruto yakin si Kunti akan tertawa "hihihihihihihihihihihihihi" khas Kuntilanak sebangsanya untuk membuat Naruto mati terkena serangan jantung. Namun sebelum itu terjadi Naruto sudah berteriak lebih dulu, "huweeeeeeee…. Mbak Kunti jangan bunuh saya. Saya masih mau hidup mbak! Huweeee…."
"Kau Naruto, kan?" mbak Kunti bertanya pada Naruto, namun anehnya suaranya seperti laki-laki. Membuat Naruto semakin takut dan histeris.
"Huweee ma….mas Kunti, ma….maaf saya ngg… ka….kalo Kuntilanak ada yang cowok. Jangan makan saya huweee!"
"Siapa yang kau sebut kuntilanak? Aku sepupu Hinata. Neji."
"Eh?" Naruto berhenti mewek, "memang ada?"
"Sudahlah, ku antar kau pulang," tawar pemuda yang dikira Kuntilanak bernama Neji itu.
Naruto hanya diam. Tidak menjawab dan tidak menolak. "Kau tidak bohong kan?" tanyanya memastikan kebaikan pemuda kunti #jyuuken!# maksudnya Neji.
"Kecuali kau mau bertemu setan betulan dan dibawa ke alam setan," Neji berkata datar, kesal dengan kelemotan Naruto.
"Eh? Jangan! Aku ikut," kata Naruto cepat. Tidak ingin bertemu hantu betulan.
Mereka pun pulang bersama-sama.
Libur musim panas berakhir dengan cepat. Meski begitu, banyak kenangan yang mengiringi libur musim panas yang telah berakhir itu. Ada tawa, ada tangis, ada suka, ada pula duka, ada takut, marah dan berbagai macam hal telah dialami oleh setiap insan yang berbeda. Dan sekarang sudah waktunya untuk Naruto dan Shikamaru segera kembali ke sekolah. Dan itu berarti mereka harus segera kembali ke Suna.
Berat memang bagi Naruto untuk berpisah dengan teman-temannya. Namun, untuk mengejar sebuah cita-cita, ada yang harus dikorbankan. Dan untuk Naruto, ia harus rela mengorbankan kebersamaannya dengan teman-teman tersayangnya.
Ia kembali ke Suna bersama Shikamaru dengan senyum mengembang sejak awal perjalanan hingga akhir perjalanan mereka. Senyum yang selalu cerah seperti biasanya. Namun, di balik senyum itu, ada satu kesedihan yang berusaha ia tutupi.
'Sasuke…'
Batinnya memanggil nama itu. Penyebab kebahagiaannya yang tak sempurna.
Satu minggu setelah reuni singkat mereka, Naruto tak pernah lagi bertemu dengan Sasuke. Tak ada kabar apapun mengenai si emo itu. Hingga Mikoto datang ke rumah mereka dan memberitahu Kushina bahwa Sasuke telah kembali ke Otto hari itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun, Sasuke pergi. Pergi untuk waktu yang lama.
Rasa sakit tiba-tiba saja menjalari seluruh hati Naruto saat ia mendengar kabar itu dari kamarnya. Tanpa ia sadari air matanya mengalir jatuh, dan seharian itu ia menangis dalam kamarnya. Tak mempedulikan panggilan ibu, ayah dan kakaknya.
Hingga saat ini, rasa sakit itu terus mengikutinya. Terus mengikutinya, hingga tanpa ia sadari telah membuat celah antara ia dan Shikamaru.
-oOOOo-
Kyra De Riddick is YumeYume-Chan
-oOOOo-
"Naruto, kita harus bicara," ucap Shikamaru yang tiba-tiba saja muncul di kelas Naruto. Naruto yang tengah melamun itu pun kaget saat mendengar suara Shikamaru.
"Eh? Shika kapan kau datang? Aku tidak melihatmu," ucap gadis piang itu sambil tersenyum.
Shikamaru hanya diam menatapnya yang sedang tersenyum, "aku bilang kita harus bicara."
"Ada apa?" Tanya Naruto yang menyadari ada keanehan pada cara Shikamaru menatapnya dan memanggilnya.
"Ayo, bicara di atap," ajak Shikamaru seraya mengulurkan tangannya.
Sedikit ragu, namun akhirnya Naruto membalas uluran tangan itu. Bergandengan, mereka keluar dari kelas dengan sedikit godaan dari teman-teman yang melihat kemesraan sepasang kekasih tersebut.
Naruto melangkah bersama Shikamaru dengan hati berdebar, bukan karena tangannya digenggam atau karena malu, tapi lebih pada rasa khawatir yang tiba-tiba saja menyergap hatinya. Ada firasat buruk yang mengusik hatinya tatkala melihat keseriusan yang berbeda pada mata pemuda yang sudah menjadi kekasihnya selama hampir tujuh bulan itu. Ingin ia tanyakan kenapa, namun rasa takut mencegahnya. Sepanjang perjalanan menuju atap sekolah itu pun berakhir dalam diam.
"Shika ada apa?" gadis itu pun menyuarakan pertanyaannya. Sedangkan pemuda di hadapannya hanya diam memandang awan. Memberanikan diri untuk mengganggu keasyikan pacarnya, Naruto memegang lengan Shikamaru agar fokus pemuda itu teralih padanya. "Shika?"
Shikamaru yang fokusnya telah teralih pada Naruto balik memegang tangan yang menggenggam lengannya. Ia memegangnya erat, seolah takut akan kehilangan. Namun ia langsung menurunkan tangan Naruto dari lengannya, saat sadar bahwa ia memang telah kehilangan sosok gadis musim panasnya.
"Kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini."
Mata Naruto membulat tidak percaya pada kalimat yang ia dengar. Barusan Shikamaru memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka, dan itu berarti… putus?
"Kenapa?"
Bergetar, suara itu jelas bergetar di telinga Shikamaru. Bergetar menahan tangis.
"Apa aku berbuat salah?"
Shikamaru menggeleng. "Lalu kenapa?" desak Naruto.
"Karena aku tidak ingin merusakmu dan membuatmu menangis," jawab Shikamaru cepat.
Naruto menggelengkan kepalanya, menolak alasan Shikamaru. "Merusak apa? Membuat menangis apa? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" seru Naruto sembari menggenggam tangan Shikamaru.
"…."
"Shikamaru jawab aku!"
"…."
"Naara Shikamaru, aku bilang jawab aku!"
"Karena aku terlalu mencintaimu, sedangkan aku tahu kau mencintai Sasuke. Dan itu bisa membuatku menghancurkanmu bila kau masih bersamaku, karena aku akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku sukai," ia berujar datar. Menahan diri untuk tidak memeluk gadis di hadapannya.
"Shika?"
"Mengertilah Naruto, ini semua untuk kebaikanmu."
Bruk!
"Naruto?"
"Untuk yang terakhir kalinya saja, biarkan aku memelukmu sebagai pacarku untuk yang terakhir kalinya," pinta gadis itu sambil tetap mempertahankan posisinya yang memeluk Shikamaru.
Ragu, namun perlahan Shikamaru pun membalas pelukan gadis yang akan menjadi mantan pacarnya itu. Sedikit menunduk ia berbisik lirih pada Naruto, "hubungan kita berakhir di sini my summer. Terima kasih telah menghangatkan hatiku selama tujuh bulan ini."
Hubungan yang baru terjalin beberapa bulan itu pada akhirnya harus terputus saat dia merasa 'musim panas' akan segera tergantikan dengan musim gugur di mana sesuatu yang semula menjadi miliknya akan segera terbang tertiup angin.
"Aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini saat aku menyadari kau tersiksa karena telah ada orang lain di satu sisi terdalam hatimu."
"…."
"Atau mungkin aku lah orang naïf yang tidak menyadari bila orang itu telah ada sejak dulu." Usai mengatakan itu Shikamaru melepaskan pelukannya pada Naruto, lalu pergi meninggalkan musim panas yang telah ia lepaskan. Sedangkan Naruto hanya bisa terisak saat tangannya hanya meraih angin, karena tak ada lagi Shikamaru di sampingnya.
Hujan pun kembali turun dari langit musim panas yang kini mendung. Mengekspresikan hati yang terluka saat ia kehilangan tangan yang selalu menggenggamnya.
"Hiks….hiks….hiks….," Naruto hanya bisa menangis di atap itu sendiri. Sebab Shikamaru sudah pergi meninggalkannya. Meninggalkan hatinya yang remuk. Ia menatap tangan yang dulu sering digenggam Shikamaru, tangan yang selalu terasa hangat, namun kini tangan itu terasa dingin. Sedingin hatinya yang beku.
TBC
Wakey wakey saya buat Naru-chan nangis….
Khehehehehehehe, Neji udah muncul. Gimana ya petualangan Naruto untuk menemukan cinta sejatinya. Kira-kira pasangannya Naru siapa lagi ya? Trus kenapa Sasuke cepat-cepat balik ke Otto? Ada yang tahu? Chap depan mau fokus ama siapa? Silahkan request. Apakah fokus ke Naruto, atawa Shikamaru? Atawa Sasuke?
Silahkan pilih dengan meninggalkan reviews…..
