Siang itu aku kembali ke kamar asrama saat semua orang sedang menghabiskan waktu dengan keluarganya. Aku mendapati Junhong duduk di ranjangnya sambil menatap ke arah dinding kosong yang biasanya dipasangi papan tulis. Kemarin V mengambilnya agar ia bisa menghitung ranking kami di tahap pertama inisiasi.
"Di sini kau rupanya!" kataku. "Orangtuamu mencarimu tadi. Kau sudah bertemu dengan mereka?"
Ia menggeleng.
Aku duduk di sampingnya. Lebar kakiku setengah kali kakinya, bahkan sekarang kakinya lebih berotot dari sebelumnya. Ia menggunakan celana pendek warna hitam. Lututnya lebam ungu kebiruan dan ada bekas luka melintang.
"Kau tak ingin bertemu mereka?" kataku.
"Aku tak mau mereka bertanya bagaimana perkembanganku," ujarnya. "Aku harus menjawabnya dan mereka akan tahu kalau aku berbohong."
"Yah..." aku mencoba mengatakan sesuatu. "Ada yang salah dengan perkembanganmu di sini?"
Junhong tertawa kasar. "Aku selalu kalah di tiap pertandingan sejak pertarunganku dengan Jun. Aku tak melakukannya dengan baik."
Tapi, itu karena keinginanmu. Apa kamu tidak bisa mengatakannya juga?"
Ia menggeleng. "Ayahku selalu ingin aku masuk sini. Maksudku, mereka bilang mereka ingin aku tetap tinggal di Candor, tapi itu hanya basa-basi. Mereka, ayahku dan ibuku, selalu mengagumi Dauntless. Mereka takkan mengerti kalau aku mencoba menjelaskannya pada mereka."
"Oh." Aku mengetuk-ngetukkan jari di atas lutut, lalu, menoleh padanya. "Itukah alasan kenapa kau memilih Dauntless? Karena orangtuamu?"
Junhong menggeleng. "Bukan. Kurasa itu karena... menurutku melindungi orang itu penting. Membela orang. Seperti yang kemarin kau lakukan untukku." Ia tersenyum padaku. "Itulah seharusnya tugas seorang Dauntless, kan? Itulah arti keberanian. Bukannya... menyakiti orang tanpa alasan yang jelas."
Aku ingat apa yang pernah V katakan padaku. Kerja sama tim dulunya adalah prioritas Dauntless. Seperti apa, ya, Dauntless waktu itu? Apa yang kupelajari jika aku sejak dulu berada di sini saat ibuku tetap menjadi seorang Dauntless? Mungkin aku tidak akan mematahkan hidung Exy. Atau, mengancam kakak Jun.
Ada rasa bersalah menyerangku. Mungkin akan membaik setelah inisiasi ini berakhir.
"Sayang sekali, mungkin aku akan berada di urutan terbawah," ujar Junhong. "kurasa kita akan tahu nanti malam."
Kami duduk saling berdampingan sejenak. Lebih baik berada di sini, di kesunyian, daripada di The Pit dan melihat semua orang tertawa bersama keluarganya.
Ayah pernah bilang, cara terbaik untuk membantu seseorang itu cukup dengan berada di dekatnya. Aku senang melakukan sesuatu yang kutahu akan membuat ayah bangga. Seakan itu akan menutupi semua hal yang telah kulakukan dan membuat Ayah kecewa.
"Aku merasa lebih berani saat berada di dekatmu, kau tahu," ujarnya. "Rasanya sepertinya aku cocok berada di sini, seperti dirimu juga."
Aku hampir menjawab pertanyaan Junhong saat tiba-tiba lengannya merangkul bahuku. Aku mematung. Pipiku terasa panas.
Aku tak ingin sok tahu perasaan Junhong. Tapi memang itu kenyataannya, kurasa Junhong menyukaiku.
Aku tidak mendekat padanya. Aku malah duduk sedikit maju agar tangannya lepas dari bahuku. Lalu, kukepalkan kedua tanganku di pangkuan.
"Jungkook, aku...," ujarnya. Suaranya tercekat. Aku melirik ke arahnya. Wajahnya semerah wajahku, tapi ia tak menangis—ia cuma kelihatan malu.
"Um... maaf," ujarnya. "Aku tidak bermaksud... um. Maaf."
Rasanya aku ingin bilang kalau jangan memasukkannya ke dalam hati. Aku bisa saja bilang padanya kalau kedua orangtuaku jarang berpegangan tangan, bahkan di rumah kami sendiri, jadi aku membiasakan diri untuk menghindari semua gerak tubuh yang menunjukkan kasih sayang. Mungkin jika aku memberitahunya tentang hal ini, tidak akan ada sedikit rasa sakit hati di balik wajahnya yang malu itu.
Tapi, tentu saja ini masalah pribadi. Ia temanku—dan Cuma teman. Apa yang lebih pribadi dari itu?
Aku menarik napas dan mengembuskannya sembari tersenyum. "Maaf kenapa?" tanyaku sambil mencoba kedengaran biasa. Aku menepuk-nepuk jinsku, pura-pura membersihkannya, lalu berdiri.
"Aku harus pergi," kataku.
Ia mengangguk dan tak melihat ke arahku.
"Kau akan baik-baik saja?" tanyaku. "Maksudku... karena orangtuamu. Bukan karena..." kubiarkan suaraku melemah. Aku tak tahu apa yang harus dikatakan jika tak berhenti bicara.
"Oh. Yeah." Ia mengangguk lagi, sedikit terlalu bersemangat. "Ketemu lagi nanti, Jungkook."
Aku mencoba tidak berjalan keluar kamar terlalu cepat. Saat pintu kamar asrama tertutup, aku menyentuh dahiku dan sedikit tersenyum. Meskipun canggung rasanya menyenangkan mengetahui ada orang yang menyukaiku.
—oOo—
Membicarakan kunjungan keluarga akan terlalu menyakitkan, jadi yang semua orang bicarakan malam itu adalah ranking final kami di tahap pertama. Setiap ada yang membahasnya, aku menatap menerawang ke seberang ruangan dan mengabaikannya.
Rangkingku takkan seburuk sebelumnya, terlebih setelah aku mengalahkan Exy. Tapi, sepertinya tak cukup bagus untuk membuatku masuk ke sepuluh besar inisiasi. Apalagi setelah anak asli Dauntless juga ikut diperhitungkan.
Saat makan malam, aku duduk bersama Yuju, Jun, dan Junhong di meja di sudut ruangan. Kami merasa tak nyaman berada dekat Minhyuk, Minwoo, dan Exy yang ada di meja sebelah. Saat percakapan di meja kami berhenti, aku bisa mendengar tiap kata yang mereka ucapkan. Mereka berspekulasi tentang ranking. Sudah kuduga.
"Kau tidak boleh punya hewan piaraan?" teriak Yuju sambil memukul meja dengan telapak tangannya. "Kenapa tidak?"
"Karena hewan piaraan itu tidak masuk akal," ujar Jun sungguh-sungguh. "Apa gunanya memberi makan dan tempat tinggal untuk binatang yang mengotori perabotanmu, membuat rumahmu bau, yang akhirnya toh pasti mati?"
Aku dan Junhong saling berpandangan seperti yang kami lakukan saat Yuju dan Jun mulai bertengkar. Tapi kali ini, begitu kami saling berpandangan, kami berdua langsung berpaling. Kuharap kecanggungan di antara kami ini tidak bertahan lama. Aku mau temanku kembali.
"Masalahnya..." suara Yuju memelan dan ia memiringkan kepala. "Yah, memiliki hewan piaraan itu menyenangkan. Aku pernah punya bulldog namanya Chunker. Waktu itu, kami pernah meninggalkan satu ayam panggang utuh di meja agar sedikit dingin. Saat ibu pergi ke kamar mandi, ia menarik ayam panggang itu dari meja dan memakannya, sampai ke tulang-tulangnya. Kami tertawa keras sekali."
"Ya, itu pasti akan mengubah pikiranku. Tentu saja aku mau hidup dengan hewan yang memakan semua makananku dan menghancurkan dapurku." Jun menggeleng. "Kenapa kau tidak pelihara saja seekor anjing setelah inisiasi kalau kau merasa kangen?"
"Karena." Senyum Yuju memudar dan ia menusuk kentangnya dengan garpu. "Anjing agak sedikit membuatku ngeri. Setelah... kau tahu, setelah Tes Kecakapan."
Kami saling berpandangan. Kami semua tahu kalau kami tak seharusnya membicarakan tes itu, bahkan setelah kami membuat pilihan. Tapi bagi mereka, peraturan tidaklah seserius itu. Jantungku berdegup tidak beraturan. Menurutku, peraturan adalah perlindungan. Itu mencegahku berbohong dari teman-temanku mengenai hasil tesku. Tiap kali aku mendengar kata "Divergent", aku mendengar peringatan Chungha-noona—dan sekarang peringatan ibu juga. Jangan bilang siapa pun. Berbahaya.
"Maksudmu... membunuh anjing itu, kan?" tanya Jun.
Aku hampir lupa. Mereka yang memiliki kecakapan Dauntless akan mengambil pisau di dalam simulasi dan menusuk anjing itu. Tak heran jika Yuju tak ingin memiliki aning piaraan lagi. Aku memanjangkan lengan bajuku sampai melewati pergelangan tangan dan meremas tanganku.
"Yeah," jawab Yuju. "Maksudku, kalian semua melakukannya juga, kan?"
Pertama ia melihat Junhong, lalu melihatku. Mata hitamnya menyipit, lalu ia berkata, "Kau tidak melakukannya?"
"Hmm?"
"Kau menyembunyikan sesuatau," ujarnya. "Kau gelisah."
"Apa?"
"Di Candor," ujar Junhong sambil menyenggolku dengan bahunya. Nah. Itu terasa normal. "Kami belajar cara membaca bahasa tubuh, jadi kami tahu kalau ada yang bohong atau menyembunyikan sesuatu dari kami."
"Oh." Aku menggaruk belakang leherku. "Yah..."
"Lihat kan, mulai lagi!" ujar Yuju sambil menunjuk tanganku.
Rasanya seperti aku menelan jantungku sendiri. Bagaimana aku bisa berbohong tentang hasil tesku jika mereka bisa tahu kalau aku sedang berbohong. Aku harus belajar mengendalikan bahasa tubuhku. Aku menurunkan tangan dan meletakkannya di atas paha. Apa itu yang biasa dilakukan orang jujur?
Paling tidak, aku tak perlu berbohong tentang anjingnya. "Tidak. Aku tidak membunuh anjingnya."
"Bagaimana kau bisa mendapatkan hasil Dauntless tanpa menggunakan pisau?" ujar Jun sambil menyipitkan mata ke arahku."
Aku menatap matanya dan menjawab datar. "Memang bukan. Hasilku Abnegation."
Itu setengah benar. Chungha-noona memasukkan laporan kalau hasilku Abnegation, jadi itulah yang ada di dalam sistem. Siapa pun yang memiliki akses untuk penilaian akan bisa melihatnya. Aku tetap menatap matanya selama beberapa detik. Mengalihkan pandangan mungkin membuat curiga. Lalu, aku mengangkat bahu dan menusuk dagingku dengan garpu. Kuharap mereka percaya. Mereka harus percaya.
"Tapi, kau memilih Dauntless?" tanya Yuju. "Kenapa?"
"Kan sudah kubilang," ujarku tersenyum. "Karena makanannya."
Ia tertawa. "Apa kalian tahu kalau Jungkook tak pernah melihat hamburger sebelum ia tiba di sini?"
Yuju pun mulai cerita hari pertama kami dan aku menjadi lebih santai, tapi masih tetap terasa berat. Seharusnya ku tidak berbohong pada teman-temanku. Itu akan menciptakan penghalang di antara kami dan kami sudah memiliki banyak masalah Yuju mengambil bendera. Aku menolak Junhong.
Setelah makan malam, kami kembali ke asrama. Aku tak bisa menahan diri untuk berlari cepat karena aku tahu ranking akan dipasang sesampainya aku di sana. Aku ingin segera menyelesaikannya. Di pintu asrama, Minwoo menerobos dan mendorongku ke dinding. Bahuku tergores batu-batuan, tapi aku tetap berjalan.
Aku terlalu pendek untuk melihat menembus keramaian anak baru yang berdiri di dekat bagian belakang ruangan. Tapi, setelah aku menemukan celah di antara kepala-kepala mereka, aku melihat papan tulis ia berada di bawah dan disandarkan ke kaki V dan menghadap kami. Ia berdiri sambil memegangi kapur di salah satu tangannya.
"Untuk kalian yang baru datang, akan kujelaskan bagaimana ranking ini ditentukan," ujarnya. "Setelah beberapa pertarungan di ronde pertama, kami me-rangking kalian berdasarkan tingkat kemampuan kalian. Jumlah poin yang kalian dapatkan tergantung tingkat kemampuan kalian dan kemampuan orang yang kalian kalahkan. Kalian mendapatkan lebih banyak poin karena mengalahkan seseorang yang berlevel tinggi. Aku tidak memberi nilai untuk kalian yang mengincar mereka yang lemah. Itu pengecut."
Kurasa mata V menatap Minhyuk saat mengucapkan kalimat terakhir, tapi mata itu bergerak terlalu cepat, jadi aku tak yakin.
"Kalau kau punya ranking tinggi, kau akan kehilangan poin apabila kalah dari yang memiliki ranking rendah."
Exy mengerang, suaranya terdengar seperti mendengus atau menggerutu.
"Latihan tahap dua akan lebih berat dari tahap pertama karena sangat terkait erat dengan mengalahkan rasa pengecut," ujarnya. "Orang bilang, sangat sulit mencapai ranking tinggi di akhir inisiasi kalau ranking kalian rendah di tahap pertama."
Aku mencari-cari posisi yang tepat agar bisa melihat V lebih jelas. Saat aku bisa melihatnya, aku malah berpaling. Matanya terlanjur melihatku, mungkin karena aku yang tidak bisa diam akibat gugup.
"Kami akan mengumumkan siapa yang keluar besok," ujar V. "Apakah kalian anak pindahan atau memang asli Dauntless tidak akan menjadi pertimbangan. Empat dari kalian dan tak satu pun dari mereka bisa menjadi factionless. Atau, empat orang dari mereka dan tak ada seorang pun dari kalian yang menjadi factionless. Atau kombinasi keduanya. Dan ini ranking kalian."
Ia menggantung papan di pengaitnya dan melangkah mundur agar kami bisa melihat ranking kami.
1. Hyunseung
2. Minhyuk
3. Jun
4. Yuju
5. Exy
6. Jungkook
Keenam? Aku tidak mungkin menjadi yang keenam. Mengalahkan Exy pasti telah membuat peringkatku naik tajam dari yang kubayangkan. Dan, kalah dariku sepertinya telah menurunkan peringkatnya. Aku terus membaca sampai ke bawah daftar.
7. Minwoo
8. Junhong
9. Hyuna
Junhong bukan yang terakhir, tapi kecuali kalau ada anak asli Dauntless yang benar-benar gagal di tahap pertama versi mereka, ia akan menjadi factionless.
Aku melirik Yuju. Ia memiringkan kepalanya dan bekernyit menatap papan tulis. Bukan ia yang satu-satunya seperti itu. Keheningan di ruangan ini seperti mengandung kebimbangan. Seperti diayun-ayun di pinggir jurang.
Lalu, keheningan itu pecah.
"Apa?" teriak Exy. Ia menunjuk Yuju. "Aku mengalahkannya! Aku mengalahkannya dalam hitungan menit, dan peringkatnya ada di atas-ku?"
"Yeah," ujar Yuju sambil melipat lengannya. Ia tersenyum penuh kemenangan. "Memangnya kenapa?"
"Jika kau berniat mengamankan posisimu di ranking tinggi, kusarankan jangan pernah kalah dari lawan yang berperingkat rendah," ujar V. Suaranya terdengar jelas di antara gumaman dan gerutuan anak-anak yang lain. Ia memasukkan kapur ke sakunya dan berjalan melewatiku tanpa sedikit pun melihatku. Kata-kata itu sedikit menyakitiku, mengingat akulah si Peringkat Rendah yang ia maksud.
Rupanya kata-kata itu juga mengingatkan Exy.
"Kau," ujarnya sambil mengarahkan pandangan tajam ke arahku. "Kau akan membayar ini."
Aku mengira ia akan menerjangku atau memukulku, tapi ia hanya berbalik dan berjalan keluar dari asrama. Itu lebih buruk. Kalau tadi ia meledak, amarahnya akan habis dalam satu atau dua pukulan. Pergi dari sini, artinya ia merencanakan sesuatu. Ia pergi berarti aku harus meningkatkan kewaspadaanku.
Minhyuk tak berkata apa-apa saat ranking diumumkan. Cukup mengejutkan karena ia cenderung untuk mengeluh tentang apa pun yang tak sesuai keinginannya. Ia Cuma berjalan ke tempat tidurnya, duduk, lalu melepas tali sepatunya. Ini makin membuatku gelisah. Ia tak mungkin puas dengan posisi kedua. Bukan Minhyuk.
Jun dan Yuju tos, lalu Jun menepuk bahuku yang lebih kecil dari tangannya.
"Hebat juga. Nomor enam," ujarnya padaku sambil tersenyum lebar.
"Masih belum cukup baik," aku mengingatkannya.
"Kau akan baik-baik saja, jangan khawatir," ujarnya. "Kita harus merayakannya."
"Jadi, ayo," ujar Yuju meraih lenganku dengan satu tangan dan lengan Junhong dengan tangan yang lain. "Ayo Junhong, kau kan tidak tahu bagaimana hasil anak asli Dauntless. Kau masih belum tahu pasti."
"Aku hanya ingin tidur," gumamnya sambil melepaskan lengannya.
Di lorong, mudah sekali melupakan Junhong, balas dendam Exy, dan ketenangan Minhyuk yang mencurigakan. Mudah untuk berpura-pura bahwa tidak ada memisahkan kami dari pertemanan ini. Tapi yang ada di benakku, Yuju dan Jun adalah sainganku. Kalau aku mau berjuang masuk sepuluh besar, aku harus lebih dulu mengalahkan mereka.
Kuharap aku tak perlu mengkhianati mereka nanti.
—oOo—
Malam itu aku sulit tidur. Biasanya, kamar asrama dipenuhi dengan suara napas yang menggema, tapi kali ini terlalu hening. Saat suasanya hening, aku memikirkan tentang keluargaku. Untungnya markas Dauntless biasanya bising.
Jika ibuku dulunya seorang Dauntless, kenapa ibu memilih Abnegation? Apakah ibu menyukai kedamaiannya, rutinitasnya, dan kebaikannya—semua hal yang kurindukan jika kubiarkan diriku memikirkannya.
Aku bertanya-tanya apakah ada orang yang mengenal ibu saat ibu masih muda dan bisa memberitahuku seperti apa dirinya waktu itu. Kalaupun ada, mereka mungkin tak ingin membicarakan ibu. Orang yang berpindah faksi tak seharusnya membicarakan faksi lama mereka setelah mereka menjadi anggota. Itu demi mempermudah mereka untuk mengubah kesetiaan mereka dari keluarga ke faksi—mematuhi prinsip "Faksi Lebih Penting dari Pertalian Darah".
Aku membenamkan wajah ke bantal. Ibu memintaku mengatakan pada Namjoon-hyung untuk mencari tahu tentang serum simulasi—kenapa? Apakah itu ada hubungannya denganku yang seorang Divergent, keadaanku yang berada dalam bahaya atau yang lain? Aku menghela napas. Aku punya seribu pertanyaan dan ibu pergi tepat sebelum aku menanyakan satu hal pun. Sekarang, pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku dan aku ragu, aku takkan bisa tidur sampai aku bisa menjawabnya.
Terdengar suara ribut dari seberang ruangan dan aku bangun. Mataku belum terbiasa di kegelapan, jadi aku tak bisa melihat apa-apa. Aku mendengar suara decit sepatu yang diseret. Sebuah gedebuk keras.
Kemudian, tiba-tiba terdengar jeritan yang menghentikan aliran darahku dan membuat bulu kudukku merinding. Aku menyibak selimut dan berdiri di lantai berbatu dengan kaki telanjang. Aku masih tak bisa melihat dengan cukup baik untuk mencari sumber teriakan. Tapi, samar-samar aku melihat gundukan di lantai berjarak beberapa ranjang dariku. Terdengar satu teriakan lagi mengiris telingaku.
"Nyalakan lampu!" teriak seseorang.
Aku berjalan ke arah suara itu dengan perlahan agar tidak tersandung. Rasanya aku seperti kehilangan arah. Aku tak mau melihat ke arah jeritan itu berasal. Jeritan semacam itu hanya berarti darah, tulang, dan rasa sakit. Jeritan yang berasal dari dalam perut dan menjalar ke seluruh tubuhmu.
Lampu menyala.
Hyunseung terkapar di lantai di dekat tempat tidurnya sambil memegangi wajahnya. Di bawah kepalanya ada genangan darah. Ada yang mencuat di antara cengkeraman tangannya, sebilah gagang pisau perak. Degup jantungku berdentam-dentam. Aku mengenali pisau itu. Itu pisau mentega dari ruang makan. Pisau itu menusuk bola mata Hyunseung.
Hyuna, yang berdiri di dekat kaki Hyunseung. Menjerit. Ada lagi yang juga menjerit. Lalu, ada satu orang yang berteriak meminta bantuan. Hyunseung masih terbaring di lantai, menggeliat dan menjerit kesakitan. Aku meringkuk mendekat. Lututku terkena genangan darah. Aku menyentuh bahu Hyunseung.
"Jangan bergerak," kataku. Aku merasa tenang walau aku tak bisa mendengar apa pun. Rasanya seperti kepalaku terendam air. Hyunseung meronta lagi dan aku berkata lebih nyaring dan tegas. "Kubilang, jangan bergerak. Tarik napas."
"Mataku!" teriaknya.
Aku mencium bau busuk. Ada yang muntah.
"Tarik pisau ini!" teriaknya. "Tarik, cabut pisau ini, cabut!"
Aku menggeleng dan menyadari kalau ia tak bisa melihatku. Ada semacam tawa yang menggeliat di dalam perutku. Histeris. Aku harus menekan histeriaku kalau aku mau menolongnya. Aku harus melupakan kepentinganku.
"Tidak," kataku. "Hanya dokter yang boleh mencabutnya. Kau dengar? Biar dokter yang mencabutnya. Tarik napas."
"Sakit," tangis Hyunseung.
"Aku tahu itu sakit." Bukannya suaraku yang kudengar, tapi suara ibu. Aku melihat ibu membungkuk di depanku di jalan setapak di depan rumah. Ibu menghapus air mata dari wajahku setelah aku tahu dan lututku terluka. Waktu itu aku lima tahun.
"Semua akan baik-baik saja." Aku mencoba kedengaran yakin, bukannya aku sekadar ingin menenangkannya. Aku tidak tahu apakah semuanya akan baik-baik saja. Kurasa tidak.
Saat perawat datang, ia memintaku mundur dan aku menurut. Tangan dan lututku dipenuhi darah. Saat aku melihat sekeliling, aku melihat ada dua wajah yang menghilang.
Minwoo.
Dan Minhyuk.
—oOo—
Setelah mereka membawa Hyunseung pergi, aku membawa pakaian kotor ke kamar mandi dan mencuci tanganku. Yuju mengikutiku dan berdiri di pintu, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Aku lega. Karena memang tidak banyak yang bisa dikatakan.
Aku menggosok telapak tanganku dan mencungkil bagian dalam kukuku dengan kuku jari lainnya untuk membersihkan darah yang menempel. Aku mengganti bajuku dengan celana yang kubawa dan melemparkan baju kotor ke keranjang sampah. Seseorang harus membersihkan kekacauan di ruang asrama. Karena aku ragu aku bisa tidur lagi, sepertinya akulah yang akan membersihkannya.
Saat aku memegang handel pintu, Yuju berkata, "Kau tahu siapa yang melakukannya, kan?"
"Yeah."
"Apa kita perlu bilang pada seseorang?"
"Menurutmu Dauntless akan melakukan sesuatu?" kataku. "Setelah menggantungmu di tebing? Setelah menyuruh kita saling menghajar satu sama lain sampai pingsan?"
Ia tak berkata apa-apa.
Setengah jam setelah itu, aku berlutut sendirian di lantai asrama dan menggosok darah Hyunseung. Yuju membuang tisu kotor ke tempat sampah dan mengambilkan yang baru untukku. Hyuna tidak ada. Mungkin gadis itu mengikuti Hyunseung ke rumah sakit.
Tak ada yang tidur nyenyak malam itu.
—oOo—
"Mungkin kedengarannya aneh," ujar Jun. "Tapi, kuharap kita tidak libur hari ini."
Aku mengangguk. Aku tahu apa maksudnya. Melakukan sesuatu akan mengalihkan perhatianku dan aku butuh pengalihan perhatian saat ini.
Aku tak pernah menghabiskan banyak waktu dengan Jun, tapi Yuju dan Junhong sedang tidur siang di asrama dan kami berdua tak ingin berada di ruangan itu lebih lama dari yang seharusnya. Jun tidak bilang begitu padaku tapi aku tahu.
Aku mencungkil kuku jariku. Aku mencuci tanganku dengan cermat setelah membersihkan darah Hyunseung, tapi rasanya masih tersisa di tanganku. Aku dan Jun berjalan-jalan tanpa tujuan. Tak tahu ke mana tujuan kami.
"Kita bisa mengunjunginya," Jun memberi saran. "Tapi, kita mau bilang apa? 'Aku tidak terlalu mengenalmu, tapi aku ikut prihatin karena ada yang menusuk matamu'?"
Itu tidak lucu. Aku tahu itu begitu ia mengucapkannya, tapi aku tetap tertawa juga karena sulit untuk menahannya. Jun menatapku sejenak dan kemudian ia juga tertawa. Terkadang, menangis atau tertawa adalah pilihan yang tersisa, dan sekarang tertawa sepertinya pilihan yang lebih baik.
"Maaf," kataku. "Hanya saja itu terlalu konyol."
Aku tak ingin menangis untuk Hyunseung—setidaknya bukan tangisan personal yang mendalam seperti kau menangisi sahabat atau kekasih. Aku ingin menangis karena ada sesuatu yang buruk terjadi. Aku melihat. Tapi, aku tak melihat ada cara untuk memperbaikinya. Mereka yang ingin menghukum Minhyuk tak memiliki wewenang untuk itu. Dan, yang memiliki wewenang untuk menghukum Minhyuk pun tak mau melakukannya. Dauntless memiliki peraturan mengenai penyerangan semacam itu, tapi dengan adanya Yongguk berkuasa, aku ragu peraturan itu akan ditegakkan.
Aku berkata dengan lebih serius, "Yang paling konyol adalah, di faksi lain, pasti ada yang berani untuk mengatakan apa yang terjadi. Tapi di sini... di Dauntless... keberanian seperti itu tak akan berguna."
"Apa kau pernah membaca manifesto faksi?" ujar Jun.
Manifesto faksi ditulis setelah faksi terbentuk. Kami mempelajarinya di sekolah, tapi aku tak pernah membacanya.
"Kau pernah?" aku bekernyit memandangnya. Lalu, aku ingat kalau Jun pernah menghafalkan peta kota untuk senang-senang, dan aku menjawab, "Oh. Tentu saja kau pernah."
"Salah satu baris yang kuingat dari manifesto Dauntless adalah, 'Kami yakin tindakan yang berani, dalam keberanian yang mendorong seseorang untuk membela yang lainnya.'"
Jun menghela napas.
Ia tak perlu mengatakan apa pun. Aku tahu maksudnya. Mungkin Dauntless dibentuk dengan niat yang baik, dengan nilai yang baik, dan tujuan yang baik. Tapi, Dauntless telah melenceng jauh dari ketiga hal itu. Dan, hal yang sama terjadi pada Erudite, aku menyadari itu. Dahulu kala, Erudite mengejar ilmu pengetahuan dan kecerdasan hanya demi kebaikan. Sekarang, mereka mengejar ilmu pengetahuan dan kecerdasan untuk menuruti rasa tamak. Aku jadi bertanya-tanya, apakah faksi lain mengalami masalah yang sama. Aku tak pernah memikirkannya sebelumnya.
Walau ada kebejatan yang kulihat di Dauntless, aku tak bisa meninggalkannya. Bukan hanya karena aku nantinya harus hidup sebagai factionless, keterasingan yang sempurna, takdir yang lebih buruk daripada kematian. Tapi, karena dalam waktu yang singkat aku telah jatuh cinta pada tempat ini, aku melihat faksi ini berharga untuk diselamatkan. Mungkin kami bisa kembali menjadi pemberani dan dihormati.
"Ayo pergi ke kafetaria," ujar Jun, "dan makan kue."
"Oke." Aku tersenyum.
Saat kami berjalan di The Pit, dalam aku mengulangi kutipan Jun tadi pada diriku sendiri sehingga aku tak melupakannya.
Aku yakin akan tindakan yang berani, dalam keberanian yang mendorong seseorang untuk membela yang lainnya.
Sebuah pemikiran yang indah.
—oOo—
Kemudian, saat aku kembali ke asrama, tempat tidur Hyunseung telah dibersihkan dan lemarinya terbuka. Kosong. Di seberang ruangan, tempat tidur Hyuna pun terlihat sama.
Saat kutanyakan pada Yuju ke mana mereka pergi, ia menjawab, "Mereka keluar."
"Bahkan Hyuna juga?"
"Ia bilang ia tak mau berada di sini tanpa Hyunseung. Lagi pula, ia kan tersingkir." Yuju mengangkat bahu seakan ia tak bisa memikirkan hal lain untuk dilakukan. Aku tahu pasti bagaimana perasaannya. "Setidaknya mereka tidak akan mengeluarkan Junhong."
Junhong seharusnya keluar, tapi kepergian Hyunseung menyelamatkan dirinya. Dauntless memutuskan untuk memberinya kesempatan lagi di tahap kedua.
"Siapa lagi yang keluar?" kataku.
Yuju mengangkat bahu lagi. "Dua orang anak asli Dauntless. Aku tak ingat namanya."
Aku mengangguk dan melihat papan tulis. Seseorang telah mencoret nama Hyunseung dan Hyuna. Nomor di sebelah nama-nama setiap orang pun ikut berubah. Sekarang, Minhyuk nomor satu. Jun kedua. Aku kelima. Kami memulai tahap pertama dengan sembilan orang peserta.
Sekarang, kami bertujuh.
—oOo—
Tengah hari. Waktunya makan siang.
Aku duduk di lorong yang tidak kukenal. Aku berjalan kemari karena aku merasa ingin menjauh dari asrama. Mungkin kalau aku membawa perlengkapan tidurku kemari, aku takkan perlu kembali ke asrama lagi. Mungkin cuma imajinasiku, tapi bau darah masih tercium di sana, walau sudah menggorok lantainya sampai tanganku sakit dan seseorang menuangkan pemutih ke atas noda itu pagi tadi.
Aku mencubit hidungku sendiri. Menggosok lantai saat tak ada seorang pun yang ingin melakukannya adalah hal yang akan dilakukan ibu. Jika aku tak bisa hidup bersama ibu, setidaknya aku bisa sesekali bersikap seperti dirinya.
Terdengar ada orang yang mendekat. Suara langkah kaki mereka menggema di lantai berbatu dan aku menunduk menatap sepatuku. Aku mengganti sepatu kets abu-abuku dengan kets hitam seminggu lalu, tapi sepatu abu-abu masih tersimpan di salah satu laciku. Aku tak tega membuangnya. Walau aku tahu bodoh rasanya jika tak bisa lepas dari sepatu, seakan-akan sepatu dari Abnegation itu bisa membawaku pulang.
"Jungkook?"
Aku mendongak. Yuri berhenti di hadapanku. Ia melambai ke para peserta inisiasi asli Dauntless yang berjalan bersamanya, menyuruh mereka jalan duluan. Mereka saling berpandangan, tapi terus saja berjalan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuri.
"Aku baru saja mengalami malam yang berat."
"Yeah, aku sudah dengar tentang si Hyunseung." Yuri menatap ke arah lorong. Peserta inisiasi asli Dauntless lainnya menghilang di belokan. Kemudian, ia sedikit menyeringai. "Mau jalan-jalan?"
"Apa?" tanyaku. "Mau ke mana?"
"Ke ritual inisiasi kecil-kecilan," katanya. "Ayo. Kita harus bergegas."
Dengan cepat, kupikirkan pilihan yang kupunya. Aku bisa duduk di sini. Atau, aku bisa meninggalkan markas Dauntless.
Aku bangkit dan berlari kecil di samping Yuri untuk mengejar peserta inisiasi Dauntless lainnya.
"Peserta inisiasi yang biasanya diizinkan ikut adalah yang punya kakak seorang Dauntless," ujarnya. "Tapi, mereka mungkin saja tidak memperhatikan. Bersikap saja seakan-akan kau punya kakak."
"Sebenarnya apa yang akan kita lakukan?"
"Sesuatu yang berbahaya," ujarnya. Tatapan khas maniak Dauntless tampak di matanya. Tapi, bukannya mundur seperti yang mungkin kulakukan beberapa minggu lalu, aku menanggapinya, seakan itu menular. Rasa girang menggantikan perasaan kelam di dalam hatiku. Kami melambat saat kami bisa mengejar para peserta inisiasi Dauntless lainnya.
"Untuk apa si Kaku ini di sini?" tanya seorang anak laki-laki dengan cincin besi di antara lubang hidungnya.
"Ia baru saja melihat mata temannya ditusuk, Xiao," ujar Yuri. "Jangan ganggu ia, oke?"
Xiao mengangkat bahu dan membalikkan badan. Yang lain tak mengatakan apa-apa walaupun beberapa dari mereka melirikku seakan sedang menilaiku. Peserta inisiasi asli Dauntless ini seperti sekawanan anjing. Jika aku melakukan sesuatu yang salah, mereka takkan mengizinkanku berlari bersama-sama. Tapi untuk sekarang, aku aman.
Kami berbelok di sudut lain dan sekelompok anggota Dauntless menunggu di ujung lorong berikutnya. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dipasangkan dengan masing-masing peserta inisiasi asli, tapi aku menemukan beberapa kemiripan di antar wajah-wajah mereka.
"Ayo," ujar salah satu Dauntless. Ia berbalik dan ditelan sebuah pintu yang gelap. Anggota lainnya mengikuti dan kami pun mengekor di belakang. Aku berada tepat di belakang Yuri saat menembus kegelapan. Ibu jari kakiku membentur anak tangga. Aku berhasil menyeimbangkan diri sendiri sebelum terjerembap ke depan dan mulai menaikinya.
"Tangga belakang," ujar Yuri setengah bergumam. "Biasanya terkunci."
Aku tetap mengangguk walau ia tak bisa melihatku. Aku terus menaikinya sampai puncak. Kemudian, sebuah pintu di ujung tangga terbuka dan membiarkan cahaya siang hari menyeruak. Kami menerobos keluar dari dalam tanah beberapa ratus meter dari gedung kaca di atas The Pit dekat jalur kereta.
Rasanya seperti aku pernah melakukan ini ribuan kali sebelumnya. Terdengar peluit kereta. Kurasakan getarannya di tanah. Lampu di lokomotifnya menyorot terang. Kuregangkan jemari tanganku dan kakiku siap berlari.
Kami berlari dalam satu barisan di samping gerbong, dan seperti gelombang ombak, anggota dan peserta inisiasi seperti menumpuk menanti giliran melompat ke kereta. Yuri melompat sebelum aku dan orang-orang yang ada di belakang mendorongku. Aku tak boleh melakukan kesalahan. Aku melompat ke samping, lalu menangkap gagang di samping gerbong dan mendorong tubuhku naik. Yuri menarik lenganku, membantuku berdiri.
Kereta melaju lebih kencang. Aku dan Yuri duduk bersandar di dinding gerbong.
Aku berteriak di tengah angin yang menderu. "Kita mau ke mana?"
Yuri mengangkat bahu. "Jaewoon tidak pernah bilang."
"Jaewoon?"
"Kakak laki-lakiku," ujarnya. Ia menunjuk ke arah seberang gerbong pada seorang pemuda yang duduk di pintu dengan kaki menjuntai keluar. Anak itu kurus, pendek, dan sama sekali tidak mirip Yuri, kecuali warna kulit mereka.
"Kau tidak perlu tahu. Nanti akan merusak kejutannya!" teriak gadis di sebelah kiriku. Ia mengulurkan tangan. "Aku Yoona."
Aku menjabat tangannya, tapi aku tidak menggenggamnya terlalu kuat dan kulepaskan dengan cepat. Aku ragu, aku akan bisa bersalaman lebih baik. Rasanya tidak wajar untuk berpegangan tangan dengan orang asing.
"Aku—" aku mulai mengatakan sesuatu.
"Aku tahu siapa kamu," ujarnya. "Kau si Kaku. V pernah menceritakanmu padaku."
Kuharap rona merah di wajahku tidak dilihatan. "Oh? Ia bilang apa?"
"Kalau instrukturku membicarakanku," kataku setegas mungkin. "Aku mau tahu ia bilang apa." Kuharap kebohonganku meyakinkan. "Ia tidak datang, kan?"
"Tidak. Ia tak pernah mengikuti ini," ujarnya. "Mungkin tidak tertarik. Tidak terlalu membuatnya takut, kau tahu, kan."
Ia tidak datang. Ada sesuatu di dalam diriku yang mengempis seperti balon yang tidak diikat. Aku mengabaikannya dan mengangguk. Aku tahu V bukan pengecut. Tapi, aku juga tahu setidaknya ada satu hal yang membuatnya takut: ketinggian. Apa pun yang akan kami lakukan nanti, pasti ada hubungannya dengan ketinggian sehingga ia menghindarinya. Gadis ini tak boleh sampai tahu karena ia membicarakan V dengan penuh hormat.
"Kau kenal baik dengannya?" tanyaku. Aku memang suka penasaran. Selalu begitu.
"Semuanya kenal V," ujarnya. "Dulu kami mengikuti inisiasi bersama-sama. Aku tidak pintar bertarung, jadi ia mengajariku tiap malam setelah semuanya tidur." Ia menggaruk bagian belakang lehernya. Ekspresinya mendadak serius. "Orang yang baik."
Ia beranjak dan berdiri di belakang beberapa anggota yang berdiri di pintu. Dalam sedetik, ekspresinya tadi menghilang. Tapi, aku masih gemetar dengan yang ia katakan, setengah bingung dengan gagasan tentang V yang "baik" dan setengah ingin meninjunya tanpa alasan yang jelas.
"Ini dia!" teriak Yoona. Kereta tidak melambat, tapi ia melompat keluar gerbong. Anggota Dauntless yang lain, sekumpulan anak-anak berpakaian hitam dan bertindik yang sedikit lebih tua dariku, mengikutinya. Aku berdiri di pintu dengan Yuri. Kereta melaju makin cepat saat tiap kali aku melompat, tapi sekarang aku tidak boleh takut, di depan semua anggota Dauntless. Jadi, aku melompat dan mendarat di tanah keras, lalu terjungkal beberapa langkah sebelum kembali menyeimbangkan diri.
Aku, Yuri, dan beberapa peserta inisiasi lainnya, berlari kecil untuk mengejar anggota lain, yang sama sekali hampir tidak melihatku.
Aku menatap sekeliling sambil berjalan. The Hub di belakang kami. Gedungnya menjulang hitam ke angkasa, tapi gedung-gedung di sekelilingku gelap dan sunyi. Ini artinya kami pasti berada di sebelah utara jembatan, di kota mati.
Kami berbelok dan menyebar saat menyusuri Michigan Avenue. Michigan Street yang berada di sebelah selatan jembatan adalah jalanan yang sibuk dan disesaki orang-orang, tapi di sisi ini hampir tidak ada siapa-siapa.
Saat aku menengadah untuk melihat gedung-gedung ini, aku tahu ke mana kami akan pergi. Gedung Hancock kosong yang memiliki sebuah pilar dengan penopang silang-menyilang. Gedung tertinggi di sebelah utara jembatan.
Tapi, apa yang akan kami lakukan? Memanjatnya?
Saat kami mendekat, para Dauntless mulai berlari. Aku dan Yuri ikut berlari mengejar mereka. Dengan saling menyikut satu sama lain, mereka memasuki serangkaian pintu di lantai dasar gedung itu. Salah satu kacanya pecah sehingga hanya bingkainya yang tersisa. Aku melompat melewati bingkai itu dan mengikuti para anggota memasuki lorong gelap dan angker; serta diikuti suara pecahan kaca yang terinjak kakiku.
Kukira kami akan naik dengan tangga, tapi kami berhenti di depan elevator.
"Apa elevatornya bisa dipakai?" aku bertanya pada Yuri selirih mungkin.
"Tentu saja," ujar Jaewoon melotot. "Menurutmu aku terlalu bodoh datang kemari tanpa menyalakan generator daruratnya terlebih dahulu?"
"Yeah," ujar Yuri. "Sepertinya sih."
Jaewoon melirik adiknya, lalu mengempitnya dengan satu tangan dan menjitak kepala Yuri. Jaewoon mungkin saja lebih kecil dari Yuri, tapi ia pasti lebih kuat. Atau, setidaknya lebih cepat. Yuri memukul bagian samping tubuh Jaewoon, tapi ia bisa menghindar.
Aku tersenyum lebar menatap rambut Yuri yang berantakan, lalu pintu elevator terbuka. Kami bergegas masuk. Para anggota masuk di salah satu elevator, dan para inisiasi di elevator lainnya. Seorang gadis berkepala pelontos menginjak jempol kakiku dan tidak minta maaf. Aku mengelus kakiku sambil bekernyit dan hampir saja menendang tulang keringnya. Yuri melihat bayangannya sendiri di pintu lift dan merapikan rambutnya.
"Lantai berapa?" tanya gadis berkepala pelontos itu.
"Seratus," kataku.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Lynn, sudahlah," ujar Yuri. "Bersikaplah baik."
"Kita ada di gedung kosong berlantai seratus dengan para Dauntless," jawabku ketus. "Kenapa kau bisa tidak tahu kalau kita pasti menuju lantai tertinggi?"
Lynn tak menjawab. Ia hanya menekan tobol di sebelah kanan.
Elevator meluncur naik begitu cepat sampai rasanya perutku melesak jatuh dan telingaku meletup. Aku berpegangan pada susuran di sisi dinding elevator sambil melihat nomor lantai merangkak naik. Kami melewati angka dua puluh, tiga puluh, dan akhirnya rambut Yuri kembali rapi. Lima puluh, enam puluh, dan kakiku tidak lagi berdenyut-denyut. Sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan, dan elevator berhenti tepat di angka seratus. Aku lega tadi kami tidak naik tangga.
"Aku penasaran bagaimana kita bisa sampai di atap dari..." suara Yuri terhenti.
Embusan angin kuat menerpa dan menghamburkan rambut menutupi wajahku. Ada lubang besar di langit-langit lantai seratus. Jaewoon bersandar pada tangga aluminium di pinggir lubang itu dan mulai naik. Tangga itu berderak dan mengayun-ayun saat diinjak, tapi ia terus memanjat sambil bersiul. Daat tiba di atap, Jaewoon membalikkan tubuh dan memegangi ujung tangga agar yang berikutnya bisa naik.
Sebagian dari diriku bertanya-tanya apakah ini semacam misi bunuh diri yang disamarkan menjadi sebuah permainan.
Ini bukan pertama kalinya aku bertanya-tanya sejak Upacara Pemilihan.
Aku memanjat tangga itu setelah Yuri. Aku teringat saat memanjat batang besi di Kincir Bianglala diikuti V tepat di belakangku. Aku ingat jari-jarinya di pinggangku, bagaimana tangannya menahanku agar tidak jatuh, dan aku hampir saja tergelincir dari tangga. Bodoh.
Menggigit bibir, aku terus naik ke puncak dan akhirnya berdiri di atap gedung Hancock.
Anginnya bertiup begitu kencang sampai-sampai aku tidak bisa mendengar suara atau merasakan apa pun. Aku harus bersandar pada Yuri agar tidak jatuh. Yang pertama kulihat adalah rawa yang luas dan berwarna cokelat di mana-mana, berbatasan dengan garis cakrawala tanpa tanda kehidupan. Di arah yang lain ada pemandangan kota, yang entah kenapa terlihat sama, tanpa tanda kehidupan dan batasan yang tak kuketahui sama sekali.
Yuri menunjuk ke satu arah. Ada kabel baja sebesar pergelangan tanganku yang terpasang di salah satu tiang di puncak menara. Di lantai atap ada sejumlah tali hitam yang terbuat dari kain tebal. Cukup besar untuk menahan satu orang. Jaewoon meraih salah satunya dan memasangnya ke katrol yang menggantung di kabel baja.
Aku melihat arah kabelnya; melewati kumpulan gedung-gedung dan sepanjang Lake Shore Drive. Aku tak tahu di mana ujungnya. Tapi, cuma satu yang pasti; kalau aku melewatinya, aku pasti tahu ke mana arahnya.
Kami akan meluncur di kabel baja dengan tali penahan hitam di ketinggian 300 meter lebih.
"Ya Tuhan," ujar Yuri.
Aku hanya mengangguk.
Yoona adalah orang pertama yang memasang tali pengaman. Ia mengikatkan talinya ke depan ke bagian perut sampai sebagian besar tubuhnya mengenakan tali pengaman. Lalu, Jaewoon memasang tali pengaman di bahunya, tali kecil di punggung, dan melintang di pahanya. Ia menarik Yoona yang sudah mengenakan tali pengamannya, ke pinggir gedung dan menghitung mundur sampai lima. Yoona mengacungkan jempolnya tepat sebelum Jaewoon mendorongnya ke depan, terjun lepas.
Lynn terkesiap saat Yoona meluncur cepat dengan sudut curam ke tanah dengan kepala duluan. Aku menyeruak ke depan agar bisa melihat lebih jelas. Yang kulihat, Yoona tetap aman di tali pengaman, tapi kemudian, ia meluncur terlalu jauh hingga menjadi satu titik hitam di atas Lake Shore Drive.
Para anggota lainnya berseru dan mengacungkan tinju ke udara sambil membetuk barisan. Ada yang saling dorong satu sama lain agar bisa mendapatkan tempat yang lebih baik. Entah bagaimana aku berada di urutan pertama barisan peserta inisiasi, tepat di depan Yuri. Hanya ada tujuh orang di depanku sebelum mencapai tali luncur.
Tetap saja, ada sisi dalam diriku yang merasa kesal, aku harus menunggu tujuh orang? Ini perpaduan ketakutan dan rasa semangat yang aneh dan sampai sekarang tetap terasa asing.
Yang selanjutnya seorang pemuda bertampang imut dengan rambut terurai ke bahu. Ia memasang pengaitnya ke punggung, bukan perut. Lengannya di rentangkan lebar saat Jaewoon mendorongnya meluncur di kabel baja.
Tak ada satu anggota pun yang kelihatan takut. Mereka melakukannya seperti sudah melakukannya ribuan kali sebelumnya, dan mungkin saja memang begitu. Saat aku melihat ke belakang, aku melihat sebagian besar peserta inisiasi kelihatan pucat atau cemas, bahkan jika mereka berbicara satu sama lain dengan semangat. Apa yang terjadi di antara peserta inisiasi hingga jadi anggota yang mengubah rasa panik menjadi kesenangan? Atau, memang orang makin lama makin bisa menyembunyikan rasa takutnya?
Tiga orang lain di depanku. Tali pengaman berganti. Seorang anggota memasukkan kakinya dulu dan menyilangkan tangan di dadanya. Dua orang lagi. Seorang anak laki-laki tinggi tegap yang meloncat-loncat seperti anak sebelum memasang tali pengamannya. Ia melengkin tinggi saat meluncur dan membuat gadis di depanku tertawa. Tinggal satu orang lagi.
Gadis itu memasang tali pengamannya dari wajah dulu dan tangannya tetap terjulur di depan saat Jaewoon mengencangkan ikatannya. Kemudian, giliranku.
Aku gemetar saat Jaewoon mengaitkan tali pengamanku di kabel. Aku mencoba naik, tapi sulit melakukannya. Tanganku terlalu gemetar.
"Jangan khawatir," bisik Jaewoon di telingaku. Ia memegang lenganku dan membantuku yang terus menunduk ke bawah.
Pengaman di bagian perut ditarik kencang dan Jaewoon membawaku ke pinggir atap. Aku menunduk menatap penopang baja gedung dan jendela-jendela yang menghitam. Di bawahnya ada jalan yang retak pecah-pecah. Aku bodoh kalau sampai melakukan ini. Juga, bodoh karena menikmati bagaimana jatungku menggedor-gedor tulang dada dan keringat membasahi telapak tanganku.
"Siap, Kaku?" Jaewoon menyeringai padaku. "Harus kuakui, aku terkesan kau tidak berteriak dan menangis."
"Kubilang juga apa," kata Yuri. "Ia makin lama makin seperti seorang Dauntless. Sekarang cepatlah."
"Hati-hati, Dik, atau aku mungkin saja tidak mengikat tali pengamanmu cukup kuat," ujar Jaewoon. Ia meninju lutut Yuri. "Lalu, cepreeet!"
"Yeah, yeah," ujar Yuri. "Lalu, ibu akan merebusmu hidup-hidup."
Saat mendengarnya membiarkan ibu, tentang keluarga mereka yang utuh, membuat dadaku terasa ditusuk jarum.
"Itu kan kalau ibu tahu." Jaewoon memasukkan pengait yang terpasang di kabel baja. Untuk saja pengait itu, karena jika patah, ajalku pasti datang dengan cepat. Ia menatapku dan berkata, "Bersedia, siap, g—"
Sebelum ia selesai mengatakan kata "go", ia meluncurkan tali luncurnya dan aku melupakannya. Aku lupa Yuri dan keluarganya, dah hal-hal yang mungkin saja tidak berfungsi dengan baik yang bisa mengantarku menemui ajal. Saat aku meluncur terus ke bawah, kudengar suara besi saling bergesekan dan angin terasa begitu kuat sampai air mataku keluar.
Rasanya begitu ringan, tanpa beban. Di seberangku, rawa kelihatan begitu besar. Hamparannya yang cokelat membentang lebih jauh dari yang bisa kulihat, bahkan di ketinggian seperti ini. Udaranya yang begitu dingin dan mengembus cepat menampar-nampar wajahku. Aku meluncur makin cepat dan hampir berteriak senang. Tapi, teriakkanku tertahan oleh angin yang memenuhi rongga mulutku begitu aku membuka mulut.
Karena tubuhku ditopang dengan aman, aku merentangkan tangan ke samping dan membayangkan seakan-akan aku sedang terbang. Aku menukik tajam ke jalanan yang retak-retak dan penuh tambalan, lalu mengikuti tiap lekuk rawa. Di atas ini, aku bisa membayangkan bagaimana ketika rawa itu masih digenangi air, tentu akan kelihatan seperti baja cair saat merefleksikan bias warna langit.
Jantungku berdegup kencang sampai terasa sakit. Aku tak bisa menjerit. Aku tak bisa bernapas. Tapi, aku merasakan banyak hal, di setiap pembuluh darahku, di setiap serat tubuhku, setiap jengkal tulangku, dan setiap urat darafku. Seluruh bagian tubuhku seperti terjaga dan berdenging seakan dialiri arus listrik. Aku seperti adrenalin murni.
Dataran terlihat makin besar dan makin berbentuk di bawahku. Aku bisa melihat beberapa orang-orang yang kelihatannya kecil sekali berdiri di pelataran di bawah sana. Harusnya aku berteriak seperti yang akan dilakukan manusia rasional mana pun. Namun, saat aku membuka mulutku lagi, aku cuma mengerang kesenangan. Aku berteriak lebih keras dan sosok di bawah sana mengacungkan tangan dan balas berteriak. Sayangnya mereka terlalu jauh, jadi aku hampri tak bisa mendengarkan suara mereka.
Aku menunduk dan daratan membentang di belakangku. Perpaduan antara warna abu-abu, putihm dan hitam; kaca, semen, dan baja. Angin membelai, belaian selembut helai rambut, terasa di jemariku dan aku menarik tanganku lagi. Aku mencoba menyilangkan tangan di dada seperti tadi, tapi aku tak cukup kuat. Daratan makin lama makin mendekat.
Selama semenit aku tidak melambat, tapi melayang sejajar tanah seperti burung.
Setelah aku melaju lambat, kusisir rambut dengan jari. Angin membuat rambutku kusut. Aku bergelantungan enam meter di atas tanah, tapi sepertinya jarak setinggi itu bukan apa-apa lagi. Aku menggapai tali yang terpasang di belakangku dan melepaskannya. Jariku gemetar, tapi aku masih bisa melepaskannya. Ada kerumunan anggota Dauntless di bawah sana. Mereka saling memegang lengan satu sama lain untuk membentuk jaring manusia di bawahku.
Agar bisa turun, aku harus memercayai mereka untuk menangkapku. Aku harus menerima mereka sebagai bagian dari diriku dan aku bagian dari mereka. Ini butuh lebih banyak keberanian dibandingkan meluncur turun dari tali luncur.
Aku menggeliat ke depan dan jatuh, membentur lengan mereka dengan keras. Tulang pergelangan dan lengan bawah membentur punggungku dan ada yang menarik lenganku untuk berdiri. Aku tak tahu, tangan yang mana yang memegangku dan yang tidak. Yang kulihat dan kudengar adalah senyum lebar dan tawa.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Yoona sambil menepuk pundakku.
"Umm..." semua anggota Dauntless melihatku. Mereka menatapku saat kurasakan ada angin yang berembus. Mata mereka yang dipenuhi adrenalin. Rambut mereka yang berantakan. Aku tahu kenapa ayah bilang kalau Dauntless itu sekumpulan orang gila. Ayah tidak mengerti—takkan bisa mengerti—jenis rasa setia kawan yang terbentuk setelah kau mempertaruhkan nyawa bersama-sama.
"Kapan aku bisa melakukannya lagi?" kataku. Senyumku tersungging begitu lebar, memamerkan gigi. Saat mereka tertawa, aku ikut tertawa. Aku membayangkan saat aku menaiki tangga bersama para Abnegation lainnya, saat kaki kami berjalan dengan ritme yang sama, maka kami semua sama. Tapi, ini bukan seperti itu. Kami memang tidak sama, tapi entah kenapa, kami adalah satu.
Aku melihat ke arah gedung Hancock yang begitu jauh dari tempatku berdiri, sampai-sampai aku tidak bisa melihat orang-orang di atas atap.
"Lihat! Itu dia!" teriak seseorang dengan jari menjulur melewati bahuku. Aku mengikuti arah yang ia tunjuk dan ada setitik hitam meluncur di kabel baja. Beberapa detik kemudian, aku mendengar pekikan yang memekakkan telinga.
"Taruhan ia akan menangis."
"Adiknya Jaewoon menangis? Tidak mungkin. Ia akan dipukul keras."
"Lengannya terayun-ayun!"
"Suaranya seperti kucing dicekik," kataku. Semuanya tertawa lagi. Aku merasa sedikit bersalah karena mengejek Yuri tanpa sepengetahuannya. Tapi, aku pasti akan mengatakan hal yang sama jika ia berdiri di sini. Sepertinya.
Saat Yuri benar-benar berhenti, aku mengikuti anggota lainnya untuk menjemputnya. Kami berbaris di bawahnya dan mengulurkan lengan untuk saling berpegangan. Yoona melingkarkan tangannya di siku lenganku. Aku memegang lengan yang lain—aku tak yakin itu lengan siapa karena terlalu banyak lengan yang terjulur—dan menatap gadis itu.
"Sepertinya kami tidak bisa memanggilmu 'Kaku' lagi," ujar Yoona. Ia pun mengangguk. "Jungkook."
Jujur saja, senyumku begitu lebar hingga rasanya buncahan kebahagiaan dapat membuatku meledak.
—oOo—
Aku masih mencium bau angin saat memasuki kafetaria malam itu. Begitu aku memasukinya, aku berdiri di antara para Dauntless dan aku merasa seperti bagian dari mereka. Kemudian, Yoona melambaikan tangan padaku dan kami berpencar. Aku menghampiri meja tempat Yuju, Al, dan Jun duduk dan menyisakan satu tempat untukku.
Aku tak memikirkan mereka saat aku menerima ajakan Yuri. Di satu sisi, memang puas melihat wajah mereka yang terpana. Tapi, aku juga tak ingin mereka merasa kesal padaku.
"Kamu dari mana?" tanya Yuju. "Apa yang kamu lakukan bersama mereka?"
"Yuri... kau tahu kan, peserta inisiasi asli Dauntless yang ikut tim tangkap bendera kita?" kataku. "Ia tadi pergi bersama beberapa orang anggota dan meminta mereka mengizinkanku ikut. Mereka tak terlalu ingin aku ada di sana. Seorang gadis bernama Lynn menginjak kakiku."
"Mungkin mereka memang tidak ingin kau ikut," ujar Jun kalem, "tapi, sepertinya mereka menyukaimu sekarang."
"Yeah," kataku. Aku tak bisa menyangkalnya. "Tapi, aku tetap senang bisa kembali."
Kuharap mereka tidak tahu aku sedang berbohong, tapi menurutku mereka tahu. Aku melirik ke jendela saat berjalan menuju markas tadi. Pipi dan mataku sama-sama berseri. Rambutku kusut. Aku seperti baru saja mengalami sesuatu yang luar biasa.
"Yah, kamu baru saja ketinggalan, tadi Yuju hampir memukul seorang Erudite," ujar Al. Suaranya terdengar bersemangat. Aku selalu bisa mengandalkan Junhong untuk memecah kebekuan suasana. "Anak itu menanyakan pendapatnya tentang kepemimpinan Abnegation dan Yuju bilang padanya ada banyak hal lebih penting yang bisa ia lakukan."
"Dan itu benar," tambah Jun. "Dan anak itu tersinggung. Salah besar."
"Besar sekali," kataku sambil mengangguk. Jika aku tersenyum cukup meyakinkan, mungkin aku bisa membuat mereka melupakan kecemburuan, sakit hati, atau apa pun yang membara di mata Yuju.
"Yeah," ujar Yuju. "Pada saat kamu jalan-jalan, aku repot membela faksi lamamu, memperkecil keributan antarfaksi..."
"Ayolah, mengaku saja kau menikmatinya," ujar Jun sambil menyikutnya. "Kalau kau tak mau cerita semuanya, biar aku saja. Anak itu tadi sedang berdiri ..."
Jun mulai bercerita dan aku terus mengangguk seakan aku mendengarkannya. Tapi, yang bisa kupikirkan hanyalah menatap pemandangan di bawah gedung Hancock dan bayangan yang terlintas tentang rawa yang masih dilimpahi air, seperti zaman keemasannya dulu. Aku mencuri pandang ke arah para Dauntless asli lainnya, yang saling melempar makanan, di belakang pundak Jun.
Ini pertama kalinya aku benar-benar merasa senang menjadi bagian dari Dauntless.
Ini artinya aku harus bertahan melewati tahap inisiasi selanjutnya.
—T B C—
