GreyishPink
Main cast : RM a.k.a Kim Namjoon; Kim Seokjin
Other cast : other BTS member
Genre : T
Youtuber!Seokjin. BTS with 6 members! (except Seokjin)
.
.
.
GreyishPink
Seokjin dan segala pikiran negatif sekaligus insekuritasnya. Ia sadar jika pikiran itu, jika dijaga terus, akan membunuhnya lama kelamaan. Ia menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, mencoba menenangkan pikirannya.
Namun jika dipikir sekali lagi, pikirannya tentang itu tak juga salah. Benar jika Ia memikirkan karir kekasihnya yang sangat penting, Ia merintis benar-benar dari bawah. Dan sekarang Ia sedang berada di puncak karirnya, mungkin bisa terus menanjak. Seokjin tak ingin menjadi seseorang yang merusak perjalanan karir Namjoon, jalanan karir lelaki itu harusnya diiringi banyak bunga di tepian, bukan duri yang menusuknya.
Dan sekali lagi, Seokjin tak ingin menjadi duri di karir dan kehidupan Namjoon, hanya karena Ia yang egois menginginkan hubungannya bertahan. Jadi ketika Ia berpikir sekali lagi tentang ucapannya malam itu, yang mengajak Namjoon untuk mengakhiri hubungannya, Ia memantapkan hati untuk serius melakukannya.
.
.
.
Yoongi kembali ke apartemen Bangtan dengan sapaan ceria Jimin dan ciuman bertubi lelaki itu. Jimin biasa melakukannya sekalipun anggota Bangtan lainnya sedang melihat atau berada di ruangan yang sama dengan mereka. ia tak peduli.
Namjoon menyapa Yoongi, lalu berlalu. Mereka tak ada jadwal seharian ini, hanya Hoseok dan Jimin yang memiliki jadwal pemotretan sore nanti.
"Hei, Namjoon,"
"Ya, hyung?"
Yoongi tak enak. Memikirkan bagaimana Seokjin mengatakan tentang keyakinannya untuk mengakhiri hubungan dengan Namjoon membuatnya merasa kasihan. "Tidak, ini urusanmu. Selesaikan urusan kalian, ya. Aku tahu kalian berdua sama-sama sakit dan tertekan, tapi segera selesaikan."
Namjoon mengangguk lalu menggigit apelnya. "Tenang saja, nanti malam aku akan menginap."
Yoongi mengangguk, memberikan kesempatan pada Namjoon untuk melakukan inisiatif di hubungannya. Ia lalu melihat Namjoon berjalan masuk ke kamarnya, tanpa mengingatkan Jimin dan Hoseok tentang jadwal mereka.
Hingga sore harinya, ketika Namjoon keluar kamarnya setelah seharian mendekam, Yoongi mengingatkan Namjoon. "Seokjin belum menyalakan teleponnya?"
Namjoon mengangkat bahu. "Sepertinya belum. Terakhir aku menelponnya sejam yang lalu dan masih belum aktif."
Yoongi mengangguk. "Dia pergi saat aku bangun, aku tak tahu Ia kemana. Kau pikir Ia baik-baik saja, kan?"
Lawan bicaranya diam beberapa saat. Ia menatap Yoongi dengan pandangan datar, yang tak bisa diartikan oleh Yoongi. "Tidak, Ia tidak baik-baik saja, hyung. Kau tahu itu,"
Yoongi menggigit bibirnya. "Kupikir Ia pergi untuk bertemu denganmu,"
"Tidak."
"Kuharap Ia hanya sedang olahraga pagi hari,"
Namjoon berjalan ke dapur, mengambil air putih dingin untuk menenangkan pikirannya. Otaknya sedang malfungsi. Pikirannya terlalu menekan, menghimpitnya dengan segala pikiran buruk mengenai kemungkinan yang mungkin terjadi. Banyak variabel di dunia, juga hubungannya, dan banyak pula kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apalagi pada Seokjinnya.
Maka ketika Ia kembali menemui Yoongi, ia tidak baik-baik saja. "Hyung, Seokjin tipikal orang yang suka olahraga?"
"Eh?" Yoongi mengingat kembali. "Ia memang morning person, tapi seingatku Ia tak suka lari pagi."
"Benarkah?"
"Kau yang sering menginap dengannya akhir-akhir ini, kau harusnya lebih tahu."
Namjoon menjilat bibirnya. Seokjinnya memang morning person, namun Ia akan bangun untuk menyiapkan sarapan, bersih-bersih apartemen, merawat dirinya, atau paling banter Ia akan meregangkan otot di balkon apartemennya. Tidak sampai keluar.
"Tiba-tiba aku merasa ada yang tak beres, hyung."
Yoongi mengunyah keripiknya. "Apa-apaan."
Namjoon berbalik ke kamarnya, berjalan dengan cepat dan keburu. Ia mengambil jaket yang ada dengan cepat, meraih kunci mobilnya, lalu menghubungi nomor staf perusahaannya.
"Hyung, aku ke apartemen Seokjin dulu. Hubungi aku jika sesuatu terjadi."
Namjoon mengatakannya sambil lalu, keluar dengan tergesa sambil terus mencoba menghubungi staf perusahaan. Ia ingin berjaga-jaga jika ada sesuatu.
Yoongi merasa tak enak. Ia mengecek forum diskusi online melalui ponselnya, mencari kata kunci Namjoon, ataupun id Seokjin.
.
.
.
Apartemen Seokjin kosong. Namjoon masuk setelah lima belas menit memencet bel namun tak ada tanda-tanda Seokjin di dalam. Jadi Ia memaksa masuk, benar-benar takut terjadi sesuatu.
Seokjin memang sudah dewasa, tak akan berpikiran pendek dengan melakukan hal-hal mengerikan yang merugikan. Namun Namjoon juga tak mengelak jika memang tekanan publik pasti menghimpit Seokjin. Dan Namjoon berharap Seokjin masih menyayangi dunia.
Ia benar-benar tergesa saat mengitari apartemen Seokjin. Hanya ada tulisan di sticky notes yang tertempel di pintu kulkas Seokjin, tulisan Yoongi.
Kabari aku jika kau sudah pulang, dan nyalakan ponselmu, Jin!
Namjoon makin khawatir. Seokjin belum pulang karena pesan Yoongi masih berada di tempatnya. Maka yang Ia lakukan langsung menelpon teman segrupnya.
"Hyung, Jinseokku belum pulang."
"Belum pulang maksudmu?"
Namjoon memilih duduk di kursi meja makan, mencoba semaksimal mungkin agar Ia lebih tenang. Pikirannya sudah kalut membayangkan kemungkinan-kemungkinan perginya Seokjin. "Aku membaca pesanmu di lemari es Seokjin. Ia belum pulang. Kau tahu tempatnya bekerja atau kemungkinan Ia pergi?"
"Aku tidak tahu betul lokasinya bekerja. Kau yang lebih tahu. Tapi semalam saat akan tidur, Ia bercerita jika Ia sedang cuti sebulan."
Namjoon mendecakkan lidah. Semakin frustasi. "Adakah kemungkinan lain dimana Ia sekarang, hyung?"
Yoongi tak yakin. "Ia menyebutkan tentang rumah semalam, aku tak yakin karena Ia hanya bicara tentang rindu pada keluarganya dan enaknya berada di rumah."
"Beritahu aku alamat rumah Seokjin, hyung."
"Kau akan ke sana? Kau gila?"
"Tidak ada salahnya mencoba, hyung, dan semakin lama kau membahas tentang gila-gila itu, semakin bingung aku memikirkan Seokjin."
Yoongi menghela nafas, mengakhiri panggilan teleponnya dengan Namjoon setelah mengucapkan 'baiklah', lalu mengirimkan alamat Seokjin sekaligus nomor telepon rumahnya. Namjoon langsung turun ke parkiran, memacu mobilnya sambil menelpon orang perusahaan sekali lagi. Kali ini Ia menelpon Bang PD.
"Hyung, aku benar-benar butuh bantuanmu."
"Seokjin baik-baik saja? Artikel di internet menggila."
Namjoon menghela nafas. "Tidak, Ia tidak ada di apartemennya sejak pagi. Dan aku akan ke rumahnya di Gyeonggi."
"Bisa aku percaya padamu?"
Namjoon mengangguk yakin, masuk ke tol. "Aku tak ada jadwal hingga lusa. Kupastikan aku kembali besok malam."
"Hati-hati,"
"Hyung, bisakah aku menerima tawaranmu beberapa hari yang lalu?" Namjoon bertanya tak yakin.
"Yang mana?"
Namjoon berdeham tak yakin, tapi ini mendesak. "Aku berfikir untuk mengumumkan hubungan kami ke publik."
Bosnya terdengar tertawa. "Ya, tak masalah. Asal kalian berdua siap dengan semua konsekuensi yang telah kujelaskan sejak lama,"
Namjoon mengangguk, mencengkeram setirnya kuat-kuat. "Biar kubicarakan dengan Seokjin sekali lagi, hyung."
"Ya, itu lebih baik. Kau hanya perlu menelponku kapanpun kau siap, kalian anak-anakku sudah besar," lalu bosnya kembali tertawa. "Tapi, Namjoon-ah, sebelum memberi pernyataan resmi, bisakah kau memberi clue di Twitter?"
"Clue apa hyung?"
"Tentang hubunganmu, bicarakan saja tentang hidupmu dan dirimu yang juga memiliki kehidupan pribadi. Setidaknya penggemarmu tidak terlalu terkejut nanti."
Namjoon mengangguk sekali lagi. Matahari hampir tenggelam dan Namjoon menginjak gas lebih dalam. "Baik hyung, kulakukan setelah sampai di rumah Seokjin."
"Sekali lagi, hati-hati."
.
.
.
Bokong Namjoon kebas, punggungnya kaku karena kurang lebih tiga jam memacu mobil. Ini sudah sekitar pukul 10, Ia memutuskan menelpon nomor rumah yang diberikan Yoongi tadi.
"Ya, dengan siapa?"
Itu suara wanita, terdengar mirip Seokjin namun dengan nada lebih tinggi dan dewasa.
"Maaf mengganggu, apakah Seokjin ada? Ia meninggalkan ponselnya,"
Wanita itu berdengung, memberi jeda beberapa saat. "Ya, dia ada di rumah. Kalau boleh tahu siapa ini?"
Namjoon berdeham. "Saya Kim Namjoon, kekasih Seokjin. Seokjin tak ada di apartemennya dan meninggalkan ponselnya, beruntung dia di rumah."
Namjoon merasakan dengan jelas, dadanya yang sejak tadi terhimpit sekarang sedikit lega. Ia tak memaksa Seokjin untuk menemuinya, tak memaksa Ibu Seokjin pula untuk membiarkan Namjoon menemui anaknya. Jikapun Ia harus pulang malam ini, Ia siap.
"Kau menelpon dari Seoul?"
Namjoon tertawa kering. "Tidak, saya di depan rumah anda."
Wanita itu terdengar terkejut. "Ya tuhan, tunggu aku akan membukakan pintu."
Namjoon ingin melarang, namun Ibu Seokjin keburu menutup telepon. Tak ada pilihan lain selain keluar dari mobil dan menyapa wanita itu.
Begitu gerbang dibuka, Namjoon refleks tersenyum. Ibu Seokjin sangat cantik, secantik anaknya. Rambutnya lurus sebahu, sangat dewasa dan matang. Namjoon tanpa sadar memeluk wanita itu setelah membungkuk memberi salam, memperlakukannya seperti Ibunya sendiri.
"Masuklah, kenapa tak memencet bel saja?"
Rumah Seokjin tidaklah luas, namun cukup luas untuk anak kecil berlarian di halaman depan dan sampingnya yang terhubung. Di dalam pagar yang cukup tinggi ini, tersimpan taman indah dan rerumputan hijau yang mengisi seluruh halaman, dengan jalan setapak yang membentang di tengah.
"Kau akan menginap, kan, Namjoon?"
Namjoon mengangguk kaku, Ia tak yakin sebenarnya tentang menginap atau tidak. "Seokjin di rumah?"
"Ya, tadi pagi Ia sampai di stasiun. Katanya Ia cuti dari restorannya dan ingin pulang. Ia tak bilang denganmu?"
Namjoon sampai di rumah kekasihnya, duduk di ruang tamu bersama Ibu kekasihnya. "Kami... sedang tidak baik. Aku menempatkannya dalam masalah,"
Ibu Seokjin menyatukan alis. Ia hampir bertanya menginterogasi Namjoon jika tidak ingat tentang topik namanya privasi. Akhirnya Ia tersenyum, menggenggam tangan Namjoon dengan hangat. "Bisa aku percaya padamu?"
Namjoon melebarkan mata mendengar pertanyaan tiba-tiba tersebut. Ia mengangguk patuh, membuat Ibu Seokjin tersenyum.
"Pada dasarnya, hubungan kekasih mirip seperti menanam tanaman. Kau harus memilih tempat yang tepat, tanah juga pupuk yang tepat. Begitu juga memilih pasangan. Dan ketika semua sudah terpilih, kau juga harus rajin menyiramnya, tak boleh terlalu banyak dan terlalu sedikit, harus pas menyiramnya."
Namjoon mengangguk mendengarnya.
"Kau juga harus menyingkirkan hama dan gulma yang bisa mengganggu tanamanmu, nak. Dan aku suka kau datang jauh-jauh kemari untuk membereskan pengganggu tanamanmu."
Namjoon ikut tersenyum ketika Ibu Seokjin menatap lurus matanya sambil tersenyum. Wanita itu selain berwajah malaikat, juga berhati baik dan menenangkan. "Mau kupanggilkan Seokjin?"
"Apakah aku mengganggunya?"
Ibu Namjoon menggeleng, Ia ada di kamarnya. Lalu wanita itu berjalan mengajak Namjoon, memasuki rumahnya. Mereka berhenti di depan kamar dengan pintu putih. "Kau mau masuk?"
Namjoon terdiam, menatap gagang pintu yang memanggilnya sekaligus menolaknya.
Ketika tangan wanita itu menyentuh pundaknya, Namjoon merasakan kekuatan. "Kau sudah datang jauh-jauh kemari, aku tak akan membiarkanmu pergi sebelum masalah kalian selesai. Dan masalah tak menunggu, kau harus menyelesaikannya jika tidak ingin makin parah, nak."
Namjoon mengangguk yakin, memutar gagang pintu dan menemukan Seokjinnya tertidur membelakanginya, seperti kebiasaan lelaki itu ketika di apartemen–tidur miring membelakangi pintu.
Begitu besarnya rasa senang dan lega dalam diri Namjoon hingga lelaki itu hampir saja melompat ke kasur dan memeluk kekasihnya, seperti biasanya Ia lakukan. Dengan cepat Ia menahannya, tak mungkin Ia melakukannya di rumah Seokjin, kan? Bisa habis dikuliti Ia nanti.
Jadi Namjoon memilih untuk berjalan dengan pelan, mempertimbangkan dimana Ia harus duduk, di kursi atau di kasur Seokjin.
"Ma? Ada apa?" kepala Seokjin berbalik, melihat siapa yang memasuki kamarnya. Untuk menemukan Namjoon berdiri dengan membeku dan terkejut. "Ya tuhan!"
"Hai, Jinseok." Namjoon tersenyum kaku, kebingungan dengan apa yang harus Ia lakukan setelah menyapa Seokjinnya.
Seokjin tak kalah terkejut, Ia tak menyangka jika lelaki itu ada di kamarnya di Gyeonggi dengan wajah kuyu. Jika keadaan normal, Seokjin pasti sudah berlari memeluk Namjoon dengan senang hati, tubuhnya merindukan lelaki itu sampai ke ujung kuku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Bukannya kalimat indah menyapa, Seokjin malah bertanya dengan nada yang tak Ia duga sama sekali.
Namjoon segera duduk di kasur, di hadapan Seokjin. "Aku sedang membersihkan pengganggu tanaman, Jinseok."
Seokjin menyatukan alis, tak paham apapun yang dimaksud Namjoon.
"Aku datang untuk berdamai, apapun keputusanmu atas hubungan kita, aku menghargainya sepenuh hati dan akan berusaha menerimanya. Sekalipun kau serius menginginkan untuk mengakhiri hubungan kita."
Seokjin meneguk ludahnya susah payah.
"Ibumu bilang, masalah tak akan selesai dengan sendirinya, dan semakin lama kita menundanya untuk menyelesaikan masalah ini, semakin rumit semuanya. Aku harus tegas, Jinseok."
Seokjin terdiam, menunggu kalimat Namjoon selanjutnya.
"Kita dewasa, sama-sama dewasa. Kita juga tidak bodoh untuk bilang kita tak sama-sama gila satu sama lain. Kau juga sudah mengetahui seberapa gilanya aku padamu, betapa aku mencintaimu."
Seokjin mengiyakan dalam hati, masih mengunci mulutnya.
"Dan masalah sepele seperti ini, benar-benar bisa diselesaikan dalam sekali ketikan."
Seokjin menyipitkan mata. "Kau bilang ini masalah sepele?"
"Tunggu, dengar aku dulu, Jinseok." Suara Namjoon masih halus dan tenang, membalas ucapan Seokjin yang berapi.
"Ya ampun, Joon, aku hampir dikejar oleh penggemarmu, mereka menungguku di depan apartemen. Mereka masih mengirimiku komentar buruk bahkan di foto terakhirku di instagram sejak tiga hari yang lalu, dan kau bilang semua baik-baik saja?"
Namjoon menarik nafas, api tak akan selesai di balas api. "Ya, aku tahu aku salah mengatakannya. Tidak, ini bukan masalah sepele dan keselamatanmu dipertaruhkan di sini. Tapi ingatkah kau bahwa masalah ini adalah masalah kita? Aku sudah berjanji dan mengatakannya berkali-kali bahwa aku akan menjagamu, termasuk segala keselamatanmu dan privasimu."
"Bahkan Bang PD menyetujui untuk menjagamu, membiarkan stafnya bekerja untuk menghapus komentar buruk di forum diskusi, memanggilku hanya untuk bicara tentang publisitas hubungan kita."
Seokjin memejamkan mata, hantaman rasa pusing menimpanya sekali lagi. "Publisitas apa lagi, Joon? Aku sudah muak dengan segala kalimat mengerikan penggemarmu, lalu kau memintaku menyetujui ide gila kalian untuk mempublis hubungan ini? Kau gila?"
"Jinseok, serius, hubungan ini akan baik-baik saja. Aku ingin dan kau juga ingin."
Seokjin menggigit lidah. "Joon, kau tahu? Setelah perdebatan kita selama ini, aku benar-benar berpikir jika hanya aku di sini yang gila. Bukan gila sepele seperti yang kau bicarakan. Aku gila, karena memikirkan bagaimana pandangan publik tentangku, atau hubungan kita, atau bagaimana karirmu selanjutnya jika mereka mengetahui idolanya gay dan berpacaran denganku yang seperti ini."
"Hentikan omonganmu tentang gay dan dirimu yang seperti ini dan berhenti bersikap insekur."
Seokjin sekali lagi terkejut, mendengar ucapan tegas Namjoon yang membuatnya meringis. "Lalu kenapa kalau aku insekur? Memang itu kekuranganku, yang selalu overthinking dan insekur. Aku memikirkan segalanya tentangmu hingga aku gila dan insekur sendiri. Dan itu membuatku berpikir, apakah aku memang gila di sini, memikirkan hal yang katamu sepele dengan berlebihan? Lalu, memang aku seperti ini, kan? Bukan artis tampan atau cantik, dengan hobi makan yang menjijikkan dan perut gendut. Aku di bawah standar, Joon. Kau mungkin benar-benar gila karena menyukaiku yang bukan siapa–"
"Berhenti menjelek-jelekkan dirimu sendiri!"
Seokjin terdiam menahan ucapannya mendengar Namjoon berucap dengan keras.
"Kau cantik dan sempurna, Jinseok. Kau yang kubutuhkan, bukan siapapun. Kau tak tahu?"
Namjoon melanjutkan. "Aku sudah gila karenamu, kau pun tahu. Aku melakukan segalanya untuk hubungan i–"
"Kau pikir aku tidak?"
"Dengar dulu," Namjoon berdesis. Ia menggenggam tangan Seokjin sepelan dan sehalus mungkin, takut tangan itu rusak jika Ia menyentuhnya dengan kasar sedikit. "Jinseok, kau hanya perlu percaya padaku dan yakin pada hubungan ini. Seperti katamu, publik tak seharusnya mengatur kita, publik tak seharusnya menghancurkan kita dan hubungan kita."
"Joon,"
"Aku ingin kau percaya padaku sepenuhnya, percaya bahwa hubungan ini bisa bertahan."
Namjoon menarik tubuh Seokjin untuk jatuh di dekapannya. Menghirup aroma rambut dan tubuh Seokjin dengan cepat, takut jika Ia tak bisa mencium bau menenangkan itu lagi. "Maaf, aku tahu aku salah. Aku mungkin memaksakan hubungan ini padamu, tapi kau perlu tahu sebesar apa keinginanku untuk bersamamu, Jinseok. Tidak seharusnya publik membuat kita bertengkar, tak seharusnya publik memisahkan kita. Dan jangan sekalipun berfikir jika kau gila, kau tidak. Kau pun begitu sempurna, dan hanya kau yang kubutuhkan untuk bertahan. Aku bisa gila karena kita tidak baik-baik saja, Jinseokku..."
Seokjin mengangguk tanpa sadar, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Namjoon yang hangat dan menghantarkan bau khas Namjoon yang dirindukannya.
"Kau tidak salah ataupun gila karena memikirkan seluruh masa depanku, aku berterimakasih kau memikirkannya dengan baik dan mengurusku. Dan kamu sangat berharga, untukku, untuk semuanya yang mengenalmu."
Namjoon mengakhiri ucapannya dengan melepaskan pelukan mereka, memegang bahu Seokjin dan mengukungnya dengan posesif. "Aku mencintaimu, kau tahu kan?"
Seokjin mengangguk, lalu memajukan tubuhnya mendekat dan mencium Namjoon. Betapa Ia mencintai lelaki yang kini menerima ciumannya dengan hangat dan pelan itu. Seokjin menangis, mengingat kembali betapa merindunya Ia memikirkan Namjoon, dan segala kebenaran ucapan Namjoon; bahwa publik tak seharusnya memperburuk hubungan mereka.
Ia tak mau menunggu Namjoon untuk melakukannya, tak menunggu Namjoon pula untuk memulai karena Ia lebih dulu mengekang wajah Namjoon dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisi wajah Namjoon, menariknya sehingga ciuman mereka semakin dalam. Entah setan macam apa yang merasuki diri Seokjin, lelaki itu segera maju dan naik ke pangkuan Namjoon, dengan lidah yang memaksa bermain di dalam mulutnya. Melupakan tangisan yang baru saja jatuh, melupakan pertengkaran mereka beberapa hari ini.
Mungkin ini yang dinamakan make up sex, melampiaskan kekesalan sekaligus kerinduan setelah bertengkar hebat.
Mereka terjatuh, dan Seokjin masih mencium Namjoon bahkan ketika lelaki itu gelagapan setelah terjatuh. Tangan Namjoon dengan sembrono menyangga pinggang Seokjin.
"Joon," Seokjin tak sengaja mendesah ketika Namjoon memakan habis bibirnya lalu turun ke lehernya, dengan tangannya yang nakal membelai perutnya dengan sensual.
Tepat ketika tangan Namjoon bergerak ke selangkangannya, Seokjin sadar.
Bahwa mereka ada di rumahnya, dan kedua orang tuanya bisa masuk ke kamarnya kapan saja!
"Ya tuhan, kau gila? Jangan lakukan, orang tuaku bisa membunuhmu."
Namjoon mendesis tak suka, Ia hampir tegang sepenuhnya sebelum Seokjin berbicara seperti tadi.
"Ayo, kuantar kau ke kamar tamu. Kau pasti lelah," Seokjin berdiri dan menarik tangan Namjoon, dan tarikan Namjoon sebagai balasan.
"Tak bisakah aku tidur bersamamu?" rengeknya.
Seokjin melotot. "Bisa mati kita berdua oleh noonaku."
"Kau punya noona?"
"Dua. Jadi membunuh bukan masalah besar bagi mereka berdua!"
Namjoon terkekeh, mana mungkin itu terjadi. Namun Ia ikut berdiri dan menurut ketika Seokjin menariknya ke kamar yang ada di ujung depan.
"Kau serius? Kita baru saja baikan setelah perang dingin beberapa hari, dan sekarang kau menyuruhku tidur sendiri sedangkan kau tidur di seberang ruang?"
Seokjin menahan matanya untuk tidak berputar kesal. Ia merasakannya lagi, bagaimana konfeti bayangan di perutnya meledak dan membuatnya geli dan senang sekaligus. Ia tak bisa menahan senyuman di wajahnya mendengar suara Namjoon yang kembali seperti beberapa hari lalu, bukan bentakan atau suara memohon.
"Tidak, aku serius saat bilang bahwa kakakku bisa membunuh kita berdua, Joon."
Namjoon mendecakkan lidah main-main, merajuk pura-pura. "Ya sudah, terserah mereka jika ingin membunuh kita, yang penting aku mati saat tidur denganmu, Jinseokku."
Seokjin melotot, "Kau gila huh? Mati saja sendiri aku masih sayang hidupku." Ia mengecup pipi Namjoon singkat lalu bergumam selamat tidur pada kekasihnya. Ya, kekasihnya yang dicintainya setengah mati.
-TBC-
Hehe, RnR sayangku?
So sorry bgt bgt bgt aku ga pinter nulis part berantem-beranteman, serius susah bgt nulis part ginian. Mending langsung tonjok-tonjokkan deh, aku bisa tuh nulis yang gituan hehe.
RnR sayangkuuuhhhh
ILY!
