Chapter 8
Dream Catcher
Lecca mendongakan wajahnya memandang langit diatasnya meski terbakar oleh kebencian entah kenapa dia merasa tenang di tempat ini, rasa tempat ini sudah tak asing bagi Lecca, langit biru yang cerah, tak berawan, padang rumput yang luas, harum lavender yang menguar.
Ia berdiri di balkon yang ada di kamar yang diberikan Hypnos untuknya, melamun, tenggelam dalam kebenciannya, saat ini membalas sakit hatinya adalah satu-satu cara untuk meredakan amarahnya, ia tidak mungkin menjalankan opsi kedua yang Hypnos yang bilang kalau dirinya lebih baik memaafkan Saga, untuk saat ini lebih mudah membencinya daripada memaafkannya. Pikir Lecca.
"Apa kau sudah tahu siapa yang akan kau ambil?" tanya seseorang di belakang Lecca, Lecca menoleh, ternyata Hypnos, ia tidak memakai clothnya lagi, hanya memakai baju seadanya. Kemeja dan celana panjang.
"Ya." jawab Lecca singkat
"Ada satu syarat yang harus kau ketahui Lecca, saat kau mengambil jiwa seseorang melalui mimpi kau harus bisa melukainya, membuat mimpi buruk untuknya, itu jika orang tersebut sedang tidur, kalau ia sedang terjaga satu-satunya cara adalah melukainya sampai kesadarannya hilang." jelas Hypnos.
"Menurut anda, cara apa yang harus kupilih?" tanya Lecca
"Semua tergantung keberanianmu untuk melukai orang yang akan kau ambil jiwanya." jawab Hypnos
"Apa Mereka akan mati kalau terluka"
Hypnos memandang Lecca dengan pandangan lembut. "Mimpi tidak akan menyakitimu Lecca, seburuk apapun mimpi itu. Saat kau mengambil jiwa mereka, mereka hanya akan terus tertidur."
Lecca terdiam, sebenarnya dia hanya ingin memastikan satu hal, satu hal yang mengganjal dihatinya: "Sungguhkah, Saga mencintainya?"
"Lalu siapa yang akan kau ambil?" tanya Hypnos lagi
"Dua Gold Saint, Aiolia-Leo dan Milo-Scorpio serta satu Silver Saint bernama Kanon." jawab Lecca mantap
"Kanon? Bukankah itu adik dari Gold Saint Gemini, Saga?"
"Benar ." jawab Lecca pelan.
"Kau ingin menanyakannya?"
"Apa itu salah yang mulia?"
"Tidak." balas Hypnos "Aku pernah bilang padamu, lakukan yang ingin kau lakukan. Lakukan hal yang menurutmu benar." imbuhnya, Hypnos berdiri di belakang Lecca, mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Lecca. mendekatkan bibirnya ke telinga Lecca.
"Kau bisa mengambilnya saat ini juga" bisiknya, lalu ia melepas pelukannya dan meninggalkan Lecca yang cukup kaget dengan perlakuannya tadi, dia di peluk oleh Hypnos, nafas Hypnos masih terasa di telinganya, membuat wajah Lecca memerah.
Sementara itu di Sanctuary
Istana Scorpio - Milo:
"Milo" panggil Camus, Milo langsung menoleh
"Angin apa yang membawa kau kemari Camus?"
"Aku hanya ingin memastikan kalau kau akan menemaniku besok."
Milo mengehela nafas, terlihat bosan.
"Apa kau tidak punya sesuatu selain buku yang bisa kau gemari" keluh Milo, diantara 12 gold saint kelihatan dia yang paling malas membaca buku, kalau buku itu tidak menarik menurutnya.
"Pengetahuan itu adalah jendela dunia, kau akan mengetahui semuanya kalau kau banyak membaca." balas camus tak mau kalah
"Pasti disana banyak banget bukunya, aku bisa pingsan melihat buku sebanyak itu."
Camus cemberut. "Jadi kau mau tidak!" tukas Camus
"Iya...iya...Aku mau, aku kan sudah janji, besok akan kuantar kesana, perpustakaan besar Sanctuary." Milo berkacak pinggang, dan menghela nafas lagi.
"Ah, Aku juga mau memberikan ini padamu." Camus mengeluarkan buku yang cukup tebal, dan melemparnya pada Milo, telak mengenai wajahnya.
"Kau ini! Apa ini!" Milo mengusap hidungnya yang berdenyut karena kena lemparan buku tebal itu.
"Itu kumpulan cerita horor, kau kan suka cerita seperti itu." kata Camus "Nah, selamat membaca, besok kalau kau telat akan kupaksa kau bangun dengan cara apapun!" lalu ia meninggalkan Milo yang pasang wajah cemberut.
"Padahal dia bisa pergi sendiri." gerutu Milo, dia membuka buku yang diberikan Camus. "Ini sih Aku sudah baca!" ujarnya melempar buku itu ke meja batu yang ada di aula istananya, ia menguap lebar dan berjalan menuju kamarnya, melepas gold clothnya.
"Milo..." suara kering dan dingin itu memanggil namanya. Milo langsung menoleh, ia mendengar suara itu seseorang memanggilnya, dan ia sangat mengenali suara itu, ia berjalan menuju pintu, dan membukanya menoleh kanan kiri, ia tidak melihat ada orang disana, Milopun memegang tengkuknya, yang tiba-tiba meremang, Milo menghela nafas dan menutup pintunya lalu naik ke tempat tidur. Tidurnya gelisah, ia terlentang kadang memiringkan badannya lalu terlentang lagi, matanya sudah sama sekali tidak bisa diajak kompromi tapi otaknya masih belum bisa beristirahat, Milo membuka matanya lagi, lalu terduduk lagi, bajunya kini basah oleh keringat, kenapa mendadak suasana di kamarnya ini lebih panas dari biasanya. Kemudian, ia merebahkan lagi tubuhnya, memandang langit-langit, kenapa malam ini otaknya hanya teringat pada Lecca.
Ia memikirkan Lecca yang sekarang ada di Black Azzure, mendengar nama tempat itu saja dadanya terasa sakit, Milo memejamkan matanya Lecca pasti akan sangat menderita disana, tapi yang ia tahu Athena juga tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Lecca, karena tidak mau memicu perang dengan Hades. Peraturan yang dibuat diantara para Olympian memang keras, melanggar sedikit saja bisa memicu perang.
"Kalau aku jadi Lecca, aku pasti sangat membenci Athena dan Saga." pikir Milo, tapi ia segera membuang pikiran itu, Lecca tidak mungkin seperti itu...tidak hal itu mungkin saja terjadi, sebab ia hanya manusia biasa. Milo menguap lebar dan memejamkan matanya. Terlelap.
Istana Leo – Aiolia:
Malam itu, Aiolia berada di halaman istananya, memandang kebawah, ke istana Gemini yang terlihat dari istananya, langit tampaknya sedang bersedih, warnanya ungu kemerahan, tidak ada bintang bahkan bulan tertutup awan tebal, tidak mengintip satu senti pun
"Aiolia, kau belum tidur juga?" Aiolia menoleh ke belakang mendengar suara itu
"Kakak, ada apa kau sampai turun kemari?" tanya Aiolia
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau berdiri disitu dengan tampang seserius itu?" balas Aiolos.
"Tidak...tidak ada apa-apa kakak." ia mengalihkan pandangannya ke istana Gemini lagi, Aiolos pun mendekatinya dan berdiri di samping Aiolia.
"Dia masih terus berdoa." ucap Aiolia pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Maksudmu Saga?"
"Ya, dia...padahal dia tahu itu percuma." kata Aiolia, terlihat sedih.
Aiolos tidak mengomentari kata-kata Aiolia, ia hanya memandang istana Gemini, dan sayup-sayup terdengar doa yang terdengar sangat sedih.
"Sebaiknya kau tidur sekarang, kau sudah janji akan melatih saint baru itu besok, kau tidak boleh telat, kita akan pagi-pagi sekali melatih mereka." kata Aiolos menepuk bahu Aiolia.
"Bukankah besok latihan gabungan bersama Saga dan Kanon juga."
Aiolos mengangguk. "Kanon nampaknya sama seperti Saga." ucap Aiolos sambil tertawa, "kemarin ada yang sampai pingsan dan hampir menangis"
Aiolia tertawa mendengar itu. "Tidak heran, mungkin saja itu balas dendam karena dulu Saga melatihnya sangat keras." katanya.
"Baiklah, aku kembali besok akan kujemput kau, tempat latihannya di coloseum."
Aiolia tersenyum dan mengangguk, lalu Aiolos meninggalkan adiknya, yang masih berdiri di tempatnya.
Aiolia masih memandang istana Gemini, ingatannya terbang pada waktu Saga mengetahui kalau Lecca dikirim ke Black Azzure, setelah kematiannya.
Ya, Aiolia ingat sekali malam itu sama seperti malam ini, langit menampakkan kesedihannya, Aiolia berkunjung ke istana Gemini dia tidak menemui Saga di aula istana, dikamar, di ruang baca, tapi ia menemui Saga ada di depan altar sembahyang, ia berlutut tangannya tertangkup, dan dari mulutnya mengalun doa, doa itu terdengar sangat menyedihkan, membuat pendengarnya terenyuh.
"Saga." tegur Aiolia, Saga mengehentikan doanya, dan tertunduk, kedua tangannya tidak lagi tertangkup tapi dia mengepal, bergetar begitu hebat.
"Ja, jangan suruh aku berhenti!" ucapnya.
"Kau tahu ini semua percuma, karena kau tahu dimana dia sekarang..."
"Aku tahu!" seru Saga. "Aku tahu!...Aku tahu! Aku tahu!" teriaknya berkali-kali, sambil meninju lantai batu sampai tangannya berdarah.
"Tapi aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, cuma ini yang dapat aku lakukan! Berdoa, doa yang bahkan tidak bisa menolongnya!" Saga menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Aiolia terdiam, ia mendekati Saga dan berjongkok di sampingnya, meremas pundak Saga, ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata-kata penghibur atau penenang untuk Saga, ia hanya memandang Saga, yang menangis seperti anak kecil, seorang saint yang terkenal tegas, kaku, dan paling killer se-Sanctuary, bisa menangis seperti ini, hanya karena cinta. Terlihat memalukan memang tapi semua bisa terjadi kalau itu menyangkut hati dan perasaanmu.
"Ka...Kalau bisa...Aku...Aku saja yang berada disana!" ucap Saga terbata-bata
Kenangan itu pun selesai, untuk yang terakhir kalinya Aiolia memandang istana Gemini, menghela nafas dia masuk ke istananya.
Istana Gemini – Kanon:
Malam itu selesai mandi, Kanon menemui kakaknya, masih berdoa, sudah cukup lama Dia seperti itu, tepatnya sejak ia mengetahui kalau gadis yang dicintainya, harus menanggung semua hukuman di neraka paling kejam yang ada di underworld.
"Hentikan tindakan percumamu itu." kata Kanon, dia duduk di kursi batu yang ada di dekat altar sembahyang itu, handuk menutupi kepalanya yang basah.
Saga tidak mempedulikan kata-kata Kanon, ia hanya berhenti sejenak dan menghela nafas dan melanjutkan doanya lagi.
"Kau hanya membuang waktu kalau kau terus berlutut disitu" kata Kanon lagi
Saga pun mau tak mau tersentil dengan kalimat Kanon tersebut, sebenarnya bukan kali ini saja ia di cela habis-habisan oleh adiknya ini sudah ratusan kali Kanon berkata pedas seperti itu, kali ini telinganya mulai panas juga. ia pun bangkit.
"Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" tanya Saga
"Tidak ada." jawabnya Kanon, Saga mengerutkan keningnya terlihat sebal.
"Karena aku, adalah saint Athena." lanjut Kanon, membuat Saga tertampar dengan kalimat Kanon.
"Saint Athena yang terikat oleh peraturan, saint Athena yang tidak bisa membuang kesetiannya pada Athena, saint Athena yang akan selalu patuh pada sang dewi, saint Athena yang tidak akan menyisihkan Athena hanya karena cinta dan perasaannya." kata Kanon memandang Saga.
"Lalu apa aku harus menerobos underworld dan membawa lari dia dari sana?!"
"Mungkin memang itu satu-satunya cara yang harus kau lakukan."
Saga terdiam dan tidak menjawab lagi, baginya semuanya buntu cara yang ada hanya akan menjadikannya pengkhianat, dan dapat menyebabkan perang antara Hades dan Athena.
Kanon meregangkan tangannya tinggi-tinggi dan meluruskan tubuhnya, menggeliat lalu menguap.
"Sudahlah, pembicaraannya ini tidak akan selesai, berhentilah merasa bersalah dan melakukan hal yang sekarang kau lakukan karena semuanya percuma. Black Azzure terlalu dalam untuk dicapai hanya dengan doamu Saga." Kanon menguap lagi dan mengucek matanyanya yang berair.
"Kita masih punya tugas besok, sebaiknya kau istirahat." Kanon berbalik meninggalkan Saga.
"Tunggu..." kata Saga, Kanon pun menghentikan langkahnya
"Kalau saja kau diberi kesempatan bertemu dengan Lecca, apa yang akan kau katakan, jika kau jadi aku"? kata Saga
Kanon terdiam sejenak, ia menyunggingkan bibirnya.
"Aku akan berkata, maaf...maaf karena Aku adalah saint Athena." balas Kanon
"Kau pikir semua itu bisa ia terima?"
"Tidak...mungkin dia tidak akan memaafkan begitu saja..." Kanon terdiam lagi, ia membalikkan badannya. "Tapi Saga, benci dan cinta itu hanya di batasi oleh lapisan yang sangat tipis, perasaan yang datang berdampingan, sangat menyedihkan. Dia akan hancur jika ia tidak segera menyadari perasaannya sendiri." kali ini Kanon benar-benar meninggalkan Saga yang terdiam membisu, menuju kamarnya.
Kanon merebahkan dirinya di tempat tidurnya, tak lama ia pun jatuh pada mimpi yang dalam.
Dream Realm pada saat yang bersamaan.
Lecca sekarang sudah berdiri di depan tiga pintu tak berdaun, Hypnos telah membukakan jalan untuk Lecca menuju mimpi Aiolia, Milo dan Kanon, Lecca tak bicara ia membisu memandangi ketiga pintu itu.
"Pilihlah salah satu." kata Hypnos, Lecca memandang Hypnos, ia heran kenapa ia harus memilih salah satu bukankah harus dia yang menyelesaikan semuanya.
Hypnos balas memandang Lecca, lalu ia tersenyum dan menepukkan tangannya dua kali, dalam sekejap mata munculah dua orang laki-laki, yang satu berambut ungu dengan mata biru cemerlang seperti langit, dan yang satu lagi laki-laki berambut hitam panjang, dan bermata hijau sehijau daun, wajahnya sangat cantik meskipun dia itu laki-laki.
"Morpheus."
"Ya paduka." balas pria bermata biru
"Oneiros."
"Siap paduka." jawab pria cantik itu, meskipun cia cantik tapi Lecca bisa merasakan dia tidaklah lembut seperti wajah polosnya. Senyumnya yang dingin menyiratkan betapa kejamnya dia.
"Dengar...Oneiros, kau urus Aiolia dan kau Morpheus kau urus Milo, ambil mereka, aku sudah menyiapkan tempat untuk mereka, jadi setelah kalian berhasil mengambilnya letakkan mereka di tempat yang sudah aku sediakan, dan satu lagi," Hypnos memegang bahu Lecca "Selama dalam mimpi ketiga orang itu perintahnya adalah mutlak bagi kalian jangan sekali-kali membantahnya" tegasnya
Morpheus dan Oneiros berlutut "Baik paduka!" kata mereka bersamaan. Lalu mereka memasuki pintu yang ada di sebelah kiri dan kanan.
"Nah, Lecca sekarang giliranmu." Hypnos mendorong Lecca mendekat ke pintu yang tersisa. "Inilah saatnya." pikir Lecca. Dia mengehela nafas panjang dan melangkah memasuki pintu tak berdaun itu.
Milo dream:
Milo memandang ke sekelilingnya dia bukan ada di Sanctuary, tidak sedang berada di kamarnya, dia berdiri di depan sebuah bangunan tua, dia mendongak memandangi bangunan di depannya, sepertinya ia mengenali bangunan ini, dia pun menoleh ke belakang, dia melebarkan matanya di belakangnya adalah areal pemakaman yang luas, pohon-pohon tinggi mengelilingi pemakaman itu, seperti penjaga yang sedang menjaga pemakaman itu.
Mereka terlihat sedikit menyeramkan. Suasananya sangat sunyi, sepertinya ada seseuatu bersembunyi sedang menahan nafasnya dan memeperhatikan Milo
KRIEEEET!, Milo spontan menoleh begitu mendengar suara deritan itu, pintu bangunan itu terbuka seperti mengundang Milo masuk ke dalamnya. Tanpa pikir panjang di dorong rasa ingin tahunya Milo memasukinya, Milo langsung disambut ruangan besar dengan langit-langit tinggi bangku-bangku panjang mengapit karpet merah darah yang mengarah ke sebuah altar batu, tiga kandelar besar menggantung rendah menerangi karpet merah itu, ratusan lilin bertingkat ada di belakang altar batu, Milo menyipit, ada sebuh peti mati di letakkan di atas altar batu, Milo pun mendekati peti mati itu, dan bukan main ia terkejutnya di dalam peti mati itu terbaring Lecca, Milo mengucek matanya seakan tak mempercayai matanya sendiri, ia mencengkeram pinggiran peti mati itu, Lecca dengn wajah yang sangat tenang, terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna lembayung tangannya terlipat di atas dadanya, tanpa sadar mata Milo terasa panas, ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh pipi Lecca tapi tiba-tiba Lecca membuka matanya, Milo terlonjak tangan Lecca mencengkeram tangannya erat, mata Lecca melotot melihat Milo, penuh dengan kebencian.
"Le...Lecca!" seru Milo ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Lecca, tapi Lecca memegangnya erat sekali.
"Kenapa kau tidak menyelamatkanku!" bentak Lecca
"Bukan..."
"Aku tak ingin dengar alasanmu, kenapa hanya aku yang harus mati! Kenapa hanya aku yang harus berkorban! Aku benci...benci kalian!" tangan Lecca yang satu memegang leher Milo dan mencekiknya.
"Demi Athena, Lecca ini bukan dirimu!"
"Jangan sebut nama itu lagi!" cekikan Lecca makin mengeras, Milo mencoba menarik tangan Lecca dari lehernya, tapi tidak bisa tenaganya kuat sekali, Milo yakin ini bukan Lecca, ini orang lain yang menyamar jadi Lecca. Milo memberontak, kakinya terangkat beberapa senti dari lantai, kesadaran Milo semakin menjauh, mulutnya mulai mengeluarkan darah, dan nafasnya tersengal-sengal, cekikan Lecca makin menyakitkan.
"Apakah aku akan mati disini?" pikir Milo, di tengah pandangannya yang kabur ia melihat sosok Lecca berubah menjadi laki-laki bermata biru cemerlang.
"Si..siapa kau?" ucap Milo terrputus-putus
"Tidak perlu tahu." balas laki-laki itu, ia mempererat cekikannya lagi.
"Hentikan!" teriak seseorang suara itu berasal dari pintu masuk. Cekikan laki-laki itu mengendur, Milo seperti mendapat nafas kehidupan baru lagi.
"Jangan sampai dia mati." kata suara itu, aneh Milo merasa suara ini sangat Milo kenal, ia tak asing dengan suara itu, tidak...tidak mungkin itu dirinya, pikir Milo ini pasti hanya ilusi mimipinya, terdengar langkah kaki mendekati Milo.
"Lepaskan dia, Morpheus." perintah suara itu, Morpheus pun melepaskan Milo dengan segera, Milo pun jatuh berdebam ke lantai batu yang keras dan dingin, nafasnya tinggal setengah, Morpheus membalikkan Milo dengan kakinya.
"Huh! Padahal lagi asyik-asyiknya." gerutu Morpheus sambil menginjak dada Milo
"Jangan protes, cepat bawa dia ketempat yang sudah di tentukan." perintah suara itu lagi. Morpheus mengerucutkan bibirnya, sepertinya dia tidak senang orang yang memerintahnya menghentikan kesenangannya. Ia pun mengangkat Milo dan menyampirkan di bahunya, seperti menyampirkan bangkai binatang. Dengan sisa tenaga terakhir Milo mengangkat wajahnya mencoba melihat siapa yang berdiri di depan Morpheus, walau pandangannya buram Milo mengenal sosok itu, wajah itu.
"Tidak mungkin!" ucapnya lalu Milopun pingsan.
Aiolia Dream:
Sebuah tamparan di pipi Aiolia membuka matanya dengan segera di depannya sudah berdiri seorang pria berwajah cantik rambutnya hitam terurai dan matanya berwarna hijau daun warna hijau yang pekat, dalam dan dingin.
"Halo" sapanya datar, ia memegang sebuah cambuk di tangannya
"Siapa kau!?" tanya Aiolia, ia tak bisa bergerak tangan dan kakinya di rantai, rantai itu muncul dari dalam tanah.
"Aku?...Aku adalah mimpi burukmu." jawab pria itu
Aiolia memandang ke sekitarnya, dia bisa melihat lapangan luas tak berujung tiang-tiang pancang berisi manusia yang tangannya terbelenggu rantai menyala seperti api, samar Aiolia bisa mendengar teriak kesakitan yang meremangkan bulu kuduknya, dia menoleh dibelakangnya ada sebuah bangunan seperti benteng pertahanan, Aiolia mendengar suara pecutan cambuk dan dari jendela tak berkaca benteng tersebut, keluar api hitam bergulung-gulung. Dia mendongak memandang langit, langit itu berwarna merah yang begitu rendah seakan mau jatuh menimpanya.
"Tempat apa ini?" tanya Aiolia lagi.
"Pelataran Black Azzure." balas pria itu mata terlihat begitu kejam.
Aiolia terbelalak tak percaya mendengar jawaban pria yang ada di depannya.
Dia berjalan mendekati Aiolia, lalu DUAK! ia menonjok aiolia, lalu BUG! kaki pria itu mendarat di perut Aiolia, rasa nyeri menjalari tubuh Aiolia, ia meringis kesakitan.
"Aku akan memberikan siksaan sesuai dengan dosa yang telah kau perbuat Aiolia." Kata pria itu.
Sekali lagi pria itu menendang kali ini wajah Aiolia yang kena sasarannya, dagunya berdenyut ketika pria itu menendang wajah Aiolia.
"Sakit tidak?" tanya pria itu lagi
Aiolia meludah darah,"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Aiolia bertanya balik
BUAKKK! Satu jotosan mendarat di hidung Aiolia, hidung Aiolia berdarah di buatnya.
"Jawab saja! Menjeritlah seperti pendosa lain!" ujar pria itu
"Kau terus menyebutku pendosa jangan sok tau memang apa yang telah kuperbuat?!tukas Aiolia
Pria itu mendelik mendengar perkataan Aiolia, Ia mengurai cambuknya, dan mengayunkannya ke arah Aiolia. cambuk itu mengenai tubuh Aiolia berkali-kali, kulitnya terasa seperti terbakar, rasanya seperti tersayat pisau panas.
"Kau pembunuh manusia tak berdosa, Aiolia kau sudah membunuh seorang gadis yang bahkan telah menyelamatkanmu!" kata pria itu.
"Membu…" belum Aiolia menyelesaikan kalimatnya, pria berambut hitam itu menjentikkan jarinya kawat hitam muncul dari tanah dan menembus kedua bahu Aiolia, kawat itu melengkung, dan menarik daging Aiolia, Aiolia menjerit keras.
"Kau tahu sekarang bagaimana rasanya!" seru pria itu
Nafas Aiolia tersengal-sengal.
"Ga...gadis itu..."
Pria itu menyunggingkan bibirnya, "Kau pasti tahu siapa dia."
Mata Aiolia melebar, dia mengetahui siapa wanita yang dimaksudnya, pria itu kembali mencambuk Aiolia tanpa ampun.
"Dan kau tahu apa yang diterima dia dari kematiannya itu?"
Aiolia memejamkam matanya ia meresapi setiap kata-kata yang diucapkan penyiksanya dan rasa sakit yag menderanya dadanya terasa sesak memikirkan kalau semua pukulan dan cambuk yang diterimanya hanya secuil rasa sakitnya dibandingkan siksa yang di terima 'nya'.
"Kau tahu apa yang dia dapatkan itu sudah membangkitkan sesuatu yang bernama kebencian" pria itu mengayunkan cambuknya sekali lagi cambuk itu melilit leher Aiolia dan mencekiknya, ia menarik cambuknya lebih erat lagi membuat Aiolia megap-megap seperti ikan kehabisan udara.
"Oneiros" seseorang menepuk laki-laki itu, dia seorang wanita, separuh wajahnya tertutup syal yang menutupi melilit di lehernya. Oneiros mengendurkan tarikan cambuknya.
"Kau." kata oneiros datar
"Cukup. Hentikan."
"Dia belum pingsan, kau tahu syaratnya bukan."
"Ya aku tahu itu, tapi dia bisa benar-benar mati kalau kau terus mencekiknya." balas wanita itu. Aiolia mencoba menajamkan telinganya, dia mengenal suara itu meski tertutup syal dan tidak begitu jelas, keterkejutan terlihat di wajah Aiolia ketika melihat orang berdiri di samping Oneiros, pandangannya buram tapi sepertinya ia mengenal postur tubuh dari orang itu. Orang itu memandang Aiolia dengan pandangan penuh kebencian, lalu ia menurunkan syal yang menutupi wajahnya.
Aiolia membelalakan matanya. "Lecca!" serunya keras
Lecca menyunggingkan bibirnya tertawa mengejek
"Kau benar, Oneiros dia belum memenuhi syarat yang ditentukan, selesaikan. Setelah itu bawa dia ketempat itu." katanya dingin.
Lecca pun berbalik.
"Tunggu Lecca! Jelaskan padaku!" teriak Aiolia putus asa, Lecca tidak mempedulikannya dia terus berlalu.
Oneiros tersenyum puas. "Nah, Aiolia kau dan aku masih punya waktu beberapa saat lagi." katanya.
Kanon dream:
Kanon enggan membuka matanya rasa kantuk mengganggu dirinya, wangi lavender yang menyelimutinya dan rasa nyaman dan hangat membuatnya rileks. Apa ini? sesuatu tajam menusuk pipinya.
Kanon langsung membuka matanya ia terduduk, terlihat linglung dan memandang ke sekitarnya, tidak ia bukan di kamarnya tapi dia ada di padang lavender yang sangat luas. Kanonpun membalikkan badannya dan terbelalak dibelakangnya ada sebuah batu nisan, Kanon bangkit dari duduknya dan mendekati batu nisan itu, dia berjongkok di depannya, nama di batu nisan itu sedikit tertutup debu, dengan tangannya kanon membersihkan debu yang menghalangi nama si pemilik nisan tersebut, bukan main terkejutnya begitu dia mengetahui nama yang terukir dibatu itu : Lecca Redwood.
Sesuatu jatuh di atas batu nisan itu Kanon menmungutnya.
"Bunga sakura?" gumamnya, melihat kelopak berwana merah muda yang ada ditangannya.
Kanon mendongak, ranting pohon sakura terlihat sangat rindang, seakan memayungi apa yang ada dibawahnya. Pandangan Kanon kembali pada nisan berukirkan nama Lecca.
"Aku seharusnya sudah mati. Atau banyak orang bilang aku pergi ke tempat yang lebih baik." Kanon terlonjak dan spontan menoleh ke belakang, dia berdiri dengan tergesa memundurkan langkahnya dan membelalakan matanya.
Lecca terlihat kumal dan kotor, baju yang dipakainya compang camping sobek dan gosong disana-sini, seakan-akan Lecca baru saja lolos dari kebakaran hebat, wajahnya yang bersih kini menghitam seperti terpoles jelaga, mata Kanon tertuju pada kedua bahu Lecca, cetakan darah yang mengering terlihat jelas di kedua bahunya. Pandangannya beralih ke kedua tangan dan kaki gadis yang ada di depannya, kedua tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai
Lecca mengangkat kedua tangannya dan berkata."Tapi kau tahu dimana aku berada sekarang. Dan itu bukanlah tempat yang lebih baik untukku, Kanon."
Kanon hanya terpaku di tempatnya berdiri, lidahnya kelu untuk berbicara, dia tak pernah membayangkan seperti apa Lecca di dalam neraka bernama Black Azzure itu, tapi sekarang di depan matanya Lecca berdiri dalam keadaan yang membuat Kanon menahan nafasnya.
"Tolong aku Kanon." Ucap Lecca lirih. "Aku mohon keluarkan aku dari Balck Azzure"
Kanon tercekat. Meskipun dia sudah seringkali mengatakan pada Saga apa yang akan dia katakan jika suatu hari nanti dia akan bertemu dengan Lecca, tetapi begitu saat itu tiba seperti sekarang ini, kata-kata itu seakan tersangkut di tenggorokannya. Tak bisa diucapkannya. Kanon mengulurkan tangannya setengah dirinya percaya kalau ini tidak nyata, dia meraih tangan Lecca dan merik Lecca dalam pelukannya. Kanon bisa merasakan tubuh Lecca, kehangatannya, meski dia terasa begitu rapuh, tapi Kanon bisa menyentuhnya. Saat memeluk Lecca tanpa sadar airmatanya mengalir begitu saja.
Saga, aku mengerti sekarang kenapa kau terlihat begitu lemah, kata Kanon dalam hati.
"Maafkan aku Lecca" kata Kanon berulang-ulang tanpa melepas pelukannya.
"Kenapa kau terus berkata demikian Kanon? Apa yang harus kumaafkan darimu?" Tanya Lecca.
"Maaf karena aku tidak bisa…" Kata-kata Kanon menghilang begitu saja ia tak bisa meneruskannya. Tidak bisa.
"Kenapa?" Tanya Lecca lagi.
"Athena akan berada dalam kesulitan jika aku melakukannya, Lecca." pelukan Kanon semakin erat. "Aku tak meminta kau untuk memaafkan kepengecutanku ini tetapi, aku harap kau mengerti kenapa aku tidak bisa"
Lecca terdiam dalam pelukan Kanon, dia sudah mendapatkan jawabannya. Dia memang tak pernah menjadi nomor satu di hati para saint Athena, terutama Saga. Lecca tahu jawaban yang sama juga akan keluar dari mulut Saint Gemini itu. Peraturan yang tidak akan bisa dia patahkan, peraturan yang akan membuatnya tak bisa mengkhianatinya. Dada Lecca dipenuhi oleh kebencian meski demikian sangat kental dengan kesedihan.
"Ya, Athena selalu berada dalam kesulitan besar. Bahkan untuk saat ini…."
Kanon membelalakan matanya, rasa sakit menghujam dadanya, pelukannya terlepas, sebuah belati tertancap persis di tengah dadanya, Lecca memegang gagang belati itu dengan mantap, lalu mendorong tubuh Kanon sampai punggungnya terbentur pohon sakura yang ada di belakangnya.
Kanon meringis menahan sakit. "Leeca…!"
"Karena aku akan membunuh satu persatu prajurit Athena, dimulai dari kau, Kanon!" Lecca menancapkan lebih dalam belati itu ke tubuh Kanon, membuat Kanon mengerang kesakitan. Kanon menatap Lecca, meski hanya kebencian yang terlukis daimata gadis itu tetapi, Kanon bisa lihat mata Lecca berkaca-kaca, sarat dengan kesedihan. Kanon memahami semuanya. Tangan Kanon terangkat memegang tangan Lecca yang memegang belati. "Aku, menerimanya Lecca, kalau kematianku ini bisa menghapus semua kebencian yang ada dalam dirinu, aku menerimanya." Kanon menarik tangan Lecca hingga seluruh bagian belati itu sempurna terbenam di dadanya. Darah meleleh membasahi baju Kanon.
"Kau pikir semua cukup hanya dengan kematianmu Kanon? Tidak, kau hanya awal dari segalanya." Kata Lecca.
Diakhir sebelum Kanon kehilangan kesadaran Kanon melihat wajah Lecca yang sedih.
Kepala Kanon terkulai, kedua tangannya menggantung lemas disamping tubuhnya.
"Kau boleh berlega hati Kanon, karena ini adalah mimpi." Belati di tangan Lecca berpendar dan hancur menjadi kelopak bunga. Kanonpun jatuh berdebam ke tanah.
"Kau membunuhnya nona Lecca." Kata seseorang dibelakang Lecca, spontan Lecca menoleh. Di belakanganya berdiri Oneiros dan Morpheus yang membawa Aiolia dan Milo dibahu mereka.
"Jangan bikin aku ketawa, tidak ada satupun disini adalah nyata, ini adalah dunia mimpi, dunia yang tidak akan menyakitimu sekalipun terlihat sangat buruk. Ini hanyalah mimpi." Ucap Lecca dia memandang tubuh Kanon yang tergeletak, menghela nafas dan memejamkan matanya. "Bawa dia di tempat yang sudah ditentukan." Lecca berjalan melewati Oneiros dan Morpheus tanpa bicara lagi.
Oneiros memandangi Lecca sampai dia menghilang dari pandangan. "Kebencian sudah melahirkan hal yang mengerikan dalam dirinya, Morpheus. Sesuatu bernama dendam, dia tidak bisa dihentikan."
Morpheus mendengus, dia berjongkok dan menggendong Kanon dengan satu tangannya. "Tidak Oneiros, kebencian dan dendam itu belum benar-benar menenggelamkannya dalam kegelapan, Yang Mulia Hypnos akan membuatnya tetap dalam cahaya." Balas Morpheus, Oneiros menatap saudaranya heran.
"Kau ini memang tak pernah peka" kata Morpheus setengah tertawa.
"Kau aneh! Cepat kita harus membawa mereka semua ke Dream Cube" ujar Oneiros sebal.
Di luar, Hypnos masih menunggu Lecca, ia mendapat gadis itu keluar dari pintu milik Kanon, Lecca memandang Hypnos, dia tak tahu harus berbuat apa, kini dalam hatinya perasaan bercampur aduk. Dia tak ingin membicarakannya, Leccapun tertunduk dan melewati Hypnos tanpa bicara, tetapi Hypnos menangkap tangannya dan menariknya dalam pelukannya.
"Apakah jawaban yang kau dapatkan terasa sangat menyakitkan Lecca?" Tanya Hypnos.
Lecca tak menjawabnya, dia mengepalkan tangannya erat-erat sampai buku jarinya memutih, dia menekan semua perasaan yang begitu meluap-luap ini, tubuhnyapun merosot dalam pelukan Hypnos.
Lecca dan Hypnos terduduk dilantai, Hypnos tak melepaskan pelukannya, seakan kalau dia melepaskannya Lecca bakal hancur berkeping-keping saat itu juga. Dan dalam rengkuhannya itu, Hypnos bisa mendengar tangisan yang begitu memilukan.
