Cerita milik saya, BTS milik agensi and A.R.M.Y.

Main cast:

Park Jimin (18th)

Kim Taehyung (18th)

Jeon Jungkook (17th)

Cast:

All of member BTS

Kwon Ji Young (GD) a.k.a Jimin's daddy

Jeon In Sung (OC) a.k.a Jungkook'daddy

Park Ji Won (OC) a.k.a Jimin's mommy

Beberapa cast pendukung

HAPPY READING AND ENJOY,,,

Jusseoo...!

"Kau belum berangkat, Jungkook-ah,,?!"tanya pria itu yang masih mengenakan piyama juga rambut yang berantakkan. Penampakkan khas orang baru melek dari tidurnya. Berdiri seperti tengah mengumpulkan nyawa di sisi Jungkook yang sedang sibuk dengan kegiatan mengikat tali sepatunya,

Ayah Jungkook itu sengaja menatap matahari pagi untuk mendapatkan sinar yang bisa menyehatkan tubuhnya yang mulai menua.

Bahkan di usianya yang sudah empat puluh tahunan, pria bermarga Jeon itu masih terlihat tegap dan tegas, juga wajahnya yang telihat segar nan tampan, meski kerut di dahinya tidak bisa di elakkan , bayangkan saja lah Jungkook di masa tuanya. Karena ayah dan anak itu mirip sekali. Mungkin perangai mereka yang tidak. Ayahnya lebih konyol, sementara Jungkook begitu dingin dan acuh.

Pemuda itu menoleh sekilas dengan ekspresi datar karena mendapati ayahnya tersenyum begitu lebar, begitulah penampakkan bodoh si pria paruh hampir baya itu yang di takdirkan menjadi ayahnya.

Jungkook kembali lagi pada kegiatan mengikat tali sepatu.

"Tumben Papi baru bangun, tidak ke kantor,,?"tanya Jungkook basa-basi, juga nadanya sangat monoton.

"Tidak hari ini. Papi huaaaa. . . . Lelah sekali,,"jawab ayahnya itu yang melakukan gerakan peregangan otot pinggang sedikit. Jungkook hanya manggut-manggut menanggapinya, kini dia sudah selesai dan berdiri menghadap sang ayah.

"Baiklah, aku berangkat,,"pamitnya,

"Mana hyungmu,,?"tanya si ayah tiba-tiba.

Jungkook agak merengut mendengar pertanyaan itu, karena jadi ingat kepergian Jimin tadi, bersama, , , .

"Dia sudah berangkat dengan temannya."jawabnya singkat.

"Pagi sekali hyungmu berangkat,,"gumam pria itu, terdengar oleh Jungkook,

"Di sekolah ada acara. Entahlah, Jimin hyung akan sibuk hari ini,,"jawab pemuda itu lagi, namun terdengar sedikit menggerutu. Ayahnya malah tersenyum,, karena terbaca sekali ekspresi Jungkook.

"Ehem,! Sepertinya sudah mulai akrab,,"singgung pria itu secara halus, membuat Jungkook tidak bergeming.

Hening,

"Aku berangkat,,!"pamitnya untuk yang kedua,

"Tidak di antar,,?"lagi-lagi si ayah tidak membiarkannya langsung beranjak dari sana, dan entah kenapa pula Jungkook belum pula melangkah pergi,

Bukannya menjawab, pemuda itu malah memasang eksprei 'MEH' nya.

"Aigoo. . . Memangnya kakimu tidak pegal,, Jarak ke sekolah agak jauh,,"ucap ayahnya terdengar khawatir. Membuat Jungkook agak senang dalam hati, karena itu terdengar seperti pertama kali dalam hidup, namun tetap saja dia yang ingin tersenyum menyembunyikan baik-baik di balik wajah datar dan dinginnya. Hanya bibir yang terseungging tipis,, sangat tipis.

Ngomong-ngomong soal kakinya yang pegal, Jungkook hanya berjalan sampai halte bus saja, seperti itu selama ini,, dan ayahnya itu, tidak pernah tahu. Terlalu sibuk.

Lagipula kalau naik bus, dia tidak harus berhenti di sekolah, pikirnya. Hey,, ingat,, Jungkook dulu sering membolos,, tapi tidak lagi untuk sekarang.

Ahh,, pemuda itu ingat satu hal,

"Pi,,?!"panggilnya pada sang ayah,,, dan langsung di tanggapi,

"Humh,,?"

"Aku minta di belikan motor,,!", Jungkook berucap tanpa beban,

Ayahnya itu hampir tersedak ludah sendiri mendengar permintaan tiba-tiba Jungkook,

"Memangnya kau bisa naik motor,,?"tanyanya dengan raut masih heran,

Jungkook kembali pada raut malasnya. Ayahnya itu memang sungguh tidak memperhatikan dia selama ini. Haruskah Jungkook mengatakan bahwa dia sering mengikuti balapan liar,,? Konyol.

Dia memandang ayahnya kesal, juga matanya yang sedikit lebar jadi agak tajam, membuat pria itu meringis canggung. Jungkook tidak biasanya seperti itu,

"Papi mau belikan atau tidak,,?!"tanya Jungkook sedikit keras suaranya, menyadarkan sang ayah yang sempat melamun. Dia benar-benar kaget dan tidak percaya. Karena sudah lama sekali, , , putranya itu, meminta dengan gaya sedikit memaksa. Kini mengingatkan dia dengan masa kecil Jungkook. Pria itu lalu tersenyum memandang putranya. Selama ini dia sadar sangat sibuk dan tidak banyak waktu bersama malaikat yang menjadi anugrah dari sang istri itu, merasa bersalah dan menyesal sesungguhnya, namun tetap saja dia memiliki alasan untuk itu dan saat itu dia berpikir dengan memberikan Jungkook barang-barang yang mungkin bisa memanjakan putranya itu, sudah cukup.

Bohong, jika si ayah tidak tahu sama sekali tentang Jungkook, , dia selalu mengawasi, tidak secara langsung dan sepenuhnya memang,, berkat itu Jungkook tidak berjalan terlalu jauh dalam kebodohannya. Kini dia melihat Jungkook yang mulai kembali jadi putra manjanya seperti dulu,, bersikeras meminta, pria itu jadi senang.

"Oke, Kookie,,!"ucap ayahnya seketika lengkap dengan senyum lebar lagi. Jungkook tertegun saat mendengarnya. Entahlah, tak ingin menanggapi. Dia merasa sungguh senang. Kapan terakhir kali pria yang memiliki darah sama dengannya itu memanggil dia dengan sebutan itu, Jungkook sangat merindukannya. Baiklah, sekarang semuanya memang sudah lebih baik, dan Jungkook sudah janji akan memperbaiki diri untuk melengkapi keutuhan itu.

"Aku berangkat..!"pamitnya untuk yang ketiga kali dan kini langsung beranjak pergi

Pria itu masih setia tersenyum menatap putranya. Sementara yang ditatap semakin berjalan jauh, di balik punggung dan wajahnya yang membelakangi, dia tersenyum begitu senang. Mungkin setelah yakin tidak ada yang mengawasinya lagi, Jungkook akan melompat kegirangan,

.

.

.

Pemuda itu mendengus kesal entah pada apa dan siapa. Sempat mengacak rambutnya,, lalu kembali menatap cermin. Diam sejenak mendapati wajahnya sendiri, yang terlihat. . . . entahlah. Dia memang tampan,, namun ekspresinya kini jadi kecut,

Menarik napas panjang,, dan bersiap pada klimaksnya,,

". . . . Dan aku ingin menjadi satu-satunya yang ada di setiap kau membuka mata. . . Karena, , , , aku Mencintaimu,,,"ucapnya seketika menghembuskan napas kasar yang tertahan,,,

'PAK,,PAK,,PAK,,PAK...!'

Tepuk tangan yang begitu mendominasi ruangan besar yang semula adalah ruang konseling itu dan sejenak di sulap menjadi ruang wardrobe and make up. Memang sepi, karena beberapa orang sudah berada di ruang persiapan dan tunggu.

Disana masih ada Taehyung juga pemuda si empunya tepuk tangan yang baru masuk itu,

"WOAAHH,, Kim Taehyung,,,! Luar biasa,, Persiapanmu matang sekali eoh,,,?!"ucapnya bermaksud memuji,

Yang dipuji malah memasang wajah bingung.

Pemuda seusianya itu kemudian mendekat. Lalu berdiri di sisinya, sama-sama di depan kaca,,

Tinggi mereka sejajar,, salah satunya sepertinya begitu menikmati pantulan bayangan wajah tampannya di cermin,, sementara yang satunya lagi masih mengerutkan dahi.. Mengundang orang itu untuk melirik, , ,

"Ehem, ehem..! Iya, pangeran. . . Aku juga mencintaimu..., Woah, bagaimana,, ? Apa actingku bagus,,?. . . Apa dialognya benar,,,?"

Taehyung terperangah tidak percaya dengan pemuda yang kini tersenyum sok manis padanya itu. Lama-kelamaan dia menatapnya risih, dan langsung berpaling muka,

"Yaish,, itu sangat buruk,, dialognya juga salah... Lagipula aku tidak sedang melakukan latihan untuk penampilan nanti,,"ucapnya terdengar kesal. Sayang sekali pemuda yang bernama Yugyeom itu tidak merasa jadi tersangka kekesalan Taehyung. Dia malah mengikuti Taehyung yang sudah siap dengan kostumnya itu duduk di kursi.

Taehyung menghela napas sebentar sementara tangannya menopang dagu, ,

"..aku. . . sedang bingung Yugyeom-ah,,"ujarnya sendu,, kini dia mengusap mukanya lagi, padahal itu bisa membuat riasnya hilang,

"Apa yang bingungkan hoh,,? Apa naskahnya ada yang sulit... Atau kau masih memikirkan adegan kissingnya,,? Aisshh,,Sudahlah,, kalau kau memang tidak bisa,, jangan lakukan,, ketua juga tidak masalah,, Adegan itu di bagian akhir, jadi bisa di potong,,"ucap Yugyeom begitu enteng,, dia yang kini terlihat tengah membenarkan bajunya,, akh mungkin lebih tepatnya kostum juga. Dia mendapat peran menjadi adik dari ibu tiri snow white,

"Aku tahu. . Tapi bukan itu,,,"sahutnya masih dengan nada lemah,

Akhirnya Yugyeom yang suka menganalisis tertarik untuk mengetahui alasan Taehyung yang kini jadi murung. Dia menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan teman paling akrabnya itu. Terlihat sekali raut wajah Taehyung yang lebih menjorok pada ekspresi gelisah ,

"Ada yang kau pikirkan,,?"

Taehyung menatapnya malas,,

Dalam keheningan cukup lama... Dan Yugyeom masih setia menunggu,

"Kalimat yang ku ucapkan tadi. . . Sebenarnya aku ingin mengatakannya pada seseorang. . ."

"Jimin,,?"terka Yugyeom dengan cepat,

Taehyung mengangguk lemah,, dia menghela napas lagi, dan memainkan hairspray di sisinya,

"Aku. . . sudah lama. . Tapi rasanya tetap sulit saat mau memulai. . . Aku sunggug bingung.. Semalam aku bermimpi aneh tentang dia. . itu membuatku tidak tidur karena terus memikirkannya. . di saat yang bersamaan,, aku juga berpikir bahwa aku harus segera mengatakan itu pada Jimin,,, tapi, bagaimana memulai katanya. . . . ."

Taehyung merengek tidak karuan sembari membentur-benturkan kepalanya di meja,, mengundang senyum jahil Yugyeom yang sebenarnya masih bingung mau menanggapi bagaimana,

"Aku selalu gugup saat melihat Jimin,, padahal biasanya tidak. . Bahkan kau juga tahu, aku banyak bicara saat bersamanya, , , Tapi. . . . Aku seperti orang bodoh,, sangat kikuk. . Aku , , , aku. . .semakin gila. . . Kenapa,, kenapa aku begini. . . ."pemuda itu terus menggerutu seperti orang yang frustasi tanpa tanggapan dari orang di sisinya,

Kegelisahan Taehyung makin nampak,

Yugyeom jadi tertawa kecil malahan melihat aksi temannya yang menurut dia lucu itu,

. . . .

"Sampai sekarang aku masih kepikiran. . . Perasaan ini aneh. . Aku khawatir kalau nanti, aku jadi lupa naskahnya. . . Astaga... aku benar-benar bingung... Yugyeom,, KATAKAN SESUATU. . . .!"kini dia berteriak,

Benar membuat Yugyeom kaget.

. . . Hening,

"Huh..?!. . . . Emh.. ya,,y-ya. . . berarti kau harus mengatakan itu,, Daripada kau nerveous, lalu lupa dialognya,, atau kau bahkan bisa pingsan di panggung karena memikirkan itu,,, karena kau terlihat kacau sekali. . .,Oh tidak,,! Tidak. . sebaiknya kau katakan pada Jimin,, dan lepaskan perasaan anehmu itu,,. Jangan sampai kau membuat kekacauan di event yang sudah kita persiapkan seminggu ini,,"kini Yugyeom yang sudah berdiri seperti sedang menasehatinya,

"Kau benar.. Lalu bagaimana caranya,,?", pasrah Taehyung,

"Tatap mata Jimin,,"

Sungguh tak percaya, , , dia ingin protes,

"Michyeoss-eo,,! Aku. . . a-a-ku malah semakin kikuk kalau melihat mata bulatnya itu,,!"sekarang pekikkan yang keluar dari mulutnya,,

"Haah, kau berlebihan. Ku lihat kau asik-asik saja saat bersama Jimin,,"sahut Yugyeom seenaknya,

Taehyung kembali murung,,

"Itulah,, di saat serius aku malah tidak bisa bersikap wajar di depan Jimin,, dan menatap matanya. Ini sungguh membuatku gila,,"ujarnya sambil mengacak rambut dengan kasar. Yugyeom jadi berpikir untuk meminta Munguk teman seangkatannya yang mendadak jadi hairstyle-ies untuk membenarkan rambut Taehyung yang sudah tidak karuan itu,

Berpikir cukup lama, Yugyeom mengangguk-angguk seperti seorang conseulour,

"Kau benar-benar jatuh cinta padanya."ucapnya menarik mata Taehyung untuk melihat,

"Iya,,"tanggap Taehyung seadanya,

"Kau sulit mengatakan pada dia karena memikirkan jawabannya,,?"

"Iya,,!"

"Tapi kau juga pernah berpikir kau akan menyesal jika terlambat mengatakan itu padanya,,?"

"Iya,,"

"Dan mimpimu semalam semakin membuatmu yakin kalau kau akan menyesal nantinya,,?"

"Iya,,!"

"Lalu kau terus memikirkannya sampai sekarang,,?"

"Iya,,!"

"Kau gelisah karena itu,,?"

"Iya,,!"

"Dan kau khawatir kegelisahanmu itu akan membuatmu lupa dengan naskahnya saat tampil nanti,,?"

"IYA,,! IYA YUGYEOM,,! IYA,, ! KAU BENAR,,! KAU SANGAT BENAR,,!"Taehyung berteriak di ujung kefrustasiannya pada temannya itu yang terkesan mengintimidasi,

'CLAP,,!'

Yugyeom dengan ekspresi datarnya bertepuk tangan entah untuk apa. Entahlah kadang Taehyung heran dengan Yugyeom yang sering bertepuk tangan untuk beberapa hal yang menurutnya tidak memerlukan tanggapan seperti itu,

"Sekarang aku mengerti masalahnya,,!"ujar pemuda itu dengan telunjuk dan ibu jari bersamaan memijat dagunya,, seperti tengah berpikir layaknya peserta KIR yang telah menemukan hipotesa.

Taehyung sungguh tak percaya,, dengan wajah blank yang ia tujukan pada Yugyeom, yang ternyata baru paham, padahal sedari tadi mereka bicara panjang lebar.

Huuufftt. . . sabar Tae..

Kadang-kadang temannya itu memang aneh. Taehyung sering mendapati Yugyeom yang otak korsletnya aktif di saat-saat begini... Dan itu sungguh menyebalkan buat dia.

Baiklah,, Taehyung pikir itu tidak berguna. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah bagaimana agar tidak terpikir hal yang membuatnya gelisah itu dan fokus pada drama musikal yang akan dia tampilkan nanti. Semua harus berjalan baik, karena persiapannya yang sudah seminggu penuh,

Meski dia kurang yakin, karena sampai detik ini mimpi itu membayanginya, , , Sejak kemarin,, makanya saat Jimin bertanya apakah dia sudah siap,, Taehyung menjawab ragu. Pemikiran aneh itu memang singgah sejak awal, di tambah dengan mimpinya. Dia semakin gelisaaaaah. . . . .!

Semua itu berkaitan dengan pemuda yang kini mulai dekat dengan Jimin,,

'CLAP,!'

Astaga,, Taehyung hampir saja berniat untuk memutilasi tangan Yugyeom yang lagi-lagi bertepuk keras bahkan lebih keras,

"Pemecahan masalah,,!"seru Yugyeom yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Taehyung,

"Taehyung-ah,,! Kau punya waktu tujuh menit,,"ucap Yugyeom yang menepuk pundaknya keras, membuatnya begitu tercelos,

"Apa,,?"sahut Taehyung malas, namun dengan tatapan sengit,

"Cepat temui Jimin dan katakan padanya,, jangan sampai kau benar-benar lupa naskah nanti,,lalu drama ini jadi kacau,,"

"Itu sulit,, aku tidak bisa,,"

"Dasar bodoh,,! Tatap matanya Tae,,! Tatap matanya,,!"Yugyeom yang kini berteriak dengan kedua tangan meraup wajah Taehyung di depannya,, membuat si empunya bingung dengan mata membulat,

"Tak peduli seberapa kikuknya kau,, bertahan,, sampai kau merasa gugupmu hilang dan bisa bicara dengan lancar,, Percaya Tae,, Kau harus menatapnya dulu,, kira-kira sepuluh detik,, baru, kau bisa mengatakannya,,Yang terpenting adalah pertemukan pandangan kalian,,, Okey,,!"ucap Yugyeom begitu meyakinkan seraya melepas wajah itu dari tangannya,

Hening sejenak,

Pemuda itu masih blank menatap dia,

"Apa itu bekerja,,?"

Bukannya menjawab, Yugyeom malah tersenyum dan memberikan wink pada Taehyung. Taehyung mengerti, kedipan mata itu adalah tanda satu-satunya tanda bahwa Yugyeom yang kadang eror itu sedang serius,

Tanpa berpamitan atau apa,, Taehyung langsung saja melesat meninggalkan Yugyeom yang masih tersenyum, , , ,

,

,

,

,

,

"Ne,, Kau juga Hoseokie hyung, jaga stamina mu agar tetap fit. Kau harus melakukan yang terbaik dan menang. Aku akan mendukungmu dari sini,,"kata Jimin memberi semangat pada Hoseok yang sedang di telponnya. Dia dapat mendengar yang di seberang tertawa senang,

"Ara,,Emh.. Seokjin sensei bagaimana,,? Kau tidak mau titip salam untuknya,,?"

Blush. . . Seketika pipi Jimin memerah,

Hoseok langsung tertawa keras merasakan Jimin yang tidak kunjung membuka suara, dia tahu namja yang sedang bicara dengannya via telepon itu pasti kikuk. Jimin langsung sadar dan memasang wajah masam, merasa di ledek oleh Heoseok,

"Kau ini bicara apa sih Hyung,,! Sudahlah, ada yang harus ku kerjakan di dalam,, Bye,,!"ketusnya langsung memutus sambungan mereka tanpa .bu, karena sungguh dia merasa sebal dengan Hoseok,, pipinya masih bersemu merah. Sebenarnya ingin titip salam, tapi kan malu. . .

Haish,, Jimin merasa otaknya makin kacau jika sudah mengingat wajah sensei tampannya itu. Padahal dia hanya sebatas kagum. Jadi begini rasanya jadi secret admiror, Jimin tersenyum sendiri mengacak rambutnya,

. . . .

Jimin akan kembali ke aula untuk melihat persiapan di sana, sesuai dengan perintah orang yang paling membanggakan dia di sekolah itu,, juga panutannya karena orang itu benar-benar perfect dari segi manapun. Yap, Namjoon songsaenim, si kepala sekolah.

Hanya beberapa langkah lagi untuk sampai, matanya seperti mau meloncat keluar saat mendapati penampakkan itu. Jimin dikejutkan oleh suatu hal yang membuatnya sampai harus berputar arah dan mencari jalan lain untuk menghindar, atau tempat untuk sembunyi. Seperti melihat sesuatu yang berbahaya, kini namja itu berdiri di sisi pilar, beruntung tubuhnya yang mungil membuatnya tidak salah memilih pilar yang menjulang itu.

Jimin berusaha sewajar dan setidak tampak mungkin baik wajah maupun tubuhnya dari hal yang membuat dia melakukan aksi itu,, hal itu adalah seorang pemuda yang kini berjalan ke arahnya, tentu akan berpapasan, makanya Jimin menghindar. Dia berpura-pura memainkan ponselnya, saat langkah pemuda itu mulai mengurangi jarak,

Bibirnya menjampi-jampi agar pemuda itu berlalu saja dan tidak menghiraukan dirinya,

Namun. . . Skiiip,,!

"Permisi,,"

Jimin tercelos setengah mati, sampai berdirinya jadi kaku, karena pemuda itu malah menegur dia,

"Emh,, maaf,, kau siswa di sini kan,,? Aku sedang mencari toilet,, kau bisa tunjukkan,,?"tanya pemuda itu senormalnya pada Jimin yang sama sekali tidak menoleh,

Diam beberapa saat, namja itu kebingungan sampai harus menggigit bibir bawahnya. Dia mengutuk timingnya yang benar-benar tidak pernah dia pikirkan ini. Benar-benar tidak menyangka akan bertemu pemuda itu,

Pemuda itu pun juga bingung karena tidak mendapat jawaban,

"Ada di belakang lab biologi, kau lurus saja,,"jawab Jimin akhirnya, nadanya lemah namun dapat terdengar karena jarak mereka yang dekat. Dan kini yang termangu adalah pemuda itu, karena dia sama sekali tidak lupa dengan suaranya.

Pemuda yang mengenakan almamater berbeda dengan Jimin itu sedikit mencondongkan badannya untuk memastikan pemilik suara itu, tapi bersamaan Jimin juga menggerakkan wajahnya untuk berpaling.

Dia dapat melihatnya dari samping, pemuda itu tersenyum, meski tidak jelas, dari melihat rahangnya saja, dia sudah dapat mengenali Jimin,

"Oh, di belakang lab biologi ya,, Terima Kasih kalau begitu,,"ujarnya kemudian seraya menepuk pundak Jimin pelan. Jimin tertegun, tidak menanggapi. Sampai kemudian dia melepasnya dan berjalan menjauh, masih setia tersenyum, sempat menoleh dan melirik Jimin yang tidak berubah posisinya,

. . .

Merasa keberadaan pemuda itu tidak di sana lagi, Jimin menghembuskan napas lega. Dan benar saja, pemuda itu sudah berjalan cukup jauh dia mengamati, namun setelahnya Jimin segera beranjak dari sana.

"Dia tidak tahu aku,, dia tidak tahu,,"ucapnya dalam hati berulang-ulang,

. . . .

Namja itu meremang menyelami pikirannya. Dia baru ingat lagi kalau beberapa SMA di undang kemari untuk acara ulang tahun sekolahnya serta acara perpisahan ini. Termasuk sekolah pemuda itu tadi, tidak heran jika mereka akan bertemu, namun Jimin juga tidak sekalipun membayangkan,

Memutar kembali beberapa memori masa lalunya, saat SMP, tepatnya di saat dirinya sudah menjadi siswa tingkat akhir. Pemuda yang tadi itu namanya Taeyong, Lee Taeyong, dia teman seangkatannya dulu. Teman atau apalah Jimin juga tidak tahu, dia tidak pernah berinteraksi dengannya. Pemuda itu tampan, wajahnya mirip sekali dengan tokoh anime Jepang, itu terlihat dari rahang tegas milik dia, juga tatapan mata yang tajam serta hidung yang terpahat sempurna. Setelah si alien XD, Yup, Kim Taehyung, dia siswa laki-laki yang populer saat itu. Dan yang paling membuatnya di kenal seantero SMP-nya adalah dia yang menyebutnya dirinya seorang gay. Akh,, patah hati para siswa putri mendengar pengakuan Taeyong itu.

Lalu kabar bermunculan, kalau Taeyong berpacaran dengan si pangeran tampan, Taehyung. Karena mereka terlihat akrab beberapa kali. Para shipper gresek bermunculan, sampai menjuluki pasangan itu 'Couple TaeTae', heboh di mana-mana, kabar dua manusia yang memiliki rupa bak dewa itu adalah sepasang kekasih. Yah, Taehyung yang telampau tampan, sampai bukan hanya gadis-gadis yang tergila-gila padanya.

Kabar yang membuat telinga Jimin agak memanas sejujurnya. Dia yang sudah bersahabat dengan Taehyung sejak mereka masih ingusan, kenapa sampai tidak tahu jika Taehyung seorang abnormal, dia kesal, jika memang iya, kenapa Taehyung tidak bercerita. Eh,, memangnya kenapa juga Jimin harus kesal,? Ya, karena dia peduli, mereka bersahabat sudah lama, begitulah dia berdalih pada dirinya sendiri merasakan kekesalan itu. Padahal seharusnya Jimin tahu kalau yang dia rasakan adalah cemburu, entahlah, mungkin karena saat itu dia masih polos, dan belum bisa mencerna hal-hal seperti itu dalam otaknya yang sebenarnya jenius.

Benar tidaknya kabar itu, Jimin berusaha acuh, karena Taehyung juga terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa, semuanya berjalan normal, padahal di luar sana kabar simpang siur tentang dirinya yang seorang gay selalu jadi buah berita panas.

Namun di tengah memanasnya buah bibir itu, tanpa di sangka atau apa, Jimin pun tidak percaya. Taeyong, pemuda itu malah menyatakan suka padanya, Jimin seperti mendapat pukulan keras di kepalanya,, akh tidak, itu seperti mimpi buruk,, emh,, seperti memakan buah kesemek mungkin,, asam.

Hal yang berusaha dia lupakan tapi semakin membekas,, Bagaimana tidak, Jimin yang saat itu benar-benar masih polos, dan untuk pertama kalinya, seseorang menyatakan cinta padanya,

. . .

"Jimin-ah, kau harus tahu, Yang aku sukai adalah dirimu. Itulah mengapa aku menyebut diriku seorang gay,,"kata-kata itu terucap dengan sangat manis dan tanpa keraguan dari bibir tipis Taeyong.

Waktu itu kejadiannya di belakang perpustakaan,

Jimin seperti dapat sengatan listrik, terdiam kaku. Pertama kalinya ada yang bilang seperti itu padanya dan dia adalah Taeyong. Jimin tidak tahu harus beraksi bagaimana, otaknya belum bisa mencerna untuk tindakan lanjutan. Karena dia masih betah dalam mode shock berat, sampai kedua bola matanya melotot ikut tak percaya. Pemuda depannya itu pasti bercanda. Jimin sungguh jadi lemas,

Taeyong masih setia menatapnya intents, tak berkedip sedikit pun. Mungkin jika yang di posisi Jimin adalah fansnya Taeyong, dia pasti sudah pingsan karena kedua mata pemuda itu yang di tajamkan semakin terlihat indah,, dia kemudian tersenyum simpul dan pandangannya tiba-tiba jatuh,

"Taehyung itu bodoh,, dan juga, sangat pengecut,,"ucapnya tiba-tiba terdengar sakarstik, juga senyumnya berubah jadi seringaian,

Jimin sungguh tidak mengerti, karena pikirannya sekarang sedang kacau,

Pemuda itu kemudian mendongak dan menatapnya lagi,

",,Kau terima atau tidak,, No matter, Jimin-ah,, Tapi. . ."ucapnya menggantung,

"Tapi apa,,?"batin Jimin melanjutkan,

. . .

'CHUP,,!'

Mungkin jika itu bukan buatan Tuhan, bola mata Jimin sudah keluar karena tekanan dari dalam yang berlebihan, Bagaimana tidak, dia terkejut setengah mati saat bibirnya mendadak di kecup oleh Taeyong, , ,untuk pertama kalinya,, benar-benar pertama kali, bibir polosnya itu.

'BUGGHH,,!'

Pemuda itu seketika terdorong ke belakang,, entah mendapat kekuatan dari mana, Jimin langsung melayangkan tinju ke wajah Taeyong, sampai di sudut bibir pemuda itu mengeluarkan darah segar. Sebagai gerakan reflek karena dia sudah dalam kesadarannya penuh sekarang,

Matanya berapi-api,, dan bibirnya enggan berucap namun giginya menggertak erat, seperti menahan ingin mengumpat,

Jimin tidak pernah sekasar itu,, tangannya yang masih mengepal erat bergetar menatap nanar Taeyong tengah menyentuh sudut bibirnya.

Jelas sekali Taeyong merasakan itu robek, dan perih.

Taeyong mengangkat wajahnya dan memandang Jimin. Dan pemuda itu malah menampakkan senyum yang manis, khas miliknya,

", , tapi aku sungguh menyukaimu,, dan aku jadi yang pertama,, iya kan,,?"

"BRENGSEKK,,!"Jimin yang sangat marah dan tidak terima, karena sorot mata Taeyong tidak main-main,

Pemuda itu akan terima dengan Jimin yang masih siap akan memukulnya lagi, bahkan jika Jimin akan membunuhnya saat itu, dia tidak mengelak,,

,

Keduanya kedapatan oleh guru BK, dan berakhir oleh hukuman skorsing, karena Jimin mengakui perbuatan itu adalah perkelahian.

Jawaban atas perjanjiannya dengan Taehyung, bahwa dia akan melepas Jimin karena namja itu sangat telak menolaknya yang sudah jatuh cinta sejak lama pada sosok yang sangat di sayangi Taehyung itu. Masalah kissnya, itu karena Taeyong tidak bisa menahan diri lagi,

Juga Taehyung tidak pernah tahu dengan kiss pertama Jimin, dan Jimin tidak tahu bahwa Taehyung sejak awal memang seorang abnormal dan menyukai dia lebih dari siapa pun.

.

.

Jimin masih berusaha lupa dengan kejadian itu, seperti tidak pernah ada dalam hidupnya. Entahlah, bahkan sampai sekarang, dia enggan bertemu Taeyong,, benar-benar canggung dan malas. Saat tadi Taeyong menyentuh pundaknya, masih terasa aneh. Marah, tentu saja dia marah,, kekesalannya tidak bisa dengan mudahnya hilang. Apalagi soal seperti itu,, mungkin dulu Taehyung pernah mencium pipinya,, namun Taeyong berani sekali mempertemukan bibir dengan bibir seenakanya tanpa izin. Yang pastinya tidak akan mendapat izin.

. . .

'BRAKK,,!'

Jimin yang menjadi sadar dari lamunannya agak terkejut melihat itu. Tanpa di minta, dia pun langsung berlari kesana,

"Ayo, ku bantu,,"ujarnya menawarkan pada siswa yang adalah seorang anggota OSIS periode jabatannya hingga sekarang sudah di gantikan oleh Kang Seulgi. Tentu saja Jimin mengenal siswa yang terlihat kesulitan membawa beberapa kursi itu dan harus terjatuh,,

Dia malah terdiam melihat pada Jimin sedang tersenyum begitu manis, menampilkan eyessmile yang indah, sempat terpana, namun kemudian dia sadar,

"Ah,, tidak apa-apa sunbae,, Aku bisa,,", dia jadi canggung.

"Haish,, aku ingin membantu,,!"potong Jimin cepat,,

Namja bernama Minwoo itu akhirnya menurut dan tersenyum membalas Jimin,,

Mereka pun kembali mengangkat beberapa kursi itu setelah tersusun lagi,

"Kajja,,!"

"Ne,,"sahut Minwoo,

. . .

"Mau di bawa kemana,,?"tanya Jimin kemudian di sela-sela mereka berjalan,

"Backstage,,"

"Ooh,, jangan membawa terlalu banyak, atau kau bisa minta bantuan,,"ujar Jimin hangat,, membuat Minwoo tersenyum kikuk,

"Ahh,, tidak,, sebenarnya ini yang terakhir, makanya aku ingin membawanya semua agar cepat selesai,,"jawabnya dengan senyum berusaha meyakinkan kalau dia tidak keberatan,

Jimin malah memasang raut simpati,

"Tetap saja,, kau terlihat lelah, jangan memaksakan diri,,"

Minwoo merasa agak malu jadinya. .. . Sunbae-nya yang kini sudah jadi mantan Ketua OSIS itu masih saja perhatian pada dirinya yang adalah anggota dari Organisasi sekolah tersebut. Sebenarnya menyayangkan, harus di ganti,, tapi mau bagaimana lagi, sudah peraturannya,,

Sepintas Minwoo pikir teman satu kelasnya itu beruntung memiliki kakak seperti Jimin, , ,Ya.. Minwoo adalah teman satu kelas Jungkook, dan kabar tentang Jimin dan Jungkook yang menjadi saudara tiri di ketahui dengan cepat oleh seluruh warga sekolah, itu juga seolah tidak di tepis oleh Jimin dan Jungkook, apalagi keduanya terlihat baik-baik saja.

"Disini saja sunbae,,"pinta Minwoo saat sudah sampai,,

Mereka menurunkan kursinya,, dan lagi-lagi Jimin menyempatkan untuk membantu menyusun. . Dia sempat melihat persiapan di belakang panggung,,

Lumayan, Pikirnya,,

Selesai,,

"Ada lagi yang bisa ku bantu,,?"

Minwoo menggeleng,,

"Terima Kasih banyak,, sunbae-nim,,"ujarnya sembari membungkukkan badan,, Jimin agak terperangah, karena jarang anak seusia Minwoo masih memperlakukan orang yang lebih tua seperti itu, mesi jarak umur mereka tidak terlalu jauh,

"Aishh,, tidak perlu begitu, , ,", Jimin agak malu jadinya,

Namja itu malah tersenyum,,

"Aku kagum dengan Sunbae,,"

"Humh,,?!"Jimin tidak mengerti,,

"Jungkook,, pasti senang memiliki kakak sepertimu,,"

"Oh,,!? Benarkah,,?"

"Entah ini hanya pemikiranku saja,, atau teman satu kelasku itu sedikit berubah,,, aaa,, maksudnya tidak nakal lagi, , , semenjak,, kalian jadi saudara,,"ucap Minwoo dengan senyum riang.

. . . . . Jimin terdiam sebentar. . . .

Lalu dia tersenyum,

"Woaah,,, sepertinya kau sangat memperhatikan Jungkook,,"

"Jungkook dengan tingkahnya selama ini selalu menjadi pusat perhatian,,, jadi kurasa bukan aku saja yang menyadari perubahannya sunbae,,"

"Perubahan,,? Seperti apa,,?"Jimin kini penasaran,

"Yaa,, dia itu dulu jarang sekali mengikuti kelas,, juga. . sangat acuh,, namun beberapa kali dia menyapa teman sekelasnya,, meski masih canggung,, dia juga menyapaku sekali,,,"

"Aaaahh,, dia mulai ramah ya,,,. Berarti, Minwoo-ah, Jungkook sepertinya ingin memulai pertemanan,, Bagaimana kalau kau yang pertama menjadi temannya,,?"

"Bisa saja,, Aku juga berpikir begitu. . ."

Mereka saling melempar senyum,,

"Memang aneh melihat Jungkook yang sangat dingin dan angkuh itu kini bersikap seperti itu,, apalagi mengingat kelakuan-kelakuannya,, tapi yeaahh,, lama-kelamaan, mungkin akan bisa terlupakan,, Masa kau tidak menyadari sunbae, akhir-akhir ini kan tidak ada kasus Jeon Jungkook,"

Jimin terdiam lagi,, mengingat memang perbuatan Jungkook selama ini sungguh memalukan dan membuat jengkel semua orang,, tanpa terkecuali. Dia senang jika Jungkook memang berubah,, dan sebenarnya Jimin sendiri tidak menyadari itu,, entahlah,, padahal dia dulu sangat peka dengan setiap kelakuan Jungkook,,

"Semuanya harus di mulai dengan perlahan Minwoo-ah,, kalian harus mencoba menerima dia,,. Anak itu perlu dukungan dari orang sekitarnya. ."

"Iya sunbae,, semua itu juga berkat dirimu,,. . . . Kau pasti tidak kepusingan lagi karena perbuatan onar si JeonBreaker itu,,,"cetus Minwoo, yang membuat Jimin malah tertawa kecil,, eyessmile-nya semakin indah saja.

Minwoo terlebih dulu mendapati seorang pemuda yang tampilannya kini sungguh luar biasa berjalan ke arah mereka dari belakang Jimin,

"Sepertinya ada yang mencarimu Sunbae,,", Minwoo tahu maksud kedatangan pemuda itu. Jimin pun berbalik mencari tahu siapa yang dimaksud Minwoo.

,

,

,

TBC...

Gaje,,?!.. Jeongmal Mianhae,,

Tidak bermaksud merugikan siapa pun.

And, ini pure dari otak saya.

Silakan tinggalkan comment, kritik, pesan, saran juga boleh.

Terima kasih banget udah Mampir,,

Neomu Gomawoyo,,,^_^

Chapter selanjutnya mungkin agak lama,,

Sampai Jumpa di Ch. Berikutnya ya,,?

Bye,,! Bye,,!

Annyeong,,!