Unperfect Princess
Suho menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya, ia makan dengan lahap tak terlalu memerdulikan Kyungsoo yang kini hanya mengaduk-aduk supnya. Suho sudah terlalu bosan menanyakan keadaannya karena pada akhirnya Kyungsoo akan menjawab dengan sebuah deheman lalu terdiam kembali.
Tidak biasanya Kyungsoo mengajaknya untuk makan keluar seperti ini. Suho berpikir mungkin Kyungsoo tengah membutuhkan teman untuk bercerita namun bukannya bersuara, ia malah bungkam seribu bahasa dengan gelagat yang aneh. Ia seperti menemani tubuh tak bernyawa saat ini.
"Bila kau terus diam seperti ini, aku akan pergi meninggalkanmu." Ucap Suho acuh tak acuh. Setidaknya Kyungsoo kini meliriknya meski dengan tatapan yang sulit sekali diartikan.
"Aku hanya tidak mengerti dengan sikap Chanyeol akhir-akhir ini."
"Uhhmm ya?" Suho menatapnya sungguh-sungguh. Ia menyimpan sendoknya dan memangku dagu dengan telapak tangannya. "Kalian memiliki masalah?"
"Tidak. Sok tahu!" Ketus Kyungsoo yang langsung melahap supnya yang tadi ia acuhkan.
Suho mendengus lalu meraih kembali sendoknya. "Jadi pelatih itu, cinta semalammu itu ya?" Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya kepada Kyungso. Tak tahu bahwa kini Kyungsoo tengah menatapnya dengan tatapan membunuh seolah siap memotong tubuh Suho saat ini juga.
"Jangan bicara seperti itu!" Desis Kyungsoo kesal.
Ia menyesal harus menceritakan semua masalah pribadinya bersama Kai saat di New York dulu kepada Suho. Ditambah kini Suho mengetahui bahwa Kai adalah pria yang telah menghabiskan waktu 'bersenang-senang' semalamnya sebelum ia kembali ke Korea Selatan. Kadang Suho bisa menjaga rahasia tetapi ia juga kadang sangat menyebalkan untuk menanggapi semua cerita-ceritanya. Andai saja kemarin ia memilih diam ketika Suho bertanya tentang kedekatannya yang aneh bersama Kai, mungkin ia tidak sampai keceplosan mengatakan bahwa Kai adalah pria yang selama ini sering ia ceritakan sejak ia pindah dari New York dulu. Pria yang telah mengaguminya dan menjadi teman berbagi untuk semalam. Bodoh sekali.
"Kau tampak menyukainya." Setelah beberapa menit mereka terdiam kini Suho membuat Kyungsoo mampu membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang pria itu katakan.
"Apa, aku menyukainya?" Kyungsoo setengah terkejut bahkan setengah tertawa menanggapi pernyataan manager sekaligus sepupunya yang konyol ini.
"Hey, aku serius. Bila Chanyeol yang melihat posisi kalian dengan jarak seperti itu kemarin, mungkin dia akan langsung menghajar Kai habis-habisan."
Kyungsoo langsung teringat dengan kejadian kemarin, dimana ia hampir berciuman dengan Kai. Entah kenapa pipinya serasa panas dan mungkin akan segera merona hebat karena memikirkan hal itu. Kalau bukan karena Suho yang tiba-tiba muncul sebelum mereka benar-benar berciuman, mungkin ia sudah benar-benar gila saat ini.
"Tuh 'kan, lihatlah sikapmu sekarang. Ck, kau menyukainya ya?" Ejek Suho dengan seringaiannya.
"Oppa!" Kyungsoo merasa jengah dengan apa yang dikatakan Suho kali ini. Menyukainya? Bagaimana bisa Suho mengatakan pernyataan tak mendasar seperti itu? "Aku hanya berteman dengannya." Jelas Kyungsoo kali ini.
Suho tersenyum meledek sebelum ia kembali membuka suaranya. "Dia terlalu tampan untuk menjadi cinta semalammu, kau tahu itu?"
"Huh? Apa yang kau katakan?"
"Ya, dia, Kai. Aku masih tidak percaya bahwa pria itu yang telah mengubahmu selama tiga hari di New York, sampai menghabiskan ehem.. ya begitulah." Suho tak perlu menjelaskan lebih detail dengan apa yang pernah Kyungsoo ceritakan kepadanya. Karena ia tahu, Kyungsoo pasti mengerti.
Kyungsoo mendesis dan menatap kesal Suho. "Apa? Menurutmu aku tertarik dengan pria jalanan yang lusuh, kurus kering, hitam, dan bau? Begitu?"
"Kau mengerti juga, hahaha!" Suho terbahak dengan apa yang dikatakan Kyungsoo kali ini. Sebaliknya gadis itu hanya memberenggut diam. Ia menyesal telah mengajak Suho makan keluar malam ini.
Tak memerdulikan dengan yang ditertawakan Suho, entah itu lucu atau tidak. Kyungsoo lebih memilih memakan supnya yang mulai mendingin. Ia tak mau tahu dengan ocehan Suho lainnya yang jelas ia sedang tidak ingin bercanda saat ini.
Sejujurnya Kyungsoo kali ini masih bingung dengan apa yang dikatakan Chanyeol sebelum ia pergi. Itu sebuah peringatan, ancaman, atau apa? Bahkan setiap kata yang diucapkan Chanyeol terasa menghantui pikirannya saat ini. Suaranya terus berdengung di telinganya bagaikan sebuah mantra kutukan agar ia terus terjaga dan mengingat semua itu. Dan satu lagi, Kai. Ada apa dengan pria itu? Sekembalinya ia menemui Chanyeol. Ia malah lebih banyak diam bahkan bicara seadanya. Latihan pun berjalan biasa-biasa saja tak terlalu penting. Hanya menyuruhnya untuk terbiasa dengan gerakan-gerakan dasar, berputar dan semacam itu. Bahkan ia merasakan kecanggungan luar biasa pada hari itu.
"Aku berpikir Kai masih menyukaimu." Ucap Suho pelan yang mampu membuat Kyungsoo terkejut dan mendongak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Suho. Lagi-lagi pria ini membuatnya terperangah dengan setiap kalimat yang diucapkannya. "Bagaimana menurutmu?"
Bagaimana menurutmu? Apa yang harus Kyungsoo katakan? Ia bahkan tak pernah berpikir hal sejauh ini. Ia memalingkan tatapannya merasa risih dengan tatapan Suho yang berubah serius memperhatikannya intens.
"Aku tidak mengerti." Ia meminum air untuk menghilangkan kegugupannya saat ini. Dan ia bisa mendengar helaan napas berat dari Suho.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu ataupun perasannya, bahkan aku sama sekali tak peduli. Aku hanya memperingatkan bahwa kau adalah gadis yang telah memiliki ikatan pertunangan. Sedekat apapun hubungan kalian aku tidak akan melarang. Tetapi bila kau mengingat kembali bagaimana Chanyeol, aku angkat tangan untuk membelamu."
Kyungsoo mendengus ketika mengerti kemana arah pembicaraan Suho saat ini. "Apa yang dikatakan Chanyeol kepadamu, oppa?"
Suho mengangkat kedua tangannya. "Demi Tuhan, Chanyeol tak mengatakan apapun kepadaku. Hanya saja.." Ia sedikit menggantungkan ucapannya sebelum kembali menghela napas perlahan. "Aku hanya mengkhawatirkanmu." Ucapnya lirih.
Kyungsoo seketika tertegun. Apa yang dikatakan Suho dari ucapan hingga tatapannya membuat sekujur tubuh Kyungsoo menegang. Ia bisa merasakan kesungguhan yang dikatakan Suho kali ini. Dan ia bisa melihat dengan jelas raut kekhawatiran yang tergambar di wajahnya meski ia tidak tahu penyebab kenapa Suho hingga mengatakan hal semacam ini. Ia sama misteriusnya dengan Chanyeol sekarang.
"Okay, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, oppa. Tapi sungguh! Apa kau berpikir aku dan Kai memiliki hubungan lebih dari teman. Haha.. tidak."
"Kau juga perlu memastikannya, aku hanya tidak ingin kau terluka. Kau tahu itu. Aku membenci setiap pertengkaranmu dengan Chanyeol. Kau selalu nampak buruk di hadapannya."
Kyungsoo mendengus, mau tak mau ia menganggukkan kepalanya. Memastikan apa? Apa Kai masih menyukainya atau tidak begitu? Oh, ini aneh sekali. Haruskah ia menanyakan hal sekonyol ini kepada Kai? Bagaimana reaksinya nanti? Mungkin Kai akan menganggap dirinya tengah mengemis perasaan. Oh Tuhan, kenapa ia yang jadi peran terpojok disini?
Kai mendudukkan tubuhnya dengan pungggung bersandar pada cermin. Ia membaca setiap detail gerakan yang harus Kyungsoo lakukan di pertunjukan nanti. Ia berpikir, apa Kyungsoo bisa melakukan semua gerakan yang akan diajarkannya ini. Meskipun ini hanyalah gerakan-gerakan dasar, bagaimanapun Kyungsoo sama sekali tidak mempunyai basic dasar untuk menjadi seorang penari.
Terlihat sekali seperti kemarin saat Kai menyuruh Kyungsoo mengikuti gerakannya. Tubuhnya sangat kaku dan sama sekali tidak seperti apa yang Kai harapkan. Mungkin ia bisa saja marah namun ia lebih baik diam, karena itu lebih baik. Jika ia bicara dan marah, ia takut kemarahannya bukan karena gerakan Kyungsoo yang terlampau kaku melainkan marah melihat apa yang telah Kyungsoo lakukan dengan Chanyeol.
Tapi apakah itu pantas? Jongin menertawakan dirinya sendiri. Kau bodoh, Kim Jongin. Kai terus mendenguskan umpatan kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia marah karena melihat Chanyeol mencium Kyungsoo. Bukankah itu wajar? Chanyeol memang tunangannya.
Tepat ketika ia tengah memikirkan Kyungsoo. Gadis itu kini muncul dari balik pintu, menggunakan pakaian yang sama seperti biasa dengan tas selempang yang ia jinjing di sebelah tangannya. Ia hanya memberikan senyuman kecil ketika Kyungsoo tersenyum menyapanya sebelum ia melenggang berjalan melewatinya untuk bersiap mengganti sepatu.
"Kau bisa melakukan Un Pointe?" Kai bertanya kepada Kyungsoo yang kini tengah mengenakan sepatu baletnya.
Kyungsoo mengantungkan tangannya. Beralih melirik Kai dengan alis saling bertautan.
"Un point—eh apa?" Kyungsoo tak mengerti dengan apa yang dikatakan Kai kali ini. Apa itu bahasa perancis?
Kai menghela napas. Bahkan ia sendiri tidak tahu salah satu tekhnik menari balet. Apa ia bisa melakukannya. "Un Pointe," ulangnya lebih jelas. "Kau tidak tahu itu?"
"Memangnya apa itu?"
"Tekhnik berjinjit hingga ujung kaki dengan melakukan gerakan-gerakan balet yang lain, kau tidak tahu itu?"
Kyungsoo menggeleng kecil. "Aku bahkan baru mendengarnya, apa itu salah satu gerakan yang harus kupelajari dan kukuasai?"
Kai mengangguk. "Tapi aku khawatir, aku tak yakin kau bisa melakukannya."
Kyungsoo tertawa. "Apa kau meragukanku, hah.. aku bisa segalanya." Ujar Kyungsoo penuh percaya diri membuat Kai mendengus melihat sikap yang ditunjukkan Kyungsoo saat ini.
"Lagipula aku tidak akan memaksa. Aku lebih mementingkan keamananmu daripada kesempurnaanmu di atas panggung." Ucapnya namun Kyungsoo sama sekali tidak menimpali apa yang diucapkan Kai. Sebaliknya ia kembali melanjutkan untuk memakai sepatu baletnya.
Tatapan Kai kini beralih pada apa yang digunakan Kyungsoo saat ini. Sepatu baletnya yang berwarna putih krim. Tentu itu hanyalah sepatu balet biasa dengan alas kain yang licin untuk ia gunakan. Dan Kai baru menyadari selama dua hari ini Kyungsoo masih memakai sepatu yang sama, bahkan membahayakan untuk dirinya sendiri. Seperti dugaannya.
"Jangan pakai sepatu itu!" Tegas Kai membuat Kyungsoo mendongak dan terkejut dengan peringatan Kai.
Kai langsung berdiri dan berjalan menuju sudut ruangan untuk mengambil tas ranselnya. Dengan langkah perlahan, Kai membawa tas yang tadi diambilnya menuju ketempat dimana Kyungsoo terduduk sekarang.
Ia langsung mengambil posisi berlutut di hadapan Kyungsoo yang masih mematung mengamati apa yang akan dilakukan Kai. Kai langsung meraih sepasang sepatu balet dari dalam tasnya. Sepatu balet yang sama seperti yang dipakai Kyungsoo saat ini, namun memeiliki warna dan bentuk yang berbeda. Berwarna emas pudar dengan ujungnya yang rata.
Kyungsoo tersentak ketika Kai meraih sebelah kakinya untuk ia tumpukan di atas lututnya. Tali pita sepatu baletnya Kai lepas. Pria itu juga meklakukan hal yang sama pada sebelah kakinya yang lain membuat Kyungsoo kini bertelanjang kaki.
"Kau memiliki telapak kaki yang indah ternyata, aku baru menyadarinya." Ucap Kai tanpa menatap Kyungsoo, ia lebih memilih menatap salah satu telapak kaki Kyungsoo yang bertumpu di lutut Kai.
Kyungsoo terdiam, apa Kai baru saja memujinya? Entah kenapa Kyungsoo merasakan pipinya memanas padahal Kai hanya memuji telapak kakinya saja.
"Apa yang kau pedulikan tentang kakiku?" Kini Kyungsoo bisa berbicara ketika Kai tengah sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.
"Kau pikir menari balet itu mudah? Aku yang bertanggung jawab jika kau cedera nantinya. Jangan bayangkan bahwa dua bulan ini kita akan berlatih tanpa kendala, telapak kakimu bisa lecet, kuku-kukumu bisa patah dan lebih buruk, pergelangan kakimu bisa cedera sehingga membuatmu tidak bisa berjalan."
"Baiklah aku menerima peringatanmu itu. Tapi kenapa kau peduli dengan kuku-kuku yang mungkin patah?"
Kai langsung mendongak dan menatap Kyungsoo yang kini balas menatapnya penasaran. Entah apa yang harus Kai katakan. Kenapa ia harus dihadapkan dengan Kyungsoo yang cerewet saat ini, kini ia ingin sekali berada bersama Kyungsoo yang pemalu dan pendiam. Oh Tuhan.. gadis ini benar-benar banyak bicara.
"Kau ingin aku mematahkan kakimu lebih dulu sebelum kau menari?!" Ancam Kai, kini ketegasannya benar-benar muncul. Membuat Kyungsoo mengatupkan bibirnya tak mampu lagi untuk bicara atau bertanya. Ia takut melihat Kai seperti ini. Oh, mungkin ini yang disebutkan Produser Choi bahwa Kai adalah sosok pelatih yang keras.
Kai langsung mengeluarkan beberapa kain wol tebal—alas jari—dari dalam kantong kecil tasnya. Memakaikannya dengan lembut pada setiap jari kaki Kyungsoo. Memastikan semuanya pas untuk Kyungsoo pakai sehingga kuku-kuku jari kakinya tertutup.
Kyungsoo tertegun melihat apa yang Kai lakukan saat ini. Meski Kai memberikan kesan tegas padanya, tapi yang dilakukan Kai saat ini jauh di bilang tegas melainkan sangat lembut. Kyungsoo bahkan menahan tawanya sendiri ketika tangan Kai serasa menggelitik telapak kakinya namun ia memilih diam, takut bahwa Kai akan memarahinya. Meski jauh pada kenyataan bahwa jantungnya hampir meledak.
Ia kembali tertegun ketika Kai kini memakaikan sepatu yang tadi dikeluarkan dari dalam tas miliknya. Sepatu balet yang terbuat dari satin berwarna emas yang lembut. Menalikan tali pitanya pada pergelangan kaki Kyungsoo dengan Kuat. Membuat Kyungsoo meringis merasakan sakit oleh sepatu yang Kai gunakan kepadanya.
"Ini menyakitkan, apa tidak ada sepatu yang lebih besar? Aku tidak bisa merasakan jari-jariku." Komentar Kyungsoo.
"Sudah kubilang ini demi keamanan kakimu, Kyung," Kai memasangkan sepatu yang sama pada sebelah kaki Kyungsoo yang lain. "Selama latihan kau harus memakai sepatu ini dan kau harus terbiasa. Di penampilanmu nanti, kau akan menggunakan sepatu yang lebih menyakitkan daripada ini. Di naskah aku membaca bahwa kau harus melakukan pointe."
"Apakah itu sulit?" Tanya Kyungsoo, kini ia mulai mengerti kenapa Kai begitu mengkhawatirkan kakinya.
"Tentu saja. Aku bahkan membutuhkan waktu setahun untuk bisa melakukan itu. Bahkan aku sempat tidak bisa berjalan selama dua bulan karena cedera."
Kyungsoo langsung menelan ludahnya. Kai saja yang memiliki kemampuan untuk menari bisa cedera separah itu. Apalagi dirinya?
"Nah, kita bisa lakukan sekarang."
Kai langsung bangkit dan kini memakai sepatu yang sama, untuk pertama kalinya Kyungsoo melihat Kai mengenakan sepatu balet padahal biasanya ia hanya bertelanjang kaki saja—meski terlihat lebih sedehana tanpa tali pita. Kai seolah siap untuk melatih Kyungsoo namun berbeda dengan gadis itu yang kini duduk ragu.
Kai yang menyadari hal itu langsung berjalan menghampiri Kyungsoo dan menarik tangannya untuk berdiri. Ia masih menunggu Kyungsoo untuk mau mengikuti apa yang Kai arahkan, hingga akhirnya gadis itu menyerah dan berdiri. Kai bisa melihat raut kesakitan dari wajahnya yang meringis. Namun dengan hati-hati Kai masih mengarahkan Kyungsoo untuk berdiri dihadapannya di tengah-tengah studio.
"Cobalah biasakan kakimu untuk berdiri, itu akan memudahkanmu."
"Aku tidak tahu bahwa menari bisa semenyakitkan ini." Komentar Kyungsoo dengan ringisannya. Ia merasa jari kakinya kini menekuk.
"Hey!" Kai memanggilnya membuat Kyungsoo menatap Kai yang berdiri tepat dihadapannya dengan jarak yang begitu sangat dekat. "Lakukan apa yang aku arahkan dan kau akan aman, mengerti? Akan aku pastikan kakimu yang indah itu tidak akan terluka."
Kyungsoo tidak tahu apakah ia harus senang atau ketakutan saat ini. Senang karena Kai memperhatikannya atau malah takut karena bisa saja kakinya akan mengalami cedera parah. Butuh beberapa menit untuk Kyungsoo bisa meyakinkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
Kai tersenyum, sangat menenangkan dan itu membuat Kyungsoo merasakan jantungnya terus berdebar semakin kencang setiap saat.
"Arahkan kedua tanganmu pada bahuku, kita lakukan perlahan." Ujar Kai.
Kyungsoo mengikuti arahan Kai. Ia menempatkan kedua telapak tangannya pada bahu Kai. Tubuhnya bergetar ketika tangan Kai mencengkram halus pinggangnya. Kyungsoo mencoba mengalihkan pandangannya sebisa mungkin, kemanapun arahnya agar tidak menatap langsung mata Kai.
"Cobalah untuk berjinjit dengan ujung jari kakimu perlahan." Bisiknya membuat Kyungsoo kembali menelan ludah merasakan napas Kai pada lehernya. Dengan gugup Kyungsoo melakukannya perlahan, terus melakukannya dan semakin mencengkram bahu Kai ketika merasakan kesakitan luar biasa di ujung jarinya.
"Kuatkan tubuhmu untuk tetap seimbang, kau harus kuat, jadi biasakan dirimu agar sendimu tidak cedera."
"Aku merasa kesakitan di kakiku, entah yang mana." Ringis Kyungsoo mencengkram kuat bahu Kai.
Salah satu tangan Kai beralih pada perut Kyungsoo. Menekannya halus dengan sopan membuat Kyungsoo sejenak menahan napas karena sentuhan yang tiba-tiba itu.
"Rasakan otot perutmu, jangan semua tumpukan pada otot kakimu."
Meski Kai setengah gugup melakukan ini, tapi sebiasa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya. Ia harus melatih Kyungsoo dan membuatnya terbiasa. Tangannya yang tadi menyentuh perut Kyungsoo kini berlalih mencengkram pinggangnya untuk membuat Kyungsoo terbiasa berdiri tetap dengan ujung jari kakinya.
Kai berpikir Kyungsoo mungkin telah bisa menyeimbangkan tubuhnya kali ini. Namun ketika ia hendak melepaskan tangannya pada pinggang Kyungsoo, saat itu juga Kyungsoo kehilangan keseimbangan tubuhnya dan ia terjatuh. Beruntung Kai masih bisa menangkap tubuh Kyungsoo yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari hadapan Kai.
Lengan Kyungsoo tegelincir dari bahu Kai dan kini beralih memeluk leher pria itu. Jantungnya kian berdebar merasakan kedekatan seintim ini. Kyungsoo bisa mencium aroma parfum yang sama, khas seperti yang biasa Kai gunakan seperti di New York dulu.
Begitupun dengan Jantung Kai, ia yakin jantungnya tak berdetak dengan normal. Bahkan ia tidak bisa melakukan apa-apa ketika wajahnya maupun Kyungsoo hanya berjarak beberapa senti saja.
Dorongan aneh itu kembali lagi, dan semuanya berjalan begitu sangat cepat ketika dari tatapan mata mereka beralih saling menatap bibir masing-masing.
Kai tidak dapat berbohong bahwa ia rindu untuk merasakan bibir gadis itu kembali. Napas mereka saling berhembus membuat jantung mereka seolah siap untuk meledak kapan saja. Secara tak sadar, wajahnya mendekat dan menyamping. Gadis itu masih diam, menunggu hingga menutup matanya. Namun, sebelum Kai sempat merasakan bibir gadis itu, ia kembali mengingat Kyungsoo dan Chanyeol. Saat itulah ia sadar, siapa dirinya dan siapa Kyungsoo. Mereka tidak pantas untuk semua ini.
Dan dalam satu dorongan, Kai langsung melepaskan pelukannya secara halus dan melangkah mundur untuk menjauh dengan kikuk. Langsung melemparkan tatapannya kearah lain ketika menemukan tatapan Kyungsoo yang seolah bertanya apa yang terjadi kepadanya.
"Berhati-hatilah, aku hanya memberikan pengarahan kecil padamu. Kau bisa membiasakan diri untuk melakukannya sendiri." Ucap Kai dengan nada suara yang biasa, seolah beberapa menit yang lalu tidak ada yang terjadi di antara mereka bedua.
Kyungsoo masih terdiam mematung menatapnya dan itu semakin membuat Kai tidak bisa lebih lama lagi menatap Kyungsoo. Ia kini berbalik dan kembali meraih script tarian yang akan Kyungsoo lakukan. Berpura-pura mencari apa yang akan Kyungsoo latih nanti meski ia telah tahu di luar kepalanya. Ia hanya mencoba menghindar dari kenyataan saat ini.
Malam ini begitu sangat sepi. Kyungsoo memilih untuk pergi seorang diri daripada harus pulang dan mendapati rumahnya yang teramat kosong. Memang tidak benar-benar kosong namun rumahnya memang pantas di sematkan nama rumah kosong di halaman rumah. Kini ayahnya tengah pergi melakukan perjalanan bisnis bersama Chanyeol. Tentunya hari ini adalah waktunya untuk ia bebas dan bersenang-senang. Dan memilih sebuah pub yang biasa ia datangi.
Ia baru menyadari betapa bosan hidupnya ketika tidak ada sesuatu yang harus ia lakukan. Biasanya ia akan menhadiri acara-acara yang telah terjadwalkan apik. Namun karena ia harus mempersiapkan pernikahannya, semua jadwalnya sengaja dikosongkan selama dua bulan ini. Ya, meski hanya satu yang Kyungsoo lakukan di tengah kekosongan jadwal menyanyinya. Yaitu berlatih menari untuk penampilan operanya.
Kyungsoo menghembuskan napasnya berat dengan tangan juga kepalanya yang menumpu pada meja bar. Menatap lampu berkelap-kelip di sana yang tergantung tepat di tengah ruangan lantai dansa. Ia kembali teringat kejadian tadi siang, lagi dan lagi untuk kedua kalinya mereka hampir berciuman. Jika yang pertama Suho yag menggagalkannya dan kali ini Kai yang memilih mundur dan menjauhinya. Oh Tuhan, Kyungsoo seperti seorang gadis yang kehausan sentuhan. Meski jujur ia menginginkan Kai untuk benar-benar menciumnya, tetapi ia memilih diam ketika pria itu menjauh. Kyungsoo benar-benar tidak ingin dilihat seperti gadis yang memelas meminta ciuman. Apa yang akan Kai pikirkan nanti tentangnya?
Ia bersenandung, tanpa sadar menyanyikan sebuah lagu yang pernah ia nyanyikan di Central Park bersama Kai. Untuk beberapa saat ia menyanyikan beberapa lirik sebelum ia berhenti dan menggigit bibirnya. Reflection—baiklah tuan Kim. Kau benar-benar membuatku gila. Kyungsoo membatin, ia memperhatikan jam tangannya dan melirik waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Seharusnya kini ia pulang namun mengingat tidak ada ayahnya, ia lebih memilih tinggal lebih lama disini. Suho tidak akan mencarinya, lagipula sejak tadi siang pria itu meminta izin untuk menghadiri pernikahan temannya. Dan ia tidak peduli tentang orang-orang yang mungkin mengenalnya. Meski ia adalah seorang penyanyi terkenal, dia bukanlah seorang idol dari grup ternama yang selalu tampil di acara-acara musik televisi ataupun reality show. Kyungsoo adalah pekerja seni dimana ia lebih sering terlibat dalam acara konser klasik. Meski ia terkenal, namanya hanya dikenal oleh segelintir pencinta musik klasik dan orang-orang kelas atas—pengaruh dari keluarganya.
Ia menarik sebotol wisky sebelum menuangkannya penuh pada gelas, meminumnya dalam sekali teguk sebelum meringis dengan mata terpejam. Kyungsoo menyentuh lehernya. Tenggorokkannya seolah terbakar padahal biasanya ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Ia kuat minum tanpa kendala sama sekali tetapi kenapa kini tenggorokkanya teramat sangat perih. Semakin lama ia semakin tidak merasa nyaman dengan tenggorokannya sendiri.
Kyungsoo benar-benar kesepian. Setelah hidupnya yang memang monoton dan kini Kai seolah tengah menjauhinya. Ada apa? Itulah pertanyaan pertama yang ada dalam benaknya kali ini. Entahlah, pria itu seolah menjaga jarak dengannya, tak seperti dulu lagi. Ia merindukan Kai, tidak, lebih tepatnya ia merindukan ciuman itu. Dan Kyungsoo rasa ia semakin gila saja bila mengingat kembali bagaimana bibir itu seolah hampir menyentuh bibirnya. Bila Alkohol bisa menghapus semua pemikiran itu, Kyungsoo akan menghabiskannya sebanyak mungkin. Bagaimanapun caranya agar ia bisa lupa dengan ciuman itu.
Namun kali ini Kyungsoo tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia semakin banyak minum dan semakin mabuk. Ia tidak pernah separah ini sebelumnya tapi karena Kai, pria itu berhasil membuat Kyungsoo menjadi gadis kehilangan akal seperti ini.
Dengan mata hampir tertutup, Kyungsoo meraih ponselnya. Kepalanya yang terkelungkup di atas meja terus menggeser kontak nomor yang ada di dalam ponselnya. Ia terus memutarnya beberapa kali tanpa ada tujuan siapa yang harus ia hubungi. Namun kini matanya tertuju pada salah satu nama kontak dalam ponselnya, 'Chanyeol'.
Kyungsoo langsung menekan nomor itu meski sebenarnya ia benci harus mengubungi tunangannya sekarang. Entahlah, ia ingin sekali mendengar suara Chanyeol saat ini. Bodoh bukan?
Kyungsoo butuh waktu beberapa detik hingga panggilannya tersambung. Namun bukannya terhubung secara langsung, panggilan tersebut malah teralihkan pada pesan suara mengartikan bahwa pria itu benar-benar sosok pria yang sangat sibuk.
Bukannya mematikannya Kyungsoo justru memberikan pesan suaranya dengan setengah sadar.
"Hai Park, kau bisa memanggilku bodoh, tapi sialan! Aku ingin kau menciumku!" Ucapnya dengan suara yang terkesan sangat parau.
Hanya itu yang diucapkannya sebelum ia menutupnya dan kembali menjatuhkan ponsel di samping wajahnya yang tekelungkup. Apa yang telah ia lakukan? Bahkan Kyungsoo tak bisa berpikir-apa apa sekarang. Kyungsoo benar-benar berada dibawah kendali alkohol saat ini.
Sebelum matanya tertutup, lagi-lagi wajah Kai muncul di dalam pikirannya. Sial, bagaimana bisa pria itu terus menghantui pikirannya? Kini Kyungsoo kembali meraih ponsel yang ada disampingnya. Menggeser dan mencari nama yang ada dalam kontaknya sebelum berhenti pada satu nama—Kim Kai. Teringat bahwa pria itu telah menyimpan sendiri nomor miliknya pada ponsel Kyungsoo.
"Kau juga perlu memastikannya, aku hanya tidak ingin kau terluka." Tiba-tiba saja ia kembali mengingat apa yang dikatakan Suho kepadanya. Oh, haruskah?
Ia terdiam, menatap nama itu lekat-lekat. Entah sadar atau tidak, kini Kyungsoo menekan panggilannya dan bisa mendengar nada sambungan dalam panggilannya saat ini. Kyungsoo berharap bahwa Kai tidak mengangkat panggilannya sekarang.
"Halo, Kyungsoo?"
Sial, Kai benar-benar mengangkatnya!
Kyungsoo mengerjap perlahan membuka matanya. Ia meringkuk, seolah malas untuk bangun dari tepat tidurnya yang nyaman. Butuh waktu hitungan menit hingga ia sadar bahwa kini ia tengah berada d idalam kamarnya. Dengan malas ia mendudukkan tubuhnya. Saat itulah rasa pening di kepala menyerang hingga ia meringis kesakitan. Ia memijat perlahan pelipisnya dan memperhatikan kamarnya yang masih gelap. Hanya lampu tidur yang menyala, bahkan tirai jendela belum dibuka.
Ia bangun untuk membuka tirai itu. Menariknya hingga cahaya terang langsung menyinari kamarnya. Oh, sudah siang ternyata. Ia menghela napas ketika berbalik dan menemukan pantulan dirinya sendiri dari cermin. Masih menggunakan pakaian semalam dengan wajah yang berantakan. Sial, bahkan ia lupa menghapus make upnya. Tapi, tunggu. Kenapa ia bisa pulang dan berada di kamarnya?
Ia terdiam dan mencoba berpikir untuk menemukan jawaban. Namun sama sekali tidak ada petunjuk. Ia hanya ingat bahwa ia meinum terlalu banyak wisky di pub kemarin. Uh, pantas saja kepalanya pening sekali.
"Ehemm.." Tenggorokannya kembali sakit bahkan lebih perih. Oh Sial, apa mungkin karena wisky kemarin. Ia mencari air putih di dalam kamarnya sebelum ia ingat bahwa semalam ia tidak menyiapkan air untuk minum. Jangankan untuk menyiapkan, bagaimana cara ia kembali kerumah saja ia tidak ingat sama sekali. Uh, satu hal yang harus ia pastikan adalah orang-orang yang bekerja di rumahnya untuk tidak berani mengadu tentang kelakuan Kyungsoo tadi malam kepada ayahnya.
Dengan malas Kyungsoo langsung keluar dari kamar untuk mencari minum. Tenggorokannya membutuhkan sesuatu yang segar dan air putih adalah obat terbaiknya setiap ia tengah merasakan seperti ini. Ia baru saja menuruni anak tangga dari lantai kamarnya ketika mendengar suara sepatu pentopel yang begitu nyaring mendekat kearahnya.
Oh, apa mungkin Daddy telah pulang?
Kyungsoo merasa was-was dan berusaha mengendap-ngendap untuk berjalan menuju dapur. Namun sialnya, seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat ia terlonjak kaget dan hampir memekik karena rasa keterkejutannya.
"Oh ya Tuhan!" Teriak Kyungsoo ketika ia sadar bahwa orang yang telah membuatnya takut ternyata tidak lain adalah Suho. Sepupunya itu memang menyebalkan. Kyungsoo langsung menjauhkan tangan Suho dari bahunya lalu berjalan mundur menghadapnya. "Sedang apa pagi-pagi di rumahku, oppa? Tidak biasanya."
Suho mendesis. "Kalau kau tidak membuat masalah, aku tidak akan berada di sini sepagi ini bahkan hingga terpaksa menginap di rumahmu."
Kyungsoo mengernyit. "Oh.. ya ampun? Apa yang telah aku perbuat? Aku tidak melakukan apa-apa kan semalam? Kau tidak mengadu pada Daddy kan?" Bisik Kyungsoo setengah panik.
Bukannya menjawab, Suho malah berjalan melangkah menuju dapur. Kyungsoo masih mengekor dirinya dari belakang. Ia memperhatikan sikap Suho yang begitu sangat berbeda kali ini. Oke, pria itu pasti tengah kesal kepadanya. Tapi apa harus dengan cara mendiamkannya seperti ini?
Ketika Kyungsoo tengah menggerutu sendiri karena sikap Suho. Pria itu mendekat dan memberikan segelas air putih kepada Kyungsoo. Oh, Suho memang selalu mengerti apa yang di butuhkannya. Tanpa rasa bersalah Kyungsoo tersenyum dan menerima gelas tinggi berisi air putih itu. Sedangkan Suho masih menunjukkan wajah masamnya.
"Apa yang membuatmu hingga pergi mabuk-mabukan seperti itu?" Tanya Suho ketika Kyungsoo tengah meneguk air putihnya.
Kyungsoo melirik dari balik gelas bening yang tengah digenggamnya. Tidak menjawab sama sekali dan lebih memilih untuk meneguk airnya habis. Suho mendesah, ia ingin sekali memukul sepupu yang ada di hadapannya ini, jika ia bisa.
"Kalau bukan karena Kai yang menghubungiku. Aku mungkin tidak akan pernah tahu tentang keadaanmu malam itu, bahkan hingga mengurusmu. Uh, karena kau aku harus menutup mulut seluruh pelayan di sini agar merahasiakan kondisimu dari Ayahmu ketika pulang nanti."
"Apa?" Kini Kyungsoo bereaksi dan menyimpan gelasnya. Setelah mendengar nama Kai kini ia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Iya Kai, kau menghabiskan semalam di pub dengannya 'kan?" Tanya Suho penasaran. Namun Kyungsoo hanya menggeleng sama sekali tidak mengingat apapun. Apalagi tentang Kai. Menghabiskan semalaman di pub dengannya? Kyungsoo kini tengah berpikir keras untuk mengingat kembali kepingan memori semalam yang bisa saja menjadi petunjuk atas apa yang telah ia lakukan ketika ia mabuk kemarin.
"Oh iya, Chanyeol terus menghubungiku menanyakan keadaanmu. Dia terus bertanya kenapa kau tidak mengangkat panggilannya."
"Lalu apa yang kau jawab oppa?"
"Aku mengatakan kau sedang flu," jawab Suho membuat Kyungsoo mengernyit. Alasan yang tidak masuk akal. "Ini terakhir kalinya aku berbohong oke, sebaiknya kau meyakinkan Chanyeol sendiri bahwa alasan yang kuberikan memang nyata adanya. Terserah apa yang akan kau lakukan. Jika kau ingin seperti orang yang benar-benar terserang flu, aku akan membantu dengan memotongkan potongan bawang lalu memasukkannya ke hidungmu." Jelasnya kesal.
"Ah.. itu alasan terburuk yang pernah aku dengar." Sinis Kyungsoo. Kini pemikirannya kembali teringat akan Kai. Ia menggigit bibirnya ketika ia ingat bahwa ia sempat menghubungi Kai malam itu hingga akhirnya ia tidak ingat semua yang terjadi setelah itu. "Apa aku tidak melakukan kekacauan?"
"Tidak," Suho menyila kedua tangannya di bawah dada sebelum menatap Kyungsoo lekat-lekat. "Namun selain mengatakan terima kasih kepada Kai, kau harus meminta maaf."
"Huh? Kenapa?"
"Aku melihat muntahan menjijikan di kausnya, dan… kau sendiri pasti tahu siapa yang harus bertanggung jawab tentang itu."
"Apa?!"
To Be Continued
Late update lagi, tapi semoga masih gak bosen buat baca fanfic ini. Terima kasih yang masih setia dengan kisah Kyungsoo dan Jongin. Yang penasaran dengan Jongin, kehidupannya, latar belakangnya, apa dia masih pacaran ama Elena atau nggak, next chap ya~
Thanks for review, follow dan fav. Dari semua saran hingga dukungannya.
Arvita kim, In Cherry, Kim YeHyun, DKSlovePCY, Chanbaekhunlove, SNAmalia, jongdisoo, daebaektaeluv, winda fitria07, zharaayumediaanggraeni, Lovesoo, Insoo-nim, kyung1225, choidebwookyung1214, jongdisoo, rly, 12154kaisoo, Rahmah736, Kyungri, sebutsajamantan, chankaiya, 9493, sekyungbin13, Elysian Noceur, veronicayosiputri9, maki coco, hnana, viaerlyta.
Terima kasih untuk semua perhatiannya. Tunggu next full kaisoo chap depan ya~
Salam blossom~
