*TYPO nya mohon dimaafkan, ndak sempat ngedit

LIFE Chapter 7 : When they come to destroy our new life (Part 1)

Donghae memaksa pelayan rumah tangganya menyingkir, mengambil alih nampan berisi makanan yang hendak dibawa oleh ahjumma itu ke kamar ayahnya. Ia berniat menyuapi ayahnya makan hari ini, mencoba memperbaiki hubungan yang sedari dulu lenggang. Tuan Cho sedang tidak enak badan,semenjak mendapati putra bungsu kesayangannya menghilang kesehatan Tuan Cho menurun, seminggu lalu pria tua itu sudah mulai baikkan bahkan mampu bekerja di kantornya. Namun Tuan Cho kembali rubuh saat hendak melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Donghae masih dapat bernafas lega, karena dokter hanya mengatakan bahwa sang ayah kelelahan dan stress.

Tak perlu berpikir lama, semua ini karena Cho Kyuhyun yang tiba-tiba menghilang. Donghae pun tak tau kenapa dia menghilang dan kemana perginya anak itu. Lebih tepatnya, ia tak ingin tau. Ia merasa 3 minggu ini hidupnya sudah cukup baik tanpa kehadiran Kyuhyun dirumah mereka, ibunya sudah menetap di rumah mereka, Jungsoo hyungnya juga sudah tak begitu gila kerja seperti sebelumnya, mereka banyak menghabiskan waktu dirumah semenjak tak ada Kyuhyun. Hanya saja kesehatan ayahnya sedikit menurun, namun Donghae tak mau ambil pusing selama dokter berkata semua baik-baik saja.

Langkah Donghae yang hendak mengetuk pintu ayahnya terhenti saat ia mendengar suara dari dalam. Sepertinya Jungsoo hyung sedang berbincang dengan sang ayah, Donghae yang sebenarnya adalah anak yang sopan memilih menunggu, enggan menggangu mereka tapi secara tak langsung membuatnya menguping pembicaraan mereka berdua.

"Aboji, apa kau ingin aku membantumu mencarinya?" Donghae dapat mendengar suara hyungnya berbicara dari balik pintu.

"Tidak usah. Anak itu tidak terlalu jenius seperti kelihatannya. Bagaimana mungkin ia memilih kabur ke Korea, tempat dimana ratusan relasiku berada."

"Aboji tau keberadaannya? Ia berada di Korea?"

"Apa kau sudah puas Jungsoo? Anak itu sudah menuruti keingananmu dan eomma kalian. Dia kembali mengalah. Tapi appa begitu merindukannya."

"Aboji.."

"Aku tau semuanya Jungsoo. Ayahmu yang tua ini tak bisa kau bodohi. Appa tau bagaimana kalian mendiskriminasinya selama ini. Mungkin Kyuhyunie sudah bahagia sekarang, tak lagi hidup bersama orang-orang yang membencinya."

"Aku sudah bersabar, aku sudah membiarkanmu dan eommamu mengarang cerita bahwa ia anak haramku. Tapi, apa kalian tak merasa bersalah pada Donghae? Menanamkan kebencian tak berdasar dihati anak itu untuk adik kandungnya sendiri? Kyuhyun adalah anak eommamu, meskipun ia bukan berasal dariku, ia memiliki hubungan darah dengan Donghae. Ini tidak adil untuk mereka berdua Jungsoo. Sebegitu besarkah kebencian kalian pada anak tak berdosa itu?"

Dan Donghae tak dapat menahan berat nampan ditangannya saat mendengar semua percakapan itu, ia begitu terkejut dengan tubuh bergetar. Donghae merasa ini begitu mengerikkan. Donghae berharap itu semua bohong, atau setidaknya telinganya salah mendengar.

Suara nampan beserta makanan yang jatuh beradu dengan lantai marmer mampu membuat Jungsoo dan Tuan Cho terkejut. Donghae memilih segera berlari menjauh.

Cho Donghae tak menyangka, 15 tahun ia hidup dalam kebohongan. Donghae tak tau dan tak ingin tau kenapa Ibunya dan hyungnya tega ikut menjerumuskannya dalam kebencian tak berdasar. Alasan Donghae membenci sang adik adalah karena selama ini ia mengira Kyuhyun adalah anak haram ayahnya, sehingga hubungan ayah dan ibunya tak lagi seharmonis dulu. Tapi kini Donghae paham, kenapa Kyuhyun mendapatkan cinta yang begitu besar dari sang ayah.

.

.

.

Hari pertama tahun ajaran baru sudah dimulai. Kyuhyun memasuki kelasnya dengan lesu. Ia merasa kesal dan tidak adil. Kibum dan Ryeowook berada dikelas yang sama. Hanya dia yang berbeda, padahal Kyuhyun sudah begitu yakin mereka akan satu kelas, mengingat mereka bertiga sama-sama pintar. Tapi harapan Kyuhyun pupus saat mengetahui sekolah ini tak menerapkan sistem seperti itu, tak ada kelas favorite, semua dibagi rata. Sehingga didalam sebuah kelas tercipta sebuah gap yang besar, ada siswa yang begitu pintar dan disisi lain ada juga yang begitu bodoh, ada juga yang rata-rata.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, tak ada bangku lain selain dibagian belakang, semua orang berebut ingin duduk dibagian depan. Akhirnya Kyuhyun memilih meja pojok belakang bagian kanan disamping jendela. Kyuhyun duduk diam memandang keluar jendela menunggu seorang guru datang, seisi kelas sibuk berkenalan satu sama lain, tapi Kyuhyun memilih menyendiri, masih kesal karena tak bisa satu kelas dengan Kibum ataupun Ryeowook.

Mengingat Kibum dan Ryeowook membuat senyum tipis terukir diwajah Kyuhyun. Semenjak kejadian ia sakit minggu lalu, hubungannya dengan Kibum mulai berangsur membaik. Adu mulut satu sama lain tak menghilang, tapi kini konteksnya berbeda, mereka lebih sering adu mulut untuk mengejek satu sama lain, hanya bermain-main tak seperti dulu yang selalu berkata tajam dan menatap dingin satu sama lain. Begitu juga dengan Ryeowook, hubungan mereka bertiga kini semakin dekat, mereka bahkan sudah menghilangkan suffix 'ssi' saat berbicara satu sama lain, berbicara informal seperti teman pada umumnya.

Kegiatan senyum-senyum sendirinya berhenti saat seseorang menepuk pundaknya, Kyuhyun melihat seeorang pemuda kelewat tinggi berdiri menatapnya sambil tersenyum ramah, cenderung terlalu lebar, Kyuhyun sampai khawatir orang itu dapat merobek mulutnya sendiri, ah Kyuhyun terlalu berlebihan.

"Boleh aku duduk disampingmu? Semua kursi sudah penuh." orang itu menunjuk kursi disampingnya yang kosong.

Kyuhyun mengangguk membolehkan.

"Terimakasih. Shim Changmin imnida." Orang itu segera duduk disampingnya, setelahnya memperkenalkan diri sambil mengangsurkan tangannya, bermaksud berjabat tangan. Sangat ramah, itulah kesan pertama Kyuhyun melihatnya.

"Cho Kyuhyun." Kyuhyun membalas jabatan tangannya sambil tersenyum tipis. Kyuhyun pada dasarnya memang anak yang friendly.

"Kau tak mengenalku?" orang itu bertanya setelah melepas tangannya.

Kyuhyun mengeryitkan kening, memangnya orang ini siapa, artiskah? Oh sial, Kyuhyun sangat jarang menonton tv selama di Korea. "Maaf…"

"Aku Shim Changmin, yang kemarin berpidato dalam acara penyambutan siswa baru. Aku peringkat ketiga dalam ujian masuk sekolah."

"Oh.." Kyuhyun mengangguk, pura-pura mengingat, karena sebenarnya ia tak ingat sedikitpun, lebih tepatnya tak tau karena ketika acara penyambutan itu Kyuhyun asyik bermain PSP dikursi paling belakang.

"Kau Cho Kyuhyun si peringkat satu kan?" Changmin bertanya antusias.

Kyuhyun hanya mengangguk canggung, sedikit tak nyaman dipanggil dengan sebutan itu.

"Yak, kau harus bertanggung jawab. Karena kau dan Kim Kibum si peringkat dua itu, aku terpaksa begadang semalaman kemarin lusa menyiapkan pidato penyambutan. Karena kalian berdua menolak berpidato, pihak sekolah mendadak menyuruhku berpidato! Aih kenapa juga kalian harus menolak!" Changmin berucap dengan emosi yang meluap, tapi entah mengapa ekspresinya itu terlihat begitu lucu dimata Kyuhyun.

"Maaf.." Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, merasa sedikit bersalah.

"Maaf kuterima, asalkan kau mau menjadi temanku."

Dan akhirnya, Kyuhyun mendapat teman pertamanya dikelas ini.

.

.

.

Kyuhyun, Kibum dan Ryeowook kini duduk bersama dimeja makan. Seragam sekolah belum mereka lepaskan. Masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum Kibum dan Ryeowook memulai pekerjaan part time mereka. Kibum memutuskan untuk berhenti dari 2 pekerjaan part timenya karena sekolah, kini ia hanya bekerja di dua tempat saja, tetap saja itu membuatnya harus pulang larut bahkan terkadang dini hari. Ryeowook sendiri memutuskan untuk mengambil shift sore semenjak sekolah. Sedangkan Kyuhyun, ia masih melanjutkan kelasnya di salah satu bimbingan belajar terkemuka seperti sebelumnya. Jiwa kompetitifnya tak berkurang, singkatnya Kyuhyun senang menjadi orang pintar.

Bukannya makanan, didepan mereka justru terdapat masing-masing sebuah kertas biodata-perkenalan diri dalam bahasa inggris yang wajib mereka isi.

"Kalian juga diajar oleh Sungmin songsaenim? Aku kira hanya kelasku yang diberi lembar biodata seperti ini." Kyuhyun berucap cemberut.

"Kita sudah berada ditingkat senior high school, aku tidak menyangka jaman sekarang masih disuruh menulis hal-hal seperti ini. Apa ini? alasan sekolah? Motto hidup? Cita-cita? Aish kalian tau? Terakhir kali aku mengisi ini ketika berada di kindergarten." Kyuhyun masih melanjutkan ocehannya. Sebulan hidup bersama Kyuhyun membuat Kibum dan Ryeowook hapal betul kebiasan Kyuhyun yang suka protes akan ini dan itu, keduanya juga mau tak mau mulai membiasakan diri mendengarnya.

"Kau sudah menulis perkenalan diri dalam bahasa inggris di taman kanak-kanak? Hebat sekali, kau bersekolah dimana Kyuhyun?" Kibum coba memancing Kyuhyun.

"Maksudku, form dalam bahasa korea. Hehe." Jawab Kyuhyun tersenyum canggung, Kibum dapat melihat secara jelas ada sesuatu yang ditutupi Kyuhyun.

"Kudengar selain guru bahasa inggris, Sungmin songsaenim juga seorang guru konseling, mungkin ia ingin mengenal muridnya lebih jauh. Ah sudahlah, kita hanya perlu menulis saja kan? Ini bukan seperti kita tak bisa berbahasa inggris. Ayo tulis punya kita masing-masing." Ryeowook menyudahi obrolan ini, ketiganya kini mulai menulis biodata mereka di form tersebut.

Ryeowook melirik Kibum yang menulis dalam diam. Ia sedikit tertarik saat melihat Kibum mengosongkan kolom Mother di form miliknya. "Kau mengosongkan kolom ibu?" Ryeowook bertanya penasaran.

"Ibuku sudah meninggal. Setidaknya itu yang dikatakan ayahku." Jawab Kibum santai. Kibum berhenti menulis, melihat Ryeowook dan Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan pandangan yang tak dapat ia artikan. Kibum tak yakin itu tatapan kasihan dan Kibum yakin juga itu bukan tatapan mengejek.

"Wae? Kalian merasa kasihan?" tanya Kibum.

Kyuhyun diam sedangkan Ryeowook menggeleng. "Oh.. jadi begini ya perasaan orang-orang ketika aku menjawab aku tak punya orang tua. Ei Kibum, kau sedikit beruntung karena punya ayah. Hehe." Jawab Ryeowook sambil tersenyum.

Ketiganya kembali fokus menulis biodata mereka. Namun ketika sampai di kolom cita-cita, mereka berhenti secara bersamaan. Kyuhyun tertawa saat menyadari kedua teman nya ini juga sama berhenti di kolom cita-cita.

"Hei, bukankah ini lucu. Kita yang sudah belasan tahun tapi tak punya cita-cita. Haha." Kyuhyun berucap sambil tertawa geli.

"Sewaktu kecil aku mau jadi idol. Tapi ketika tumbuh besar aku yakin dengan wajah seperti ini , itu bukanlah cita-cita yang bisa diwujudkan. " Ryeowook tertawa mengejek dri sendiri.

"Bolehkah aku menulis Be a richest man disini?" Kibum berucap, ucapannya itu semakin membuat Kyuhyun dan Ryeowook tertawa geli. Entahlah, dari dulu Kibum tak punya cita-cita yang spesifik, tujuan hidupnya adalah ingin menjadi orang kaya, hanya se simple itu.

"Kalau begitu aku akan menulis be a happiest and peaceful." Kyuhyun menyahut. ketiganya semakin tertawa mendengarnya. Cita-cita Kyuhyun bahkan jauh lebih simple.

Kibum berhenti tertawa ketika merasa ponsel disaku celananya bergetar. Saat hendak menjawab panggilan, tidak ada Id penelepon sehingga membuat Kibum ragu untuk menjawab dan berujung membiarkan panggilannya terhenti sendiri, namun si penelepon kembali menghubunginya. Akhirnya Kibum menjawab, mungkin ini sedikit penting.

"Yoboseo."

Baru beberapa detik mendengarkan si penelepon di ujung sana. Tubuh Kibum sudah gemetar ketakutan, membuat Ryeowook dan Kyuhyun menatapnya dengan khawatir. Kibum menjatuhkan ponsel ditangannya, tangannya begitu gemetar setelah itu. Kyuhyun dan Ryeowook semakin bingung melihatnya.

"Kibum-ah. Gwenchana?" tanya Ryeowook khawatir.

Mimpi buruk Kibum kini mulai kembali, Kibum mengepalkan tangannya, berusaha membuat tangan itu berhenti bergetar. Tanpa mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai, Kibum segara bangkit, bergegas cepat keluar rumah. "Kibum kau mau kemana?" Kibum menghiraukan panggilan Kyuhyun, ia terus bergegas keluar rumah.

"Aku akan menyusulnya." Kyuhyun berucap kearah Ryeowook sambil mengambil ponsel Kibum yang tergeletak di lantai.

Ryeowook mengangguk "Cepatlah, Aku harus bekerja, tak bisa ikut." Ryeowook pun cukup khawatir, tak biasanya Kibum seperti itu.

Kibum menghentikan taksi dan segera berlalu. Tak meyadari Kyuhyun mengikutinya dibelakang dengan taksi yang berbeda.

.

.

Kibum berlari setelah turun dari taksi. Tidak peduli dengan supir taksi yang berteriak tentang uang kembalian, Kibum bahkan tak memikirkan uang dalam kondisi seperti ini. Kibum bergegas ke bagian informasi, bertanya dengan tak sabaran kepada seorang noona petugas tentang dimana seorang pasien dengan nama Kim Jongmin dirawat. Kibum kembali berlari cepat saat mendapat informasi dimana ruangannya, tak perduli dengan pekikan kesal orang-orang yang hampir dia tabrak, juga tak menyadari seorang Kyuhyun yang kepayahan mengikuti dibelakangnya.

Disinilah Kibum, di depan sebuah ruang ICU. Yang Kibum paham tentang ruangan ini adalah tempat dimana orang-orang membutuhkan perawatan intensif. Singkatnya Kibum tau ayahnya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

Kibum menatap seseorang yang sedang tersenyum mengejek kearahnya. Orang ini, mimpi buruk seorang Kim Kibum. Tanpa rasa takut Kibum melangkah maju dan mendorong orang itu, tak cukup untuk membuat orang itu terhunyung, mengingat betapa kekarnya tubuh pria didepannya. Kibum menampar pria dihadapannya dengan kasar. "Berengsek, apa yang kau lakukan pada ayahku Choi Siwon?"

Siwon kembali tersenyum mengejek saat merasa sedikit perih dipipinya akibat tamparan Kibum. Ayolah, itu tak seberapa sakit, ia menikmati ini. Ekspresi kemarahan Kibum dan juga ketakutannya yang bercampur tergambar jelas diwajah remaja yang membuat ia terobsesi ini.

"Kau tau Kibum? Susah membawa orang koma pindah dari rumah sakit satu kerumah sakit lainnya. Aku mengeluarkan banyak uang untuk itu." Ucap Siwon, Kibum masih terus menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Salahmu karena sudah bermain-main dengan orang sepertiku." Bisik Siwon ditelinga Kibum, Siwon semakin senang saat melihat tubuh anak itu mulai gemetar.

Masih dengan berbisik ditelinga Kibum, siwon melanjutkan ucapannya "Kau tak ingin melihat kondisinya? Ayahmu mendapat kecelakaan kerja dipabrikku, tapi kau pasti sudah tau bahwa ini bukan kecelakaan biasa."

Kibum mengepalkan tangannya menahan amarah, Kibum ingin menangis sungguh, ia tak menyangka ahjussi ini akan sampai sejauh ini. Ayahnya harus menjadi korban, berjuang antara hidup dan mati karena dirinya yang kabur sebulan lalu. Masih dengan nafas memburu karena marah, Kibum segera menghentikan seorang perawat. Bertanya dimana ia bisa mendapatkan baju pelapis untuk masuk keruangan itu.

Kyuhyun bersembunyi dibalik dinding memperhatikan mereka, ia tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan, karena ahjussi itu sendiri berbicara dengan berbisik. Tapi yang Kyuhyun paham, ayah Kibum sedang dirawat diruang ICU dan ini bukan masalah sepele, melihat bagaimana Kibum marah dan menampar ahjussi didepannya, Kyuhyun menyimpulkan ada suatu masalah diantara mereka berdua.

.

Tak sampai 15 menit, Kibum sudah keluar. Kibum tak tahan sungguh, melihat tubuh ayahnya terbujur tak berdaya diranjang pesakitan dengan dipenuhi alat-alat medis membuat rasa bersalah menyeruak memenuhi hatinya. Semua ini karena dirinya.

Siwon menghampirinya. "Aku masih belum mencabut tawaranku Kibum, bahkan kini tawaranku semakin bertambah. Selain menganggap hutang ayahmu lunas, aku akan merelakan uang yang kukeluarkan untuk biaya rumah sakit pria tua itu selama ini, ah dan aku akan membayar biaya perawatan ayahmu disini. Bagaimana masih ingin menolak?"

Kibum tak menjawab, remaja itu memejamkan matanya menahan marah dan tangis.

"Kau tau jika kau menolak hutangmu akan semakin bertambah, kau juga tak tau kapan saja alat-alat medis itu dicabut dari tubuh ayahmu."

Kyuhyun keluar dari tempat persembunyiannya. Bukan maksud tak sopan dan ikut campur. Tapi Kyuhyun benar-benar khawatir akan kondisi Kibum. Temannya itu pasti begitu terguncang akan kondisi ayahnya yang sakit, dan sedikit paham Kyuhyun tau Kibum sepertinya memiliki hutang dengan ahjussi didepannya.

"Kibum-ah, Gwenchana?" Kyuhyun berjalan kearah Kibum.

Kibum terkejut mendapati Kyuhyun berada disini. "Kyuhyun.. bagaimana bisa kau disini?" tanya Kibum gugup.

"Aku mengikutimu, aku sangat khawatir. Kau bahkan meninggalkan ponselmu, Kibum-ah." Kyuhyun menunjukkan ponsel Kibum ditangannya.

"Tunggu dulu, siapa ini? Kim Kibum, kau ternyata memiliki teman yang cukup manis." Siwon memandang Kyuhyun dari atas sampai bawah,cukup tertarik dengan remaja yang berstatus teman Kibum ini. Ia tak berbohong tentang manis, teman Kibum ini memang memiliki wajah yang manis menurutnya. Hanya bermain-main sebentar untuk memancing kembali ketakutan Kibum.

"Jangan libatkan dia. Masalahmu denganku Choi Siwon." Kibum berucap tajam memperingatkan. Ia segera merebut ponselnya dari tangan Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah, kau pergilah pulang. Aku ada urusan dengan ahjussi ini." Kibum sadar Kyuhyun memiliki wajah yang manis, bukan tak mungkin Siwon akan tertarik dengan temannya yang satu ini. Dan Kibum tak akan pernah membiarkan itu terjadi, ini masalahnya, ia tak ingin menyeret siapapapun dalam masalahnya.

"Anio, aku bisa menunggumu." Kyuhyun menolak, Kyuhyun sungguh khawatir.

"Pergilah! Kau ini kenapa begitu ikut campur!" Kibum tak sadar membentak Kyuhyun, Kyuhyun cukup terkejut dibuatnya. Mengingat bagaimana hubungan mereka seminggu ini sudah jauh membaik.

"Anio, katakan padaku siapa ahjussi ini!" Kyuhyun memang keras kepala.

"Dia rentenir penagih hutang. Pulanglah Kyuhyun!" Jawab Kibum asal. Siwon tertawa geli sambil mengejek mendengarnya.

Kibum menatap Siwon. "Bukankah ada yang mau kau bicarakan denganku? Kita bisa pergi kesuatu tempat."

Masih dengan senyum mengejeknya, Siwon merangkul pundak Kibum, berjalan Kyuhyun begitu saja. Entah dia akan dibawa kemana, Kibum pasrah.

Sedangkan Kyuhyun hanya mampu menatap khawatir Kibum dan ahjussi bernama Choi Siwon itu berlalu. Kibum sudah berkata seperti tadi, berarti ia benar-benar tak boleh mengikutinya lagi.

'Semoga ahjussi rentenir itu menagih hutang Kibum dengan cara yang baik, semoga ia tak memukulinya. ' Kyuhyun dengan polosnya berdoa dalam hati. Melihat drama taiwan yang selalu ditonton ahjumma yang mengurusnya nya di China membuat Kyuhyun sedikit tau bagaimana watak rentenir pada umumnya.

.

.

.

Kyuhyun sudah menceritakan apa yang dilihatnya dirumah sakit kepada Ryeowook. Dan kini kedua anak lelaki dibawah umur itu duduk diam disofa ruang tengah dengan cemas, malam sudah begitu larut, tapi Kibum tak kunjung pulang juga. Ini rumit, mereka kini tau kenapa Kibum bekerja segila itu. Mereka sedikit tak menyangka Kibum hidup dengan dikejar-kejar rentenir.

Kyuhyun dan Ryeowook yang saling menunggu dalam diam sedikit terkejut saat melihat Kibum berlalu begitu saja dengan pandangan kosong memasuki kamarnya dan Ryeowook. Kyuhyun dan Ryeowook berpandangan sesaat, setelahnya mereka segera menyusul masuk. Menemukan Kibum tengah duduk meringkuk disamping kasur, wajahnya ia sembunyikan didalam lipatan lutut. Tak ada ekspresi lain diwajah Ryeowook dan Kyuhyun selain iba. Kyuhyun segera melangkah mendekat, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Kibum.

"Kibum-ah Gwenchana?" Kyuhyun menepuk pundak Kibum pelan.

"Keluarlah, aku ingin sendiri." Masih menyembunyikan wajahnya, Kibum berucap dingin.

Ryeowook segera menurut untuk keluar, tapi tidak dengan Kyuhyun. Kyuhyun memberi isyarat agar Ryeowook menutup pintu, meninggalkan dirinya berdua dengan Kibum.

Kyuhyun memaksa mengangkat wajah Kibum, tapi Kibum menolak, pemuda itu terus dalam posisnya tadi, menenggelamkan wajah dalam lengan yang ia letakkan diatas lutut. "Kibum-ah, lihat aku. Bagilah sedikit masalahmu denganku. Berapa banyak ayahmu berhutang? Aku akan membantumu sebisaku." Kyuhyun memeluk Kibum dengan erat. Kyuhyun terkejut saat tubuh dalam pelukannya tiba-tiba bergetar hebat.

"Aku takut Kyuhyun.. tolong aku." Ungkap Kibum dengan suara lemah.

"Dimana lagi aku harus bersembunyi? Bagaimana caranya agar aku bisa lepas darinya? Bagaimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu?" Kibum mulai meracau dengan tubuh yang tak berhenti bergetar.

"Kau kenapa Kibum? Tenanglah.. kenapa tubuh bergetar seperti ini?" Kyuhyun melepaskan pelukannya, sedikit susah ia berhasil membuat Kibum mengangkat wajahnya. Dan Kyuhyun begitu terkejut, melihat sosok yang selama ini terkesan kuat dan dingin itu bersimbah air mata. Kibum membuka topengnya, inilah ia yang sebenarnya, dan beginilah seharusnya ia yang sebenarnya, remaja 16 tahun memanglah mesti bersikap seperti ini jika memikul masalah hidup yang berat sepertinya.

"Eotokhe? Dia menemukanku Kyuhyuun, Eotokhe?" Kibum menatap Kyuhyun dengan pandangan putus asa, wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat, ditambah suara parau pemuda itu. membuat Kyuhyun semakin merasa iba sekaligus bingung.

"Kita akan menghadapi rentenir itu bersama, tenanglah Kibum, berhentilah bergetar seperti ini. kau membuatku khawatir." Kyhuyun mengusap-usap punggung Kibum mencoba menenangkan.

Kibum menggeleng lemah. Ia menatap Kyuhyun dalam, tubuhnya sudah mulai berhenti bergetar, tapi raut ketakutan itu tak sedikitpun berkurang dari wajahnya. "Tidak, orang itu bukan rentenir. Ia monster, orang itu monster. Dia menginginkanku, dia ingin tubuhku." Kyuhyun sontak berhenti mengusap punggung Kibum, ia begitu terkejut dengan apa yang barusan didengarnya.

"Apa yang harus kulakukan? Kemana lagi aku harus kabur? Orang itu hampir membunuh ayahku, bagaimana dengan ayahku?"

Dan akhirnya Kyuhyun paham, masalah Kibum tak sebatas soal hutang. Namun lebih rumit dari itu.

Kyuhyun kembali menarik Kibum dalam pelukannya, walaupun terkejut dan bingung, Kyuhyun kembali mengembalikan posisinya untuk mencoba menenangkan pemuda itu.

.

Kim Kibum,

Ingin kutarik dirimu, berbagi perlindungan dibawah payung yang kupunya

Agar kau tak lagi merasakan bagaimana tajamnya tetesan air hujan menusuk kulitmu

Atau setidaknya ingin kuberi sebagian apa yang kupunya

Agar kau bisa memiliki payung mu sendiri

Karena sungguh, menyedihkan melihat kau bertahan dengan segala keterbatasanmu.

Tapi Kibum, ini begitu rumit. Aku mungkin lebih beruntung, tapi hidupku tak jauh lebih baik darimu. Sehingga aku tak yakin aku mampu melakukannya.

.

Kyuhyun tak mengerti, yang ia tau hidupnya tak seperti remaja normal. Kyuhyun merasa hidupnya paling menderita. 15 tahun hidup ia habiskan ditengah keluarga yang tak mengharapkan kehadirannya, dan sekarang ia merasa semakin menderita karena harus bertahan setelah disingkirkan. Banyak waktunya ia habiskan untuk mengutuk hidupnya. Membenci takdir yang mengharuskan ia bertahan meski itu sakit. Kyuhyun benci dengan motto hidup yang mau tak mau wajib selalu ia pegang teguh Bear with it, even if it hurts.

Tapi hari ini, Kyuhyun menyadari, ia terlalu sibuk mengutuk takdirnya. Ia yang tumbuh di lingkungan, dengan teman-teman dan dalam keluarga konglomerat tak pernah tau bagaimana susahnya orang-orang yang berbeda kasta menghadapi masalah yang sejenis dengan miliknya seperti Kibum. Katakan mereka memiliki masalah hidup yang sama-sama rumit.

Tapi Kyuhyun setidaknya hidup dicukupi segala materi yang ia punya. Kyuhyun tak perlu merasakan bagaimana rasanya berjuang dan bertahan sambil menangis karena keterbatasan seperti yang dialami Kibum. Hari ini, untuk pertama kalinya, Kyuhyun sedikit bersyukur akan hidup yang dijalaninya.

Kyuhyun melirik orang disampingnya, setelah menenangkan Kibum dan berhasil membuat pemuda itu tertidur. Dirinya disuguhi pemandangan seorang Ryeowook tengah menatap kosong layar hitam telivisi yang dalam keadaan mati.

Kyuhyun tak mengerti, yang ia kira selama ini Ryeowook seseorang yang memiliki empati yang tinggi, tapi setelah ia menceritakan apa yang diketahuinya tentang Kibum tadi, Ryeowook memberikan respon yang sedikit berbeda dengan responnnya. Ryeowook terkejut tentu saja, tapi tak berkomentar terlalu banyak, Kyuhyun melihat presentase kekhawatiran yang dimiliki Ryeowook tak sebanyak dirinya.

"Eoh Kyuhyun, sejak kapan kau duduk disini? Bagaimana Kibum? Apa ia sudah tenang?"

"Aku mendengarnnya tadi. Ini lebih rumit dari yang kita kira Kyuhyun-ah. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya?"

Kyuhyun tak menjawab, pandangannya jatuh ke wajah orang disampingnya. Lurus menatap seorang Kim Ryeowook 'Kim Ryeowook apa kau juga hidup dengan masalah yang tak jauh berbada dari kami?' dan Kyuhyun hanya mampu menggumamkan pertanyaan itu didalam hati.

Seorang remaja realistis seperti Kyuhyun hanya belum menyadari mereka semua sama. Sama-sama memiliki latar belakang yang cukup rumit. Sama-sama menutup rapat diri mereka, sama-sama membangun dinding untuk menyembunyikan masa lalu yang kelam. Kini ia bisa sudah setengah jalan melewati dinding yang dimiliki Kibum, tapi bagaimana dengan Ryeowook? Dan bagaimana dengan dirinya sendiri?

.

.

.

TBC

Sudah saya coba tapi tetep aja sussahh, meskipun main castnya kyubumwook, tangan saya ngetiknya selalu nge bias ke kyu.

Review ditunggu

Makasih yang udah follow, favorite, review atau sekedar numpang baca aja. Terimakasih semua . :) meskipun nampaknya peminat ff ini sedikit, tidak apa-apa, saya akan tetap melanjutkan. :)

.

.

.

Bocoran next Chapter :

"Kim Ryeowook, sudah lama tak bertemu."

"Ibuku. Aku melihatnya Kibum."

/

"Aku sudah mengalah, aku sudah menyingkir. Apa itu belum cukup untuk kalian?"

"Kenapa kau mengirim orang untuk memastikan aku tak kembali? Kenepa sampai sejauh ini kau menyakitiku? Kau tenang saja hyung, aku takkan kembali."

"Cho Kyuhyun, setiap aku melihatnya, aku selalu merasa bahwa ia sepeti orang yang selalu hidup dengan segala kemudahan , seperti pangeran yang dibesarkan dikeluarga kaya dan sempurna."

"Ia memang pangeran, pangeran yang disingkirkan."