Dark Side

.

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Cast: Kim Jongin, Xi Luhan, Oh Sehun, etc.

Genre: Crime, Romance

Rate: M

Warn: Yaoi, Boys Love.

.

Typo betebaran dimana mana, ga sesuai EYD.

.

Ps: Fanfic ini terinspirasi dari Black Organization dalam manga Jepang Detective Conan, hanya mengambil dari beberapa karakter dalam manga tersebut. Untuk alur dan cerita akan sedikir berbeda.

.

.

.

.

Chapter 8: The New Plan.

.

.

.

.

Chanyeol terduduk dengan gagahnya di balik kursi besar bak singgasana, dengan gusar ia mengacak ngacak tablet berukuran 7 inc itu, berharap bahwa rencana pencarian salah seorang anggotanya dapat berhasil kali ini.

Ini adalah hari ketiga Baekhyun hilang dari peredaran, bahkan organisasi sehebat yang Chanyeol pimpin pun masih belum bisa mencari dimana keberadaan lelaki mungil yang membuatnya seperti orang gila ini. Sudah seluruh rumah sakit di kota Tokyo yang ia jamah melalui bawahannya, tapi tak ada satu tanda tanda pun bahwa Baekhyun di sembunyikan si salah satu rumah sakit itu. Lalu dimana sekarang Baekhyun berada? Lagi lagi otak liarnya berfikir secara tidak rasional. Entahlah, ia begitu takut kalau seandainya Baekhyun benar benar tenggelam dalam rasa sakit, hingga tak bisa bertahan lagi. Semoga saja itu hanya asumsi Chanyeol semata.

"Hyung, kau tidurlah dulu sebentar, lihat kantung matamu bahkan mempunyai kantung mata sekarang" Desak Jongin yang berada di ruangan kakaknya.

Chanyeol hanya terdiam, lagi lagi wajah Baekhyun terlintas dalam ingatan. Bagaimana lelaki manis itu tersenyum dengan begitu indahnya, membuat mata siapa saja dapat dengan mudah jatuh cinta padanya.

Sejak Baekhyun menghilang, Chanyeol memang membatalkan segala jenis eksekusi yang berkaitan dengan organisasi. Ia lebih mementingkan pencarian Baekhyun, karna Chanyeol tak mungkin melepaskan begitu saja apa yang cari selama ini, mungkin organisasipun taruhannya. Terlihat berlebihan memang, tapi itu akan menjadi sah-sah saja sika kau terhipnotis oleh kekuatan cinta. Ya, cinta memang selalu membuat buta bukan?

Tanpa menghiraukan teguran Jongin, kaki panjang Chanyeol berjalan keluar dari ruangan pribadinya.

Jongin yang tau di hiraukan pun mengikuti kemana arah langkah hyungnya pergi. Keduanya diam, tak lagi bicara apapun. Dan dengan cepat Jongin bisa menebak kemana Chanyeol akan pergi.

Tepatnya mereka berdua telah sampai dindepan mobil hitam klasik kesayangan Chanyeol. Tubuh tinggi itu berhenti sejenak, dan Jongin langsung bergegas menuju pintu kemudi dan membukanya perlahan, seperti slow motion.

"Berhenti disana!"

Chanyeol bedesis layaknya seroang anaconda dengan tatapan mengerikan dari mata besarnya. Loh? Memang apa salah Jongin? Ia hanya ingin mengemudikan mobil ini untuk Chanyeol. Biasanya juga seperti itu.

"Tak usah mengikutiku!"

"Heeee?" Jongin melongo.

Chanyeol dengan gerakan cepat ternyata sudah berada di depan pintu kemudi dan menggeser tubuh Jongin secara kasar. Ia bertekad untuk mencari Baekhyun menggunakan tangannya sendiri. Karna ia yakin Baekhyun masih hidup.

"Hyung, kau pasti akan lepas kendali jika sendirian. Kau tau orang-orang di luar sana pasti akan mengetahui siapa kita, lebih baik ku temani"

Jongin berkata dengan tulusnya, sebab kejadian seperti ini pernah terjadi. Saat Jongin pernah di jebak dan di sandra oleh sekelompok organisasi lain di Korea dulu. Chanyeol adalah tipikal orang yang tak bisa mengontrol emosinya dengan baik, maka jika ia terlalu emosi, keluarlah jiwa lucifer yang bersemayam dalam tubuh tingginya. Ia bahkan dengan mudahnya membakar semua jiwa yang berada di dalam suatu lingkungan hanya untuk menggapai apa yang ia inginkan.

"Aku tidak akan membakar rumah sakit dimana Baekhyun di rawat. Kau pikir aku sudah gila?"

"Kau bahkan lebih dari gila Park!"

Jongin melengos pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam. Setidaknya Jongin percaya pada kakak satu-satunya itu. Ia hanya ingin mencari Baekhyun, cinta pertamanya yang hilang.

.

.

.

.

.

Di dalam ruangan serba pucat yang khas itu, terdapat seorang lelaki mungil yang tergolek tak berdaya. Wajah putih pucatnya kini tergores oleh beberapa luka kecil yang tak berefek pada wajah cantiknya. Lelaki mungil itu terpejam, seolah ia adalah seorang putri tidur yang menantikan pangeran datang menciumnya. Lalu ia terbangun dengan wajah yang beseri, melihat cinta sejatinya datang dengan gagah dan memeluknya dalam dekapan yang begitu hangat.

Sudah tiga hari lamanya Baekhyun tertidur dengan nyenyaknya, dan sudah tiga hari pula lelaki tinggi berwajah tegas itu merawatnya tanpa jenuh.

Sesekali ia berganti dengan kawannya yang berprofesi sama. Menjaga Baekhyun 24jam, seolah Baekhyun adalah gucci termahal yang patut di jaga.

Desas desus kawanan srigala hitam yang mencari temannya sudah terdengar di kalangan pihak kepolisian yang menjaga Baekhyun, maka dari itu ruangan khusus ini selalu penuh diisi oleh polisi polisi yang berjaga, menunggui si putri tidur ini agar tak di renggut oleh penyihir jahat.

"Makoto-kun, istirahatlah biar aku yang jaga" Ucap seorang lelaki berpangkat detektif devisi pembunuhan.

Lelaki berkacamata yang di ketauhi bernama Makoto itu kemudian bangkit dari duduknya. Lalu membungkuk hormat pada atasan yang kini sudah duduk di tempatnya tadi. Sepeninggal Makoto, ruangan pun kembali sunyi, hanya terdengar suara 'pip pip' dari monitor di samping kepala Baekhyun, menandakan bahwa lelaki mungil itu masih hidup dalam tidur panjangnya.

Jemari besar itu menuntun ke arah wajah si mungil yang terlelap, mengelusnya perlahan. Terlihat dengan jelas raut kedamaian dalam raga yang tengah tertidur itu. Kenangan seolah menyesak masuk kedalam sela sela fikiran yang terlampau kalut, membuatnya semakin riuh dalam keheningan yang tercipta.

Sehun memejamkan mata elangnya sejenak, ia masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Kenyataan seolah menamparnya telak, memaksa untuk tetap menjalani dengan tegar walaupun hati berkecamuk menahan sakit.

Ketika mata itu terbuka, bisa ia lihat jemari si kecil yang begitu lentik, persis seperti yang Yoona punyai dulu. Teringat kembali saat jemari lentik itu bertautan manja dengan jemarinya, entahlah sepertinya kenangan telah menginvasi kinerja otak detektif itu. Dan entah atas dasar apa, Sehun pun menautkan jarinya kedalam sela sela jemari Baekhyun yang ramping.

"Aku begitu merindukan jari-jari mungilmu ini Yoona" Ocehnya sambil tersenyum kecut.

Dalam tautan hangat itu, salah seorang yang tertidur ternyata mengeratkan pegangannya, seolah mencengkram dengan sangat keras.

Tentu Sehun membola mendapati reaksi yang terlampau mendadak itu, matanya kemudian mencari wajah sang pencengkram yang masih memejamkan mata. Ia menangis dengan mata yang terpejam, terisak tanpa ada orang yang tau selain Sehun seorang. Dan saat melihat air mata yang lolos itu, seakan dengan jelas ia melihat bayangan Yoona yang kesakitan dulu.

"B-baekhyun?" Sehun berbisik tepat pada telinga Baekhyun.

Si kecilpun membuka matanya perlahan, membiarkan cahaya matahari merambah masuk melalui retina matanya. Ia kembali mengingat kenapa ia berakhir di ranjang rumah sakit dengan beberapa luka yang menyayat tubuhnya? Dan salam sepersekian detik, ingatan seolah berlomba lomba memasuki kepalanya yang di perban dengan kain putih itu. Ia ingat sekarang bagaimana bisa berakhir seperti ini.

Saat ia tersadar akan ingatannya tentang kejadian naas yang menimpa dirinya, mata sipit itu kemudian beralih pada pemuda tampan yang tengah duduk sembari memegang tangannya dengan lembut.

"Siapa kau?"

"Kau tak kenal aku?"

"Tidak. Siapa kau?"

Sehun menghela nafas, wajar saja Baekhyun tak mengenali wajahnya, sebab terakhir mereka bertemu adalah enam tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama untuk melupakan seseorang.

"Aku Oh Sehun, kau ingat?"

.

.

.

.

.

.

Mobil klasik berwana hitam terus saja mengitari jalanan kota Tokyo siang itu, kemudian berhenti di setiap rumah sakit yang menyediakan fasilitas rawat inap. Dan kini si pengemudi itu terdiam dalam mobil yang berhenti tepat pada salah satu rumah sakit ternama di distrik Haido.

Setengah jam yang lalu, orang yang ia suruh menyamar menjadi pasien di rumah sakit itu memberikan laporan yang mengejutkan. Bawahannya meyakini bahwa Baekhyun benar telah di rawat di rumah sakit ini. Bawahan Chanyeol yang bernama Yesung itu menyelidiki satu per satu kamar rawat inap itu melalui denah yang berhasil di retas oleh Jongdae, berterima kasih lah pada si wajah kotak yang tampan itu.

Yesung mengetahui ruangan mana saja yang merupakan ruangan rawat inap, dan ia berhasil memasuki ruangan ruangan itu dengan sengaja atau tidak sengaja. Tapi hanya satu ruangan yang tak bisa ia masuki dengan gampangnya, karna terlalu banyak kejadian janggal yang seolah melarangnya untuk memasuki kamar tersebut, dan itu membuatnya curiga.

Setelah mendapat laporan itu, Chanyeol pun langsung berputar arah menuju rumah sakit Haido. Dan berakhir di sini, di parkiran rumah sakit yang tak terlalu ramai.

Tubuh tingginya menjulang saat ia keluar dari mobil klasik kesayangannya itu, mengambil langkah perlahan memasuki kawasan rumah sakit. Sambil berjalan dirinya kemudian menelpon anggotanya yang berada di dalam.

"Katakan dimana posisinya"

Setelah bawahannya mengatakan tempat di sembunyikannya Baekhyun, Chanyeol pun langsung bergegas menuju tempat yang tadi di tunjukkan oleh Yesung. Langkah kaki jenjangnya membawa Chanyeol pada sebuah ruangan dengan pintu putih yang di awasi oleh bebeapa orang disana. Chanyeol menesah di balik dinding tempatnya bersembunyi. Ia yakin sekali bahwa Baekhyun berada di dalam sana, tapi entah mengapa Chanyeol merasa otaknya sedikit rusak saat itu. Bahkan ia tak tau bagaimana cara membuat Baekhyun keluar dari dalam ruangan yang di jaga ketat oleh orang-orang yang Chanyeol yakini itu adalah deretan para polisi yang merepotkan.

Sepintas ia meningat Jongin yang yang masih berada di markas utama, dan mungkin saja si hitam itu dapat membantunya saat ini. Kemudian jemari besarnya merogoh benda hitam persegi panjang itu lalu mencari nomor ponsel Jongin yang tersimpan di salah satu kontak ponsel pintarnya, menggil secara virtual hingga bunyi suara berdengung menghiasi indera pendengarnya

"Yeobosseo?"

"Kutunggu kau di Rumah Sakit Haido lantai 3 no.21, kita berkumpul di ruangan Yesung! Sertakan yang lain"

"Yak hyu..."

Belum sempat Jongin protes, Chanyeol ternyata lebih dulu menutup sambungan telpon. Lalu si tinggi itupun beralih menuruni tangga, berniat untuk mengunjungi kamar Yesung yang menjadi utusannya untuk mecari keberadaan Baekhyun, si lelaki kecil yang memuatnya menjadi gila akhir-akhir ini. Dan ketika telah sampai pada kamar Yesung, Chanyeolpun dengan kasanya membuka pintu ruangan itu hingga membuat penghuni yang berada di dalam terlonjak kaget.

"Ternyata kau benar mengenai Baekhyun yang di tahan di kamar itu" Ucap Canyeol tanpa basa basi.

"Sudah ku bilang bahwa untuk melihat ke daun pintunya saja kau sudah di awasi. Bukankah itu sangat mencurigakan? Mereka terlalu waspda hingga terlihat begitu bodoh"

"Perlu kau tau mereka memanglah sekumpulan tikus bodoh" Chanyeol menimpali.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Bahkan kau membatalkan tugas ku hanya untuk menyelidiki kekasih barumu ini. Hingga harus berpura pura sakit untuk bisa meninap disini, yang benar saja" Gerutu Yesung.

"Tutup mulutmu atau..."

"Ku sumpal dengan pistol? Ya ya ku sudah hafal Park" Lanjut Yesung tak berdosa.

Kemudian Chanyeol hanya mendelik dengan tatapan mata membunuhnya, tapi Yesung seperti acuh tak acuh. Lama berselang para komplotan jubah hitam sudah sampai pada kamar rawat inap yang Yesung huni. Mereka terdiri dari Jongin, Luhan, Kris, Jongdae dan Minseok, semua kompak mengenakan baju berwarna hitam, kecuali Yesung yang memakai setelan khas rumah sakit.

"Untuk apa lagi kita di panggi kesini hyung? Apa kau sudah menemukan Baekhyun?" Cerca Jongin di balik kursi rumah sakit.

"Ruangan Baekhyun di jaga begitu ketat oleh kepolisian, aku tak mungkin memasukinya sendirian" Jawab Chanyeol.

"Hey dude! Kemana larinya jiwa Lucifer mu? Beginikah efek dari cinta? Hah... Menggelikan" Kris dengan seenaknya nyeletuk dan diiringi dengan tawa terahan oleh sluruh manusia yang berada di kamar itu.

"Kurasa Chanyeol memang sudah berubah" Luhan terikik di sela-sela nada bicaranya.

"Sudah lah... Lalu apa yang harus kita lakukan disini Chanyeol?" Minseok menengahi.

"Kita harus membuat para polisi itu berpencar hingga tak ada lagi yang tersisa ruangan itu, dengan begitu Baekhyun akan mudah di bawa kembali ke markas utama"

"Caranya?"

"Dengan memberi beberapa kejutan kecil" Chanyeol berkata dengan aura hitam yang menguar dari sela tubuhnya.

.

.

.

.

.

.

"S-sehun hyung? B-bagaimana bisa kau..."

"Ceritanya sangat panjang Baek, dan terlalu rumit untuk dijelaskan"

Baekhyun yang sudah bangkit dari tidur panjangnya pun seolah tertohok kembali oleh kenyataan yang membuatnya tersedak liurnya sendiri. Detik ini, ia kembali di pertemukan oleh kekasih dari kakak kandungnya yang menghilang entah kemana sejak berita kematian Yoona mencuat. Berkali-kali Baekhyun berusaha untuk mencari Sehun, berharap bahwa ia dapat mendengar suatu kebenaran di balik kematian kakaknya yang begitu tragis dan menyakitkan. Tapi ia tak pernah menemukan Sehun dimanapun. Hingga ia putus asa dan memutuskan untuk ikut bersama keluarga Kyungsoo ke Jepang, hingga kini.

"Satu hal yang ingin hyung tanyakan saat ini" Sehun menjeda sebentar kalimatnya "Bagaimana bisa kau berada di motor besar itu? Kau tau? Aku sekarang telah menjadi detektif kepolisian, dan bermaksud untuk mengagalkan rencana pembunuhan sore itu. Lalu kau, entah dari mana muncul dengan wajah penuh darah di balik pelindung kepala itu. Bagaimana bisa kau ikut berkomplot di dalamnya Baekhyun? Beri aku kejelasan!"

Sehun sedikit meninggikan suara saat emosi telah menguasai dirinya. Ia begitu marah mendapati bahwa lelaki polos seperti Baekhyun telah di manfaatkan oleh Chanyeol demi kepentingannya sendiri. Hingga membiarkan si mungil ini jatuh terjelembab dengan beberapa luka yang mengotori tubuh mulusnya.

Baekhyun diam seribu kata, kepalanya seakan memberat tiba-tiba hingga terus saja menunduk. Jemari lentiknya kini sudah sukses terlepas dari jemari Sehun. Baekhyun bingung harus menjawab apa saat Sehun menanyakan tentang organisasi. Dan entah mengapa wajah Chanyeol terlintas dalam benaknya, perasaan takut kini mendera perasaan yang mudah tersentuh itu. Namun bukan perasaan takut akan Chanyeol yang ia rasakan saat ini, tetapi perasaan takut bahwa Chanyeol akan berada dalam bahaya saat ia memberi tahu secara gamblang kepada Sehun yang berprofesi sebagai polisi. Ia takut Chanyeol dalam bahaya jika kepolisian sampai tau bagaimana bentuk asli dari organisasi mereka.

"Katakanlah, aku berjanji akan menjaga rahasia itu asalkan kau berkata jujur padaku. Mari kesampingkan profesiku, anggaplah aku sebagai hyung mu seperti dulu, seperti saat Yoona masih hidup" Sehun berkata dengan nada sendu di akhir kalimat. Lukanya kembali berdarah lagi saat ini.

Baekhyun pun begitu, matanya memerah seperti tengah menahan bendungan yang sebentar lagi akan membuncah keluar. Gigi putihnya bekerja untuk mengigit bibir bagian bawah, berusaha menahan tangisan hingga hati begitu nyeri.

Sehun yang melihat itupun menautkan lagi jemarinya untuk melengkapi ruang kosong di sela-sela jari lentik Baekhyun. Mengusaknya dengan perlahan seperti memberi pernyataan bahwa ia mengerti.

"Menangislah, aku tau tak mudah bagimu untuk hidup sendirian setelah Yoona tak ada. Hyung pun seperti itu, hidup terlunta lunta seperti mayat hidup"

Setelah mendengar pernyataan Sehun, air mata bening itu akhirnya keluar dari bendungan yang sedari tadi di tahan. Baekhyun terisak dalam senyapnya ruang rawat inap. Suara rintihan itu seperti lantunan lagu sendu yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Baekhyun menangis dengan deru nafas yang tak teratur, hatinya begitu sakit saat memori kematian Yoona merangsek masuk kedalam sel otak.

Baekhyun pun masih menangis hingga menyebabkan Sehun agar menahan dirinya untuk tak mengintrogasi Baekhyun saat ini. Bagaimana pun, lelaki albino itu tak dapat bertindak kasar dengan lelaki mungil ini. Baekhyun bahkan terlalu rapuh, hingga ia tak pantas masuk kedalam organisasi kejam seperti yang Chanyeol pimpin.

"Ulljima, Yoona sudah bahagia disana jadi tak perlu menangis lagi" Sehun berbicara sembari menenangkan si kecil.

Setelah dirasa sudah tak terisak lagi, Sehun pun berniat untuk menanyakan kembali keterlibatan Baekhyun dengan komplotan Chanyeol. Ini semua semata-mata agar Baekhyun tak terlampau jauh jatuh ke lubang yang sama seperti keluarganya dulu.

"Aku menjadi salah satu ilmuwan dalam komplotan itu, memimpin mereka memaksaku untuk tetap diam, jika... jika tidak maka Kyungsoo akan menjadi korbannya hyung. A-aku bingung hiks... aku... aku tak ingin Kyungsoo celaka karnaku, i-itu sebabnya aku tetap diam" Tanpa Sehun bertanya ternyata Baekhyun lah yang buka suara.

"Mereka memaksamu? Apa yang mereka rencanakan hingga harus merekrutmu? Lalu apa selanjutnya rencana mereka setelah ini?"

Sehun kembali berapi-api hingga menjejali Baekhyun dengan beribu pertanyaan, mengabaikan dirinya yang seharusnya memberi kejelasan tentang kematian Yoona dan kedua orangtuanya. Namun saat hendak menjawab pertanyaan dari Sehun, tiba-tiba pinntu ruangan itu terbuka dengan gerbrakan yang cenderung keras. Sehingga dua orang penghuni kamar itu terlonjak kaget karna gerakan yang tiba-tiba.

"Apa apaan ini?" Sehun marahi si pembuat onar yang menganggu jalannya intrograsi dadakan yang sedang berlangsung.

"M-maafkan saya Sehun-sama. Tetapi keadaan sedang genting" Jawab lelaki berkacamata yang sebelumnya menjadi sang penjaga untuk Baekhyun.

"Langsung saja katakan, ada apa hingga kau mendobrak pintu segitu kerasnya" Titah Sehun.

"Em... gedung sebelah terbakar Sehun-sama. Dan di luar banyak sekali korban yang berdesakan masuk rumah sakit ini secara bersamaan" Lapor lelaki itu dengan wajah yang cemas.

Samar-samar Sehun mendengar bunyi dari mobil pemadam kebakaran yang beradu satu sama lain. Membuanya yakin bahwa ini adalah ulah mereka, si komplotan jubah hitam yang menghalalkan segala cara untuk dapat merebut kembali anggotanya yang tertahan disini.

Sehun sebelumnya tak berfikir mereka mampu memukan lokasi rumah sakit ini sebagai tempatnya menyembunyikan Baekhyun. Sebab, ia sudah bekerja sama dengan kepala rumah sakit agar identitas Baekhyun tak tercantum dalam daftar pasien. Yang jelas sekarang, komplotan itu bermaksud membuat sebuah kegaduhan, hingga memungkinkan mereka masuk kedalam rumah sakit ini dengan cara berbaur layaknya korban yang terkena sesak nafas akibat kepulan asap kebakaran. Setidaknya hanya itu yang terlintas dalam benak Sehun.

"Apa yang harus kami lakukan?" Lelaki bernama Makoto itu bertanya karna Sehun tak membuka suara sama sekali.

"Kemana Inspektur?" Tanya Sehun.

"Inspektur Suho sedanh turun melihat situasi, Sehun-sama"

"Jaga Baekhyun, dan jangan biarkan siapapun masuk kecuali aku dan Suho!" Tegas Sehun dan kemudian ia berlari menghilang dari ruangan.

Dan dengan langkah tergesa, Sehun pun sampai pada pintu utama rumah sakit Haido. Terlihat dengan jelas bagaimana orang-orang itu berjejalan masuk dengan berbondong-bondong. Suho pun yang menyadari keberadaan Sehun langsung mengisaratkan kepada lelaki albino itu agar menjauh dari keramaian, bermaksud untuk berbicara berdua dan membiarkan kegaduhan itu di tangani oleh para bawahannya. Sehun yang mengerti pun mengikuti langkah kaki Suho, hingga menempatkan mereka di sisi koridor yang lumayan sepi.

"Ini pasti ulah mereka kan?" Sedikit berbisik pada Sehun.

"Mekera berusaha merebut apa yang mereka punya, bahkan dengan membakar gedung sebelah"

"Tapi ini di luar batas Sehun, mereka itu gila"

"Itu memang sudah menjadi cara mereka, dan ini adalah upaya mereka untuk mengalihkan perhatian kita para polisi yang menjaga Baekhyun. Dan ini sangat merepotkan"

Belum lama Sehun Suho berunding, ternyata ada salah seorang bawahan yang datang menghampiri dengan membawa sebuah pot berisikan bunga odamaki yang berwarna biru keunguan. Kedua namja itu tentu saja bingung dengan benda yang di bawa oleh bawahannya itu. Sungguh tidak singkron dengan kekacauan yang terjadi di rumah sakit saat ini.

"Apa maksudmu? Untuk apa ini?" Suho mengernyit saat si bawahan menyodorkan bunga odamaki tersebut padanya.

"A-ano... tadi ada kurir yang menanyakan namamu pada meja resepsionis, kebetulan aku sedang berjaga di sebelanya pun heran, karna Suho-sama bukanlah seorang pasien"

"Lalu?" Sehun yang bersuara kali ini.

"Dan ia menitipkan ini padaku saat aku bilang bahwa aku mengenal Suho-sama. Kurir itu juga menitipkan kartu pengirim, kalau tidak salah namanya..." Si bawahan itu menggantung kalimatnya kemudian menelisik saku celana, mencaru keberadan kartu pengirim yang sempat ia baca.

"Ah... namanya Yoona, Byun Yoona"

BANG!

Keduanya membola saat nama penuh misteri itu terucap dari bibir lelaki yang masih menenteng kartu tanda pengirim. Lalu kemudian Suho menyuruhnya pergi untuk mengawasi lagi Baekhyun dan para korban dadakan itu. Dan setelah si bawahan pergi, Suho pun langsung menatap Sehun horor. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Ini tidak mungkin, Yoona jelas jelas sudah lama meninggal. Ini tidak mungkin hyung!"

"Akupun tau ini tidak mungkin! Lalu apa maksudnya ini?"

Sehun frustasi, nama Yoona seakan menjadi kelemahan terberatnya saat ini. Ia sungguh mengutuk Chanyeol yang membawa-bawa Yoona demi merenggut Baekhyun kembali. Dan dalam hitungan detik, Suho yang sedang memegang pot bunga itupun memecah keheningan di ujung koridor yang sepi itu.

"Kau tidak dengar sesuatu? Seperti ada yang berdetak dari tadi, dan itu menggangguku"

"Apa maksudmu hyung? Diamlah aku sedang berfikir" Celoteh Sehun tak tau diri.

Perlahan Sehun pun mengamati bunyi detakan yang sekarang terdengar dengan jelas di telinganya. Membuat mata itu beradu dengan sang inspektur di depannya.

"H-hyung, letakan pot itu di lantai dengan hati-hati, sepertinya detakan itu berasal dari sana"

Suho kemudian menuruti Sehun untuk menaruh pot bunga itu kelantai, dan dengan gerakan cepat Sehun megoyak pot berisikan bunga odamaki itu, merogohnya dengan tangan putihnya. Sehun seolah tersedak liurnya sendiri saat tangannya merasakan sesuatu yang berdetak disana. Dengan ragu ia angkat benda kotak itu, yang ternyata adalah sebuah menda berdetak dengan berbagai macam kabel yang melilitnya, membuat Suho terlihat sangat terkejut saat Sehun memaksa benda itu keluar.

"B-bakudan?!" (Bom?)

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

.

.

Holaaaa~~~

Pasti pada sebel sama Ai ya? Udah 2 minggu ga update DS, sekalinya update chapternya pendek terus ngebosenin. Hiks mianhamnidaaaa...

Ai lama ga update karna kerjaan numpuk, efek kemarin tutup pembukuan di akhir tahun, terus juga kemarin sempet sakit, jadi ff ini terbengkalai dengan tak etisnyaaa, maapkeun readerssss :"(

Di chap ini Ai bikin Chan yang sarapnya udah kelewatan, sampe bikin gedung sebelah kebakaran terus ngirim bom cuma buat ngerebut Baekhyun dari Oseh. Dan akan banyak bom bom lain di chap depan, kemungkinan akan ada adegan baku tembak juga. Eh tapi ga mau spoiler juga sih, ngeri di anggep php hiksss soalnya di phpin itu ga enak /woy

Daaannnn...

Ai juga ikut event CIC Fanfict Writing Challenge lhooo, untuk yang mau baca hasil kerja Ai bisa langsung intip ke ffn nya CIC. Cari yang judulnya Tragedy yaaa wkwk itu Ai yang bikin. FYI itu pertama kalinya Ai bikin Oneshoot jadi ya akhirannya emang keliatan maksa sih tapi ya gimana wkwk namanya juga masih newbie, perlu banyak belajar.

Jangan lupa review Tragedy di CIC FWC yaaa? Dan jangan lupa juga review DS untuk chap ini, sertakan akun Ig kalian juga boleh, nanti Ai follow pake akun pribadi Ai. Ai terima keluh kesah kalian di kolom review yha? Yang mau marah marah karna Ai ga fast update juga boleh wkwk Ai legowo kok orangnya, tenang ajin:3

Salam errr elelelelele dari Ai /minjem dari mamih

Papai~