Chapter 8 : Why
Kubilang, aku tak mau lagi berteman denganmu..."
"Dan jadilah kekasihku."
Anak lelaki manis itu terus menatap bocah jangkung di hadapannya dengan tatapan tak percaya.
Namjoon meminta dirinya untuk menjadi seorang kekasih?
Seorang Kim Namjoon?
Terhadap anak yang terlampau biasa seperti dirinya?
Pertanyaan itu terus bergulir di pikiran Yoongi bak kaset rusak.
Sontak sebulir air mata turun menuju pipi pucat milik Yoongi.
"Tak... tak mungkin, kau—"
"Apanya yang tak mungkin?" Potong Namjoon segera. "Ah, kau heran ya mengapa aku memintamu menjadi kekasihku?" Tanya Namjoon yang dibalas oleh anggukan Yoongi.
Namjoon mendesah pelan.
"Aku... sudah lama menyukaimu, Min Yoongi. Bahkan dikelas, dalam setiap jam, menit dan detik... aku selalu memerhatikanmu. Aku tahu apa kebiasaanmu, apa yang kau suka dan tidak suka, kapan hari ulang tahunmu, aku tahu itu semua."
"... me-mengapa... diantara ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang kau kenal, mengapa kau memilihku?"
"Karena..."
Namjoon menyela ucapannya.
"Hanya kau yang berbeda, Min Yoongi."
Sontak Yoongi membuka kedua matanya lebar.
"Eh—? Apa maksudmu?"
"Disaat orang-orang mengetahui diriku adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya dengan segudang prestasi, mereka tanpa ragu langsung mendekatiku. Mungkin beberapa dari mereka memang tulus ingin mengenalku. Namun, entah mengapa... aku tak dapat memercayai mereka begitu saja." Jelas Namjoon sembari menundukkan kepalanya.
"Itu artinya... kau pun tak memercayai Hoseok?"
"TIDAK!" Sanggah Namjoon segera. "Hoseok adalah pengecualian, dan aku sangat percaya padanya."
Terlihat Yoongi mengerutkan keningnya.
"Lalu?" Tanyanya sembari tak mengalihkan pandangannya dari wajah Namjoon bak sedetik pun.
"Namun kau... kau berbeda, Yoongi. Saat kau mengetahui bahwa ternyata aku adalah seorang anak dari keluarga kaya raya, kau bahkan menjauhiku. Ada suatu masa dimana aku merasa heran. 'Mengapa Min Yoongi selalu bersikap acuh saat aku ada? Apa dia tak tertarik padaku?'. Kau tahu, pertanyaan itu terus berulang di benakku sampai aku bosan. Tetapi... itulah daya tarikmu. Hal itu lah yang membuatku tertarik padamu."
Sejenak rona merah terlihat di paras manis Yoongi. Yoongi yang menyadari itu langsung menundukkan wajahnya, enggan jika Namjoon melihat.
"Jadi Min Yoongi... kumohon, jadilah kekasihku."
Apakah kalian menyadarinya? Bahwa sedari tadi...
Jantung milik Yoongi berdetak dengan kencang.
Sementara dalam perutnya seperti ada kupu-kupu beterbangan yang dengan kurang ajarnya memberikan efek geli.
Oh Tuhan-- wajahnya semakin memanas.
Apa yang harus ia katakan?
Setelah sekian lama bergulat dengan batinnya, Yoongi pun menarik nafas dalam-dalam.
"... baik. Mari menjadi sepasang kekasih, dan menjalani hidup bersama tiada akhir."
Euforia menyelubungi diri Namjoon.
Dirinya berasa dibawa terbang menuju langit, kakinya lemas tak berdaya.
"Kau... kau mau?" Tanya Namjoon memastikan. Sementara Yoongi kini tengah memberikan senyum terbaiknya pada Namjoon.
"Ya. Aku mau."
Tak diduga, air mata bahagia lolos dari pupilnya, membanjiri wajah tampan milik seorang Kim Namjoon.
"ASTAGA MIN YOONGI~ AKU... AKU SUNGGUH MENCINTAIMU!" Teriaknya sembari menarik Yoongi kedalam pelukan eratnya, membuat Yoongi terkekeh geli.
"Joon~ kau memelukku sangat erat..."
"Biarkan saja. Aku takut kau akan meninggalkanku."
"Mwoya~?" Tanya Yoongi kemudian memukul punggung Namjoon lembut. "Aku tak akan meninggalkanmu, bodoh."
"Hehe baiklah~" Namjoon segera melepas pelukannya lalu beralih menangkup wajah mungil Yoongi. Sementara Yoongi kini menatap netra teduh milik kekasihnya dengan wajah merona. Tanpa diduga, Namjoon segera melayangkan ciuman bertubi-tubi ke wajah bocah manis yang kini telah menjadi miliknya, membuat Yoongi tertawa merasakan geli.
"Joon~ ahahaha hentikan!!"
"Tak mau. Suruh siapa kau memiliki wajah yang sangat manis?"
Yah, selanjutnya kau pasti dapat membayangkan, bagaimana bahagianya mereka berdua.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30.
Sial, Namjoon telat untuk pulang kerumahnya!
Sepertinya ia akan dimarahi habis-habisan setelah ini.
Dengan hati-hati, anak lelaki berlesung pipit itu meloncati pagar rumah mewahnya lalu membuka pintu rumahnya perlahan, sebisa mungkin untuk tak mengeluarkan suara.
Namun...
"Darimana saja kau?"
DEG
Namjoon mendongakkan kepalanya—menatap sang ayah yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"A-ayah... aku..." Ucap Namjoon terbata. Sungguh, ia sangat takut pada ayahnya. Untuk membantah ucapan ayahnya barang satu kata pun, dirinya tak kuasa!
Sang ayah terus menatap tajam anak sulungnya.
"Diam dan ikuti ayah." Perintahnya kemudian membalikkan tubuhnya; meninggalkan Namjoon yang tengah gemetar seorang diri.
Meski dengan kaki yang lemas tak bertenaga dan tubuh yang gemetar, tanpa keraguan Namjoon segera mengikuti langkah ayahnya yang ternyata menuntunnya menuju ruang keluarga dimana ibunya sudah duduk manis di atas sofa; menunggu kepulangannya.
"Duduk." Kembali sang ayah memerintahkan anak sulungnya yang segera dituruti oleh sang anak; Kim Namjoon.
Namjoon terus tertunduk, diam dalam duduknya hingga sebuah suara tegas yang diyakininya sebagai suara sang ayah menginterupsi gendang telinganya.
"Kim Namjoon, anakku."
Anak tampan berlesung pipit itu mengangkat dagunya, hendak menatap sang ayahanda.
"I-iya?"
"Aku tahu umurmu masih begitu belia. Namun..." Pria tua itu memberhentikan ucapannya tatkala mengambil secarik kertas—sebuah foto yang menampilkan seorang anak lelaki cantik tengah memeluk boneka; Mario. Foto itu ia letakkan diatas meja, membiarkan Namjoon untuk menatapnya lekat.
"Ini... siapa, ayah?" Tanya Namjoon tanpa sedetikpun mengalihkan pandangan dari foto di hadapannya. Sementara sang ayah menghela nafasnya.
"Dia adalah Jeon Seokjin. Anak sulung dari keluarga Jeon, pemilik Jeon Corporation."
"Lalu... mengapa ayah memperlihatkan foto ini padaku?"
Entah mengapa, firasat Namjoon berkata bahwa ini bukanlah hal yang baik.
Sejenak pikirannya merefleksikan wajah Min Yoongi.
"Ayah, jawab aku. Ada apa?" Kembali Namjoon bertanya. Terdengar kepanikan di sela-sela suaranya.
Dan lagi-lagi sang ayah menghela nafasnya.
"Kau... telah ayah jodohkan dengan Jeon Seokjin."
Petir serasa menyambar dirinya hingga jantungnya berhenti berdetak seketika.
Apa?
Dijodohkan?
Dan lagi-lagi, pikirannya memantulkan wajah bahagia sang kekasih.
Bahkan belum sehari ia menjadi kekasih Yoongi.
Tidak—tidak boleh dibiarkan!
"TIDAK!!! AKU TIDAK MAU!!!" Teriak Namjoon sembari menggebrak meja dihadapannya, membuat sang ayah ikut berteriak murka.
"KIM NAMJOON!!!"
"TIDAK AYAH. AKU TAKKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGANNYA!!! JIKA AYAH INGIN MENIKAH, MENIKAHLAH SENDIRI!!! JANGAN LIBATKAN AKU!!!" Seru Namjoon geram lalu melangkahkan kakinya pergi menaiki tangga.
"JANGAN MEMBANGKANG KIM NAMJOON!!!"
"DIAM!!!"
Namjoon berteriak sampai nafasnya tersengal-sengal.
"Selama ini aku selalu menuruti keinginan ayah. Aku rela meninggalkan dunia musik, karena aku menyayangi ayah. Tapi... hanya hal ini saja aku tak ingin diatur. Kumohon..."
Sang ayah mengepalkan kedua tangannya.
"KIM NAMJOON. KAU ADALAH ANAKKU! ANAK YANG AKAN MENERUSKAN PERUSAHAAN KELUARGA!! PERJODOHAN INI ADALAH HAL YANG BAIK UNTUK MASA DEPANMU!!!"
"Hal yang baik...?" Sontak Namjoon tertawa sinis. "INI HIDUPKU!!! AKU YANG BERHAK UNTUK MEMILIH SIAPA YANG PANTAS MENJADI PENDAMPINGKU KELAK!!!"
Sedetik kemudian Namjoon berlari menuju kamar miliknya dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Ia terduduk; menyandarkan punggungnya pada pintu sewarna mahoni di belakangnya lalu terisak pelan.
Entah mengapa... wajah kekasih manisnya terus berputar di benaknya layaknya sebuah film, menggoreskan luka dalam hati Namjoon sedikit demi sedikit.
"Hiks... Min Yoongi... Yoongi..."
Ini adalah pertama kalinya ia membantah perkataan sang ayah.
Ia mengakui, bahwa ayahnya adalah seorang yang absolut.
Namun, jika itu berhubungan dengan Min Yoongi... ia tak bisa. Bahkan se-absolut apapun Tuhan, ia akan tetap membantahnya.
Karena... Yoongi adalah segalanya.
Kau tahu, 'kan?
Cinta itu buta.
TBC
