Akhiiirnyaaaaa update juga...setelah sekian lama sibuk pindahan rumah dan melakukan beberapa interview! (Padahal draftnya udah di upload di file manager berminggu-minggu yang lalu)

.

here my chapter 8!

WARNING: LEMON!

Kalo nggak suka, jangan dibaca! (Simple)

.


.

Ada yang sangat hebat dalam mencintai...

ada yang mencintai dengan sangat hebat,

keduanya serupa tapi tak sama...

.

Cinta adj: suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat.

Tapi menurut Sasuke cinta adj: membuat pikiran jadi tidak tidak rasional, sesuatu yang mampu membuat kita melakukan hal-hal yang tidak akan mungkin kita lakukan kalau pikiran kita seratus persen waras.

Eits...tunggu dulu, cinta? Siapa yang sedang jatuh cinta? Aku kan tidak sedang jatuh cinta! Otak Sasuke berteriak.

Lalu apa yang kau lakukan berdiri di depan kamar Sakura (baca: kamar kalian berdua) sejak 30 menit yang lalu? Hati Sasuke balas berkata.

Aku kan hanya merasa tidak enak! Lagi pula sejak kemarin aku belum melihat wajahnya. Otaknya berusaha mendebat.

Huh, memangnya kenapa klo kau sehari saja tidak melihat wajahnya? Apa pedulimu?! Hatinya bertanya dengan sinis.

Kemudian Sasuke memutuskan untuk mengetuk pintu kamar dan mengakhiri kegilaan ini. Lima menit kemudian kepala Sakura yang masih dibalut handuk melongok keluar dari celah pintu yang hanya terbuka sebagian.

"Ada apa?" Tanya Sakura sambil berusaha menyembunyikan tubuhnya yang hanya dibalut kimono mandi.

"Aa..." Sasuke tampak bingung karena belum memikirkan perkataan apa yang harus ia ucapkan pada Sakura.

"Bukankah setelah ini kita bertemu di meja makan? Ayo cepat katakan...aku baru saja selesai mandi dan belum berpakaian." Terdengar sedikit nada protes dalam ucapan Sakura.

"..."

"Ooohh...aku paham sekarang, tentang permintaan maafmu? Orang yang dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya seperti dirimu tidak akan pernah tau cara menghargai orang lain lebih dari sekedar barang!"

"Bukan begitu maksudku Sak-"

Kemudian Sakura menutup pintunya dengan keras lalu berteriak dari dalam kamarnya, "baiklaah nanti akan kupikirkan lagi, saat ini aku belum memutuskan mau memaafkanmu atau tidak!"

Sasuke yang masih berada di depan pintu menghembuskan nafas berat dan berbalik pergi. Ia memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor, sementara waktu ia ingin menenangkan pikirannya dan berada jauh dari rumah.

Sakura mematut dirinya di depan cermin, pagi ini ia berjanji untuk mengembalikan mantel milik Gaara. Setelah itu ia akan bertemu dengan Ino untuk sarapan di coffee shop yang berada tak jauh dari kantor yayasannya karena ia sudah kehilangan minat untuk sarapan di rumah.

.

Sakura menghentikan mobilnya di tempar parkir, lalu bergegas berjalan ke arah taman. Di sana ia sudah menemukan Gaara sudah menunggu di bangku taman yang biasa ia duduki.

"Ini, terima kasih telah menolongku." Ucap Sakura sambil menyodorkan paperbag yang ia bawa.

"Bagaimana keadaanmu?" Gara bertanya dengan hati-hati. Ia hanya tidak ingin terilhat terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Dimatanya Sakuralah yang terpenting dari semuanya. Alasan dibalik apa yang terjadi pada Sakura, Gaara tak mau ambil pusing.

Gaara tahu, apa yang dilakukannya salah. Ia telah tertarik pada wanita yang sudah bersuami. Tapi bukankah cinta adalah sesuatu yang tidak bisa kita atur dimana jatuhnya. Perasaan ini memang salah tapi sekaligus benar dalam waktu yang bersamaan.

"Aku baik-baik saja, mari kita membahas hal lain." Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Okey..." Sahut Gaara setuju.

"Apa kau selalu suka duduk sambil melihat orang yang sedang berlalu-lalang seperti ini?" Tanya Gaara kemudian.

"Ahahahaha...aku suka melihat orang-orang bergerak untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Ada yang tergesa-gesa, ada yang berjalan dengan santai. Tempat ini seperti semacam pelarian untukku. Saat sedang diam mengamati orang-orang yang berlalu-lalang biasanya otakku berpikir: mempertanyakan makna hidup, tujuan hidup, apakah aku sudah melakukan hal-hal yang menjadi cita-citaku? Apa saja pencapaian yang sudah kuperoleh selama ini? Aneh ya?" Lalu Sakura menoleh untuk menatap Gaara.

"Tidak juga, kalau boleh tau apa cita-citamu?" Gaara balas menatap Sakura.

"Aku ingin menjadi seorang dokter, dan aku selalu memiliki mimpi untuk berjalan-jalan keliling dunia." Mata Sakura berbinar-binar saat menceritakan impiannya. Lalu ia kembali berkata tapi kali ini dengan nada yang sedikit murung, "tapi kau kan tahu, semua itu tidak mungkin aku lakukan. Aku sudah menikah, dan Sasuke tidak akan mengijinkanku."

Selama beberapa saat mereka duduk disana tanpa berkata apa-apa. Mereka duduk berdekatan, suara hiruk pikuk yang berada di sekitar mereka terasa jauh di telinga Gaara. Seolah-olah ia hanya duduk berdua dengan Sakura di taman yang luas ini. Gaara memejamkan mata, menikmati angin musim dingin menerpa wajahnya untuk meredakan debaran jantungnya.

Do you ever just crave someone's presence? Like you would literally be happy just sitting next to them. It could be dead silent but perfect. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Gaara.

Akhir-akhir ini musim dingin di Jepang tidak lagi terasa kelabu dan suram. Dan kota yang selalu mengingatkan Gaara pada ibunya ini tidak lagi terasa menyesakkan. Semua ini karena wanita berambut pink yang duduk disampingnya. Wanita yang menurutnya merupakan personifikasi dari musim semi, senyumnya seperti bunga Sakura yang sedang merekah dengan sempurna. Yaa...persis seperti namanya.

Haruno Sakura

Sejak Gaara mengenal Sakura, ia merasa hidupnya lebih tenang, lebih optimis, dan lebih bahagia. Aneh bukan? Padahal Gaara baru saja mengenalnya, tapi wanita itu sudah sanggup menjungkir balikkan dunianya dalam sekejap.

"Sakura, tunggu di sini sebentar." Ucap Gaara memecah keheningan di antara mereka berdua.

Gaara berjalan menuju ke salah satu kios minuman hangat yang terletak tidak jauh dari bangku tempat duduk mereka.

"Ini minumlah..." Gaara memberikan minuman yang ia bawa untuk Sakura.

"Waaah...hot chocolate, terima kasih. Aku sangat menyukai sesuatu yang manis." Sakura memegang cup minuman yang diberikan Gaara dengan kedua tangannya lalu menghirup aromanya dalam-dalam.

"Aku rasa kopi dengan dua sendok teh gula tidak terlalu manis" Ucap Gaara sebelum menyeruput minumannya.

"Hahaha...kau mengingatnya. Mungkin kopi adalah adalah salah satu pengecualian."

"Jika kau mengatakan salah satu berarti ada salah duanya? Bolehkah aku menjadi pengecualian yang lainnya untukmu?" Tiba-tiba Gaara menyeletuk, tapi kemudian buru-buru menarik ucapannya, "Diam. Tidak perlu dijawab."

"Salah duanya adalah cinta. Love taste bitter for me." Sakura berkata dengan tatapan mata menerawang lurus ke depan.

Kalau begitu bolehkah aku menambahkannya dengan gula? Kali ini Gaara hanya sanggup membalas perkataan Sakura dalam hati.

Lama Gaara memfokuskan matanya pada Sakura hanya untuk merekam setiap moment yang terjadi pagi ini. Sampai kemudian ia berkata, "heiii...pejamkan matamu, aku ingin membersihkan salju yang tersangkut di sela bulu-bulunya."

Garaa membersihkan salju yang menggantung di bulu mata Sakura. Wajah mereka begitu dekat hingga Sakura harus menahan nafas untuk meredakan detak jantungnya yang berdebar begitu cepat. Dan seperti terjadi begitu saja, Sakura merasakan Gaara mengecup bibirnya. Ciuman yang terjadi hanya dalam hitungan detik tersebut terasa lembut, hangat, manis dan...coklat.

Dengan cepat Gaara menarik wajahnya lalu membuang muka. Sakura terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tanpa ia sadari jemarinya meraba bibirnya, masih tak percaya.

"Ayo pulang, saljunya sudah semakin lebat." Gaara menggamit tangan Sakura tapi masih tidak berani menoleh ke arahnya.

Sakura yang masih terbengong-bengong dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata itu hanya bisa menurut. Garaa mengantar Sakura dengan berjalan kaki. Saat sudah sampai, Sakura mengucapkan terima kasih lalu melangkah memasuki kantornya. Gaara hanya bisa memandangi punggung wanita musim semi itu bergerak menjauhinya.

Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Bahagia dan galau disaat yang bersamaan. Bahagia karena menghabiskan pagi ini bersama wanita yang dicintainya. Hatinya yang segersang gurun sahara seperti mendapatkan sejuknya curah hujan yang menyegarkan. Dalam hati ia mengakui bahwa love at the first sight does exist.

Galau karena wanita yang dicintainya itu telah menjadi milik orang lain. Gaara teramat sangat sadar bahwa ia sedang bermain-main dengan api. Ia telah melemparkan dadu dimana ia sedang berjudi dengan hatinya. Hal yang terjadi pagi ini membuatnya telah melangkah memasuki zona terlarang dan tidak ada jalan untuk kembali.

Mengapa Tuhan membuatku jatuh cinta, ketika disaat yang sama kamu mencintai pria yang bukan aku? Garaa bertanya dalam hati dengan getir.

.

If loving you is wrong,

I don't wanna make it right

I don't wanna make it right...

.


"Sakura, kau ingin melamun sampai besok pagi?"

Perhatian Sakura langsung pecah berantakan. Ia hampir tersedak saat menyeruput kopinya, di seberang meja Ino memandangnya sambil mendelik. Sakura sangat ingin membagi gundahnya pada Ino, tapi ia takut jika nanti Ino mencercanya dengan pertanyaan pertanyaan yang tidak dapat ia hindari.

"Kau melamun seperti orang bingung Sakura."

Huuuft...belum apa-apa Ino sudah tau bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya.

"Bukan begitu, aku hanya-"

"Hanya apa?" Potong Ino cepat.

Sakura menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar-debar akibat peristiwa yang baru dialaminya 1 jam yang lalu. Kemudian iris emerald milik Sakura bertatap-tatapan dengan iris baby blue milik Ino.

"Kau ingin aku berkata jujur?" Tanya Sakura.

"Tidak, aku ingin kau membunuh pria dengan model rambut spiky seperti pantat ayam." Jawab Ino sambil mendengus.

Spontan Sakura langsung tertawa.

"Forehead! jawab dengan jujur dan jelas!" Suara Ino terdengar seperti seorang jendral yang memberikan perintah pada bawahannya.

Tawa Sakura langsung terhenti. Ia menyungingkan senyumannya yang khas. Ino tidak menghiraukan beberapa gadis muda yang duduk di meja sebelah sedang tertawa cekikikan, matanya hanya berkonsentrasi ke satu titik: mata sahabatnya.

"Aku..." Mata Sakura terpejam, ia menarik nafas panjang. Lalu matanya terbuka lagi, memancarkan kilauan emerald yang sangat jernih dan cantik.

Jari-jari hiperaktif Ino mengetuk meja dengan tidak sabar.

"Stop!" Seru Sakura mengenggam jemari tangan Ino. Kata-kata Sakura yang selanjutnya terdengar lembut dan lirih. "Gaara menciumku."

Raut wajah Ino langsung berubah, alisnya yang tadi tertaut serius kini terburai seketika. Matanya melebar antusias.

"Whaaattt?! Selamat yaaaaa...! Aku turut bahagia untukmu." Suara Ino sangat nyaring terdengar ke seluruh penjuru cafe. Setiap orang yang berada di dalam cafe tersebut langsung menoleh ke arah Ino dan Sakura. Dengan malu-malu Ino menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

"Apanya yang selamat?"

"Sakura my dear, kau bercerita seolah-olah baru saja mendapatkan ciuman pertamamu."

"Bukan yang pertama, sebenarnya yang kedua. Yang pertama karena dipaksa dan yang kedua dicuri. Aku semakin tidak mengerti jalan pikiran para pria yang ada disekitarku." Keluh Sakura.

Ino menaikkan alisnya. "Dua? Yang kedua Gaara, yang pertama?"

"Sasuke..."

"Hmmmm, jadi ternyata kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Ino melipat kedua tangannya.

"Sudahlah Pig, aku sedang tidak ingin membahasnya. Bagaimana hubunganmu dengan Shikamaru? Kalian tidak memiliki rencana untuk menikah?"

"Sementara ini belum, aku sudah bahagia dengan apa yang aku miliki saat ini. Aku bahagia dengan hubungan yang sedang aku jalani, nothing to loose."

Sakura menangkap kejanggalan pada jawaban Ino.

"Kalian sudah lima tahun bersama Pig, usiamu sekarang sudah 27!"

"Entahlah, aku hanya takut jika suatu pagi aku terbangun dan menyadari bahwa cinta yang kami rasakan memudar, sudah hambar dan dingin seperti bubur yang terlalu lama disajikan."

Ino menyesap coffee lattenya, menghembuskan nafas berat sambil memandang ke arah ramainya hilir mudik kendaraan . "Aku merasa kenapa hubungan kami yang begitu dinamis, teratur, tidak pernah bergejolak, terasa begitu salah. Kenapa aku merasa, hanya aku yang terlalu exciting dalam hubungan ini. Shika-kun selalu menuruti setiap keinginanku, tapi justru karena itulah aku jadi merasa hubungan kami datar, tidak memiliki jiwa..."

Sakura terdiam mendengar jawaban panjang Ino. Baru kali ini Ino menceritakan tentang kecemasanny. Padahal biasanya ialah yang selalu menghibur Sakura, menyemangatinya, memberikan nasehat yang tepat saat dibutuhkan. Memang terkadang orang yang selalu terlihat bahagia justru sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan dukungan.

"Kau sudah membicarakannya dengan Shikamaru?"

"Belum."

"Ino, kau jangan bercermin pada rumah tanggaku. Kau dan Shikamaru saling mencintai. Percayalah, pernikahan kalian pasti berhasil."

Ino diam tak menjawab lalu mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana persiapanmu untuk acara besok malam? Sayang sekali aku tidak bisa mendandanimu karena aku juga di undang."

"Tidak masalah, aku bisa mengatasinya. Aku bukan lagi mahasiswi fakultas kedokteran yang kutu buku dan culun Pig."

Mendengar perkataan Sakura mau tak mau membuat ingatan Ino melayang pada sosok gadis berambut pink yang selalu mengenakan jeans belel dan sepatu kets kumal serta membawa-bawa buku diktat setebal bantal kemanapun ia pergi. Kini si itik buruk rupa itu sudah berubah menjadi seekor angsa yang cantik. Tepatnya ia sudah menjadi seorang nyonya Uchiha yang mengenakan rancangan desainer-desainer ternama.

Ah...betapa uang dapat merubah segalanya. Tapi satu hal yang paling Ino kagumi dari sosok Sakura adalah bahwa sahabatnya itu tetaplah seseorang yang rendah hati. Ia begitu tulus, sampai terkadang selalu mengorbankan perasaannya sendiri untuk orang lain.

.


Karin memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar yang memantulkan bayangan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Raut wajahnya menampakkan ketidak puasan.

"Bagaimana pendapatmu?" Tanya Karin pada Suigetsu, manajernya.

"Kariiiiiiiiin kau sudah mencoba puluhan gaun, dan aku harap ini yang terakhir. Cobalah untuk tidak memakai gaun yang terlalu terbuka, sedikit lebih elegan mungkin?"

"Aku hanya ingin tampil secantik mungkin. Besok malam seluruh mata harus tertuju padaku. Lagipula Sasuke-kun akan berada disana, dan aku ingin membuatnya terkesan." Ucap Karin sambil menggantungkan kembali baju yang dicobanya. "Apa hari ini dia meneleponku?"

"Tidak."

Karin menghentakkan kakinya kesal. "Sudah beberapa hari ini ia tidak menemuiku! Lihat saja, jika perempuan sialan berambut pink itu merebut Sasuke-kun dariku, aku akan membuat perhitungan dengannya."

"Hentikan khayalan bodohmu itu Karin, sejak kapan Sasuke menjadi milikmu?"

Komentar Suigetsu semakin membuat Karin gusar. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor Sasuke berkali-kali namun tak kunjung ada jawaban. Karin memang merasa ada yang aneh pada Sasuke akhir-akhir ini. Sasuke tidak lagi membalas pesannya dan datang menemuinya seperti biasa.

"Jika kau ingin bertahan lama dan mencapai puncak di dunia entertaiment dengan persaingan yang ketat seperti ini, kau harus fokus pada karirmu." Suigetsu memberikan nasehat dengan sabar.

"Tidak bisa, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan Suigetsu!"

"Kau hanya wanita simpanan dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk merubahnya!"

"Kita lihat saja nanti!" Karin melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan penuh amarah.

.


Perhelatan malam gala yang diadakan oleh salah satu anak perusahaan Uchiha Corp itu berlangsung dengan spektakuler. Terbukti dengan hadirnya seluruh tamu undangan yang mengenakan busana terbaik mereka untuk berjalan di red carpet.

Sakura berjalan berdampingan dengan Sasuke, tangannya melingkar di pinggul Sakura. Mereka sangat serasi seolah-olah memang diciptakan untuk melengkapi satu sama lain.

Seharusnya aku mendapatkan anugrah oscar untuk adegan ini. Ucap Sakura dalam hati sambil tetap melambai dan berpose ke arah kamera dan wartawan.

Malam ini ia sangat bersinar dalam balutan gaun Christian Dior berwarna biru pucat berbahan sequin yang dihiasi Swarovski, membuatnya semakin gemerlap dibawah kilatan cahaya kamera. Penampilan itu juga ditunjang oleh perhiasan Cartier yang melingkar di lehernya, ditambah dengan clutch dari bahan kristal berwarna biru. Untuk mengimbangi gaun dan perhiasannya yang sudah bling-bling, Sakura memoleskan make up tipis pada wajahnya dan rambut panjangnya hanya ia sanggul sederhana tanpa hiasan. Satu kata untuk menggambarkan penampilan Sakura pada malam hari ini: Magnificent.

Sasuke tampil tak kalah menawan dengan setelan tuxedo klasik berwarna hitam dari Lanvin. Ia melemparkan pandangan memuja ke arah Sakura, yang beberapa detik kemudian langsung lenyap digantikan oleh ekspresi wajah kaku yang sudah menjadi trademark-nya. Hal yang tidak luput dari perhatian Sasuke malam ini adalah: cincin pemberiannya melingkar indah di jari manis Sakura!

Mereka berdua berjalan melewati Karin yang sedang melakukan press conference dengan beberapa awak media. Wanita berambut merah itu tampak sexy mengenakan gaun berpotongan dada sangat rendah yang menonjolkan belahan payudaranya. Gaun yang terbuka pada bagian punggungnya itu melekat sempurna di tubuh sintalnya, memperlihatkan setiap lekukan-lekukan yang ada.

The devil really...really... wear Prada.

Karin menatap tajam ke arah Sasuke dan Sakura. Menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, dengan sengaja Sakura meletakkan telapak tangannya di dada bidang Sasuke agar cincin yang melingkar di jari manisnya terlihat oleh Karin. Saat ini posisinya seolah sedang bersender manja di tubuh Sasuke.

Karin menangkap umpan yang diberikan Sakura. Hatinya panas terbakar cemburu, ditambah lagi ia menduga bahwa pink diamond ring yang melingkar dijari manis Sakura pasti pemberian dari Sasuke. Ia segera menyudahi sesi wawancaranya dan memilih untuk menyapa para tamu yang hadir, menghindari keberadaan Sasuke dan Sakura.

Payback is a bitch, Karin!

Sakura tersenyum penuh kemenangan, namun sayangnya senyum itu langsung hilang setelah ia menyadari siapa yang sedang berjalan ke arahnya.

Oh Kami...tolong jangan dia, atau kalau memang itu dirinya bisakah Kau membuatnya tidak melihatku? Sakura berdoa dalam hati. Tapi tak lama kemudian ia tahu bahwa doanya sia-sia karena saat ini sudah berdiri dihadapannya, tak lain dan tak bukan adalah pria yang kemarin pagi mengecup bibirnya. Prince of the desert, Sabaku no Gaara.

Gaara terlihat sangat tampan sekaligus misterius dalam balutan tuxedo berwarna burgundy rancangan Giorgio Armani. Dengan santai ia menjabat tangan Sasuke dan menyapa Sakura dengan sopan, seolah-olah peristiwa di taman pada pagi hari itu tidak pernah terjadi.

Sedangkan Sakura yang berdiri kikuk di samping Sasuke beberapa kali menundukkan wajahnya. Akhirnya Sakura bisa bernafas lega saat ia meninggalkan Gaara dan Sasuke yang sedang terlibat pembicaraan serius. Ia menajamkan penglihatannya untuk mencari Tenten yang ia serahi tanggung jawab untuk memastikan acara malam ini berjalan lancar.

Di tengah pencariannya Sakura bertemu dengan Shisui dan tunangannya Inuzuka Hana, ia mengabarkan bahwa Itachi berhalangan hadir karena sibuk mengurus pekerjaannya. Setelah itu Sakura bertemu dengan Naruto dan pacar barunya yang pemalu Hyuga Hinata. Naruto membuat Sakura untuk sementara melupakan tujuan utamanya untuk mencari Tenten.

Tenten yang tampil cantik dengan mengenakan gaun berwarna baby grey berpotongan cheyongsam itu ternyata sedang sibuk hilir mudik dengan walkie talkienya untuk memastikan acara berjalan lancar sesuai jadwal. Karena terlalu sibuk ia tidak sempat membaca pesan yang dikirimkan Sakura. Tenten tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh pria dengan iris berwarna ungu pucat dan rambut terurainya yang berwarna coklat gelap. Ya, Neji diam-diam memperhatikannya dari kejauhan.

Ino yang baru saja memasuki ballroom, berjalan dengan anggun. Ia mengenakan gaun atelier Versace berwarna putih gading yang nampak sangat serasi dengan rambut blondenya yang dikucir tinggi menyerupai ekor kuda. Saat pandangan matanya menyapu seluruh ruangan untuk menemukan Sakura, seorang pria menyapanya dari arah belakang.

"Selamat malam Nona Yamanaka."

Ino menoleh dan tersenyum, "selamat malam..." Kalimatnya menggantung, berusaha mengingat-ingat siapa pria yang berada dihadapannya.

"Namaku Sai, aku pernah memotretmu untuk cover majalah Harpes Baazar.

"Owwh...maaf aku sedikit lupa." Jawab Ino kikuk sambil menjabat tangan Sai.

Sai tersenyum sekilas. "Senang bertemu dengan anda, nona Yamanaka. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman."

"Ah, bukan begitu maksudku. Tadi aku hanya berusaha untuk mengingat-ingat. Tidak kusangka kita bisa bertemu disini."

"Yaa, aku sedang memiliki project di Jepang untuk beberapa bulan kedepan. Aku dengar kau memutuskan untuk menetap dsini?"

"Ya, aku rasa sudah waktunya untuk pulang dan berkarir disini saja. Lagi pula runway di Paris sudah memiliki banyak talent-talent muda yang lebih fresh."

"Begitulah dunia mode, setiap orang datang dan pergi begitu cepat. Sudah lama aku ingin mengontakmu untuk pameran pribadiku yang akan diadakan pertengahan musim semi mendatang. Jika kau berkenan, mau kah kau menjadi model lukisanku?"

"Wow, dengan senang hati. It's my pleasure to become a model for infamous photographer and artist like you."

"Ahaha...tidak perlu menyanjungku seperti itu. Justru Aku yang sangat berterima kasih karena supermodel seperti anda bersedia membantuku berkarya. Oh ya, ini kartu namaku." Ucap Sai menyodorkan kartu namanya. "Sekali lagi terimakasih nona Yamanaka, selamat menikmati pesta malam ini." Kemudian Sai berlalu.

Ino menyimpan kartu nama itu dengan hati-hati ke dalam clutch yang ia genggam. Sai, nama itu terus menggema dalam hati Ino. Untuk sesaat ia seperti berada dalam dunianya sendiri dan melupakan Shikamaru yang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa dua gelas wine.

.

Sementara itu dua pasang kekasih sedang berciuman dengan panasnya di bordes tangga darurat. Mereka saling memagut, saling meraba tubuh masing-masing, seakan sedang melepaskan rindu yang sudah sekian lama terpendam.

"Tidak bisa Neji, kita tidak bisa terus seperti ini..." Tenten berusaha mendorong tubuh Neji.

"Kalau begitu ayo kita pergi, kita pergi dari Jepang." Neji kembali menghimpit tubuh Tenten hingga terhimpit ke dinding, melanjutkan ciumannya yang kini bergerilya dari telinga sampai leher Tenten

"Kau Gila! Ingat Neji, kau sudah memiliki seorang anak. Bagaimana dengannya. Apa kau tega membiarkannya tumbuh tanpa seorang ayah?"

Neji diam membeku, ucapan Tenten benar. Ia sudah memiliki seorang putra berusia tiga tahun yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah, namanya Kenji. Meskipun Neji tidak pernah mencintai istrinya, tapi ia sangat menyayangi Kenji. Kenji adalah satu-satunya keajaiban dalam kehidupan hampa yang Neji jalani. Neji perlahan mundur dan melepaskan cengkraman tangannya dari tubuh tenten.

"Kembalilah pada istrimu... Berusahalah bahagia dengan keputusan yang telah kau ambil." Tenten menatap Neji dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu."

"Setiap tahta memiliki harga yang harus kau bayar Neji. Hiduplah dengan baik, dan seiring berjalannya waktu aku akan menemukan kebahgianku sendiri." Kini air mata mulai menetes dari pelupuk mata Tenten.

Neji memandang wajah Tenten untuk beberapa saat, kemudian berbalik pergi. Hatinya sangat terluka.

Bagaikan bilangan matematika yang telah mencapai nilai yang sangat besar, jika dikalikan dengan Nol maka tidak ada artinya. Seperti itulah yang Neji rasakan. Lahir dari keluarga terhormat, dinobatkan menjadi penerus, memiliki istri yang cantik, mendapatkan seorang putra yang lucu, kerajaan bisnis yang sukses, kurang sempurna apalagi hidupnya? Namun tetap saja semua itu terasa kosong. Neji memiliki hasrat lain.

Ia mencintai orang lain.

Tidak ada satupun kehidupan yang sempurna di dunia ini. Kita semua hidup di atas sebuah panggung sandiwara besar dimana setiap orang adalah pemain. Dan Neji adalah salah satu tokoh handal yang memainkan perannya dengan sangat baik.

Neji membuka pintu dan mendapati Sakura dihadapannya. Neji kembali memasang wajah dinginnya seperti biasa. Sakura tak habis pikir, mengapa dalam beberapa hal Sasuke dan Neji sangat mirip. Sakura tak mengucapkan sepatah katapun. Begitu Neji berlalu ia segera membuka pintu yang tadi ditutup oleh Neji, dan menemukan sekretaris pribadinya sudah dalam keadaan terduduk di lantai dan menangis.

Sakura memeluk dan mengusap-usap punggung Tenten untuk menenangkannya. Setelah tangis Tenten mereda, Sakura mengajaknya ke toilet untuk memperbaiki penampilannya yang sudah berantakan. Lalu tenten membasuh wajahnya dan kembali merapikan gaun serta tatanan rambutnya.

"Terima kasih Sakura, maaf sudah membuatmu mencariku." Ucapnya masih dengan suara yang serak.

"Tidak apa-apa, sebaiknya kita cepat kembali. Acara ini masih separuh jalan." Sahut Sakura lembut.

Dan benar saja, saat Sakura kembali, Sasuke sudah memasang wajah sewot.

"Darimana saja kau? Apa yang akan dikatakan orang jika aku berdiri sendirian tanpa di dampingi istriku."

Sakura hanya menghela nafas, lalu kembali menggandeng lengan Sasuke.

"Seluruh tamu vip akan menginap di hotel, jika kau mengantuk pergilah ke kamar terlebih dahulu."

"Tidak Sasuke, kau saja yang menginap aku akan pulang ke rumah."

"Kau akan menginap disini bersamaku. Dan aku sedang tidak ingin bernegosiasi."

Pembicaraan mereka terputus karena sepasang suami istri yang merupakan kolega bisnis Sasuke menyapa mereka.

.

Karin yang melihat kedekatan Sasuke dan Sakura dari kejauhan mengepalkan tangan geram.

"Suigetsu apakah Sasuke mengirimkan pesan padaku?" Tanya Karin pada manajernya yang berdiri tak jauh dari dirinya.

"Ya, Sasuke-sama mengatakan kalau malam ini ia tidak akan menemuimu karena sedang bersama dengan istrinya."

Kemarahan Karin semakin menjadi-jadi, bisa-bisanya Sasuke mencampakkannya begitu saja. Tapi kemudian bibirnya menyeringai licik, "baiklah...kalo begitu. Sepertinya rencanaku harus segera dilaksanakan."

Karin memanggil pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas wine, lalu gelas berisi wine tersebut diambilnya satu. Ia meneteskan sejenis cairan bening kedalamnya dan menyuruh pelayan itu memberikannya pada wanita berambut pink yang memakai gaun berwarna biru pucat. Tak lupa ia menyelipkan sejumlah uang yang cukup banyak di saku si pelayan agar perintahnya dilaksanakan.

Melihat pelayan tersebut segera berjalan menghampiri Sakura, Karin tersenyum puas. Sungguh sangat disayangkan, Karin tidak menyadari bahwa Kakashi sedang memperhatikan gerak geriknya dari kejauhan.

"Kali ini kau sudah melampaui batas Karin, kau bisa dipenjara karena telah melakukan tindakan mencelakakan orang lain." Komentar Suigetsu.

"Diam dan perhatikan baik-baik Suigetsu. Sebentar lagi seluruh dunia akan tahu bahwa Sakura tak lebih dari sekedar pelacur yang beruntung dapat menikahi seorang Uchiha Sasuke." Karin berkata dengan angkuh.

Ketika pelayan itu menawarkan minuman untuknya, Sakura langsung mengambil gelas wine yang disodorkan itu tanpa ragu-ragu dan langsung meminumnya. Ia sedang menemani Sasuke berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya.

Tak lama kemudian Sakura merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Suhu tubuhnya mendadak naik, ia menjadi gelisah. Menyadari ada yang tidak beres, Sakura mohon diri untuk pergi ke toilet. Sasuke menoleh sebentar ke arah Sakura yang berjalan dengan terburu-buru lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.

Sakura berjalan sempoyongan, pandangannya jadi sedikit buram dan nafasnya semakin memburu. Ia merasakan sensasi yang aneh di daerah kewanitaannya. Gaara yang memang sejak awal acara tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita musim semi itu menjadi cemas. Ia bergegas menghampiri Sakura.

"Sakura apa kau sedang tidak sehat?"

Ohh Kami mengapa harus Gaara lagi? Keluh Sakura dalam hati. Ia masih belum siap bertemu dengannya terlebih lagi di tempat seperti ini. Tapi saat ini Sakura sudah tidak mempedulikan rasa malunya, karena fokus utamanya adalah bagaimana mengatasi tubuhnya yang tengah bereaksi dengan aneh.

"Aku tidak apa-apa, aku hanya merasakan tiba-tiba suhu tubuhku jadi tidak normal. Rasanya panas dingin."

"Beristirahatlah Sakura, mungkin kau kelelahan."

Cengkraman tangan Gaara pada kedua lengannya yang dimaksudkan untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh tiba-tiba seperti sengatan listrik. Sakura ingin disentuh lebih dari itu, seakan sedang sakau dan sentuhan itu adalah penawarnya. Tanpa ia sadari, ia semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Gaara sampai mereka nyaris berpelukan.

Karin yang menyaksikan bahwa rencananya berjalan mulus tersenyum penuh kemenangan lalu berbalik pergi.

Menyadari situasi dan kondisi saat ini, dengan sopan Gaara memundurkan tubuhnya. Di tempat penuh manusia seperti ini sangat tidak mungkin ia melakukan apa yang diinginkan oleh hatinya untuk dapat mendekap dan memastikan bahwa Sakura baik-baik saja.

Ketika Gaara menjaga jarak dengannya, Sakura sedikit kecewa.

Namun sejurus kemudian ada tangan kokoh yang merangkul pinggangnya dengan posesif.

"Terima kasih sudah menjaga istriku, Mr. Sabaku." Ucap Sasuke mantap.

Gaara mengangguk lalu berkata, "aku rasa ia sedang tidak sehat."

"Baiklah kalo begitu, aku akan segera membawanya ke kamar." Sasuke merangkul pundak sakura dan menggiringnya meninggalkan ballroom.

Gaara menyaksikan wanita yang dicintainya berjalan meninggalkannya dalam pelukan pria lain dengan perasaan hancur. Seharusnya ia yang menggandeng tangan Sakura, menuntunnya berjalan, memberikan rasa nyaman, memberikan perlindungan.

Seharusnya itu aku...bisiknya dalam hati.

.

Tadi Gaara sekarang Sasuke, Sakura merasa jijik pada dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba tubuhnya seperti haus akan sentuhan laki-laki. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan Sasuke.

Saat berada di dalam lift yang membawa mereka menuju ke kamar grand suite dilantai paling atas, Sakura sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya. Tanpa ia kehendaki daerah kewanitaannya berdenyut dan basah. Dengan posisi Sasuke yang memeluk tubuhnya dari belakang dan mencengkram pinggulnya supaya tidak roboh, Sakura dapat memperhatikan setiap detail wajah suami tampannya itu dari dekat.

Iris onyx yang sekelam malam, bulu mata panjang dan lebat yang membingkainya membuat sorot matanya semakin tajam seolah dapat menembus ke dalam jiwa siapapun yang dipandangnya. Tulang pipi yang terpahat dengan indah, hidungnya yang sangat aristocratic, dan bibirnya...saat ini mata Sakura terpaku pada bibir tipis sempurna milik Sasuke. Bagaimana rasanya jika bibir itu menyentuh bibirnya, menyentuh setiap inci kulitnya hingga ke bagian-bagian yang paling sensitif. Batin Sakura bertanya-bertanya dalam hati.

Namun kemudian Sakura tersadar dan tiba-tiba ingin menampar dirinya sendiri atas pikiran-pikiran liar yang bersarang di otaknya.

"Kenapa kau?" Tanya Sasuke dingin.

"Ngggg...tidak." Jawab Sakura lirih. Nafas Sakura yang memburu membuat kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar seksi di telinga Sasuke. Ditambah lagi dengan pandangan mata Sakura, Sasuke menangkap sesuatu di sana...apakah itu nafsu? Mau tidak mau hal ini membuat libido Sasuke naik.

"Ada yang aneh dengan wajahku. Kau memandanginya seolah-olah-"

"Sssttt..." Ucap Sakura sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Sasuke, sehingga Sasuke tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Entah mendapatkan keberanian dari mana, Sakura berjinjit -meskipun ia sudah memakai hak tinggi- lalu kedua tangannya meraih pipi Sasuke untuk mendekatkan wajah mereka. Kejadian yang seperti slow motion tersebut berakhir dengan Sasuke dan Sakura melakukan french kiss dengan penuh gairah di dalam lift. Tak ada kata-kata yang terucap selain hasrat untuk saling memenuhi satu sama lain.

Sasuke melumat habis bibir Sakura. Ia dengan lihai memainkan lidahnya, menyapu deretan gigi dan rongga mulut Sakura. Secara naluri Sakura jadi terpancing, kini lidah mereka saling bermain, beradu, membelit-belit membuat ciuman itu semakin panas. Sakura melenguh tak kuasa menahan ganasnya serangan Sasuke.

Sasuke menarik wajahnya, memberi ruang bagi mereka untuk bernafas. Dengan sigap ia mengangkat tubuh Sakura untuk menggendongnya dengan posisi bridal style lalu melangkah keluar lift.

Saat berjalan di lorong, Sasuke menyerang leher Sakura yang ter-ekspose dalam gendongannya. Ia mengecup, menjilat dan mengigit-nggit kecil mulai dari telinga sampai ke bagian bawah leher Sakura.

.

LEMON

.

Di dalam kamar, ia menurunkan tubuh Sakura dari gendongannya sambil melanjutkan kembali ciuman mereka. Tangan Sasuke meraba punggung Sakura, menemukan ritsleting lalu tanpa sungkan-sungkan membukanya. Membuat gaun tersebut merosot dari tubuh Sakura dan meninggalkannya hanya dalam balutan g-string berwarna senada dengan gaunnya. Payudara Sakura yang ranum meskipun tidak terlalu besar memiliki puting berwarna pink yang menggoda.

What the hell?! Apa yang ada di dalam otak Sakura saat memutuskan untuk mengenakan pakaian dalam seminim ini? Tanya Sasuke dalam hati. Onyx hitamnya menatap setiap lekuk tubuh sakura dengan pandangan lapar.

Timbul rasa memiliki yang kuat dari dalam diri Sasuke. Ia memutuskan bahwa mulai detik ini Sakura tidak akan keluar selangkahpun dari rumah jika hanya memakai pakain dalam seperti ini.

Jari-jari Sakura yang terampil berhasil melucuti pakaian Sasuke sehingga kini ia dapat melihat tubuh kokoh milik suaminya yang terbentuk sempurna. Namun aktifitas tangan Sakura terhenti saat ia akan membuka sabuk yang dikenakan Sasuke karena merasakan tubuhnya di dorong untuk direbahkan di atas tempat tidur.

"You are mine Sakura...mine only..." Bisik Sasuke di telinga Sakura.

Hembusan nafas hangat Sasuke membuat bulu kuduk Sakura merinding. Punggungnya meregang berusaha untuk semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sasuke. Ciuman Sasuke mulai meninggalkan leher Sakura dan bergerak semakin ke bawah menuju dua gundukan kenyal dan mulus dengan puting yang sudah menegang. Siap untuk diberi tindakan.

Dengan lahap Sasuke mengulum puting tersebut secara bergantian sambil sesekali memainkannya.

"Ahhh…. Sasuke..." Desah Sakura penuh kenikmatan. Jemari tangannya berada di sela-sela rambut Sasuke, sambil sesekali menjambaknya saat sasuke menggigit-gigit puting miliknya.

Dengan menggunakan sebelah tangan bebasnya Sasuke mengelus-elus selangkangan Sakura sehingga membuat perasaan wanita ber-irish emerald itu semakin tidak karuan.

Kemudian dengan jari tengahnya Sasuke menggesek-gesek bibir kewanitaan Sakura dari bawah ke atas.

"Aahh… Sa...su...keehh..…" Erang Sakura. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang dan menggeliat kesana kemari. Dunia serasa berputar-putar, kesadaran Sakura bagaikan terbang ke langit. Kewanitaannya terasa sudah sangat basah karena ia memang benar-benar sangat terangsang.

Kemudian Sasuke mengangkat wajah dan memundurkan tubuhnya. Ternyata Sasuke tengkurap diantara kedua kaki Sakura yang otomatis terkangkang. Kepalanya berada tepat di atas kewanitaan yang ditutupi rambut-rambut halus berwarna pink tersebut.

Kedua paha Sakura dipegang dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga paha bagian dalamnya seperti menjepit kepala Sasuke.

"Aaa… Sasuuu…!" Sakura menjerit.

Walaupun lidah Sasuke terasa lembut, namun jilatannya itu terasa menyengat kewanitaan Sakura dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Lidah Sasuke mengait-ngait kesana kemari menjilat-jilat seluruh dinding kewanitaan Sakura. Tentu saja Sakura makin menjadi-jadi, tubuhnya menggeliat-geliat dan terhentak-hentak.

"Aaahhh Sasuke...stooop…aku sudah tidak tahaaaann...aahh!".

Sasuke dengan kuat memeluk kedua paha Sakura di antara kedua pipinya, sehingga ia tetap dapat mengendalikan tubuh Sakura yang menggelinjang hebat. Kemudian Sasuke sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kewanitaan Sakura, lalu disorongkan sedikit ke atas. Rupanya Sasuke mengincar clitoris Sakura.

"Aaarrghhh!…" Sakura menjerit keras sekali. Ia merasa seperti tersengat listrik karena ternyata itu bagian yang paling sensitif. Sasuke terus menjilati clitoris Sakura sambil menghisap-hisapnya.

"Aa… Sasuke-kuuunnn… aauuhh… aahh… !" Jerit Sakura tertahan.

Mendengar namanya dipanggil dengan tambahan sufik 'kun' membuat Sasuke semakin ganas. Entah mengapa jika Sakura yang memanggilnya seperti itu rasanya tidak asing, seperti sudah pada tempatnya. Seperti sudah seharusnya, dan ia ingin mendengar namanya dipanggil seperti itu untuk selama-lamanya.

Tiba-tiba Sakura merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam kewanitaannya, ia sudah tak sanggup menahannya. Namun Sasuke yang sepertinya sudah tahu, justru menyedot clitorisnya dengan kuat.

"Sasuke-kuunn…aaaahhhh…!" Tubuh Sakura terasa tersengat tegangan tinggi, ia menegang, tak sadar menjepit dengan kuat pipi Sasuke dengan kedua pahanya.

Lalu tubuh Sakura bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan dari dalam kewanitaannya. Tampaknya Sasuke tidak menyia-nyiakannya. Disedotnya kewanitaan Sakura, dihisapnya seluruh cairan hangat yang baru saja keluar tersebut. Tulang-tulang Sakura terasa luluh lantak, tubuhnya terasa lemas sekali. Ia baru saja merasakan orgasme pertamanya.

Sasuke kemudian bangun dan mulai melepaskan sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Kemudian tubuhnya kembali menindih tubuh Sakura.

"Sakura apa kau yakin? Ini akan terasa sangat sakit di awal..." Bisik Sasuke lembut.

"I want you Sasuke-kun...I want you inside me..." Jawab Sakura lirih. Otaknya sudah dipenuhi hawa nafsu. Ia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, dirinya sangat ingin disetubuhi.

Tangan kiri Sasuke memegang pinggul Sakura dan tangan kanannya memegang batang kejantanannya. Kemudian Sasuke menempatkan kepala kejantanannya pada bibir kewanitaan Sakura yang masih tertutup rapat. Kepala kejantanannya yang besar itu mulai ia gosok-gosokannya disepanjang bibir kewanitaan Sakura, sambil ditekannya perlahan-lahan.

Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke seluruh tubuh Sakura. Ia sudah tidak berdaya diperlakukan seperti ini oleh Sasuke. Beberapa saat kemudian ia merasa kejantanan Sasuke mulai ditekan masuk ke dalam liang kewanitaannya. Dan dengan sekali dorong seluruh kejantanan Sasuke melesak masuk merobek selaput dara Sakura.

Sakura mengigit bibir bawahnya hingga berdarah untuk mencegahnya berteriak atas rasa sakit yang tidak tertahankan. Air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya, dan jari-jarinya mencengkram punggung Sasuke dengan kuat, sehingga Sasuke merasa seperti tercakar. Namun Sasuke tidak mempedulikannya, saat ini fokus utamany hanya tertuju pada wanita yang berada dibawahnya.

Ia mengecup kening dan bibir Sakura sambil berkata, "maaf...maafkan aku Sakura..."

Untuk sementara Sasuke diam di posisinya, membiarkan liang kewanitaan Sakura menyesuaikan diri dengan ukuran kejantanannya. Saat Sakura mulai tenang, Sasuke kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur dalam gerakan memompa. Tubuh Sakura tersentak-sentak.

"Ssshh… ssshh…ooohh… ooohh…" Sakura merasakan keanehan, rasa sakit itu kini perlahan digantikan oleh sensasi nikmat yang luar biasa.

"Aahh...Sasuke-kuun...faster..." Mulut Sakura meracau, tak kuasa membendung kenikmatan yang melandanya.

Seperti sedang dikomando, Sasuke pun mempercepat gerakannya. Dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuh Sakura. Bayangan hitam menutupi seluruh pandangannya. Sesaat kemudian kilatan cahaya berpendar dimatanya. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalnya.

"SASUKEE...KUN...!" Sakura berteriak dengan sepenuh hati. Sensasi itu meledak di tubuhnya.

Saat Sakura membuka matanya bayangan hitam dan kilatan cahaya itu berubah menjadi fragmen-fragmen cahaya seperti pendaran ribuan kembang api yang menerangi angkasa.

Tubuhnya bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Sasuke. Sakura mengalami orgasme yang dahsyat. Ia merasakan kenikmatan berdesir dari daerah kewanitaannya, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhnya selama beberapa detik. Sakura merasa melayang-layang.

Kewanitaan Sakura yang berdenyut-denyut menghisap kuat kejantanan Sasuke, membuat pria dengan iris onyx itu kembali mempercepat gerakannya. Kali ini ia menekan pinggul Sakura rapat-rapat, sehingga seluruh batang kejantanannya terbenam dalam kewanitaan Sakura.

"Ooohh… Ohh Sakura..… aakkuu… maau aahh… hhmm…ooouuhh!". Desis Sasuke tertahan.

Tiba-tiba Sakura merasakan semburan cairan hangat membasahi rahimnya. Sasuke menempelkan keningnya ke kening Sakura untuk mengatur nafasnya. Dipandanginya wajah Sakura yang berpeluh, kemudian disekanya. Lalu ia mengecup lembut bibir Sakura dan tersenyum. Senyum yang benar-benar original, seperti yang Sakura pernah lihat saat mereka masih anak-anak.

.

END OF LEMON

.

"Terima kasih Sakura…" Bisiknya lembut.

Sasuke kemudian menarik tubuh Sakura yang sudah sangat lemas ke dalam pelukannya. Entah nyata atau tidak, samar-samar Sakura mendengar kata 'I love you' ditelinganya. Namun kelelahan dan rasa kantuk buru-buru menyeret Sakura ke dalam alam bawah sadarnya. Sehingga otakknya sudah tak lagi sempat mencerna kata-kata yang baru saja di dengarnya. Ia pun terlelap.

Keesokan harinya Sasuke adalah orang pertama yang terbangun, seberapapun ingin untuk bangun siang, tetap saja alarm alami pada tubuhnya tidak mengizinkan. Ia terbangun dengan perasaan lebih segar dari biasanya.

Sasuke merasakan tubuhnya hangat, kehangatan yang berbeda dari biasanya. Saat matanya terbuka dengan sempurna dan mulai beradaptasi dalam gelap ia akhirnya mengetahui bahwa sumber kehangatannya bukan berasal dari selimut yang menutupi tubuhnya. Melainkan berasal dari sesuatu yang hidup dan bernafas!

Sakura...

Ingatan Sasuke kembali pada malam sebelumnya.

.

FLASH BACK

.

Sasuke sedang berbincang-bincang dengan salah satu kolega bisnisnya, Sakura meminta ijin untuk pergi ke toilet. Tak lama setelahnya Kakashi menghampirinya.

"Sasuke, bisa aku minta waktumu sebentar?" Tanya Kakashi dengan nada serius.

Sasuke merasa heran, tidak seperti biasanya Kakashi membicarakan sesuatu yang serius pada moment seperti ini. Ia pun segera mengakhiri pembicaraannya, dan bersama-sama dengan Kakashi berjalan menuju ke arah balkon untuk menjauh dari keramaian.

"Ada apa?" Tanya Sasuke penasaran.

"Apa kau tidak melihat ada sesuatu yang aneh pada Sakura?"

"Tidak, dia minta ijin padaku untuk pergi ke toilet."

Kakashi terdiam, ia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Sasuke. Tapi untuk sementara waktu ia ingin memastikan terlebih dahulu apa motif Karin, mengapa wanita itu terlihat ingin mencelakakan Sakura. Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Sasuke? Jika iya, maka semua prasangkanya selama ini benar. Sasuke masih melakukan kebiasaan lamanya untuk selalu menghabiskan malam dengan wanita-wanita random di luaran sana. Kali ini mantan muridnya itu sudah melampaui batas, karena perbuatannya secara tidak langsung sudah mengancam keselamatan Sakura. Dan untuk hal itu Kakashi tidak akan tinggal diam.

"Jaga istrimu baik-baik Sasuke, jangan sampai suatu hari kau akan menyesali semua perbuatan yang sudah pernah kau lakukan padanya." Kakashi memberikan nasehat.

Sasuke tidak menjawab, ia masih bingung mengapa tiba-tiba Kakashi membahasa masalah pribadinya. Apa ada yang Kakashi ketahui? Belum sempat pertanyaan dalam benaknya terjawab Kakashi sudah pergi meninggalkannya, dan sebelum pergi Kakashi berpesan agar ia segera menemui Sakura dan mempertanyakan keadaannya yang terlihat kurang sehat.

Sudah hampir 30 menit, dan Sakura tak kunjung kembali padanya. Sasuke mulai khawatir dan segera berkeliling ruangan untuk menemukan Sakura.

Di lain pihak dari jauh Kakashi mengamati Sasuke. Saat melihat Sasuke menuntun Sakura untuk berjalan keluar dari ballroom ia pun tersenyum. Langkah selanjutnya Kakashi akan menyelidiki Karin.

.

END OF FLASH BACK

.

Untuk saat ini Sasuke memilih untuk menyimpan rasa penasarannya, ia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Sakura. Toh Ia masih memiliki banyak waktu untuk melakukan penyelidikan.

Sasuke bangkit dari tempat tidurnya, lalu duduk di kursi baca yang terletak di sudut ruangan. Dari sana ia memperhatikan setiap lekuk tubuh Sakura yang masih tertidur pulas. Rambut panjang berwarna pink tersebut terurai acak-acakan, dengan beberapa helaian yang menutupi sebagian dari wajah pemiliknya. Sakura terlihat sangat angelic, wajahnya yang cantik alami meskipun tanpa make up itu tersenyum dalam tidurnya.

Sasuke rela menukar apapun yang dimilikinya untuk dapat terbangun seperti ini setiap pagi. Ia tidak akan pernah sedikitpun membagi Sakura dengan orang lain. Tidak...tidak akan pernah, Sakura adalah miliknya seorang.

Tak puas-puas Sasuke memandangi Sakura. Wanita yang telah mengisi hatinya sejak awal mula.

Dan kini wanita itu pula lah yang meruntuhkan tembok pertahanan yang ia bangun dengan sangat hati-hati. Tembok yang membuat hatinya tidak tersentuh oleh siapapun. Membentengi dirinya dari sesuatu yang bernama cinta. Sesuatu yang selama ini Sasuke anggap sebagai sebuah kelemahan.

You're the light, you're the night

You're the color of my blood

You're the cure, you're the pain

You're the only thing I wanna touch

Never knew that it could mean so much, so much

You're the fear, I don't care

'Cause I've never been so high

Follow me to the dark

Let me take you past our satellites

You can see the world you brought to life, to life

Fading in, fading out

On the edge of paradise

Every inch of your skin is a holy gray I've got to find

Only you can set my heart on fire, on fire

So love me like you do, lo-lo-love me like you do

Love me like you do, lo-lo-love me like you do

Touch me like you do, to-to-touch me like you do

What are you waiting for?

(Ellie Goulding - Love Me Like You Do)

Setelah puas memandangi Sakura, Sasuke bangkit dari tempat duduknya. Ia harus bersiap-siap karena pagi ini Hyuga Neji mengajaknya bermain golf.

.


"Pagi ini kau terlihat lebih segar dari biasanya..." Neji menyapa Sasuke ringan.

Sasuke hanya menyungingkan senyum tipis di bibirnya. Dua pangeran tampan itu melintasi arena ditemani oleh beberapa petugas yang membawakan peralatan mereka. Hilton Tokyo Bay adalah salah satu hotel yang menyediakan indoor driving range terbaik di Jepang.

Tak jauh dari sana beberapa caddy girl tengah mengerahkan kemampuan flirting terhebat mereka ke arah Sasuke dan Neji. Namun tentu saja hasilnya sia-sia.

"Annoying." Komentar Sasuke.

Neji hanya menyeringai ke arah para wanita yang sedang berkasak-kusuk dengan berisiknya. Flirting and giggling like mindless idiot.

"Apa kau tahu bahwa Naruto sedang mengencani Hinata?" Ucap Sasuke sambil melakukan sedikit pemanasan sebelum bermain.

"Cih...anak bodoh itu. Lihat saja jika sampai ia berani menyakiti perasaan Hinata." Neji berkata dengan nada suara yang dingin.

"Tenang saja Neji, menurutku ia tidak akan melakukan itu. Mungkin Hinata hanya akan memasak ramen sepanjang sisa hidupnya."

"Idiot!" Neji mengayunkan stick golfnya dengan tenaga yang sedikit berlebihan, membuat bolanya terlempar jauh melampaui hole yang ia tuju.

"Yaa...setidaknya Naruto tidak harus membayangkan wajah wanita lain saat sedang bercinta dengan Hinata."

Neji hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar sindiran Sasuke. Walaupun sebenarnya dalam hati ia seperti baru saja mendapatkan pukulan telak.

.


Hahaha...akhirnya bikin lemon juga!

Jangan lupa rate dan reviewnya yaaah para reader-san yang terhormat!

Terima kasih untuk semua kritikannya, jangan bosen ya...maklum yang nulis udah lama gak makan bangku sekolahan. (Yaa iyalah, enakan juga makan nasi padang :p)

.