"Jadi, bagaimana? Siapa yang mau menggantikan Chouji di garis akhir?"

"Bagaimana dengan Kakuzu?"Usulku. Mereka semua spontan menggelengkan kepala.

"Dia lebih ahli dalam menghitung uang, kau tahu?"Ino berkata pelan. Sepertinya takut ketahuan Kakuzu. Aku mengangguk setuju.

"Udon?"

"Jangan! Nanti ingusnya malah terbang kesana-kemari."Kami berpikir lagi..

"Ah! Kau saja!"Tiba-tiba Kiba menunjuk Mizami. Empunya malah menggeleng cepat dan kabur.

"Bagaimana kalau…."

"Bagaimana kalau aku saja?"Suara itu membuat kami menoleh dengan serentak. Detik itu juga duniaku seperti berhenti.

.

.

.

.

.

Nanti

Karakter yang dipinjam dari Masashi Kishimoto

Rated: T

Pairing: Sasusaku

Summary: Ketika dia datang dengan kancing kedua, maka Sakura akan menjawab 'Nanti'.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 7: Terima Kasih

.

.

.

.

.

.

.

Kami tersentak dengan seruan tersebut. Ternyata pelakunya adalah Itachi, kakaknya Sasuke. Itachi tersenyum menatap karyawan-karyawan ini. Aku terpaku melihatnya. Entah mengapa bertemu dengan keluarga Sasuke sungguh menyesakkan dada. Ditambah lagi dengan Sasuke yang berdiri di belakang Itachi. Makin salah tingkahlah aku sekarang. Tatapannya menusuk kedua mataku.

"Kudengar kalian sedang mencari pengganti Chouji. Apa benar begitu?"Semua orang mengangguk kompak. Minus diriku yang sedari tadi menunduk.

"Apa Itachi-san mau membantu kami?"Tanya Ino penuh harap. Itachi tersenyum lagi. Ah! Manis sekali! Sangat berbeda dengan Sasuke yang minim ekspresi. Kurasa dia mengidap moebius syndrome.

"Aaa aku ingin membantu. Tapi sepertinya istriku tidak mengizinkan karena akhir-akhir ini punggungku sering sakit."Jawabnya sambil memegang punggung tegapnya. Hahhh…pudar sudah harapan kami semua. Lantas bagaimana ini? Siapa pula yang harus menggantikan Chouji? Aku tidak ingin membuat teman-teman kecewa. Untuk pertama kalinya, aku diakui, untuk pertama kalinya juga aku diberi kesempatan untuk membanggakan teman-teman. Lalu setelah kesempatan itu datang, haruskah lenyap begitu saja?

"Anoo…Itachi-san."Sang empunya menoleh, begitu pula yang lain. Mereka menunggu responku. Aku harus mengatakan ini sebelum Hayate memberi instruksi dan perlombaan dimulai. Ayo Sakura! Sampingkan egomu!

"Apa timku boleh meminta bantuan pada tim lain?"Bukan hanya Itachi, tetapi semua orang juga melayangkan tatapan bingung. Hanya Sasuke saja yang enggan mengubah ekspresi.

"Emm jika kau meminta bantuan pada tim lain, tentu saja akan ada banyak kontroversi nantinya. Tapi karena ini mendesak, kurasa ketua panitia pasti akan berbaik hati mengizinkan."Sasuke yang merasa tersindir hanya berdecih. Aku tersenyum lega sambil berucap terima kasih berulang kali.

"Kalau begitu, aku akan meminta bantuan Gaara-san!"Ujarku semangat. Semua orang berbinar-binar menatapku sambil berseru 'itu ide yang bagus'. Sekilas, kulihat rahang Sasuke yang sedikit mengeras. Biarkan saja! Kesampingkan dulu si Sasuke itu. Urusan teman lebih penting. Aku bersyukur teman-teman setuju dengan rencanaku. Lagipula Gaara pasti akan bersedia membantu jika aku yang meminta kan? Jangan lupa kalau dia itu guru lariku.

"Tidak buruk juga, Gaara dari IT kan ? mungkin Gaara akan bersedia membantu gadis cantik ini."Ujar Itachi sambil tersenyum dengan sedikit kerlingan manja. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih diikuti oleh yang lain.

"Aku akan mencari Gaara sek—"

"BIAR AKU SAJA!"

"Eh?"Sasuke melangkah dengan panjang. Dari caranya berjalan, aku cukup tahu bahwa pemuda ini sedang unmood. Dia berhenti di hadapanku dan mengamit pergelangan tanganku. Itachi tersenyum misterius. Sedangkan yang lain hanya jadi penonton semata.

"Aku…."Ujarnya pelan. Aku melongo menantikan ucapan selanjutnya.

"Aku yang akan menggantikan Chouji."Lanjutnya lagi.

"EHHHH?"Seketika itu pula tim merah semakin gaduh. Itachi? Tentu saja dia bangga dengan adiknya.

"Dasar tsundere"Batinnya tertawa.

.

.

.

.

"Pertandingan persahabatan babak terakhir akan dimulai!"Riuh-riuh dari seluruh karyawan menggema di stadion ini, menandakan semangat yang membara. Spanduk-spanduk besar dari masing-masing tim digelar dengan bangga. Keluarga Uchiha sangat menikmati acara ini, kentara sekali dengan sikap Ito yang daritadi meloncat girang. Berterimakasihlah pada Uchiha Sasuke yang menjadi dalang acara ini.

"Seperti biasa Guy akan menjadi jurinya. Ucapkan halo padanya yang ada di ujung sana!"Seru Hayate lagi. Merasa namanya disebut, Guy melambai-lambaikan tangannya. Seluruh karyawan mengikuti instruksi, termasuk Lee yang paling semangat jika sudah menyangkut gurunya itu.

"Seluruh supporter harus saling menghormati, saling mengasihi, dan saling menyayangi. Hari ini kita lawan, tapi besok kita kawan! Semua harus semangat karena pertandingan ini adalah babak penentu."

"Oi Hayate!"Hayate menoleh dan mendapati Shikamaru yang berdiri di hadapannya. Hayate menekan tombol off pada micenya. Lalu bertanya ada apa. Shikamaru menatap Hayate dengan wajah malasnya. Shikamaru menggerakkan telapaknya naik turun. Hayate spontan mendekatkan telinganya. Shikamaru membisikkan sesuatu yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Detik berikutnya, mata Hayate berbinar.

"Benarkah itu?"Tanyanya.

"Hahhh… mendokusei na"

"Kalau benar, seluruh karyawan pasti akan semangat."Ujar Hayate dengan kepalan tangan yang ditinju ke udara.

"Yoss! Mari kita akhiri penantian panjang yang tak berujung ini. Dari tim biru dengan bangga mempersembahkan Nagato, Pein, Kankuro, dan Utakata. Empat pemuda awesome yang mampu membius mata perempuan. Pin BBM dan id LINE dijual terpisah."Mereka berempat berdiri dengan bangga. Tim biru sepertinya memiliki atlet yang banyak. Kenapa tampang mereka sangar-sangar semua sih? Lihat saja otot-otot kekar yang mereka miliki. Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Dari tim merah! Perwakilan dari divisi accounting dan sales marketing. Perpaduan antara manis dan gurih. Posisi awal ada Tenten si manis."Tenten dengan percaya diri menuju posisinya. Aku mengatupkan kedua tangan tanpa sadar ada yang melirik.

"Selanjutnya ada Hidate dan Sakura."Tanganku bergetar hebat. Rasanya hatiku ini seperti diguncang oleh gempa dahsyat yang bisa membuatku retak kapan saja. Tiba-tiba telapak tanganku digenggam. Ino tersenyum sambil menggenggam tanganku. Dia mengucapkan kalimat penyemangat. Aku mengangguk dan bertos ria dengan Naruto dan Hinata. Seberat apapun masalah, teman dan keluarga selalu jadi obatnya. Ya, aku percaya itu karena sekarang aku punya banyak teman yang sangat perduli padaku.

"Di posisi terakhir… tim merah punya peserta yang hot dan menggugah selera. Bersiaplah untuk tidak mengeluarkan hasrat jika melihatnya. Sambutlah! Peserta terhormat kita….Uchiha Sasuke!"Suasana mendadak sepi. Butuh beberapa detik untuk mencerna ucapan Hayate. Tapi tak lama teriakan wanita yang mendominasi terdengar kala si empunya memasuki area. Aku sudah menduga pasti semua karyawan akan heboh kalau tahu Sasuke ikut berlari juga. Mereka pasti akan menantikan tubuh atletis Sasuke yang bermandikan peluh serta rambut panjangnya yang basah dan mengkilap terbang kesana kemari. Lalu berharap lebih kalau-kalau Sasuke merasa kepanasan dan membuka bajunya itu. Tidak akan ada yang jijik dengan keringat Sasuke, karena keringat itulah Sasuke terlihat… errr sexy. Damn! Pikiranku sudah mulai tidak waras.

"KYAAAAA SASUKE-KUN!"

"Sasuke-chan kakkoiiii!"

Sasuke dengan langkah santainya memasuki lapangan. Di kepalanya terbelit sebuah kain dengan tulisan 'Semangat' lengkap dengan tanda tangan Itachi dan Naruto. Sasuke sebenarnya tak ingin memakai ikat kepala macam itu tapi karena dipaksa Naruto, berakhirlah dia dengan kepalanya yang dililit sehelai kain dengan tanda tangan dari dua orang itu. Dia mengambil posisinya. Tapi sebelum itu, sempat-sempatnya dia mengedipkan mata ke arahku. Shit! Orang itu malah membuat kokoroku jadi doki-doki.

"Ahh…itu anakku kan? Kenapa dia ada disana? Itachi jelaskan! Kenapa kau tidak memberitahu ibu? Kalau tahu begini, ibu akan menyuruh Naruto membuat poster super besar."Ujar Mikoto dengan girang. Awalnya dia kira Hayate Cuma bercanda. Karena tidak mungkin anak bungsunya yang tidak ingin repot itu mau ikut kompetisi ini. Izumi juga merasakan hal yang sama, tapi ketika melihat adik iparnya itu menatap si gadis pink di belakangnya, barulah Izumi menyadari bahwa semua ini termasuk bagian dari kemodusannya. Ito berlonjak girang sambil bergumam 'Paman Sasu' berulang kali. Itachi jadi kewalahan gara-gara tingkah anaknya yang aktif. Sedangkan Fugaku? Jangan tanya, dia tidak mungkin melakukan gerakan goyang gayung demi menyemangati anaknya. Ingat! Dia itu Uchiha! Uchiha!

"Kedua tim harap menjaga jarak. Bermain secara sportif dan jangan saling tikung menikung! Tunggu aba-aba dari Shikamaru. Yosh! Mari kita mulai! Bersiap-siap!"Tenten menyiapkan startnya. Ketika bunyi peluru mengudara. Kedua tim mulai berlari.

"GO MERAH GO!"

"BIRUUUUU!"
Tenten melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Uh! Temanku yang satu itu memang benar-benar perkasa. Tapi agaknya Nagato lebih cepat dari Tenten. Tak lama kemudian Tenten memimpin. Aku jadi terpekik karena situasi ini.

"Tenten! Berjuanglah!"

Hidate sudah bersiap-siap. Tenten semakin mendekat. Hidate mulai berlari, Tenten mengimbangi. Tangan Hidate menjulur ke belakang. Bersiap untuk meraih tongkat.

TAP!

"Hidate dari tim merah memimpin!"Suara penuh semangat milik Hayate membuat supporter tim merah semakin membara. Aku jadi ikut-ikutan berteriak. Hidate berhasil meraih tongkat tepat sebelum Pein menerima tongkat dari Nagato. Well, kali ini aku tak perlu khawatir. Karena Hidate juga andalan dari tim kami. Tapi, tunggu sebentar. Hidate semakin mendekat. Eh? Giliranku?

"Sakura! Cepat lari!"Teriak Hidate dari belakang ketika tongkat sudah kuraih. Tersadar akan hal tersebut, aku berlari dengan gelagapan. Naasnya…

BRUK!

…aku lupa mengikat tali sepatuku.

"Sakura!"
"SAKU!"

"Kankuro dari tim biru memimpin!"Sorak sorai dari tim biru menggema. Sial! Aku bangkit walaupun sebenarnya lututku tak bisa diajak kerjasama. Berlari sekuat tenaga berusaha mengimbangi Kankuro. Posisi Kankuro sudah jauh di depan sana. Apakah masih ada harapan untuk menang?

"Sakura! Cepat!"Teriak seseorang di depan sana. Sasuke, tangannya menjulur ke belakang sambil berlari pelan. Aku mengangguk dan berlari dengan tergesa-gesa. Sedikit lagi Sakura! Sedikit lagi! Waktu seakan berhenti. Langkah kami, tangan kami yang saling terulur seperti diperlamban. Tongkat ini terjulur. Aku hanya bisa berharap. Berharap agar keinginanku untuk membuat teman-teman bahagia tersalurkan.

TAP!

"Berjuanglah! Sasuke!"

BRUK!

"BERJUANGLAH SASUKE-KUN!"Teriakku nyaring ketika lututku menyentuh tanah dengan keras. Oh tidak! Aku memanggilnya dengan embel-embel yang memalukan!

Sasuke tersenyum. Dia bisa merasakan keinginan gadis ini. Keinginan yang disalurkan saat tangan mereka saling terulur. Sorak-sorai semakin menggelora. Belum lagi diiringi oleh sumbu-sumbu api dari Hayate.

"Duo rambut hitam berlari dengan sekuat tenaga! Matahari menyilaukan semangat mereka. Siapakah yang akan menang?"Sial! Sasuke kalah jauh dari Utakata. Sasuke tak menemukan celah untuk menang. Peluh-peluh menetes dari tubuhnya. Siapa yang ingin menyekanya?

"Paman Sasu! Paman Sasu!"Ito berteriak dengan girang. Begitu pula dengan Mikoto dan Izumi. Hah..Itachi dan Fugaku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat antusiasme ketiga Uchiha itu.

"Sasuke" "Sasuke" "Sasuke"Tim merah membuat barisan memanjang. Kaki-kaki mereka terjulur, menendangnya ke pojok kiri, bergantian lagi ke pojok kanan. Begitu terus berulang-ulang sambil mengucapkan yel-yel 'Sasuke' berulang kali. Tak mau kalah, para gadis pun juga ikut-ikutan.

"KYAAAAA SASUKE-KUN!"

"SASUKE-SAMA!"

"SASUKE! BERJUANGLAH!"

"KYAAAAA!"

"Haduh. Telingaku jadi sakit gara-gara gadis-gadis ini. Bukannya menonton pertandingan, malah Sasuke yang dilihat. Huh! Menyebalkan!"Suigetsu mengorek telinganya. Sepertinya dia butuh cotton bud.

"Kenapa Sasuke-san jadi peserta? Kudengar Chouji yang memimpin."Gaara tersenyum mendengar ucapan Juugo. Dia mendekapkan tangan di dada lalu menatap seorang gadis yang sedang gelisah di bawah sana.

"Entahlah…"

.

.

.

.

.

"Garis akhir hampir dekat!"Sasuke mendecih. Dia tidak ingin disambut dengan raut kesedihan. Walau bagaimanapun, ini demi Sakura. Ya! Sakuranya!

"Hey Sasuke! Ini kesempatanmu agar terlihat keren di mata Sakura kan? Kau ingin menjadi pahlawannya kan? Kan?"Batinnya menyemangati diri.

DRAP DRAP DRAP!

"SASUKE! SEMANGATLAH! SEBENTAR LAGI!"Sakura berteriak lagi. Tapi kali ini dia berdiri di samping Guy, di garis akhir. Sasuke merasakan berjuta kupu-kupu menari di dalam perutnya. Melihat Sakura seperti itu, stamina Sasuke jadi semakin meningkat. Bahkan berkali-kali lipat. Di balik flat facenya, terdapat berjuta-juta perasaan bahagia yang membuncah dalam dirinya. Sasuke mempercepat lajunya. Berusaha mengimbangi lawannya dan meraih kemenangan tentunya.

DRAP DRAP DRAP DRAP!

Well, aku tak tahu mengapa tubuhku dengan bodohnya berlari ke garis finish dan berteriak seperti itu. Tubuhku bergerak sendiri ketika melihatnya Sasuke kepayahan. Aku sangat tahu kalau semua itu karena ambisiku yang ingin menang. Tapi mengapa dadaku ikut bergerumuh juga? Shit! Pasti semua orang akan mendengar teriakanku. Dan pastinya, berbagai kemungkinan-kemungkinan tentang gosip di antara kami pasti semakin memanas. Double shit!

Mataku membulat ketika melihat Sasuke dan Utakata yang semakin dekat dengan garis finish. Guy juga sudah bersiap dengan bendera kecil yang dibawanya. Aku memejamkan mata. Sorak-sorak dari supporter tidak sepenuhnya kucerna. Derap-derap langkah mereka berdua terdengar sangat pelan. Waktu bagaikan dirangkai dengan efek slow motion. Suara peluit yang menandakan pertandingan berakhir pun dibunyikan. Tanganku bergetar di dada. Kumohon…Sasuke…Sasuke..Sasuke…

TAK!

"WUAAAAAAAAA!"

"TIM MERAH PEMENANGNYA!"

EH? Benarkah? Aku membuka mata dengan paksa. Sasuke menghampiriku dengan nafasnya yang tersengal. Aku senang! Aku sangat senang! Sangat senang sampai-sampai mau mati rasanya. Kebahagiaanku kusalurkan lewat pelukan. Tubuhnya yang tinggi bahkan tak kuhiraukan. Sasuke menegang. Aroma tubuhnya yang menggiurkan membuat level kebahagiaanku melunjak.

"Sasuke! Kau berhasil! Berhasil!"Ujarku sambil tertawa. Mengumbar berbagai kebahagiaan yang tersimpan di dadaku. Sentuhan lembut mendarat di punggungku. Itu jemarinya.

"Sakura, kau membuat kita menjadi pusat perhatian."Bisikannya yang lembut di telingaku membuatku melepaskan rengkuhan. Oh tidak! Suaranya sangat sexy! Ah, maksudkuSial! Kenapa tubuhku jadi tidak karuan begini? Kenapa tubuhku bertindak sendiri? Kenapa aku bisa memeluknya? Sasuke menatapku datar. Wajahku memerah. Bertambah merah lagi saat desas desus bernada godaan menguar di stadion ini. Tambahan lagi dengan sumpah serapah dari para gadis yang baru saja menyaksikan secara live aksiku itu. Neraka! Neraka!

"Kyaa! Sasuke-kun dapat jackpot!"Mikoto beserta menantunya bersorak bergembira bak cheerleaders. Bukan hanya karena kemenangan yang diraih Sasuke, tapi kemenangan plus-plus pun diraih juga. Itachi tak habis pikir kenapa ibunya jadi lupa umur begini. Ditambah lagi istri tercintanya mendadak berteriak ala fans girling begitu. Itachi menepuk jidatnya.

"Kyaaaa! Persetan kau SAKURA!"

"Jangan rebut Sasukekuhhhh,"

"SASKEHHHHHHHHH!"

"Haduh! Telingaku benar-benar rusak."Entah sudah berapa kali Suigetsu mengorek-ngorek telinganya. Teriakan-teriakan para gadis benar-benar tidak baik bagi kesehatan telinga.

"Itu Sakura kan? Dia yang dari divisi accounting itu ya? Ternyata gosip antara dia dan Sasuke-san memang benar ya."Sembari menatap pemandangan di bawah sana, Gaara dengan seksama mendengar ucapan Juugo. Gaara tersenyum ketika melihat Sakura membungkuk di hadapan Sasuke. Tanpa diberi tahupun Gaara cukup tahu apa yang sedang dilakukan Sakura disana. Ah! Gadis itu memang benar-benar seperti hadiah ulang tahun, penuh kejutan maksudnya.

"Gaara, bukannya dia gadis incaranmu? Wah-wah! Kalau lawannya Sasuke sih, bisa kalah telak."Celoteh Suigetsu usai kegiatan korek mengoreknya. Gaara tersenyum lagi.

"Belum juga berperang, haruskah aku menyerah?"

"Eh?"

.

.

.

.

Keriuhan di stadion belum kunjung juga berhenti. Tim merah beserta antek-anteknya berhamburan ke lapangan. Wajahku yang semerah tomat ini belum juga berhenti memanas. Innerku juga tak henti-hentinya menyalahkan diri. Shannaro! Dasar bodoh!

"Ma…maafkan saya, Sasuke-san."Ujarku sembari membungkukkan badan. Sasuke membuka mulutnya sebelum akhirnya Sasuke ditarik paksa oleh Naruto serta teman-teman tim merah lainnya. Tubuhnya di rangkul beramai-ramai. Wajahnya jadi kusut gara-gara ulah mereka. Tak lama kemudian tubuhku juga dirangkul oleh teman-teman lainnya. Ada Ino, Hinata, Tenten, dan teman-teman lainnya. Mereka tertawa bersama sambil menyorakkan yel-yel 'hip hip hore.' Pada akhirnya, kebahagiaan telah terwujud. Tawa teman-teman dan suasana yang menguar membuatku tenang. Well, akhirnya misiku selesai juga. Aku tak bisa menahan kedutan di sudut bibirku ketika melihatnya yang masih saja dirangkul oleh teman-teman.

Terima kasih, Sasuke.

.

.

.

.

.

.

.

"Ah! Lelah sekali!"Kiba merenggangkan kedua tangannya. Obito juga sama. Usai pertandingan tadi, kami beristirahat sebentar lalu kembali ke penginapan. Selama perjalanan, suasana bus sangat sepi. Kentara sekali kalau kami sangat lelah. Padahal biasanya mulut Kiba dan Obito seperti pasar.

"Ah iya, kurasa aku butuh sedikit relaksasi."

"Bagaimana kalau berendam air panas? Uh tulang-tulangku rasanya sangat remuk saat berlari tadi."Ujar Tenten sambil mengeluh. Ino dan Hinata menimpalinya dengan tawa.

"Walaupun lelah, tim merah menang kan?"Neji ikut menimpali. Aku tersenyum mendengarnya.

"Sakura, dicari tuh."Seru Hidate yang membuat kami semua menoleh. Gaara dengan tangannya yang bersedekap tersenyum menatapku. Teman-teman berdehem manja lalu pergi memberi kami ruang privasi. Walaupun mereka sudah pergi, telingaku masih mendengar siulan-siulan menggoda mereka. Aku awalnya mendengus, tapi jadi tersenyum kala melihat Gaara.

"Terima kasih, Guru. Hehehehe."Ujarku tertawa. Gaara ikut tertawa juga sambil menepuk kepalaku. Tak hanya menepuk, tapi juga mengacak rambutku. Membuatku mengaduh.

"Hey! Kau membuatnya jadi berantakan, guru!"

"Hentikan panggilan aneh itu, Sakura."

"Tapi kau itu guruku. Kau yang membuatku berhasil."

"Kalau soal itu, jangan berterima kasih padaku. Berterimakasihlah pada orang yang tepat."Ucap Gaara lagi dengan tangannya yang digantung pada saku celana. Keningku berkerut. Tak mengerti tentang apa yang diucapnya barusan. Gaara melambaikan tangannya. Meninggalkanku dengan sejuta tanya. Orang yang tepat, orang yang tepat, orang yang….

"Sasuke-kun."

….tepat.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke tak dapat menutupi kebahagiannya. Topeng poker facenya telah pecah setiap mengingat kejadian tadi. Sudah memenangkan pertandingan, dapat pujian dari keluarganya, dapat pelukan dari Sakura lagi! Aw! Plus-plus banget kan? Kalau saja ada bunga yang banyak, maka hamburkanlah dia dengan bunga. Tapi, bagaimana rasanya ketika melihat gadis pujaan berduaan dengan iblis merah panda? Kalau saja Sasuke bisa, maka akan dia kerangkeng si panda sialan itu. Sayangnya Sasuke juga masih punya sisi prikemanusiaan. Pasti sakit banget ya Sas?

"Sasuke-kun."Suara penuh lembut itu membuat Sasuke menoleh. Sasuke tahu pelakunya, ibunya. Sasuke menghampiri wanita itu. Ibunya tersenyum lembut. Rambut panjangnya yang tergerai tertiup angin membuat aura kecantikannya menguar.

"Sasuke-kun, ibu ucapkan selamat ya."Ujar ibunya sambil memeluknya erat. Sasuke mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

"Apa kau sudah mencari pasangan dansa?"Sasuke tahu cepat atau lambat, ibunya pasti akan bertanya hal yang tidak penting seperti ini. Agaknya Sasuke sedikit menyesal karena sempat memberikan sedikit partisipasi acara pada ibunya. Kenapa harus pesta dansa sih? Menari-nari sesuai iringan bersama pasangan dengan suasana super duper romantis, meliuk-liukkan badan lalu berakhir dengan sebuah ciuman yang manis. Ewh…drama sekali. Sasuke lebih suka menatap Sakura daripada harus berdansa dengan gadis lain. Ah! Sakura ya?

"Cepatlah cari pasangannya Sasu, siapa tahu dia adalah jodohmu."

"Hn."

"Jangan hanya hn hn saja!"Sasuke menatap sebal kakak iparnya yang entah datang sejak kapan. Sasuke masih saja menguar aura permusuhan dengan Izumi. Melihat adik iparnya seperti itu, Izumi mendengus sebal.

"Kau jangan melihatku seperti itu! Kalau kau mau dia ya ajak dia sekarang."Izumi sungguh geram dengan sikap Sasuke yang kelewat santai kalau sudah berhubungan dengan perasaan. Tak tahukah kau Izumi, kalau Sasuke sudah menunggu 5 tahun lamanya?

"Hn."

"Ah sudah sudah…kalian jangan bertengkar."Timpal Mikoto selanjutnya sementara Izumi masih saja menasehatinya. Hm..Sasuke sebenarnya sedikit interested dengan acara ini. Apalagi menyangkut tentang pasangan. Sasuke ingin sekali mengajaknya. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana cara mengatakannya? Nah itulah point problemnya sekarang.

.

.

.

.

"Ah! Segarnya!"Tubuh sexy Ino terombang ambing mengikuti gerakan pegas kasur. Well, pertandingan tadi memang sangat melelahkan. Maka dari itu kami memutuskan untuk berendam di air panas. Kau akan merasakan sensasi menenangkan kala air hangat itu menyentuh kulitmu. Apalagi setelahnya tidur di kasur yang sangat empuk. Huahhhh! Surga dunia!

BIP BIP! Ponselku berkedip-kedip menampilkan sebuah chat yang masuk. Sebuah obrolan dari grup chat accounting.

Kiba Inuzuka.

Sudah dengar berita? Besok malam pesta dansa.

Obito U.

APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH KAUM JOMBLOO!?

Ino Yamanaka

Ada Kiba. Kiba masih sendiri kan?

Kiba Inuzuka

Keparat kau Yamanaka!

Obito U.

Keparat kau Yamanaka!(2)

Tenten

Keparat kau Yamanaka!(3)

Hidate Morino

Keparat kau Yamanaka!(4)

Sakura Haruno

Keparat kau Yamanaka!(5)

"Kenapa kalian berdua malah ikut-ikutan?"Protes Ino padaku dan Tenten. Kami berdua meresponnya dengan tawaan mengejek.

Ino Yamanaka

Ah! Kira-kira siapa yang akan Sakura pilih untuk pasangan dansa? leader IT? Atau Bapak CEO?

Aku mendengus sembari melihat Ino yang duduk di depanku. Dia menyeringai.

Hinata Hyugga

Ah iya! Siapa Sak?

Tenten

Ah iya! Siapa Sak?(2)

Kiba Inuzuka

Ah iya! Siapa Sak?(3)

Obito U.

Uchiha saja.

Konohamaruu

Sasuke sajalah.

Yahiko

Gaara lebih ekspresif ketimbang Sasuke.

Tenten

Kyaaa! Ternyata ada yang sependapat denganku. Aku padamu Yahiko!

Neji Hyugga

Tidak ekspresif, bukan berarti tidak sayang.

Kiba Inuzuka

Aww! Neji-senpai!

Hinata Hyugga

Soal pasangan, kita serahkan saja pada Sakura-chan. Entah itu Sasuke-san ataupun Gaara-san, ya sama saja.

Ino Yamanaka

Sakura lebih cocok dengan Sasuke, sudah dijodohkan saja.

Obito U.

Obito U send a picture

..

Mataku terbelalak melihat foto yang baru saja dikirim Obito. Sialan! Pose pelukanku dengan Sasuke tadi siang! Kapan Obito mengambilnya?

Ino Yamanaka

Wah! Mau dong dipeluk begitu :*

Kiba Inuzuka

Aku juga dong

Konohamaruu

Aku juga dong(2)

Tenten

Aku mau dong

Hinata Hyugga

Aku juga dong(3)

Sakura left the chat.

"Oi! Kenapa kau pergi?"

"Hm,"Aku bergumam di balik selimut. Biarkan saja Ino dan Tenten yang terus-terusan memaksaku masuk ke chat lagi.

BIP BIP!

Lagi-lagi ponselku berbunyi. Hah paling-paling hanya undangan chat dari Ino atau Tenten.

.

.

.

.

Menikmati suasana pagi hari yang dingin memang menyebalkan. Tapi jika kau berolahraga, kau akan mendapatkan sensasi hangat yang menyenangkan. Sesekali berlari, sesekali pula berjalan santai. Begitu terus sampai akhirnya aku menemukan bocah kecil berambut hitam legam di depan sana. Dia menyadari juga sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku dengan semangat.

"Sakura-nee!"Panggilnya dengan ceria. Aku tak tahu kenapa dia hobi sekali sendirian di taman. Kemana pamannya itu?

"Kau menunggu pamanmu lagi?"Dia menggeleng dengan polos. Oh tuhan! Pipi gembilnya itu sangat menggemaskan.

"Aku menunggu Sakura-nee."

"Benarkah? Ada apa Ito-kun?"Tanyaku padanya. Dia tersenyum dengan lebarnya sambil menunjuk bola. Oh, dia ingin bermain rupanya. Aku mengangguk lalu beranjak.

"Ayo lempar bolanya, Sakura-nee."Ucapnya dengan semangat. Aku tertawa kecil lalu melempar bolanya. Dia menangkapnya lalu melemparnya lagi. Begitu terus sampai akhirnya bola yang kulempar tidak bisa diraih olehnya. Bola itu menggelinding dan berhenti di kaki seseorang. Aku tertegun melihatnya. Rambut hitam panjang dengan tubuh yang proposional serta senyum lembutnya yang menenangkan jiwa. Cantik sekali.

"Selamat pagi."Sapanya ramah. Ito berlari lalu memeluk Mikoto sambil berteriak 'nenek'. Aku membalas sapaannya sambil membungkukkan badan. Senyumnya tak kunjung berhenti. Sekarang aku tahu, kandungan gen Mikoto-san terlalu banyak disumbangkan ke Itachi-san.

"Terima kasih karena telah menemani cucuku bermain. Ito selalu menceritakanmu."Ujarnya lagi.

"Tak apa Mikoto-san. Hehehe."Jawabku sambil tertawa. Dia membalasnya sambil menutup mulut. Duh! Tertawa saja sangat anggun.

"Ah iya, kau yang kemarin di stadion bersama anakku itu kan?"Aku tertegun mendengar ucapannya. Bayangan akan kejadian kemarin kembali membayangiku. Kejadian terlaknat yang pastinya maembuatku makin canggung kalau bertemu Sasuke.

"Nanti malam, pestanya mau datang dengan siapa?"Aku menelan ludah dengan gugup. Jujur saja, aku juga belum tahu akan pergi dengan siapa. Walaupun teman-teman sudah gencar dengan segala saran dan petuah mereka sampai-sampai membentuk kubu pro Gaara dan pro Sasuke.

"Aku juga belum tahu, Mikoto-san."Jawabku jujur. Mikoto mengangguk-angguk mengerti.

"Ah! Bagaimana kalau kau pergi dengan Sasuke saja!"Aku tersentak dengan sarannya. Duh! Tawaran langsung dari ibunya. Mikoto menatapku penuh harap. Dadaku berdebar-debar kala akan menjawab. Tapi yang keluar hanyalah gumaman tidak jelas.

"Apa Sakura-nee akan pergi bersama Paman?"Aku menatap Ito yang juga menatapku sama. Ditatap oleh dua orang ini membuatku jadi salah tingkah sendiri. Aku sampai menggaruk-garuk rambut gara-gara mereka.

"Ah iya, ngomong-ngomong…"Ucapan Mikoto terhenti kala melihat Ito. Dia berdehem pelan lalu menyuruh cucunya itu mencari coklat di kulkas dapur. Ito mengangguk senang dan pergi dengan riang.

"Tak baik bila aku bicara di depan anak kecil."Ujarnya dengan kekehan geli. Tangan-tangan kurusnya menyelipkan helaian rambutnya ke telinga. Dia lalu mengajakku rileks sebentar. Aku tak mengerti, tapi sepertinya dia ingin membahas sesuatu yang penting.

"Ada apa Mikoto-san?"

"Anakku itu, maksudku Sasuke sangat pendiam. Aku sempat kaget karena dia ingin mendekor kantor kami dengan pohon Sakura. Aneh juga sih, karena setahuku warna kesukaannya itu cenderung gelap. Tapi setelah kuselidiki, ternyata dia sedang jatuh hati pada gadis Sakura."Ujarnya panjang lebar. Wajahku memerah kala mendengarnya. Tak menyangka kalau Sasuke benar-benar serius padaku.

"Dunia ini sangat sempit, Sakura. Ayahmu itu rekan bisnis suamiku."Ujarnya lagi. Ah! Kalau soal itu aku sudah tahu, ingat insiden cuci piring dan makan di rumahku itu kan?

"Suamiku berniat menjodohkanmu dengan Sasuke."

"Ha?"

"Hey tenanglah. Itu kan baru rencana."Jelasnya sambil mengelus lengan kiriku. Aku mengelus dada.

"Sasuke menolak."Badanku kaku. Bingung dengan semua ini. Kalau Sasuke memang benar-benar suka padaku, kenapa dia menolak? Bukankah ini kesempatan yang bagus baginya?

"Dia bilang kalau perjodohan itu cara yang sangat instan. Dia juga bilang kau terlalu berharga untuknya. Kau tahu, waktu itu gaya bicaranya keren sekali."Ucapnya lagi dengan ekspresi ala-ala fans girling. Apa benar dia seperti itu?

"Sakura, aku tak tahu apakah anakku sudah menyatakan perasaannya atau belum. Tapi, aku bicara seperti ini bukan bermaksud untuk menyuruhmu menerima anakku. Tapi jika kau mau, kau bisa menerimanya. Aku dan suamiku tak keberatan bila ada satu Uchiha pink yang menemani Ito bermain nantinya."Aku tahu Mikoto-san sedang bergurau, tapi tetap saja aku jadi terbawa perasaan karena ucapannya itu.

"Apa kau suka eskrim?"Aku mengangguk pelan membuatnya tersenyum untuk kesekian kalinya.

"Itulah Sasuke, walaupun dingin tapi dia manis juga."Bersamaan dengan itu, angin berhembus kencang. Menerbangkan beberapa dedaunan kering yang berusaha menutupi semburat di kedua pipiku.

"Uchiha Sasuke sangat mencintaimu."

.

.

.

.

.

.

Sepulangnya dari acara jogging tadi membuatku agak sedikit haus. Tenggorokanku juga agak kering karena terlalu banyak mengobrol dengan Mikoto-san tadi. Untuk ukuran seorang Uchiha, ternyata dia cukup talkative juga. Aku membuka kulkas di ruang dapur, memeriksa setiap rak untuk memastikan tidak ada lagi susu bergambar 'sapi minum susu' lagi. Kejadian kemarin membuatku trauma. Mataku berbinar ketika melihat sebotol jus jeruk disana. Ah! Kenapa kebetulan sekali ya?

"Itu punyaku."Ucap seseorang membuatku terkesiap.

DUK! Kepalaku menabrak dada seseorang ketika hendak berbalik

"Adduh. Eh?"Rasa sakitku akibat benturan di kepala jadi lenyap kala melihat badan tegap ini. Ketika aku mendongak, Sasuke pelakunya. Jarak kami sangatlah dekat. Badanku sampai-sampai terhimpit di kulkas. Tatapannya sangat intens. Tangannya yang kekar bertumpu pada sisi kulkas. Dia menunduk membuatku jadi ikut menunduk. Jarak diantara kami lama kelamaan tak ada spasi. Aku menutup mata menghindari segala kemungkinan yang ada. Helaan nafasnya membuatku sadar betapa intimnya posisi kami saat ini. Apakah wajahku memerah?

"Kau menghalangi pintunya."Bisiknya di telingaku. Eh?

"Aah iiya.."Aku menyingkir dari hadapannya. Dia dengan santai membuka pintu kulkas lalu mengambil jes jeruk tersebut. Dia meminumnya dengan santai sambil melenggang. Tapi sebelum kakinya lenyap di pintu dapur, dia berbalik….

"Kutunggu kau nanti malam di ruang rekreasi."

…lalu melanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda. Dan aku tersadar bahwa cara mengajaknya itu anti mainstream sekali. Apa itu cara mengajak seorang gadis ke pesta ala Uchiha? Aku menggelengkan kepala sambil tertawa pelan kala mengingat ajakannya tadi. Tidak! Itu bukan ajakan, tapi perintah. Dan aku tidak bisa menolaknya.

Kurasa ku tlah jatuh cinta

Pada pandangan yang pertama

Sulit untukku untuk bisa

Berhenti mengagumi dirinya

Sekali kau terjerat pada pesonanya, maka takkan ada satu pun yang bisa melepaskanmu.

.

.

.

.

.

"Apa-apaan kau ini-ttebayo!"Naruto tak bisa lagi menahan rasa geramnya. Dia sungguh geregetan dengan tingkah sahabat sejatinya ini. Bisa-bisanya dia mengajak seorang gadis ke pesta dansa dengan cara yang tidak ada romantisnya itu. Awalnya dia cukup bangga karena Sasuke sudah selangkah lebih dekat dengan Sakura. Tapi ketika ditanya kronologinya, Naruto Langsung mencak-mencak.

"Apa-apaan itu? 'Kutunggu kau nanti malam di ruang rekreasi.'? Gen Uchiha memang payah!"Sasuke mendelik tidak suka pada Naruto ketika nama keluarganya diungkit-ungkit. Mau bagaimana lagi? Itu kan memang caranya. Lagipula, mulutnya sendiri yang bilang begitu, padahal di dalam hatinya sudah tersusun rapi cara-mengajak-Sakura-ke-pesta dengan benar.

"Seharusnya kau tatap matanya, ajak dia dengan kata-kata yang manis. Lagipula caramu itu bukanlah sebuah ajakan namanya. Lebih tepatnya perintah. Kau ini sedang menghadapi Sakura, bukan bawahanmu!"

"Kau membuat telingaku berdengung, dobe."

"Biarkan! Lain kali, jangan minta bantuanku kalau ujung-ujungnya hanya sia-sia! Payah!"Entah sudah berapa kali kata 'payah' terlontar. Detik berikutnya, hanya ceramah-ceramah ala-ala Naruto yang terdengar. Mau bagaimana lagi, toh juga sudah terlanjur begitu kan kejadiannya? Padahal berurusan dengan klien dengan segala perdebatan yang alot sudah terbiasa dihadapi Sasuke, tetapi nampaknya Sakura berhasil membuat mentalnya jadi ciut. Sekali lagi Sasuke membenarkan ucapan Itachi. Perempuan lebih rumit daripada pekerjaan.

Sasuke juga cukup sadar kalau tadi itu bukan sebuah ajakan, tetapi perintah. Sasuke juga agak takut kalau-kalau Sakura tak cukup peka. Ingat saat kejadian lima tahun lalu? Sakura begitu polos. Tapi setengah dari hatinya yakin bahwa Sakura bersedia pergi ke pesta bersamanya. Katakan saja bahwa Sasuke terlalu percaya diri, tapi memang begitu firasatnya. Sasuke terlalu banyak melamun sampai-sampai dia tidak sadar bahwa jam menuju pesta semakin menipis. Dengan segera dia meninggalkan Naruto yang terus mengoceh.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suasana malam di penginapan Kyoto ini sedikit lebih sweet. Ternyata Mikoto sudah menyiapkan ini semua dengan mantap. Sengaja memilih outdoor, agar kelap-kelip dari lampion yang dipasang menyatu dengan gelapnya malam. Satu persatu pasangan mulai memenuhi taman. Jauh dari keramaian itu, aku mematut diri di cermin. Entah apa saja yang dilakukan oleh teman satu kamarku tadi. Mataku tak berkedip, tak menyangka bahwa bayangan di cermin itu adalah diriku sendiri. Tubuh yang tidak terlalu tinggi dibalut dengan dress terusan selutut dengan lengan seperempat mengingat musim dingin yang semakin dekat. Sabuk kecil melilit di pinggangku. Begitu sederhana namun elegant. Warnanya navy, kontras sekali dengan kulit putih dan rambut merah mudaku. Kaki-kaki jenjangku dibalut dengan heels setinggi 8 cm berwarna kulit. Tak begitu tinggi dan sangat nyaman untukku. Polesan make up di wajahku juga sangat natural dan garis-garisnya sangat sempurna. Mungkin Ino belajar beberapa teknik melukis dari kekasihnya itu.

Beberapa kali Ino dan Tenten bersiul-siul menggodaku. Sedangkan Hinata menimpali dengan tawa anggunnya. Sejak kuberitahu bahwa Sasuke mengajakku pergi, mereka dengan semangat empat lima memilih gaun-gaun yang cocok untukku. Bahkan Ino langsung mengeluarkan perkakas make upnya.

Beberapa jam setelah pertemuanku dengan Sasuke di dapur, Gaara mengajakku ke pesta bersama. Tapi sayangnya dia kalah cepat dari Sasuke. Meskipun sebenarnya aku sudah tahu dimana pilihanku tertuju. Hatiku mulai berkedut-kedut saat keluar dari kamar bersama dengan teman-teman. Satu persatu anak tangga terasa sangat berat. Kakiku seperti menjelma menjadi sebuah pudding yang sekali cangkok langsung rapuh. Ketika ruang rekreasi mulai nampak, Sai, Naruto, dan Neji sudah stand by disana. Eh? Sai?

"Hai, Sakura."Sai tersenyum menyapaku, menghiraukan segala kebingungan yang menerpaku. Seakan mengerti, Ino menatapku penuh arti.

"Dia ini tamu spesial keluarga Uchiha."Jawaban yang kudapatkan ternyata tidak sesuai dengan keinginanku. Tapi apa perduliku? Ino bergelayut manja di lengan kekasihnya. Kami segera pergi ke pesta. Sasuke tiba-tiba menyuruhku menunggunya di pesta melalui chat, Entah apa alasannya. Suara musik yang mendayu-dayu menyapa indera kami. Ketika kami sampai di sana, aku tak dapat menahan rasa kagumku dengan tempat ini. Taman belakang yang sebelumnya hanya biasa-biasa saja kini disulap menjadi tempat yang sangat memukau di mata. Lampion-lampionnya menyala dengan warna-warna yang sangat manis. I like it!

"Wah-wah…hai gadis manis, siapa namamu?"Kiba mengulurkan tangannya padaku sambil memainkan alis. Aku mendengus sebal dengan tingkah pura-puranya. Di belakangnya ada Obito yang ikut-ikutan.

"Dasar.."

"Heheheh. Aku tidak menyangka kalau kau bisa semanis ini. Siapa yang mengajarimu berdandan? Ah! Pasti si Yamanaka itu yang mengajarimu."Kiba menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil mengusap-ngusap dagunya.

"Hei! Yamanaka yang kau bicarakan ada di depanmu!"Sentak Ino ketika namanya disebut-sebut. Kiba dan Obito tercengang melihat penampilan Ino yang begitu terbuka. Gaun tanpa lengan dengan panjang menjuntai hingga mata kaki dengan warna semerah darah serta motif brokat di bagian dada hingga membuat belahan dadanya sedikit mencuat. Ditambah lagi dengan tali spaghetti yang menyatu di tengkuknya. Uhhh! She's so yummy.

"Why? Terpana dengan penampilanku?"Tanya Ino sambil memutar-mutar tubuhnya serta senyum sinis di bibir.

"Ino, penampilanmu…"Ino masih mempertahankan senyumnya. Dia begitu percaya diri dengan penampilannya.

"Tidak takut masuk angin?"Celetuk Obito kemudian. Sedangkan Ino sudah bersiap-siap menjitak kepala Obito menggunakan tas tangannya. Untung saja ada Sai yang menahan Ino.

"Kurang ajar!"

Kami tertawa melihat perangai dua orang itu. Mata hijauku menatap liar ke seluruh penjuru. Semua orang tertawa bersama dengan teman-teman sejawat. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah karpet merah yang dihiasi bunga-bunga mawar. Ah pati itu lantai dansanya. Melihat lantai dansa itu, aku teringat sesuatu.

Suasana halaman sebuah sekolah ternama di Tokyo sangat ramai dan romantis. Sebuah acara prom night yang selalu diadakan setiap tahun menjelang acara kelulusan. Semua tertawa bersama pasangan mereka, kecuali aku. Yang bisa kulakukan hanyalah terdiam seperti patung di pojokan. Untung saja tema prom night kali ini adalah sebuah pesta topeng. Jadi aku tak perlu repot-repot menyembunyikan parasku. Ketika acara dansa dimulai, saat itulah aku bingung harus bagaimana. Jangankan pasangan, teman saja tak punya. Mereka mengasingkanku seakan-akan aku adalah sebuah virus yang harus dihindari.

Hingga tiba-tiba seseorang untuk pertama kalinya menghampiriku. Aku tak mengenalinya, wajahnya tertutupi sebuah topeng. Dia mengulurkan tangan dan aku menyambutnya dengan spontan. Entahlah, tubuhku bergerak sendiri. Pemuda itu membawaku ke lantai dansa. Bergabung bersama lainnya dan menari sesuai dengan irama. It's my first time dan itu membuatku sangat nervous. Untungnya pemuda yang tak kukenal ini dengan sigap menyentuh pinggangku dengan erat seakan-akan menyalurkan kekuatan. Aku terhanyut dengan suasana sampai-sampai tak sadar bahwa musik sudah berhenti. Dia melonggarkan pegangannya, mengucapkan terima kasih lalu menghilang di balik kerumunan sebelum aku sempat mengetahui namanya. Samar-samar aku melihat gaya rambut mencuatnya yang khas.

"Jadi…apakah Sakura sudah menentukan pasangannya?"Mendengar pertanyaan Kiba, kegiatan flashbackku terhenti. Sedangkan ketiga temanku tersenyum penuh arti. Membuat garis merah terlukis di wajahku.

"SELAMAT MALAM PASANGAN DANSA!" Percakapan mereka terhenti karena suara Hayate yang sangat nyaring di depan sana. Semua fokus tertuju padanya.

"Malam ini adalah malam yang sempurna bersama pasangan anda. Yang belum punya, ikhlaskan saja hari ini hanya bisa jadi penonton semata. Berikan tepuk tangan kepada Nyonya Uchiha Mikoto yang sudah mendekor taman ini."Suara tepuk tangan mulai terdengar meriah di taman ini bersamaan dengan Mikoto yang membungkuk hormat.

"Sebelum memulai acara, mari kita dengarkan sambutan dari CEO kesayangan kita, Uchiha Sasuke."Lalu setelahnya suara gaduh dari gadis-gadis terdengar bersamaan dengan Sasuke yang berjalan ke stand mic. Tubuh atletisnya dibalut jas berwarna navy, mirip denganku. Memikirkan itu, membuat wajahku panas. Kulirik Ino yang ternyata sedang tersenyum menggoda padaku. Ah! Ternyata sudah direncanakan.

Sasuke tak banyak bicara, hanya sebatas berterima kasih kepada keluarga dan semua karyawan, lalu mengumumkan pemenang dari pertandingan persahabatan. Tim merah diwakilkan oleh Kiba. Dia dengan langkah gagahnya berjalan ke atas podium dan menerima sebuah tropi dari Mikoto. Tak hanya itu, KIba bahkan dihadiahi sebuah kecupan manja di pipi dari Ibu Sasuke itu, membuat semua karyawan gaduh karena aksi tersebut.

"Baiklah, sekarang tolong berkumpul dengan rapi. Perempuan di sebelah kanan, dan laki-laki di sebelah kiri."Seru Hayate membuat kami kebingungan sendiri. Kami menurut.

"Ini hanyalah sebuah permainan dari Uchiha Mikoto. Permainannya adalah, mencari pasangan. Ketika lampu dimatikan dan hitungan ketiga berakhir, silahkan cari pasangan kalian dan berdansalah!"Seru Hayate dengan riang. Kami makin kebingungan dengan perintahnya. Bukankah pasangan sudah ditentukan secara pribadi? Namun sebelum kami protes lebih lanjut, lampu sudah dimatikan.

"SATU!"

"DUA!"

"TIGA!"

Semua orang berhamburan. Aku tak tahu kalau lampu benar-benar dimatikan membuatku jadi benar-benar kesulitan melihat. Tubuhku ditarik ke depan, lalu didorong lagi ke belakang. Suara hitungan mundur dari Hayate terdengar, bersamaan dengan itu tubuhku didekap.

"SATU!"

Lampu dihidupkan. Mataku disambut oleh mata sehitam malam. Dia merengkuh pinggangku lebih erat dan menuntun tanganku menuju bahu tegapnya. Musik mengalun dengan indah. Ke kanan, ke kiri, depan, belakang. Begitu seterusnya. Pandanganku tak terlepas dari jelaga pemuda ini, Uchiha Sasuke, begitu pula dia. Jadilah kami saling bertatap-tatapan.

"Darimana kau tahu bahwa ini aku?"Tanyaku setelah keheningan yang panjang.

"Takdir membawaku bersamamu."Tuturnya lembut. Wajahku memanas, tak kuasa menahan kedutan dari sudut-sudut bibirku. Kukira sekarang aku sudah seperti remaja yang baru mengenal cinta. Jadi yang bisa kulakukan hanya mengalihkan pandangan. Kuedarkan pandanganku menatap teman-teman yang juga berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Naruto berhasil menemukan Hinata, Tenten entah bagaimana bisa bersama Obito, sedangkan Neji yang tadi bersamanya malah bersama Tamaki yang notabenenya gebetan Kiba. Apesnya Ino malah duet dengan Kiba. Padahal mereka berdua terkenal sebagai Tom dan Jerry. Sedangkan Sai bersama seseorang yang aku tak tahu namanya. Di sudut sana pangeran no.2, Gaara, sedang bersama Matsuri, karyawan dari bagian resepsionis.

"Kau tahu, kau sangat cantik."Bisik Sasuke lembut. Aku tak tahu kalau Sasuke bisa semanis ini. Bulu kudukku meremang. Entah karena bisikannya atau karena angin malam yang berhembus. Sontak kueratkan peganganku pada bahu tegapnya. Seakan mengerti, dia merengkuhku lebih dekat membuat posisi kami menjadi lebih intim. Kami berdua terhanyut dalam nikmatnya syahdu. Aku cukup sadar bahwa sejak awal, kami menjadi objek fokus di pesta ini. Dan kuyakin, hatersku akan bertambah setelah ini.

"Manisnya…"Komen Mikoto ketika melihat anak bungsunya berdansa bersama si gadis bunga. Di sampingnya Fugaku hanya bisa tersenyum maklum menghadapi sikap istrinya yang berbunga-bunga.

"Aku tak yakin kalau kau bisa berdansa. Kau kan bisanya hanya tidur."Ucap Temari dengan nada sinisnya ketika Shikamaru hendak mengajaknya berdansa. Sedangkan Shikamaru hanya mendengus malas. Kiba tiba-tiba mengaduh kesakitan ketika Ino menginjak kakinya. Ino mengangkat bahu tak tahu, dengan kesal Kiba menginjak sepatu mahalnya. Melihat itu, Ino tak terima dan membalas perbuatannya. Jadilah mereka saling menginjak-injak.

Musik masih menyala dan aktivitas kami masih berlanjut. Aku berseru memanggilnya.

"Apakah kau yang mengajakku berdansa di acara prom night?"Dia tak langsung menjawab. Membuatku jadi geram sendiri.

"Jadi, sejak kapan kau menyadarinya?"

"Kupikir sejak tadi."Jawabku dengan tawa ringan. Sedangkan dia menimpali dengan senyum ringannya.

"Sasuke…"

"Bisakah kau memanggilku seperti tadi siang?"Pintanya. Aku mengangguk malu-malu.

"Sasuke-kun."Sasuke tak sempat menyembunyikan ronanya. Begitu pula aku.

"Terima kasih."Ucapku ringan. Dia menatapku seakan-akan menuntut alasan. Tanpa ragu aku menatapnya balik.

"Terima kasih atas segalanya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke menatap liar orang-orang yang sedang berada di acara prom night ini. Walaupun dia memakai topeng, nyatanya masi banyak gadis-gadis yang berusaha mengajaknya berdansa. Yang dia mau hanya satu. Gadis yang waktu itu sempat menjadi korban bully dari senpainya. Ketika netranya melihat seeorang dengan rambut merah muda, barulah dia tersenyum senang. Gadis itu, yang akhirnya dia ketahui bernama Sakura itu menatapnya bingung. Tetapi tak ayal dia menerima uluran tangannya. Mereka berdansa bersama. Sasuke tak tahu perasaan apa ini. Tapi dia merasakan sebuah perasaan yang hangat ketika bersama gadis ini. Ketika musik berhenti, Sasuke cepat-cepat meninggalkan gadis itu. Samar-samar dia mendengar teriakan nyaringnya.

"Terima kasih!"

Dan suara itu membuat dadanya berdesir.

.

.

.

.

.

.

To be continued.

Denpasar, 17 April 2017.