Yosh! Setelah sekian lama tenggelam dilaut, akhirnya saya muncul lagi :D/ membawa chapter 8 yang makin absurd ini gyahaha... adakah yang masih ingat dengan fic gembel saya ini?
Berhubung Author sudah merombak ulang semua cerita di fic ini, dan merapikannya, serapi mungkin, jadi memakan waktu lama untuk bisa mengupdate fic bulukan super alay ini cepat-cepat huweee TAT...
Douzo~
DRAP DRAP DRAP
Sanji melangkahkan kakinya dengan hentakan kesal menyusuri koridor-koridor kelas dengan amarah yang meluap-luap(?). Lagi-lagi ia di panggil oleh kepala sekolah untuk segera menemuinya, yah... Apa lagi masalahnya kalau bukan tentang kenakalan(?) kedua adiknya yang sekarang.
Oh... tentu saja, kalau bukan karena dua orang bocah keparat itu(kata Sanji)— mungkin dia tidak harus serepot ini mengurusnya. Bisa dibilang ini adalah ujian paling berat dan menyusahkan baginya untuk menjadi seorang kakak dari dua orang bocah brutal seperti Law dan Zoro.
Ah... sekarang, apa lagi masalah yang di perbuat kedua adiknya itu? dan lagi, ia bahkan tidak menyangka kalau Law— adik barunya yang baru dua hari menjadi siswa di sekolahnya, sudah berani membuat onar? Hah... benar-benar... Sanji tak habis pikir, apa sih dosa yang ia miliki sampai-sampai ia mendapatkan adik super bandel seperti mereka?
Cih... memangnya tugas Sanji disekolah hanya mengurusi dua idiots itu saja? Tentu saja tidak kan! Dia bahkan lebih sibuk dari itu! bayangkan saja, saat ia sedang kewalahan mengurusi rapat OSIS untuk segala macam persiapan festival tahunan sekolah, ia malah di kejutkan oleh suara Garp yang tiba-tiba berteriak di speaker sekolah memanggil-manggil namanya dan menyuruhnya untuk segera keruang kepsek sambil marah-marah!
Bagaimana ia tidak kesal coba? Ia yang dengan susah payah sedang memimpin 'rapat besar' sendirian (karena Ace si ketua OSIS yang seharusnya bertugas memimpin jalannya 'rapat besar' malah menghilang entah kemana) akhirnya, mau tak mau ia harus menunda rapat besar tahunan itu serta meminta maaf pada masing-masing ketua klub ekskul di sekolah. Ia benar-benar mengutuk kedua adiknya, —oh! Dan juga Ace yang menghilang entah kemana dan meninggalkan kewajibannya sebagai Ketos tentu saja.
Akhirnya, dengan tenaga monster(karena sudah teramat dongkol) Sanji pun mendobrak pintu ruang kepsek sekali tendang ketika sampai disana.
BRAAKK!
"KALIAN BERDUA! DASAR ADIK SIALAN!"
Buak! Buak!
Tanpa mempedulikan sosok lain yang berada di ruangan itu, Sanji langsung melampiaskan kekesalannya pada duo adik kurang ajarnya dengan menendang kedua ubun-ubun mereka. Tenaga? Jangan ditanya! Mungkin kalau dua orang itu hanya manusia biasa pasti ubun-ubun mereka sudah jebol! Namun, karena yang ditendang adalah duo bocah kebal— Law dan Zoro jadilah, mereka hanya mendapat sebuah benjolan besar. Dan terbukti ampuh untuk membuat kedua bocah kampret itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya —Khusus Law, benjolannya keluar sampai menembus topinya.
"GGGRRRR! KALI INI APA LAGI HAH?!" semprot Sanji lalu menarik napas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang telah kau perbuat Law? Dan kau... Marimo! Aku sudah bosan mendengar semua keributan yang telah kau buat lagi dan lagi! Geh! Tidak bisakah kau bersikap normal? Aku bahkan tidak menyangka kalau orang seperti mu yang baru dua hari menjadi siswa disini sudah berani membuat masalah Law!"
Oke, untuk semua makhluk yang ada disana kecuali Sanji, hanya bisa tercengang mendengar omelan makhluk pirang yang kini tengah menjotos kedua jidat adiknya dengan keempat jarinya bersamaan.
Law dapat merasakan kalau dahinya berasap setelah terkena jotosan maut dari sang kakak, sedangkan Zoro hanya diam karena sudah terbiasa menerima jotosan kasih sayang(?) dari kakak tercintanya.
Melihat kerusuhan tiga bersaudara gajeba itu, Garp pun berdeham cukup keras, berhasil membuat Sanji meredam amarahnya lalu beralih pada sosok kepala sekolah yang sedang memakan senbei dengan santainya. Seolah-olah sedang menonton pertunjukan opera sabun.
"Jii-san..." kali ini Sanji memasang wajah yang sangat menyesal atas semua kekacauan yang telah di perbuat oleh kedua adiknya.
"Lagi-lagi masalah datang dari si rumput—ehm— kedua adikmu. Tak bisakah kau membuat mereka menjalani hidup dengan tenang? Apa kau sudah lupa dengan perjanjian kita waktu itu, Kozo?"
Sanji membungkukan badannya "Aku.. benar-benar minta maaf.. atas semua... "
"Kau pikir dengan minta maaf setiap hari itu bisa menghentikan mereka, heh? pirang?— hoi! Jangan mencuri makananku, dasar bocah kurang ajar"
BUAK
Sanji melongo seketika, saat melihat Garp memukul seseorang yang berusaha mencuri snack senbeinya. Ia baru menyadari kalau ternyata masih ada orang lain, selain dirinya selain Garp, dan kedua adiknya disana.
"Aduh..! Kau pelit sekali, Jii-chaaan!" rengek Luffy— bocah yang tadi mencoba mencuri senbei milik Garp dan berakhir dengan benjolan besar dikepalanya.
"Lu-Luffy...?" Sanji memandangnya dengan heran.
"Ou! Yo... Sanji~!" sapanya balik dengan riang
"Kenapa kau... —tidak! —Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"oh, tadi aku—"
"Sudah cukup, aku akan melepaskan jabatanmu, bocah" Garp memotong pembicaraan Sanji dan Luffy, sementara kedua tersangka(Zoro dan Law) masih diam membisu, tak ada satupun yang niat bicara diantara mereka.
"Aaaahhh! Kumohon jii-san jangan cabut jabatanku!"
"Gheh! Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan, KOZO? Selama kau tidak bisa mengatasi masalah kedua adikmu yang brutal itu, kau tidak layak menjadi seorang wakil ketua OSIS!"
"Tapi— Jii-san—"
BRAAKK
Tiba-tiba saja pintu di dobrak oleh seseorang.
"JIJI! Aku yang akan bertanggung jawab atas semua kesalahan mereka!" Ace nyelonong masuk dengan tidak sopannya dan langsung saja terkena bogem mentah dari Garp.
"OUGH!"
"Bertanggung jawab apanya! Kau sendiri malah menjadi pemimpin dari mereka! Bodoh!" bentak Garp sembari menghajar cucu pertamanya itu habis-habisan.
"Ace..?" Sanji hanya menatapnya dengan pandangan sedikit kesal dan bertanya-tanya.
"Oh! Sanji! kau ada disini! Tenang saja, kali ini aku yang akan menanggung semua kesalahan mereka— Ouwgh! Jii-chan!"
"Kau ini memang cucu kurang ajar! Sudah berapa kali ku bilang padamu, sebagai ketua OSIS seharusnya kau memberikan contoh yang baik bagi siswa dan siswi disekolah ini! Bukan malah jadi pemimpin gank tawuran antar kelas, cucu sialan!" omel Garp dengan rasa dengki dan penuh keadilannya.
"Maka dari itu kakek, aku akan bertanggung jawab!"
Dan Dengan begonya Garp malah mengangguk. "Hm. Memang sudah seharusnya seperti itu. kau memang harus bertanggung jawab. Jangan seperti bocah pirang yang tidak bisa bertanggung jawab itu!" tunjuknya tepat di depan hidung Sanji.
"Cih.. " Sanji hanya bisa mendengus dan memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya saat disindir oleh Garp.
"Sudahlah kakek, jangan menyalahkannya. Sanji tidak harus bertanggung jawab atas semua ini, akulah yang seharusnya bertanggung jawab" Ace mulai menceracau dengan nada sok bijaknya.
Begonya lagi Garp malah mengangguk senang melihat cucunya penuh dengan sifat berwibawa(?) "Bagus kau memang bijak!"
"Tentu saja! Sebagai calon suami yang baik aku harus bisa mendidik anak-anak ku— ehm—maksudku calon adik ipar ku dengan baik" Ace pun melirik Sanji dengan pandangan kebapak-an(?).
Sanji sendiri malah merasa jijik dengan tatapan Ace "Apa maksudmu?" sergahnya dengan muka najis.
Dan bila kalian perhatikan lagi, nampak dua sosok bocah(Zoro dan Law) sedang melihat Ace dengan tatapan tajam.
Garp menepuk-nepuk pundak cucu pertamanya itu. "Begitu rupanya... jadi, —Kau bilang apa tadi?! Calon adik ipar? Kau sudah memiliki calon istri?" Garp mencengkram kerah sang cucu dengan kasar lalu mengguncang-guncangnya.
Ace hanya tersenyum lebar "Tentu, kakek" jawabnya singkat dan disusul oleh tawa Luffy.
"Whaa! Benarkah?! Siapa dia? Apa dia cantik seperti ibu mu?"
Ace mengangguk. "Dia juga berambut pirang"
Garp yang penasaran pun mengguncang-guncang Ace lebih kasar lagi "SIAPAAA?"
"Aduh kakek, masa kau tidak menyadarinya, dia ada disini lho..." ucap Ace santai. Mendengar itu entah mengapa Sanji tiba-tiba memiliki firasat buruk.
Garp celingak-celinguk "Mana? Kau ingin berbohong pada kakekmu ya! Jelas-jelas dari tadi tidak ada wanita yang masuk keruangan ini!" dan tanpa ampun Garp langsung memberi tinjuan kasih sayang pada kepala cucunya itu.
"Argh! Kakek! Aku kan belum selesai bicara! Calon istriku itu bukan seorang wanita!"
JDERRRR
Garp syok bukan main mendengarnya. "APA?! Jadi, siapa dia?" Lalu
memandangi sosok Zoro, Sanji, dan Law satu persatu. Beruntung otaknya sebelas dua belas dengan Luffy jadi ia masih harus berpikir keras Apakah Zoro? Sanji? atau Law? yang menjadi calon istri dari cucu pertamanya ini? dan apa cucunya ini sudah gila?
"Tentu saja dia adalah Sanj—"
Sebelum Ace sempat menyelesaikan kalimatnya sebuah tendangan darurat dari Sanji meluncur begitu saja mengakibatkan si ahli tinju api itu terpental membentur tembok.
"Maaf telah memotong pembicaraan kalian Jii-san, tapi kurasa kita harus segera menyelesaikan masalah ini" Sanji buru-buru mengganti topik sebelum Garp memarahinya.
"Ah! ya! Kau benar juga..." dan untuk kedua kalinya Sanji bersyukur karena Garp memiliki otak bodoh macam dua cucunya itu, ia langsung mengangguk sambil menggosok-gosok dagunya
"Baiklah Jii-san, aku sudah tidak keberatan lagi, jadi kapan kau akan menarik jabatanku sebagai wakil ketua OSIS?"
Ace berusaha bangkit dan kembali menghampirinya "Sanji kenapa kau— Ouh!"
"Diamlah! Konoyaro!" bisik Sanji sambil menginjak kaki Ace agar si Ketos itu diam.
Garp kemudian melirik Ace yang juga balas menatapnya serius, seakan-akan berkata 'tolonglah jiji...' dengan penuh harap.
"Baiklah, karena Ace katanya ingin bertanggung jawab, jadi kau bisa lolos dari hukuman ini bocah" simpul Garp.
Sanji langsung menghela nafas lega. Sedangkan Ace cuma cengengesan melihatnya.
.
.
ˁˀ ZoSan ˁˀ
.
.
"Hah... untunglah jabatanku tidak jadi di cabut, tadi itu hampir saja... Ini semua gara-gara kalian!" Sanji mencubit hidung kedua adiknya dengan geram disertai wajah horrornya. Tapi meski begitu ia sedikit gemas juga setelah mengetahui sebab kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka— Zoro, Law, Ace, dan Luffy serta anak-anak lainnya termasuk geng mugiwara dan juga kedua Marco, Sabo.
Sanji tahu sekarang kenapa Luffy bisa berada di ruang kepala sekolah dan juga Ace yang tiba-tiba datang ke sana.
Ternyata, selama Sanji tengah sibuk mengurusi rapat, keempat orang bringasan itu malah berada di tengah-tengah tawuran antar kelas yang tidak jelas sebab perkaranya.
Memang deh, mereka itu suka berkelahi hanya karena masalah sepele seperti, daging Luffy yang jatuh dan terinjak-injak oleh kelompokan Kidd yang sedang lewat, lalu setelah itu Law bilang pada Luffy agar tidak mengambil dagingnya yang telah jatuh karena banyak bakteri, dan kemudian Ace yang ternyata juga ikut membolos(ya, mereka memang membolos) tiba-tiba emosi karena makanan adiknya di injak-injak dan langsung memulai pertengkaran disana.
Bukankah itu sungguh bodoh?
Ya. Mereka memang bodoh. Dan hal itulah yang membuat Sanji tak bisa mengabaikan mereka.
Tapi entah mengapa Sanji merasakan firasat yang amat buruk saat ia keluar dari ruangan Garp dan sempat berpapasan dengan bocah berbadan kekar dengan rambut merah yang sepertinya juga di panggil oleh Garp.
.
.
.
.
.
Sanji berjalan gontai memasuki rumahnya. Dari tadi ia hanya misuh-misuh sendiri sambil mendorong kedua adiknya untuk berjalan lebih cepat di depannya. Sungguh, ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan peristiwa yang ia alami disekolahnya hari ini.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai diruang tamu, dimana sang ayah sedang duduk di salah satu sova sambil menjalankan rutinitas sorenya seperti biasa, yaitu membaca koran, atau berkas-berkas penting seperti laporan yang dikirim dari beberapa anak buahnya mengenai informasi-informasi yang ia butuhkan.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini anak-anak?" tanyanya seperti biasa, sudah seperti aktifitas pokok sehari-hari bagi pemimpin Yakuza itu.
Dan, mau tak mau Sanji pun harus menjawab dengan jujur. "Hah... mereka berdua membuat masalah disekolah, ayah" ucapnya lelah seraya mendudukan dirinya di sova.
Zoro hanya buang muka nggak peduli sembari mengorek kupingnya, sedangkan Law masih tetap dengan ekspresi datarnya, malahan ia sudah ingin melengos pergi dari sana kalau saja Doflamingo tidak memanggilnya untuk tetap berada disana.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian"
Sanji menegang mendengar nada bicara ayahnya yang terdengar serius. Hal itu juga sukses membuat Zoro dan Law langsung mendudukan dirinya di samping Sanji dengan tenang untuk mendengarkan kata selanjutnya dari sang ayah.
"Dua hari lagi, aku akan mengirimkan surat izin ke sekolah kalian"
Jeda.
"Aku ingin membawa kalian bersamaku untuk menghancurkan suatu tempat" lanjutnya, membuat Sanji sedikit terkejut tapi dengan cepat kembali tenang.
"Jadi, persiapkan diri kalian sebaik mungkin"
Law dan Zoro langsung mengangguk, namun Sanji tidak.
Seandainya saja ia memiliki keberanian untuk bicara. Sanji pasti akan menolak dan mengatakan kalau kesungguhnya ia tidak mau melakukan hal itu.
Ia takut.
Bukan karena ia merasa takut untuk bertarung.
Tapi...
Ia takut kejadian buruk dua tahun lalu yang menimpa adik kesayangannya— Zoro— akan terulang kembali.
Bekas luka yang membentang di dada dan mata kiri Zoro... Itu di dapat saat adik bodoh kesayangannya berusaha melindunginya ketika mereka menjalankan misi yang diberikan ayahnya.
Sanji menundukan kepalanya sedikit keberatan dengan perintah sang ayah. Ia takut kalau Zoro akan terluka parah lagi seperti waktu itu. Ia benar-benar tidak mau bila hal tragis sedemikian rupa terjadi lagi.
Melihat adiknya harus berjuang di ruang ICU dalam keadaan mengenaskan antara hidup dan mati membuatnya benar-benar menyesal. Ia tak mau mengulangi kesalahan itu lagi.
Tidak mau.
Maka dari itu mulai sekarang ia harus bisa melindungi adiknya.
Itulah tekad Sanji.
.
.
.
.
.
Hari ini Sanji terlihat murung. Ace bahkan menjadi sangat peka terhadap perubahan sikap Sanji yang biasa modar-mandir kesana-kemari hanya untuk menggoda para gadis kini malah mengabaikan ladies-ladies pujaannya itu begitu saja.
Jangankan bicara, ditanyai oleh Ace saja, ia tak mempedulikannya. Entah apa yang sedang di pikirkannya sampai merenung seperti itu.
Bahkan ketika sore menjelang, Sanji masih saja sibuk dengan pikirannya. Ia tak segan-segan meninggalkan Ace diruang OSIS sendirian dengan setumpuk pekerjaannya. Walaupun dia tahu kalau pekerjaannya akan tambah kacau bila diserahkan pada Ace, ia tetap tidak peduli. Yang benar-benar ia pikirkan hanyalah kedua adiknya dan misi dari sang ayah.
Ia terus memijat pangkal hidungnya frustasi karena rasa cemas dalam dirinya tidak kunjung menghilang.
Selalu.
Bayangan Zoro yang terkapar bersimbah darah selalu menghantui pikirannya dari semalam. Tak ada hal yang bisa menenangkannya selain melihat wajah adik kesayangannya itu sehat segar bugar tanpa luka sedikitpun. Ya, benar. Sanji harus segera menemui Zoro untuk memastikan kalau bocah lumut itu benar-benar sehat walafiat.
Ngomong-ngomong, hari sudah sore dan Sanji malah hampir melupakan tugasnya untuk memberikan bekal pada kedua adiknya yang sekarang mungkin sudah bubar dari latihan kendonya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera menuju lokernya untuk mengambil bekal dan lari secepat kilat ke gymnasium olahraga.
Klak
Pintu ruang OSIS terbuka, dan sosok Ace menyembul dari sana. "Sanji, aku tak mengerti bagian in—" dan celingukan seperti orang bodoh. Perasaannya tadi, Sanji masih giat mondar-mandir tanpa alasan di sini, tapi kenapa sekarang sosoknya malah menghilang?
Sanji menghela nafas lega. Bersyukur ternyata klub Kendo masih belum bubar. Tak sia-sia ia berlari dengan kecepatan yang tak masuk akal kemari. Toh, akhirnya ia masih bisa melihat wajah kedua adiknya yang masih sehat. Yah... walaupun Sanji sempat tak percaya melihat kedua adiknya—Zoro dan Law— tengah latihan bersama—ralat— atau lebih tepatnya saling adu kekuatan. Terbukti dari suara hentakan shinai bambu yang terdengar keras.
"CUKUP!" Kuina menahan serangan Law maupun Zoro dengan bokutounya. "LAW! ZORO! PELANGGARAN" ucapnya lalu memukulkan bokutounya pada kepala dua bocah itu. Semua orang yang masih ada disana hanya bisa tercengang menyaksikan pertarungan sengit antara dua monster. Bahkan Yosaku dan Johnny sudah mangap lebar-lebar.
"Zoro aniki dan Law aniki benar-benar hebat!" gumam Yosaku dan hanya dibalas anggukan dari Johnny.
Plak! Plak!
Lagi, Kuina mengayunkan bokutou beratnya pada kepala dua adik kelasnya.
"Sudah berapa kali ku bilang, ini hanyalah sparing! Tak perlu sampai membabibuta begitu! Ck!" omelnya darah tinggi, karena dari awal Law dan Zoro susah sekali di atur.
"Cih! Sudah kubilangkan! Kalau kami memakai pedang sungguhan pasti akan cepat selesai!" Zoro membuka helm besinya.
Law hanya mendengus remeh "Jangan sombong dulu Zoro-ya, aku bisa memutilasi orang dengan mudah"
Ampun... Kuina memijit pelipisnya sebal. Ingin rasanya menggorok leher kedua bocah itu kalau saja mereka bukan adik dari teman dekatnya.
Suara tepukan tangan membuat semua mata terfokus pada sosok Sanji yang tengah berdiri di pinggir bench.
Kuina menghela nafas, lalu membubarkan latihannya hari ini.
Sanji mengangkat dua kotak bekal sembari tersenyum kecut "Maaf, aku terlambat mengantarkan bento pada kalian"
Melihatnya, Law dan Zoro yang kebetulan udah kelaperan dari siang tadi langsung menghampirinya.
"Hari ini apa?" tanya Zoro sembari mengelap keringatnya, Law sendiri malah asik meneguk air mineral yang ditawarkan Kuina.
"Sushi" Sanji memberikan kotak bekal masing-masing pada kedua adiknya "Tenang saja Law, tidak ada hal yang kau benci disini" sambungnya ketika melihat tatapan intimidasi Law pada kotak bento.
Sementara Law dan Zoro melahap bekalnya, Sanji sibuk bertanya pada Kuina seputar kelakuan kedua adiknya tersebut dalam klub. Namun tiba-tiba saja Law yang mulutnya masih penuh dengan sushi langsung berpindah duduk di sebelah Sanji. Zoro yang melihatnya hanya bisa diam sambil mempercepat kunyahannya karena tak bisa pindah tempat duduk sebab ada Kuina di samping Sanji.
"Bwanji-ywa, manpwi buwapkam afhu bfhakoyahi (baca : Sanji-ya, nanti buatkan aku takoyaki)" masih dengan mulut penuhnya dan wajah yang datar Law bicara tidak jelas dan sukses mendapat sentilan kuat di keningnya dari Sanji.
"Telan dulu makananmu, kalau sampai mati tersedak bukankah sangat konyol"
Kuina yang melihatnya langsung ketawa geli. Tak menyangka kalau Law yang sebegitu pendiamnya saat latihan, bisa terlihat menggemaskan. Ia lalu melirik Zoro yang sudah membuang mukanya dengan pipi gembung yang masih terisi makanan. Menurutnya itu hal yang sangat menggemaskan, yah... walaupun cara kunyahan Zoro yang sedang geram dengan jidat lebarnya yang berurat itu justru memunculkan kesan seram sih, belum lagi matanya yang melotot hampir keluar itu. Namun tetap saja, bagi kuina itu adalah hal yang mengemaskan. Sangking gemasnya ia bahkan sampai menepuk punggung Law maupun Zoro sampai mereka tersedak dan hampir mati. Tahu sendirilah, tenaga tomboy Kuina seperti apa.
"Hahaha! Sanji-san! Mereka sangat menghibur! Walaupun sangat merepotkan" tanggapnya gemas dan tentu saja langsung mendapat protes dari Zoro serta Law yang udah kelojotan setengah mampus.
Dan sialnya lagi, Sanji yang emang mau nolongin adek-adeknya malah ditubruk oleh Ace dari belakang.
"Huwaaaaa! Sanjiii~! Kukira kau menghilang entah kemana...hiks" tangisnya lebay, yang langsung mendapat ciuman cint—ehm, maksudnya tampolan bengis dari yang bersangkutan. Tak lupa disusul dengan hantaman dua shinai bambu yang melayang kearahnya.
Dengan ekspresi dingin disertai tatapan tajam, Zoro dan Law mengangkat tangan bersamaan "Maaf, tidak sengaja" ucap keduanya
Sanji sempat terhenyak sesaat melihat kedua adik bodohnya menjadi kompak. Dan berusaha mati-matian menahan tawa gelinya.
.
.
.
.
.
Akhirnya hari ini kamar Law sudah selesai dibereskan. Zoro bahagia bukan main mengetahui saingannya dalam memperebutkan perhatian sang kakak telah pindah dari kamar Kakaknya ke kamar paling pojok sebelah kiri kamar Sanji, sedangkan di sisi kanan kamar Sanji adalah kamarnya.
Malam ini Sanji melihat gelagat Law sedikit aneh. Ia keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap dan menuruni tangga terburu-buru. Merasa curiga, Sanji langsung saja memanggilnya.
"Oi Law! Mau kemana kau? Ini sudah jam 10 malam"
Law membeku ditempat. Namun kemudian mendelik malas. "Bukan urusan mu" jawabnya.
"HEI! JAWABAN MACAM APA ITU?! KEMARI KAU!" teriak Sanji, beruntung kedua orangtuanya dan juga Vergo sedang tak ada dirumah, jadi tak perlu takut ada yang terbangun, dan bersyukur juga Zoro termasuk orang yang paling susah dibangunkan.
Sanji yang dibuat kesal pun berjalan cepat menghampiri Law. Sumpah dah, kemarin waktu adiknya hanya Zoro seorang memang setengah idup juga ngurusnya, tapi ketika nambah satu yang sifatnya kurang ajar seperti Law ituu... benar-benar! Rasanya ingin sekali Sanji mengasah pisaunya tajam-tajam lalu mencincang-cincangnya.
"Aku bertanya baik-baik tadi, mau kemana kau? Apa menjawab dengan benar sangat sulit bagi mu, huh?"
"Tch! Kau itu cerewet! Kenapa kau selalu mengaturku!"
Bletakh
"Dengar ya, adik bodohku tersayang. Aku ini adalah kakak mu, jadi kau harus mendengarkan kata-kata ku, kuso gaki!" Sanji masih berusaha menahan kesabarannya.
Law memasamkan wajahnya kesal sembari mengelus kepanya yang benjol akibat jitakan penuh cinta dari Sanji. Ini adalah yang kedua kalinya ia mendapatkan jitakan super itu.
"Ck! Aku hanya ingin keluar sebentar" jawabnya yang sudah di buat sesopan dan sebenar mungkin.
Mengehela nafas berat, Sanji pun memberi izin pada Law. "Kau ini... Kenapa tidak dari tadi saja menjawab dengan benar seperti itu? Geh! Ya sudah hati-hati, jangan pulang larut malam" ucapnya sembari menyentil dahi sang adik.
"Aku ini laki-laki, tidak masalah kalaupun aku pulang larut malam. Dasar cerewet! — ROOM!" dan Law pun langsung menghilang dari hadapan Sanji menggunakan kemampuan buah iblisnya. Meninggalkan Sanji yang sudah naik darah sendirian karena di katai cerewet olehnya.
"Cih... Dasar anak kurang ajar!" dengusnya kesal sembari berjalan keruang tamu untuk menunggui kepulangan adik keduanya yang lebih bandel dari pada Zoro sembari menonton TV.
"Meski begitu, kau harus mematuhi aturan Law no yarou"
.
.
.
"Boooossss" terlihat sosok beruang putih yang sedang melambaikan kedua tangannya dari sudut cafe. Law yang baru sampai saat itu juga langsung menghampiri ketiga temannya— Bepo, Penguin dan Sachi.
"Yo! Bos! Bagaimana suasana di rumah barumu?" Sachi langsung memberikan minumannya pada Law.
Law sendiri hanya mendengus sebal ketika mengingat bayangan Kakak barunya yang super cerewet dan sok ngatur-ngatur itu.
"Aku mendapatkan seorang kakak yang bawel dan saudara yang membenciku tanpa sebab" jelasnya yang malah mendorong kembali minuman Sachi lalu memesan minumannya sendiri.
"Wah... sepertinya tidak menyenangkan..." tanggap Penguin "lalu apa kau mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan, Bos?" sambungnya
Law mengerutkan dahi, "Tidak sama sekali. Lebih baik kalian pindahlah juga ke sekolahku"
Bepo, Penguin, Sachi terdiam memperhatikan aura disekeliling Law berubah.
"... Bos, sepertinya moodmu sedang buruk"
.
.
.
"Hoooaaam..."
Empat jam berlalu dan Sanji masih bersabar menunggui kedatangan sosok jangkung adik keduanya yang sampai saat ini belum pulang juga. Apakah adiknya yang tolol itu baik-baik saja di luar sana? Pikirnya. Memangnya apa saja sih yang dilakukan oleh si kurang ajar itu sampai-sampai belum pulang juga? Perasaan cemas dan kalut mulai menghantui Sanji. Mengingat sifat khawatiran dari ibunya juga menurun padanya, ia jadi tak bisa masa bodoh pada Law. Mau bagaimana pun juga bocah tak tahu diri itu adalah saudara sedarahnya walaupun beda Ibu.
Ia baru saja ingin memejamkan matanya karena tak kuat menahan kantuk kalau saja telinganya tidak menangkap suara derap kaki menaiki tangga.
SRET
Sanji menarik baju belakang Law yang baru setengah menaiki tangga. "Kenapa kau pulang selarut ini?" tanyanya dengan intonasi yang jelas terdengar menahan marah.
"Bukan urusanmu" bukan menjawab Law malah menepis tangan Sanji.
Mendapat perlakuan sedemikian rupa, Sanji tentu saja kesal. Yang benar saja, adik macam apa yang dikhawatirkan malah ngelunjak?
"Jelas urusanku! Aku adalah kakak mu! Dari tadi aku menunggumu bodoh! Kalau saja kau tidak pulang saat ini juga, mungkin aku akan pergi mencari mu!"
Law terdiam. Masih dengan ekspresinya yang tenang ia membalas tatapan cemas Sanji. Ia hanya tak menyangka kalau Kakak barunya itu akan sangat menghawatirkannya sampai rela menungguinya pulang. Padahal waktu tengah malam sudah lewat.
"Tsk! kau benar-benar cerewet" tak mau mendengar ocehan Sanji lebih banyak lagi, law pun melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan Sanji yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sialnya, ketika sampai dikamar, Law malah merasa lapar karena ia tidak ikut makan bersama teman-temannya di cafe tadi. Akhirnya, dengan terpaksa Law memutuskan untuk melangkahkan kakinya lagi keluar untuk mengambil makanan. Namun, baru saja dirinya membuka pintu, sosok Sanji sudah berdiri di depannya dengan sebuah nampan yang berisi sepiring penuh nasi goreng dan juga segelas air putih.
"Aku tahu kau pasti lapar, jadi ku bawakan ini" Sanji menyerahkan nampan berisi makanan itu pada Law. Law sendiri sedikit terkejut mendapati sosok Kakaknya yang tiba-tiba sudah ada didepan pintu, terlebih lagi ia tak pernah berpikir kalau Sanji ternyata adalah seorang perokok. Karena baru kali ini dia melihat sebatang rokok bertengger dengan indahnya dibibir Sanji.
"Makanlah, setelah itu tidur, jangan sampai kau bangun kesiangan karena besok ayah akan menjemput kita. Dan aku tidak akan mau membangunkan mu" titahnya, seraya menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Law hanya tersenyum tipis sekaligus merasa bersalah karena sudah membuat Kakaknya khawatir. "Heh... cerewet" katanya pelan, tapi dia juga senang karena baru pertama kalinya ada orang yang benar-benar memperhatikannya sampai sejauh ini.
"Ck! Kau ini benar-benar bocah kurang ajar"
Karena sudah teramat dongkol Sanji pun memilih kembali ke kamarnya, tapi sebelum ia sempat membuka pintu kamarnya, lengannya sudah terlebih dahulu disambar oleh Law.
"Apa? Kau berubah pikiran dan ingin berterimakasih padaku?"
Law menggaruk kepalanya dengan gugup, "Bisakah kau... membantuku tidur lagi?" tanyanya ragu-ragu, takut kalau Sanji keberatan. Namun, ia segera menepis dugaan buruknya ketika melihat Sanji mendengus geli dan kembali menghampirinya.
Sebenarnya sih Law sendiri juga gengsi mau minta bantuan pada Kakak bawelnya itu, tapi entah kenapa ia hanya bisa tidur nyenyak kalau ada Sanji yang mengusap kepalanya, terbukti dengan selama dua hari ia sekamar dengan Sanji, dirinya tak pernah lagi insomia seperti sebelumnya.
"Tentu saja, adik bodohku tercinta. Dengan senang hati Kakakmu ini akan selalu siap membantu mu" lontar Sanji seraya tersenyum lebar sembari menyentil kening Law.
Disisi lain,
Zoro yang memang terbangun dari tidurnya, tak sengaja mendengar(menguping) pembicaraan sang Kakak dan saudara barunya di balik pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Giginya bergemeltuk, kedua alisnya bertaut, dan kedua tangannya terkepal kuat-kuat.
"Sanji..."
TBC
Sorry no Spoiler... tapi, chapter 8 adalah batas pertengahan dari alur cerita di fic ini, jadi, enam atau tujuh chapter kedepan Fic ini akan segera tamat, yey/PLAK/masih lama bego/ dan perjuangan Zoro akan semakin berat hohoho.../abaikan/
Oke seperti biasa, terimakasih atas reviewnya ::: Prissycatice :: Michantous :: Guest :: Sexy Cook :: Sgel :: HildyaOrul :: readermaleslogin :: Septaaa :: PandaBlackwhite :: Guest.
see you next chap~
