"Park! Sebelah sini!"
Seorang pria dewasa, dengan beberapa orang yang mengikuti di belakangnya, menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Raut keterkejutan tercetak di wajahnya ketika mengetahui sosok yang memanggilnya tadi.
"Byun? Apa yang membawamu kemari?"
"Putra Tuan Byun yang telah menyelamatkan Tuan Muda" Seorang pria muda dengan name tag 'Leeteuk' di bajunya, mendahului Tuan Byun untuk memberikan penjelasan mengenai kehadirannya di tempat ini.
Tuan Byun mengangguk kecil, membenarkan ucapan Leeteuk. "Kurang lebihnya seperti itu. Namun...sepertinya putramu terjatuh cukup keras di aspal, hingga dokter masih harus memberikan penanganan lebih lanjut padanya." Ucap Tuan Byun sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Tuan Park menghela nafas panjang, kemudian ikut bersender di dinding, tepat bersebelahan dengan sahabat lamanya. Pandangan matanya tertuju ke arah pintu, dimana putra satu-satunya sedang ditangani oleh beberapa dokter di dalamnya. Perselisihan yang terjadi di antara mereka berdua beberapa saat lalu, terus berulang di pikirannya layaknya sebuah kaset rusak.
Hingga akhirnya sepasang tangan mungil yang menarik-narik kain celananya, menyadarkan ia dari lamunannya. Wajah kaku Tuan Park melunak, melihat seorang bocah lelaki yang mewarisi wajah sahabatnya, menatapnya dengan pandangan memelas dan berlinang air mata.
"Hiks...m...maafkan aku. K..karena aku..anak anda..hiks..t..terluka..hiks" ucap sang bocah terbata-bata dengan air mata yang masih mengalir di pipi gembilnya.
Tuan Park menoleh ke arah sahabatnya, yang merupakan ayah dari bocah tersebut. Bermaksud untuk meminta bantuan padanya, namun hanya dibalas dengan kedua bahunya yang terangkat. Tuan Park memutar matanya sesaat, kemudian menundukkan tubuhnya menjadi sejajar dengan bocah lelaki tersebut.
"Baekhyunnie..." Tangannya terulur mengusap air mata yang masih mengalir di pipi bocah bernama Baekhyun tersebut. "Jika kau tak menariknya saat itu, mungkin anakku akan terluka lebih parah dari ini" ucapnya sambil tersenyum hangat.
Baekhyun kecil masih sesenggukan, namun tangisnya sedikit mereda kini. Dengan mata sipitnya yang membengkak dan bibir melengkung ke bawah, ia menatap Tuan Park. "B..benarkah? Aku tidak melakukan kesalahan?" Tanyanya dengan nada kepolosan.
Tuan Park mengangguk tegas dan merasa lega melihat senyuman kecil yang mengembang di bibir tipis bocah mungil ini. Gemas dengan tingkahnya, Tuan Park mencubit pelan kedua pipi Baekhyun. Membuat senyuman di bibir tipisnya semakin mengembang.
"Hiks...aku...ini semua salahku."
Kini semua perhatian tertuju pada isak tangis yang berasal dari sosok mungil di dekat Tuan Byun.
"Harusnya aku berlari lebih cepat..hiks..gara-gara aku Chanyeollie terluka..hiks"
Tuan Byun menatap iba bocah lelaki disampingnya, yang diketahui seumuran dengan putranya. Ia menatap Tuan Park, menyiratkan pada lelaki itu untuk membantunya menangani bocah kecil ini. Namun seolah membalas tindakannya tadi, Tuan Park hanya mengangkat bahunya acuh, lebih tertarik dengan bocah mungil yang ada di depannya.
Tuan Byun berdecak kesal, kemudian berjongkok di lantai agar sejajar dengan bocah tersebut.
"Kyungsoo.." Tangannya membelai lembut surai hitam bocah tersebut. "Tidak ada yang salah disini nak." Ucapnya sambil tersenyum menenangkan. "Semuanya sudah terjadi, dan lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Chanyeol. Hmm?"
Perlahan, Kyungsoo menganggukkkan kepalanya. Membuat Tuan Byun tersenyum melihatnya dan mengacak surai hitam tebal milik bocah tersebut.
Pintu ruangan gawat darurat yang akhirnya terbuka, membuat suasana menegang kembali. Tuan Park adalah yang pertama maju mendekati salah satu dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisi putraku?" Tanyanya tak sabar.
Dokter memberikan senyuman tipis padanya. "Tidak ditemukan cidera berat pada anak anda. Hanya saja.." Perubahan pada raut wajah sang dokter, membuat Tuan Park merasa was-was. "Hemofilia ringan yang diderita putra anda, membuatnya banyak kehilangan darah "
"Dan sayangnya, saat ini rumah sakit kami tidak mempunyai stok golongan darah yang sama dengan putra anda" lanjut sang dokter.
Melihat sahabatnya hanya terdiam kaku, Tuan Byun mengambil alih pembicaraan. "Apa golongan darahnya?"
"B. Adakah dari tuan-tuan yang bergolongan darah sama?"
Tuan Byun bungkam, begitu pula dengan yang lainnya. Sepertinya sama-sama memiliki golongan darah yang berbeda dengan Chanyeol.
"Aku B/Aku B"
Baik Tuan Byun, Tuan Park hingga sang dokter, semuanya menoleh pada kedua bocah kecil di dekat mereka, yang baru saja menyerukan sesuatu bersamaan.
...
Jam menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi, yang menandakan waktu berkunjung telah tiba. Dengan dorongan dari sang ayah, ia bawa kaki mungilnya memasuki salah satu ruang perawatan VIP di sebuah rumah sakit.
Seorang bocah lelaki bertubuh gempal, yang sedang terduduk di atas ranjangnya, adalah tujuannya datang ke tempat ini.
"P..permisi" ucapnya sedikit ragu. Namun tetap membuat sang penghuni ruangan menoleh padanya. "Uhm..Mungkin kau tidak mengenalku, tapi aku kemari hanya ingin meminta maaf padamu sebelum aku pergi."
"Karena aku, kau jadi terluka. Maafkan aku Chanyeollie" lanjutnya.
Anak lelaki bertubuh gempal itu tidak memberikan reaksi apapun. Dibanding menyimak apa yang diucapkan oleh lelaki di depannya, sepertinya ia lebih tertarik untuk memperhatikan wajah lugu nan polos lelaki mungil tersebut. Hingga membuat si mungil semakin gugup karena dipandangi begitu intens oleh lawan bicaranya.
"Uhm..pasti kau menganggapku aneh bukan? Sepertinya lebih baik aku segera pergi. Permisi"
Si mungil sedikit menundukkan kepalanya, lalu berbalik hendak menuju ke arah pintu keluar.
"Aku mengingatmu" ucap Chanyeol tiba-tiba, dan menghentikan langkah si mungil saat itu juga. Ia berbalik dan kembali mendekati sisi ranjang.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan ekspresi yang membuat Chanyeol begitu gemas padanya.
"Aku mengingatmu. Baekhyunnie. Yang menolongku saat aku diganggu oleh anak-anak nakal dan yang membantuku mencari Kyungsoo. Itu dirimu bukan?"
Si mungil yang bernama Baekhyun menganga. Karena sejujurnya ia sendiri tidak begitu ingat pernah bertemu dengan Chanyeol, selain dari kecelakaan naas beberapa waktu yang lalu.
"Aku mencarimu setelah itu, tapi kau tidak pernah terlihat lagi dimanapun."
Baekhyun tersenyum canggung. "Emh..aku berhenti sekolah dan mengambil homeschooling"
"Ah pantas saja." Chanyeol mengangguk paham. Kemudian tiba-tiba raut wajahnya berubah, menatap Baekhyun dengan pandangan sendu. "Kita baru saja bertemu lagi dan kau sudah akan pergi lagi?" Ucapnya sambil mencebikkan bibirnya. "Padahal aku ingin berteman denganmu Baekhyunnie"
Baekhyun mengangguk sambil tertawa kecil. "Aku harus pindah bersama ayahku" jelasnya singkat. "Mari berteman disaat kita bertemu lagi nanti. Oke?" senyuman manis tersungging di bibir mungilnya kemudian. Chanyeol mendengus melihatnya, namun tetap mengangguk setuju dan tersenyum pada akhirnya.
Melihat itu, membuat senyuman manis Baekhyun kian melebar. Ia mendekati Chanyeol, bermaksud mengatakan sesuatu sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat ini.
"Chanyeollie..bolehkah aku meminta sesuatu?"
.
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other cast
.
.
.
Bagaikan ditusuk ribuan jarum di kepalanya, ketika Chanyeol mencoba untuk membuka kedua matanya. Semuanya tampak buram pada awalnya, namun ia masih dapat melihat bayangan seseorang di samping tempatnya berbaring.
Chanyeol mengerjapkan matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas sosok yang berada di sampingnya ini. Hingga beberapa kerjapan berikutnya, Chanyeol baru mendapati bahwa sosok di sampingnya ini adalah seorang lelaki berpostur mungil.
Yang sayangnya berbeda dengan yang ia lihat sebelum kesadarannya hilang.
Dan bukan seseorang yang ia inginkan saat ini.
"Yeollie?! Kau sudah sadar?!" Seru lelaki itu sambil melangkah mendekat. "Kau baik-baik saja? Apakah masih ada yang sakit?" Tanyanya dengan raut kekhawatiran. Tangannya terulur meraba sekujur tubuh kekasihnya, untuk memastikan apakah ada luka yang mungkin terlewati saat pemeriksaan.
Tangan mungilnya dihempaskan begitu saja, ketika ia hendak mengusap luka yang terbalut perban di pelipis kekasihnya itu.
"Aku baik-baik saja. Kau bisa pergi Soo." Chanyeol berucap dingin dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membuat Kyungsoo terpaku dan memandang Chanyeol tak percaya.
"Y-yeollie? Kau mengusirku? Dua hari penuh aku menemanimu disini dan sekarang kau menyuruhku pergi begitu saja?"
Chanyeol mendengus dan berbaring kembali memunggungi lelaki itu. "Aku berterima kasih untuk itu. Namun kau bisa pergi sekarang, dan lanjutkan kegiatanmu dengan laki-laki lain diluar sana" ucapnya tanpa menoleh.
Kyungsoo dibuat bungkam oleh sikap dan ucapan sang kekasih. Ini adalah yang pertama kali baginya, setelah sekian tahun bersama dalam suatu hubungan. Ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" Tanyanya sambil melangkah maju. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama di Spanyol?" Senyuman miring terukir di bibirnya, melihat tubuh kekasihnya menegang.
"Berbagi kehangatan bersama seorang lelaki jalang, yang rela menggoyangkan pinggulnya untuk sebuah kekuasaan"
Srek!
" . ."
Seolah tak mempedulikan kerah bajunya yang ditarik oleh Chanyeol, Kyungsoo memberi tatapan mengejek pada lelaki itu. Dan demi apapun, Chanyeol ingin membunuh kekasihnya ini saat ini juga.
"Uhukk!" Kyungsoo terbatuk ketika cengkraman di kerah bajunya berpindah ke lehernya. Anehnya, ia masih bisa tertawa kecil disaat genting seperti ini. "Bunuh saja aku-uhukk-toh sebentar lagi kita akan bertemu kembali di neraka Yeol" ucapnya sambil tersenyum miring.
Chanyeol berdecih. "Aku muak dengan segala omong kosongmu!" Cengkraman tangannya menguat. Sepertinya benar-benar ingin melenyapkan lelaki mungil yang telah lama menjadi kekasihnya.
"Hahahaha... " Chanyeol mengernyit melihat Kyungsoo semakin tertawa keras. Perlahan, sambil berpura-pura bersimpati, Kyungsoo membawa tangan kanannya untuk membelai wajah lelaki di depannya. "Park Chanyeolku. Yang begitu kejam. Begitu tegas. Namun sayangnya terlalu naif"
"Hingga bertekuk lutut pada seseorang yang hampir membunuhnya" seringai meremehkan menutup ucapannya.
Chanyeol membuka lebar kedua matanya, diiringi cengkraman tangannya yang melemah. Menandakan ia cukup terkejut akan apa yang baru saja diucapkan oleh Kyungsoo.
"Kau tidak tahu? Bahwa mobil yang hampir menabrakmu itu berasal dari kelompok si jalang Byun kesayanganmu?"
"Tepatnya mobil yang digunakan-"
"-benarkah itu paman?"
Leeteuk yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dari pojok ruangan, terpaku ketika kedua orang disana menaruh perhatian padanya.
"paman?" Tanya Chanyeol sekali lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Meskipun Leeteuk tidak mengucapkan sepatah katapun, namun dengan tatapan bersalah serta anggukan kecil darinya, sudah mampu menjelaskan semuanya.
Bahwa yang dikatakan Kyungsoo adalah benar adanya.
Cengkraman tangan Chanyeol terlepas kini. Tubuhnya terhempas ke sandaran ranjang, seolah tidak memiliki tenaga hanya untuk menegakkan tubuhnya. Bahkan meskipun ingin, ia tidak mampu menyingkirkan tangan Kyungsoo yang mulai menggenggam tangannya.
"Aku tahu aku sudah mengkhianatimu berulang kali" ucapnya sambil tersenyum tulus. "Namun setidaknya, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu, apalagi membunuhmu". Kyungsoo berhenti sejenak, menunggu reaksi dari kekasihnya yang nampak melemah. Melihat tak sepatah katapun yang terucap, Kyungsoo melanjutkan lagi ucapannya.
"Suka atau tidak, kenyataannya sejak dulu maupun kini, hanya aku, yang selalu di sampingmu. Yang selalu ada untuk menyelamatkanmu" lanjutnya lagi. "Ini yang kedua kalinya aku-"
"-lebih baik aku mati"
"A..apa?" Kyungsoo tercengang, dan berharap bahwa apa yang ia dengar tadi adalah kesalahan. Namun...
"Lebih baik aku mati" ulang Chanyeol sekali lagi dengan nada tegas penuh keyakinan. "Daripada aku harus menanggung darahmu yang mengalir di tubuhku" Ia menghempaskan tangan Kyungsoo, dan menatap tajam lelaki itu. "Mati sepertinya lebih baik dari itu"
Kyungsoo tercekat. Ribuan pisau seolah menghujam jantungnya saat ini. "Katakan. Katakan kau hanya bercanda Yeol. Aku mohon katakan Chanyeol!" Pekiknya keras. Air mata mulai berlomba-lomba mengalir dari mata bulatnya.
"Tidak. Seratus persen aku serius mengucapkan itu." Tegasnya lagi masih dengan tatapan tajamnya. Tak mempedulikan wajah Kyungsoo yang telah basah oleh air matanya. "Sekarang pergilah dari sini. Melihatmu hanya membuatku ingin kembali tak sadarkan diri"
Kedua tangan Kyungsoo mengepal menahan emosi. "Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan pernah sampai kapanpun Yeol!"
Dan Kyungsoo pun melenggang keluar setelahnya.
"Tuan baik-baik saja?" Leeteuk yang sejak tadi hanya berdiam diri, mulai melangkah mendekati tuannya. "Perlu saya panggilkan dokter?" tanyanya sedikit khawatir. "Atau Tuan ingin-
"-kenapa paman?" Potong Chanyeol tiba-tiba. Membuat Leeteuk menatapnya dengan raut kebingungan.
"Aku baru saja memutuskan untuk melepasnya. Namun lihatlah kini. Lagi-lagi aku berhutang nyawa padanya " Chanyeol terkekeh miris sambil menggelengkan kepalanya. "Aku sudah muak menjalani hidup di bawah bayang-bayangnya paman." Chanyeol menutup mata, dan menyenderkan kepalanya.
Meskipun ragu, namun Leeteuk tetap mengulurkan tangannya untuk membelai surai hitam kecoklatan milik lelaki muda di hadapannya. Diam-diam ia tersenyum lega, melihat tuannya nampak tak keberatan akan tindakannya.
"Tuan..." lirihnya pelan, yang hanya dibalas gumaman oleh Chanyeol.
"Yang nampak di depan mata, bukan berarti menunjukkan kebenaran." Leeteuk tersenyum hangat, masih dengan tangannya yang terus bergerak membelai surai Chanyeol. "Lihatlah dua kali, tiga kali, sampai kau benar-benar meyakini apa yang terjadi sesungguhnya. Karena kebenaran..hanya datang pada mereka yang terus mencarinya" ucapnya bijak.
Chanyeol membuka matanya dan memandang curiga pada Leeteuk.
"Apa yang coba kau sampaikan paman?"
Leeteuk menarik tangannya dan menatap penuh arti pada Chanyeol. "Tentang Tuan Baekhyun"
"Apa maksudmu?!"
"Mobil itu, memang benar berasal dari tempatnya. Tapi bukan berarti Tuan Baekhyun adalah pelakunya Tuan."
Chanyeol mengernyit. "Aku tidak mengerti"
Leeteuk menghela nafas perlahan. "Datangi saja kamar tempatnya dirawat, maka anda pasti akan mengerti Tuan."
"Baekhyun juga dirawat di rumah sakit?!"
Chanyeol terpaku, setelah melihat anggukan kepala dari Leeteuk. Ternyata wajah Baekhyun yang ia lihat sebelum dirinya tak sadarkan diri, bukanlah mimpi belaka. Yang berarti Baekhyun adalah sosok yang menariknya saat itu. Bukanlah Kyungsoo.
Merasa ada sesuatu yang janggal, Chanyeol menoleh kembali ke arah Leeteuk dan menatap tajam lelaki tersebut.
"Apa lagi paman? Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?!"
"Mohon maaf, Aku tidak memiliki kuasa untuk menjelaskan semuanya tuan" Leeteuk menunduk sejenak. "Tapi perlu anda ketahui...
...Tuan Baekhyun adalah jawabannya.."
.
.
.
Atas dasar imbauan Leeteuk sebelumnya, membuat Chanyeol berdiri di depan sebuah ruang rawat, yang ternyata tidak jauh dari ruangannya sendiri. Sebelum melangkah lebih dalam, Chanyeol menarik nafas panjang, meyakinkan dirinya untuk teguh pada keputusannya.
Dan saat itulah, Chanyeol baru memahami maksud dari ucapan Leeteuk. Melihat Baekhyun meringkuk di atas ranjang, dengan kondisi yang nampak lebih buruk dari dirinya, dimana tangan dan kaki sebelah kananya yang dibebat dan terbalut oleh perban.
Chanyeol melangkah penuh hati-hati. Tidak ingin menimbulkan suara sekecil apapun, agar tidak mengganggu lelaki mungil yang sedang terlelap dalam tidurnya. Seulas senyuman tipis terukir di bibir Chanyeol, ketika wajah polos Baekhyun yang sedang terlelap, berada begitu dekat dalam pandangannya. Begitu indah, hingga Chanyeol mungkin tak akan bosan memandangi wajah ini sampai berjam-jam kemudian.
"Sudah puas mengagumi wajah tampanku?"
Senyuman Chanyeol menghilang, dan ia pun menarik kepalanya menjauh. Sedikit terkejut mendapati bahwa Baekhyun telah terjaga.
"Tampan katamu?" Chanyeol berdecih, lalu memberikan tatapan mencela pada Baekhyun yang masih dalam posisi berbaringnya. "Aku berani bertaruh tidak ada satupun yang pernah mengatakan itu padamu" ejeknya lagi. "Kau tahu? Bahkan tak ada satupun teman wanitaku yang mengalahkan kecantikanmu"
"Apa?!" Baekhyun mendelik dengan wajah memerah, perpaduan antara emosi dan merona. "Asal kau tahu saja, sudah banyak wanita yang menantiku untuk mendatangi mereka" ucap Baekhyun sambil tersenyum bangga.
"Benarkah?" Tanya Chanyeol dengan nada tak percaya yang dibuat-buat. Ia kemudian sedikit merendahkan tubuhnya untuk mendekati wajah Baekhyun. "Mereka tidak tahu saja, betapa indahnya wajahmu.." Chanyeol memberi jeda sesaat dan semakin menghapus jarak di antara mereka. "...ketika kau sedang menggerakkan pinggulmu di atas ranjang, dengan bibir mungilmu yang terus meneriakkan namaku." Bisiknya menggoda.
Dan memang sesungguhnya ia hanya berniat menggoda lelaki itu. Namun sepertinya ditanggapi berbeda oleh Baekhyun. Melihat raut wajahnya yang berubah kaku, dan menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya.
"Hey Hey Baekhyun? Baek? Maaf aku hanya-"
"-Pergilah" pinta Baekhyun dari dalam selimut.
Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Dalam hati merutuki ucapan bodohnya yang seketika merusak suasana. Harusnya ia tahu, Baekhyun tentu masih merasa sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan urusan ranjang mereka. Mengingat pertengkaran yang telah terjadi beberapa hari lalu, ketika mereka berada di Spanyol.
"Baekhyun..." Chanyeol memanggilnya dengan lembut. "Aku benar-benar minta maaf padamu."
"Baik untuk yang tadi, maupun untuk segala yang kulakukan selama di Spanyol"
Meskipun Baekhyun masih enggan membuka selimutnya, namun gerakah kecil dari tubuh lelaki itu, tak luput dari pandangan Chanyeol. Membuatnya tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Tak apa jika kau masih marah padaku. Tapi aku...bersungguh-sungguh mengucapkan maaf padamu Baekhyun" ketulusan dan keseriusan terdengar dari nada bicaranya. Hingga berhasil membuat Baekhyun membuka selimutnya, lalu bangkit dan duduk bersila di atas ranjangnya.
"Sepertinya kepalamu terbentur cukup keras Yeol" ejeknya sambil memandangi luka di kepala Chanyeol.
"Tidak Baek. Aku serius" Baekhyun terpaku, ketika Chanyeol memegang kedua pundaknya, dan menatapnya dalam. "Seumur hidup, aku tidak pernah mengakui kesalahanku, apalagi meminta untuk dimaafkan.."
"...Selain oleh ibuku. Ayahku. Dan kini olehmu Baekhyun..."
Mendapat ucapan manis serta tatapan intens dari Chanyeol, membuat wajah Baekhyun memanas dan merasa salah tingkah.
"Kau ini bicara apa?!" Ia hempaskan tangan Chanyeol dari pundaknya, lalu beralih pada buah-buahan di atas meja yang ada di sebelahnya. Menutupi kegugupan yang tiba-tiba mendatanginya. "Aku yakin kecelakaan itu membuat otakmu cidera Yeol" ucapnya sambil berpura-pura mengamati anggur yang akan ia makan. Masih belum berani membalas tatapan lelaki tinggi di sebelahnya.
Chanyeol berdecak malas, lalu mengambil anggur di genggaman lelaki itu. Membuat Baekhyun tekejut dan menyerukan protes kepadanya. "Hey! Apa yang-ahhmmph"
Teriakan Baekhyun tertahan ketika Chanyeol langsung memasukkan satu buah anggur ke dalam mulutnya. Baekhyun menatapnya kesal, namun tetap mengunyah dan menelan buahnya.
Niat Chanyeol untuk mengerjai lelaki itu, berakibat buruk untuk dirinya sendiri. Ketika jemarinya menyentuh bibir tipis Baekhyun, sesuatu mulai bangkit membakar dirinya, seolah mendorongnya untuk berbuat lebih lagi. Chanyeol menggelengkan kepalanya, untuk menetralisir pikiran kotornya.
"Dengarkan aku" tegas Chanyeol, dengan tangannya yang terangkat menyodorkan satu buah anggur lagi di depan mulut Baekhyun.
"Aku tidak peduli, jika orang lain membenciku. Ataupun ingin membunuhku" ucapnya lagi sambil menunggu hingga lelaki mungil itu melahap suapannya. Baekhyun terpaku, ketika ia sedang melahap buah yang disodorkan padanya, pria itu tidak menarik jemarinya kembali. Seolah membiarkan jemarinya ikut bergerak di dalam kehangatan mulut Baekhyun.
Pandangan Chanyeol menggelap, dan ia mulai berani membelai bibir bawah Baekhyun dengan ibu jarinya. Begitu lembut. Hingga membuat Baekhyun terbuai dan memejamkan matanya dengan mulut sedikit terbuka.
"Asal jangan dirimu...yang menjadi salah satunya" lirihnya pelan namun meyakinkan.
Perlahan, Baekhyun melepaskan jemari Chanyeol di bibirnya, dan kembali membuka kedua matanya.
"Apakah ini karena mobil itu? " Baekhyun menatap lurus ke arah Chanyeol. "Karena mobil yang hampir menabrakmu itu berasal dari kelompokku?" Tanya Baekhyun lagi. Chanyeol memang tak mengatakan apapun, tapi Baekhyun tahu pria itu mengiyakan pertanyaannya.
"Aku lebih suka memakai tanganku sendiri, ketimbang mengotori tangan orang lain Yeol" ucapnya penuh arti. Seolah menyiratkan bahwa bukan dirinya, yang menjadi dalang penyerangan ini.
"Aku berjanji, akan segera mengusutnya ketika aku pulih nanti" janjinya. Dan ia pun tersenyum, disaat Chanyeol mengangguk setuju. Baekhyun menghela nafas pelan, kemudian memajukan tubuhnya mendekati Chanyeol. Memberikan tatapan mendalam dan kesungguhan pada lelaki itu.
"Aku juga minta maaf..." Chanyeol memejamkan mata ketika tangan mungil Baekhyun membelai lembut pipi kirinya. "...telah membuatmu terluka di tempat yang sama untuk kedua kalinya"
Mendengar kalimat penuh arti yang diucapkan Baekhyun, kedua mata Chanyeol terbuka kembali. Ia menangkap tangan si mungil yang sedang menyentuh perban di pelipis kanannya.
"Apa maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu, seorang dokter mengatakan sesuatu kepadaku" Baekhyun tersenyum lebar dan menusuk pelan pipi Chanyeol. "Kau. Ternyata si bocah gendut itu. Yang hampir tertabrak mobil beberapa tahun lalu"
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Kau lupa?!" Baekhyun berdecak dan melototinya. "Hey aku yang menarikmu saat itu, dan bahkan aku sampai menangis melihatmu tak sadarkan diri!" Serunya berapi-api.
Chanyeol membeku. Fakta baru ini, semakin menggoyahkan apa yang ia percayai selama ini. Namun entah mengapa, ada sebuah perasaan lega yang menjalari nuraninya saat ini. Ia memandang lurus ke arah Baekhyun.
"Siapa dirimu sebenarnya?"
Baekhyun mengernyit keheranan. "Ha? A-ku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya.
Chanyeol mengangguk kecil. "Aku hanya samar-samar mengingatmu, tapi mengapa? Seolah-olah ada seutas tali kasat mata, yang selalu mengikatku padamu"
"Sejak dulu, sejak kita masih sekolah, kuliah, bahkan hingga saat ini."
"...siapakah dirimu di masa laluku Baekhyun?" Lirihnya sambil menundukkan kepala.
Untuk sesaat, Baekhyun hanya bisa terduduk kaku, tak mampu membalas satupun ucapan Chanyeol. Namun ia tersenyum manis setelahnya, dan mengangkat tangan kirinya untuk membelai surai hitam milik pria tinggi itu.
"Kau tahu? Sejujurnya akupun merasakan hal itu Yeol" tangan mungil Baekhyun beralih menuju pipinya, kemudian turun ke dagunya, dan sedikit menariknya agar lelaki itu membalas tatapannya.
"Dan itulah alasan...mengapa aku mau menyerahkan diriku seutuhnya malam itu padamu" ucapnya tegas, sambil menatap lekat lelaki itu. "Bukan untuk kekuasaan, maupun alasan lainnya Chanyeol" senyuman lebar nan manis mengakhiri ucapannya.
Mendengar pengakuan Baekhyun beserta senyuman manis dari lelaki itu, sukses menghangatkan hati Chanyeol saat ini. Jantungnya berdebar cepat, seakan ingin meledak akibat suatu perasaan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Greb!
Dan Chanyeol tidak sanggup lagi menahan desakan dalam dirinya. Ia bawa Baekhyun ke dalam pelukannya. Merasakan hangat tubuhnya, dan menghirup aroma menenangkan dari tubuh lelaki itu.
"Aaww!"
Chanyeol langsung melepaskan pelukannya, dan baru menyadari ia memeluk Baekhyun terlalu kuat, hingga menekan tangan kanannya yang sedang terkilir.
"Maafkan aku. Aku terlalu merindukanmu.." Ia tatap Baekhyun dengan pandangan menyesal. Hingga si mungil terkekeh melihat raut wajahnya.
"Aku...Aku juga merindukanmu Chanyeollie" ucapnya sangat pelan, kemudian menutup wajahnya dengan tangannya. Malu akan pengakuannya sendiri.
Chanyeol memandangnya tak percaya. Baekhyun yang selama ini begitu angkuh, menyebalkan dan bermulut pedas, ternyata bisa bersikap menggemaskan seperti ini. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, dan menarik lembut tangan Baekhyun yang menutupi wajahnya.
Mereka saling berpandangan setelahnya, memancarkan kerinduan dari sorotan mata masing-masing. Dan Baekhyun memejamkan matanya, ketika Chanyeol mulai memiringkan kepalanya.
Hingga akhirnya...
"Menjauhlah darinya!"
Chanyeol menarik wajahnya, kemudian segera menoleh ke belakang, dan mendapati Jongdae sedang menodongkan pistol tepat di kepalanya.
"Jangan bertindak gegabah Jongdae" Baekhyun memberi peringatan padanya.
Jongdae tak bergeming, bahkan kini menempelkan pistolnya di dahi lelaki itu. Jujur, Baekhyun mulai khawatir akan tindakannya. "Jangan sampai aku-"
"-orang ini pantas mati Baek. telah mengacaukan kelompokmu dan kehidupanmu Baekhyun" Tatapan Jongdae penuh kebencian.
"Biar aku yang mengurus kematian-Baek? Apa yang kau lakukan?!"
"Aku sudah memperingatimu sebelumnya"
Jongdae menganga tak percaya, melihat Baekhyun melakukan hal yang sama seperti dirinya. Menodongkan pistol tepat di kepalanya.
"Maafkan aku. Tapi tolong lepaskan dia Jongdae" pinta Baekhyun sedikit memohon. Jongdae masih menggeleng tak percaya, namun perlahan tangannya yang menggenggam pistol, mulai menurun.
"Angkat kembali pistolmu Jongdae!"
Satu orang lagi datang, dan membuat ketiga orang lainnya tercengang, terutama bagi Baekhyun dan Jongdae. Karena orang itu adalah Sehun, dengan tangan kanannya yang terangkat, mengarahkan pistol tepat menuju kepala Baekhyun.
"S..s..sehun?" Kali ini Baekhyun yang dibuat menganga tak percaya.
"Kalau kau saja bisa mengancam temanmu demi membela musuhmu, mengapa aku tidak?"
"Jaga emosimu Sehun!" Jongdae pun mulai waspada.
"Jangan khawatir Jongdae, hanya tembak saja dia dan semuanya akan kembali seperti semula"
"Ya. Tembak saja! Silahkan Jongdae!" Baekhyun menatap tajam Jongdae. "Tapi kupastikan kau dan aku akan menyusulnya sesaat setelah kau melesakkan peluru di kepalanya!"
Aura ketegangan menguar di antara mereka. Masing-masing masih terpaku pada posisinya. Tidak ingin gegabah melakukan sesuatu, yang nantinya mungkin akan berdampak buruk bagi mereka.
"Wah wah wah..apakah aku sedang menyaksikan sebuah drama disini?"
Keempat orang tadi serempak menoleh ke arah sumber suara. Tepatnya di depan pintu, dimana terdapat Kim Jongin yang sedang berdiri santai sambil bersender pada pintu ruangan.
"Pergilah Jongin. Ini bukan urusanmu" ucap Sehun dingin, kemudian kembali menoleh ke depan, mengawasi gerak gerik Baekhyun.
"Ah..sayang sekali" Jongin terkekeh kecil, dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Bagaimana kalau aku bergabung dalam drama ini?" Raut jenaka di wajahnya digantikan oleh keseriusan dan penuh ancaman. Baekhyun dan Jongdae yang memang sejak tadi masih memperhatikan Jongin, semakin dibuat terkejut melihat sesuatu yang baru saja dikeluarkan oleh pria itu.
Ekspresi terkejut dari kedua orang di depannya, membuat Sehun menoleh kembali ke belakang. Dan kini..raut wajahnya tak jauh berbeda dari yang lainnya. Membuat seringai kemenangan terukir di bibir Jongin.
"Sesungguhnya aku masih ingin bermain dengan kalian. Tapi sayang sekali waktuku tidak banyak" sesalnya dengan nada yang dibuat-dibuat. "Jadi..mungkin Jongdae bisa memulainya terlebih dahulu?"
Jongdae menatapnya datar, namun ia mengerti maksud dari perkataan Jongin. Perlahan-lahan, ia turunkan tangannya yang menggengam pistol, dan memasukkannya kembali dalam saku jaketnya.
Baekhyun pun ikut menyimpan kembali pistolnya, kemudian disusul oleh Sehun, yang dengan sangat terpaksa juga memasukkan kembali senjata miliknya di saku belakang celananya.
Untuk kedua kalinya Jongin tersenyum penuh kemenangan. Ia beralih menatap Chanyeol kemudian. Melambaikan tangannya sebagai isyarat agar lelaki itu mendatanginya.
"Ayo kita keluar Yeol"
.
.
.
"Cepat katakan apa maumu Jongin!"
"Hey! Aku baru saja menolongmu. Seperti inikah caramu berterima kasih?"
Chanyeol memutar matanya, kemudian berbalik ke belakang untuk meninggalkan tempat ini. Namun lelaki itu terlebih dulu menarik tangannya, ketika Chanyeol baru saja melewati dirinya.
"Perhatikan sekitarmu Chanyeol"
Chanyeol menarik kasar tangannya, melihat lelaki itu dengan tatapan penuh kebencian, lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar.
"Ini tentang Kyungsoo"
Dan hal ini sukses menghentikan langkah Chanyeol. Sesungguhnya ia tidak ingin berlama-lama berada di satu ruangan bersama lelaki yang dibencinya itu. Namun ia sendiri tidak mengerti, apa yang mendorongnya hingga kini ia telah berdiri di samping Jongin.
"Apa hah? Kau mau menyombongkan kisah ranjangmu lagi?" Chanyeol tersenyum miring dengan ekspresi meremehkan. "Ambil saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya."
Jongin menoleh cepat dan membelalak sempurna. Hanya sesaat saja, karena seulas senyuman tipis perlahan mengembang di bibirnya.
"Akhirnya kau mengerti Yeol" Chanyeol menngernyit heran mendapati Jongin yang terus tersenyum memandangnya. Melihat itu, Jongin tertawa kecil kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.
"Sejak dulu aku tidak pernah berniat untuk merebutnya Yeol" Jongin menghela nafas sejenak. "Percaya atau tidak, tapi...Kyungsoo lah yang terlebih dahulu mendatangiku, baik dulu maupun sekarang."
"Disamping itu benar atau tidak, kenyataannya kau tetap bermain di belakangku."
"Itu caraku untuk menunjukkan sifat aslinya padamu Yeol! Kau selalu menutup matamu!"
"Dengan mengkhianatiku?! Bercumbu mesra di depan kekasihnya. Kekasihnya yang sialnya adalah sahabatmu! ITU CARAMU HAH!"
Kedua sahabat lama ini saling bersitegang. Nafas keduanya memburu dan sama-sama memberikan tatapan tajam satu sama lain. Jongin yang lebih dulu mengalihkan pandangannya dan menghela nafas panjang.
"Kuakui aku memang tergoda padanya..." lirih Jongin begitu pelan. "Tapi aku bersumpah. Aku benar-benar ingin membuatmu sadar saat itu Yeol"
Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Helaan nafas panjang berhembus dari hidungnya. Ia hirup udara sebanyak-banyaknya, untuk meredam emosi yang sempat melingkupi dirinya.
"Entahlah. Aku sudah muak dalam mempercayai seseorang.."
Jongin menoleh kembali, dan memandang sahabatnya ini dengan tatapan iba. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya, kemudian menepuk pelan pundak sahabat lamanya. Chanyeol sendiri nampak tak keberatan, dan keduanya larut dalam keheningan sesaat.
"Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui tentang Kyungsoo" mulai Jongin memecah keheningan.
...
"Jadi dia adalah dalang dibalik pembunuhan Nyonya Byun dan Nyonya Park?" Tanya Jongin pada sang atasan, yang dibalas anggukan pasti oleh lelaki paruh baya itu.
"Tapi mengapa? Bukankah mereka berdua adalah sahabatnya?" Tanya Jongin lagi.
"Kemungkinan ada motif dendam pribadi di antara mereka. Entahlah." Sang atasan mengangkat kedua pundaknya. Tak yakin akan ucapannya. "Tapi..jika lelaki itu terbukti memiliki hubungan dengannya, maka.." sang atasan memandang lekat dirinya. Dan Jongin pun paham arti dari pandangan itu.
"Maka...Park Chanyeol dan Byun Baekhyun berada dalam bahaya saat ini!" Tebak Jongin dengan tepat. "Aku harus segera memperingati mereka!" Ia bergegas bangkit dari duduknya, dan setengah berlari menuju pintu keluar.
"Tunggu Jongin!" Jongin pun berhenti dan menoleh dengan raut penuh tanda tanya. "Kau tidak bisa mengatakan tanpa bukti. Mereka tidak akan percaya dan penyelidikan kita akan terbongkar"
Jongin menepuk kepalanya, menyadari bahwa ia hampir mengambil tindakan ceroboh. Sang atasan melangkah mendekati dirinya, menepuk pelan bahu lelaki itu.
"Hanya tinggal satu bukti lagi, dan kau bisa menyelamatkan sahabatmu.."
...
"Jongin? Hey? Apa yang akan kauberitahu?" Ucap Chanyeol sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Jongin.
Jongin pun tersentak, dan kembali dari lamunanya. Ia tertawa canggung, kemudian menatap lurus ke arah sahabatnya.
"Sebagai seseorang yang pernah menjadi sahabatmu, aku mohon satu hal padamu.." ucapnya serius.
"Jaga dirimu..dan selalu perhatikan orang-orang terdekatmu.."
.
.
.
Sudah genap 4 hari Baekhyun dirawat di rumah sakit. Dan sudah kesekian kalinya juga ia meyerukan protes pada dokter, agar diizinkan pulang ke rumah. Namun jawaban dokter selalu sama, yaitu tunggu sampai penyangga di lengan dan kakinya sudah dilepas.
Tidak adanya sesuatu yang menarik, ditambah Sehun dan Jongdae yang kompak sedang marah padanya, membuat Baekhyun hanya bisa berbaring malas di ranjang. Seperti saat ini, terhitung Baekhyun sudah tidur selama 4 jam lebih sejak siang. Samar-samar ia mulai membuka matanya dan...
"YAK!"
"Kau mau membunuhku hah?!"
Baekhyun berteriak marah sambil mengelus dada kirinya. Jantungnya serasa akan copot ketika pertama kali membuka matanya tadi, nampak wajah menyebalkan Chanyeol dalam jarak yang terlalu dekat.
Chanyeol hanya terkekeh kecil, dan tanpa ragu mendudukkan dirinya di sisi ranjang, bersebelahan dengan mafia mungil yang masih menatap tajam kearahnya. Sedangkan Baekhyun sendiri hanya bisa menghela nafas jika menghadapi Chanyeol.
"Kemana dua anjing penjagamu?"
Baekhyun mendelik dan mengumpat kecil kearahnya. "Mereka temanku. Keluargaku. Dan jika kau rindu pada mereka, kau bisa keluar sekarang" sungutnya tak terima.
Dengan satu alis menukik ke atas, Chanyeol mendekati wajah si mungil. "Jadi..kau rela menembak keluargamu demi melindungi diriku?" Bisiknya menggoda. Dan demi apapun Baekhyun ingin muntah melihat seringai nakal di sudut bibir lelaki itu.
Chanyeol tersenyum puas melihat Baekhyun diam tak berkutik. Masih dengan wajah yang saling berdekatan, Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dengan kedua tangannya.
"Aku senang...kau melakukan itu untukku." Ibu jarinya mulai bergerak mengusap pipi gembil Baekhyun, dan berakhir di belahan bibirnya. "..terima kasih.." bisik Chanyeol, sebelum ia memajukan wajahnya, untuk meraih bibir tipis yang sangat ia rindukan.
Baekhyun menutup matanya erat, menerima bibir Chanyeol yang bergerak di atas bibirnya sendiri. Baekhyun terbuai, karena lelaki itu memulainya dengan begitu lembut, perlahan, meresapi seluruh sudut bibirnya.
Dengan sangat hati-hati, Chanyeol membawa tubuh Baekhyun berbaring di bawahnya, tanpa melepas tautan bibir mereka berdua. Bibir mungil ini terlalu nikmat, hingga Chanyeol tak mampu menahan untuk menekan tengkuk Baekhyun, melumat belahan bibir atas dan bawahnya bergantian.
Permainan mulai meningkat, ketika lidah Chanyeol mulai terjulur dan Baekhyun sukarela membuka mulutnya. Lenguhan kecil samar-samar terdengar, disaat benda tak bertulang itu mengobrak-abrik mulut si mungil. Saling membelitkan lidah masing-masing, hingga air liur yang telah tercampur mengalir di sisi dagu Baekhyun.
Tangan kanan Chanyeol mulai merayap di balik baju Baekhyun. Merabanya lembut, merasakan tubuhnya yang begitu halus dan mulai memanas.
"Ngghhhh" Baekhyun melenguh kembali, saat tangan Chanyeol berhenti di pucuk dadanya. Chanyeol sendiri mulai menggila. Lenguhan halus Baekhyun yang membelai telinganya, usapan lembut di tengkuknya, serta bagian selatannya yang saling bergesekan, membuat desakan gairahnya semakin membuncah.
Satu persatu kancing piyama Baekhyun mulai dilucuti. Menampilkan perut ramping seputih susu yang membuat Chanyeol sekuat tenaga menahan dirinya, agar tidak kelepasan menyetubuhi lelaki itu terburu-buru.
Hanya tinggal satu kancing lagi yang akan Chanyeol lepas, sampai tangan Baekhyun tiba-tiba terulur untuk menahannya. Chanyeol mengangkat wajahnya, memandang penuh tanya pada lelaki itu.
"Kau masih ragu padaku?" Kekecewaan sedikit tersirat dari irama bicaranya.
Baekhyun menggeleng kuat.
"Lalu?"
"Emh..itu..aku..."
"Kau?" Chanyeol mengernyit melihat Baekhyun justru menggigiti bibirnya sendiri. Seolah ragu untuk mengucapkan sesuatu. "Baekhyun..." Chanyeol menarik pelan bibir bawah lelaki itu. "Ada apa hmm?" Tanyanya dengan tatapan hangat. Membuat Baekhyun semakin gugup dibuatnya.
"Aku..."
"Ya?"
"Aku..." Chanyeol masih menatap luruh ke dalam matanya. Menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya. Baekhyun berdecih kesal, menarik nafas panjang dan..
"AKU BELUM MANDI SELAMA 2 HARI YEOL!"
Baekhyun memekik heboh, lalu mengubur wajahnya dengan bantal. Sementara Chanyeol sendiri nampak sedikit terkejut, namun tersenyum kecil setelahnya. Pelan-pelan ia tarik bantal itu, menampilkan wajah Baekhyun yang masih memerah sempurna.
"Aku suka aromamu" bisiknya di depan bibir lelaki itu. "Selalu berhasil membangkitkan gairahku.." Chanyeol menyempatkan untuk mengecup lembut bibir tipis Baekhyun. Kilatan matanya menggelap, menujukkan gairah yang sudah membakar dirinya.
"Biar aku yang membantu membersihkan tubuhmu" ucap Chanyeol pelan, sebelum menyatukan kembali kedua bibir mereka. Sambil berpagutan panas, tangan Chanyeol perlahan merayap di ketiak dan kaki Baekhyun, hendak mengangkatnya dari ranjang.
"Wow wow wow pemandangan yang sungguh indah"
Chanyeol dan Baekhyun seketika melepaskan bibir masing-masing, dan serempak menoleh ke arah pintu. Keduanya sama-sama memutar mata begitu mengetahui sosok yang menggangu itu adalah Kim Jongin, yang kini sedang mendekat dengan senyum bodohnya.
"Mau apa kau kemari?" Cerca Chanyeol setelah mengembalikan Baekhyun di atas ranjang.
"Santai saja bung! Aku hanya ingin berbicara berdua dengan Baekhyun" ucapnya sambil merangkul Baekhyun dengan sebelah tangannya. Membuat Chanyeol melotot padanya, seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. "Apa? Kau tak terima? Memangnya dia kekasihmu hah?" Sungguh telak sekali untuk Chanyeol. Karena apa yang dikatakan Jongin itu sialnya sangat tepat.
"Hey hey aku hanya bercanda." Ucapnya sambil menyenggol bahu lelaki itu. "Aku janji, aku tidak akan pernah mengganggu kegiatan panas kalian lagi setelah ini" candanya.
Chanyeol mendengus, kemudian beralih menatap Baekhyun. Dan dengan tatapan memohon yang ditunjukkan Baekhyun, ia pun melenggang keluar, memberikan waktu bagi mereka berdua.
...
"Ada apa?" Tanya Baekhyun ketus.
"Kasar sekali. Kau juga kesal padaku karena yang tadi?"
"Aku memang selalu kesal setiap melihatmu!" sungutnya.
Jongin terkikik kecil, kemudian mengambil bangku kecil untuknya duduk, dan menempatkannya di sisi ranjang Baekhyun.
"Tidak bolehkah aku menjenguk mantan kekasihku?"
Baekhyun mendengus kemudian mencibir pelan. "Menggelikan! Apakah kau baru saja dicampakkan jalang kecilmu itu hah?!" Celanya. Ia sedikit waspada ketika Jongin bangkit dan mendekati wajahnya.
"Dan kau harus berhati-hati pada jalang kecil itu" bisiknya pelan, kemudian menjauhkan kembali wajahnya.
"Huh! Pria kecil itu hanya bisa bersembunyi dibalik tubuh lelaki lain. Mengapa aku harus takut padanya!"
"Aku serius Baekhyun.." Raut keseriusan tercetak di wajah Jongin. "Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Tapi berjanjilah untuk berhati-hati padanya."
Baekhyun dapat melihat dengan jelas, ketegasan serta kekhawatiran dari panacaran mata lelaki itu. Maka untuk kali ini, ia putuskan untuk patuh dan mengganggukkan kepalanya. Membuat senyuman lega, terulas di bibir Jongin.
"Minta Sehun dan Jongdae tingkatkan penjagaan, dan tetap jaga hubunganmu dengan Chanyeol"
Sekali lagi Baekhyun mengangguk patuh.
"Dan terakhir..." Pelan-pelan Jongin mengangkat tangannya, untuk menyentuh pipi mantan kekasihnya.
"...terima kasih karena telah hadir dalam kehidupanku..."
.
.
.
Dengan pikiran yang bercabang dan keadaan batinnya yang sedang memburuk, nyatanya Kyungsoo masih sanggup menyetir mobilnya sendiri sampai ke tempat ini. Sebuah rumah tua di perbatasan kota, yang sesungguhnya tidak ingin ia kunjungi saat ini. Namun ia harus, mengingat apa yang telah menimpa dirinya sebelumnya.
Satu pria paruh baya dan satu pria seumuran dirinya, adalah sosok yang ia lihat sesaat setelah ia melewati pintu masuk. Meskipun enggan, ia tetap melangkah maju dan duduk bersebrangan dengan si pria muda.
"Sepertinya ada yang gagal disini" sindir Kyungsoo.
"Akupun melihat ada yang baru dicampakkan disini" balas si pria muda.
"Ini semua karena lelaki itu!"
"Tentu saja. Baekhyun memang lebih menarik darimu."
Kyungsoo mendesis emosi. "Tunggu sampai aku meledakkan kepalanya di depan matamu" ancamnya.
Sedang si pria muda mengangkat kedua bahunya, dan memberikan tatapan mencela pada Kyungsoo. "Baiklah. Tapi lakukan setelah aku mengahabisi kekasihmu itu terlebih dahulu"
"Kau-"
"-Berhenti kalian berdua!" pekik si pria tua, bangkit dari duduknya. Habis kesabarannya melihat pertengkaran yang akhir-akhir ini sering terjadi antara kedua orang tersebut. Melihat keadaan mulai tenang, ia putuskan untuk duduk di posisinya semula.
"Melihat kalian yang sama-sama sedang dibodohi oleh perasaan semu itu, aku putuskan untuk menunda rencana awalku" Baik Kyungsoo dan pria yang lainnya, serempak tertegun akan keputusan lelaki itu.
"Jangan terlalu senang, karena aku sudah memikirkan cara lain" sindirnya telak. Membuat kedua pria yang telah lama ia besarkan, menundukkan kepala.
"Dan untuk sekarang.." seringai kejam nan menakutkan terbentuk di sudut bibirnya. "Ucapkan selamat tinggal pada seorang tamu yang sudah repot-repot mendatangi kita" ucapnya misterius.
.
.
.
Bagaikan mendapat undian berhadiah, yang dirasakan Jongin saat ini. Sebuah bukti penting baru saja ia dapatkan, setelah dengan beraninya ia mengikuti Kyungsoo beberapa hari ini. Meskipun setelahnya ia bergidik, karena mengetahui fakta mengejutkan dibalik pria itu.
Setelah mengunci pintu apartemennya, Jongin menghempaskan diri di sofa, sambil memencet nomor di handphonenya.
'Bos! Aku sudah kembali, dan aku sudah mendapatkannya bos!'
'Tenang saja, mereka sama sekali tidak menyadari kehadiranku'
'Ya aku akan kesana, segera setelah aku menunjukkannya pada Chanyeol dan Baekhyun. Mereka yang lebih berhak mengetahuinya'
'Hahaha hey mulai sekarang kalian harus memanggilku Detektif Kim!'
'Sial! Tunggu sampai-ah sudah dulu sepertinya mereka sudah datang!'
Jongin pun mematikan ponselnya, lalu beranjak menuju pintu untuk mempersilahkan tamunya masuk. Dengan wajah riang ia buka pintu apartemennya.
"Silahkan masuk Chan-kau?!" Jongin mengernyit mendapati sosok yang dikenalnya ini berdiri di depan pintu. Dan ia baru menyadari sesuatu ketika sosok Kyungsoo muncul di belakang lelaki itu.
Secepat kilat ia hendak menutup pintunya, namun lelaki tadi lebih cepat menahannya tetap terbuka. Dan tanpa berlama-lama lagi.
Jleb!
Jongin jatuh bersimpuh, dengan memegang pisau yang menancap di jantungnya. Di sisa-sisa kekuatannya, ia tarik baju sang pelaku.
"Kenapa...uhuuk!"
Darah dengan jumlah yang tidak sedikit mulai mengalir dari mulutnya.
"Kenapa kau mengkhianati Baekhyun.."
.
.
.
Hari ini adalah hari kedua setelah Baekhyun diizinkan keluar dari rumah sakit. Namun meskipun begitu, pergerakannya masih dibatasi, mengingat gips di tangan dan kakinya, baru saja dilepas.
Sejak pagi hingga siang tadi, ia disibukkan dengan berbagai masalah yang terjadi dalam kelompoknya, selama ia dirawat di rumah sakit. Maka itulah yang menyebabkan sore ini ia masih bergelung di atas tempat tidurnya. Kecupan-kecupan yang membasahi wajahnya, membuat Baekhyun terbangun dari tidurnya.
"Mongryong" gumamnya pelan. Masih enggan membuka matanya.
"Siapa itu Mongryong?"
Tanpa membuka matapun Baekhyun sudah mengetahui siapa lelaki yang sedang menciumi wajahnya ini.
"Lelaki yang kusayangi" jawabnya masih dengan mata terpejam.
"Oh begitu ya" ucap lelaki itu dingin. Baekhyun terkikik, kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki itu. Menahannya agar tetap dalam posisinya.
"Itu anjingku"
"Apa?"
"Mongryong itu anjingku Chanyeol" dan Baekhyun pun tak mampu lagi menahan tawanya. Membuat Chanyeol menatapnya kesal, dan mencoba bangkit dari tubuh Baekhyun. Namun lagi-lagi si mafia mungil ini menahannya, bahkan menarik wajahnya lebih dekat.
"Ada perlu apa kemari hmm?" Tanyanya sangat lembut. "Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana kau bisa masuk kedalam" ucapnya sambil memicing curiga.
Chanyeol tersenyum angkuh. "Bukan hal sulit bagiku" ucapnya penuh kesombongan. Yang memicu Baekhyun mencubit gemas hidungnya. Mereka berdua tertawa setelahnya, dan kemudian Chanyeol menarik lengan Baekhyun agar lelaki itu bangkit dari posisi berbaringnya.
"Ayo bangun. Jongin meminta kita berdua datang ke apartemennya sekarang."
"Untuk apa?" Tanya Baekhyun heran.
"Jongin bilang ingin menyampaikan sesuatu pada kita nanti" jelasnya sambil terus menarik tangan Baekhyun. Usahanya pun berhasil, Baekhyun bangkit dari posisi tidurnya, dan hendak melangkah turun dari ranjang.
Namun baru saja kakinya menapak, Baekhyun kembali ditarik, dan jatuh terduduk di pangkuan Chanyeol. Senyum menggoda terukir di bibir pria tinggi itu.
"Mungkin Jongin bisa menunggu" bisiknya penuh arti. Dan tanpa ragu ia mulai menarik baju Baekhyun, melepaskan dari tubuhnya.
Baekhyun terkejut akan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Chanyeol. Sekuat tenaga ia dorong kepala lelaki itu, sebelum menyentuh tubuhnya lebih jauh. Membuat yang lebih tinggi mengerang, dan menatanya dalam. Kilatan gairah nampak menyelimuti kedua matanya.
Baekhyun memilih untuk menundukkan kepalanya. "A..aku belum mandi lagi Yeol' cicitnya malu-malu. "Jadi kita lanjutkan nanti sa-CHANYEOLLL!" pekik Baekhyun heboh disaat Chanyeol tanpa basa basi mengangkat tubuhnya. Bahkan dalam gendongannya, Chanyeol masih sempat-sempatnya melucuti celana Baekhyun. Menjadikan lelaki itu telanjang seutuhnya.
Ia bawa Baekhyun langsung menuju kamar mandi, membanting pintu dengan kakinya. Dengan hati-hati, ia turunkan Baekhyun ke dalam bathtub, lalu segera membuka pakaian di tubuhnya sendiri.
Baekhyun meneguk ludahnya, dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain asal jangan tubuh kekar di depannya. Air yang merembes keluar dari bathtub, menandakan lelaki itu telah bergabung di dalamnya.
Baekhyun berusaha menghindar sejauh mungkin, sedikit bersyukur akan ukuran bathtubnya yang termasuk lebar.
"Baekhyun.." Chanyeol memanggil dengan suara rendahnya, dan Baekhyun semakin berdebar ketika tiba-tiba lelaki itu sudah di depannya.
"Jongin mungkin sudah menunggu kita. Jadi lebih baik..aannghhh" lenguhan menguar begitu saja dari mulutnya, ketika Chanyeol langsung menyerang dadanya.
Chanyeol menyeringai penuh kemenangan. Hasratnya membuatnya semakin gencar menjamah tubuh lelaki itu. Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, ia buka lebar kedua kaki Baekhyun yang telah menatapnya sayu.
Dan...
Desahan diiringi geraman rendah saling bersautan dari dalam kamar mandi.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 malam saat itu, dan Chanyeol bersama Baekhyun, baru sampai di gedung apartemen Jongin. Aktivitas mereka tadi membuat mereka terlambat dari janji temunya dengan Jongin.
Ketika mereka sampai di lobi, ponsel milik Baekhyun berbunyi. Ia berhenti sejenak untuk mengangkat teleponnya, kemudian memberi tatapan isyarat pada Chanyeol untuk pergi lebih dulu.
Chanyeol pun mengangguk paham, dan melenggang memasuki lift. Ia memencet nomor 8, dimana kamar apartemen Jongin berada di lantai tersebut. Lift pun terbuka beberapa menit kemudian. Dengan langkah ringan, ia keluar dari lift menuju apartemen nomor 88.
Ting Tong
Tak ada tanda-tanda pintu terbuka.
Ting Tong
Masih tak ada sautan dari dalam.
Ting Tong
"Jongin! Jongin!" Dan kini Chanyeol mulai curiga. Sekuat tenaga ia menggedor pintu apartemen, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada gerakan maupun suara dari dalam. Sebagai upaya terakhir, ia mencoba membuka pintu tersebut melalui engselnya.
Berhasil. Pintunya ternyata tak terkunci.
Chanyeol memaku ketika ia baru melangkah masuk. Kedua matanya melebar sempurna, melihat sosok Jongin yang tergeletak di atas lantai, bersimbah darah. Tanpa pikir panjang ia berlari menghampiri Jongin, lalu bersimpuh di samping pria itu.
"J...jongin.." seluruh tubuhnya bergetar. Dengan nafas yang sudah memendek, Jongin berusaha membuka matanya.
"..bu..nuh..ibu..mu" racaunya tak jelas. Chanyeol mendekatkan telinganya ke arah mulut Jongin agar dapat mendengar lebih jelas apa yang ia ucapkan..
"..Baek..hyun..."
Jongin terbatuk kencang setelahnya dan memuncratkan darah yang begitu banyak dari mulutnya. Di sisa nafas terakhir, ia tersenyum lembut dan menatap wajah Chanyeol.
"..k..kau..saha..bat..t..terbaik..untuk..ku."
Jongin pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Chanyeol masih terpaku dalam posisinya. Masih belum mempercayai apa yang terjadi di depannya. Ketika dirasakannya tak ada lagi suara detak jantung Jongin, saat itulah hatinya serasa dihujam oleh pisau.
"Jongin..bangunlah Jongin" ucapnya sambil mengguncang tubuh kaku Jongin.
"Bangunlah.."
"AKU BILANG BANGUN JONGIN! AKU BELUM MEMAAFKANMU!" pekiknya sambil menggoncang tubuh itu lebih kuat.
"SIAL!"
Setetes air mata mulai mengalir di pipinya. Ia bawa tubuh Jongin ke dalam pelukannya. Begitu erat. Sebelum ia benar-benar tidak bisa memeluk tubuh sahabat lamanya lagi untuk selamanya.
Benar adanya, bahwa penyesalan selalu datang di akhir. Hanya karena cinta, membuat mereka gelap mata dan memutuskan tali persahabatan. Ironisnya, sampai saat ini, diam-diam keduanya selalu mencari informasi mengenai kabar satu sama lain. Tak peduli seberapa jauh jarak memisahkan mereka.
Suara pintu yang terbuka, memecah suasana sendu di ruangan ini. Tanpa mengetahui yang sedang terjadi, Baekhyun melangkah masuk dengan cerianya.
"Mengapa berantakan seka-CHANYEOL AWAAASS!"
Jleb!
"Uhuukk!"
.
.
.
.
"Bertahanlah Baekhyun..kumohon" lirih Chanyeol, sambil setia menggengam tangan Baekhyun yang digiring di atas ranjang menuju ruang UGD. Baekhyun sendiri sudah tak sadarkan diri, dengan darah yang terus mengalir dari perutnya.
"Silahkan tunggu diluar Tuan" langkah Chanyeol dihentikan oleh beberapa perawat.
"Tidak! Aku ikut ke dalam"
"Tidak bisa Tuan. Anda harus menunggu diluar"
"AKU BILANG AKU IKUT KE DALAM" Chanyeol benar-benar murka sekarang. Hati dan pikirannya kacau saat ini. Ia baru saja kehilangan seseorang yang penting baginya, dan ia tidak mau hal itu menimpa dirinya kembali. Tidak untuk Baekhyun.
Chanyeol sudah akan memberontak masuk, sebelum sebuah tangan menahan tubuhnya. Itu adalah Leeteuk, yang menggeleng penuh arti padanya.
Meskipun berat hati, namun Chanyeol tetap menurutinya. Ia terduduk di atas lantai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis. Leeteuk menatapnya prihatin, dan tanpa ragu merengkuh lelaki itu dalam pelukannya. Membisikkan kata-kata penenang untuk dirinya.
Hingga satu jam kemudian yang terasa seperti bertahun-tahun, seorang dokter keluar dari ruangan tempat Baekhyun ditangani. Baik Chanyeol maupun Leeteuk merasa cemas melihat raut suram dari sang dokter.
"Adakah keluarganya disini?"
Leeteuk inisiatif bangkit dan mendekati dokter tersebut. "Kami walinya. Apakah terjadi sesuatu?"
"Pasien sedang membutuhkan transfusi darah, namun rumah sakit tidak memiliki stok darah yang sama saat ini. Bisakah kalian mencarinya?"
"Ya. Serahkan pada kami"
Chanyeol semakin melemah mendengarnya. Ia hanya bisa bersender di dinding dengan tatapan kosong. Tak peduli pada Leeteuk yang berjongkok di depannya.
"Hanya anda yang bisa menolongnya tuan.."
"A..apa maksudmu?"
Leeteuk tidak berucap sepatah katapun, melainkan hanya menatap lurus dirinya. Hingga sebuah ingatan samar, timbul di pikirannya.
"Chanyeollie..bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Tuan..."
"Chanyeollie harus berhati-hati sekarang"
"Baik di masa lalu maupun di masa kini..."
"Karena aku..sudah memberikan darahku untuk Chanyeollie"
"Baekhyun selalu ada untukmu..."
.
.
.
TBC
.
.
.
Well...
Just review okay?
.
.
P.s : kita bikin grup chat line yuk? Line ku baru install ulang jadi banyak grup yg keapus.
Lumayan buat ngerumpi bareng, baper bareng, rekomen ff dan saling kenalan yah hehehehe.
Kalo mau, bisa PC ke sini yaaa : myung61
