.

.

8. Kencan

.

.

Karin membuka pintu rumah kediaman Namikaze dengan sedikit mengantuk. "Haruno! Berhenti menggedor-gedor pintu rumah orang saat pagi buta seperti ini. Tidak bisakah kau bertamu dengan-"

Sakura langsung memotong perkataan Karin. "Dimana Naruto?"

Karin membetulkan kacamatanya sambil berbicara dengan nada ketus. "Masih tidur. Kenapa? Ada urusan apa?"

"Aku ingin bertemu dengannya." Sakura tahu setiap akhir pekan Naruto akan menginap di kediaman Namikaze, bukan di apartemen.

Karin mengangkat bahunya. "Dia masih tidur. Kau tunggu saja sampai dia bangun- HEY!" Karin sedikit terkejut karena Sakura langsung mendorongnya. Setelah mendorong Karin, kini Sakura berjalan memasuki ruang tamu kediaman Namikaze. "Apa-apaan kau ini Haruno?!"

"Cepat bangunkan Naruto. Ada hal yang ingin kukatakan padanya sebelum keberanianku lenyap." Kata Sakura dengan kantung mata tebal, wajah kusut, dan pakaian sedikit kumal. Terlihat betul jika Sakura tidak bisa tidur tadi malam.

"Tidak perlu, dia sudah bangun." Jawab Karin sambil menoleh ke arah Naruto yang berjalan menuruni tangga.

Naruto luar biasa terkejut saat melihat Sakura yang tengah berada di ruang tamunya. Setelah menghindari Naruto selama berhari-hari, kini Sakura datang dengan tiba-tiba. "Uh… Sakura? Ada apa? Jika ada sesuatu bukankah kau bisa menghubungi-"

Sakura langsung berteriak. "Naruto, maukah kau berkencan denganku?"

"….eh?" Sepasang mata biru Naruto membulat. Apa yang baru saja ia dengar ini?

Karin menutup mulutnya. Ia tidak menyangka Sakura bisa berubah menjadi sangat… agresif.

"YA atau TIDAK?" Kini wajah Sakura semakin berubah memerah. Semalaman ia telah memikirkan semua ini hingga ia tidak mampu tertidur.

Sakura… menyukai Naruto.

Benar-benar menyukainya…

Entah sejak kapan ia mulai menyukai Naruto.

"A-ah…?" Naruto masih belum mampu bersuara. Ini semua sangat mengejutkan!

"Aku sudah memikirkan tentang perasaanku padamu. Meski aku selalu membantahnya, aku tidak bisa menutupi fakta jika aku benar-benar menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu, bukan sebagai teman, tapi sebagai Naruto." Tangan Sakura gemetar karena gugup. Wajahnya kini merah menyala. "Naruto… aku benar-benar menyukaimu. Maukah kau berkencan denganku?"

Minato dan Kushina berusaha menguping pembicaraan Sakura dengan Naruto. Ini adalah detik-detik yang menegangkan di kediaman Namikaze. Masa depan rumah tangga Naruto dipertaruhkan disini!

"Cepat jawab iya." Bisik Kushina dengan gemas. Awas saja jika putra tunggalnya ini mengacaukan semuanya!

Naruto tersenyum lebar. "Tentu saja iya." Ekspresi bahagia menghiasi mata birunya.

Sakura menundukkan wajahnya. Setelah mengungkapkan semuanya ia merasa… lega. Ternyata jujur pada dirinya sendiri jauh lebih melegakan daripada terus hidup dalam penyangkalan.

Karin bertepuk tangan.

.

.

Sasuke enggan membuka matanya. Ia lebih memilih meraih Hinata yang masih terlelap dan memeluknya erat. Hinata menggeliat untuk sesaat kemudian kembali tertidur sambil membenamkan wajahnya di dada Sasuke. Hangat nafas Hinata menerpa kulitnya. Wangi rambut Hinata memenuhi indera penciumannya dan membuat Sasuke mengecup pucuk kepala Hinata dengan lembut.

Ia benar-benar mencintai wanita ini.

Ia tidak ingin kehilangannya.

Ia lalu membuka matanya perlahan. Hari sudah pagi, tirai kamar hotel mereka sukses menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menjadi pengganggu.

Sasuke lalu meletakkan ujung jarinya di leher Hinata untuk merasakan denyut nadinya, hal yang biasa ia lakukan setiap kali menatap Hinata yang tertidur pulas. Ia baik-baik saja.

Semua baik-baik saja…

Kan…?

Jarinya kini menyusuri leher dan pundak Hinata. Meneliti dengan detail tanda kemerahan di kulit putih yang ia ciptakan tadi malam.

"Mana mungkin kau sudi melirik perempuan biasa sepertiku." Hinata tersenyum sedih.

Jari-jari Sasuke membeku. Ketika ia melihat Hinata yang tersenyum sedih seperti itu hatinya terasa sakit. Tidak seharusnya Hinata bersedih. Istrinya ini harus selalu bahagia. Ia lebih menyukai Hinata dengan pipi merahnya tertawa riang.

Ia tahu Hinata tidaklah sempurna. Ia tahu jika Hinata memiliki banyak kekurangan. Meski begitu ia tidak pernah mempermasalahkan semua kekurangan itu. Orang-orang mengatakan jika Hinata tidak selevel dengannya. Hiashi pernah mengibaratkan Hinata seperti kentang yang bulat, sangat biasa, dan tidak memiliki keistimewaan. Kakashi pernah mengatakan jika Hinata mirip hamster yang lucu, imut, rapuh, dan memerlukan perlindungan. Naruto juga pernah mengatakan jika Hinata itu lebih licik dari yang terlihat. Sakura pernah mengatakan jika Hinata sangat berbakat untuk menjadi aktris.

Ia tidak mempedulikan apa komentar orang mengenai Hinata. Di matanya, Hinata adalah wanita tercantik di dunia ini. Senyuman dan sentuhan Hinata selalu mampu membuat hatinya tenang. Hinata tidak perlu cantik dan sempurna. Ia menyukai istrinya ini apa adanya.

Ia juga tahu Hinata tidak selemah yang terlihat. Istrinya ini adalah seorang drama queen sejati, mungkin ini efek samping akibat terlalu banyak menonton opera sabun dan drama TV. Hinata selalu meniru semua yang ia lihat di TV. Setiap kali Hinata meminta sesuatu padanya, istrinya ini akan mengeluarkan ekspresi I'm cute, love me! yang selalu membuatnya mengalah. Mata besarnya yang dilengkapi dengan bulu mata lentik adalah senjatanya yang mematikan, terlebih lagi ketika Hinata mengerjap-ngerjap dengan perlahan seakan minta disayang.

Hah… mungkin perkataan Hanabi memang benar. Ia telah menjadi seorang budak cinta.

Hinata adalah makhluk yang berbahaya. Dia benar-benar tidak bisa diprediksi. Dia bisa menyerang dimanapun dan kapanpun tanpa bisa diduga.

Sasuke lalu memejamkan mata sambil mendekap Hinata dengan erat.

Entah mengapa ia tidak mempermasalahkan itu semua

.

.

Naruto berjalan mondar-mandir di kediaman Namikaze dengan perasaan campur aduk. "Aku masih tidak percaya ini…. Sakura mengajakku berkencan besok dan aku menyetujuinya. Aku benar-benar tidak percaya ini… Apa yang harus kulakukan? Aku ingin agar kencan besok berjalan dengan sempurna. Uh, pakaian apa yang harus kukenakan besok? Haruskah aku memotong rambut?"

Kushina tersenyum riang sambil menyandarkan kepalanya di pundak Minato. "Ah senangnya~ sebentar lagi kita akan mendapatkan menantu. Kita harus cepat-cepat menentukan hari pernikahan Naru."

"Sayang, jangan terlalu terburu-buru." Kata Minato dengan sabar. Putranya saja belum melaksanakan kencan, masa iya langsung memilih hari pernikahan?!

Karin memutar bola matanya sambil menyaksikan drama keluarga Namikaze. "Jangan lupa membawa bunga."

Naruto menjentikkan jari. "Ah! Kau benar! Aku harus membawa bunga untuk Sakura besok!"

"Naru, bawakan bunga mawar untuk Sakura." Kushina menganggukkan kepalanya.

Naruto mengacak-acak rambutnya. "Argh! Aku benar-benar gugup. Bagaimana jika aku berbuat kesalahan yang tidak disengaja?!"

"Sakura akan membencimu." Karin tertawa jahat.

"Berhenti mengatakan hal-hal negatif!" Teriak Naruto sambil menutup telinganya. Saat ini yang ia butuhkan adalah kata-kata positif untuk menjadi penyemangatnya.

Kushina lalu menyenggol Karin sambil berbisik lirih. "Bagaimana jika kita memata-matai kencan Naru besok?"

"….boleh."

.

.

"Penyelidikan mengenai Matsuri bisa memakan waktu berhari-hari. Apakah kau akan tetap di Suna sampai penyelidikan selesai?" Tanya Kakashi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Aku akan pulang besok." Ujar Sasuke sambil meletakkan dokumen mengenai kantor cabang Uchiha yang ada di Suna. Semuanya baik-baik saja meski tidak ada peningkatan penjualan yang signifikan. Sejak awal ia memang tidak begitu berharap banyak pada perusahaannya di Suna ini.

"Aku akan langsung mengabarimu jika ada informasi baru." Kakashi lalu menggosok dagunya sambil berpikir serius. "Matsuri? Dia terlihat… biasa dan tidak mencurigakan."

"Lebih baik berjaga-jaga daripada meremehkan." Sasuke lalu memijit-mijit kepalanya yang sedikit pening. "Sebelum semua hal yang berkaitan dengan Obito menjadi jelas, aku tidak akan bisa tenang."

"Apakah Hinata tahu tentang… ini semua?"

"Tidak, aku tidak ingin ia menjadi terbebani."

Ponsel Sasuke bergetar. Ada pesan masuk. Dengan sigap Sasuke langsung menyambar ponselnya. Siapa tahu Hinata membutuhkan sesuatu.

AKU ADA KENCAN DENGAN SAKURA BESOK! –Naruto

Alis Sasuke berkedut. Sahabatnya ini pasti akan mengganggunya hingga besok.

Selamat –Sasuke

Haruskah Sasuke mematikan ponselnya? terkadang Naruto bisa berubah menjadi sangat menyebalkan.

Aku benar-benar gugup –Naruto

Apa yang harus kulakukan? –Naruto

Berapa tangkai bunga yang harus kubawa besok –Naruto

AKU TIDAK BISA TENANG! –Naruto

Teme, apa yang harus kulakukan? –Naruto

Teme, aku butuh bantuanmu –Naruto

KAPAN KAU KEMBALI? –Naruto

CEPATLAH KEMBALI KE KONOHA! –Naruto

Teme, aku butuh dukunganmu –Naruto

Bantu aku… -Naruto

Haruskah Sasuke mematikan ponselnya? Naruto tidak akan bisa tenang. Bisa dipastikan jika si dobe itu akan menerornya hingga besok.

Ponselnya berbunyi dan menampilkan panggilan masuk dari Naruto.

Yep, ia akan mematikan ponselnya sampai si dobe itu bisa menenangkan diri.

.

.

Ketika Sasuke memasuki kamar hotelnya, ia melihat Hinata yang tengah meringkuk di atas ranjang. "Mengapa kau hanya berdiam diri di kamar hotel? Dulu kau sangat antusias mengunjungi Suna, lalu mengapa kau tidak pergi berjalan-jalan? Kau bisa mengajak Gai."

Hinata berbalik dan menatap Sasuke. Wajahnya yang biasanya cerah merona kini sedikit pucat. "Sepertinya aku sedang sakit."

Sasuke melepaskan jasnya. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengenakan jaket tebal ketika berjalan-jalan di Suna saat malam? Kau sendiri yang keras kepala dan tidak menuruti saranku. Lihat akibatnya, kau masuk angin kan."

Hinata mencoba bangkit duduk meski kepalanya sedikit pusing. "Sepertinya aku kelelahan karena terlalu banyak berjalan-jalan." Hinata lalu memikirkan semua aktivitas yang telah ia lakukan selama berada di Suna beberapa hari ini. Ia sudah mencicipi hampir semua masakan Suna. Ia sudah membeli oleh-oleh untuk keluarga dan sahabatnya di Konoha dan berbagai pernak-pernik lucu. Ia sudah berjalan-jalan berkeliling Suna bersama Sasuke kemarin dan menghabiskan waktunya untuk berfoto-foto hingga memori ponselnya habis. Ia juga melihat pemandangan matahari terbenam di gurun pasir. Ia bahkan sudah menyimpan dua kantung besar yang berisi pasir Suna untuk menanam kaktus…

Yep, ia memang kelelahan.

"Perlu kupanggilkan dokter?" Tanya Sasuke sambil menghampiri Hinata dan meraba keningnya. Tidak panas, justru terasa sedikit dingin. Pipi dan bibirnya terlihat pucat.

"Tidak perlu. Aku hanya butuh tidur."

"Kau yakin?"

"Mm, ini hanya kelelahan biasa. Setelah tidur cukup, besok aku akan kembali sehat lagi." Ujar Hinata sambil kembali berbaring. "Ne Sasuke…"

"Hmm."

"….aku ingin makan es krim."

"….es krim?"

"Iya, es krim vanilla dengan taburan kacang panggang, chocochip, dan saus cokelat. Dan juga diberi tambahan biskuit serta wafer."

"….kau ingin semakin sakit huh?"

.

.

Hinata menggosok giginya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di mulutnya sehabis muntah. Sejak pagi ia menghabiskan waktunya di kamar mandi dengan berjongkok di depan toilet dan memuntahkan isi perutnya.

Ugh, ia sangat mual. Kepalanya juga pening. Sakit yang ia derita sepertinya semakin menjadi-jadi.

Suaminya sudah pergi sejak pagi buta untuk mengurusi semua pekerjaannya di Suna sebelum pulang ke Konoha hari ini. Ia tidak ingin memberitahu Sasuke karena tidak ingin menjadi beban. Sasuke sudah cukup stress menghadapi pekerjaannya di Suna, Hinata tidak ingin menambah bebannya.

Setelah keluar dari kamar mandi, Hinata melirik jam yang menunjukkan pukul 09.42. Ah, waktunya untuk bersiap-siap tidak banyak. Untung saja ia sudah mengemasi barang-barangnya tadi malam.

Ketika ia mengenakan sepatunya, Sasuke datang menemuinya. Terkadang Hinata merasa iri melihat penampilan Sasuke yang selalu terlihat keren dalam pakaian apapun yang dikenakannya. Dasar orang tampan.

"Kau sudah siap?"

"Mm." Hinata lalu merapikan rambutnya. "Sepertinya tidak ada yang tertinggal."

Sasuke mengerutkan keningnya. "Kenapa wajahmu semakin pucat? Mungkin seharusnya kita perlu ke dokter."

"Tidak perlu." Hinata menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menunda penerbangan.

"Bagaimana jika kau sakit di pesawat?"

"Ini hanya sakit ringan, kau tidak perlu khawatir."

Ia akan segera sembuh… kan?

.

.

"Hinata kenapa?" Tanya Kakashi sambil berjalan mendekati Sasuke yang tengah berjalan sambil sedikit memapah pundak Hinata ketika mereka sampai di bandara Konoha.

"Sakit."

"Haruskah kita mampir sebentar ke rumah sakit?" Kakashi terlihat khawatir.

Hinata menggeleng. "Aku benci rumah sakit."

"Jangan keras kepala!" Sasuke sedikit gusar dengan sikap Hinata yang selalu meremehkan hal-hal kecil.

Kakashi terlihat berpikir serius. "Mungkin Hinata tidak sedang sakit."

"….hah?"

"Mungkin dia sedang hamil."

"HAAAH?!"

.

.

Please review^^ komentar kalian sangat berharga bagi saya.

Saya hanya manusia biasa, saya akan sedih ketika mendapatkan flame dan saya akan senang ketika tulisan saya bisa diterima dan disukai.