Chapter 8 : Fuuinn V »» End of The Story?

.

.

.

Author : *ngos-ngosan* minna... hah..hah saya sudah menyelesaikan chapter terakhir, tolong di baca dengan santai... *tepar

Len : Dia kecapean

Rin : Iya dia kecapean,

Rui : *tiba-tiba nongol sambil baa toa colongan* Minna! Kashika-san sebenarnya punya pengumuman baru lho! Kashika-san punya cerita baru judulnya SM-

Rei : *Nongol mendadak sambil bungkem mulut Rui* SSSTT! Nanti Readers gak jadi penasaran

Rui : Oh iya! *teriak pake toa lagi* Minnaa! Rui gak jadi ngomong! Nanti Readers gak jadi penasaran!

Rin & Len : *sweatdrop* Happy Reading Minna-san


RIN POV


Jam 11.45 A.M tinggal 15 menit lagi penyegelan akan dimulai, tapi kenapa mereka tidak datang-datang!? Aku sudah menunggu mereka, tapi belum datang-datang! Kalian pasti heran kenapa aku kesal, itu karena Tou-san dan Kaa-san belum datang semenjak mereka keluar rumah untuk menjemput keluarga yang berkaitan dengan Megurine Luka. Katanya sebentar ternyata lama banget. Aku melihat Len terbaring di lantai kamar kami yang terdapat symbol bintang. Kami bermaksud menyegel atau memusnahkan atau menenangkan, AAAARRRRGGGHHH! Apalah itu! Oke, kami akan menyegel Megurine Luka dan dua orang lainnya yang namanya hanya diketahui Len. Dari kemarin Len belum sadar, padahal keadaannya sudah pulih. Apa karena tubuh Len tidak kuat untuk menjadi penyegel sementara untuk tiga orang. Tentu saja dia tidak akan kuat, tubuhnya kecil kayak gitu.

Jika saja Megurine…-san tidak meminta semua orang yang terlibat dengannya untuk menyegelnya, aku pasti akan menyegelnya sendirian. Aku ingin Len cepat-cepat kembali seperti semula. Dia memang kuat, pintar olahraga, karate sudah masuk sabuk hitam. Tapi bagaimana kalau dia menjadi wadah penyegel bagi para arwah balas dendam? Apa lagi tiga orang? Sudah pasti aura para arwah akan mengganggu keseimbangan dalam tubuhnya.

KLEK!

'Akhirnya datang juga mereka!' pikirku saat pintu kamar terbuka menampilkan Tou-san, Kaa-san, dan yang lainnya, aku menghela nafas. Dengan kekesalan yang menumpuk dari tadi, aku berdiri sambil berkacak pinggang. Tangan kananku menuding mereka, "OSOI! Apa kalian tidak tahu sekarang hampir jam 12!? HAH! Aku hampir saja menyegel tiga orang itu sendirian! Apa kalian tidak tahu Len dan tiga orang itu menderita dalam satu tubuh!?" bentakku. Mereka langsung bengong, cih! Bukannya ke posisi masing-masing, malah bengong, "Jadi…. Jangan bengong aja! Ambil posisi BAKA!" bentakku lagi. Ups! Sepertinya aku kelewatan.

Sepontan semua orang yang ada di depan pintu kamar langsung mengambil posisi dengan mengelilingi Len. Sekali lagi, aku menghela nafas. Mana mungkin, orang tua takut sama anak yang berumur 14 tahun? Dasar, setelah mengambil posisi, kami merapalkan mantra penyegelan. Beberapa detik kemudian, cahaya dari symbol bintang itu keluar. Menandakan kalau penyegelan sedang berlangsung, dengan ini tidak boleh ada orang yang keluar selama proses penyegelan berlangsung. Saat selesai merapalkan mantra segel, Luka dan dua orang lainnya keluar dari tubuh Len. Jadi ini tiga orang yang ada di tubuh Len. Megurine Luka, laki-laki yang mirip Gakuko tapi versi laki-laki, dan Luka versi laki-laki? Apa itu kembarannya? Entahlah, aku bisa tanya Len nanti. Aku melihat arwah Luka yang tersenyum bersama laki-laki yang mirip dengannya. Lalu aku melihat arwah laki-laki yang mirip Gakuko, dia diikat dengan tali yang…. Bercahaya? Tiba-tiba mulut laki-laki itu bergerak membentuk sebuah kalimat. Aku mengikuti gerakan mulutnya di pikiranku, gerakan mulut itu mengatakan…. 'Omaetachi kirai da!? ' aku terkejut, jadi ini yang membuat Len tidak kunjung sadar? 'Cepat segel kami! Sebelum dia kabur!' teriak Megurine….-san membuyarkan pikiranku.

Kami semua mengangguk, kami mengatakan kata terakhir saat proses penyegelannya hampir selesai, "Fuuinn!" ucap kami semua. Luka dan dua orang itu terhisap oleh guci yang kami siapkan di samping Len. Tou-san buru-buru menutup guci itu sebelum tiga arwah itu kembali keluar. Dan cahaya langsung memancar di guci itu, tiba-tiba angin yang kuat langsung menghempaskan kami dan menghancurkan seisi kamarku dan Len. Lihat, sudah kubilang kamar ini akan butuh renovasi dari efek penyegelan ini. Sekarang kamarku hancur berantakan, untung ranjang kami tidak hancur, aku sempat memberi mantra pelindung. , "Ternyata penyegelan butuh tenaga yang banyak," ucap Akaiko-san, ibu Akaito-sensei dan Kaiko. "Baru pertama kali ini aku melihat tiga arwah disegel di guci yang sama," ucapku.

"Memangnya kau pernah menyegel?" tanya Mikuo dengan nada sedikit ketus, itu adalah nada yang paling tidak aku sukai. Aku langsung tersenyum merendahkan Mikuo,"Aku sudah berkali-kali menyegel arwah yang ingin balas dendam di sakolahku yang sebelumnya bersama Len," jawabku. Mikuo langsung diam, "Aku yakin, ini pertama kalinya kau menyegel arwah," sindirku ke Mikuo, dia langsung menggerutu gak jelas. Aku bersikap gak peduli padanya, dari pada duduk diam saja, lebih baik aku memindahkan Len di ranjangnya. Mungkin dia akan sadar 2 atau 3 hari lagi. Efek dari penyegelan memang mengerikan. "Jadi, gimana dengan kamar kami yang berantakan ini Tou-san, Kaa-san?" tanyaku. "Tentu saja kita akan merenovasinya, setidaknya kalian bisa tidur di ranjang kalian yang tidak hancur itu," jawab Kaa-san danTou-san.

Setelah selesai memindahkan Len, aku bermaksud untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk semuanya. Tiba-tiba, bajuku di tahan oleh tangan Len, sepertinya dia ingin aku di sampingnya, sifat manjanya mulai keluar. Haah…. Mau gimana lagi? "Hei Rin-san kami mau pulang. Sebelum itu…. Kami ingin mengatakan terima kasih padamu dan Len-san. Tanpa kalian, mungkin kami sudah mati," kata Rei-san yang entah sejak kapan ada di depanku. "Eh? Langsung pulang? Kalian tidak makan dulu? Penyegelan tadi 'kan menguras tenaga," ucapku. "Sore wa…. Kami sudah makan dan minum. Lily-san dan Leon-san menyiapkannya tadi di meja setelah proses penyegelan telah selesai," jawab Rui-san. Aku hanya ber-o-ria, "Kalian akan ke sekolah 'kan? Besok?" tanya Kaiko-san. Aku berpikir sejenak, "Mungkin, 2 atau 3 hari aku dan Len akan masuk sekolah, aku harus menemaninya, kalau tidak…. Mungkin dia akan ngambek," jawabku.

"Ini sudah berakhir 'kan? Kita tidak akan di ganggu sama hantu lagi 'kan?" tanya Mikuo tiba-tiba. Aku menyeringai, "Kau takut ya? Jika kau tidak mengganggu hantu mereka juga tidak akan mengganggumu," jawabku sambil menggodanya. "Hei aku ini serius tahu!" kata Mikuo kesal. Aku tertawa, "Sudah berakhir kok! Di sekolah kita, hantu yang aku dan Len lihat hanya Megurine Luka itu saja," jawabku dengan serius. "Hmm…. Rin-san, minna-san, kami minta maaf tentang kelakuan Gakupo-jii-san," kata Gakuko-san mewakili keluarga Kamui. "Sore wa…. Tidak usah dipikirkan, yang salah 'kan Gakupo-san ," ucapku membuat keluarga Kamui terkejut, lalu tersenyum. "Arigato Gozaimasu," kata keluarga Kamui. Semuanya langsung menghela nafas, apa orang tua mereka juga mendengar percakapan kami juga? Kok pada menghela nafas lega? Lupakan itu. Akhirnya keluarga Hatsune, Shion, Kamui, dan Kagene pulang ke rumah masing-masing. Aku melihat Len, dia tetap memegang bajuku, kalau begini caranya bagaimana bisa aku tidur?


NORMAL POV

Satu Tahun kemudian….

[SMP SAKURA 07.30 A.M]


Sudah satu tahun Len dan Rin sekolah di SMP Sakura tanpa ada masalah dengan dunia ghaib. Len dan Rin berteman dengan hantu yang baru-baru ini tinggal di SMP Sakura. Seperti kata Leon, tahun kemarin adalah tahun terakhir untuk pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi Leon dan Lily sering keluar kota karena pekerjaan mereka. Jadi, Len dan Rin dititipkan ke keluarga Kagene yang merupakan kerabat jauh. Mereka merasa senang karena tidak harus pindah tahun ini, mereka bisa lulus di SMP Sakura yang mulai mereka sukai.

Dengan hati berbunga-bunga, Rin dan Len memasuki kelas baru mereka dengan tingkatan yang lebih tinggi, 3-3 itu kelas baru mereka. Saat menggeser pintu kelas, mereka melihat wajah teman baru mereka dan teman mereka saat kelas 2 dulu. Dengan ekspresi senang, mereka menyapa teman baru maupun teman lama. "Minna ohayou!" sapa Rin bersemangat. "Ohayou…," Len ikut menyapa. Semua yang di kelas pun membalas sapaan mereka. "Ohayou Rin, Len!" mereka jadi terkenal karena menyelamatkan siswa-siswi dan guru yang hilang itu, walau mereka harus menutup mulut rapat-rapat tentang Wizard Ghost.

"Tidak jadi pindah nih…," sindir Kaiko dengan maksud bercanda. "Tentu saja tidak, Tou-san, sudah berjanji," balas Rin. "Yokatta…. Aku pernah berpikir, mungkin tidak akan seru jika Rin dan Len pindah," kata Rui. "Memangnya apa yang membuat kita seru?" tanya Len datar. "Kalian itu sebenarnya easy going, cerewet kalau sudah dekat dengan teman, terus suka melucu," Rei menjawab pertanyaan Len. "Setidaknya ubahlah sikap kalian yang pendiam itu!" komentar Mikuo dengan nada perintah. "Bukan urusan lo, Hatsune," kata Rin dan Len bersamaan dengan suara datar ditambah penekanan di setiap katanya. Mikuo langsung kicep, 'Dua orang ini mood-nya gampang berubah,' pikirnya. "Makanya Mikuo, jangan coba-coba ngasih perintah ke Rin sama Len. Kalau lo di gebukin baru rasa lo," kata Gakuko membuat seisi kelas tertawa.

SREK! GRADAK! BRAK!

Suara tadi berasal dari Akaito-sensei. Karena membuka pintu terlalu kencang, pintu itu langsung lepas dari engselnya. "Ups…. Sensei terlalu kencang, lupakan itu. Semuanya duduk di tempatnya masing-masing!" kata Akaito-sensei. Semua murid pun langsung duduk di tempatnya. "Berdiri!" kata Mikuo yang menjabat ketua kelas untuk sementara. "Beri salam!" kata Mikuo lagi. "Ohayou gozaimasu, sensei! " kata semua murid. "Ohayou, kalian boleh duduk," balas Akaito-sensei. Semua murid langsung duduk, "Tahun ini aku akan menjadi wali kelas kalian, Namaku Shion Akaito, panggil saja Akaito-sensei ," kata Akaito.

"Sebelum kita memulai pelajaran, ada yang mau ditanyakan?" tanya Akaito-sensei . Rin dan Len mengangkat tangannya bersamaan. "Kalian berdua, apa yang ingin ditanyakan? Aku yakin pertanyaan kalian sama,". "Bagaimana dengan pintu yang sensei rusak? Petugas sekolah pasti akan marah," tanya Rin dan Len bersamaan. Akaito-sensei berpikir sejenak, ini bukan pertama kalinya dia merusak pintu. Dalam sekejap suasana kelas langsung hening, ucapan Rin dan Len memang ada benarnya. Buktinya, petugas sekolah yang sedang lewat langsung berhenti di kelas Akaito-sensei. Itu cukup membuat Akaito-sensei merinding, "Akaito-sensei…. Ini sudah kesepuluh kalinya kau merusak pintu. Kau harus merasakan akibatnya!" kata petugas sekolah bernama Sakine Meiko. 'Gawatgawatgawat! Si killer datang! Mati gue!' pikir Akaito-sensei. Tanpa basa-basi Akaito-sensei di seret oleh Meiko ke luar kelas.

Dan yang para murid dengar adalah jeritan wali kelas mereka. Mereka pun mendapat pelajaran baru tentang petugas sekolah yang di beri julukan Si killer itu : jangan membuat petugas sekolah marah kalau tidak ingin di hukum seperti wali kelas mereka. Rin dan Len menghela nafas, "Sudah berakhir ya?" tanya Rin kepada Len. Len mengangguk, "Dengan begini gak ada yang mengganggu kita bukan? Sekolah aman dari gangguan hantu pembalas dendam," jawab Len.

'Aku tidak akan memaafkannya! Aku akan membunuhnya! Kuhancurkan mereka sampai tidak ada yang tersisa!' Rin dan Len terkejut dengan apa yang mereka dengar tadi. "L-Len jangan bilang…," kata Rin tidak melanjutkan ucapannya. Len mengangguk, "Aku rasa…. Kita harus menenangkan hantu lagi…. Kenapa di sekolah ini banyak hantu yang balas dendam sih!" kata Len. Rui, Rei, Kaiko, Gakuko, dan Mikuo yang mendengarkan ucapan Len terkejut. "L-Len ada apa?" tanya Kaiko. "Dengarkan baik-baik, aku tahu kekuatan spiritual kalian baru muncul. Walau kekuatan itu baru muncul, apa kalian bisa membantu kami sekali lagi?" jawab Len.

"Memangnya ada apa?" tanya Mikuo mulai merasakan firasat buruk. "Kita harus menenangkan hantu lagi sebelum seseorang yang ada di sekolah ini celaka," jawab Rin. "Oh tidak…. Kita harus memburu hantu lagi!" gerutu Rei. "Bagaimana lagi? Cuma kita yang bisa menghentikan hantu itu," kata Rui. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo cepat kita selesaikan ini!" kata Gakuko yang sudah ada di luar kelas. Rin, Len, Rui, Rei, Kaiko, dan Mikuo mengangguk. Mereka pun mencari hantu pembalas dendan itu. Kira-kira, apa mereka bisa menenangkannya seperti Wizard Ghost ?

.

.

.

-OWARI-


Luka : gimana ? Suka? pada akhirnya gue ikutan di segel sama si banci terong

Gakupo : Luka-sama seharusnya jangan bilang gitu~~ coba saja kalau hanya kita berdua yang di segel~~

Luki : *Menyebarkan aura dark* Jangan pernah menggoda Aneeki banci terong!

Gakupo : *ngacir* LUKA-SAMA NO AISHITERU DESUUU!

Luki : GAKUPOOO! ngejar Gakupo sambil ngelemparin tuna raksasa*

Luka, Rin, & Len : *sweatdrop* Err... REVIEW PLEASE minna-san!