Title : Preferential Concubine

Author : Jenny Kim

Disclaimer : YeWook saling memiliki!

Warnings : Typo(s), OOC, Yaoi, Male Pregnancy, fantasy berlebihan XD

.

.

.

.

.

Preferential Concubine, Chapter 7

.

.

.

.

.

Kibum menahan napasnya begitu penutup seluruh hidangan dibuka. Biar bagaimanapun, bangsa vampire tentunya tidak mengkonsumsi makanan yang biasa dikonsumsi untuk manusia –hanya memakannya saat menyamar sebagai manusia–. Meski sudah berkali-kali melihat darah, mencium dan mengolah darah demi kelangsungan hidup putranya, Kibum tentunya hanya menyediakan darah secukupnya. Berbeda dengan sekarang, Kibum harus melihat bergelas-gelas cairan kental itu, tak jarang pula yang dituangkan kedalam mangkuk bercampur daging mentah juga bola mata. Tak ingin membayangkan jika daging dan bola mata itu adalah patologis dari manusia.

Kibum mencengkeram erat lengan baju Siwon. Ia menunduk dalam dan menyembunyikan wajahnya yang membiru –karena menahan napas– di lengan Siwon. Siwon yang berniat mengambil segelas darah pun mengurungkan niatnya dan menatap Kibum. Namja bermata hijau kristal itu mengusap rambut Kibum dengan ekspresi bingung.

"Sesuatu membuatmu tak nyaman, Bummie?" Tanya Siwon menerka-nerka.

Heechul yang duduk tepat dihadapan Siwon pun tersentak kaget ketika mendengar panggilan Siwon pada Kibum yang begitu penuh kasih. Ia meremas dada kirinya yang tiba-tiba terasa sesak. Sakit… Sangat sakit, namun sudah tak ada lagi Siwon yang akan menenangkannya kala ia kesakitan. Karena kini Siwon tak hanya untuknya dan Cherry, Siwon juga milik Kibum dan Minho. Membayangkan rumah tangganya di masa depan pun ia tak berani. Cinta ataupun tidak, tak ada 'istri' yang mau mendapat madu. Inang hanya akan membuat taraf cinta suamimu semakin berkurang.

"Hidangannya membuat perutku mual," lirih Kibum.

Heechul sungguh tak kuat sekarang. Ia bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah menerima kenyataan yang menyakitkan. Pangeran sulung itu meletakkan gelas kaca berisi darah –yang berasal dari kolam darah dan baru sekali diteguknya– dengan emosi kemudian melangkah pergi.

Yesung hanya tersenyum meremehkan di kursi kebesarannya sambil menggoyang-goyangkan gelas kacanya.

Siwon menoleh pada pemuda cantik yang begitu dicintainya sepenuh hati saat pemuda itu menjauh dari meja makan. Ayah biologis dari Minho itu segera menurunkan Minho dari pangkuannya dan beranjak bangun. Kibum menarik lengannya saat Siwon akan pergi mengejar Heechul.

"Hyung, jangan tinggalkan aku!" pinta Kibum mengiba.

Dilema. Itulah yang Siwon rasakan saat ini. Hatinya terus menyuarakan untuk segera menemui Heechul namun logikanya meminta untuk tetap tinggal. Yesung berdecak kecil dan memberikan gelas kacanya pada Henry –yang langsung diteguk habis oleh anak semata wayangnya itu–.

"Heechul bukan orang yang berhati-hati saat sedang emosi, Siwon. Kau akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga jika ia sampai melakukan kecerobohan sekarang," ucap Yesung.

Siwon mengerutkan keningnya. Sejauh yang ia tahu, Yesung bukanlah tipe pembohong. Dia lebih menjurus ke tipe orang yang tertutup namun dapat mengetahui privasi orang. Namja bertubuh kekar itu pun segera melepaskan tangan Kibum.

"Cherry, mau membantu appa?" Tanya Siwon lembut pada putri kecilnya.

Cherry yang tengah mengunyah makanannya dengan bibir belepotan darah pun mengangguk semangat. "Apapun untukmu, appa!" jawabnya menggombal. Kangin yang memangkunya pun hanya dapat terkekeh geli, begitu pula vampire-vampire yang lainnya.

Siwon mengambil selembar tisu dan membersihkan sebagian bibir Cherry yang belepotan. "Bersihkan wajahmu. Kemudian, ajak Minho dan Ibu Kibum untuk berjalan-jalan. Arra?" Tanya Siwon. Kibum membulatkan matanya.

Cherry mengangguk semangat. Ia merebut tisu yang Siwon bawa dan mengusap pinggiran mulutnya sendiri. "Allaceo! Ayo Minho dan… Kenapa Chelli halus memanggilnya 'Ibu'?" Jari telunjuk Cherry tepat mengacung di depan dada Kibum.

Siwon tersenyum gugup. "Dia ibu Cherry juga mulai sekarang, sama seperti Heechul umma."

Cherry tak berminat untuk bertanya lagi. Yang ia tangkap oleh pikirannya yang masih bocah hanyalah, seorang anak bisa memiliki banyak ibu, namun ayahnya hanya satu. Gadis cilik itu pun segera turun dari pangkuan pamannya dan menghampiri Kibum setelah mencium pipi Kangin serta Siwon. Sepertinya ia masih bête pada Yesung jadi tidak mengecup pipinya sebagai tanda berpamitan.

"Ibu, mali pelgi dengan Chelli!" Cherry tersenyum tulus dan mengulurkan tangan mungilnya pada Kibum. Kibum sontak tersenyum kikuk. Tak pernah mengira akan mendapat perlakuan yang manis dari bocah yang ia kira akan membenci dirinya dan Minho.

Kibum pun segera mendekap Minho kedalam gendongannya dan menyambut uluran tangan Cherry. Mereka berjalan menjauh dari ruang makan layaknya keluarga yang bahagia. Siwon telah pergi sejak Cherry mengecup pipinya. Yesung lagi-lagi berdecak sebal.

"Ya, ya, ya… Keluarga bahagia," ucapnya sinis.

"Umma, kenapa tidak minum?" Suara imut Henry memecah keheningan. Yesung menoleh pada Ryeowook yang sedang mencubit gemas pipi mochi putranya. Banyak tamu yang tercengang saat mendengar Henry, Sang pangeran pendamping, memanggil selir baru Sang Raja Vampire dengan sebutan 'umma' padahal bocah kecil itu tak pernah mau memanggil Ratu Min ataupun Selir Putih dengan sebutan serupa. Bocah yang suka memilih-milih.

"Umma tidak minum itu, sayang. Umma_"

"Lalu kau minum apa? Segelas jus?" sela Yesung. Penguasa vampire itu menjentikkan jarinya dan pelayan pun datang dengan segelas jus strawberry di nampan yang ia bawa. Yesung mengambil jus strawberry dan segelas darah yang berasal dari kolam darah –dimeja makan ada dua jenis darah, darah manusia untuk para vampire bangsawan dan darah dari kolam darah untuk raja dan pangeran– lalu meletakkan keduanya di depan meja Ryeowook.

"Teguk kedua minuman ini dan beritahu aku bagaimana rasanya!" ucap Yesung memerintah.

Ryeowook menoleh pada Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca seolah ingin meminta bantuan Kyuhyun. Kyuhyun baru akan angkat bicara jika saja Yesung tidak kembali menyela. "Jangan membantunya, Kyuhyun!" tukas Yesung.

Kyuhyun hanya dapat menunduk dan menggeram menahan amarah. Ia menggenggam erat tangan Ryeowook untuk menenangkannya kamudian melepaskannya sebelum Yesung melihat.

Ryeowook dengan ragu mengambil gelas berisi jus strawberry di depannya kemudian meneguknya perlahan. Alisnya bertaut saat minuman manis itu menyentuh lidahnya dan masuk ke kerongkongannya. Ia meletakkan gelas jusnya lagi dengan wajah yang masih mengernyit bingung.

"Apa yang kau rasakan, sayang?" Tanya Yesung, menyeringai.

"Rasanya… Rasanya hambar, lidahku mati rasa!" ucapnya panik. Ya, sejak Yesung menyetubuhinya, Ryeowook tak bisa lagi merasakan sesuatu dengan indra pengecapnya. Semua terasa sama, hambar.

Yesung tertawa kecil. "Coba darahnya!" ucapnya.

Kangin menggebrak meja dengan tangan kanannya. Tak peduli pada tatapan orang-orang yang beralih padanya. "Kau tidak mungkin memberinya darah dari kolam darah! Darah itu hanya untuk Raja dan Pangeran!" desis penasehat itu.

"Di dalam perutnya ada putra mahkota. Jadi, aku mengijinkannya meminum darah dari kolam darah. Akulah yang menjadi Raja, jadi aku berhak menentukan semuanya!" Yesung melipat tangannya di depan dada dengan tampang angkuh.

Kangin mendengus sebal. "Sialnya nasibku, memiliki raja yang congkak sepertimu!" desisnya tajam.

"Jika aku menjadi arif dan budiman, aku tak akan menjadi Raja Vampire, aku akan menjadi Tuhan, Kangin." Semua vampire tertawa lebar mendengar ucapan Yesung.

Kangin mendecih. Ia melanjutkan makannya tanpa peduli lagi pada apa yang akan dilakukan salah satu kakaknya itu.

"Cepat minum, Wookie-ah!" Yesung berucap lembut pada Ryeowook.

Dengan tangan gemetar, Ryeowook mengambil gelas kaca beisi darah merah pekat itu dan menempelkannya di bibirnya. Matanya terpejam begitu cairan itu masuk ke dalam mulutnya. Rasanya sangat manis, terasa sedikit panas saat menuruni kerongkongannya namun begitu nyaman setelah benar-benar masuk ke lambungnya. Tanpa sadar, namja manis itu meneguk habis darah dalam gelas kacanya.

Yesung mengacak rambut Ryeowook dan membuat si empunya membuka matanya. "Rasanya?" Tanya Yesung.

Ryeowook menundukkan kepalanya dengan tatapan bingung. "Ma… manis."

'Kau ribuan kali lebih manis, Wookie!' batin Yesung. Ia tersenyum kecil. "Saat kau mengandung anak seorang 'peneguk darah suci' sepertiku, semua yang kau telan akan terasa hambar. Kecuali darah." Yesung menjelaskannya dengan kalimat yang cukup sederhana agar Ryeowook mengerti.

~YeWookLupeLupePolepelBarengJ ennyKimCoCuiitDahPokoknya!~

Heechul termenung di depan wastafel di dalam kamar mandinya –yang berada di dalam kamarnya–. Namja berparas elok dan menawan itu memandang kosong ke arah cermin yang basah oleh butiran air. Tangan kanannya dengan lembut mengusap perutnya.

Seseorang masuk ke dalam kamar mandi tanpa disadarinya. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Heechul dan menempelkan dahinya di tengkuk pemuda cantik itu. Sontak kesadaran Heechul kembali. Ia menatap siluet tubuh Siwon dari balik kaca.

"Maafkan aku. Aku menyakitimu," lirih pemuda berlesung pipit itu.

Heechul tersenyum pedih. "Tak apa." Pangeran sulung itu menunduk. Menggenggam kedua tangan Siwon yang melingkar di perutnya. "Kau… Sekarang kau sudah memiliki selir, chukhae.." Heechul memaksakan sebuah senyum dibibirnya.

Siwon mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku… Aku… Aku tidak tahu harus berbuat apa. Terlalu banyak rasa sakit yang kutorehkan pada Kibum. Aku tak pernah tahu jika dia mengandung darah dagingku. Melewati semua penderitaannya sendiri. Aku… Tanpa sadar aku selalu membuatnya memendam luka. Aku_"

Heechul membungkam bibir Siwon dengan bibirnya sendiri setelah sebelumnya berbalik. Sudah cukup, ia tak ingin mendengarnya lagi. Pemuda bermata black pearl itu memejamkan matanya, menarik tengkuk Siwon lebih dekat. Mengirimkan segala luka yang menderu dalam aliran darahnya. Siwon hanya bisa tersenyum pahit dalam ciumannya. Mengusap pinggang Heechul dengan lembut.

Heechul melepaskan tautan bibir mereka setelah cukup lama. Entah sejak kapan airmata yang disembunyikannya telah berani menampakkan rupanya. Pemuda berdarah vampire murni itu mengusap pipi Siwon. "Taukah kau? Aku pun terluka," ucap Heechul pedih.

Siwon menggigit bibirnya. "Maaf… Maafkan aku, Heenim hyung."

Heechul menggeleng pelan. "Seribu kalipun kau menyakitiku, aku tak akan peduli. Asal kau tetap disampingku, Siwon. Kau memiliki sejuta inang pun aku tak akan keberatan, asal kau tetap disisiku. Aku bergantung padamu, Choi Siwon. Karena aku… Mencintaimu." Heechul menyungingkan sebuah senyum yang sempurna.

Siwon tercekat. "Kau… Mencintaiku?"

Heechul menggangguk mantap. "Cinderella sangat mencintai Simba. Simba akan selalu menjaga Cinderella hyung-mu ini 'kan?"

Siwon menarik tubuh kecil Heechul kedalam dekapan hangatnya. Memeluknya begitu erat layaknya bocah perempuan yang mendapatkan hadiah boneka cantik dari ibunya. "Tentu… Simba akan menjaga Cinderella hyung. Karena Simba hanya mencintai Cinderella. Walau ada Jasmine, Ariel, Pocahontas, Sleeping Beauty, Aurora, Belle ataupun Snow White sekalipun, cinta Simba seutuhnya hanya milik Cinderella!"

Heechul tertawa pelan mendengar penuturan Siwon. "Kau berbakat menjadi pendongeng di Disney Princesses sana!"

Siwon memeluk Heechul semakin erat. Tak peduli jika mungkin hal itu bisa meremukkan tulang Heechul. "Jika disana ada kau, aku bersedia ada di sana!" jawabnya yakin.

Heechul semakin tertawa dan memukul-mukul dada Siwon. "Lepaskan pelukanmu! Kau bisa membunuh kami!" serunya pura-pura kesal.

Siwon merenggangkan pelukannya dan menatap Heechul dengan wajah bingungnya. "Kami?" ucapnya membeo.

Heechul mengangguk. Ia mengarahkan tangan Siwon ke perutnya lalu membantunya mengusap perut rata itu perlahan. "Kau, akan menerima keturunan dariku, Wonnie… Kau suka?" tanyanya.

Siwon menggeleng tak percaya. "Kau serius?" tanyanya.

Senyum di bibir Heechul pudar seketika. "Kau… Tidak menginginkannya?" tanyanya khawatir.

Siwon menepuk kepala Heechul dengan gemas. "Bodoh!" Namja bermata emerald itu memeluk Heechul sekali lagi. "Aku bukannya tidak senang, aku sangat senang malah! Aku hanya kaget, sayang!" ucapnya menjelaskan.

Senyum di bibir Heechul kembali mengembang. "Jadi, kau suka?"

Siwon menatap mata black pearl Heechul. "Sangat. Karena aku akan mendapatkan keturunan dari orang yang paling kucintai. Gomawo, Heenim hyung!" Siwon mendekatkan wajahnya dan memagut bibir Heechul. Merasakan nikmatnya wangi mint dari bibir istri tercintanya. Ia mulai melumat bibir Heechul.

Siwon meremas kedua pantat Heechul dan membuat pemuda cantik itu terlonjak. Sontak Heechul memajukan tubuhnya namun malah membuat kejantanannya bergesekan dengan kejantanan Siwon. Heechul menjauhkan bibirnya dari Siwon namun Siwon malah terus memajukan bibirnya. Tak mau kehilangan bibir menggoda sang pangeran sulung. Heechul menutup bibir Siwon dengan telapak tangannya dan menatap namja itu dengan pandangan horror.

"Kau tegang, Wonnie!" ucapnya ngeri.

Siwon hanya mengangguk santai. Tangannya naik dan berusaha melepas baju Heechul. Dengan sigap namja cantik itu menampik tangan-tangan nakal Siwon. "Bukankah aku baru saja bilang jika aku sedang hamil? Kau ingin membunuh anak kita?" tanyanya sebal bercampur malu.

Siwon nyengir tanpa dosa. "Anak seorang Choi Siwon pasti kuat, hyung. Kau tenang saja, Heenim sayang~" Siwon meniupkan napas hangat disamping telinga Heechul kemudian mengulumnya. Dua tangannya kembali mencoba membuka baju Heechul.

Heechul mendesah kecil. Dahinya berkedut seperti akan marah. "Kenapa aku bisa jatuh cinta pada namja mesum sepertimu sih?" tanyanya sebal namun membiarkan saja saat Siwon melucuti pakaiannya satu per satu.

Siwon mengurut kejantanan Heechul dengan lembut. "Memangnya siapa yang bisa lolos dari karisma seorang Choi Siwon?"

"Cih… Dasar sombong! AKKHH! Pelan-pelan Siwon!" Seru Heechul.

"Hn…" sahut Siwon.

Dan tak lama setelah itu, terdengar suara-suara desahan erotis dari bibir Heechul dan lenguhan Siwon dari dalam kamar mandi yang tertutup rapat itu. Hah… Sepertinya Heechul tak akan bisa berjalan dengan benar selama beberapa hari. Poor our Cinderella Man :'(.

~YeWookLupeLupePolepelBarengJ ennyKimCoCuiitDahPokoknya!~

Kibum tersenyum memandangi putra kecilnya yang sedang asyik menggetarkan dawai-dawai harpa dengan petikan jemarinya yang tanpa simfoni. Memainkan alat musik itu selayaknya gitar mainan. Mata Minho yang mengerjap penasaran sungguh terlihat menggemaskan dimatanya. Ya, kini dia sedang berada di salah satu ruangan yang ada di istana vampire, ruang musik.

Tak jauh dari Minho, matanya memandang siluet gadis cilik berpipi semerah buah ceri tengah menekan-nekan tuts-tuts piano sesuka hatinya. Sungguh, permainan anak yang baru berusia lima tahun itu begitu buruk namun terlihat lucu. Ekspresi wajahnya yang seperti seorang pianist handal membuat setiap orang pasti ingin mencubit pipi imutnya.

Kibum masih belum bisa mengerti dirinya. Beberapa jam yang lalu, ia masih was-was pada bocah bernama Cherry itu. Namun sekarang, hatinya malah menimbun rasa sayang yang begitu penuh terhadap Cherry. Awal pertemuannya dengan Cherry adalah saat Yesung membawa Cherry ke rumahnya. Membuat Cherry berteman dengan Minho dan menyuruh Cherry untuk membawa Minho terbang bersamanya.

Siwon dan dirinya yang baru saja keluar dari dalam rumah pun tercengang saat melihat Minho telah bisa mengeluarkan sayapnya –atas bimbingan dari Cherry–. Sontak Siwon berteriak keras memanggil nama putra mereka itu. Hingga akhirnya Yesung 'meminta' Siwon untuk kembali ke istana vampire. Sungguh, Kibum tak pernah tahu jika Siwon telah berkeluarga, Siwon baru menceritakannya setelah Yesung dan Cherry datang. Siwon pun memintanya untuk menjadi selir dan Kibum pun tercenung seketika. Tak ada orang yang mau dimadu. Baik Heechul maupun Kibum, sebenarnya tak ada yang mau berbagi. Tapi keadaan yang memaksa mereka. Demi putra dan putri mereka. Dengan berat hati, Kibum pun menerima tawaran Siwon untuk menjadi selirnya. Bukan, rasa berat hati menerima pinangan Siwon bukan karena ia tidak mencintai Siwon. Demi Tuhan, ia mencintai Siwon. Saking cintanya, ia ingin menjadi pendamping Siwon satu-satunya. Bukan selir, istri kedua, inang, madu, atau apalah itu. Tapi takdir memang tak pernah berlaku adil. Baik dirinya ataupun Heechul, harus bisa menerima keadaan ini.

"… Ibu~ kenapa tidak menjawabku? Ibuuuu~!" Lengkingan suara Cherry berhasil membuat Kibum tersentak kaget. Pemuda manis itu pun segera menatap Cherry yang entah sejak kapan telah berada di sampingnya.

"Nae, maaf Cherry. Kau bilang apa tadi?" Tanya Kibum lembut. Minho berlari menghampirinya dan naik ke pangkuannya. Bocah bermata besar itu hanya diam dalam pangkuan Kibum. Sedang berpikir keras, bagaimana cara agar alat musik yang dibawanya (harmonica) bisa berbunyi? Digigit, dipukul, dibanting, atau dilemparkan ke dinding? Sungguh, Minho terlalu sadis pada alat musik itu jika berani mempraktekkan pemikirannya. Ya meskipun ada pepatah yang mengatakan, 'kalau tidak dicoba, siapa yang tahu?'

Cherry merengut. "Chelli beltanya, apakah Ibu lelah? Chelli akan membantu Ibu untuk mencali kamar dan kita bica membelcihkannya belcama-cama." Cherry mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanannya ke jari telunjuk kirinya.

Kibum tersenyum. Entahlah, ia malah merasa terharu. Sebegitu baiknya Cherry padanya, yang bukan ibu kandungnya sendiri. "Memangnya Cherry tidak lelah jika membantu Ibu?" Tanya Kibum.

Cherry menggeleng. "Kata appa, kita tidak boleh celalu meminta tolong pada maid dan butlel, kita halus mandili. Jika macih bica, lakukan dulu. Jika memang membutuhkan bantuan, balu boleh meminta tolong."

"Kau ini selalu menuruti pesan appamu, ya?" Kibum menarik lembut tangan Cherry dan mendudukkan tubuh bocah cilik itu di sebelah kanannya.

"Tentu!" jawab Cherry.

"Kenapa?" Tanya Kibum lagi. Semakin lama ia semakin suka mendengar suara cempreng Cherry.

"Karena Chelli anak appa!" jawab Cherry dengan riang.

NYUT~. Kibum menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. 'Minho juga anak Siwon hyung. Anak kandung,' batinnya pilu.

Cherry seakan mengerti raut muka ibu barunya. "Adik Minho juga anak appa, Chelli juga akan mengajali Minho cemua yang Chelli pelajali dali appa. Adik bayi juga akan Chelli ajalin!"

Minho yang berniat melemparkan harmonicanya ke tembok terdekat pun mengurungkan niatnya dan mata besarnya mengarah pada Cherry. "Adik bayi? Mana?" tanyanya penasaran.

Cherry mencubit gemas pipi tembem Minho. "Macih di pelut umma, adik~. Kata umma, kita halus menunggu delapan bulan sampai adik datang," ucap Cherry.

Kibum bagai tersengat listrik. "Heechul hamil…" lirihnya. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Lagi-lagi rasa takut menyergap hatinya. Ia tahu Siwon hanya mencintai Heechul, Siwon menjadikannya selir pun karena Minho. Dan sekarang, Heechul malah mengandung anak Siwon. Orang yang paling Siwon cintai tengah mengandung benih Siwon. Lagi, kasih sayang Siwon yang begitu tipis untuknya, semakin menipis. Kibum hanya dapat tersenyum pahit.

"Delapan bulan itu belapa lama, noona?" Tanya Minho.

"Ungg…" Cherry mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di bibir. Membuat pose berpikir yang begitu menggemaskan. "Caat bulan diatas langit itu beljumlah delapan," jawab Cherry dengan tampang serius agar Minho percaya, padahal dirinya sendiri pun juga asal menebak.

Minho membuka mulutnya dengan syok. "Benalkah? Waooo…" ucapnya takjub.

TBC