LESLEY POV


Aku menarik napas panjang dan berjalan naik ke atas podium kayu yang telah diasah sempurna sehingga terlihat indah dan mewah. Podium itu juga dihiasi beragam bunga berwarna-warni yang bermekaran dan kupu-kupu yang berterbangan di sekitar bunga-bunga itu.

Aku mengambil mic yang ada dan memasang senyum lebar, "Selamat pagi semuanya!" sapaanku dibalas oleh beberapa orang, "Seperti yang kalian tau, hari ini adalah hari yang sangat spesial!"

Mendengar sorakan meriah sebagai balasannya, aku pun melanjutkan pekerjaanku sebagai mc, "Apa kalian tau kenapa aku bilang hari ini spesial?"

"TENTU SAJA!"

"HERO BARU!"

"SUDAH, JANGAN BASA-BASI LAGI! MC PAYAH! TURUN SAJA SANA!"

Sorakan terakhir dari Gusion, tentu saja dari dia. Siapa lagi kalau bukan dia! Akan kuhajar dia nanti! Lihat saja! Aku menahan amarahku dan melanjutkan acaranya sebagai mc yang profesional, "Ya, benar sekali! Mari langsung saja kita sambut hero baru kita!

"ALUCARD!"


ETHEREAL

Fanfic yang menceritakan perjuangan para hero mengembalikan cahaya di Land of Dawn.


Sehari sebelumnya.


ZILONG POV


Alucard memasang muka ragu, ia terlihat sedikit ketakutan. Dia takut dengan apacara, tapi tidak dengan demon?

"Upacara pelantikan… ehm, itu seperti apa?" tanya Alucard pelan.

"Pertama-tama kau harus menyiapkan dirimu, bersih-bersih, mencoba baju untuk upacara, lalu sesi pertama akan ada pembacaan… uh, panjang kalau dijelaskan! Lakukan sajalah," jawab Miya seadanya.

"Apa aku bisa menjadi hero tanpa menjalani upacara pelantikan itu?" tanya Alucard penuh harap.

"Tentu saja–," ucapan Miya membuat wajah Alucard berseri, "Tidak," lanjut Miya sambil tersenyum manis.

"Ahh, aku tidak mauu," rengek Alucard, "Aku akan jadi hero yang baik, jadi… tidak perlu ya?" tanya Alucard dengan wajah memelas. Ah, wajah memelasnya manis sekali.

"Menyerahlah, Nak," ucap Tigreal sambil menepuk kepala Alucard, "Upacara pelantikan itu sangat penting, ok?"

Aah, aku ingin menepis tangan Tigreal. Aku menatap tajam Tigreal. Tampaknya, tatapanku itu disadari oleh Hylos, dia pun membuat gestur agar Tigreal berhenti.

"Benar kata Tigreal, upacara ini sangat… sangaaaat esensial bagi seorang hero. Kau harus bersiap-siap dari sekarang! upacaranya dijadwalkan sehari setelah kau sadar," ucap Miya, "Semakin cepat, semakin baik."

"Apa? Kalau begitu, lebih baik aku tidak sadar sa–" ucapan Alucard terpotong.

"Jangan berkata seperti itu! Bagaimana kalau jadi kenyataan?!" seruku marah.

Alucard melompat kaget mendengarku yang tiba-tiba berteriak, "A-aku kan hanya bercanda! Kenapa kau marah?" tanya Alucard.

"Jangan bercanda hal seperti itu!" balasku ketus.

"Kau terlalu serius! Lagipula kenapa aku harus mendengarkanmu?" balas Alucard kesal.

"Pokoknya kau," aku menunjuk Alucard tajam, "Jangan berkata seperti itu lagi! Paham?!" seruku dengan penekanan yang sangat di tiap katanya.

Alucard terdiam sejenak, dia kelihatan bingung, "Uh, oke?"

"Jawab yang benar!" seruku lagi.

"Oke! Oke! Aku paham! Hentikan itu!" ucap Alucard pasrah.

"Janji?" tanyaku.

"Janji!" jawab Alucard tegas.

Mendengar jawabannya, senyum yang lebar mekar di wajahku. Eh? Apa itu semu merah yang kulihat di wajah Alucard?

"Aaaw…."

"Manis sekali!"

"Otp baru guys!"

Hero-hero yang lain memperhatikan kami dengan amat sangat seksama, mereka tersenyum maniak. Menyeramkan.

"Hentikan itu kalian!" seruku malu.

"Tidak akan," ucap Fanny sambil tertawa senang.

"Sudah-sudah, Alucard harus bersiap-siap!" perintah Miya, "Ayo ikut aku, Alu," Miya menarik tangan Alucard dan Alu membiarkan dirinya ditarik. Dia sudah pasrah sepertinya.

"Aku boleh ikut?" tanyaku.

"Aaaaw~"

"Zilong sudah tergila-gila rupanya!"

"Aku rasa aku akan mimisan, uhhh…."

Seru-seruan aneh mulai bermunculan lagi. Kenapa temanku tidak waras semua, yalord. Alucard hanya menatap mereka dengan wajah bingung… yang manis itu!

Oke, aku memang terobsesi.

"Hentikan itu!" seruku kesal, "Boleh tidak, Miya?"

"Tidak, ntah kenapa aku mau ini jadi kejutan untukmu," Miya tersenyum manis.

"Tch!" aku mendecak kesal.

"Oh iya, ada yang lihat Lesley, tidak?" tanya Miya tiba-tiba.

"Aih, wanita itu paling belum bangun! Dia kan pemalas," jawab Gusion sambil menjulurkan lidahnya.

"Kalau begitu, Gus, sampaikan pada Lesley ya kalau dia yang jadi mc untuk upacara besok!" ucap Miya.

"Dih, kok aku?!" protes Gusion.

"Dia denial banget deh,"

"Tau, kesel aku liatnya!"

"Kenapa dia ga sadar-sadar kalau dia itu su–"

"Kenapa kalian malah menggosipkanku sekarang?!" seru Gusion kesal, "Gosipin Zilong aja sana!"

Kok hero ngegosip sih?!

Miya pun menarik Alucard pergi keluar. Aku menatap mereka pergi dengan tatapan tidak rela.

"Tenanglah, dia tidak akan hilang kok!" ucap Tigreal sambil tersenyum.

"Akhirnya Zilong tau yang namanya cinta! Akhirnya! Kukira dia tidak akan punya pasangan hidup sampai mati nanti!" seru Fanny antusias.

"Ceritakan dong bagaimana pertemuan pertama kalian! Kumohon?" pinta Eudora yang diiringi anggukan antusias dari yang lain.

Mereka mulai mengerumungiku, "Hii, menjauh dariku!" seruku.

"Makanya cerita dulu!" ujar Odette bersemangat, yang tentu saja diiringi dehaman setuju dari yang lain.

"Ugh, baik-baik! Aku akan cerita, jadi beri aku sedikit ruang, oke?" balasku. Mendengar perkataanku, mereka mundur sedikit.

Tak lama, Odette menarikku ke meja terdekat dan kami semua pun duduk di kursi terdekat. Mereka menatapku serius.

Ugh, hari ini akan jadi hari yang panjang.


ALUCARD POV


Miya menarikku ke sebuah pintu besar yang terbuka lebar. Setelah melewati pintu itu, cahaya matahari pun nampak. Aku menggadahkan kepalaku ke atas dan bertemu langit biru yang begitu cerah dengan gumpalan-gumpalan awan putih.

Aku melihat sekeliling. Ada berbagai rumah pohon dalam berbagai ukuran. Aku berbalik untuk melihat arah aku datang, dan menemukan sebuah pohon yang sangat besar yang dihiasi banyak jendela.

Tempat yang aneh.

Miya menggiringku ke sebuah pohon besar berwarna putih yang terlihat sangat indah. Dia merapalkan beberapa mantra dan pintu masuk pintu itu terbuka.

"Tempat ini adalah tempat persiapan upacara besok," ucap Miya. Miya menunjuk ke atas, tepatnya sebuah lubang besar di atap pohon ini. Lubang itu memperlihatkan langit biru cerah dan cahaya matahari yang berkilau indah masuk melewati lubang itu.

"Bulan purnama akan menampakkan dirinya tiap bulannya pada lubang itu. Dari sana lah, Raja Estes mengetahui siapa hero yang telah dipilih oleh dewa," jelas Miya.

"Eh? Bulan bisa bicara?" tanyaku kaget.

"Mungkin? Ntahlah, hanya Raja Estes yang bisa mendengarkannya," balas Miya, "Ayo, lewat sini," Miya menunjuk sebuah pintu putih.

Aku pun mengikuti Miya melewati pintu itu, di balik pintu itu terdapat sebuah pemandian dengan air yang sangat jernih, banyak air mancur di mana-mana.

"Buka bajumu," ucap Miya.

"Uh, oke?" butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna ucapan Miya, "Eh?! Apa? B-buka baju?!"

"Iya, buka baju. Ini kan pemandian, gimana sih?" ucap Miya santai seakan aku membuka bajuku di depannya adalah hal yang paling lumrah selama hidupnya.

"T-tapi aku mana bisa mandi kalau kau masih di sini!" aku bisa merasakan jika pipiku mulai memanas, "Apa mandi di depan orang lain itu normal di sini?"

"Hehe, tidak, tentu saja tidak," Miya tersenyum jahil, "Tapi kan lumayan untuk mataku."

"…" aku menatap Miya tidak senang, "Oh, begitu."

"Haha, aku bercanda kok! Aku akan mengirim dayang kemari untuk membantumu mandi," ucap Miya lagi.

"Aku bisa mandi sendiri lah! Kau kira aku anak kecil apa?!" seruku kesal.

"Kau harus terlihat sempurna besok, jadi kau tidak bisa menolak," ucap Miya, "Kau tidak perlu malu kok, aku yakin kau punya tubuh yang akan membuat para lelaki menangis iri," Miya mengedip sebelah matanya.

"T-tapi kan ti–,"

"Sudah ya! Para dayang akan datang segera, aku akan menunggu di luar! Dah!" Miya melesat keluar secepat kilat.

"Tunggu! Hei!" Miya menghiraukan teriakanku. Aku terdiam sejenak sebelum melihat sekelilingku. Jujur saja, pemandian ini sangat indah. Terdapat beberapa patung yang dipahat dengan sangat detail. Ini mengesankan.

Tak lama kemudian, para dayang masuk ke pemandian ini dan langsung menyerangku. Dalam sekejap, aku sudah ada di dalam kolam, dan mereka mulai membersihkan tubuhku.

Ugh, ini sangat awkward!

Aku hanya bisa pasrah, membiarkan mereka membersihkan tubuhku. Hmm, kapan ya terakhir kali aku mandi dengan serius?

Aku, seperti orang kebanyakan, mandi dua kali sehari, tetapi hanya sekilas. Selama beberapa bulan terakhir, aku kan tinggal di hutan untuk memburu demon. Apalagi, mandi di sungai cukup berbahaya, jadi aku hanya mandi seperlunya saja.

Mungkin ini tidak begitu buruk juga.

Aku merilekskan tubuhku, dan menutup mataku. Mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi.

Zilong. Dia orang yang aneh. Kita baru bertemu beberapa hari, tapi dia sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Dia juga berhasil memaksaku menjadi seorang hero, padahal ntah sudah berapa banyak orang yang gagal.

Tapi, dia sangat menarik. Rasanya akan ada banyak hal menyenangkan yang akan terjadi dalam hidupku, jika aku terus bersamanya. Mungkin menjadi hero tidak seburuk yang kukira(kecuali upacara itu, tentu saja.)

Selain itu, Hero-hero yang lain sangatlah kuat dan bisa menjadi panutan untukku. Mereka bisa mengalahkanku dalam waktu yang cukup singkat. Ugh, ini memalukan, aku harus berlatih lagi agar lebih kuat!

Aku membuka mataku sejenak dan menatap langit-langit. Atapnya dihiasi berbagai ukiran indah dan lukisan-lukisan mengenai sejarah hidup elf.

Aku melamun, membiarkan pikiranku berkeliaran ke mana-mana. Tiba-tiba, aku teringat senyum lebar yang Zilong berikan kepadaku beberapa saat yang lalu.

Aku ingat aku merasakan wajahku memanas setelah melihat senyuman Zilong. Ugh, kenapa tadi wajahku memerah?! Pasti yang lain lihat! Ini memalukan.

Tapi, senyuman itu…

Aku menyukainya.

"Tuan Alu," panggil salah dayang. Mendengar namaku dipanggil, aku segera menoleh ke arahnya.

"Alu saja," balasku, "Ada apa?"

"Apa airnya terlalu panas?"

"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?" aku menampakkan raut wajah yang bingung.

"Wajah Anda merah," jawabnya singkat.

Apa? Wajahku memerah? Hanya karena mengingat senyumannya?! "T-tidak kok, aku ehm," aku bingung harus menjawab apa, "Ugh, uhm, mungkin?"

"Kau turunkan suhu airnya," perintah dayang itu ke dayang lainnya, "Sekarang, saya akan mencuci rambut Anda, jadi mohon Anda menutup mata."

Aku hanya mengangguk lemah.

Setelah memastikan rambutku bersih, para dayang memberiku wewangian dengan aroma bunga. Tak lama, acara mandi-memandi ini pun selesai. Aku mengenakan baju mandi yang telah disiapkan. Mereka pun mempersilakanku untuk keluar dan menemui Miya.

"Miya!" panggilku.

"Sudah?" Miya menatapku intens, "Kau terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya!" dia tersenyum lebar.

"Aku tidak sekotor itu sebelumnya!" protesku.

"Yaa, lelaki memang tidak tau standar kebersihan!" Miya membawaku ke pintu putih yang lainnya. Di sana terdapat beberapa baju yang dipajang dalam lemari kaca. Di ruangan ini, juga terdapat banyak elf, ada yang sedang menggambar sesuatu di kertas, menggunting kain, menjahit, dan sebagainya.

"Mereka adalah desainer dan penjahit terbaik di Emerald Woodland! Mereka sudah menyiapkan baju untukmu!" ucap Miya bersemangat.

"Eh? Bajunya sudah jadi? Tapi, bagaimana kalian tau ukuran badanku?" tanyaku kaget.

"Selama kau tidak sadar, aku meminta Zilong untuk mengukurnya," jelas Miya.

Zilong lagi, dia seakan berkeliling di dalam pikiranku. "Oh, begitu," balasku singkat.

"Ayo dicoba bajunya," ujar Miya, "Setelah ini, kau masih harus belajar tata krama selama upacara, mungkin bisa sampai malam. Lalu, langsung tidur, soalnya kau harus bangun pagi besok untuk upacara pelantikan oleh Raja Estes, lalu ada perjamuan yang akan dihadiri seluruh penghuni Emerald Woodland."

"Oh, padat sekali," aku bisa merasakan warna mulai memudar dari wajahku.

"Yep! Makanya kita harus cepat!" Miya menarikku ke sebuah lemari kaca, "Bagaimana? Kau suka? Jujur saja, ini baju untuk upacara pelantikan yang paling kusuka, selain punyaku tentunya."

Aku memandang baju yang dipajang dalam lemari kaca itu, "Terlalu terang, tidak, aku tidak suka."

Miya menendang kakiku keras, "Dasar tidak punya selera fashion!" Lalu, Miya membuka lemari itu dan menyodorkan baju itu kepadaku, "Coba sekarang!" katanya dengan tatapan membunuh.

"Oke, oke! Jangan menatapku seperti itu! Di mana ruang gantinya?" tanyaku sambil mengelus kakiku yang terinjak.

Miya menunjuk sebuah ruangan kecil di ujung dan aku pun segera ke sana. Aku menatap intens baju yang akan kucoba, "Terlalu indah… untuk orang Sepertiku. Haha, aku bahkan bukan manusia lagi."

Sebuah kemeja berbahan dasar sutra berwarna biru langit dengan motif berwarna putih yang unik. Juga dilengkapi dengan mantel putih tebal dengan sedikit aksen biru yang menambah kesan elegan mantel itu. Selain itu, terdapat berbagai aksesoris pelengkap berwarna silver, seperti rantai, cincin, kalung, anting, dan lainnya.

Aku membuka bajuku dan mulai mengenakan kemeja itu. Lembut sekali. Aku pun melanjutkan mengenakan sebuah celana kain berwarna biru gelap dan mantel putih itu.

Aku mengambil dasi yang berwarna sama dengan celananya. Merapikannya di depan cermin yang tersedia. Mengambil satu persatu-satu aksesoris yang ada dan mencobanya.

Tak lama, aku sudah selesai mengenakan semua yang harus kucoba. Aku pun keluar dari ruang ganti. Melihatku, senyum Miya merekah di wajah cantiknya.

"Kau sangat memukau! Mempeson! Kau akan dengan mudah menjadi idola di sini, kau tau?" ujar Miya bersemangat.

"Ehm, terima kasih?" jawabku canggung.

"Sama-sama!" Miya tersenyum lebar, "Bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" tanyaku.

"Bajunya! Nyaman, tidak? Tidak kebesaran atau kekecilan kan? Atau kau merasa ada yang kurang, dan harus dimodifikasi lagi? Atau kau tidak suka warnanya? Atau ada aksesoris yang ingin kau tambahkan? Bagaimana deng–"

"Tidak, tidak, ini sudah bagus," aku memotong ucapan Miya.

"Benarkah? Kau tidak perlu malu-malu, kau tau? Katakan saja kalau ada yang kurang," ujar Miya.

"Ehm, sebenarnya… ada satu," aku mengingat-ingat pedangku yang rusak, "Mungkin pedang?"

"Eh? Pedang? Hmm, benar juga sih, kau akan terlihat sangat gagah jika membawa senjata juga!" ujar Miya ceria, "Tenang saja, akan kusiapkan!"

"Terima kasih, Miya," aku tersenyum lembut.

"Jangan tersenyum seperti itu, kau membuatku terpesona, tau!" ujar Miya dengan semburat merah di pipinya.

"Haha, baik-baik," aku tertawa lepas.

Miya menghela napas dan menarik tanganku, "Ayo, setelah ini kau harus belajar tata krama upacara!"

"Tidaaak," rengekku selama Miya menarikku pergi.


ZILONG POV


Aku berbaring di kasurku, menatap langit-langit.

Alucard sedang apa ya?

Mungkin dia sedang belajar tata krama upacara? Atau masih mencoba baju? Aku tidak sabar melihatnya besok. Tidak bisakah besok datang lebih cepat?

'Akhirnya Zilong tau yang namanya cinta! Akhirnya! Kukira dia tidak akan punya pasangan hidup sampai mati nanti!'

Ucapan Fanny terngiang-ngiang di kepalaku. Cinta? Kukira itu hanya omong kosong. Hal yang paling kuhindari dalam hidupku. Tapi kenapa sekarang aku malah ingin tau lebih banyak tentang bagaimana cara mencintai seseorang?

Aku menutup mataku, bersiap untuk tidur. Tetapi, aku malah melihat Alucard dalam benakku.

"Zilong sudah tergila-gila rupanya!"

Ya, benar. Aku sudah tergila-gila dengannya. Aku membiarkan pikiranku memikirkannya lebih jauh, membawanya ke dalam minpiku.

Aku rasa….

"Aku sudah jatuh cinta denganmu, Alu."


TO BE CONTINUED


NJAY :'D

Chapter ini ga cheesy-cheesy amat kan?

(Iya, cheesy,, author kebanyakan drama, idih)

Maaf ya…

Saya bingung buat lanjutan fanfic sebelah,, sebenernya ch 4 udah ada di draft… tapi saya kurang sreg….

Butuh banyak perbaikan sama inspirasi :", saya juga jadi kepingin bikin fanfic yang high school AU lainnya.

Pertemuan Alu ama Martis bakal saya ketik secepat mungkin,,

JANGAN LUPA REVIEW YA GUYS

LOVE YA