3. Kelas 3, part 3
Dobby yang membawakan perlengkapan menginap Draco (piyama, jubah untuk besok, sikat gigi, dan shampo sabun yang tak bisa di gantikan merk apapun karena kulitnya yang sensitif). Peri rumah itu menatap mereka cemas. Draco mengancamnya dengan pakaian kalau berani melapor pada orangtuanya, membuat peri rumah itu buru-buru berdisaparate.
Draco berhasil masuk ke kamar Harry tanpa halangan apapun dengan jubah gaib. Harry sudah membeli take away burger dan teman-temannya, jadi mereka tak perlu makan malam di luar. Hary tahu dirinya sungguh nekat, dan tahu bahwa Draco juga pasti sama deg-degannya dengan dirinya. Mereka sering bertemu di malam hari di Hogwarts, cekikan berdua di kelas kosong di malam minggu (dua kali tertangkap Profesor Dumbledore, yang hanya menggeleng-geleng dengan senyumnya dan menyuruh mereka kembali ke asrama masing-masing tanpa pengurangan poin asrama). Tapi kali ini jelas berbeda.
hanya berduaan di satu kamar, dimana mereka tahu tak akan ada yang mengganggu atau memergoki mereka...
harry merasa dadanya sesak saking senangnya. Dia nyangir menatap Draco yang melepaskan jubah gaib, dan mereka tertawa cekikikan karena berhasil mengelabui Tom si penjaga losmen. Draco menjatuhkan badannya ke kasur, lalu berjengit.
"Keras sekali kasur ini."
Harry duduk di sebelahnya, merasa bahwa kasur ini biasa saja. Dasar anak manja. Tapi Harry tak menyuarakan pikirannya, tak ingin bertengkar di malam istimewa ini.
"kau mau mandi duluan?" Tanyanya. Draco menggeleng, memejamkan matanya lelah.
"nope. Kau duluanlah."
Harry berjalan riang ke kamar mandi. Dia mengambil shampo dan sabun Draco, selalu suka pada wanginya, dan menggunakannya. Dia membayangkan kalau Draco masuk ke kamar mandinya (khayalan yang membuat perutnya mulas saking bergairahnya) dan membantunya menggosok punggungnya. Suatu saat, tapi tidak sekarang, pikir Harry, malu sendiri dengan dirinya yang ngeres. Dia mengeringkan rambutnya, memakai kaus kebesaran milik Dudley yang sangat nyaman untuk tidur. Kaus itu jatuh sampai ke tengah paha-nya, menunjukkan kakinya yang jenjang. Dia menutuskan untuk tidak memakai celana panjang karena di kamar itu agak panas.
dia keluar dari kamar mandi sambil menghanduki rambutnya. Draco sedang membaca tumpukan surat-surat dari teman-temannya musim panas itu. Rupanya bagi Draco privasi Harry sangat tidak penting.
"Tak bisakah setidaknya kau bertanya dulu sebelum membaca surat-suratku?" Geramnya sebal.
Draco mendongak, tapi apapun yang mau dia katakan terhenti di tenggorokannya. Dia menatap Harry dari atas ke bawah, lalu terhenti di pahanya yang terbuka. Tanpa kedip.
"hei," kata Harry jengah. "Wajahku di sini."
Draco masih bergeming.
Harry memutar bola matanya, melemparkan handuk basahnya ke wajah Draco, yang tersentak kaget.
"apa-apaan sih?" Tukasnya, memelototi Harry. Wajahnya setidaknya, bukan paha nya.
Harry cemberut. "Giliranmu mandi. Kembalikan surat-suratku."
Draco mendengus. "Kayak ada yang penting saja. Weasley menang 1000 galeon, pasti ibunya pingsan saking girangnya..."
Harry mengernyit. "Berhenti bicara jelek tentang keluarga Weasley. Mereka orang baik tahu," geramnya. Draco hanya memutar bola matanya.
"Yeah, yeah, whatever," katanya, dia bangkit, mendekati Harry, yang jantungnya melompat sampai ke tenggorokannya saking deg-degannya. Tapi Draco hanya mengambil handuknya ( di sebelah Harry) dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Harry menarik napas saat mendengar pintu kamar mandi tertutup. Dia menata makan malam mereka, menyeruput cola kalengannya (Draco berjengit setiap Harry meminum sesuatu dari kaleng,berkata bahwa peri rumahnya saja tak pernah minum dari kaleng!), lalu duduk di tempat tidur. Yang mengheranksn, Harry selalu mengira Draco adalah tipe cowok yang menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, tapi ternyata tidak. Hanya sepuluh menit, dan dia sudah keluar dengan piyama sutranya yang mewah. Kontras sekali dengan apa yang di pakai Harry. Rambutnya basah, handuk masih menempel di kepalanya.
"Mau aku bantu mengeringkan?" Tanya Harry. Draco mengangguk. Jadi Harry bangkit mendekati cowok itu. Draco harus menunduk agar Harry bisa mengeringkan rambutnya. Harry tak bisa menahan senyumnya. Dia paling menikmati saat-saat seperti ini. Saat di mana dia tahu, Draco yang paling anti di sentuh orang, membiarkannya menyentuh rambutnya. Harry merasa dirinya spesial. mereka bertukar pandang, dan bertukar senyum, saling tatap tanpa mengatakan apapun.
"oke, selesai," kata Harry, mengambil handuk Draco dan menjemurnya di kamar mandi.
Draco duduk bersandar di kasur, sudah mengeluarkan papan catur yang dia suruh Dobby bawa juga.
"Saatnya melihat siapa yang lebih jago," katanya dengan senyum menantang. Harry mengangkat sebelah alisnya. Dia sudah dilatih oleh sang pakar, alias Ron Weasley, dan sangat percaya diri akan memenangkan duel yang ini.
"bersiaplah untuk kalah, Malfoy, seperti kekalahanmu di lapangan Quidditc dan di klub duel," katanya pede, melompat duduk di kasur di depan Draco.
draco cemberut.
Mereka bermain catur sambil mengobrol ringan. Dan makan burger yang mendadak menjadi favorit Draco.
"Kalau burger saja bisa membuatmu ketagihan, kau harus mencoba pizza," kata Harry.
"Aku pernah dengar. Bukankah itu Italia? Ada yang jual di Inggris?" tanya Draco.
Harry tertawa. "Oh Draco, kau ini beneran keterlaluan deh."
Draco mengernyit. "Maksudmu apa sih? Aku kan serius bertanya. Aku tak mau harus repot-repot ke Italia hanya untuk makanan... peri rumah kami biasa memasak lasagna, dan spaghetti, tapi pizza ini tak pernah kulihat..."
"Tentu saja," Harry memutar bola matanya. "Karena pizza juga dimakan dengan tangan. Bayangkan ibumu..."
Draco mendengus. "Heran kenapa muggle suka sekali makan dengan tangan," gumamnya. Harry hanya menggeleng-geleng geli.
Mereka bermain catur sangat lamban. Keduanya ternyata sama-sama tidak jago. Kalau bermain dengan Ron, hanya butuh paling lama setengah jam sebelum skak matt. Tentu saja Ron tak pernah kalah. Tanpa terasa mereka main sambil tiduran. Dan akhirnya ketiduran...
Awalnya Harry tak tahu apa penyebabnya terbangun. Matanya terbuka perlahan, langsung menatap jendela, dimana langit masih gelap.
Dan dia menyadari bahwa seseorang memeluknya dari belakang. Draco.
Wajah Harry merona dahsyat. Draco memeluknya dari belakang, mendekap tubuh Harry erat seolah takut seseorang akan melepaskan cewek itu darinya. Papan catur mereka sudah berserakan di bawah, pasti salah satu dari mereka mendendang papan itu.
Napas Draco terdengar tersengal di telinga Harry. Mulanya Harry pikir Draco mimpi buruk. Tapi kemudian dia merasakannya.
Bagian depan celana Draco yang menempel di pantatnya, terasa gundukan sangat keras...
Harry serasa mau mati.
jantungnya berdegup luar biasa kencang. Wajahnya pasti semerah tomat. Suara napas Draco makin cepat dan tersengal. Harry tak tahu harus melakukan apa... dia berusaha kembali tidur, tapi tak bisa. Tangan Draco mendekapnya makin erat, dan bergerak menuju payudaranya.
astaga...
astaga...
Harry menutup matanya, tak bisa menikmati remasan pertama dalam hidupnya. Jantungnya serasa mau pecah. Remasan yang dia nanti-nantikan akhirnya datang di saat dia tidak siap. Di saat Draco bahkan tidak sadar apa yang dia lakukan.
Dan lalu, napas Draco tercekat, dan Harry merasakan lembab dari bagian depan celana Draco. Sepertinya Draco sudah selesai. Dekapannya mulai longgar, napasnya mulai teratur...
Harry mendesah lega. Tapi dia masih belum berani bergerak. Tubuhnya terasa kaku, dan kini dia baru merasakan bahwa celana dalamnya juga basah. Astaga, dia juga bergairah... Sungguh Harry tak tahu apa yang harus dia pikirkan saat ini, apa yang harus dia katakan kalau Draco sampai terbangun...
Tapi kecemasannya tak perlu lama, karena Draco bergerak bangun.
Harry memejamkan matanya erat, berpura-pura tidur, berharap dia bisa menggali tanah dan tinggal di dalamnya selamanya...
Draco tersentak duduk. Tangannya ditarik mendadak dari tubuh Harry, membuat Harry ikut terhentak dan mengacaukan akting pura-pura tidurnya. Harry melihat ekspresi horor Draco.
"oh no no no," erang Draco, menutup wajahnya yang merona dahsyat. Harry merasakan wajahnya pasti sama merahnya dengan Draco. "No no no no!"
Draco menarik napas dalam, lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi tanpa kata, wajahnya masih semerah bendera Gryffindor. Harry mendengar pintu kamar mandi di tutup, dan tak lama shower di nyalakan.
Harry menghela napas, dan ikut menutup wajahnya. Dia tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Apa yang terjadi. Draco mendapat mimpi basah sambil memeluk Harry dan meremas payudaranya. Dan menggesekkan 'itu' nya ke punggung Harry juga. Tapi bukankah tak ada yang di rugikan? Mungkinkah mereka terlalu berlebihan menanggapi kejadian ini? (Harry adalah tipe cewek yang sangat easy going, sedangkan Draco selalu mendramatisir segala sesuatu. Mungkin mereka memang cocok, saling melengkapi).
Harry bangkit, duduk di sofa kecil di kamar itu untuk minum segelas air. Tak lama, Draco keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya. Tanpa kata dia mengambil stok bokser dan celananya, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Harry bisa mendengar suara detak jam yang melebur bersama detak jantungnya. Lalu Draco keluar lagi, dan duduk di kasur, menghadap Harry.
mereka terdiam lama, sampai Draco berdeham. "Oke," katanya, matanya menatap lantai. "Jadi, apa saja yang... aku... lakukan padamu... di sesi mimpiku tadi?"
Harry memainkan ujung kausnya. "Tak ada," gumamnya. "Setidaknya tak ada yang membuatku tak nyaman. Maksudku, semua orang bisa mengalaminya kan? Sangat normal untuk anak laki-laki mengalami mimpi seperti itu..."
Draco mendengus. Dia bangkit, lalu berjalan mendekati Harry, yang matanya melebar kaget. Apa yang mau Draco lakukan. Draco menatap ekspresi Harry, lalu mendesah. dan kembali duduk di kasur. "Lihat. Sekarang kau jadi takut padaku kan?" Katanya miris.
Harry merasakan wajahnya merona. "Aku... tentu saja tidak...maksudku," Harry menatap putus asa jari kakinya, berharap bisa menatap Draco tanpa tergagap. "Aku rasa tak akan ada masalah dengan sedikit sentuhan kan? Aku... kurasa tak masalah... kita melakukan lebih..."
Harry bisa merasakan Draco menatapnya lekat. Mereka terdiam, sampai akhirnya Draco tertawa terbahak. Harry mendongak, melihat kegelian luar biasa di wajah Draco. "Astaga Potter," kata cowok itu, mengusap wajahnya. "Kadang kau membuatku kagum dengan betapa Gryffindornya dirimu."
Harry tak mengerti. "Maksudmu aku pemberani?"
Draco memutar bola matanya. "Maksudku kau: lakukan dulu, berpikir belakangan. Terjang saja, memangnya apa yang akan terjadi nanti."
Harry cemberut. "Aku tak seperti itu!" Protesnya, walaupun setelah dipikir-pikir lagi, itu adalah definisi paling sempurna sifatnya.
Draco menggeleng-geleng. "Potter, karena kau malas berpikir, aku akan menjelaskannya padamu," katanya lambat-lambat, seolah sedang mengajarkan satu di tambah satu sama dengan dua pada anak kecil yang kelewat bersemangat. "Pertama, kita masih 13 tahun, masih terlalu cepat untuk memikirkan soal seks. Atau apapun yang mendekatinya."
wajah Harry merona luar biasa mendengar kata 'itu' langsung dari mulut Draco.
Draco mengangkat alis. "Lihat. Kau bahkan tak bisa bersikap biasa saat mendengar kata seks, dan kau bermimpi mau melakukannya? Pikirkan Potter, kalau mendengar kata nya saja membuatmu tak nyaman, apa yang akan kau rasakan jika sudah melakukannya?" Dia bersedekap.
"Siapa yang merasa tak nyaman? Aku dan teman-temanku juga sering membicarakan itu tahu," ketus Harry, merasa sangat malu.
Draco mendengus. "Masa? Gryffindor? Membicarakan soal seks? Biar kutebak. Kalian pasti memakai kata sandi untuk menggantikan kata 'seks.' Ayo mengaku saja," ledeknya.
"kami tidak kok!" Serunya mulai kesal, walaupun sebenarnya iya. Hermione selalu mengatakan ML, Ron selalu mengatakan 'abc', bahkan Lavender yang paling berani mengatakan 'tingting', alih-alih... 'itu'. Harry mengerang dalam hati. Bahkan di dalam pikirannya sendiri Harry tak bisa mengatakan kata... 'itu'.
Draco nyengir melihat ekspresi Harry. "Nah. Sekarang kau sadar? Gryffindor sepertimu, berani melakukan apapun, kecuali seks. Kau berani mengucapkan nama Pangeran Kegelapan," katanya, mengangkat sebelah alis. "Kau yang mengatakan padaku, ketakukan pada nama akan membuat lebih takut pada orangnya. Sekarang coba ucapkan. Seks."
Wajah Harry merona dahsyat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Dia merasa tak pernah semalu ini seumur hidupnya. Draco mendesah, memberi isyarat untuk Harry mendekat. Harry bangkit, lalu duduk di sebelahnya. Masih menunduk malu.
Draco merangkul pundaknya, dan Harry menyandarkan kepalanya ke bahu cowok itu.
"Yang aku tak mengerti, darimana pikiran itu datang," kata Draco, membelai rambut Harry sayang. "Kita masih baik-baik saja sampai saat sebelum liburan."
Harry mengangkat bahu. "Aku hanya merasa hubungan kita berjalan terlalu lamban..."
"kenapa harus buru-buru?" Kata Draco.
Harry mengangkat bahu lagi. "Hanya bertanya-tanya. Kau bersikap seolah tak tertarik pada... em... tubuhku..." katanya, kembali merasakan rona dahsyat yang rasanya tak berhenti hinggap di wajahnya.
Draco melepaskan pelukannya, menatap Harry kaget. "Are you serious?"
Harry meringis.
"Potter," Draco mendesah panjang. "Oh Potter, Potter, Potter...Aku kadang tak mengerti bagaimana otakmu bekerja." Lalu dia menarik Harry duduk di pangkuannya. Harry baru mau memprotes saat merasakan gundukan keras di bawahnya. Di bagian depan celana Draco.
Draco menghela napas saat melihat ekspresi tegang Harry. "Itu Harry, adalah bukti bahwa aku SANGAT tertarik pada tubuhmu. Kau yang hanya memakai kaus tipis, di kamar berduaan. Kau bahkan tak perlu menyentuhku untuk membuatku 'bangkit.' Hanya duduk di sampingmu, dan kalau kau melihat skenario panjang di otakku soal apa saja yang akan kulakukan padamu..."
"baik, baik, aku mengerti!" Seru Harry, menutup wajahnya. Apakah seseorang bisa mati saking malu nya?
Draco mendengus. "Nah, kuharap tak ada pertanyaan bodoh lagi. Dan jangan bermimpi kita akan melakukan apapun sampai kau sungguh-sungguh siap..."
"dan kau tidak apa-apa?"
"maksudmu?"
"kau tidak merasa keberatan menunggu sampai aku siap? Aku mendengar Angelina cerita bahwa Alicia tertekan karena cowoknya memaksanya..."
Draco mengangkat sebelah alisnya. "Apakah kau menyamakanku dengan pria abal-abal yang tidak terdidik dengan baik dan tertata bangsawan?"
Harry mendengus. Lalu dia memeluk Draco erat, tapi langsung berjengit berdiri saat merasakan 'itu' Draco menekannya kuat. Draco terbahak, wajahnya merona pink, dan dia bangkit untuk berjalan ke kamar mandi. Lagi.
"Aku hanya tak mengerti kenapa kau bisa tidak malu membicarakan hal seperti ini," gumam Harry, mengambil cola untuk meregangkan ototnya yang tegang.
Draco nyengir. "Slytherin, ingat?"
dan Harry hanya Bisa mendesah panjang.
-dhdhdhdh-
shell cottage
Keheningan panjang menyusul cerita paling memalukan sepanjang masa. Hermione tidak menyalahkan Harry yang sama sekali tidak mendongak, menenggelamkan kepalanya di tangannya. Draco tampak sama malunya, walaupun dia tetap duduk tenang, memainkan cangkir teh nya dengan wajah bersemburat pink. Tapi jelas tak ada yang semerah Ron di ruangan itu.
"ibu jelas akan mendengar ini nanti," kata Ron akhirnya, setelah hening panjang mencekam.
"Oh ayolah Ron, itu kan sudah masa lalu! Lagipula lihat siapa yang bicara," kata Harry sebal. Mereka semua tahu bahwa act like a slut adalah hal pertama yang paling di benci Molly di dunia, melebihi bencinya pada Voldemort sendiri. Kalau sampai Molly mendengar soal Harry yang mengajak cowok menginap di umur 13 tahun, bisa dipastikan dialah yang akan menghabisi Harry, bukan Voldemort.
"Aku tak pernah menginap dengan cewek berduaan di umur 13 tahun!" Seru Ron, berdiri, tongkatnya memercikkan api. Harry menciut. "Kau tak pernah bercerita soal 'dia', membuat kami semua berpikir bahwa kau sungguh lugu dan tidak pernah memikirkan percintaan..."
Harry menunduk bersalah.
"ron, sudahlah," kata Hermione, kasihan pada Harry. "Kau yang seperti ini yang membuat Harry tak mau bercerita..."
"MAKSUDMU INI SALAHKU?"
Ganti Hermione yang menciut. Ron sangat serius dalam menjaga wanita-wanita dalam hidupnya. Ibunya, Ginny adiknya, Harry sahabatnya yang sudah seperti adik sendiri, dan Hermione-entah apa yang dia pikirkan soal Hermione.
Ron menatap murka wajah-wajah di depannya satu per satu, dan setelah tak ada lagi yang memprotes, dia mendengus dan menghempaskan diri ke sofanya lagi, menenggak tehnya sampai habis.
"Aku tak bermaksud merahasiakannya," kata Harry akhirnya setelah hening yang menyesakkan. "Hanya saja, entah mengapa lebih mudah jika tak ada yang tahu. Aku takut reaksi kalian akan mempengaruhi hubunganku dengan Draco, aku tahu kalian membenci Draco. Dan kami tidak pacaran resmi sampai kelas 4. Dan saat kelas 4, aku dan Draco ingin memberitahu kalian dan Blaise, sahabat Draco, tapi ternyata Kau-Tahu-Siapa bangkit dan memaksa kami merahasiakan semuanya demi keselamatan Draco..."
Hening panjang lagi. Harry dan Draco bertukar pandang sekilas. Hermione mengernyit karena jika harus ada kontak fisik, inilah saatnya. Harry jelas sedang butuh pelukan kan? Tapi tidak. Draco malah mengambil toples kukis lagi, dan mulai makan.
"Aku tak mengerti apa yang membuatmu bisa berpikir soal... soal..." wajah Ron merona. Rupanya Gryffindor sungguh tak bisa melafalkan kata 'itu'. "ABC itu!"
Dengusan Draco dia samarkan dengan batuk keras. Harry dan Ron memelototinya dengan wajah merah.
"Mungkin karena Lavender," kata Hermione. "Benar?"
"kenapa Lavender?"
"Dia selalu membuaka sesi curhat soal cowok saat hari pertama masuk sekolah. Saat kelas 3 juga ya..."
Harry meringis. "Yaah, mau tak mau kadang kepikiran juga," katanya bersalah.
"jadi kau dan Malfoy tidak bertemu lagi sampai September? Ataukah kalian sekamar berdua sampai September?" Sindir Ron tajam.
Harry cemberut. "Draco hanya menginap semalam Ron, dia harus pulang pagi-pagi karena ternyata ibunya memanggilnya lewat Floo..."
"dan aku berlibur ke rumah kakekku di Paris sampai hari terakhir liburan. Saat itu kupikir akan mengunjungi Harry sebelum masuk sekolah. Tapi ternyata dia malah berasyik main mata dengan cowok lain..." geram Draco.
Harry memutar bola matanya. "Untuk terakhir kalinya, aku tidak main mata dengan siapapun!"
-dhdhdhdh-
bersambung
gimana chapter ini? Masihkah penasaran?
terimakasih yang sudah review, membuat semangat melanjutkan hehe
