Sakura terbangun pukul empat pagi dengan tubuh yang terasa segar. Ini sungguh aneh, tak biasanya ia merasa begitu segar seperti hari ini. Seminggu menjelang berulang tahun ke tujuh belas, mendadak ia megalami sakit setiap malam hari dan baru akan sembuh dengan sendirinya pada pagi hari.

Ia bahkan sempat mengeluh pada orang tua nya dan meminta untuk pergi ke dokter. Namun ayah nya mengatakan jika itu adalah proses yang biasa dan ia akan sembuh setelah berulang tahun ke tujuh belas.

Sakura segera menyentuh layar ponsel nya dan tersadar jika hari ini adalah hari ulang tahun nya yang ke tujuh belas. Dalam hati, ia merasa was-was jika ucapan ayah nya akan menjadi kenyataan. Sejak berbulan-bulan lalu, ia berkunjung ke kuil setiap minggu dan berdoa cara Kristen setiap malam menjelang tidur agar ucapan ayah nya tidak menjadi kenyataan.

Sakura memutuskan untuk menuruni tangga dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Semalam ia lupa untuk membawa minuman ke kamar nya dan saat ini ia berjalan menuruni tangga.

Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju dapur serta membuka lemari untuk mengambil gelas. Namun ia terbelalak saat menyadari ia tidak sendirian di dapur. Terdapat sesosok wanita tua berkimono yang sedang menatap nya di dekat tempat cuci piring.

'Siapa orang itu? Aku pasti sedang berhalusinasi akibat kurang tidur belakangan ini' batin Sakura sambil mengalihkan pandangan dan mengambil gelas serta mengisinya dengan air dingin di dispenser.

Sakura berusaha untuk tak mempedulikan apa yang dilihatnya dan berjalan kembali ke kamar. Ia masih tak percaya jika apa yang dilihatnya adalah mahluk halus dan memutuskan untuk tak memikirkannya.

Namun pemandangan tak kalah mengejutkan terlihat ketika ia membuka pintu kamar nya dan membuat ia menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya serta menimbulkan suara keras. Pen yang terletak di atas meja nya bergerak dan terdapat seorang lelaki muda dengan rambut hitam yang terikat sedang menatapnya serta tersenyum. Lelaki yang entah berasal darimana itu duduk dengan santai di kursi dan memakai meja belajar Sakura seenaknya.

"Siapa kau?! Kau ingin mencuri di rumah ini?!" teriak Sakura dengan suara keras.

"Mencuri? Aku datang kesini hampir setiap hari dan tak pernah mencuri apapun," ucap lelaki itu sambil menyeringai tipis.

Tanpa mempedulikan ucapan lelaki itu, Sakura segera mengambil pecahan kaca dan melemparkannya ke tubuh lelaki itu. Namun pecahan kaca itu malah menembus tubuh lelaki itu dan membentur dinding, membuat Sakura semakin terkejut.

"Sudah kubilang aku bukan pencuri, Sakura," jawab lelaki itu dengan ekspresi datar.

Sakura mengernyitkan dahi menyadari lelaki itu bahkan mengetahui nama nya dan pecahan kaca yang dilemparkannya menembus lelaki itu.

'Aku pasti hanya terlalu lelah. Aku tidak mungkin gila, kan?' batin Sakura.

Sakura segera berjalan menuruni tangga dan berusaha mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan kaca. Beruntunglah orang tua nya tidak terbangun sehingga ia tak perlu merasa bersalah telah membangunkan mereka.

Kini Sakura mulai khawatir jika ucapan ayah nya memang benar. Ia tak yakin jika dirinya sudah gila. Ia tak merasa depresi dan merasa tak memiliki masalah apapun saat ini.

Sakura segera menaiki tangga dan membersihkan pecahan kaca serta mengintip ke kamar nya. Ia merasa lega ketika tak mendapati sosok lelaki berambut hitam itu di kamar nya.

Dengan cepat Sakura membersihkan pecahan kaca itu dan menuruni tangga serta kembali ke dapur untuk membuang sampah serta mengembalikan sapu dan pengki ke tempat semula.

Namun ia merasa terkejut saat masih mendapati sosok wanita tua berkimono di dapur yang kini malah tersenyum padanya.

Sakura segera berlari dengan cepat meninggalkan dapur dan kembali ke kamar nya. Dengan nafas terengah-engah, ia menutup pintu dan bersandar di pintu. Ia merasa ingin menangis seketika, ia benar-benar takut jika ia akan menjadi gila.

Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan untuk menenangkan diri. Ia berjalan menuju meja belajar nya dan mendapati sebuah kertas HVS bertuliskan 'Otanjoubi Omedetto, Sakura' yang ditulis dengan sangat indah serta dihias.

Dalam hati Sakura merasa ngeri, namun ia tetap mengagumi tulisan indah di kertas itu. Jika diperhatikan, tulisan itu terlihat sama dengan tulisan yang selama ini ditujukan untuk nya dan bertanya-tanya jika lelaki yang tadi dilihatnya benar-benar nyata atau halusinasi.

.

.

"Sasuke, bangunlah," ujar Itachi sambil berusaha menarik guling yang sedang dipeluk Sasuke.

"Mmmhm…" gumam Sasuke dengan mata terpejam. Ia benar-benar tertidur lelap dan tak mendengarkan apapun yang diucapkan Itachi.

Sambil tersenyum tipis, Itachi mengerakkan tangan dan mencoba mencubit pipi Sasuke. Menurutnya, Sasuke terlihat paling manis ketika sedang tertidur. Namun ketika jari nya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sasuke, ia segera menarik tangan nya dan tersadar jika ia tak bisa mencubit pipi Sasuke.

Itachi merasa bosan dan sebetulnya berniat membangunkan Sasuke. Namun ia tak sampai hati menganggu tidur Sasuke dan memilih melihat-lihat barang-barang di kamar Sasuke. Tak ada satupun barang baru yang dimiliki Sasuke dan tak ada benda apapun yang menarik perhatian. Berbeda dengan dirinya, Sasuke bahkan tak tertarik dengan komik, majalah atau apapun.

Sebuah ide jahil muncul di benak Itachi dan ia segera meraih ponsel Sasuke yang terletak diatas nakas serta menyalakan ponsel itu. Terdapat pin dan Itachi segera memasukkan pin Sasuke yang diketahuinya berkat mengamati Sasuke saat sedang menyalakan ponsel.

Ponsel Sasuke menyala dan Itachi segera menekan tombol sosial media serta mencari nama Sakura di daftar kontak Sasuke. Ia menyeringai saat melirik Sasuke yang masih tertidur serta mulai mengetik pesan pada Sakura.


To : Sakura

Otanjoubi omedetto, Sakura-chan

Daisuki desu


Itachi tertawa ketika ia telah selesai mengirimkan pesan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sasuke nantinya dan ia segera mengecek folder di ponsel Sasuke, membayangkan ia akan menemukan sesuatu yang menarik.

"Membosankan sekali," gumam Itachi sambil mendesah saat menyadari tak ada apapun di ponsel Sasuke. Bahkan tak ada foto di ponsel Sasuke selain foto partitur lagu dan beberapa lagu di ponsel nya. Tak seperti lelaki pada umum nya, ponsel Sasuke bebas dari gambar maupun video porno.

'Otouto ku masih normal, kan?' batin Itachi sambil melirik history pencarian Sasuke dan tak menemukan satupun hal yang berkaitan dengan pornografi.

"Apa yang kau lakukan dengan ponselku, hn?"

Seketika Itachi terkejut dan menatap kearah Sasuke yang entah sejak kapan sudah terbangun dan kini sedang menatapnya dengan tajam.

"Ponselmu berbunyi terus menerus dan aku mengecek pesan masuk. Ternyata itu grup kelas mu," ujar Itachi dengan alibi yang terdengar masuk akal.

Sasuke menatap Itachi dengan tajam dan berkata, "Tidak usah berusaha menipuku, Itachi-nii. Aku selalu mematikan ponsel sebelum tidur."

Sasuke menekan tombol aplikasi chatting dan menyadari jika hanya ada sedikit notifikasi di grup kelas nya. Biasanya terdapat puluhan dan terkadang ratusan notifikasi di grup kelas nya setiap hari dan Sasuke terkadang membaca pesan-pesan itu jika dirasa penting.

"Oh ya, kau tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Sakura-chan?"

Sasuke tak menjawab dan ia segera menyentuh ponsel nya. Namun sebelum ia sempat mengirimkan pesan pada Sakura, terdapat sebuah pesan masuk dari gadis itu dan Sasuke segera membaca nya.


From : Sakura

Arigatou, Sasuke-san.

Namun apa maksudmu dengan pernyataan cinta mendadak?


Sasuke segera membaca pesan berisi ucapan selamat ulang tahun dan pernyataan cinta yang tak dikirimkannya dan segera melirik Itachi dengan tajam.

"Apa maksudmu, Itachi-nii?" ucap Sasuke sambil menatap tajam.

"Membantumu mengucapkan selamat ulang tahun pada Sakura-chan."

"Daisuki desu," gumam Sasuke sambil tetap menatap Itachi dengan tajam, "Kau tahu apa artinya, hn?"

"Tentu saja. Aku hanya menjahilimu sedikit, baka otouto."

"Bisakah kau berhenti menganggu ku?" tanya Sasuke dengan sinis serta menatap dengan tajam, membuat Itachi merasa sangat kaget dengan reaksi Sasuke.

Sasuke tak mengacuhkan Itachi yang masih tampak terkejut dan segera mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan. Ia menimbang-nimbang untuk memberitahu Sakura mengenai perbuatan Itachi atau tidak.

"Tadi aku sudah bertemu dengan Sakura. Dan ia sudah melihatku."

Ucapan Itachi begitu menarik hingga membuat Sasuke mengalihkan pandangan dari ponsel nya.

"Benar-benar melihatmu? Bagaimana reaksi nya?"

"Hn. Dia sangat terkejut dan mengira aku adalah pencuri, lalu dia melemparkan gelas yang dipegangnya padaku. Lalu ia juga bertemu dengan wanita tua penjaga rumah nya dan benar-benar ketakutan."

"Jangan dilebih-lebihkan," ucap Sasuke sambil menatap iris onyx roh lelaki dihadapan nya.

Tatapan dan ekspresi wajah Itachi berubah menjadi lebih serius dan ia menatap Sasuke lekat-lekat, "Aku serius."

"Aku benar-benar tidak percaya," dengus Sasuke.

"Coba tanyakan saja pada Sakura."

"Bukan urusanku," ujar Sasuke sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari nya.

"Kau yakin akan membiarkannya sendirian, Sasuke? Bagaimana jika ia ketakutan dan mencelakai dirinya sendiri?"

Sasuke bergidik ngeri saat mendengar kata 'celaka'. Ia kembali teringat akan kejadian beberapa tahun lalu yang membuatnya mimpi buruk hampir setiap hari. Namun Sasuke berusaha keras menyembunyikan ekspresi wajah nya yang agak pucat.

"Ayah gadis itu bisa menjaganya. Jadi, itu bukan urusanku."

"Bukankah kau yang lebih sering bertemu dengan nya, Sasuke? Setidaknya kalian bertemu di sekolah, kan?"

"Hn."

"Kau tidak khawatir padanya?"

Sasuke tak menampik jika ia merasa khawatir setelah mendengar cerita Itachi mengenai Sakura. Namun ia memutuskan untuk tak menampilkan kepeduliannya secara eksplisit.

"Kalau kau mau, temani saja gadis itu," ujar Sasuke sambil memilih pakaian yang akan dikenakan nya di dalam lemari. "Aku akan membantunya jika ia memerlukan bantuan."

"Hn? Kau tidak ingin bersamaku lagi, Sasuke?"

"Lebih baik jika kau pergi sejauh mungkin," jawab Sasuke dengan jengkel sambil berjalan ke kamar mandi. Sebelum Sasuke menutup pintu, ia segera menjulurkan kepala nya dari sela pintu pada Itachi yang hendak mengikuti Sasuke.

"Jangan mengikutiku, baka."

Itachi menurut dan segera menjauh dari pintu kamar mandi. Ia berharap agar Sasuke dapat berubah menjadi lebih baik dan membuatnya tenang ketika ia harus meninggalkan Sasuke suatu saat nanti.

.

.

"Otanjoubi omedetto, forehead!" ucap Ino sambil bangkit berdiri dan memeluk Sakura erat-erat.

Sakura tersenyum dan membalas pelukan Ino dengan sangat erat, "Terima kasih telah datang ke acara makan-makan ini."

Ino tersenyum dan segera duduk di samping Sakura. Sebagai perayaan ulang tahun ke tujuh belas, Ino mengundang sepuluh teman nya untuk makan-makan di sebuah restaurant.

"Forehead, kau benar-benar mengundang Sasuke, kan?" tanya Ino sambil menatap beberapa kursi yang masih terlihat kosong.

Wajah Karin terlihat agak jengkel, begitupun dengan Shikamaru dan Neji yang terlihat tidak senang.

"Mana mungkin. Kau tidak mendengarkan saran konyol dari Ino, kan, Sakura?" ujar Karin dengan kekesalan yang tersirat dibalik nada suara nya.

"Aku… mengundangnya, sih. Terpaksa, soalnya orang tua ku juga menyuruhnya," ujar Sakura dengan ekspresi masam yang dibuat-buat agar tak terkesan aneh jika ia bersikap biasa saja pada Sasuke.

"Orang tua mu? Memang nya orang tua mu mengenal 'orang itu'?" tanya Shikamaru dengan mata terbuka dan menatap Sakura dengan antusias.

"Begitulah, mereka rekan bisnis."

Shikamaru dan Karin tampak tidak nyaman, seolah ingin segera meninggalkan restaurant itu dan membuat Sakura jadi merasa tidak enak. Naruto yang sedang berbicara dengan Neji segera menyadari reaksi Shikamaru dan Karin serta berkata, "Kalian ini kenapa, sih? Biarkan sajalah, makan semeja bersama nya tidak berarti kalian akan mati, kan? Perlakuan kalian jahat sekali, tahu."

Karin segera menggelengkan kepala. Ia tidak setuju dengan ucapan Naruto, begitupun dengan Shikamaru.

"Memang tidak akan mati. Namun rasanya memalukan terlihat bersama dengan orang aneh seperti itu. Siapa yang bisa menjamin jika ia tidak akan membuat keributan di restaurant, huh?"

Shikamaru menghela nafas panjang dan memejamkan mata nya , "Sudahlah. Setidaknya hargai Sakura yang telah mengundang kita. Berharap saja semoga dia tidak datang."

"Yah… aku juga sangat berharap seperti itu," dengus Karin yang diikuti dengan anggukan oleh Sakura.

Pintu restaurant terbuka dan mereka semua segera menatap kearah pintu. Karin menghela nafas lega ketika menyadari Tenten datang bersama Hinata dengan membawa dua kantung kertas.

Tenten dan Hinata menemukan meja Sakura dengan mudah dan segera menghampiri meja Sakura dengan cepat. Terdapat dua kursi kosong di sebelah Naruto dan Hinata serta Tenten segera duduk di kursi itu.

"Otanjoubi omedetto, ini hadiah dariku," ucap Tenten sambil tersenyum dan memberikan kantung kertas yang dipegangnya.

"Arigatou, Tenten."

"Umm.. ini hadiah dariku," Hinata menyerahkan kantung kertas yang dipegang nya. "Otanjoubi omedetto, Sakura-chan."

"Arigatou, Hinata-chan," jawab Sakura sambil memeluk Hinata. "Aku sudah memesan enam loyang pizza dan beberapa porsi appetizer. Pesan saja minuman yang kalian inginkan. Tambah saja makanan nya jika kurang."

Hinata segera mengangkat tangan dan memanggil pelayan untuk memesan minum. Tenten segera melirik tiga bangku yang masih kosong dan segera berkata, "Lho? Masih ada yang belum datang?"

"Ya. Kiba dan Chouji masih dalam perjalanan katanya, mungkin teme juga."

Tenten segera melirik Ino dan Ino berpura-pura menatap layar ponsel nya.

"Kau pasti menyuruh Sakura mengundang orang itu kan, Ino?" keluh Tenten dengan jengkel.

"Memang. Namun aku tidak memaksanya untuk melakukannya, kok."

Sakura menghela nafas mendengar ucapan Tenten. Ia merasa benar-benar tidak enak telah mengundang Sasuke. Ia menyesal telah mendengarkan Ino untuk mengundang Sasuke dengan iming-iming perjanjian yang dipotong seluruhnya jika Sasuke datang.

"Gomenasai, minna-san. Pig mengatakan akan memotong seluruh perjanjianku jika aku mengundang Sasuke dan dia datang. Orang tua ku juga memaksaku mengundangnya ketika tahu aku akan mengadakan acara makan-makan. Kumohon, kali ini bantulah aku," ucap Sakura dengan nada memelas.

Neji dan Shikamaru menganggukan kepala meskipun terdapat keenganan yang terlihat jelas di raut wajah mereka. Karin berdecak dan berkata, "Baiklah. Setidaknya kali ini saja, kan?"

"Dia… datang," gumam Tenten sambil melirik kearah pintu dengan ekor mata.

Ino segera menoleh kearah pintu dan ia terbelalak mendapati sosok Sasuke yang kini memasuki restaurant serta berjalan kearah mereka. Penampilan lelaki itu tak seperti dugaan nya, pakaian lelaki itu mengikuti mode terkini dan ia terlihat normal.

"Yo, teme!" sapa Naruto sambil menepuk kursi disamping nya yang tepat berhadapan dengan Sakura.

Sasuke segera duduk dan menyerahkan sebuah kantung kertas pada Sakura, "Otanjobi omedetto, Sakura."

Sakura menerima kantung kertas itu dan berusaha bersikap biasa saja, "Arigatou gozaimasu, Sasuke-san."

Beberapa pasang mata seketika melirik Sakura dan membuat Sakura meneguk ludah. Ia lupa jika ia seharusnya memanggil Sasuke dengan sebutan 'Uchiha-san' saja.

"Hn."

Sakura segera meletakkan kantung kertas itu di lantai dan diam-diam ia melirik isi kantung kertas itu. Terdapat sebuah kotak berbentuk persegi panjang yang dilapisi dengan kain beludru hitam dan membuatnya bertanya-tanya dengan isi kotak itu.

Ino melirik Sakura dan menyeringai, kemudian ia segera berbisik, "Hari ini hari terakhirmu bersama Sasuke, lho. Kalian berdua sebetulnya tampak serasi."

Sakura mendengus dan seketika menatap Ino dengan tajam, "Tak adakah lelaki yang lebih baik, huh?"

Ino terkekeh. Menurutnya, sebetulnya Sasuke adalah lelaki yang menawan dengan ketampanan dan keindahan tubuh nya. Kekayaan lelaki itu juga dapat membuat para wanita tertarik padanya jika ia tak memiliki sikap yang aneh.

"Ada. Chouji lebih baik dari nya," goda Ino dan membuat Sakura mengerucutkan bibir dengan jengkel.

Sakura melirik kearah Sasuke dan raut wajah lelaki itu tetap datar. Tak terlihat jika lelaki itu merasa tidak nyaman dan ia bersikap biasa saja, seolah tak menyadari jika orang di sekeliling nya merasa sangat tidak nyaman akibat kehadiran nya.

Sedikit rasa kasihan pada Sasuke muncul dalam hati Sakura. Ia menatap Sasuke dan dalam hati berharap agar lelaki itu dapat bertahan hingga acara makan siang selesai.

.

.

Acara makan siang telah selesai dan kini hampir semua tamu telah pulang, kecuali Naruto dan Sasuke. Entah bagaimana, setelah makan siang reaksi para gadis terhadap Sasuke mulai berbeda. Mereka mulai sesekali mencuri pandang kearahnya dan cepat-cepat membuang muka ketika salah satu dari mereka menyadari jika teman nya sedang menatap Sasuke.

Sakura dengan sengaja mengirim pesan pada Sasuke dan meminta agar lelaki itu pulang belakangan dan lelaki itu menurutinya.

"Hey, teme, Sakura, aku pulang dulu, ya."

"Jaa ne"

"Selamat berkencan, teme."

"Kami tidak berkencan, dobe."

"Yah, selamat bersenang-senang, ya," ucap Naruto sambil menatap Sakura lekat-lekat seolah memperingatinya agar tak bersikap kasar pada Sasuke.

Naruto melambaikan tangan dan berjalan kearah pintu keluar restaurant. Sakura segera menatap Sasuke dan memulai percakapan, "Maaf memintamu pulang lebih akhir. Namun aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Hn."

"Aku takut, Sasuke-san," Sakura menundukkan kepala dengan wajah muram. "Tadi pagi, kukira aku sedang berhalusinasi. Aku melihat sosok nenek di dapur rumah ku dan sosok lelaki berambut hitam aneh di kamar ku. Namun sosok lelaki di kamar ku malah menuliskan sesuatu di kertas ini."

Sakura membuka tas nya dan memperlihatkan sebuah kertas bertuliskan ucapan selamat ulang tahun yang ditulis dengan indah. Sasuke melirik kertas itu dan ia langsung mengenali pemilik tulisan itu dengan mudah.

"Sosok lelaki itu berambut hitam panjang dan diikat, hn? Lalu wajah nya keriput meskipun penampilan nya terlihat masih seusia kita?"

"Ya! Kau benar. Bagaimana kau bisa tahu seperti apa sosok mahluk itu, Sasuke-san?"

Sasuke menatap sekeliling dan berkata dengan suara pelan, "Dia aniki ku."

Sakura membelalakan mata nya, jika saja ia tak melihat sendiri kertas yang ditinggalkan sosok lelaki itu, ia tidak akan percaya jika sosok itu nyata, bukan hanya sekadar khayalan.

"Eh? Bukankah kau bilang dia sudah meninggal? Bagaimana mungkin dia masih meninggalkan kertas di kamar ku?"

"Roh nya masih mengikutiku," ujar Sasuke dengan tenang, "Dan dia bahkan menggunakan ponsel ku tadi pagi untuk mengirimkan pesan padamu."

Sakura menggelengkan kepala. Ia masih tak bisa percaya dengan ucapan Sasuke yang terdengar tak masuk akal.

"Ini benar-benar gila," gumam Sakura dengan kepala tertunduk. Ia melihat ke belakang Sasuke dan mendapati bayangan lelaki yang tidak begitu jelas.

Sakura merasa hampir menangis membayangkan kehidupan nya yang akan berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tak tahan membayangkan harus berurusan dengan mahluk-mahluk yang ditakutinya dan kemungkinan besar akan menjadi orang aneh seperti Sasuke.

Sakura tak dapat menahan diri dan kini air mata telah mengalir dari iris emerald nya yang berkaca-kaca dan membuat Sasuke merasa heran.

"Kau baik-baik saja?" ucap Sasuke dengan heran.

"Tidak," ucap Sakura dengan kepala tertunduk dan ia segera mengusap air mata nya. "Aku benar-benar takut, Sasuke-san."

"Kau akan baik-baik saja," ujar Sasuke seraya menyerahkan tisu pada Sakura dan melirik Itachi yang sejak tadi mendesak nya untuk bersikap lebih baik pada seorang gadis yang sedang menangis.

Sakura menerima tisu itu dan segera mengusap air mata nya yang telah membasahi wajah nya. Ia menundukkan kepala dan berusaha menahan agar tak terisak dan mempermalukan dirinya.

"Sasuke, cepat peluk Sakura," desak Itachi pada Sasuke yang menatapnya dengan tajam.

"Tidak akan," gumam Sasuke dengan pelan.

"Kau tidak ingin mendengarkanku, baka otouto?"

Sasuke berdecak dan ia hampir mengulurkan tangan dengan terpaksa. Namun Sakura telah terlebih dahulu memeluknya dengan erat dan berkata dengan suara pelan di sela tangis nya, "Biarkan aku memelukmu sebentar."

Sasuke mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti mengapa Sakura tiba-tiba memeluknya tanpa alasan yang jelas. Namun ia segera membalas pelukan Sakura dan menepuk kepala gadis itu dengan pelan. Ia hanya terdiam dan membiarkan gadis itu menangis di dalam dekapan nya, ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya. Namun ia tak merasa risih sama sekali.

.

.

Sakura berpikir sambil menopang dagu dan memejamkan mata. Ia mencoba memikirkan alasan paling masuk akal setelah apa yang dilakukannya pada Sasuke di restaurant. Ia bersyukur saat ini masih liburan sehingga ia tidak perlu segera bertemu Sasuke. Jika mereka tidak sekelas, ia bisa menghindari lelaki itu.

Saat makan siang, Sakura benar-benar ketakutan dan ia khawatir dengan kehidupan nya yang akan berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menginginkan sentuhan dan tanpa sadar malah memeluk Sasuke yang saat itu paling dekat dengan nya.

Kini ia merasa benar-benar malu telah bersikap murahan. Namun di saat yang sama ia bertanya-tanya dengan alasan Sasuke yang membiarkannya memeluk lelaki itu. Ia sangat yakin jika Sasuke adalah tipe orang anti sosial yang tak akan membiarkan dirinya disentuh secara sembarangan.

Sakura telah meminta maaf karena telah seenaknya memeluk Sasuke dan lelaki itu memaafkannya. Namun ia masih merasa tidak enak pada lelaki itu dan ia kini mengeluarkan ponsel nya untuk mengetikkan pesan.


To : Sasuke

Aku masih merasa tidak enak, maafkan aku soal yang tadi, ya. Tolong jangan katakan pada siapapun, aku malu sekali. Tadi aku benar-benar takut dan khawatir.


Tak sampai lima menit kemudian terdapat pesan balasan dan Sakura segera membaca pesan itu.


From : Sasuke

Ya.


Sakura merasa tidak enak dengan balasan dari Sasuke yang sangat singkat, namun ia telah terbiasa dengan hal itu setiap kali saling mengirim pesan dengan lelaki itu.


To : Sasuke

Arigatou gozaimasu. Omong-omong terima kasih telah membantuku menjalankan perjanjian dengan Ino. Untung saja hari ini kau datang sehingga perjanjian berakhir.


Sakura berpikir sejenak sebelum ia mengirimkan pesan pada Sasuke. Ia berpikir untuk meminta bantuan pada Sasuke berkaitan dengan kemampuan baru nya, namun ia merasa terlalu malu dan segera mengurungkan niat nya.


From : Sasuke

Ya. Hubungi aku jika aniki ku datang dan mengacau di tempatmu lagi.


To : Sasuke

Ok.


Sakura merasa agak lega dengan reaksi Sasuke. Entah kenapa ia merasa nyaman dengan lelaki itu dan berharap agar lelaki itu bisa membantunya jika ia mengalami masalah yang berkaitan dengan kemampuan baru nya suatu saat nanti.

-TBC-