AUTUMN IN PARIS – KYUMIN VERSION
Cast :
Lee Sungmin as Sungmin Dupont / Lee Sungmin
Cho Kyuhyun as Kyuhyun
and
Other Characters
Warning : Typo(s) - GS - OC
Lee Sungmin adalah milik Cho Kyuhyun, dan Cho Kyuhyun adalah selingkuhan saya
Ini adalah FF Remake dari novel Tetralogi 4 Musim karya ILLANA TAN. Ada sedikit Perubahan latar belakang untuk penyesuaian cast-nya.
sekali lagi, ini bukan karya asli author. saya cuma ngedit dan publish ulang..!
Selamat Membaca :D
CHAPTER 8
Amplop tipis di tangannya ini terasa berat. Rasanya begitu berat sampai Kyuhyun harus memegangnya dengan kedua tangan. Apakah ia sudah siap membuka amplop itu?
Kyuhyun berjalan ke taman di samping rumah sakit, duduk di bangku kayu yang pernah didudukinya pada hari ia menjalani tes DNA.
Mungkin seharusnya ia menelepon Jean-Daniel Dupont. Pria itu pasti juga khawatir.
Tidak... Kyuhyun ingin memastikan sendiri terlebih dahulu.
Dengan tangan yang agak gemetar, ia merobek amplop putih itu dan mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi. Matanya mulai membaca tulisan di kertas itu. Semakin ia membaca, pelipisnya semakin berdenyut-denyut.
Tidak... Tidak...
Begitu selesai membaca, kedua tangannya terkulai lemas dan ia memejamkan mata erat-erat. Napasnya berat dan terputus-putus. Dunianya mendadak gelap dan runtuh di depan matanya.
Harapan terakhirnya... Satu-satunya harapan yang dimilikinya hilang sudah.
Ia, Cho Kyuhyun, memang anak kandung Jean-Daniel Dupont.
* *AUTUMN IN PARIS * *
"Allo!"
Sebastien mengangkat wajah dari kertas-kertas yang berserakan di meja dan melihat Sungmin mengintip dari celah pintu kantornya yang terbuka.
"Sungmin!" serunya gembira. "Tumben kau datang ke kantorku. Ayo, masuk saja."
Sungmin menghampiri Sebastien dengan senyum lebar. "Apa kabar, Sebastien?"
Sebastien bangkit dan merangkul Sungmin. "Tadinya capek setengah mati, tapi begitu melihatmu datang semangatku langsung naik," katanya.
Sungmin mendengus dan tertawa. "Simpan saja rayuanmu untuk gadis lain."
Sebastien kembali duduk di kursi. "Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?"
Sungmin memandang berkeliling. Kantor Sebastien punya nasib yang sama dengan apartemen Sungmin. Berantakan.
"Sebenarnya aku datang untuk menemui Kyuhyun," sahut Sungmin ringan.
Sebastien langsung memejamkan mata dan memasang raut wajah terluka. "Aduh, harga diriku... Kukira kau datang untuk menemuiku."
Sungmin mendorong bahu Sebastien dengan main-main. "Yah, karena aku tidak berhasil menemuinya, aku datang ke tempatmu. Kau tahu ke mana perginya?""
Sebastien mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin mengunjungi lokasi proyek." Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, "Akhir-akhir ini dia agak aneh. Sepanjang hari bekerja tanpa henti. Kalaupun berhenti, dia hanya melamun. Tapi setelah itu dia sibuk lagi."
Sungmin mengerjapkan mata. Ia tidak salah. Kyuhyun memang agak aneh belakangan ini. Ternyata Sebastien juga merasakannya.
"Kau tau ada apa dengannya?" tanya Sebastien.
Sungmin menggeleng. Ia justru berharap Sebastien bisa menawarkan penjelasan untuk pertanyaan itu. "Aku pernah bertanya, tapi katanya dia hanya capek bekerja," sahut Sungmin seadanya. Ia
menatap Sebastien dengan mata disipitkan. "Itu salahmu," gerutunya. "Kenapa membiarkannya bekerja terus tanpa henti?"
Sebastien mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Wah, itu bukan salahku. Bukan aku yang memaksanya bekerja. Dia sendiri yang ingin melakukannya." Sebastien memiringkan kepala. "Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya, makanya dia harus bekerja sebagai pelampiasan. Itu teoriku."
Sungmin mengembuskan napas panjang. "Begitukah?"
Sebastien mengangkat bahu, lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, kenapa kau mencarinya?"
Sungmin ikut mengangkat bahu karena merasa alasannya sederhana saja. "Hanya ingin mengajaknya makan siang."
Sebastien bisa melihat kekecewaan Sungmin. Perasaan gadis itu mudah ditebak. Lee Sungmin bukan orang yang bisa menutupi perasaannya.
"Karena Kyuhyun tidak ada, bagaimana kalau aku saja yang menggantikannya?" Sebastien menawarkan.
Alis Sungmin terangkat. "Kau tidak sibuk?"
Sebastien menatap tumpukan kertas dan map di meja kerja, lalu menggeleng dengan yakin. "Karena kau sangat membutuhkan sahabatmu ini, aku bisa menyisihkan sedikit waktu," guraunya.
"Kau tidak ada janji dengan pacar barumu?" selidik Sungmin.
"Tidak ada pacar."
"Yang kemarin itu?" desak Sungmin. "Yang namanya Julia atau apa itu."
"Juliette? Hah! Aku sudah dicampakkannya," kata Sebastien ringan.
"Dicampakkan? Kau?"
Sebastien mengibaskan tangan dan tersenyum masam. "Tidak penting sama sekali, tapi akan kuceritakan nanti. Janji. Aku masih ingat kau orang yang gampang penasaran," katanya cepat. "Sekarang kau ingin makan apa? Kita pesan saja dan minta diantarkan ke sini. Kau tidak keberatan, bukan, kalau kita makan di sini saja?"
"Baiklah," kata Sungmin sambil memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. "Dan, Sebastien, aku mau jajangmyeon!"
"Bistro itu jauh, ma chérie," desah Sebastien.
Sungmin mengangkat bahu. "Lalu kau mau makan apa?"
Sebastien baru saja meraih gagang telepon untuk menelepon rumah makan Prancis kesukaannya ketika ia teringat sesuatu. Ia menatap Sungmin dan bertanya, "Ngomong-ngomong, apakah kau tahu hari ini hari ulang tahun Kyuhyun?"
* *AUTUMN IN PARIS * *
Kyuhyun menghentikan langkah ketika melewati ruang kerja Sebastien yang pintunya setengah terbuka. Dari celah pintu ia melihat Sebastien sedang duduk di kursinya sambil tertawa. Bukan Sebastien Giraudeau yang membuat langkahnya berhenti, tapi gadis yang duduk dihadapannya. Lee Sungmin sedang bercerita dengan gembira. Tangan kanannya yang memegang garpu bergerak-gerak dengan ekspresif.
Kyuhyun tidak bisa mendengar tepatnya apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu, hanya bisa mendengar suara tawa mereka. Tangannya baru terangkat akan mendorong pintu itu ketika tiba-tiba ia mengurungkan niat. Matanya terpaku pada tangannya yang terangkat. Tangan itu masih mencengkeram kertas yang memuat hasil tes DNA yang baru diterimanya tadi pagi.
Selama beberapa detik tadi ia sempat melupakan hasil tes itu, tapi sekarang ia diingatkan lagi kepada mimpi buruk yang mendadak menjadi kenyataan ini.
Tidak, sekarang ini ia tidak sanggup menghadapi Lee Sungmin. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia masih belum memutuskan apa-apa.
Ia menurunkan tangan dengan perlahan dan tanpa suara ia pun membalikkan tubuh dan berlalu.
* *AUTUMN IN PARIS * *
"Allô, Teman. Dari mana saja kau seharian ini?"
Kyuhyun menoleh dan mendapati Sebastien sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Oh, halo, Sebastien," balasnya pelan. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah Sungmin sudah pulang.
"Dari mana saja kau seharian ini?" ulang Sebastien.
Kyuhyun terdiam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati, "Ada sedikit urusan."
Sebastien mengangguk-angguk, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin menyadari keengganan Kyuhyun. Sebagai gantinya ia berkata, "Tadi Sungmin datang ke sini."
Kyuhyun mengangguk, tapi pandangannya menerawang. Ia sudah melihat Sungmin tadi dan sekarang ia sangat merindukan gadis itu. Perasaan ini membuatnya amat sangat tertekan.
Sebastien memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Hm? Kau tahu?"
Kyuhyun mengangguk lagi. Kali ini ia menatap Sebastien untuk menegaskan. "Tadi aku melihatnya di ruang kerjamu," sahutnya, berusaha mengendalikan suaranya tetap tenang dan datar.
"Lho? Lalu kenapa kau tidak masuk saja dan bergabung dengan kami?" tanya Sebastien heran.
Kyuhyun tersenyum tipis. "Kalian sedang mengobrol. Aku tidak ingin mengganggu."
Bukan, itu alasan yang lemah dan dibuat-buat. Kenyataannya adalah ia hanya tidak sanggup bertemu muka dengan Lee Sungmin.
Sebastien menarik sebuah kursi dan duduk. Wajahnya terlihat serius. "Hei, Teman," katanya dengan nada bersungguh-sungguh. "Kuharap kau tidak salah paham dengan apa yang kaulihat tadi."
Kyuhyun memandang Sebastien tidak mengerti.
"Tadi Sungmin datang untuk menemuimu. Karena kau tidak ada, aku menemaninya makan siang," jelas Sebastien.
Kyuhyun tersenyum. "Aku tahu, Sebastien. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal itu."
Mereka berdua terdiam. Kyuhyun memandang ke luar jendela, tapi tidak benar-benar memerhatikan sesuatu. Pandangannya kosong. Ia berharap pikirannya juga bisa kosong, tidak serumit sekarang.
"Kau tahu, kau terlihat agak aneh belakangan ini."
Kyuhyun kembali menoleh menatap Sebastien dengan alis terangkat. "Aneh?" tanyanya. Tidak, ia tidak aneh seperti yang dikatakan Sebastien. Hanya saja dunianya runtuh dan ia terjebak di dalamnya. Sekarang ini ia sedang mencari jalan keluar dari kekacauan itu.
"Ada apa?" tanya Sebastien. "Ada masalah apa? Ada yang bisa kubantu?"
Kyuhyun menghela napas. Ia tidak bisa menceritakannya. "Tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum untuk meyakinkan Sebastien. Dan dirinya sendiri.
"Sungmin juga mencemaskan dirimu," tambah Sebastien. Ia mengamati reaksi Kyuhyun.
Kyuhyun menunduk, lalu mengangguk-angguk pelan. "Aku hanya capek. Kurang tidur. Tapi aku tidak apa-apa." Ia menatap Sebastien. "Sungguh," tambahnya.
"Bagaimana kalau kita minum-minum sore nanti?" usul Sebastien demi menaikkan sedikit semangat teman baiknya itu. Kelihatannya Kyuhyun butuh sedikit minuman untuk menenangkan diri. Tapi kalau dinilai dari kondisinya sekarang, mabuk-mabukan juga tidak ada salahnya.
Kyuhyun tertawa kecil. "Tidak, terima kasih."
"Hei, kau yang harus traktir karena hari ini hari ulang tahunmu, kan?" kata Sebastien.
Kyuhyun tertegun. Benar, hari ini hari ulang tahunnya. Bagaimana ia bisa lupa hari ulang tahunnya sendiri? Seharusnya ia merasa bahagia hari ini, tapi kenyataannya ia malah mendapat mimpi buruk. Ironis sekali hidup ini.
Sebelum Kyuhyun bisa menanggapi kata-kata Sebastien, ponselnya yang tergeletak di meja berbunyi. Ia meraih benda itu dan melihat tulisan yang muncul di layar ponsel. Raut wajahnya berubah serius. Ia menatap Sebastien dan berkata, "Maaf, Sebastien. Aku harus menerima telepon ini."
Sebastien memahami isyarat itu. Kyuhyun ingin menjawab telepon itu tanpa didengar orang lain. Sebastien mengangguk dan bangkit dari kursi. "Baiklah, tapi ingat, Teman, percakapan ini belum selesai."
Setelah Sebastien keluar dari ruangan dan menutup pintu, barulah Kyuhyun menjawab telepon.
"Kau sudah menerimanya?" tanya Jean-Daniel Dupont di seberang sana. Suarnaya mendesak. Cemas.
"Ya," gumam Kyuhyun.
"Lalu?"
Kyuhyun tidak menjawab. Hanya menarik napas. Ia tidak sanggup menjawab.
"Seperti yang kita perkirakan?" tanya Jean-Daniel Dupont lagi. Suaranya tidak lagi terdengar mendesak.
Kyuhyun masih tidak bisa menemukan suaranya.
"Kyuhyun," panggil pria itu. Nadanya melembut. "Bagaimana keadaanmu?"
Kyuhyun menopangkan kedua sikunya di meja dan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel menekan keningnya.
Kacau, pikirannya sedang kacau, tapi ia tidak bisa mengatakannya.
"Kau mau membicarakannya?" Jean-Daniel menawarkan. Suaranya terdengar cemas. "Kita harus bicara, Kyuhyun. Kau tahu itu."
Apa yang bisa dibicarakan? Apakah bisa menyelesaikan masalah ini?
"Kau sudah memberitahu Minnie?"
Kali ini Kyuhyun memberikan reaksi. "Tidak," jawabnya cepat. "Kuharap Anda tidak melakukannya lebih dulu, Monsieur."
"Dia harus tahu, Kyuhyun." Kyuhyun mengembuskan napas.
Aku tahu. Demi
Tuhan! Aku tahu...
"Biar aku sendiri yang memberitahunya," putus Kyuhyun. "Aku yang akan mengatakannya."
Jean-Daniel Dupont tidak menjawab.
"Tolonglah, Monsieur," pinta Kyuhyun lirih. "Biar aku yang bicara dengan Sungmin."
Setelah diam beberapa saat, Jean-Daniel berkata dengan suara serak, "Aku sungguh menyesal keadaannya menjadi seperti ini. Maafkan aku."
Kyuhyun memejamkan mata. Aku juga.
* *AUTUMN IN PARIS * *
Sepanjang hari Kyuhyun membenamkan diri dalam pekerjaan, tidak membiarkan dirinya beristirahat, karena begitu ia diam sebentar saja, pikirannya akan melayang kembali ke masalah yang satu itu. Ia terus menyibukkan diri tanpa henti, sampai ponselnya berbunyi. Ia menatap tulisan yang muncul di layar ponsel dan dadanya tiba-tiba terasa sakit.
Sungmin.
Ia bimbang. Apakah ia akan menjawab telepon itu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan membiarkan ponselnya terus berdering. Setelah beberapa lama, deringannya berhenti. Kyuhyun menarik napas dan baru akan kembali melanjutkan pekerjaan ketika ponselnya berdering lagi.
Kyuhyun merasa tidak tega.
Akhirnya ia membulatkan tekad dan menjawab telepon itu.
"Allô?" Suaranya terdengar dingin di telinganya sendiri.
"Kyuhyun, kenapa kau tadi tidak mengangkat teleponku?" Suara Sungmin yang ceria terdengar di ujung sana. Begitu mendengar suara yang begitu dirindukannya, Kyuhyun langsung merasa sesak napas. Dadanya terasa berat.
Karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu, Kyuhyun hanya bergumam tidak jelas dan bertanya, "Ada apa mencariku?"
"Bisa keluar malam ini?"
Kyuhyun menunduk. "Tidak bisa."
"Tidak bisa?" Nada kecewa terdengar dalam
suara Sungmin.
"Maafkan aku. Banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini," Kyuhyun berbohong. Ia merasa perlu berbohong walaupun berbohong tidak pernah membuatnya merasa lebih baik. Apalagi berbohong kepada Sungmin.
"Kita bertemu setelah pekerjaanmu selesai," desak Sungmin. Gadis itu tidak mau menyerah. "Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu."
"Sungmin-chan, lain kali saja..."
"Tidak bisa," potong Sungmin keras kepala. "Harus hari ini."
Kyuhyun tidak menjawab. Ia merasa keyakinan dirinya mulai goyah.
"Tapi, Sungmin-chan, aku sungguh-sungguh tidak tahu kapan pekerjaanku akan selesai."
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu," kata Sungmin tegas. "Datang saja kalau kau sudah selesai. Jam berapa pun. Aku akan menunggu."
* *AUTUMN IN PARIS * *
Sungmin melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Jam 19.15. Kyuhyun belum terlihat di mana pun. Sungmin sendiri sudah tiba di bistro itu satu jam sebelumnya. Kue ulang tahun yang tadi dibelinya sudah dititipkan kepada pelayan. Begitu Kyuhyun datang, ia akan memberi tanda kepada pelayan untuk mengeluarkan kue itu. Ini akan menjadi kejutan bagi Kyuhyun.
Begitu ia mendengar dari Sebastien kalau hari ini hari ulang tahun Kyuhyun, Sungmin segera membuat rencana. Ia pergi membeli kue dan juga hadiah. Ia memang agak kesulitan mencari hadiah yang cocok karena belum tahu apa yang disukai dan tidak disukai Kyuhyun, tapi akhirnya ia menemukan sesuatu yang menurutnya cocok.
Akhir-akhir ini Kyuhyun memang bersikap sedikit aneh, tetapi itu mungkin karena kelelahan. Tadinya laki-laki itu bahkan tidak mau diajak keluar. Tidak apa-apa. Sungmin memang tidak suka menunggu, karena menurutnya menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan di dunia. Tetapi demi merayakan ulang tahun Kyuhyun, ia rela. Lagi pula tadi ia sudah berjanji akan menunggu, sampai jam berapa pun.
* *AUTUMN IN PARIS * *
Sungmin kembali melirik jam tangannya. Hampir jam 20.00.
Ia memandang berkeliling. Bistro itu ramai. Setiap hari bistro ini selalu dipadati pengunjung karena suasananya nyaman dan menyenangkan. Makanan yang disajikan juga sangat enak. Para tamu di sekelilingnya makan bersama pasangan, teman atau keluarga. Hanya Sungmin yang duduk sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa begitu kesepian. Kalau saja Kyuhyun bisa cepat datang.
* *AUTUMN IN PARIS * *
Jam 21.28. Sungmin melirik pintu masuk bistro. Masih tidak terlihat batang hidung Kyuhyun. Sungmin menarik napas dan mengembuskannya dengan keras. Ia mengeluarkan ponsel dan menatap benda itu.
Tidak, ia tidak akan menelepon Kyuhyun. Tadi ia sudah bilang akan menunggu laki-laki itu. Kalau Sungmin meneleponnya sekarang, akan terasa konyol. Ia melemparkan ponsel itu ke meja dan menggigit bibir dengan kening berkerut bimbang.
* *AUTUMN IN PARIS * *
Jam 22.02. Bistro sudah mulai sepi dan pelayan-pelayan sibuk membersihkan meja. Sungmin mengembuskan napas panjang dan mengetuk-ngetuk ponsel yan gada di meja dnegna ujung jari telunjuk.
"Cepatlah datang," gumamnya pelan.
Lalu seakan menjawab doanya, terdengar denting bel halus pada saat pintu bistro terbuka. Sungmin mengangkat wajah dan melihat Kyuhyun berdiri di sana. Begitu melihat sosok yang sudah begitu dikenalnya itu, rasa lega menyerbu dirinya. Rasanya ia bisa menangis. Ia begitu gembira sampai-sampai ia harus menahan diri supaya tidak berlari dan memeluk laki-laki itu.
Sungmin memasang ekspresi kecewa dan menatap Kyuhyun ketika laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya. "Kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu?" tanyanya.
Kyuhyun tersenyum tipis. Ia terlihat sangat lelah. "Maafkan aku," gumamnya.
"Tapi aku senang kau datang," kata Sungmin sambil tersenyum lebar. "Aku tahu kau pasti datang."
* *AUTUMN IN PARIS * *
Kyuhyun harus memaksa kakinya melangkah masuk ke bistro itu. Ia sudah mengulur waktu selama mungkin. Ia tetap tinggal di kantor walaupun pekerjaannya sudah selesai. Ia tidak ingin bertemu dengan Sungmin. Ia berharap gadis itu tidak menunggunya. Tapi akhirnya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak pergi ke sana. Sepanjang perjalanan ia berharap Sungmin sudah tidak ada di sana. Ia berharap gadis itu sudah pulang karena sudah tidak sabar menunggu.
Tetapi begitu sampai di depan bistro, ia melihat Sungmin masih ada di sana. Sendirian. Tidak ada tamu lain selain gadis itu. Hatinya pun terasa sakit seakan diremas-remas.
Sepertinya malam ini ia harus memberitahu gadis itu tentang rahasia yang nyaris membuatnya gila ini. Tentang Sungmin, ayahnya, dan Kyuhyun sendiri. Segitiga aneh yang melibatkan hubungan darah dan perasaan yang tak terungkapkan. Tidak ada cara lain. Ia harus memberitahu Sungmin sebelum semuanya bertambah rumit, sebelum ia jatuh...
Tidak, sebenarnya ia sudah jatuh terlalu dalam. Tetapi mungkin bila ia bisa jujur pada gadis itu, ia bisa mencari jalan untuk merangkak keluar dari jurang yang amat dalam ini. Mungkin ia masih bisa menyelamatkan hatinya.
Entah berapa lama ia berdiri di sana, ia sendiri tidak tahu. Ia hanya berdiri di sana sambil berusaha menemukan kembali sisa-sisa kendali dirinya. Setelah merasa cukup tenang, ia melangkah masuk.
"Kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu?" tanya gadis itu begitu Kyuhyun menghampirinya. Sungmin menatap langsung ke matanya, dan ia takut gadis itu bisa membaca pikirannya.
Aku tahu. Maafkan aku... Maafkan aku...
"Tapi aku senang kau datang."
Kyuhyun melihat Sungmin tersenyum. Senyum yang membuat Kyuhyun merasa hatinya ditusuk-tusuk. Gadis itu sama sekali tidak marah padanya karena sudah menunggu berjam-jam.
"Aku tahu kau pasti datang," tambah Sungmin yakin.
"Ada yang ingin kukatakan padamu," kata Kyuhyun sambil duduk di hadapan gadis itu, berusaha keras tidak menatap matanya. Ini harus diselesaikan sekarang, sementara ia masih punya keberanian.
"Tunggu dulu," sela Sungmin. "Kau harus melihat kejutanku dulu."
Kyuhyun mengangkat alis. Kata-kata yang sudah tersusun di otaknya buyar. "Kejutan apa?"
"Perayaan ulang tahunmu," sahut Sungmin ceria.
Tepat pada saat itu juga, seorang pelayan menghampiri meja dengan membawa kue dengan sebatang lilin menyala di atasnya.
Kyuhyun terpana melihat kue yang diletakkan di depannya itu, terlebih lagi ketika tiga pelayan mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Ia sampai kehilangan kata-kata.
"Aku membelinya tadi sore," kata Sungmin setelah lagu berakhir.
"Sungguh," gumam Kyuhyun. "Kau tidak perlu repot-repot begitu."
Sungmin menggeleng. "Tidak repot sama sekali. Hari ini hari ulang tahunmu. Tentu saja harus dirayakan."
Kyuhyun diam saja dan menatap kue di hadapannya yang bertuliskan "Selamat Ulang Tahun, Kyuhyun."
"Ucapkan satu permintaan sebelum meniup lilinnya,"
"Permintaan?" kata Sungmin, menyadarkannya dari lamunan.
Sungmin menatapnya dan mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Kau tentu tahu permintaan yang diucapkan saat kita berulang tahun akan selalu terkabul, bukan?"
Kyuhyun mendengus pelan dan diam-diam tersenyum masam. Yang benar saja. Permintaan? Tentu saja dia punya permintaan.
Ia sudah meneriakkan permintaannya dalam hati berulang-ulang selama beberapa hari terakhir ini. Ia bahkan yakin Tuhan pun bisa mendengar teriakan hatinya. Namun ia masih cukup waras untuk menyadari keinginannya tidak akan pernah terkabul. Sekarang ini ia bahkan sudah tidak berani bermimpi untuk berharap.
"Ayo, cepat," desak Sungmin. "Nanti lilinnya meleleh."
Kyuhyun menurut. Ia memejamkan mata sejenak, kemudian membuka mata dan meniup lilin di kue itu.
Sungmin dan pelayan-pelayan itu bertepuk tangan. Setelah menyalami Kyuhyun, pelayan-pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang kauminta tadi?" tanya Sungmin. Gadis itu ingin tahu, seperti biasa.
Kyuhyun tersenyum dan mengulurkan tangan hendak menyentuh kepala Sungmin, tapi dengan cepat menyadari apa yang akan dilakukannya dan menarik kembali tangannya. Ia menggeleng dan mengalihkan pandangan dari wajah Sungmin. "Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Kalau kukatakan, harapanku tidak akan terkabul," elaknya.
Sungmin tersenyum manis, lalu merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dan menyerahkannya kepada Kyuhyun.
"Hadiah," katanya dengan senyum lebar.
Kyuhyun menerima hadiah yang disodorkan dengan perasaan campur aduk.
"Bukalah," kata Sungmin dengan mata berbinar-binar. "Semoga kau suka."
Kyuhyun melakukan seperti yang diminta. Ia membuka kotak kecil sederhana itu dan mengeluarkan sebuah jam saku antik berwarna emas, lengkap dengan rantainya. Dan di tutup jam saku itu terukir kata "Cho-Hyun".
"Selamat ulang tahun, Kyuhyun," kata Sungmin. "Aku memberimu jam saku itu supaya kau lebih memerhatikan waktu. Jangan bekerja terus-terusan. Kau harus ingat ada waktunya untuk istirahat."
Kyuhyun mengangkat wajah dan menatap langsung ke mata Sungmin. Gadis itu membalas tatapannya dengan senyum lebar yang selalu sanggup membuat Kyuhyun melupakan semua beban masalah.
"Nah, sekarang apa yang ingin kaukatakan padaku tadi?" tanya Sungmin, menyadarkan Kyuhyun akan kenyataan yang ada.
Kyuhyun tidak langsung menjawab. Ia menatap gadis itu, lalu jam saku yang ada dalam genggamannya, dan kembali menatap Sungmin. Ia memaksakan seulas senyum tipis. "Aku senang melihatmu lagi."
Tuhan, tolonglah dia... Ia sungguh tidak bisa memberitahu gadis itu. Tidak bisa. Mulutnya seakan terkunci. Lidahnya seakan tidak berfungsi.
Sungmin mengangkat kedua alis, lalu tertawa.
Tuhan, tolonglah dia... Ia tidak bisa memberitahu gadis itu bahwa mereka punya ayah yang sama.
Ia tidak bisa...
TBC ...
Hueeeeee ... Maaf Saudara-Saudara, Chapter ini nyesek ya ? Jangan Kubur Author ... (v_v")Kan Author uda bilang di chapter sebelumnya kalo saya Lagi demen nyiksa Kyumin ..!
Jadi Chapter ini, Chapter Depan dan entah sampai chapter berapa, Author bakalan buat readers galau .. :D hahahaha *Ketawa Setan*
OKE ,.
dan maaf karena uda hampir setahun nungguin chapter 8 nya, karena terlalu banyak siders, jd agak males posting.. tapi karena banyak yang minta lanjut, akhirnya author lanjut ..
Author gak bosan-bosan ngucapin Terima Kasih yang sebesar-besarnya buat readers yang uda setia baca FF ini..
Comment dan Jempol Kalian bener-bener memberikan semangat baru buat author .. ^_^
JEONGMAL GHAMSAHAMNIDA :D *Deep-Bow*
Keep Read + Keep Comment + Keep Like = Next Chapter ! ^_^
And Please .. NO SIDERS ya .. ^_^
