1004

(Sacrifice)

.

Aerolee

.

Warning!

(Typo everywhere, EYD Failed)

.

BoyxBoy | Yaoi | Angst, Tragedy, Hurt, Romance | PG-15

.

Baekhyun, Jungkook, Taehyung, Daehyun, Junhong, and other.

.

Don't Like?

.

Don't Read!

.

Don't Plagiarize

.

Semua cast milik agensi masing-masing, orang tua masing-masing, dan juga milik Tuhan.

Tapi Fanfic ini asli milik saya, jika ada kesamaan alur, kata-kata, cast atau sebagainya, itu hanya unsur ketidak sengajaan.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

"Jika memang ini yang terbaik, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menjagamu tetap hidup."

.

.

.

"Jadi apa rencanamu setelah ini?"

Daehyun mendengus tertahan, menyesap kopinya sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Baekhyun. Kini mereka tengah berada disalah satu café yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari terminal kedatangan.

Mereka baru saja menginjakkan tanah Korea Selatan beberapa menit yang lalu, perjalanan 12 jam yang menyita banyak waktu dan membosankan itu membuat mereka mau tak mau harus mengisi perut dan harus sedikit memberi tubuh mereka sesuatu yang hangat.

Baekhyun tak menyangka jika Korea terlihat begitu nyaman dan tenang, ketika ia baru beberapa langkah menuruni pesawat hal yang pertama kali ia lakukan adalah menghirup udara negeri ginseng itu lalu menatap langit kampung halamannya itu. Ia tak menyangka akan kembali menginjakkan kakinya disini, ditanah ini lagi.

Tidak jauh berbeda dengan London, bandara di Seoul sama ramainya dengan di London. Hanya saja tidak seaktif dan segila negeri seribu misteri itu. Well, jika seperti ini Baekhyun tidak akan mengeluh dan bersusah payah beradaptasi dengan udara Seoul.

"Kau seperti sedang bernostalgia sekarang," Suara berat Daehyun berhasil membuat Baekhyun tersentak dari lamunannya. Sedetik kemudian Daehyun mendesah, merebahkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian menatap Baekhyun aneh. "Merindukan ini?"

"Mereka berubah."

"Tidak," Tukas Daehyun. "Mereka tidak pernah berubah, apa yang bisa kau tangkap dengan ingatan masa kecilmu yang payah itu?"

"Apa?" Baekhyun merengut. Ingatan yang payah? Oh, Hey! Siapa pemuda ini yang dengan angkuhnya berbicara seperti itu kepadanya? Walaupun terakhir kali ia tinggal di negara ini saat masih kanak-kanak, bukan berarti ia melupakannya dan berimajinasi bahwa semua yang berada disini telah berubah kan?

Well, tempat ini memang berubah. Dulu bangunan ini tidak sebagus sekarang, dan kios-kios serta stand makanan yang mengelilingi bandara tidak sebanyak sekarang. tentu saja, selama berkembangnya zaman semua yang awalnya terlihat biasa-biasa saja akan terlihat sangat wah dikemudian hari.

"Kau melupakan sesuatu."

"Apa?"

"Lupakan saja."

Baekhyun kembali mendelik tajam kearah Daehyun, pria ini benar-benar menyebalkan. Sial, kenapa ia harus bertemu dengan pria angkuh ini dan Oh! Kenapa ia malah bekerja sama dengan pria ini—sungguh Baekhyun ingin mencekik pria bernama Jung Daehyun dihadapannya ini sekarang. Damn!

Daehyun melirik Baekhyun yang tengah menatap tajam kearahnya, lalu sedetik kemudian mengalihkan pandangannya pada Junhong yang tengah mengaduk Ice Latte-nya dengan tidak semangat. Ada apa dengan bocah ini?—

Merasa diperhatikan Junhong mengangkat wajahnya, menatap Daehyun dengan tatapan bertanya. "Ada apa?" Tanyanya.

Daehyun tidak langsung menjawab, beberapa detik kemudian ia mengangkat salah satu tangannya dan menempelkan punggung tangannya pada kening Junhong. Pada detik itu juga Junhong merasa sekujur tubuhnya menegang, entah ia sama sekali tidak pernah melakukan kontak fisik seintens ini dengan Daehyun. Dan hal ini membuatnya sedikit—err salah tingkah?

"Kau sakit?" Tanya Daehyun sedikit bergumam, tangannya masih menempel pada kening Junhong. Junhong menggeleng dan dengan cepat menepis tangan Daehyun untuk menjauh darinya. "Tidak," Jawabnya

"Oh, ya. Mr. Ronald—"

"Panggil saja hyung, kau lebih muda 4 tahun dariku bukan? Maka panggil saja hyung." Potong Baekhyun mengkoreksi. Bukannya apa, hanya saja Baekhyun lebih senang dipanggil hyung daripada dipanggil Ronald atau Mr. Cristof atau apalah itu. Entahlah hanya saja Baekhyun lebih nyaman jika orang-orang memanggilnya dengan nama aslinya. Dan tolong digaris bawahi, hal ini hanya akan berlaku kepada orang-orang yang menurutnya benar saja.

Junhong mengangguk mengerti. Tidak terlalu buruk juga, Baekhyun sangat berbeda sekarang. Kini dokter muda itu lebih bersikap tenang dan hangat, tidak seperti saat ia pertama kali bertemu dengannya. Kaku, mencekam dan entahlah Junhong terlalu pusing untuk mendeskripsikan situasi saat itu dengan sebuah kata-kata ataupun, yah entahlah—

Dan satu hal yang hingga kini masih mengganjal di benaknya. Bagaimana cara Daehyun membujuk Baekhyun dengan sangat mudahnya? Ah, Daehyun benar-benar bisa dikatakan sangat keras kepala.

Baekhyun mengedarkan pandangannya kesekeliling bandara. Tidak buruk, pikirnya.

Nampak Baekhyun sedikit menegakkan punggungnya sebelum mulai membuka suara lagi. "Kau ingin berbicara apa tadi?"

Junhong menoleh menatap Baekhyun, tersenyum kemudian mengeluarkan dokumen-dokumen dari tas ranselnya yang kebetulan ia bawa dan tidak ikut terangkut dengan koper. Sedangkan Daehyun hanya memperhatikan percakapan antara Baekhyun dan Junhong dengan diam.

Baekhyun mengernyitkan dahi melihat beberapa dokumen dihadapannya, ia berniat bertanya sebelum Junhong kembali bersuara dan mencatat beberapa kata pada secarik kertas.

"Itu semua adalah laporan yang harus kau pelajari hyung. Semua itu dapat membantumu saat sesi introgasi lusa nanti." Jelas Junhong.

"Lusa? Secepat itu?"

Junhong mengangguk. "Ya. Jika kita kembali ke Seoul minggu lalu, kau mempunyai banyak waktu untuk mempelajari itu semua hyung. Tapi.. ya sudah terlanjur kan?"

"Kau benar, akan kuusahakan."

Hening. Tidak ada yang membuka suara setelah itu. Baekhyun masih terfokus pada dokumen-dokumen yang sejak tadi meronta-ronta meminta untuk ia baca, dan Junhong detektif muda itu masih sibuk dengan kertas beserta bolpoin ditangannya.

"Selain kau harus mempelajari itu semua. Kau juga harus mentaati praturan ini," Ucap Daehyun tiba-tiba. Sontak Baekhyun dan Junhong mengalihkan kegiatannya dan menatap Daehyun dengan tanya.

"Peraturan? Apa?"

Daehyun tersenyum miring lalu memposisikan tubuhnya bersender pada punggung kursi. "Tidak sekarang, pastikan kau selalu memeriksa e-mailmu."

Baekhyun berdeham sebelum mengangguk beberapa kali. "Baiklah. Sebaiknya aku mencari penginapan sekarang, hari ini benar-benar melelahkan." Sebelum Baekhyun meneruskan niatnya pergi dari bangku, Daehyun dengan cepat menggenggam tangan kanannya yang sontak membuat Baekhyun sedikit terhuyung dan duduk kembali.

"Tidak perlu, kau bisa tinggal bersama Junhong. Bukan begitu Junhong?" Ucap Daehyun cepat dan diangguki oleh Junhong.

.

.

.

.

.

Taehyung manjatuhkan punggungnya dengan kasar pada sandaran sofa, diikuti Jungkook yang langsung menyalakan televisi dan mencomot beberapa snack yang diambilnya dari dapur beberapa menit yang lalu.

30 menit berlalu. Jungkook maupun Taehyung masih nyaman pada posisinya masing-masing, dan sesekali terlihat Taehyung ikut mencomoti snack dengan pandangan yang masih tertuju pada layar televisi. Mereka sedang menonton film action—

Apartemen bernuansa putih tulang yang biasanya terlihat sangat ramai dengan adu argumentasi itu kini terlihat sepi dan tenang. Hanya suara televisi yang terdengar. Jungkook mengembuskan nafasnya dengan boros, ia belum terbiasa dengan situasi hening seperti ini.

Biasanya jika seperti ini Baekhyun akan mengajaknya beradu mulut sebelum menyantap makan siangnya, menanyainya dengan beribu pertanyaan tentang pengalamannya disekolah selama seminggu dan masih banyak lagi. Pemuda imut itu merindukan kakaknya—

"Jika kau terus-terusan memasang tampang seperti itu, aku yakin tidak ada gadis yang mau mengencanimu."

Jungkook menoleh, sedikit menyipitkan matanya menatap Taehyung. Apa maksudnya? "Lebih baik kau berkaca sekarang." Ketus Jungkook sebelum kembali menatap layar televisi.

Taehyung terkekeh, "Oh ayolah, aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong apa yang sedang kau pikirkan? Baekhyun-hyung?"

"Sedikit."

Taehyung meneguk segelas air mineral yang ia bawa dari dapur, sedikit melirik Jungkook sebelum bersuara. "Percayalah kepadanya, ia akan baik-baik saja." Taehyung tersenyum, menepuk pelan pundak Jungkook berniat untuk meyakinkannya sekali lagi.

Sebenarnya Taehyung juga tidak terlalu yakin akan apa yang ia ucapkan barusan, tapi dengan kepribadian Baekhyun yang kuat ia yakin pemuda 3 tahun lebih tua darinya itu dapat menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan dengan baik. Entah kenapa Taehyung yakin akan hal itu.

Jungkook memandang Taehyung sedikit lebih lama, lalu mendesah pelan. "Kuharap ia tidak akan pernah memintaku untuk melakukan hal itu." Gumamnya. Raut wajah khawatir terpatri jelas—

"Apa yang kau maksud?"

"Kuharap kau tidak akan pernah mengetahuinya."

.

.

.

.

"Aku terlambat, lucu sekali."—

Sebuah café bergaya tradisional yang terletak dipertigaan kota London itu menjadi tempat persinggahan pemuda berjas hitam yang baru saja memasuki café bergaya klasik. Sekilas pemuda itu terlihat sedikit menekuk wajahnya kesal, bisa dipastikan dengan gerutuan yang ia ucapkan berkali-kali dan sorot mata penuh dengan rasa kesal.

Pemuda itu berdecak sebelum merogoh saku jas hitamnya dan mengeluarkan benda persegi dari dalam sana. Tidak butuh waktu lama untuk mematikan dering nyaring dari ponselnya dan menerima panggilan dari sebrang.

"Hallo, tuan." Ucapnya mengawali panggilan. Beberapa detik kemudian ia mendesah, "Maafkan saya, anda bisa memberi hukuman dengan bentuk apapun."

"Bisa dipastikan target anda sudah sampai sekarang. Maaf atas kelalaian yang saya perbuat." Pemuda itu kembali mengerutkan kening, "Apa anda yakin Tuan? Saya bisa langsung kembali jika anda perintah. Lagipula tidak ada yang bisa saya selidiki lagi disini."

"Baiklah, saya mengerti."—

Hembusan napas kasar kembali terdengar, pemuda berjas hitam itu sedikit menggerutu setelah meletakkan ponselnya kembali. Ternyata tugasnya disini belum selesai, jika benda sialan berbentuk persegi itu tidak berdering mungkin ia sekarang akan kembali dan memulai tugasnya yang sempat tertunda. Sial—

Tidak butuh waktu yang lama untuk pemuda berjas hitam itu menghabiskan Americano yang sempat ia pesan tadi saat di café, dan melesat menuju sebuah bangunan bercat putih tulang dengan kendaraan besar bersirine yang terparkir rapi disamping halaman depan.

"Kau memang cerdik Tuan." Desis pemuda itu seraya tersenyum miring sebelum memasuki bangunan yang ia yakini sebuah Rumah Sakit yang cukup ia kenal sebelum ini. Langsung saja ia menuju sebuah ruangan yang terletak dilantai 2, ruangan dengan pintu bercat abu-abu.

"Selamat datang, Kris."—

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Korea Selatan, namun pemuda berambut caramel itu masih sibuk membolak-balikkan dokumen-dokumen yang sempat Junghong berikan kepadanya siang tadi. Sesekali ia menguap, membenarkan kacamata baca-nya dan sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, dokumen itu hampir seluruhnya bertuliskan hangul, dan oh ayolah, Baekhyun sama sekali tidak terlalu paham dengan tulisan hangul. Kalian tahu kenapa bukan?

"Ini lebih sulit dari membaca tulisan dokter." Gerutunya.

Baekhyun harus berulang kali menatap kamus kosa kata Korea dan menerka-nerka apa maksud dari tulisan-tulisan membingungkan itu. Jujur saja, Baekhyun dulu adalah seorang murid teladan disekolahnya saat ia masih tinggal di Seoul. 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan semua yang ia pelajari di Korea, bahkan ia saja lupa bagaimana wajah dan nama teman-temannya dulu.

Baekhyun mendengus kasar, melempar dokumen yang ia genggam kesembarang arah. Persetan dengan rentetan tulisan meliuk-liuk itu, otaknya sudah tidak sanggup menerima tulisan aneh itu secara autodidak. Menyusahkan—

"Lebih baik aku meminta bantuan Junhong dari pada harus menelan kamus besar itu lebih lama." Ucapnya lalu beranjak menuju ruang tengah berniat untuk mencari Junhong. Meminta pemuda tinggi itu untuk menerjemahkan atau sekedar membacakan isi dari dokumen itu untuknya.

Baekhyun hendak melangkah menuju dapur sebelum bayangan seseorang tertangkap oleh indra penglihatannya. Merasa penasaran akhirnya ia memutuskan untuk berbalik menuju ruang tengah dan menemukan seseorang yang ia tahu sebagai kakak angkat dari Junghong—Park Jimin sedang duduk dengan tatapan kosong menghadap kearah televisi.

Keningnya berkerut samar, sedang apa pemuda itu malam-malam begini melamun didepan televisi yang masih menyala?

"Apa kau tidak lelah? Ini sudah larut malam." Baekhyun mendudukkan tubuhnya tepat disamping Jimin. Jimin sedikit terkejut dengan kedatangan Baekhyun yang menurutnya tiba-tiba itu, lalu ia terkekeh sebelum menjawab. "Benarkah? Kupikir masih terlalu awal untuk tidur."

Baekhyun melirik Jimin, kenapa ia tidak menatapnya? Bahkan pemuda itu masih tetap menatap lurus kedepan. Beberapa detik kemudian Baekhyun menghela napas lalu tersenyum walau ia tahu itu percuma saja, "Sepertinya aku baru mengetahui suatu hal. Maafkan aku, apa perlu aku membantumu?"

Jimin tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku tidak seburuk itu. Kau mencari Junhong? Biasanya ia berada dikamar tengah, sudah seminggu lebih ia meninggalkan pekerjaannya. Mungkin ia masih disana." Terang Jimin dan dibalas anggukan oleh Baekhyun.

"Apa ada hal buruk yang terjadi padamu sebelum ini?"

Jimin sedikit menegangkan tubuhnya ketika mendengar pertanyaan tiba-tiba dari pemuda disampingnya itu, sadar dengan reaksi tiba-tibanya dengan segera Jimin merilekskan tubuhnya kembali dan tersenyum kecil. "Mungkin, tidak apa. Itu sudah lama terjadi." Sahut Jimin enteng.

Baekhyun hanya diam dan mengangguk mengerti, ia tahu tidak terlalu sopan untuk bertanya lebih lanjut soal masalah pribadi seseorang. Bahkan ia belum genap sehari berada dirumah ini. Menurutnya diam dan mengganti topik pembicaraan lain adalah hal yang tepat untuk saat ini.

"Dr. Ronald."

"Ya,"

"Apa kau pernah berkunjung kemari sebelum ini?"

Mendengar pertanyaan Jimin sontak Baekhyun sedikit berjengit, menatap pemuda disampingnya kini dengan ragu. Lama Baekhyun tidak menjawab akhirnya Jimin kembali membuka suara, "Aku tidak bermaksud, hanya saja penggunaan bahasamu sedikit. Mungkin— berantakan?"

Baekhyun tertawa. Sebegitu burukkah kosa katanya? Bahkan bukan Jimin saja yang sempat mengatakan bahwa bahasa korea-nya sangat berantakan, Daehyun dan Junhong juga berkata demikian— Baekhyun sedikit tertohok sekarang. Padahal ia sempat berpikir jika Jimin mulai meraguinya sebagai penduduk asli Inggris.

"Begitukah? Aku sempat mempelajarinya dari temanku yang kebetulan adalah orang asli pribumi disini, dan aku juga sempat kemari beberapa tahun lalu. Jadi, kupikir aku sedikit lebih baik dalam berbahasa. Aku sering mempraktekkannya bersama Jonathan akhir-akhir ini." Jelas Baekhyun dengan sedikit kebohongan didalamnya. Sebenarnya ia enggan untuk berkata bohong seperti ini, namun apa boleh buat. Ia masih ingat dengan peraturan pertama yang Daehyun berikan kepadanya sore tadi melalui e-mail.

Peraturan pertama, rahasiakan identitasmu yang sebenarnya dan bersikaplah seperti Ronald yang biasanya. Tanpa terkecuali—

Mengingat isi pesan Daehyun membuatnya sedikit jengkel. Bagaimana tidak, pemuda tanpa tata krama itu membuatnya harus mengecek e-mail dan membawa ponselnya kemana-mana, dengan memberikan peraturan-peraturan yang ia kirim secara bertahap. Menyebalkan—

"Jonathan?"

"Iya, dia adik laki-lakiku. Umurnya lebih muda dari Junhong satu tahun," Baekhyun mengambil sesuatu dari balik saku celananya lalu memberikan benda berbentuk bulat itu kepada Jimin. Bisa dilihat Jimin sedikit mengerutkan alisnya tidak mengerti, apa yang dokter muda itu berikan kepadanya?

"Bukan apa-apa, itu hanya permen coklat. Aku sering memakannya jika aku masih terjaga dimalam hari, mungkin bisa membuatmu mengantuk dan sedikit rileks."

Jimin tersenyum, menggenggam tangan Baekhyun dengan hangat. "Terima kasih Dr. Ronald,"

"Jangan panggil aku seperti itu, panggil saja hyung. Aku tahu kau lebih muda dariku."—

.

.

.

.

Baekhyun hampir berniat untuk membanting ponselnya ketika benda persegi panjang itu berbunyi dan menampilkan notifikasi, menandakan ada sebuah e-mail yang masuk. Jika saja ia dalam keadaan mabuk mungkin benda kecil tanpa dosa itu sudah hancur berkeping-keping sekarang. Sungguh, e-mail itu sangat mengganggu.

Tanpa menunda waktu lebih lama, langsung saja Baekhyun membuka e-mail yang tidak lain berasal dari partner kerjanya itu. Siapa lagi kalau bukan Jung Daehyun? Pemuda tak bertata krama dan menyebalkan itu—

Peraturan kedua, jangan sekali-kali kau pergi keluar sendirian. Jika kau ingin pergi ajaklah Junhong, aku tidak menjamin keselamatanmu jika kau melanggar ini.

Baekhyun mendengus dengan kasar. Lagipula Baekhyun sama sekali tidak berniat untuk pergi atau hanya sekedar keluar mencari udara segar, sampai kesepakatannya dengan pihak kejaksaan dan kepolisian selesai. Dan baru ia akan pergi melakukan tujuannya yang sebenarnya, paling tidak ia bisa mendapatkan sedikit informasi selama ia bekerja sama dengan oknum hukum di negara ini.

Selang beberapa menit ponsel yang masih ia genggam itu kembali berdering. Kali ini ponsel itu berdering tiga kali—

Kurasa cukup itu yang aku sampaikan, tunggulah besok untuk peraturan lainnya~

Tahan hasrat untuk balas dendammu sampai kasus ini selesai. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu.

Hei cantik, sepertinya kau harus cepat tidur jika kau tidak ingin terlambat untuk menghadiri rapat bersama para hakim besok.

"Orang ini sedikit tidak waras," Baekhyun menggerutu, belum sempat ia menulis balasan, ponselnya kembali berdering.

Selamat membaca huruf meliuk-liuk~

Baekhyun kembali menggerutu, "Sialan kau," dengan cepat ia mengetik balasan lalu membanting ponselnya kesembarang arah.

Sialan. Berhenti mengoceh atau aku akan menendangmu seperti dulu.

Disisi lain Daehyun menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan keatas. Ia tidak menyangka akan mendapatkan balasan sedingin ini dari Baekhyun, walaupun ia sudah tahu dari awal bahwa pemuda caramel itu akan mengamuk kepadanya setelah membaca pesan-keisengan- darinya. Yah, setidaknya pemuda caramel itu sudah mulai merubah sikap dinginnya. Walaupun ia masih tetap dingin sih— kadang-kadang.

Daehyun memposisikan tubuhnya pada sandaran sofa, pandangannya beralih pada kertas-kertas yang entah sudah berserakan diatas meja kerjanya sejak beberapa jam yang lalu. Sebenarnya kertas-kertas itu adalah riwayat beberapa narapidana yang ia dapatkan dari balai pemeriksaan, memeriksa satu persatu dan mencocokkannya dengan kasus-kasus yang sebelumnya belum sempat terselesaikan.

Namun, sampai sekarang ia belum menemukan kecocokan antara data yang ia peroleh dengan kasus yang sedang ia tangani saat ini. Semua narapidana itu sama sekali tidak memiliki riwayat yang detail dan akurat, bahkan ada yang hanya diketahui nama dan jenis kelaminnya saja.

"Apa aku harus meminta bantuan pak tua sialan itu?" Daehyun bergumam, meminta bantuan Suho mungkin adalah salah satu cara yang tepat untuk mengklarifikasi semua data yang didapatkannya dengan cepat.

Daehyun mendengus, "Lebih baik aku menanyakannya saat Ronald sudah menemui pak tua itu."—

.

.

.

.

.

Taehyung menyibak tirai berwarna abu-abu itu dengan sekali tarikan, membuat sinar matahari langsung memasuki ruangan bernuansa abu-abu itu dan menerpa seseorang yang tengah menggeliat tidak nyaman dikasurnya akibat cahaya terang yang tiba-tiba masuk.

"Jungkook-ah, cepat bangun jika kau tidak ingin terlambat," Taehyung sedikit menepuk pipi Jungkook, menarik balutan slimut dari tubuh pemuda manis itu lalu menarik tubuhnya hingga Jungkook mendudukkan tubuhnya dengan enggan.

"Berisik, kau tidak perlu repot-repot membangunkanku. Cukup kau ketuk pintuku dan aku akan segera bangun dan bersiap-siap."

"Segera bangun? Dengan tidur seperti mayat hidup? Aku tidak yakin." Cibir Taehyung.

Jungkook memutar bola mata malas. Tubuhnya masih enggan beranjak dari kasur, biasanya Baekhyun akan membangunkannya dengan membawakan segelas susu dan senyuman hangatnya. Namun pagi ini tidak ada, tidak ada susu hangat bahkan musik keras dipagi hari. Jungkook jadi merindukan kakaknya itu.

Taehyung yang melihat Jungkook tengah melamun itu dengan segera ia menarik tangan Jungkook untuk beranjak dari ranjang lalu menuntunnya menuju ruang makan, mengabaikan omelan Jungkook yang melengking meminta untuk berhenti. Salahkan pemuda bersurai hitam yang sudah hampir setengah jam dibangunkan namun masih tetap tidur seperti mayat itu, jika ia cepat bangun Taehyung tidak perlu repot-repot menariknya dan membawanya kedapur untuk sarapan.

"Aku tidak tahu seperti apa kau dibangunkan oleh Baekhyun-hyung, berhubung kau tidak memberitahuku jadi jangan salahkan aku jika kau melewatkan bus-mu nanti." Taehyung meletakkan semangkuk sereal dan segelas susu didepan Jungkook.

Jungkook menghela napas, manarik mangkuk berisi penuh sereal itu lalu menyendokkannya kemulut. "Terserah saja," Gumamnya. "Apa Albert sudah menghubungimu?"

"Belum, sepertinya ia akan kemari siang nanti. Ada yang ingin kau bicarakan dengannya?" Sahut Taehyung dari balik pintu kulkas, ia masih sibuk mengeluarkan sayuran yang menurutnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi dan menggantinya dengan yang baru.

Jungkook menggeleng, "Tidak. Dan ngomong-ngomong mulai sekarang kau harus memanggilku Jonathan jika diluar, aku tidak mau hal-hal yang tidak di inginkan terjadi saat Baekhyun-hyung tidak ada disini." Taehyung hanya mengangguk mengerti dan mengacungkan jempolnya kearah Jungkook, "Kau bisa mempercayaiku."

"Baguslah."

Taehyung kembali menatap Jungkook dengan heran, entah apa yang ada di pikirannya sehingga membuatnya beranggapan bahwa Jungkook sedikit berubah belakangan ini. Nafsu makannya perlahan menurun dan moodnya semakin hari semakin memburuk, ia jadi penasaran apa yang dipikirkan laki-laki yang lebih muda darinya 2 tahun itu sekarang. Apa itu menyangkut hal yang Baekhyun katakan beberapa hari yang lalu?

Taehyung hendak beranjak menuju kamarnya sebelum suara pintu menghentikan langkahnya, dengan enggan Taehyung berbalik menuju pintu masuk. Memastikan siapa yang bertamu dipagi hari seperti ini.

"Hei, Taehyung-ah. Selamat pagi!"

"Selamat pagi, Albert. Kupikir kau akan datang siang nanti, dan siapa—" Taehyung menghentikan ucapannya, pandangannya tertuju kearah seseorang yang berdiri tepat dibelakang pria bernama Albert itu. Siapa dia?

.

"Siapa yang datang bersamamu,Albert?"

.

.


To be Continued


Hai!

Akhirnya ff ini update juga~~~

Agak lega gitu kalo udah ngupdate ff yang satu ini, ya jujur aja sih beberapa bulan ini emg rada ilang idenya, hehe. Berhubung juga agak longgar yowes lah ngebut nulis dan hasilnya-entahmemuaskanatautidak- huhuhu.

Maunya sih nunggu yg review sampe 100 dulu /ngarep/ baru mau dilanjutin, tp ya berhubung udah 6 bulan jamura yaudah akhirnya juga diupdate/? .-.v

Oya, makasih yang udah repot-repot nagih ff ini buat lanjut;;-;; yang ngereview, ngefollow, fav, dll. bahkan yang siders, u know how much i love you~~ /eehh

.

Yosh!

Mind to Review?