Naruto © Kishimoto Masashi

Lovely Girl © Haruno Aoi

Setting: AU

Warning: crack, OC, OOC, tema pasaran

Tidak suka? Terserah Anda ^^v

.

.

.

* Lovely Girl *

.

.

.

Kini Nyonya Yamanaka lebih bisa menguasai dirinya sejak ia siuman dari pingsan. Ia memang tak sadarkan diri selepas berteriak histeris begitu menemukan tubuh tak berbusana Ino terendam di bak mandi yang tercampur darah. Dan sampai sekarang air matanya belum berhenti mengalir bersamaan dengan doa yang senantiasa ia panjatkan di tengah kondisi putrinya yang masih kritis.

Menurut kesaksian Nyonya Yamanaka, Uchiha Sasuke adalah orang terakhir yang dihubungi oleh Ino sebelum kejadian tersebut. Kabar itu tersebar dalam waktu singkat hingga menyudutkan Sasuke sebagai si biang kerok. Terlebih jari manis Ino tidak lagi dilingkari cincin pertunangan setelah pada sore harinya anak tunggal keluarga Yamanaka itu meminta izin untuk mendatangi kediaman Uchiha. Mau tak mau, hatinya menuduh Sasuke sebagai penyebab putrinya mengerat nadi. Publik pun makin memojokkan Sasuke semenjak berita tentang wanita lain disiarkan oleh pers.

Nyonya Yamanaka sangat berterima kasih kepada Naruto yang bersedia menjadi donor. Naruto sebagai rekan kerja Ino datang ke rumah sakit bersama Kiba sang manajer. Kebetulan keduanya bergolongan darah sama dengan Ino. Selain melihat keadaan Ino secara langsung—yang sebenarnya belum boleh dibesuk—mereka memang berniat mendonorkan darah. Bukan lantaran ingin mencari sensasi mengingat banyak jurnalis yang menunggui perkembangan kondisi kesehatan Ino yang bisa diwartakan.

Tetapi, tindakan Naruto malah memunculkan gosip baru, dan niat baik itu disalahartikan oleh para pemburu berita—bahwa ia mempunyai perasaan khusus terhadap Ino, bahkan hubungan gelap yang menjadi salah satu pemicu retaknya ikatan pertunangan perempuan itu dengan si bungsu Uchiha. Sayangnya, kabar selentingan itu tak membuat Naruto merasa terganggu. Ia mengerti kalau hal semacam itu merupakan konsekuensi yang harus ditanggungnya sejak ia memutuskan untuk terjun ke dunia entertainment.

"Kau terlihat seperti kekasih Ino," celetuk Naruto setengah bergurau karena melihat tampang Kiba yang sarat kecemasan. Mereka baru saja menyumbangkan darah dan duduk di antara deretan bangku tunggu, sedangkan keluarga Ino tengah berbicara dengan dokter.

Kiba mengerang pelan tanpa menoleh pada artis asuhannya itu. "Sepertinya aku sudah keterlaluan…," lirihnya.

Naruto mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"

Wajah kalut Kiba menyiratkan segala kekacauan hati dan pikirannya. Ia meremas rambutnya dengan mata terpejam—belum berani membalas tatapan tajam Naruto.

"Kau boleh membunuhku kalau ternyata Ino menjadi seperti ini gara-gara aku…," ujarnya dengan suara pelan dan terkesan rambang, "Malahan aku sudah berniat melakukan hal yang sama jika Ino sampai meninggal…."

"Sebenarnya apa yang hendak kau bicarakan?" sahut Naruto dengan suara berbisik. Ia tidak menyembunyikan kebingungannya, sampai matanya terbelalak tatkala ia mencoba menarik suatu prasangka. "Jangan-jangan kau yang me—"

"Aku belum ingin membahasnya…," erang Kiba dengan raut putus asa.

~ooo~

Pagi-pagi benar Shion mendatangi kediaman orang tua Sai. Sebelumnya ia sudah mencari Sai di apartemen yang dekat dengan studio tempatnya bekerja. Namun, hasilnya nihil. Nyatanya semalam Sai tidak menginap di apartemennya. Email tidak dibalas, telepon darinya pun tidak diangkat. Ia jadi bertambah yakin kalau Sai ada hubungannya dengan usaha Ino untuk mengakhiri hidup. Untuk itu, ia tidak banyak pertimbangan untuk lekas menemui pria yang berstatus sebagai tunangannya tersebut.

Shion terkesiap saat tahu kalau yang membukakan pintu adalah ibu Sai. Ia tidak menyangka kalau ibu Sai berada di rumah. Biasanya wanita itu lebih sering pergi ke luar negeri untuk menemani ayah Sai yang mengurus salah satu anak perusahaan dari Uchiha Group. Ia lalu membungkuk dalam sebelum mengucapkan salam dan membalas senyum lembut wanita itu.

Sambutan ibu Sai begitu hangat. Shion digandeng ke arah dapur tanpa menanyakan maksud kedatangan gadis itu. Ia yang hanya memiliki seorang putra memang sangat merindukan kehadiran anak perempuan dalam keluarganya. Apalagi Shion adalah seseorang yang berhasil membuat Sai berubah menjadi lebih baik. Ia pun berusaha makin memerhatikan Shion layaknya seorang ibu terhadap putri kandungnya sejak ia diberitahu Sai bahwa gadis itu tidak mempunyai orang tua lagi.

"Sudah sarapan?"

"Belum, Okaasan." Shion tidak bisa berbohong pada ibu Sai, "Mm … saya mencari Sai."

"Lebih baik, kamu sarapan dulu. Pasti ayah Sai juga sangat senang kalau kamu mau menemaninya makan. Lagipula Sai mungkin masih tidur. Bangunkan dia kalau kamu sudah makan."

"Mu-mungkin saya harus bangunkan Sai dulu."

Ibu Sai masih tersenyum. Kini ia tahu siapa yang mewariskan senyum manis kepada Sai.

"Boleh, tapi sebaiknya sekarang kamu menemui ayah Sai. Minimal kasih salam."

"Hai'." Shion mengangguk pelan dan mematuhi keinginan ibu Sai.

Kehadiran Shion sukses menarik perhatian pria paruh baya yang tengah membaca koran di salah satu kursi makan. Pria yang ia ketahui sebagai ayah Sai itu membetulkan kacamatanya sebelum menyunggingkan senyum tipis dan cepat-cepat melipat korannya.

"Saya sangat senang bertemu dengan Otousan. Sungguh kesempatan yang teramat langka," ujar Shion setengah bercanda.

Ayah Sai terkekeh geli, begitupun dengan sang istri yang tertawa pelan. Mereka baru tahu kalau Shion pandai menyenangkan hati orang tua. Keduanya makin yakin bahwa pilihan putra mereka tidak salah.

"Mulai sekarang kamu tidak akan sulit bertemu dengan kami," ungkap ibu Sai yang membuat benak Shion dipenuhi pertanyaan. Ia tersenyum ceria sebelum meneruskan, "Otousan sudah memutuskan untuk pensiun. Jadi, anak perusahaan di luar negeri diserahkan kepada kerabat, dan kami bisa menetap di sini. Kami ingin berperan secara penuh dalam persiapan pernikahan kalian. Kami juga ingin selalu dekat dengan kalian. Mungkin lebih baik kalau setelah menikah kalian tinggal bersama kami. Sai tidak keberatan, tapi katanya dia akan merundingkannya dulu denganmu. Apakah dia sudah pernah menyinggung tentang hal ini?"

"Bicaranya pelan-pelan saja, Kaasan," sahut ayah Sai, "bahkan Kaasan belum mempersilakan Shion duduk."

"Astaga…." Ibu Sai tampak bersalah. "Maafkan Okaasan, Nak…. Okaasan terlalu senang bisa bertemu denganmu lagi…."

Shion tersenyum maklum. "Daijoubu, Okaasan … Otousan…."

Sungguh Shion merasa sangat bersalah bila mengingat bahwa ia hanya bersandiwara untuk melancarkan rencana balas dendam kekasihnya-yang-sesungguhnya kepada Uchiha Sasuke. Hatinya perih mendapatkan segala perhatian tulus yang mereka curahkan untuknya. Ia bahkan belum seakrab ini dengan orang tua Naruto.

"Sebaiknya saya bangunkan Sai dulu," kata Shion seraya meminta izin untuk beranjak ke kamar Sai.

Shion meniti anak tangga dengan lesu sambil memandangi kunci kamar Sai yang diberikan kepadanya. Ia juga belum paham dengan apa yang dirasakannya pada Sai. Yang jelas ia merasa kurang senang saat tahu kalau Ino begitu mencintai Sai. Ia pun takut jika suatu hari ia harus jujur pada Sai untuk kembali pada Naruto.

Pasti Sai tidak akan susah mencari penggantinya. Namun, ia jadi takut Sai berbalik membencinya, dan dengan mudah berpindah ke lain hati.

Sai memang terkenal playboy sebelum menjalin hubungan dengannya. Tetapi, selama bersamanya, ia yakin kalau Sai setia. Sai juga tidak pernah menanggapi ajakan kencan yang sering datang. Malahan Sai tidak segan menunjukkan banyaknya pesan atau email yang berisi undangan untuk kembali menghabiskan malam bersama dari kawan-kawan lamanya. Kekesalan yang ditunjukkannya saat itu bukan semata-mata bagian dari sandiwara. Para wanita amoral itu sepertinya belum menyerah meski kabar tentang Sai yang akan segera menikah bukan kabar angin belaka. Padahal Sai tidak lagi menyimpan nomor mereka di kontak ponselnya.

Entah mengapa ketakutan itu makin menjadi-jadi setiap kali ia berpikir bahwa Sai bisa kembali mempermainkan perasaan perempuan setelah ia meninggalkan pria itu. Tidak menutup kemungkinan Sai menjadi perokok berat dan pecandu minuman beralkohol untuk membantu melupakannya. Atau mungkin ia hanya terlalu sering menonton drama hingga berpikiran seperti itu.

Tempat tidur Sai sudah rapi saat ia membuka pintu. Sai tidak bergulung di bawah selimut seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Dan ia belum melihat sosok tinggi kurus tunangannya.

"Sai…," panggilnya.

"Shion? Kaukah itu?" Suara Sai seperti teredam. "Aku masih mandi."

Pantas saja. Shion mengayunkan langkah untuk menduduki sofa panjang di dekat pintu balkon. Sekarang ia bisa mendengar gemericik air shower. Untuk membunuh waktu, ia mengabaikan tas tangannya dan mulai membuka buku-buku sketsa Sai yang tertata rapi di bagian bawah meja. Tidak ada yang aneh sampai ia menemukan sketsa wajahnya pada setiap lembar salah satu buku sketsa—hanya dirinya. Tanpa bisa dicegah, pipinya memanas melihat dirinya sendiri tampak begitu cantik. Apakah seperti itu dirinya di mata Sai?

Shion jadi ragu kalau itu gambar dirinya jika mengingat Ino. Tetapi, poni perempuan dalam sketsa itu tidak panjang dan menyamping, melainkan rata tebal seperti miliknya. Ia lebih yakin kalau itu adalah dirinya setelah membaca rangkaian kata yang tertulis di bagian dalam sampul belakang buku sketsa tersebut. Tulisan tangan Sai—tidak diragukan lagi. Kali ini tulang pipinya makin memerah.

Je t'aime pour toujours, Shion….

Mendengar pintu kaca buram kamar mandi digeser, Shion lekas-lekas mengembalikan buku-buku itu pada tempatnya. Sai sudah mengenakan kaus hitam berlengan pendek yang dipadukan celana panjang berkolor pada bagian pinggang. Melihat Shion yang tampak tidak tenang, Sai hanya menaikkan alis tanpa menghentikan tangannya yang mengeringkan rambut dengan handuk.

"Norak," desis Shion.

Seketika Sai memerhatikan pakaiannya. Sepertinya Shion kurang menyukai gaya berpakaiannya yang santai ketika berada di rumah.

"Aku akan ganti kalau kau tidak suka—"

"Bukan masalah itu," sela Shion. Ia masih lupa tujuan awalnya menemui Sai. Bahkan ia bisa terlupa akan Naruto jika bersama pria itu. Pesona Sai sungguh menyeramkan—atau mungkin kerapuhan hatinya yang lebih mengerikan.

"Lantas?"

Wajah Shion kembali merona. "Lupakan."

Teringat akan maksud kedatangannya, Shion bangkit dari sofa. Sebelum menghampiri Sai, ia melepas mantelnya karena suhu si kamar itu cukup membuatnya berkeringat. Tidak heran jika Sai tahan mengenakan kaus berlengan pendek setelah mandi pada musim dingin seperti ini.

"Kita harus bicara," katanya serius.

"Bukankah dari beberapa detik yang lalu kita sudah bicara?" Sai malah menanggapi dengan gurauan walaupun sejatinya ia sangat mengerti akan arah pembicaraan Shion.

"Sai…," geram Shion.

"Uh—oke, kita bicara di mana? Di ranjang?"

Shion makin geram. Namun ia berusaha untuk tidak termakan candaan mesum Sai. Ia mengambil tempat di hadapan pria itu. Sandal rumah membuatnya harus mendongak untuk membalas tatapan kedua mata kelam itu.

"Ino sangat mencintaimu." Shion setengah sadar ketika mengucapkannya. Ia sendiri sedikit terkejut saat mendengar ucapannya. Padahal ia sudah menyiapkan rangkaian kata yang lebih tepat.

Sai malah terkekeh pelan. "Mungkin benar, tapi aku tidak merasakan hal yang sama padanya. Lalu, apa kau masih akan terus berusaha untuk menjodohkanku dengannya?"

Shion mulai gentar untuk menatap kedua mata Sai. Namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan.

"Setidaknya hargailah perasaan Ino. Kau pasti sudah berkata kasar padanya—atau bahkan menyakiti hatinya—sampai-sampai dia nekat mengiris nadi—"

"Dengar baik-baik, Shion…,"

Shion tak lagi melihat senyum di wajah Sai.

"aku akan mengatakan suka jika aku memang suka, begitupun sebaliknya. Kau pikir kenapa aku selalu mencampakkan wanita-wanita yang pernah ku tiduri? Tentu saja karena aku tidak bisa menyukai mereka. Aku pasti akan menikahi salah seorang dari mereka jika memang ada yang berhasil membuatku jatuh cinta. Aku tidak bisa bersandiwara, Shion—tidak seperti kau…."

Shion terbelalak. Jantungnya berdenyut lebih kencang dalam waktu singkat.

"Aku tidak merasa terganggu setelah tahu kau hanya mempermainkanku," imbuh Sai saat melihat Shion belum mampu berkata-kata. "Aku pikir, mungkin ini adalah karma untukku. Dan aku sadar kalau aku tidak bisa terus mengikatmu karena hatimu bukan untukku. Mungkin sudah saatnya aku melepasmu."

Sai memang tersenyum. Tetapi, Shion malah merasa ada yang menyayat hatinya.

"Mulai sekarang kau boleh kembali pada kekasihmu." Sai melepaskan cincin yang disematkan Shion di jari manisnya saat pesta pertunangan mereka. Ia membuka pintu kaca balkon yang seketika mengembuskan udara yang kontras dengan suhu di dalam ruangan. Masih membelakangi Shion, Sai melemparkan cincin berwarna perak itu—entah ke mana. "Kalian bebas melakukan apapun untuk mewujudkan tujuan kalian. Aku tidak akan menghalangi atau mencampuri urusan kalian."

Pandangan Shion mulai memburam. Ia mati-matian menahan air mata yang mendesak jatuh.

"Pulanglah." Sai kembali menggeser pintu balkon dengan tenang. "Biar aku yang menjelaskan semuanya pada orang tuaku. Pasti akan sedikit sulit untuk membuat mereka mengerti. Tapi segalanya memang butuh waktu dan proses."

"—Sai no baka!"

Shion berlari meninggalkan kamar dengan berurai air mata. Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Seharusnya ia merasa lega karena Sai melepaskannya dan membiarkannya kembali pada Naruto. Terlebih Sai juga berujar tidak akan mengganggu upaya Naruto untuk memberikan sedikit pelajaran pada Uchiha Sasuke. Ia begitu mudah percaya pada Sai karena pria itu memang tidak pandai berbohong. Sai selalu bicara apa adanya—jujur dan adakalanya terkesan blak-blakan. Sai bahkan seperti tidak peduli jika terkadang kejujurannya itu menyakiti hati orang lain. Biarpun sering bergonta-ganti pasangan, Sai termasuk laki-laki polos. Candaan Sai pun sama sekali tidak lucu.

Sudah semestinya ia merasa bebas dan tenang sekarang. Namun, kenyataannya ia malah merasa sebaliknya.

Tanpa sepengetahuan orang tua Sai, Shion berlari menuju halaman samping rumah. Ia yakin cincin Sai jatuh di sekitar sana. Ia menengadahkan kepala dan tidak menemukan sosok Sai yang berdiri di depan pintu kaca itu. Sambil mengumpat Sai karena kebodohan pria itu, Shion menajamkan penglihatannya di sekitar kolam renang yang saat itu membeku pada permukaannya. Pencariannya tidak memakan banyak waktu karena cincin itu berkilau akibat bias cahaya matahari.

Ia bagaikan berjalan di atas kaca tipis yang licin saat mengendap ke bagian tengah kolam renang. Setiap langkahnya meninggalkan retakan yang kentara. Sedikit lagi ia bisa meraih cincin polos itu dengan melakukan pergerakan yang hati-hati. Ia hanya takut terpeleset atau tercebur ke dalam air dingin yang tidak sanggup ia terka berapa suhunya.

Setelah mendapatkan benda yang dicarinya, ia mundur secara teratur seperti ketika ia maju. Sayangnya ia tak punya cukup waktu untuk berpikir lebih lama dan mengambil jalur lain yang belum ia lalui. Sehingga retakan yang ditimbulkan kakinya terlihat makin jelas.

"Shion?! Apa yang kau lakukan?! Bahaya!"

Awalnya Sai berniat mengejar Shion untuk mengembalikan tas dan mantel perempuan itu. Shion pasti tidak bisa pulang tanpa tas yang mungkin berisi kunci apartemen, selain dompet. Namun, seruannya itu malah membuat langkah Shion menjadi tak beraturan. Lapisan es tipis itu pecah dan menceburkan Shion ke dalam air yang suhunya kurang dari nol derajat celsius. Suara benturan yang cukup keras juga terdengar bersamaan dengan jatuhnya Shion.

Serta merta Sai diliputi kecemasan luar biasa yang bercampur rasa bersalah. Tanpa pikir panjang ia menjatuhkan dirinya ke kolam dan menolong Shion yang nyaris tak sadarkan diri. Ia membaringkan Shion di tepi kolam dan bergerak mendekap tubuh dingin itu. Tubuhnya sendiri menggigil karena dingin berbaur takut. Apalagi saat ia melihat darah yang mengalir dari bagian belakang kepala Shion. Sai tidak pernah merasa setakut itu sebelumnya. Ia pun belum mampu beranjak untuk sekadar menghubungi ambulans saat napas Shion mulai tersengal.

"… Sai…."

"Coba jelaskan—apa maksud dari semua ini?" bisiknya pilu saat mata Shion mulai terpejam. Sebentuk cincinnya tampak berkilap di salah satu telapak tangan Shion yang perlahan membuka.

~ooo~

Sasuke belum diizinkan keluar rumah meskipun ia tidak ingin dianggap sebagai pengecut. Keadaan tidak memungkinkan baginya untuk berangkat ke kantor. Bahkan Itachi dan anggota keluarganya yang lain juga bernasib sama lantaran puluhan wartawan bersiaga di depan gerbang pagar rumah mereka dari pagi-pagi buta.

Sejatinya Sasuke ingin segera meluruskan kesalahpahaman tersebut. Kalau perlu ia akan mengatakan bahwa Yume adalah putrinya dengan Karin yang mereka katakan sebagai seorang janda. Sayangnya ia belum mengerti perihal duduk permasalahan yang menyebabkan Ino melakukan percobaan bunuh diri. Padahal Ino sendiri yang terlebih dahulu memutuskan hubungan pertunangan dengannya. Ia hanya khawatir pengakuannya akan makin memperkeruh keadaan saat ini.

Media massa memang tidak menampakkan secara jelas wajah Karin dan Yume. Namun, ia yakin bahwa Karin mengerti akan janda beranak satu yang dimaksud oleh pers. Ia hanya bisa berharap agar Karin tidak turut salah paham karena ia belum berhasil menghubungi wanita itu untuk menjelaskan segalanya dan meminta pengertian. Ia juga harap-harap cemas jika gosip itu berimbas buruk pada keluarga Karin. Pasti Naruto akan kian bertambah dendam padanya bila hal itu sampai terjadi.

Teringat akan janjinya kepada Karin dan Yume untuk mengisi akhir pekan bersama, Sasuke jadi gusar. Bagaimanapun ia harus tetap memenuhi janjinya.

Tak jauh berbeda dengan Sasuke, Itachi pun mencemaskan keadaan Hinata. Pasti Hinata tidak bisa tidur nyenyak karena berita kurang mengenakkan itu. Semalam saja istrinya itu langsung meneleponnya begitu tahu kalau Sasuke tengah berada dalam masalah. Mungkin Hinata akan kembali menghubunginya sesudah menonton berita terbaru di televisi.

Telepon rumah berdering tidak lama kemudian. Terkaan Itachi tepat sasaran.

"Bagaimana keadaan Sasuke-kun?" tanya Hinata begitu Itachi menempelkan gagang telepon di telinganya.

Itachi melirik Sasuke yang tiduran di sofa. Adik semata wayangnya itu masih saja mengerutkan dahi dengan mata terpejam. Bahkan Sasuke belum memenuhi ajakan ibunya untuk menyantap sarapan.

"Ku rasa belum bisa dikatakan baik," balas Itachi. "Tapi jangan khawatir, dan makanlah yang banyak."

"Hai'." Hinata diam sejenak sebelum melanjutkan, "Itachi-san juga—harus selalu mengingatkan Sasuke-kun untuk makan dan istirahat yang cukup supaya radang lambungnya tidak kambuh. Sasuke-kun juga tidak boleh stres."

Itachi megap-megap. Seharusnya ia bisa bersikap lebih dewasa dalam keadaan genting seperti ini. Ia bukan lagi remaja labil, dan ia tahu kalau Hinata hanya bersikap layaknya kakak ipar yang baik. Hinata dan Sasuke juga sekelas saat di sekolah menengah. Pun sepatutnya ia tidak kaget ketika mengetahui keakraban mereka. Namun, hatinya benar-benar tidak mau diajak kompromi.

"Jadi, yang kau cemaskan hanya Sasuke? Lantas, kenapa kau tidak langsung menelponnya saja?"

"Aku sulit menghubungi handphone Sasuke-kun," jawab Hinata tanpa beban, "—mungkin tidak diaktifkan."

Saat ini Itachi merasa ada yang meremas-remas hatinya. "Kau masih marah padaku?" lirihnya.

"Sedikit." Hinata seperti tidak peduli jika jawabannya yang terdengar sangat santai itu makin membuat Itachi galau.

Tak tahu mengapa akhir-akhir ini Hinata yang biasanya lemah lembut dan bertutur kata halus jadi selalu ingin marah setiap berinteraksi dengan Itachi. Apalagi kalau ia melihat wajah atau mencium aroma tubuh Itachi, perutnya jadi mual dan terkadang sampai membuatnya muntah. Namun, kalau tidak bertemu ia malah menanggung rindu berat kepada Itachi. Seperti yang ia rasakan sekarang—meski sudah berbincang dengan suaminya itu—yang berpadu dengan rasa benci yang entah datang dari mana.

Adakalanya ia jadi bertanya-tanya; apakah kehamilannya normal? Atau barangkali calon anaknya laki-laki, sehingga tidak mau kalah dari sang ayah yang kelewat memesona itu? Entahlah. Beruntung suaminya pengertian, jadi tidak sampai hati untuk sekadar meninggikan suara kepadanya setiap kali ia marah atau mengidam yang aneh-aneh.

"Sebenarnya banyak sih, benci juga."

Dalam sekejap Itachi berkeinginan untuk meringkuk di sudut ruangan. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan, agar—yang kata ibunya—'bawaan bayi' itu tidak kian melukai hatinya yang mendadak lebih sensitif, sekaligus menenangkan Hinata yang agaknya makin sering mengalami mood swing, "Oh ya, aku belum bisa menjemputmu. Maaf."

"Fine, lebih baik aku tetap di sini sampai gosip itu mereda—setidaknya sampai para wartawan itu bosan berada di gerbang." Hinata mengatakannya sambil memerhatikan layar televisi yang menampakkan bagian depan kediaman Uchiha yang dipenuhi juru warta. Ayah dan ibunya juga menonton program yang sama di tengah kegiatan minum teh mereka. "Lagipula, aku yakin Itachi-san juga sulit keluar rumah, dan mungkin aku tidak bisa kontrol kandungan jika tinggal di sana dalam keadaan yang masih panas seperti ini."

"Astaga…," desah Itachi sembari mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ternyata ada yang lebih mengharuskannya keluar rumah dibandingkan pergi ke kantor.

"Huh, aku bisa ke rumah sakit sendiri." Hinata langsung memutuskan sambungan setelah mengucapkannya dengan nada dingin. Ia makin mendongkol karena tahu kalau Itachi baru teringat akan jadwal mengantarkannya ke dokter kandungan.

Itachi meletakkan gagang telepon dengan lesu. Belum sampai ia beranjak dari meja telepon, dering itu terdengar lagi.

"Aku membencimu, Itachi."

Dan sambungan kembali diputus dari seberang. Sekarang hati Itachi bertambah kusut tidak keruan. Ia mengelus dada—terlalu syok. Ia pun menyemangati dirinya sendiri sebelum menuruti titah Hinata untuk lebih memerhatikan Sasuke.

Sabar, sabar … bawaan bayi, bawaan bayi….

~ooo~

Sai berada di sisi Shion saat sepasang mata violet itu kembali menampakkan sinarnya. Ia berdiri dari duduknya dan lebih mendekat pada ranjang tempat Shion terbaring. Ia bersyukur Shion hanya mengalami trauma ringan pada kepalanya yang membentur tepian kolam renang.

"Hei, masih tengah malam, tidurlah lagi…," candanya disertai senyum.

Shion masih belum menyahut. Matanya mengerjap beberapa kali. Cahaya lampu di langit-langit kamar terasa menusuk matanya.

"Siapa kau?" gumam Shion.

Sai terpaku. Mungkinkah Shion kehilangan daya ingat karena cedera di bagian belakang kepalanya?

"Aku tunanganmu," lirih Sai dengan perasaan kacau.

Detik berikutnya Shion memukul pucuk kepala Sai dengan telapak tangannya. "Baka," desisnya tajam.

Sai terperangah. Ia belum mampu membalas. Namun di lubuk hatinya ia merasa sangat lega karena Shion sudah sadar—bahkan sudah bisa memukulnya seperti biasanya.

"Kau pikir aku amnesia?! Aku masih ingat betul kalau kau sudah membuang cincinmu!" Sekali lagi Shion menempeleng pria berkulit pucat itu.

"Hei—kenapa kau masih menghukumku? Padahal aku sudah diomeli Mommy seharian. Dan ku ucapkan selamat, kau adalah perempuan pertama yang berani memukulku di kepala."

"Kepalaku sakit, tahu!—Dan kau juga harus merasakannya. Gara-gara kau, aku jatuh."

"Iya, maaf…," bisik Sai seraya mengelus bagian kepala Shion yang dililit perban. Sesaat kemudian Shion terisak, membuat Sai kewalahan. "Kau yang memukulku, tapi kau membuatku merasa bersalah. Sudahlah … jangan menangis lagi. Aku masih menyimpan cincinku. Lagipula kau jelek kalau mewek."

Bukannya tenang, Shion malah kembali memukul Sai di kepala. Keadaan Shion yang masih lemas tidak cukup untuk membuat kepalanya dilanda pening. Senyumnya yang penuh kelegaan mencerahkan wajahnya yang menyiratkan keletihan. Ia menduduki tepi ranjang setelah mengeluarkan cincinnya dari saku mantelnya. Shion tidak menunggu lama untuk kembali menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Tanpa memudarkan senyum, ia beringsut memeluk Shion yang masih terbaring, lalu berbisik, "Kau tidak akan menyesal…."

"Aku tahu," bisik Shion sembari membalas dekapan Sai.

"Naruto yang akan menyesal telah menjadikanmu umpan untukku…."

"Hm." Shion memejamkan matanya. Ia tiada kuasa mencegah rasa cinta untuk Sai. Awalnya ia meragukan perasaannya karena ia pikir tidak mungkin ia mencintai dua lelaki dalam waktu bersamaan. Hingga ia menyadari bahwa hatinya lebih condong ke Sai. Entah sejak kapan. Namun setelah tersadar, ia merasa teramat takut kehilangan Sai. Membayangkan Sai membencinya setelah mengetahui segalanya juga membuatnya hilang akal. Ia beruntung karena nyatanya Sai masih bersedia menerimanya.

"Tadi beberapa kali dia menghubungi ponselmu. Setelah ku jawab, dia tidak menelpon lagi. Bahkan tidak ada email lagi untukmu."

"Memangnya apa yang kau katakan?"

"Aku bilang kalau kau bersamaku—di ranjang."

Wajah Shion memerah karena Sai mengatakannya dengan santainya.

"Aku tidak bohong, 'kan…?"

Shion memalingkan mukanya yang masih merona.

~ooo~

Yume hanya bungkam setiap melihat mamanya yang sejak kemarin mengemasi barang-barang di apartemen mereka. Sedikit banyak ia tahu kalau mamanya akan mengajaknya pindah tempat tinggal. Namun, ia belum cukup dewasa untuk mengetahui penyebabnya.

Agaknya hari ini berbeda. Yume berani bertanya pada mamanya, "Kita akan pindah ke mana, Ma?"

Karin menghentikan kegiatannya memasukkan pakaian Yume ke koper. Ia mencoba mengembangkan senyumnya dan mendekati Yume yang duduk di tepi tempat tidur. Ia berlutut di depan Yume dan berusaha memberikan pengertian, "Yume ingat 'kan kalau akhir pekan ini kita sudah berencana pergi ke taman hiburan dan kebun binatang…?"

Yume mengangguk pelan dan makin mengeratkan pelukannya pada boneka beruang cokelatnya.

"Maafkan Mama karena membatalkannya tanpa menunggu persetujuan Yume. Sebagai gantinya, Mama akan mengajak Yume ke rumah Opa dan Oma—rumah Paman Naruto juga."

"Jauh dari sini?"

"Lumayan."

Yume mendadak murung. Ia menumpukan dagunya pada puncak kepala bonekanya yang selalu tersenyum.

"Bagaimana dengan Sasuke-kun? Sasuke-kun sudah janji akan ikut ke taman hiburan dan kebun binatang untuk merayakan ulang tahunku."

"Yume…." Karin berusaha menenangkan Yume yang mulai menitikkan air mata. Ia pun tak mampu membendung tangisnya saat memeluk tubuh mungil putrinya.

"Apa Mama akan mengajak Sasuke-kun ke rumah Naruto-jichan?"

"Tidak."

"Kenapa?" Yume makin terisak. Namun, Karin tak kunjung menjawab, malah mempererat pelukannya. "Bagaimana kalau Sasuke-kun ke sini, tapi—"

"Sasuke-kun tidak akan ke sini lagi."

"Tapi aku sudah bilang pada Sasuke-kun supaya menemui Mama kalau Sasuke-kun sakit—"

"Sasuke-kun tidak akan sakit lagi."

"Tapi waktu itu—"

Karin melepaskan pelukannya dan mencengkeram kedua pundak Yume dengan lembut. Kali ini ia tidak berusaha menyembunyikan tangisannya dari Yume.

"Dengar, Yume—kita tidak boleh terlalu dekat dengan Sasuke-kun—"

"Kenapa tidak boleh? Sasuke-kun bukan orang jahat. Sasuke-kun itu papaku—"

"Yume!"

Bibir Yume bergetar menahan tangis. Ia merasa kalau saat ini wanita di hadapannya bukanlah mamanya yang baik hati.

"Aku tidak mau pindah. Aku mau tinggal bersama Sasuke-kun saja—"

"Jadi, Yume sudah tidak sayang Mama?" Karin kembali merendahkan suaranya.

"Mama jahat! Aku tidak mau pergi! Aku mau ke rumah Sasuke-kun!" Yume mencoba berontak dan berlari ke pintu depan. Tetapi, Karin berhasil menahan langkah Yume. Ia menggendong Yume dan membuatnya tertidur setelah kelelahan menangis.

"Maaf…," bisiknya pilu.

~ooo~

Sasuke memenuhi janjinya untuk datang ke apartemen Karin pada hari Sabtu. Ia berhasil keluar rumah dengan menumpang mobil Itachi. Kebetulan Itachi hendak menemui Hinata yang masih tinggal di kediaman Hyuuga. Mobil Itachi tidak terlalu sulit untuk lewat karena sudah tidak banyak wartawan yang masih setia menunggu kemunculannya di gerbang rumahnya. Ia tidak ingin lebih lama lagi menjadi seorang pengecut. Namun, ia masih harus meminta persetujuan Karin untuk memberikan konfirmasi kepada pers.

Ia tiba di apartemen Karin tanpa kesulitan berarti. Apalagi Itachi bersedia mengantarkannya sampai tujuan. Untuk pulang, akan ia pikirkan lagi nanti.

Cepat-cepat ia menaiki tangga ke lantai dua. Ia pun tidak menunggu sampai napasnya normal kembali untuk menekan tombol bel. Satu kali bel ia bunyikan, belum terdengar sahutan dari dalam. Pintu di depannya belum dibuka hingga beberapa kali ia menekan bel, dan hal itu membuat suatu rasa tak nyaman menyergap hatinya.

"Uchiha Sasuke-san?"

Sasuke tidak menyahut. Ia hanya membalas tatapan perempuan berambut merah jambu tersebut.

"Ano—Karin-nee dan Yume sudah pindah."

Penjelasan perempuan itu malah memperburuk suasana hati Sasuke.

"Apakah Anda tahu ke mana mereka pindah?"

"Karin-nee belum menghubungi saya untuk itu—maaf."

Aku mohon … jangan lakukan ini lagi padaku….

Sungguh Sasuke tidak ingin merasakan kehilangan lagi.

.

.

.

TBC~

Go koui, arigatou gozaimashita:

Chappy mau login (^^), Jimi-li (Ao, Nee~ baca reviewnya jadi sadar kalau fic ini lama gak diapdet, hehe. Kayaknya aku belum pernah baca kalau novelnya Agatha Christie. Lebih panjang reviewnya lebih semangat aku bacanya, haha. Terima kasih ya… :D), Jielly N. S (^^), Aiiko Aiiyhumi (Iya, masih ada misterinya, hoho *sok misterius meski sebenarnya gak* ^^v), dindaaa (Kebiasaan buruk, apdetnya gak konsisten. Chapter sebelumnya memang cepet, tapi yang ini termasuk molor yak…? Makasih ya… :D), Nara Kazuki (Naru hanya 'sedikit' balas dendam pada Sasu yang buat Karin meninggalkan rumahnya ^^v), ELFKyuPaDa (^^), ErVa Sabaku (^^), Shena BlitzRyuseiran (Tidak apa-apa, dan makasih ya… ^^)

Dalam keadaan suntuk malah publish chapter ini. Di sini porsi SaiShion sangat banyak, karena masalah mereka harus tuntas dulu, hehe. Terima kasih banyak semuanya, terlebih reviewers karena meluangkan waktunya untuk meninggalkan rangkaian kata penyemangat. Terima kasih juga silent readers….

Bagaimana tanggapan kalian untuk chapter ini? Review, ya…. n.n

17/09/2012

Narimiya (?) Aoi XD