-Jongin POV-

"hey Jongin! Bisakah kau cek anggaran klubku? Plis? Plis? Plis? 450.000 hilang! Aah aku rasa aku bisa gila sekarang!"

Begitulah cara Kyungsoo muncul di kehidupanku dan menjadi sebuah kejutan terbesar dalam hidupku ditahun ini. Kenyataannya, kami hanya sekedar mengetahui satu sama lain, tapi kami tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata seperti hari itu. Kalaupun ada, kami tidak pernah berbicara se-lama hari itu.

Aku tidak bisa menahan senyum setiap kali membayangkan kejadian hari itu. Wajah Kyungsoo yang berkulit putih dan pucat, matanya yang bulat, juga pipinya yang tembam dan menggemaskan, yang biasanya selalu penuh dengan ekspresiyang berbeda-beda (kadang penuh amarah, jengkel, galak, licik, sok pintar, dan kebanyakan, selalu terlihat ceria) bagaimanapun hari itu, dia memasang ekspresi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia terlihat panik luar biasa yang membuatku harus menahan diriku sendiri agar tidak menertawakannya. Baik, aku akui jika diam-diam aku sering menikmati setiap momen saat aku memperhatikan Kyungsoo, karena ternyata di dunia ini, ada orang semacam anak itu. Setiap kali aku melihat wajahnya, rasanya sungguh menyenangkan dan segala bebanku menghilang karena dia bisa membuatku tertawa. Dia konyol dan menggemaskan.

Tapi aku bersumpah, walaupun aku berpikir seperti itu tentangnya, tidak pernah sekalipun terbesit dalam benakku untuk memikirkan Kyungsoo dengan cara yang romantis. Karena Kyungsoo itu hanya teman biasa (yang tidak terlalu akrab, yang hanya bisa aku pandangi dari kejauhan) yang selalu memiliki suasana hati yang ceria. Aku juga tahu kalau dia itu straight. Aku bahkan dengar kalau dia sudah punya pacar yang kebetulan satu sekolah dengan pacarku, meskipun aku tidak tahu siapa pacarnya itu. Kadang, aku membayangkan bagaimana Kyungsoo bertingkah saat berada di dekat pacarnya. Apakah dia juga suka bercanda seperti saat dia bersama teman-temannya di sekolah? (jika iya, pacarnya pasti akan merasa pusing) ataukah dia adalah tipe pacar yang manis dan romantis yang selalu memanjakan pacarnya? Siapa yang tahu?

"ternyata kau pacar yang baik, Kyungsoo"

Hari disaat kami pulang dari acara makan bersama pacar-pacar kami, hari itu, aku benar-benar jujur dan tidak punya maksud tersembunyi saat melontarkan kata-kata itu pada Kyungsoo. Yang tidak aku ketahui adalah, jika suatu hari aku dan Kyungsoo akan jatuh kedalam jurang yang sangat dalam sampai-sampai tidak ada satupun diantara kami yang bisa keluar dari jurang itu.

Jung Soojung :

[Jongin, jangan tinggalkan aku.]

Tapi nyatanya, kenyataan tidak pernah sesederhana apa yang kami harapkan. Menghembuskan napas panjang, aku menatap pesan yang ada di kolom inbox SNS di komputerku dengan perasaan berat.

Aku bisa merasakan kerasnya meja kayu yang sedang ku ketuk-ketuk menggunakan jari telunjukku seolah aku sedang berpikir keras saat ini.

Namun nyatanya, kepalaku kosong. Bukannya karena aku tidak punya hati atau tidak mampu merasakan apa pun sama sekali. Hanya saja aku sudah berusaha untuk mencoba memikirkan hal ini berulang kali, tapi aku tidak bisa menemukan solusi apapun. Pada titik ini, aku sudah menjadi seseorang yang mencoba lari dari kenyataan.

Ada banyak kejadian yang terus aku putar ulang dalam benakku, aku mencoba mencari jawaban kenapa segalanya bisa menjadi seperti ini. Perasaan macam apa yang aku miliki untuk Kyungsoo? Apakah aku mencintainya?

Aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengakui bahwa aku bisa memberikan hal se-hebat itu kepada seorang teman yang telah memasuki kehidupanku sepenuhnya hanya di hari rabu kemarin.

Aku juga tidak bisa membuat diriku menggunakan kata 'cinta' dengan sepenuh hatiku untuk laki-laki ini... tapi aku tahu jika aku menginginkannya ada dihidupku. Memiliki Kyungsoo di sisiku selama seminggu ini adalah suatu hal yang tidak bisa aku nilai dengan harga apapun. Setiap kali aku terbangun dari tidurku dan menemukan wajahnya yang tenang sedang terlelap tepat disampingku, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berharap agar sesuatu seperti ini selalu terjadi disetiap pagiku… hingga saat dimana kami melewati batas 'teman' diantara kami.

Aku sadar betapa buruknya hal yang telah aku lakukan padanya karena aku tidak berhak melakukan hal itu kepada siapapun. Aku tidak berhak menginginkannya saat aku sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang aku miliki untuknya, aku menginginkannya saat aku tahu betul jika aku memiliki seseorang yang lain.

Aku ingin menjadi pria terhormat yang mencintai Soojung sampai detik terakhir hidupku. Aku ingin menjaga hubungan kami tetap kuat karena dia sudah memberikan kepercayaannya padaku.

Pada ahirnya, ternyata aku telah menaksir kemampuanku terlalu tinggi.

Aku berbohong. Saat aku berkata bahwa aku tidak memiliki maksud tersembunyi dan bahwa aku hanya menginginkan bantuannya saat meminta Kyungsoo untuk menjadi pacar palsuku hari itu. Aku telah berbohong…

Sejujurnya, aku luar biasa senang saat menemukan Kyungsoo yang ada disana hari itu. Kyungsoo, seseorang yang merupakan teman jauh dari temanku. Kyungsoo, orang yang menjadi lawanku dalam pertandingan tarik tambang (saat itu kami sama-sama terjatuh dan terluka di lutut kami) delapan tahun yang lalu. Kyungsoo, orang yang berakting menjadi seorang peramal zodiak yang mendampingiku saat ada studiwisata untuk acara amal di sekolah kami lima tahun yang lalu. Kyungsoo orang yang menyuapiku sesuap tteokbokki saat sekolah kami mengadakan karnaval dalam rangka perayaan Chuseok 3 tahun yang lalu. Kyungsoo, orang yang diseret Hongbin agar ikut menemaninya hadir di acara ulang tahunku (yang mana dia terlihat sangat tidak nyaman) dua tahun lalu. Dia berusaha keras untuk bertingkah sopan dan berbicara santun sepanjang waktu saat itu, aku sampai curiga jika dia akan melaukan sesuatu yang aneh di ahir acara, tapi ternyata dia hanya merasa segan pada kedua orang tuaku (dan aku menemukan hal itu lucu).

Kyungsoo, orang yang selalu aku pikirkan saat aku membayangkan betapa menyenangkannya jika aku bertemu dengan seorang gadis yang tingkahnya mirip dengan Kyungsoo. Aku sering berharap kalau Soojung bisa seceria dan secerah Kyungsoo. Kyungsoo memang selalu bertingkah brandal, dia berkata kasar, nakal, suka membolos kelas, tapi selalu ada rasa bersahabat dan ketulusan yang terpancar dari kedua matanya yang besar dan bulat.

Aku menantang diriku sendiri untuk meminta seseorang –yang selama ini selalu menarik perhatianku- untuk berpura-pura menjadi pacarku. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi, Kyungsoo tetaplah seorang laki-laki. tidak peduli seberapa imut dan manisnya dia, aku tidak mungkin memiliki perasaan lebih kepada orang ini.

Namun setelah hari-hari berlalu, aku sadar jika lagi-lagi aku terlalu memuji diriku sendiri. Aku ternyata tidak sekuat apa yang aku pikirkan.

Ponsel hitamku tergeletak disana dalam diam, sama persis seperti apa yang aku lakukan. Aku masih belum memberi Soojung jawaban.

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Jika aku adalah diriku dua minggu yang lalu, aku pasti sudah mengetik jawabannya tanpa ragu, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi hari ini, tanganku seolah membeku. Aku tidak bisa memberi sebuah jawaban yang tidak akan membuatku nampak terlihat jahat.

Itu karena aku sadar betapa mengerikannya diriku sebenarnya. Jari telunjukku bergerak dari mouse ke ponselku untuk menekan nomor yang coba aku hubungi terkahir kali, tapi aku dengan cepat menutupnya, bahkan sebelum teleponnya tersambung. Aku tidak yakin apa yang harus Aku bicarakan dengannya (jika aku bertanya apakah dia masih merasa sakit karena apa yang kami lakukan kemarin, dia akan mengutukku habis-habisan). Tapi apakah dia bahkan masih ingin berbicara denganku?

Namun pada ahirnya, jari telunjukku bergerak lebih cepat dari perkiraanku dan menekan nomor itu sekali lagi. Aku menghidupkan pengeras suaranya dan mendengar panggilannya sudah tersambung. Tidak lama kemudian, dia menjawabnya dengan nada galak seperti biasa.

"Kenapa telepon? Aku sedang berada di depan pintu kamarmu."

Aku hampir tidak percaya dengan mataku sendiri ketika membuka pintu dan melihat Kyungsoo berdiri disana. Duniaku seolah berhenti seketika, Kyungsoo dan sebuah tas punggung ditangannya berlalu melewatiku begitu saja, tapi aku tidak perduli, aku tidak perduli bagaimana seharusnya pria itu menyapaku. Yang bisa aku dengar hanyalah suara yang bergema di dalam kepalaku yang mengatakan bahwa,

Aku menginginkan Kyungsoo.

Aku ingin Kyungsoo selalu berada disampingku.

Dia tidak perlu berada disampingku selama sisa hidup kami.

Aku hanya menginginkan saat-saat ini, saat-saat dimana kami masih memiliki perasaan indah ini untuk satu sama lain.

Aku ingin terus mengingat banyak hal tentnang semua momen ini dan tetap menyimpannya jauh di dasar lubuk hatiku.

Jika suatu hari, aku harus bersama orang lain, maka aku tidak akan pernah melupakan semua momen-momen kebersamaanku dengannya.

Momen-momen ketika Kyungsoo masih berada didalam hidupku.

Semua momen yang akan selalu kujaga selamanya lebih dari barang berharga manapun yang aku miliki di dunia ini.

"ya, bawa aku kemana saja kau mau" saat Kyungsoo mengatakan hal itu, satu-satunya yang aku pikirkan adalah membawanya pergi ketempat dimana tidak ada satupun yang mengenal kami, dimana kami tidak harus menderita dengan apa yang kami alami. Meskipun aku tahu kalau Kyungsoo tidak benar-benar serius mengatakannya tapi aku yakin jauh dilubuk hatinya, dia memang membutuhkan itu.

"bagaimana kalau kita ke Eurwangni? Itu tidak terlalu jauh"

"Aku janji besok kau tetap bisa datang untuk ulanganmu, ayolah!"

Aku menemukan wajahnya terbelalak kaget tidak percaya akan apa yang aku ucapkan dan itu benar benar menggemaskan bagaimana matanya yang bulat dan besar jadi semakin besar, bibir sensualnya yang berwarna kemerahan juga menganga lebar. Benar-benar menggemaskan. tapi seperti yang aku kira, Kyungsoo mencoba menolak ajakanku.

Tapi aku tidak peduli sekeras apapun penolakan yang ingin dilakukan Kyungsoo, aku tetap akan membawanya pergi malam ini. Karena aku tidak tahu, setelah malam ini berakhir, aku tidak akan pernah tahu kapan lagi kami bisa mendapat kesempatan untuk bersama seperti ini.

Karena aku bisa tahu alasan sesungguhnya kenapa dia datang kesini hanya dengan melihat matanya yang kosong dan sayu itu…

Jadi, jika semuanya akan berubah, maka aku hanya akan meminta kesempatan terakhir ini untuk bersamanya selama yang aku bisa.

Ketika kami berada di perjalanan, kalau saja Kyungsoo mau melihat kearahku, maka dia akan menyadari betapa keras aku mencoba untuk terlihat baik-baik saja dan menahan perasaan akan kenyataan bahwa aku mengetahui jika malam ini adalah malam terakhir kami bersama.

Di restoran, kalau saja Kyungsoo menaruh sedikit kepercayaannya padaku, maka dia pasti menyadari bahwa, meskipun aku tidak bisa melupakan Soojung, pikiran untuk meninggalkan dirinya tidak pernah sekalipun telintas di otakku.

Di ruangan malam itu, kalau saja Kyungsoo memilih untuk menjadi egois dengan seseorang sepertiku…

Kalau saja Kyungsoo menaruh kepercayaannya kepadaku dan membiarkan aku memutuskan segalanya…

Aku akan rela untuk membuang – apa yang disebut dengan– kenyataan ini. Aku sudah siap untuk membuang hal-hal yang biasa dianggap layak oleh orang-orang. Aku ingin melempar semua hal yang diajarkan pada kami -yang mereka bilang adalah hal yang benar- jauh-jauh, jika Kyungsoo memberiku kesempatan.

Aku selalu siap untuk menggenggam Kyungsoo selama dia membutuhkanku.

Bagaimanapun, dunia kenyataan dan dunia mimpi berada pada garis paralel.

Aku hanya memiliki satu malam yang tersisa ini dimana aku dan Kyungsoo bukan hanya sekedar teman.

Setelah malam ini, aku tidak bisa lagi menggenggam Kyungsoo selama yang aku mau. Tidak lagi.

-Jongin-.

tbc


jadi, berhubung banyak yang gak sabar sama update-annya, admin memutuskan buat ngepost ini dulu. tadinya chapter ini mau admin barengin ngepostnya sama chapter 7 nanti tapi ya, berhubung admin nya baik hati, tidak sombong dan rajin menabung *hUeeek* jadi admin post sekarang deh^^ gimana? kalian seneng kan? seneng dong, harus seneng pokoknya /maksa.

tapi tetep chap 7 baru bisa admin post hari Jum'at. sukur2 kalo bisa lebih cepet hehe

yaudah ya sampai ketemu di chap selanjutnya.. jangan lupa review kkkkk

bye~