Don't like. Don't read.

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo. Rated M untuk konten dewasa secara tidak langsung. Maybe, Change for genre.

Pairing: Many pairing Yaoi: PrusCan, USUK, NetherIndo, SpaMano, GerIta Etc.

Summary:Coklat berbeda dengan merah. Tanah berbeda dengan api. Begitu pula kita, manusia berbeda dengan iblis...

.


.

Kami sesungguhnya hanyalah manusia. Yang diberi jiwa dan karunia. Namun, kami berbeda pula dengan manusia. Karena kami diberi kelebihan. Tapi, kami tak sama dengan Iblis. Yang hanya mementingkan nafsu diri. Kami melindungi yang terkasih. Karena cinta yang terpati.

.


.

Fate Line

(...Bisakah kita melewatinya... Garis tipis sejengkal yang begitu tebal? Bisakah kita mengubah... apa yang sudah digariskan?...)

.

Original Story by Rin

Disclaimer © Hidekaz Himaruya

Hurt/Comfort, Supranatural, Romance, Poetry

Rated M

.


Chapter. 6


.

"Hah… hah… Ka- Kak tunggu!"

"Bisakah kau berjalan lebih cepat, bocah?" tanya yang terlantun pada bocah pirang yang tengah berlari dikejauhan sana. Mencoba menyusuri kembali jejak sang pemuda yang telah lebih dulu meninggalkannya. "Ck." Decak pemuda berambut merah itu kesal.

"Cepatlah! Aku tidak mau dimarahi Irish hanya karena kau kutinggal!" perintah sang pemuda itu, yang membuat sang bocah berlari mempercepat langkahnya dan membuat diri itu terjatuh karena terantuk. Terjerembab tanah yang berlapisi hijau rerumputan.

"Uhhh…" ringis yang terdengar karena sakit yang dirasa pada tubuh sang bocah. Pemuda bermahkota merah itu hanya menghela kesal. Dan sebenarnya bisa saja ia tinggalkan anak itu sedari tadi bila tidak ada salah satu alasan yang telah disebutkannya diatas. "Kau itu…hhh." Ingin marah kalau bisa. Tapi, meski dirinya membenci sikap manja adiknya itu, tak sampai hati juga dirinya membenci anak ini. Karena secar logika dipikir, memang seperti itulah sifat yang wajar untuk anak seusianya.

Dan karena itu dia benci bocah.

Merah tersebut melangkah mendekati sosok kecil yang masih terduduk meringis mengasihani luka ditubuhnya. Dan ketika tubuh yang lebih tinggi itu menjulang menjadi bayang yang menaungi emerald polos itu, sedikit takut tersirat disana.

Memejamkan mata. Berpikir dirinya akan ada kemarahan dari pemuda yang dipanggilnya kakak olehnya. Namun, pikiran itu sama sekali tidak pernah terwujud. Bahkan terkejut karena dirinya telah dalam gendong sang Kakak.

"Kalau kau terus-terusan manja seperti ini. Kau tidak akan bisa melindungi orang kesayanganmu." Entah apa yang membuat kakaknya berkata seperti itu. Meski begitu bocah itu tetap mendengarkan kata-katanya. "Itu sudah merupakan tugas 'kita'."

Mendengar dari balik punggung besar yang menggendongnya. Yang dimana ucapnya selalu kasar setiap kata yang terluncur. Ucap kasar yang biasa didengarnya, karena begitu seringnya maki kasar yang ditunjukkan padanya. Namun, kali ini hal itu membuat sungging manis pada wajah bocah dibalik akan kasih yang tersembunyi dibalik maknanya.

Tersenyum yang disembunyikan. Sembari mempererat pergelangan tangan pada pundak sang Kakak. Menenggelamkan pula wajah pada sejulur punggung dihadapan.

'Aku juga pasti….'

"Ng?" selantun nada. Menyadari suatu kondisi yang terjadi pada sang adik. "Arthur?"

Sang adik yang tertidur dari balik punggung. Menghembus nafas teratur. Tiap semilir angin yang melangkah. Sehembus nafas berat, dalam sungging sayang. Terpati pada wajah keras. Yang luluh karena senyum sang bocah.

'…bisa melindungi yang kusayang.'

.


.

"Tak perlu kuulang sekali lagi. Angkat kaki dari rumah ini! Arthur!" marah emerald itu mengucap kembali kata yang telah diperdengarkannya. Kata yang telak jelas mengusir keberadaan seorang bocah yang kini tengah beranjak menjadi seorang remaja tanggung yang berdiri dihadapannya. Yang dimana emerald yang masing-masing serupa pada diri itu terbelalak dalam kejut, karena shock yang begitu tiba-tiba.

"Ke-kenapa? Katakan alasan yang jelas kenapa aku harus pergi."

Dihadapan dua keluarga yang lainnya. Yang masing-masing dari mereka memiliki darah yang sama mengalir dalam tubuh. Yang biasanya dua orang itu akan menjadi penengah diantara perdebatan yang terjadi. Dua kakaknya yang lain. Sama sekali tidak memberi reaksi lain selain hanya diam. Pasrah mendengar keputusan mutlak dari sang tertua, kepada bungsu yang mereka sayangi.

"Kau tidak perlu tahu." Balas kata itu dingin. Tak memandang bahkan hanya sekedar melirik remaja yang tengah berada dalam kekacauan hati.

"Aku berhak! Ini mengenai diriku! Aku tidak akan pergi kalau kau tidak mengatakan alasannya kenapa!"

"Diam dan turuti saja kata-kataku, bocah!"

"PERSETAN DENGAN PERINTAHMU, SCOTT!"

.

.

PLAK!

Sebuah tampar panas, ganas melancar dari sejulur tangan. Membuat sebuah bekas merah pada wajah putih pucat. Yang membuat terhenti desah nafas dalam ruangan seketika. Dimana permata emerald yang menghias membelalak dalam keterkejutan. Tak menyangka sebuah reaksiyyang sedemikian keras dari sang kakak.

"JAGA BICARAMU, ARTHUR KIRKLAND!"

"Scott! Sudah cukup!" bentak tertua wanita yang menjadi satu-satunya bunga diantara keluarga yang tengah goyah ini. "Kau tidak perlu sampai melakukan itu padanya!" sembari menahan sejulur lengan yang telah digunakan untuk menampar sang bungsu. Yang kini tengah tertunduk dalam, memegangi perih yang terasa. Perih. Panas. Namun, disamping itu hati yang merasakan, lebih sakit dalam koyak luka kekecewaan.

"Arthur…" satu kakak yang tidak jauh berbeda usia dengan sipirang british, yang berinsiatif menenangkan sang adik, yang dimana hal itu hanya berbekas dalam sebuah tepis penolakan.

"Baik! Baik jika itu maumu! Aku akan pergi! Aku tidak akan peduli lagi dengan keluarga ini! Terutama denganmu!"

"Art….!"

Sakit hati yang terasa, dibawa pergi bersama punggung kecil yang berbalik memunggungi dan menjauh pergi dari eksitensi lain dalam ruang itu.

Mungkin jika bocah pirang itu mau berbalik sekali lagi, bisalah ia melihat senyum miris pada bibir yang selalu mengucap kemunafikan hati.

.


.

Dia yang terbaring. Menatap langit-langit dalam hening. Sendiri sedari tadi dirinya terjaga dari mimpi. Yang entah kenapa lamun akan masa lalu yang menyakitkan itu terbayang lagi. Emerald miliknya menutup. Menghempaskan hembus. Terbangun dari tidur. Dan terduduk yang kini menjadi posisinya. Dengan tubuh yang tak terlapisi sehelai benang, selain kain putih yang menyelimutinya sekedar melindungi dari ganas dingin malam. Dingin dirinya sendiri dalam ruang dikala remang. Dimana diluar sana pagi telah menyambut dunia dengan cerah.

"…hhh…" desah yang mengalun. Menghembuskan keberatan akan beban hidup yang ditangguh. Merasa sedikit lelah dengan apa yang telah dipikulnya menjadi takdir. Karena dirinya yang berkepala batu, mengapatiskan perasaannya sendiri dari sentuh orang selain dirinya.

Beranjak diri dari pembaringan. Meraih seonggok kain kemeja dilantai dan mengkenakannya. Meraih pula tirai yang menghalangi sinar pagi mentari, yang bersinar diatas langit biru sana. Dalam biru yang cerah. Jelas terlihat menjadi pemandangan.

Biru yang lembut. Biru yang sama dengan milik yang terkasih. Yang mampu mencairkan beku hati dalam diri. Membuat dirinya dapat kembali mempercayai seseorang lagi dalam hidupnya. Juga merasakan cinta yang ia pikir telah hilang, sejak hari itu. Dimana saat ia merasa dunianya hancur saat itu juga. Dimana ia kehilangan kehangatan dalam sebuah lingkar yang disebut keluarga. Dimana ketika ia melangkahkan kaki pergi, menjauhkan diri dari lingkar tersebut. Dimana ia tak akan bisa lagi rasakan cinta dari dalam 'keluarga'nya.

Yang telah berpulang dalam merah yang menggenang. Yang tertangkap dalam kejut tangis sang emerald yang terpuruk. Yang tercermin dalam bulir kaca yang pecah dari pelupuk.

.

.

"Dasar… adik bodoh…."

.

"Artie." Seucap nama sayang, dari dia untuk dirinya. Yang menyadarkannya dalam lamun yang menyiksa.

Menoleh emerald pada sumber suara. Yang ia dapatkan safir itu tengah menatapnya. Berdiri diambang dengan wajah cemas. Dalam bingkai yang memantulkan raut seorang British diseberang. Melangkah kaki itu mendekati. Menghapus jarak yang tertiti. Hingga lengan itu mampu merengkuh mungil tubuh dalam dekapnya.

Satu kecup dilancarkan menghisap mewangi harum rambut pirang yang dalam rengkuhnya.

"Kau… mimpi buruk?"

"…"

"Kau memikirkan keluargamu?"

"…" tetap diam. Meski pirang American itu merasa sebuah gerak kecil yang dianggapnya sebagai anggukan.

Sebuah usap lembut ia lakukan untuk menenangkannya. Yang ia tahu diri itu tengah menahan air mata. Karena sebuah kisah lama, menoreh luka pada hati. Yang luka it uterus menerus terpendam sekian tahun lamanya. Yang hari itu telah ia tumpahkan semua dengan menahan sakit yang sangat padanya.

Hanya padanya.

"Al…" panggil suara itu dalam bisik. "Terima kasih… telah menjadi orang 'kesayanganku'. Kau juga Matthew."

"Ya."

Dia yang kau sayangi. Lindungilah dengan sengit.

Jangan biarkan diri itu terluka.

Lebih baik dirimulah yang terluka.

.


.

Segaris kuas, bercatkan warna, digoreskan. Hingga menodai kanvas putih yang sebelumnya tak bercela. Satu warna. Dua warna. Hingga semua warna yang tertoreh tercampur berpadu, membentuk sebuah keindahan dalam karya. Memberi sebuah pemandangan indah dalam lukisan. Yang memukau semua orang yang melihatnya.

Sat gores. Dua gores. Garis-garis yang berwarna dilukiskan. Yang dimana tiap goresnya menyiratkan sauatu rasa dalam hati. Yang terekspos pada suatu karya pada kanvas. Ada yang bilang suatu karya mengekspresikan perasaan hati seniman yang membuatnya. Dan itu terbukti kini. Karena damai lukisan yang tergambar. Tersirat suatu rasa negatif disana.

Sebuah kesedihan.

Kecemasan.

Kebimbangan.

Itulah yang tertyangkap dari karya mati dua dimensi tersebut.

Gerakan kuas itu terhenti. Menghela sang seniman sedih. Menaruh rapih semua peralatan yang sedarinya digunakan. Tidak melanjutkan apa yang terlanjur dilakukan. Meninggalkan sebuah hasil jerih dalam keadaan setengah. Karena hatinya semakin dipenuhi kebimbangan untuk melanjutkannya.

Percuma saja jika dia melukis dengan perasaan seperti ini.

Memandang amber itu pada sebuah lukis dihadapnya. Yang awalnya dirinya melukis untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau. Namun, jangankan berhasil. Justru tiap gores yang ditorehkan semakin membuat luka hati semakin lebar.

Renggut sedihh pada wajah manis, yang polos dimana permata amber yang lebih sering tertutup terlihat. Memorinya berputar pada kejadian beberapa hari lalu. Dimana belahan dirinya yang serupa dengannya. Yang lebih dahulu lahir dua detik darinya. Yang tengah menyembunyikan kesedihan hatinya, berpegang teguh pada sifat keras kepala khasnya. Yang selalu membentak dan memaki seperti biasa.

Dia tahu kesedihan yang dirasakan sang kakak. Dirinya tahu bahwa dibalik maki yang terus terucap meluncur, tersimpan khawatir yang sangat. Cemas hati pada kekasih yang tidak juga pulang. Yang telah menghilang tanpa meninggalkan kabar. Yang membuat kakaknya tersayang terpuruk dalam kesedihan.

Masih ia ingat percakapan dengan sang kakak ketika dirinya meminta izin agar dirinya dapat menginap sekedar menemani/ yang ditolaknya mentah-mentaj dan menyuruhnya pulanh. Bahkan, ketika ia memaksa sang kakak untuk pulang kerumah hanya maki dan bentak yang didapat. Perpisahan kali itu benar-benar sangat tidak membuat nyaman. Karena diakhiri dengan pertengkaran.

Melirik amber pada sebuah ponsel disamping tempat peralatan lukisnya berada. Meraih jemari itu, menangkap benda dingin tersebut dalam genggam. Sekelebat niat terbayang. Karena rasa cemas yang melanda. Mebuatnya ingin mengetahui keadaan sang kakak sekarang.

Tangannya bermain, mencari call list nomor yang dituju. Jemarinya pun bersiap memencet sebuah tombol untuk menyambungkan panggilan,

Ting Tong.

Yang dimana niat itu terhenti, ketika bel dari depan rumah berbunyi nyaring memangil pemilik rumah.

Mendesah amber itu, menatap pada layar dan akhirnya membatakan niatnya semula.

'Nanti saja,deh.' Pikirnya.

Ting Tong.

"Vee~, sebentar." Beranjak dirinya dari duduk, melepas jas lukis yang ia kenakan dan menyarungkan ponsel dalam genggam pada saku celana. Kemudia berlari menuju pintu masuk rumah. Dimana tamu untuknya tengah menunggu diluar.

Terpogoh dirinya menghampiri, membuka kunci pintu yang terpasang dan membukanya, melihat siapa yang telah datang.

"Vee~, Ludwig?"

.


.

Segumpal putih kapas memberi corak pada biru langit. Terbentang menyebar menaungi bumi bersama surya yang menyorot hangat tiap kehidupan. Pada manusia-manusia dibawah sana.

Terduduk menunggu. Menghela merenggut. Menatapi lalu lalang kehidupan yang berlalu dari bias ungu yang terpantul dalam kaca yang bertengger membingkai wajah. Memperhatikan gurat-gurat wajah bocah-bocah yang berlarian riang, seakan tak memiliki beban. Yang membuatnya tersenyum. Sembari mengingat sedikit kenang ketika kecil. Ketika diri masih polos wajah hati.

"….Pasti…"

'Ah, lagi-lagi.'

Sepenggal kenang ketika kecil. Tentang seseorang dalam piker. Membuat tertunduk sedihj. Juga rasa penasaran dalam hati. Karena tak tahu ia siapa.

Siapa dia? Kenapa dirinya tak bisa mengingatnya? Tidak satupun ingatan tentang 'seseorang' yang terkadang begitu saja muncul lalu menghilang.

Yang dimana sepenggal kata yang terbayang menyatakan kesungguhan keberadaan dia.

Sepengal kata mengenai sebuah janji.

Janji yang ia sendiri tidak dapat mengingatnya..

Yang hanya muncul sepenggal demi sepenggal sekelebat dalam bayang.

Begitu cepat menghilang, hingga ia tidak dapat menerka siapa.

Pluk.

"!" terkejut ia melonjak, merasa dingin benda yang menyentuh kulit wajah. Karena seseorang yang ditunggunya telah dating. Yang membuatnya terkejut sangat karena iseng yang dilakukannya. "Melamunkan apa Mattie?" terkekeh sosok itu menyeringai. Menatap pirang manis dengan Ruby merah yang berkilat jahil.

"Gil! Dingin tahu!" marah yang hanya disambut main-main oleh oria albino yang memberikan kecup kecil pada dahi American kekasihnya. "Kalau tidak begitu kau pasti melamun terus.. dan aku tidak suka kau memikirkan orang lain bila ada aku disampingmu."

"…"

Bergidik sedikit karena kata yang terucap. Yang dibisikkan pada liang telinga. Dimana sedikit intimidasi semu dalam dingin kata tertangkap pendengaran.

Yang rasa itu perlahan lenyapsiring dengan sebuah kecup lembut yang membuat rona merah manis pada wajah. Yang permata Amethyst itu menangkap seulas seringai padanya. "Ini." Ucapnya sembari member kopi dingin kalengan pada Matthew.

"Makasih.,." menerima benda yang diberikan padanya. Membiarkann saja ketika kekasihnya mendudukkan diri disebelahnya dan merangkul pundaknya dengan tangan miliknya.

Hening tercipta diantara kedua yang tengah terduduk bersantai melepas lelah sejenak setelah berjalan lama. Dimana dihadapan mereka terpampang begitu banyak wahana pemainan untuk bersenang-senang. Dimana orang-orang yang berlalu lalang tertawa menikmatikeberadaan mereka ditempat ini. Lepas. Bahagia. Bersama keluarga. Bersama saudara. Bersama sahabat. Bersama yang terkasih.

Grep.

Melirik terkejut violet itu karena keheranan. Sekiranya ia merasa jemari tangannya berada dalam genggam pemilik Ruby kekasihnya. Heran ia tatap pasa gurat wajah yang tertunduk. Mencoba mengerti dengan sikap tiba-tiba dalam diam itu. Tapi, tidak ada kata terucap yang menanyakan. Hanya taut balas yang dieratkan pada tangan. Mengalirkan hangat tulus hati yang penuh kasih. Tanda ia mencoba menghargai.

"Gil…" panggil suara itu lembut. Tersenyum manis tulus seperti biasa. "Sekarang kita mau kemana?"

Sadarkah ia bila tatap itu menyorot dalam pada senyum yang terkembang?

"Terserah kamu…" kembali sebuah seringai terukir pada wajah tampan milik pemuda albino, "Kita ketempat AWESOME yang kamu suka!"

"Kesesese, kamu mau kemana Mattie?"

"Err… aku belum tahu. Kita keliling saja dulu."

"Baiklah." Dan bersamaan terucapnya kata itu, Gilbert berdiri, menarik tangan dalam genggam, membuat sang empu tangan tertarik dari duduknya mendadak.

"Gil, pelan-pelan!"

Yang mendengar kata itu hanya tertawa dengan khasnya, sembari menarik sekali lagi tangan itu agar beriringan sang kasih berjalan dengannya.

Bahagia. Senang. Tertawa. Itulah kemunafikan yang ditunjukkannya diluar.

Meski, tak ada sedikit pun tawa yang terukir pada kilat ruby yang membeku dingin.

.


.

Menyembunyikan kemunafikan hati.

Menyelimuti diri dengan putih.

Agar tak tertangkap maksud hati.

Hitam diri dihadapan putih.

.


.

.

TBC

.

.

A/N: MEIN GOTT! APA-APAAN ITU GURU? GUA REMEDIAL ULANGAN? HOI! TEMEN GUE YANG GUE KASIH CONTEK, KEBET ATAU APA NAMANYALAH, YANG JAWABANNYA SAMA PERSIS KAYAK GUE… DIA LULUS? PENGHINAAN! APA MAUNYA SIH TUH GURU? TUMBAL? GRAHHHHH! NYESEK BANGET! NYESEK! KAMPREET!

GRAHH! MANA INI KOMPUTER GUE ERROR! GARA-GARA VIRUS SIALAN! DARI FLASHDISK TEMEN GUE YANG SIALAN! KAMPRETTTT! DATA-DATA GUE ILANG SEMUAAAAA! SEMUAAAA! YOU KNOW? SEMUANYA! HASIL SEMEDI GUE SELAMA BERTAHUN-TAHUN. SEMUA DOUJIN GUE, VIDEO, ANIME, FAN ARTS, MUSIC, FIC-FIC GUEEEE… HWAAAAA! DOUJIN R-18 GUE, USUK, SpaMano, GerIta, UKJap, PruSpa, FraCan, FraUK, RusAme, AmerRus, PoLieth, Americest, Italycest, Germancest, SBRL, JPSS, HarCo, SSHP,RikuSora, SoRoku, AkuRoku, blablablabla…. (absen nama-nama pairing)…. Hweeee,hweeee *mewek* HAMBAR SUDAH HIDUP! FUJOSHI TANPA YAOI BERARTI KIAMATTT! MAT! MAT!

(gomen Cpaslock kepencet sangat!)

Hah!hah! huhuhuhuhuhu, terserah kalian mau menanggapi curhatan saia apa ngga, nganggep itu sampah juga gak masalah… hweeeee *mewek lagi*

For Reviewers:

Aiko-chan Lummiera: ckckckck, kamu nak… masih muda sudah bejad...*gak beda jauh dari lo kale!* Kurang hot? Hmmmm, jujur saya sendiri memang sengaja untuk tidak bikin terlalu hot.,lebih tepatnya gak bisa bikin adegan lemon yang hot-hot amat kalo Genrenya Romance. Kalo rapeeee.. *Smirk* fufufufu, mau pilih yang mana? Apa mau SM playnya? Atau Sex Toy atauuuuu? *PLAK* disensor karena mikir yang enggak-enggak*

Kalo adegan kencan Mattie baru penuh mulai chap depan atau dua chap lagi, kali ini saya mau fokusin diantara GerIta ama PruCan dulu… Ok puaskan diri anda menunggu RAPE dific ini.

Shinju Ageha: gak papa, aku seneng kok kamu suka fic buatan saya.^^. Tapi untuk chap yang ini review lagi ya~*PLAK* udah ngikutin dari Redthread malah, hwaaaa, saya bangga banget.. ehh? Gaya nulis saya unik? Perasaan coman ulis apa yang ada dipikran. Ah Review yach?

Yumemiru Reirin: Uwahh, Mattie gimana yach? Gimana Mattie? Kamu bakal kenapa? ^^ hehe, kalo penasaran baca terus aja. OK?

RikuSena: waooowww! Ini rekor pertanyaan dalam kolom review saya lhoo. Heheheee, emang dichap lalu ada pikiran untuk masukin dikit pair SpaNether, dimana Anton jadi seme! Semenya Nether!* tapi gak jadi dan aku coman bikin hint-hint kecil aja. Yang disamping Willem itu Nesia kok. Dan untuk orang golongan itu yang saya maksud akan dimasukkan dalam beberap chap berikutnya *atau mungkin glossarium? Tergantung cerita* dan kata-kata 'Manusia golongan itu' benar-benar dipakai dalam istilah keluarga saya *intinya nih cerita, ngambil dikit dari pengalaman*

Kokoro Yumeko: sebelumnya maaf nih*bagi readers yang lain juga* mungkin kali ini saya bisa update sekitar 3 hari sekali, karena ulangan yang makin membludak. Untuk typo dimaklumi saja yach, saia males ngecek soalnya, *PLAK!*

chibyEydissaa21: Tsundere? Bukannya setahu saya Anton itu termasuk golongan yandere juga sama kayak Ivan yach? Btw, mana covernyaa? Mau lihat *maksa* kirim aja ke Fb yach!

Thank's a lot for You

REVIEW! OR I KILL YOU!*PLAK*