BIG THANKS TO OHSEHUNOONA WHO HAVE SHARED MY STORY IN HIS ACCOUNT. THANK YOU VERY MUCH CHU~

CHAPTER 8

.

.

HAPPY READING !

.

.

Bingung. Ekspresi itu jelas terlihat di wajah cantik Luhan. Dengan satu tangan yang memeluk dirinya sendiri juga tangan lain yang memegang ponsel, pria cantik itu berjalan mondar-mandir sambil memikirkan sesuatu. Pikirannya kacau. Bercabang seperti ranting pohon yang terus tumbuh mengejar langit.

Apa yang Luhan pikirkan?

Sebuah masalah besar, menurutnya. Perdebatan alot antara ia dengan sang kekasih yang baru saja terjadi membuatnya pusing sampai terasa ingin muntah. Ketinggian bukanlah hal yang mudah baginya untuk ditaklukkan. Jika ia gagal, kemungkinan pasti yang akan terjadi adalah tubuhnya ambruk ditengah proses syuting dengan napas putus-putus juga keringat yang membanjirinya, atau mungkin hal yang sangat sering terjadi adalah mendadak pingsan.

Dan Luhan takut itu akan membuat segala hal menjadi semakin kacau. Belum lagi dengan para members senior yang terus memaksa, pasti mereka akan sangat menyesal dan meminta maaf padanya sampai kupingnya berdengung.

Luhan tidak suka itu, ia tidak suka membuat orang lain merasa bersalah.

Luhan ingin menuruti Sehun sebagaimana seorang kekasih yang memang mengharuskannya untuk patuh. Tapi tidak ada jaminan jika ia akan baik-baik saja. Jadi jika ia menolak bukankah hal yang ia takutkan tidak akan terjadi?

Tapi semua masalah tidak akan selesai sampai disitu saja. Bagaimana dengan kritikan para netizen atau paparazi yang memang tidak menyukainya? Itu bisa menjadi berita besar untuk mereka.

LUHAN SANG ARTIS BESAR TIDAK BEKERJA SECARA PROFESIONAL

Astaga. Jika sampai seluruh majalah membahasnya seperti itu. Lebih baik ia mundur dari dunia keartisan.

Tapi jika dipikir-pikir, sejak kasus penolakannya saat itu. Kenapa tidak ada satupun yang membahas lebih lanjut? Semua tampak aman dan justru malah menjadi trending topic di weibo.

Siapa yang —?

Ayahnya.

Luhan menepuk keningnya dengan ponsel. Ia lupa jika kekuasaan sang ayah membuat beberapa pihak tidak berani menggunjingnya walaupun tanpa gertakan sekalipun mereka sudah pasti tidak memiliki nyali.

Luar biasa. Hah! Terkadang hal-hal seperti ini membuatnya sedikit merasa lega tapi juga tidak berdaya.

Tidak berdaya untuk menolak kekuasaan juga keinginan sang ayah. Ayahnya yang berkuasa dalam bidang apapun baik itu bisnis dan pemerintahan begitupun atas dirinya tidak akan sanggup ia tolak. Jika ia bisa, ia pasti masih bersama dengan Sehun saat ini. Bukannya berjauhan dan berkomunikasi jarak jauh.

Helaan napas terdengar jelas keluar dari cela bibir semerah ceri milik Luhan. Ia bawa langkah kakinya untuk kembali menduduki sofa dalam ruangan sambil memijit keningnya yang berdenyut semakin pusing memikirkan hal yang malah semakin rumit.

"Lu, istirahat selesai. Cepat ganti pakaianmu dengan setelan yang lain. Pengambilan gambar untuk majalah ini akan ada yang dirilis tanggal 4 januari besok." Kata Laogao sedikit berteriak.

"Bukankah besok kita masih ada sesi pemotretan untuk majalah ini?"

"Ya, memang. Siapa yang bilang jika pemotretan selesai hari ini?"

Dan Luhan berakhir bersemu merah akan ketidakfokusannya menangkap perkataan sang manager yang berhasil membuatnya sedikit malu karena beberapa kru yang tidak sengaja mendengar tersenyum kearahnya. Dehaman pelan Luhan lakukan sebelum menuruti perintah sang manager untuk melanjutkan kegiatan hingga selesai.

Keesokkan harinya, Luhan lagi-lagi sudah berada dilokasi pemotretan untuk melanjutkan kegiatannya yang kemarin. Berbalut setelan biasa saat datang, Luhan langsung digiring oleh beberapa staff untuk segera berganti pakaian.

Sambil menyeruput ice americano miliknya Luhan bertanya pada sang manager, "Bukankah besok juga akan rilis beberapa foto dari Puma?"

"Ya."

"Hari ini tinggal menyelesaikan beberapa, 'kan?"

"Ya. Kurasa hari ini kita bisa pulang lebih cepat, mungkin jam 3 sore nanti. Ada apa?" Balas Laogao yang semula sedang memilah pakaian berubah haluan menghadap kearah Luhan.

"Tidak ada." Katanya. Gelengan kepala melengkapi perkataannya.

Kamera sudah siap diatas tripod. Itu berarti sesi pemotretan sudah akan dimulai. Luhan berjalan kearah sang photografer yang sudah bersiap untuk meminta pengarahan, namun terhenti ketika sang manager malah berujar secara gamblang,

'Aah, hari ini Sehun akan melakukan sesi pemotretan juga? Dengan siapa? Oh, Irene? Waah...'

Jangan katakan Luhan menguping! Salahkan saja si beruang kutub yang berkata terlalu keras!

Rasanya telinganya berdengung dengan sangat kuat. Irene? Leader hoobae mereka? Bukankah Sehun pernah bilang jika dia salah satu dari type idealnya?

OH BAGUS SEKALI !

Luhan menoleh kearah Laogao yang sedang asik menelepon, pandangannya ia bawa ke tangan lain pria itu yang sedang memegang ponsel miliknya. Tanpa kata, Luhan berbalik arah tidak jadi kearah sang photografer melainkan kearah sang manager. Merampas ponsel miliknya lalu menulis sesuatu dengan cepat,

'Sangat menyenangkan bisa berfoto bersamanya.'

Lalu mengembalikan ponsel itu lagi pada Laogao dengan kasar di dada pria itu, membuat Laogao mengeluh pelan. Dan berlalu, kembali kearah sang photografer.

'Oh Sehun. Awas kau?!' Bibirnya berkomat-kamit tidak jelas, hatinya panas sepanas lahar. Bagaimana bisa kekasihnya itu tidak mengatakan apapun? Cari gara-gara, hah?! Oke. Baik. Kita lihat siapa yang lebih terlihat panas. Gerutu Luhan dalam hati.

Suara kamera terdengar silih berganti diikuti pula dengan strobe flash yang menyala-nyala. Luhan berpose dengan sangat luwes ketika sang photografer memintanya untuk sedikit lebih manly dan juga sexy. Ia bahkan dengan sengaja membuka belahan bibirnya sedikit lebih lebar yang mana membuat beberapa kru yang melihat kesusahan mengambil napas.

Apalagi sang photografer yang dengan sengaja memperbesar lensa kearah bibir Luhan sampai-sampai tidak sadar jika beberapa orang tengah mengamati penuh nikmat dibelakang layar karena setiap foto yang berhasil ia ambil akan langsung masuk ke layar monitor. Mereka semua mendambakan bagaimana rasa bibir itu ketika mereka memiliki kesempatan untuk menyicinya.

Luhan tersenyum setan dalam hati, begitu senang melihat respon yang nampak terlihat jelas di depan matanya, sesuai seperti yang dibayangkan. Bukankah ia berhasil? Ya.

Sedangkan Laogao berdiri sedikit jauh dari sang photografer, berbicara tanpa suara kearah Luhan memperingat kaos dalam berwarna biru yang melorot dan memperlihatkan sebagian dadanya. Tapi Luhan hanya melengos dan tersenyum centil padanya.

Laogao hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sang sahabat yang kalau sedang cemburu bisa membuat orang kwalahan. Ia bahkan menangkap basah sang photografer yang beberapa kali membasahi bibir juga menggigitnya seperti menahan gejolak. Aah, benar-benar.

Tiba-tiba dering ponsel berbunyi, menandakan sebuah pesan yang baru masuk. Bukan dari ponsel miliknya melainkan ponsel milik Luhan yang saat ini berada padanya.

From Sehun-ie,

'Aku tidak mengerti. Ayo bertemu saat aku tiba di Beijing.'

Laogao mengangkat bahunya acuh lalu menutup layar ponsel itu dan menyimpannya kembali kedalam saku. Berjalan kearah sudut dan kembali menekuni tugasnya. Batinnya berkata 'dia bukan temanku saat ini.' Namun nyatanya Luhan adalah temannya, sahabatnya. Dan semua orang sudah tahu itu.

Tepuk tangan terdengar riuh saat sesi pemotretan sudah berakhir, sang photografer menepuk bahu Luhan pelan beberapa kali. "Kau hebat, sangat berbakat." Pujinya.

Dan Luhan menanggapinya dengan senyum tipis sebelum berjalan mendekati sang manager yang sedang sibuk menatap layar tablet dengan fokus. Ditengah jalan, seorang make-up over menghampirinya. Mengelap sedikit keringat dengan tisu ditangannya juga merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakkan.

"Terimakasih. Kerja bagus." Luhan berbisik.

Sang make-up over itu pun tersenyum sebelum pergi meninggalkan Luhan.

"Kau ini. Jika ingin membuat pacarmu cemburu jangan menunjukkan wajah seperti itu."

Luhan tak menanggapi celotehan Laogao, ia dengan santainya meneguk air mineral yang disodorkan pria itu sampai habis tak bersisa.

"Tidak. Aku hanya mengikuti arahannya. Itu saja." Kilah Luhan.

"Tapi yang tadi itu berlebihan. Sadar atau tidak. Semua orang disini tergiur melihat kau yang begitu sexy dan ya tuhan—mereka pasti menganggapmu seorang gadis cantik yang tersesat didalam raga seorang lelaki."

"YAK!" teriak Luhan saat mendengar perkataan Laogao yang lagi-lagi mengatainya. "Salahnya yang tidak memberitahuku apapun. Dan jangan menghakimi ku!" lanjutnya berapi-api. Ia tidak terima dikatai seperti itu.

"Astaga, bukankah mereka memang selalu melakukan pemotretan untuk Ceci Magazine? Dan kali ini untuk February Issue, Lu. Sama sepertimu. Bedanya kau di majalah Marie Claire, bukan di Ceci."

"Ya Ya Ya dan Kenapa kau membalanya? Temanmu itu aku atau Sehun?" sungut Luhan.

Laogao menggaruk pipinya gemas, "Sudahlah, ayo kesana. Mereka tadi bilang jika ingin makan siang bersama."

Saat Laogao ingin menarik tangan Luhan, Luhan malah menjauhkan tangannya lalu menjulurkan nya kembali kedepan wajah sang manager, "Ponselku?!"

"Dalam tas mu." Kata Laogao lalu berjalan duluan meninggalkan Luhan yang mengambil tasnya yang hampir tertinggal.

Saat mereka sampai di ruang makan, beberapa orang sudah nampak memenuhi kursi dan sepertinya menunggu mereka. Luhan dan Laogao mengambil tempat yang tersisa lalu duduk bersisian dan mulai makan dengan tenang.

Beberapa orang sesekali terlihat bercanda juga memuji bakat alami yang Luhan miliki saat mereka telah menyelesaikan makanan masing-masing. Lalu seseorang berseru meminta Luhan untuk menari dan Luhan tidak bisa menolak walaupun perutnya telah terisi penuh. Jadi, masih berbalut dengan kostum layaknya seorang coboi, Luhan menari dihadapan mereka. Dan hal itu sukses membuat perutnya bergejolak.

"Rasanya aku ingin muntah." Adu Luhan pada Sang manager.

"Muntahkan saja!"

"Luhan nanti kita ada rekaman sebentar, ok?!" kata salah seorang kru yang bertugas. Dan Luhan membalasnya dengan senyum sedikit —terpaksa. Karena demi apapun, perutnya terasa tidak enak sekali. Euuh!


Pagi mulai tampak semakin terang. Luhan menyambutnya penuh dengan suka cita. Beberapa pujian juga godaan ia dapatkan dari para fans yang telah melihat hasil jerih payahnya kemarin yang mereka kirimkan pada akun weibonya.

Dengan senyum yang semakin mengembang Luhan berjalan memasuki ruangan di studio. Duduk santai diatas sofa sambil bermain ponsel. Namun senyuman itu hilang dengan tiba-tiba, mendadak kening Luhan mengernyit bingung saat menatap foto lain di dalam layar ponselnya.

Hingga dirinya tidak sadar jika seseorang yang tengah duduk dihadapannya saat ini, menatapnya dengan dalam hingga seseorang itu pindah kesamping Luhan, melirik sekilas kearah ponsel itu sebelum mencuri sebuah kecupan dipipi lembutnya.

"Tampak asik dengan ponselmu hingga tak melihatku, hmm?" bisiknya tepat pada telinga Luhan.

Tubuh Luhan mendadak kaku. Desiran aneh dalam dada juga gelenyar geli pada telinga membuatnya merinding. Ia pun menoleh secara perlahan, "ASTAGA. SEHUNIE?!" Pekik Luhan kaget, secara refleks melompat duduk dipangkuan Sehun lalu memeluknya erat.

Sehun sendiri langsung membalas pelukan itu. Mengelus punggung Luhan juga menghirup aromanya yang menguar. "Apa yang kau lihat sampai mengabaikan ku, hm?" bisiknya lembut.

Luhan menggeleng, bergumam 'Tidak ada' dibelakang telinga sang kekasih. Tangannya yang melingkar memilin rambut belakang Sehun juga sedikit menariknya.

"Kalau begitu jelaskan kenapa kau memamerkan dada ini pada orang lain?" cubit Sehun di nippel kiri Luhan yang ia ingat sekali sudah terekspose. Luhan terlonjak kaget lalu membalasnya dengan menjambak rambut Sehun. Kali ini Sehun yang mengadu dan mereka impas.

"Lalu kau? Kenapa kau menatap wanita itu seperti itu? Kau hanya boleh menunjukkannya padaku. Kenapa kau membuatku —aku tidak suka melihatnya." Rengek Luhan di akhir kalimat.

Oh jadi dia cemburu? Batin Sehun.

Sehun tersenyum maklum lalu melepaskan pelukan Luhan padanya. "Seperti ini maksudmu?" tanya Sehun memegangi sisi kepala Luhan dan menatapnya dalam sama seperti yang Luhan katakan padanya.

Luhan mengangguk pelan, bibirnya mengerucut sebal. Sebal mengingat jika tatapan itu telah Sehun berikan pada orang lain. Jemari tangannya ia bawa mengelus mata tajam sang kekasih hingga membuatnya tertutup lalu mencium kedua mata itu lembut.

"Aku jarang melihatnya sekarang tidak seperti dulu saat aku berada disisimu. Harusnya kau menghargaiku." Gerutu Luhan, lalu mulai mengecupi seluruh sisi wajah Sehun secara acak.

Sehun terkekeh dibuatnya. Ia mengeratkan lingkaran tangannya pada perut Luhan hingga tubuh mereka berdua menempel. "Aku tidak melakukannya." Ujar Sehun saat Luhan tengah asik dengan kegiatannya.

Namun terhenti ketika kecupan itu mendarat di pipi Sehun, lalu membenarkan posisi wajahnya untuk melihat mata Sehun lagi. "Apa maksudmu?"

"Itu hanya editan komputer, sayang. Aku dengannya tidak benar-benar berfoto bersama." Kata Sehun sambil mengangkat bahunya acuh.

Mata Luhan menyipit, tidak percaya dengan apa yang Sehun katakan. "Ya, mungkin tidak. Tapi bagaimana dengan foto yang lainnya? Aku kan belum melihat itu."

Luhan mendengus lalu kembali melanjutkan kegiatannya, mengecupi seluruh wajah Sehun hingga Sehun tiba-tiba protes.

"Berhenti. Kenapa kau tidak melakukan hal itu juga pada bibirku?"

Luhan tersenyum sambil terkekeh, "Aku ingin kau yang menciumku."

Apakah itu sebuah perintah? Dengan sudut bibir yang menyeringai Sehun memajukan wajahnya untuk menggapai bibir Luhan. Saat bibirnya tepat berada di depan benda kenyal itu, Sehun menahan pergerakkannya. Membiarkan Luhan menunggu hingga mata rusa yang awalnya terpejam itu terbuka kembali dan memandang Sehun bingung.

"Aku tidak mau menciummu."

Mata Luhan menyipit saat melihat Sehun malah menjauhkan wajah dan melengos tidak ingin menatap wajah ayu miliknya. Kenapa? Batin Luhan bertanya dengan tanda tanya yang besar.

"Aku kesal. Kenapa kau harus memperlihatkan dadamu pada mereka. Kau lupa jika semua tubuhmu adalah milikku?" Sehun bertanya dengan mimik wajah datar.

Luhan merengut menatap wajah kesal Sehun yang terlihat lebih menyeramkan sekarang. "Itu tuntutan pekerjaan. Jangan berlebihan!" kata Luhan lalu meraih wajah Sehun, mengelusnya dengan lembut.

Tapi Sehun tetap pada ekspresinya, Luhan jadi ikut-ikutan kesal.

"Ah. Aku ingat. Kau kesal dengan dada ini karena sudah terekspose kan? —" Luhan menepuk dadanya dan Sehun melirik sekilas. "—Lalu aku harus apa saat melihat kau justru memperlihatkan kedua nipple milikmu pada fans? Menari sambil terguling dilantai yang berair. Kenapa tidak sekalian saja, tancapkan sebuah tiang besi agar kau bisa menari lebih sexy lagi seperti penari stripper?"

Gantian Sehun yang merengut saat mendengar perkataan panjangxlebar Luhan. Saat Luhan hendak berbicara kembali cepat-cepat Sehun menyambar bibir Luhan tanpa ampun. Melahap bibir itu hingga tidak tersisa dan tenggelem dalam bibirnya. Erangan juga lenguhan terdengar berirama ketika Luhan bersusah payah mencari oksigen untuk memenuhi paru-parunya.

"Eeehm—Ah, hmmm..."

Luhan meremat rambut Sehun juga menariknya saat tangan besar Sehun malah semakin menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman. Ia butuh oksigen tapi sepertinya Sehun tidak ingin melepaskan ciuman itu hingga tiba-tiba pintu studio terbuka lebar disusul teriakan yang mengharuskan Sehun untuk berhenti.

"ASTAGA— APA YANG KALIAN LAKUKAN?! INI— INI STUDIO! ASTAGA 'STUDIO' KALIAN DENGAR?!"

Bentakkan itu keluar begitu saja dari bibir sang manager, Laogao. Tidak perduli akan sang pemilik yang beringsut turun dari pangkuan Sehun sambil menunduk dalam menyembunyikan rona wajahnya.

"Bagaimana jika yang datang bukan aku, hah?!" layaknya ibu tiri, Laogao terus membentak mereka berdua setelah sebelumnya mengunci pintu studio lalu berdiri dihadapan mereka sambil berkacak pinggang.

Sehun memutar bola matanya kesal. Tipikal anak pemberontak yang tidak suka jika kegiatannya tidak diperbolehkan.

"Hyung. Jangan menyebalkan! Tadi itu hanya ciuman biasa. Dan itu 'Lumrah' jadi jangan dibesar-besarkan seperti kami habis bercinta. Walaupun sebenarnya aku ingin melakukan itu tadi." Kata Sehun menekankan kata lumrah pada perkataannya juga sedikit berbisik diakhir kalimat.

Dan itu sukses membuat Luhan mendaratkan cubitannya diatas paha Sehun.

"Aaw!"

Adu Sehun tertahan ketika ia melihat Luhan yang berkedip dengan sengaja menyuruhnya untuk diam.

"TADI ITU FRENCH KISS OH SEHUN. BUKAN CIUMAN BIASA!"

Lagi bentakkan mereka terima. Luhan mengusap telinganya pelan agar tidak berdengung. Lalu menatap Laogao takut-takut. "Kami minta maaf. Kalau begitu kami akan pergi dari sini."

"Apa? Pergi? Enak saja. Kau kesini untuk latihan dance setelah itu menghapal naskah mu. Kau lupa?" Tanya Laogao tidak ada santai-santainya sama sekali.

Luhan meringis lalu mendorong paha Sehun menjauh. "Kalau begitu, kau yang pergi Sehun-ah."

"Hah?! Kenapa jadi aku? Tidak. Aku tidak mau." Katanya sambil bersedekap dada dengan kaki yang bersilang lalu menempelkan punggungnya pada sandaran sofa seperti menantang Laogao.

Luhan menatap Laogao lagi yang mendelik kearahnya. Lalu menatap Sehun kembali yang malah merengutkan wajah.

"Kau di Beijjng berapa hari, Sehun-ah?" tanya Luhan hati-hati.

Sehun menoleh kearahnya, "Tiga hari."

Uugh. Terdengar ketus sekali. Itu berarti Sehun tidak ingin pergi dari sini.

"Kalau begitu kembalilah ke hotelmu. Kau bisa datang ke apartemenku besok ah tidak lusa malam. Kumohon!" kata Luhan memelas.

"Kenapa lama sekali?" tanya Sehun tidak terima. Itu berarti hari terakhir baginya di Beijing.

"Jadwalku sangat padat. Maafkan aku." Luhan memelas.

Sehun diam. Matanya menoleh menatap Laogao kesal setengah mati lalu kembali menatap Luhan. "Oke—"

Luhan menghembuskan napasnya lega,

"—Tapi cium aku, sekarang."

WHAT?!

Mata Luhan terbelalak melihat Sehun. Ia menelan ludahnya susah payah. Saat ingin berujar, Laogao sudah terlebih dahulu menginterupsi.

"YA, CIUM DIA DAN SEGERA PERGI DARI SINI. ASTAGA AKU BISA GILA." Tunjuk Laogao pada Sehun lalu setelahnya ia pergi dari hadapan mereka berdua dengan kaki yang menghentak garang.

"Kau ini!" kata Luhan.

Dan Sehun tidak perduli. Ia langsung menyambar bibir Luhan. Menyatukan bibir mereka kembali, merasakan kenyal pada bibir masing-masing. Juga bertukar saliva dan saling berperang lidah. Sehun melakukannya dengan begitu pengalaman. Hingga mampu membuat Luhan mabuk kepayang.

Ciuman mereka terlihat lebih panas dari sebelumnya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai merasa puas, walaupun sepertinya tidak ada kata puas didalam kamus seorang Oh Sehun. Dan Sehun pun kembali ke hotel tempatnya menginap dengan para hyung-hyung nya.

Kembali pada Luhan dan Laogao yang masih sedikit berseteru. Luhan terus-terusan membujuk Laogao untuk tidak marah padanya. Walau sering diabaikan oleh sang manager, Luhan tetap bersikukuh dan Laogao pun akhirnya memaafkan kejadian tadi.

"Nanti temani aku membeli sesuatu untuknya, ya?!"

Tidak ada sahutan. Laogao hanya melirik sekilas sebagai jawaban.

Uuugh beruang itu. Batin Luhan geli.


"Kau sedang apa di Beijing?"

Luhan bertanya sambil meletakkan dua kaleng soda diatas meja sebelum mendudukkan diri di sofa samping Sehun yang sedari tadi terus memperhatikan gerakannya.

"Acara yummie yummie." Balas Sehun seadanya.

Luhan ber-oh-ria sebelum menjatuhkan diri diatas sofa dengan kepala yang berada di paha Sehun.

Sehun mengelus rambut Luhan lembut, menyisirnya menggunakan jemari tangannya sendiri lalu bermain dengan hidung Luhan, mencubitnya gemas hingga sedikit merah dan Luhan akan memukul tangan nakal Sehun.

Luhan merubah posisinya menjadi menyamping, meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Mengotak-atik sebentar sebelum berseru pada Sehun.

"Waah... siapa yang memberitahu ini? Sehun-ah, coba lihat! Mereka mengetahui tentang mu dan juga Kai yang sering mengirimiku parsel. Daebakk!"

Sehun mengambil ponsel itu lalu ikut membacanya, "Biarkan mereka tahu kalau begitu."

Tangannya bergerak diatas layar ponsel milik Luhan, melihat beberapa postingan sebelumnya lalu bergulir keatas melihat postingan yang baru terunggah. Mata Sehun tiba-tiba melotot horor ketika ia melihat sebuah berita mengenai dirinya. Cepat-cepat menutup layar ponsel itu lalu meletakkan kembali diatas meja.

"Ada apa?"

"Hah?! Aah, tidak ada."

Mencurigakan.

Luhan kembali mengambil ponselnya namun Sehun dengan cepat merebut kembali. Luhan semakin curiga. Dengan tampang garang, Luhan mendudukkan dirinya dengan benar di atas sofa lalu memandang Sehun dengan tajam. Menjulurkan tangan, dan meminta ponselnya kembali tanpa kata pada Sehun.

Namun tak kunjung di berikan lantas ia pun merebut ponselnya dengan kesal. Menotak-atik layar itu lalu terlihatlah sebuah berita yang sangat menyebalkan.

'Exo Sehun is having a audition for KBS romantic adaptation drama'

Luhan mendengus kuat-kuat, menolehkan wajah kearah Sehun dengan marah. "Audisi untuk drama romantis?!" Luhan bertanya penuh dengan penekanan. Sehun menelan ludahnya susah.

"A—aku bisa membatalkannya jika kau tidak suka, sayang." Kata Sehun gugup.

Luhan menggeleng dengan bibir mengerucut imut, "Tidak. Kau menginginkan bermain peran. Lakukanlah—" tersenyum misterius sebelum melanjutkan, "Tapi bagaimana ya, drama romantis identik dengan kissing scene yang berulang-ulang. Jika itu terjadi, pasti bibir ini akan terjamah." Luhan mengusap permukaan bibir Sehun.

"Boleh ku gunting bibir wanita yang berhasil melakukannya. Aku yakin wanita itu sengaja. Dan Aku benci itu."

Sehun melotot horor semakin susah untuk menelan ludahnya. Otaknya berpikir apakah Luhan memiliki kepribadian ganda?

Namun tiba-tiba Luhan tertawa terbahak.

"Haha~ wajahmu semakin jelek Sehun-ah. Aku bercanda. Kenapa kau berwajah seserius itu. Aku bukan psikopat. Kkkk~" Kekeh Luhan puas. Astaga lucu sekali. Batinnya.

Sehun berkedip bingung lalu meraih wajah Luhan, "Jadi aku boleh bermain peran?"

Luhan mengangguk.

"Benarkah? Bagaimana dengan kissing scene?"

Luhan memutar bola matanya malas. "Kau harus melapisi bibirmu dengan pelapis bibir. Jika mereka tidak menyediakannya. Kau harus membelinya sendiri dan menggunakannya. Aku tidak mau tahu."

Sehun tersenyum. Kekasihnya adalah sosok sempurna. Beruntung sekali ia bisa mendapatkan pria cantik itu.

"Apa kau benar kekasihku? Kau baik sekali sayang. Aku mencintaimu." Sehun membawa Luhan ke dalam dekapannya.

"Apa aku yang terbaik?" tanya Luhan manja.

"Kau yang paling terbaik, baby."

Aaaaa. Rasanya Luhan ingin terbang.

"Lepas. Aku ingin mengambil sesuatu untukmu." Luhan melepaskan pelukan Sehun lalu berlari-lari kecil ke dalam kamar mencari sesuatu lalu keluar dari sana dengan menenteng dua paperbag ukuran sedang dan memberikannya pada Sehun.

"Apa ini? Bukankah natal sudah lewat?"

Luhan menggeleng imut, "Tidak, kau kan tidak suka natal makanya saat itu aku tidak memberikanmu apapun."

"Lalu?"

"Menyambut hari sejarahmu dengan fans dan happy anniversary kita. Ku harap kau suka." Kata luhan malu-malu.

Uugh manisnya. Batin Sehun bergejolak. Ia pun menerima hadiah pemberian Luhan dan langsung membukanya.

"ini— Bape Puma, kan?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk lebih imut lagi, "Temperatur di Seoul pasti semakin dingin. Jadi aku memberikannya agar kau tidak kedinginan."

Astaga. Lihat bagaimana Luhan dengan manisnya berkata seperti itu. Menunduk malu-malu lalu mencocokkan sendiri jaket itu ke tubuh Sehun. Pas untuk ukuran tubuh Sehun yang lebih besar darinya. Dan senyum Luhan semakin terkembang.

"Kau suka?"

"Apapun yang kau berikan, aku sangat menyukainya sayang. Terimakasih." Sehun berkata lembut sekali.

Bahkan Luhan menganggapnya seperti kapas. Benar-benar lembut. Dan senyum Luhan akhirnya terkembang dengan sempurna saat Sehun lagi-lagi memeluk dirinya.

"Aku tidak membawa apapun. Bagaimana ini?"

Entah kenapa pertanyaan Sehun terdengar ambigu menurutnya. Dan Luhan tidak bisa menyembunyikan kekehan itu lantas berbisik pelan pada Sehun. "Kau membawa little Sehun. Kau bisa menggunakannya."

"Aah... benar. Bukankah itu kado yang paling spesial?"

"Heum, tentu saja."

"Kalau begitu bersiaplah, sepertinya ia sudah mulai terbangun untuk menerobos lubangmu."

Luhan terkekeh kuat. Astaga...

"Kalau begitu cepat masuki aku, Sehun-ah!"


Dering alarm bergema memenuhi kamar tempat Luhan tertidur pulas. Pria cantik itu tidak terganggu sedikitpun meski sudah berdering berulang kali. Sampai akhirnya Laogao datang dan memukul bokong juga lengan Luhan dengan bantal.

"Bangun! Ini sudah siang kau bisa terlambat, Luhan!" pekikan nyaring rupanya tetap tidak membuat Luhan bisa terbangun begitu saja.

Dengan kesal sang manager pun akhirnya menarik tangannya, membuatnya terduduk diatas ranjang dengan mata yang masih terpejam juga kepala yang tertunduk.

"Apa yang kau lakukan dengan Sehun sampai membuatmu lelah seperti ini hah?!" Laogao bertanya dengan kesal sambil melipat tangannya di depan dada.

Luhan tidak menjawab dan lebih memilih menjatuhkan punggung kembali lalu melanjutkan tidurnya yang terganggu.

"Kalian bercinta?!"

Luhan berdeham pelan.

"Sampai jam berapa?!"

Dan Luhan dengan lemas mengangkat jarinya. Menunjukkan angka 3 sebentar lalu menjatuhkan kembali tangannya seperti tidak memiliki otot. Ia ingat sekali pertempuran mereka diranjang berakhir pukul 3 dini hari dan Sehun langsung pulang karena paginya ia harus segera terbang kembali ke Korea.

"ASTAGA. AKU TIDAK MAU TAHU CEPAT BANGUN ATAU KAU KUSIRAM!"

"Kenapa kau cerewet sekali dipagi buta seperti ini?"

"PAGI BUTA? Ini sudah pukul 10, kau bisa terlambat datang di acaramu Luhan."

"Acara apa? Memangnya ini tanggal berapa?" dengan linglung Luhan bertanya.

Laogao mengusap wajahnya kesal. Mengatur napas menetralkan kekesalannya sebelum menjelaskannya pada Luhan. "Ini tanggal 7januari 2016 dan kau harus bersiap karena hari ini kau harus datang di acara Madame Tussaund Beijing karena Wax Figure mu sudah selesai. Jika kau lupa."

Mata Luhan langsung melotot, ia menegakkan punggungnya menjadi duduk diatas ranjang lalu melesat kearah kamar mandi tanpa melirik Laogao sedikitpun.

Didalam kamar mandi Luhan berteriak, "Tolong siapkan bajuku yang berangka 17 juga celana ku, oke?!"

Dan Laogao pun mencarikannya setelah sebelumnya mendengus keras terlebih dahulu.


Acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Luhan berjalan ditemani seorang pembawa acara kedepan tirai yang menutupi wax figure dirinya. Dan ketika tirai itu dibuka. Hal pertama yang melintas pada pikirannya adalah nama Sehun.

Luhan ber-wow saat matanya seolah terpana melihat bagaimana rupa patung itu yang seperti campuran dari wajahnya juga wajah Sehun.

Luhan berputar mengelilingi patungnya dari segala sisi. Ia tidak bisa menahan gerakkan tangannya untuk tidak mengelus dagu dari patung itu. Sama seperti saat ia bermain dengan dagu milik Sehun lalu mulai membiarkan para reporter memfoto dirinya. Ia melakukan beberapa gaya disana. Menirukan beberapa gaya Sehun yang masih ia ingat dengan jelas. Dan Luhan tidak bisa memungkiri jika yang dia rasakan saat ini adalah dia yang sedang berfoto bersama Sehun.

Perasaan itu terasa nyata sekali. Apa begini rasanya bisa berfoto bersama setelah sekian lama tidak difoto oleh mereka. Batin Luhan sedikit miris, untuk beberapa detik kehilangan senyum di bibirnya.

Tidak ingin kalah dengan para reporter Luhan mengambil ponselnya dari dalam saku lalu mulai berfoto bersama. Mengambil dari beberapa sisi untuk ia unggah di akunnya, nanti.

Sang pembawa acara mulai mengambil beberapa amplop ucapan yang berada dari dalam box. Ada 4surat. Dan ketiganya sudah Luhan beri tanggapan. Namun saat pembawa acara mulai berkata mengenai kesehatan, Luhan tidak bisa berbohong jika dirinya sedikit lemas.

"Sebenarnya saat ini aku kurang begitu sehat—" aku Luhan. Dalam hati menjerit jika Sehun baru saja menusuknya. Dan dia harus menghadiri acara resmi ini. Rasanya ia ingin menangis namun tidak mungkin.

Luhan pun melanjutkan ucapannya, ia berujar terimakasih atas doa dan harapan yang mereka berikan padanya. Ia pun berharap semua orang baik-baik saja dan selalu sehat.

Dan acara pun selesai, Luhan sekarang sedang berada di backstage.

'Jika aku memanggilmu, maukah kau untuk menjawabnya sayang'

Luhan sedikit kesal. Saat ia sudah menduduki sofa yang sekarang ia gunakan, Luhan langsung menghubungi Sehun berniat memberitahu jika ia baru saja berfoto bersama patungnya. Niatnya ia ingin berkata pada Sehun jika patung itu mirip mereka berdua namun Sehun tak kunjung menjawab telepon darinya dan berakhir dirinya yang langsung mengkode Sehun melalui foto itu.

Ia menunggu dengan sabar hingga beberapa menit namun tetap tak ada balasan dari kekasihnya. Dengan langkah kaki yang menghentak, Luhan pulang dengan tampang sedikit murung. Lalu berjalan melewati Laogao tanpa kata sedikitpun. Ia bener-benar kesal.

Keesokkan harinya. Luhan tidak memiliki jadwal apapun ia bersantai dan hanya bermain game seharian ini. Memakan cemilan berat, beberapa bungkus snack dan juga telah menghabiskan beberapa cup berisi kopi yang tampak sudah kosong.

Luhan kekenyangan. Malas sekali untuk mandi sore padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 itu bukan lagi sore melainkan hampir malam. Laogao sudah menyuruhnya sedari tadi tapi sepertinya Luhan sedikit bebal karena hey— Sehun menghilang seharian ini. Tidak mengirimanya pesan sedikitpun. Bahkan membalas kodenya kemarin saja tidak.

Makanya Luhan seperti tidak memiliki gairah hidup.

Hingga akhirnya suara bentakan Laogao lagi-lagi menyuruhnya untuk mandi terdengar kembali atau kalau tidak ia tidak mendapatkan jatah makan malam sedikitpun. Astaga, mana bisa begitu ketika ia sedang napsu-napsunya makan untuk melampiaskan kekesalannya.

Satujam berada didalam kamar mandi, Luhan keluar dengan wajah lebih berseri. Ia melirik sekilas pada kucingnya yang tergeletak nyaman diatas ranjang. Warnanya terlihat sangat kontras sekali dengan selimut miliknya yang berwarna putih bersih saat ini. Dan entah kenapa Luhan jadi ingin memakai pakaian berwarna sama dengan si kucing.

Saat memakai pakaiannya. Luhan merasa dirinya bertambah gemuk. Lingkaran pada pahanya sedikit lebih besar dan berisi. Dan sepertinya ia harus diet jika tidak ingin berubah sama seperti kucing gembulnya.

"Apa menu makan malam hari ini?" Luhan bertanya pada Laogao saat ia baru saja sampai di dapur.

Laogao menoleh sekilas dan kembali merapikan makanan kedalam wadah. "Daging asap dan lainnya. Yang jelas ini makanan rumah."

"Kau membuatnya sendiri?"

"Aku memesan."

"Kau saja yang memakannya. Aku masih kenyang." Kata Luhan acuh dan langsung mengambil makanan kucing yang sudah disiapkan. Lalu menggendong kucingnya kearah sofa depan teve.

"Hey. Aku menyiapkannya untukmu. Aaish!" pekik Laogao namun lagi-lagi diacuhkan oleh Luhan yang lebih memilih berjongkok memperhatikan si kucing yang tengah asik memakan makan malamnya.

Ada apa dengannya? Bukankah tadi dia sangat bersemangat mengenai makanan? Huh! Batin Laogao kesal.

"mbul, kau tahu kenapa Sehun tidak menghubungiku?" Anggap saja Luhan sedang mengobrol bersama teman karena memang tidak ada seorang tuan yang tidak pernah berbicara pada hewan peliharaannya kan? Setiap majikan pasti menganggap peliharaannya seorang teman, begitu juga Luhan.

"Dia tidak mungkin selingkuh kan?" Luhan tidak lagi berjongkok namun benar-benar terduduk diatas lantai, ia merapatkan kaki lalu meletakkan kepalanya diatas lutut. Memandang si kucing dengan mimik wajah sedih.

"Atau mungkin Sehun sedang sakit? Aaah itu tidak mungkin, jika ia sakit pasti salah satu dari mereka akan memberitahuku. Tapi ini tidak." Helaan napas lelah Luhan keluarkan dari cela bibirnya. Ia pun beranjak duduk diatas sofa memperhatikan si kucing dari atas, ternyata bau makanan kucing tidak enak untuk lambungnya yang mendadak mual.

Luhan memperhatikan kuncing nya dalam diam tidak mengoceh sedikitpun hingga si kucing melompat kearahnya. Meninggalkan wadah makanannya yang sudah kosong lalu mengeluskan kepalanya pada lengan tangan Luhan yang menganggur.

"Ada apa hmm?"

Ia angkat kucing itu seperti menggendong seorang bayi. Lalu menidurkannya diatas paha, mengambil selembar tisu untuk membersihkan sisa makanan yang menempel.

"Hey diamlah." Rupanya sang kucing tidak mau, dia malah mengelus bagian dada Luhan.

"Aah, kau punya rencana?" tepat saat itu Laogao datang duduk disebelahnya, memandang Luhan penuh tanda tanya.

"Kau gila?"

Luhan mendengus menjawab pertanyaan sang manager, kembali bermain dengan si kucing yang malah bermalas-malasan dipahanya sekarang.

"Hey, jawab aku!"

Kucing itu hanya monoleh kearah Luhan lalu berpindah posisi dengan tangan yang melintang didaerah selangkangannya menuju little Luhan. Tentu saja pemiliknya berjengit kaget.

"Laogao, cepat ambil ponselku lalu ambil fotoku dengannya. Oke?!"

"Kenapa selalu aku?" sungut Laogao tidak terima.

"Oh ayolah, hanya ada kau disini. Cepatlah."

Lagi-lagi harus dirinya. Laogao berjalan malas kearah kamar Luhan untuk mengambil ponsel milik pria cantik itu. Lalu kembali ke tempat Luhan.

"Ambil dari sisi kanan ku, oke!" Kata Luhan memberi instruksi.

Laogao bergeser kearah kirinya.

"Sedikit menunduk. Buat sejajar."

Lagi ia menurut dan sedikit menunduk.

"Tunggu sebentar! Foto aku saat ia sudah menoleh, mengerti!"

"Iya, aku mengerti jika kau ingin membuat pacarmu cemburu jadi cepatlah!" gerutu Laogao pada akhirnya memprotes juga.

Luhan menyengir lalu menyibak poninya yang turun mengenai mata, membuatnya terlihat semakin sexy karena rambut yang belum kering benar.

"Maniiisss, Chuuuu~"

CKREK

Dan hasil foto itu pun terlihat begitu pas dipandang. Pas dalam artian menggoda bagi seorang Luhan. Dimana dia tampak ingin mencium kucing itu dengan tangan si kucing yang bersenggolan dengan pistolnya menambah kesan yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja bahkan menurut semua orang.

'Hari ini Hari jumat, kudengar malam ini adalah pertandingan adu kecerdasan. Aku siap!'

Aku siap, Sehunie. Kau yang memulai untuk saling berdiam diri. Kita lihat siapa yang lebih cerdas untuk mengalahkan lawan. Batin Luhan tersenyum iblis. Lalu kekehan mulai terdengar dari cela bibirnya.

"Astaga... Kau yang menjalankan hubunganmu dengan Sehun, kenapa aku yang lelah?" sungut Laogao tiba-tiba mulai ingin mengoceh.

"Itu karena kau sahabat seperjuanganku." Kedip-kedip. Luhan berkedip imut membalas perkataan Laogao yang selalu mengeluh padanya.

"Aku lebih mirip seperti pembantu, kau tahu?" sungutnya lagi.

"Tidak. Kau teman kebanggaanku. Besok akan ku tlaktir makan. Kau semakin kurus setelah bekerja denganku. Orang-orang bisa menganggap ku berperilaku buruk jika seperti itu."

"Memang."

Luhan mendengus mendengarnya. Tiba-tiba dering ponsel Luhan berbunyi diatas meja. Luhan sedikit meliriknya lalu tersenyum simpul ke arah Laogao.

"Aku menang." Kata Luhan berbisik.

"Yeoboseyo..." Sengaja di buat semanja mungkin.

Luhan bisa mendengar jika diseberang sana terjadi keributan.

"JAUHKAN TANGAN KUCING ITU SEBELUM KU JADIKAN SUP. KAU MENGERTI, LUHAN!"

Astaga...

Luhan berjengit kaget tanpa sadar malah menekan tombol merah pada layar.

"Aaah kenapa kumatikan." Ringis Luhan menyesal. Tapi bukan berarti ia mau menelepon balik. Biar Sehun tahu rasa. Heuung!


Sehun mengamuk di dalam dorm, tepatnya didalam kamarnya. Berteriak histeris membanting apapun hingga kamar itu tidak berbentuk. Sehun kalab. Kalab saat melihat postingan Luhan yang baru saja terunggah di akun sosial medianya.

Bagaimana tidak. Tangan kucing itu mencari gara-gara. Dengan seenaknya bertengger di pistol milik Luhan yang mana telah menjadi miliknya juga. Sehun kesal setengah mati belum lagi dengan panggilan telepon darinya yang langsung dimatikan oleh Luhan. Sehun tidak terima itu. Tanpa ampun ia membanting segala apapun yang terjangkau tangannya.

Tiba-tiba dentuman dari balik pintu menyadarkan Sehun akan tindakannya. Dengan langkah garang Sehun membuka pintu itu dengan marah.

"APA?!"

Orang-orang didepan pintu, semuanya berjengit kaget. Memandang Sehun yang tampak seperti orang gila dengan kaos yang lengannya terjatuh ke lengan juga rambut yang awut-awutan. Sangat tidak Oh Sehun sekali.

"Kau yang ada apa? Kenapa ribut sekali?" Baekhyun menyerobot dari arah belakang lalu menggeplak kepala Sehun pelan. Lalu mendorong tubuh itu, memudahkannya untuk masuk.

Pemandangan pertama yang ia lihat saat berada didalam kamar Oh Sehun adalah bantal didepan kakinya, selimut yang terjatuh dilantai, seprai yang terlepas juga buku-buku yang berhamburan.

"Apa yang kau lakukan, hah?! Kamar ini baru saja aku bersihkan." Sungut Baekhyun lalu menarik telinga Sehun kesal.

Tapi dengan kasar ia tepis. Membuat Baekhyun mengaga tidak percaya. "Jangan ganggu aku, aku sedang marah!"

Hah! Lucu sekali.

Baekhyun mendengus kemudian menoyor pipi Sehun dengan telunjuknya. "Kau harus meminta maaf padaku!" katanya sebelum pergi meninggalkan kamar Sehun, diikuti oleh member yang lain.

Sehun menutup pintu dengan kakinya, lalu kembali mencoba untuk menelepon Luhan.

Tersambung.

"Minta maaf padaku!" kata Sehun saat suara Luhan mulai terdengar.

"Kenapa harus aku? Kau yang memulai, kau yang minta maaf." balas Luhan tidak terima.

"Aku memulai apa memangnya?" Tanya Sehun tidak mengerti. Terdengar dengusan dari seberang telepon.

"Mendiamiku. Kau pikir aku ini apa? Dasar kurang ajar, habis manis sepah dibuang. Apa kau berniat seperti itu setelah meniduriku, hah?!" bentak Luhan.

Sehun memijit pelipisnya pening. Astaga apa yang dimaksud oleh Luhan?

"Apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti."

"Jelas kau mengerti. Kau tidak mengabariku apapun setelah kau pulang dari Beijing. Kau keterlaluan!" marah Luhan.

Sehun gelisah.

"Aku mengabarimu, sayang." Kilah Sehun.

"Mengabari lewat apa?!"

"Hatiku."

"JANGAN MENGGOMBAL DISAAT SEPERTI INI!" Pekikan kesal menyapa telak telinga Sehun membuatnya sedikit berdengung.

"Baiklah. Baiklah. Jangan berteriak oke?! Aku minta maaf."

"Tidak!"

"Ayolah sayang, maafkan aku. Kumohon!"

Gerutuan terdengar dari seberang telepon, Sehun tidak begitu jelas mendengarnya.

"Jelaskan kenapa?!"

"Ok, aku jelaskan. Saat tiba di Korea mereka menarikku untuk mengikuti rapat. Lalu terus-terusan menyuruhku ini dan itu juga berlatih untuk persiapan konser di Singapura. Aku kelelahan, sayang. Sungguh." Melas Sehun.

Luhan diujung sana mulai merenung. Apa yang ia lakukan? Kenapa begitu cepat berburuk sangka? Luhan pada akhirnya mulai mengerti. Ia mengerti siapa mereka yang dimaksud oleh Sehun. Dan wajar jika Sehun kelelahan. Karena Luhan sudah pernah merasakannya.

Tidak ada jawaban dari seberang telepon membuat Sehun risau. Apa Luhan masih marah padanya?

"Lu—"

"Maafkan aku."

Eh. Sehun menggaruk daun telinganya yang mendadak gatal. Apa ia salah dengar?

"Sehunie~ maafkan aku yang telah berburuk sangka." Lirih sekali, Sehun bahkan harus menajamkan pendengarannya.

"Iya, tidak apa-apa." Ujar Sehun menenangkan tapi Luhan malah merengek.

"Huweee maafkan aku~"

Sehun jadi merasa bersalah telah membuat Luhan menangis. "Sudah jangan menangis. Tak apa sayang, aku mengerti jika kau takut kehilanganku kan?" gurau Sehun.

"Kau yang membuatku memiliki pemikiran seperti itu, hiks."

Kali ini Sehun mengusap tengkuk lehernya yang sedikit berat.

"Maafkan aku. Oke, kita impas kalau begitu. Pergilah tidur sekarang, sayang. Ini sudah malam."

"Kenapa setiap kali aku menangis kau selalu ingin menghindar? Kau tidak sayang lagi denganku? Huwaaaaa." Tangis Luhan malah semakin pecah.

Sehun menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dengan lemas. "Cup cup cup. Rusaku kenapa kalau menangis malah semakin melengking, hmm?"

Tidak ada balasan. Hanya terdengar suara sesegukan.

"Aah, Luhanie. Besok aku akan pergi ke Singapura. Kau ingin oleh-oleh?" tanya Sehun menawarkan.

"Ti-tidak. Aku tidak membutuhkan oleh-oleh. Yang aku butuhkan adalah— Kau." Ujar Luhan sedikit tersendat-sendat.

Sehun tersenyum tampan dengan mata terpejam. "Aku milikmu sayang. Selamanya milikmu. Aku akan berkunjung lagi nanti."

"Benarkah?"

"Hmm, tentu saja."

"Baiklah. Sudah malam, aku mengantuk Sehun-ah"

"Kalau begitu tidurlah sayang, aku menungguimu hingga tertidur."

Sehun itu sangat sayang pada Luhan. Tipikal lelaki yang bertanggung jawab meski harus menahan lelah pada tubuhnya dan mengharuskan diri untuk menunggui Luhan terlebih dulu sebelum membiarkan tubuhnya beristirahat.

"Jaljayo, baby." Kata Sehun sebelum menutup sambungan telepon.


Hari senin pada minggu kedua setelah tahun baru Luhan jalani dengan berlatih dance dari pagi hingga pukul tiga sore. Peluh membanjiri tubuhnya hingga bajunya terlihat jelas menempel penuh keringat.

Luhan berjalan mendekati soundsystem lalu mematikannya. Ia ingin beristirahat sebentar dilantai. Tiba-tiba seseorang melemparkan handuk kewajahnya.

"Terimakasih."

"Hmm."

Laogao membalas seperlunya, sedangkan Luhan bangkit dari posisi terlentangnya menjadi duduk diatas lantai. Membersihkan keringatnya hingga kaki lalu meminta botol minum pada Laogao yang sedaritadi berdiri didepannya.

"Kau ini bukan robot. Berlatih itu seperlunya bukan semampunya hingga tidak lagi bertenaga." Cerocos Laogao yang mengomeli Luhan.

Luhan hanya mengangguk acuh lalu meminta Laogao untuk membantunya berdiri. "Sudahlah. Kau ini selalu saja marah-marah. Tunggu aku disini, aku ingin mandi sebentar. Kita pergi makan."

"Kupikir kau lupa akan janjimu kemarin."

"Tidak. Aku tidak melupakannya."

Luhan berkedip jahil pada Laogao lalu segera melesat ke arah kamar mandi. Membersihkan tubuhnya sebentar sebelum pergi makan bersama.

Saat didalam resto. Luhan banyak sekali memesan makanan. Meja mereka sampai terasa penuh sesak oleh pesanan yang sudah dipesan.

Laogao menganga tidak percaya, "Hey, ini terlalu banyak. Kau tahu?"

"Memang. Kan sudah aku katakan jika aku tidak ingin menerima kritikan mengenai kau yang menyusut terlalu jauh seperti ini."

"Tapi tidak seperti ini juga, Luhan."

Dan Luhan hanya acuh dan mulai melahap beberapa makanan yang memang ia gemari.

Perutnya terasa penuh. Begitu juga dengan Laogao yang teler dikursinya sambil memegangi perutnya yang serasa ingin meledak.

"Lu, Apa kau ingin ku foto?" tawar Laogao terkekeh.

Luhan menggeleng lemas, "Kurasa mulai saat ini aku akan berdiet untuk menurunkan berat badan."

"Berat badanmu naik?"

"Tentu saja."

Dan mereka pun terdiam satu sama lain. Tidak membicarakan apapun, mereka berniat menurunkan makanan didalam perut mereka hingga benar-benar mencapai lambung. Baru Luhan mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu disana.

"Kau tahu, hari ini hari bersejarah Oh Sehun dengan fansnya. Jadi aku ingin merayakannya juga. Tapi berfoto dengan keadaan seperti ini benar-benar menyusahkan. Bagaimana kalau aku mengunggah foto saat di Australia saat itu?" tanya Luhan masih sambil mengetik sebuah pesan.

"Kupikir tidak apa-apa. Lagi pula kau sedang memakai jaket dan topi itu saat ini."

"Aah, benar juga."

Ketikannya selesai. Sebuah pesan singkat darinya untuk Sehun berisikan sebuah ucapan selamat. Kemudian jemarinya kembali mengetikkan sesuatu diatas layar lalu tak berapa lama sebuah foto sudah terunggah di akun miliknya.

'Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menunjukkannya.'

Begitulah caption yang Luhan tulis. Walaupun hari ini bukan hari jumat, tapi jika menyangkut tentang kekasihnya itu berarti moment penting memang harus ia lakukan sebagai ungkapan jika ia juga menyambut hari besar Oh Sehun.

Apa itu sebuah kode? Ya, tentu.

Tak berapa lama pesannya pun dibalas. 'Terimakasih sayang, Aku sangat mencintaimu."

Dan Luhan tersenyum cantik membacanya.


Suara dentuman musik sudah tidak terdengar lagi namun suara gemuruh teriakan kaum hawa masih bisa didengar sayup-sayup dari ruang ganti yang tengah mereka tempati. Beberapa menit yang lalu konser mereka di hari kedua di negara Singapura telah usai.

Sehun memperhatikan wajahnya dari pantulan kaca, menyeka keringat pada pelipisnya sambil mengingat apa saja yang dia katakan saat berdiri diatas panggung.

Namun tiba-tiba Lay datang menghampiri. Menepuk pundaknya sekilas lalu berkata 'semangat' padanya lalu pergi. Sehun menatap Lay dari balik kaca, ia sedih melihat hyungnya yang satu itu. Lay habis jatuh sakit kemarin dan harus melakukan konser keesokkan harinya. Sehun benar-benar merasa khawatir.

Tak lama kemudian datanglah seorang Byun Baekhyun disamping dirinya saat ini. Membenarkan sedikit eyeliner yang tidak rapi dan langsung berniat pergi tanpa mengatakan apapun. Tapi Sehun menahan tangannya tak membiarkan hyung nya itu pergi begitu saja.

"Ada apa?" tanya Baekhyun galak. Sehun merengut mendengarnya.

"Hyung, maafkan aku. Itu refleks."

Ternyata Sehun belum meminta maaf atas kejadian kemarin. Walaupun Baekhyun bersikap seolah tidak terjadi apa-apa saat berada di depan publik ataupun diatas panggung. Bukan berarti Baekhyun sudah memaafkannya, kan?

"Aku maafkan."

Hah? Semudah itu?

"Aku bersungguh-sungguh, hyung." Rengek Sehun.

"Aku juga bersungguh-sungguh, Sehun-ah." Baekhyun mencubit pipi Sehun gemas. "Aku mengerti kau sedang emosi saat itu. Tak apa." Lanjutnya.

"Lalu kenapa tadi ketus padaku?"

Helaan napas terdengar dari cela bibir Baekhyun, "Chanyeol akan langsung terbang malam ini bersama Lay. Dan kita pulang besok."

Oh. Ternyata. Sehun manggut-manggut mendengarnya. "Apa kita akan mengantar?"

"Tentu saja tidak. Dia sudah besar, tingginya saja sudah seperti itu. Jadi tidak perlu diantar."

"Kalau begitu bagaimana kalau kau temani aku ke Danau Marina Bay, hyung."

"Ok. Tapi tidak malam ini, aku butuh tidur."

Sehun berpikir sebentar sebelum mengangguk menyetujui. Dan mereka pun tanpa banyak kata lagi segera menuju mobil yang sudah menunggui mereka sedari tadi.

Sehun benar-benar membuktikan perkataannya saat dipanggung konser bahwa ia ingin pergi ke Marina Bay. Pukul tiga dini hari Sehun membangunkan Baekhyun untuk pergi menemaninya. Dan memintanya untuk mandi terlebih dahulu sebelum mereka pergi.

Baekhyun terus-terusan menggerutu. Demi tuhan ini masih subuh bahkan ia sempat memukul lengan Sehun yang telah mengganggu tidurnya. Namun apa daya ketika Sehun malah mengeluarkan jurus aegyo nya yang ia tunjukkan tepat di depan mata, Baekhyun tak kuasa untuk menolak.

Berbalut dengan baju levis berwarna biru juga kaos turtle neck nya, Sehun berjalan melawan angin yang berhembus lumayan kencang kearah pagar pembatas danau. Tidak perlu jaket karena Singapura tidak sedingin Seoul. Berbeda dengan Baekhyun yang malah seperti orang yang sedang berada di musim dingin.

"Hey, Magnae. Kau bisa jatuh sakit jika berpakaian seperti itu." Kesal Baekhyun yang menatap Sehun sebal. Bagaimana tidak, kenapa Sehun selalu mencari penyakit saat sedang bersamanya. Hah, benar-benar.

Sehun mengangkat bahunya acuh lalu menggulung turtleneck nya kedalam, hingga terlihat seperti kaos putih biasa. "Disini tidak sedingin itu, Hyung. Tenang saja."

Tatapannya ia bawa kedepan setelah tangannya berhasil menggapai pinggiran pagar pembatas. Dingin. Itulah yang ia rasakan. Sehun melirik sekilas pada jam tangannya yang menunjukkan pukul 4.00 pagi pantas saja langit mulai sedikit terang diujung depan matanya.

Sehun merogoh saku celana mengambil ponsel dan menjulurkannya pada Baekhyun. "Tolong ambil kan aku foto, hyung."

Baekhyun menerimanya, "Kau pasti sedang sedih. Sudahlah semuanya sudah berlalu, Sehun-ah."

"Aku tahu." Balas Sehun, ia menundukkan kepalanya sebentar. Tanpa sadar membuat tumpukan air didalam matanya dan menetes begitu saja. Sehun mengusapnya cepat. Lalu menghadap kearah Baekhyun lagi.

"Cepat ambil gambarku, hyung. Kita harus kembali ke hotel."

Baekhyun hanya menatap nanar pada Sehun yang sedang mencari posisi seperti apa. Tapi Sehun tiba-tiba melamun sambil menghadap kearah dimana tempat ia dan Luhan dulu sempat berfoto bersama. Apa dia sedang mengenang? Baekhyun semakin sedih menatap Sehun yang seperti ini.

KLIK

Tanpa aba-aba Baekhyun mengambil gambar Sehun begitu saja. Lalu menyimpan ponsel Sehun kedalam saku jaket miliknya. Berjalan mundur perlahan-lahan membiarkan Sehun dalam lamunannya tanpa ketahuan.

Sehun terus menatap nanar pada tempat itu. Puluhan meter dari tempatnya berdiri saat ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan baginya.

Pandangannya menyelam ke saat-saat dulu bagaimana Luhan tampak begitu antusias melihat daerah di sekitar Marina Bay untuk pertama kalinya. Wajah Luhan yang begitu lucu juga polos saat itu masih terekam jelas.

Ia teringat dalam lamunannya. Rasa sentuhan saat jemari Luhan dengan berani menggenggam tangannya disini. Walau telah pudar tapi rasa itu nyata. Seandainya jarak tidak berarti apa-apa, ia akan arungi ruang dan waktu dalam sekejap untuk melepas rindu yang begitu sesak. Seandainya sang waktu mengerti akan rasanya.

Langit yang ia pandang saat ini tidak lah berbintang. Begitu juga dengan langit hatinya. Tanpa kehadiran Luhan, ia merasa hampa.

Sehun merasa baru kemarin semua itu terjadi padanya namun harus menangis hari ini ketika mengingat bahwa kejadian itu sudah sangat lama terjadi.

Dan tanpa tahu alasan apapun, sekarang ia berdiri disini sendirian, ditempat yang sama namun berbeda jarak. Ia hanya bisa memandang kenangannya dalam diam hingga airmatanya ikut menetes.

'Happy anniversary Lu~ Aku disini sendirian. Di Marina Bay untuk mengenang dari begitu banyak cerita yang telah kita buat bersama. Bukankah kau suka bunga? Itukan alasanmu sangat senang disini? Lain kali jangan biarkan aku untuk pergi sendiri seperti ini, Lu~ aku merasa—sepi.'

Sehun mengusap kedua matanya, membekap bibirnya yang mulai mengeluarkan isakkan. Sehun sudah tidak kuasa lagi menahan perasaan sedih harus berpisah jauh dari Luhan. Hatinya terasa penuh sesak. Sangat tidak mengenakan untuknya.

Tepat pada saat itu, Baekhyun datang mengampiri, mengusap punggungnya menenangkan lalu menggiring Sehun untuk kembali ke hotel.

Saat tiba di Hotel, Sehun dan Baekhyun langsung di introgasi kemana mereka pergi pagi-pagi buta seperti itu. Sehun hanya diam dan menunduk, topi yang ia gunakan dapat menyembunyikan matanya yang sedikit sembab dan memerah. Hingga Baekhyun lah yang menjelaskan semua pada para member yang tersisa dan membiarkan Sehun kembali membenahi diri karena pagi ini mereka sudah harus kembali ke Korea Selatan.

Masih dengan setelan yang sama di pagi harinya dengan tambahan coat yang tersampir di tangan, Sehun terlihat sedang berjalan di lantai bandara sambil mengotak-atik ponselnya yang Baekhyun berikan tadi saat mereka berada di dalam mobil. Ia nampak sedang mengunggah hasil foto Baekhyun ke dalam akun Instagram dengan caption yang sangat simple.

#singapure

Lalu mulai menjelajah di akun weibo. Apa Sehun juga ingin mengunggahnya disana? Jawabannya adalah Tidak. Ia tidak ingin membahas topik mengenai foto yang baru saja ia unggah.

Sehun hanya ingin menyampaikan pada Luhan jika saat ini ia akan pulang. Itu saja. Luhan berhak tahu, 'kan?


Sehun sudah berada di korea saat ini. Berbalut dengan dua buah jaket tebal dimalam hari benar-benar mengejutkan bagi para fans. Beberapa orang tampak tersenyum maklum melihatnya dan Sehun dengan tak kalah riang membalas senyuman mereka dengan senyuman khas seorang Oh Sehun.

Jadwalnya hari ini memang menjadi DJ Sukira menggantikan seniornya yang berhalangan hadir bersama Chen.

Saat sampai di stasiun radio. Sehun bisa melihat beberapa fansite miliknya semua tampak hadir memenuhi bangku lengkap dengan kamera canggih mereka yang tergantung di leher masing-masing.

Apakah mereka ingin merayakan hari jadiku bersama Luhan? Astaga mereka pengertian sekali. Batin Sehun semakin bahagia.

Acara radio itu pun dimulai. Sehun dengan senangnya berujar ceria masih lengkap dengan dua buah jaket yang terpasang pada tubuhnya. Chen hanya sesekali melirik Sehun sekilas lalu kembali melakukan siaran.

Orang gila mana yang memakai jaket tebal berlapis dua didalam studio rekaman yang memakai pemanas ruangan?

Maka semua orang akan menjawab orang itu adalah Oh Sehun.

Cinta benar-benar gila. Chen saja merasa begitu nyaman dengan tanpa menggunakan jaket lalu bagaimana Sehun yang memakai jaket berlapis, apa dia tidak kepanasan?

Saat ini mereka sedang melakukan percakapan antarfans yang mengidolakan mereka. Oh Sehun sebagai Oh Sehee dan Chen sebagai Kim Jongsuk.

Chen : OMG! Apa kau melihat Sehun oppa? Begitu tinggi, mempunyai wajah kecil/imut dan apa kau lihat betapa panjang kakinya!

Sehun : Aku melihatnya! Aku melihatnya! Kakinya seperti terus memanjang dan meninggi.

.

Chen : Bagaimana perasaanmu melakukan hal seperti gadis saat ini?

Sehun : Sebenarnya aku berpikir aku tidak melakukan hal semacam aegyo semenjak aku berusia 23 tahun tapi selama ini untuk para fans, aku akan melakukannya.

Dan mereka semua pun akhirnya tertawa bersama-sama. Terlebih ketika Chen bertanya 'kau suka nasi atau roti' dan Sehun menjawab 'Nasi, aku harus mencari seorang gadis yang tahu cara memasak nasi'

Beberapa gadis diluar menjerit heboh saling mengacungkan jari mereka kalau mereka bisa memasak nasi dan Sehun tersenyum tampan membalas dari balik kaca.

Apa mereka tidak tahu jika gadis yang dia maksud adalah gadis rusanya? Sehun terkekeh didalam hati. Lalu mereka terus tertawa seperti itu hingga acara selesai dan Sehun juga Chen akhirnya pulang ke dorm.

Baru saja melangkahkan kaki ketika pintu dorm terbuka, Sehun sudah mendapatkan panggilan videocall dari Luhan.

"Annyeong, Luhanie." Kata Sehun dengan senyum merekah, tiba-tiba Chen mengambil alih.

"Hyung. Kekasihmu gila. Dia memakai jaket berlapis selama penyiaran dilakukan. Apa dia tidak merasakan kepanasan? Haha" lalu kembali menyerahkan ponsel itu pada Sehun.

Sehun bisa melihat jika sekarang Luhan tengah terbahak mentertawakannya. "Hey... berhenti tertawa seperti itu. Kan kau yang menyuruhku untuk memakainya." Sungut Sehun tidak terima, ia berbicara sambil menuju pintu kamar lalu menutupnya kembali setelah ia kunci dari dalam.

"Ya memang. Tapi aku kan tidak menyuruhmu untuk memakai sekaligus seperti itu. Haha..." lagi Luhan terbahak terpingkal-pingkal.

Sehun merengut, "Baiklah. Tidak akan kupakai lagi." Kata sehun merajuk. Seketika itu juga membuat Luhan menghentikan tawanya.

"Hey... aku bercanda. Masa di hari jadi kita seperti ini kau marah padaku." Rengek Luhan lalu dengan gencar melayangkan buing-buing kearah Sehun. Sekarang gantian Sehun yang tertawa.

"Astaga, Lucu sekali. Lu~"

"Kau jauh lebih lucu jika melakukannya."

"Benarkah? Buing~ Buing~"

Dan mereka tertawa bersama saling mentertawakan wajah masing-masing. Sehun mulai melepas semua jaket juga kaosnya menyisahkan kaos dalam saja. Tampak sexy di mata Luhan. Lalu berjalan kembali kearah ranjang kali ini dengan posisi tengkurap.

"Kau ingin menggodaku?" tanya Luhan penuh selidik.

Sehun menggeleng sok innocent memandang Luhan dengan kacamata potter yang masih bertengger dihidungnya. Lalu memandang dadanya yang terekspose jelas, "Sedikit."

"Aaish. Aku bisa kehilangan fokus jika seperti ini."

"Memangnya apa yang ingin kau katakan, sayang." Tanya Sehun. Ia merubah posisinya menjadi telentang.

Sehun bisa melihat jika wajah Luhan mendadak gugup.

"Aku ingin mengucapkan selamat di hari jadi kita yang ke titik tahun. Mereka bilang jika kita sudah bersama selama 4tahun ini tapi kurasa lebih dari itu. Dalam hitunganku, tahun tidak menjamin jika kita bisa bersama sampai akhir. Tapi jika besok lalu lusa terus sampai hari-hari berikutnya. Itulah yang aku hitung jika kita akan selalu bersama tanpa mengenal tahun karena kita menjalaninya setiap hari tanpa paksaan. Aku sangat mencintaimu, Sehun-ah."

Detak jantung Sehun berdetak secara menggila. Ungkapan yang Luhan katakan padanya benar-benar menyentuh hati. Hatinya berdesir merasakan sensasi menyenang yang baru saja Luhan berikan padanya dan Sehun akan jujur jika Sehun bukan hanya menyukainya tapi juga mencintai respon tubuhnya sendiri saat ini.

"Kau begitu manis, Lu. Jika itu menurutmu maka aku akan mengungkapkannya juga. Jika mereka bilang kita sudah bersama selama 4tahun, kurasa aku juga berpikiran sama denganmu. Dan jika menurutmu kita bersama dalam menghitung hari karena kita menjalaninya tanpa paksaan, maka aku akan berkata jika kita telah bersama selama jarum jam masih berdetik. Satu detik begitu singkat dan aku akan selalu mengulang detik berikutnya agar terus bersamamu hingga detik yang kupunya habis bersamaan dengan tubuhku yang terkubur didalam tanah. Aku mencintaimu tanpa sebab dan alasan apapun. Dan aku bersyukur bisa memilikimu sekarang. Xiao Lu~"

Sehun dan Luhan hanya bisa saling berpandangan. Mengucapkan kata cinta tanpa suara melalui mata. Juga saling melempar senyum satu sama lain. Menyampaikan jika mereka bisa melalui semua ini dengan senyuman. Dan saling menguatkan hati masing-masing jika perjalanan cinta mereka masih akan terus berjalan, jika harus melewati kerikil runcing sekalipun mereka akan melaluinya meski harus membiarkan kaki mereka tertusuk benda tajam mereka tidak akan terluka.

Karena luka kecil tidak berarti apa-apa dengan kekuatan cinta mereka yang sangat besar.


Apa yang dia katakan?

Sehun memandang tajam pada layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat.

From Tao,

'Terlihat seperti sangat mencintai. Menggalau sendirian, sangat menyedihkan!'

Astaga. Apa panda ini sedang cari gara-gara? Kurang ajar!

Terlihat apa? Jelas-jelas ia sangat mencintai Luhan. Menggalau? Tidak, ia hanya mengenang apa salahnya. Menyedihkan? Tidak ada yang boleh menyebutnya menyedihkan. Termasuk Tao. Huh!

Pagi-pagi sekali mendapat pesan seperti itu membuatnya darah tinggi. Otaknya panas dan darahnya mendidih, meletup-letup siap untuk di muntahkan.

'Kau jauh lebih menyedihkan. Disini seorang lelaki, disana seorang gadis. Kau merasa perawan?'

Balas Sehun tak kalah sengit. Bibirnya menyeringai. Bukankah kata-katanya jauh lebih pedas? Ya, sangat pedas. Lalu sebuah pesan singkat tampil lagi diatas layar ponselnya.

'Setidaknya aku seorang lelaki. Perawan atau bukan, tidak penting. Dasar anak kecil.'

ANAK KECIL?!

Apa panda itu sedang cari mati?

Sehun menggigit lengan kaos dalamnya kesal.

'Tidak ada anak kecil yang berusia hampir 23 tahun seperti ku!'

'Itu terlihat jelas, berarti kau kekanak-kanakkan.'

'Tutup mulutmu!'

Sehun melempar ponselnya diranjang lalu beranjak ke kamar mandi, namun dering ponsel kembali berdering. Bukan dari nada pesan namun sebuah panggilang videocall dari —Luhan.

"Annyeong, Sehunie." Kata Luhan ceria. Amat sangat ceria.

Sehun menatapnya bingung, lalu mulai memfokuskan pandangannya pada rambut Luhan yang diberi jel. Luhan semakin senyam-senyum menatap Sehun.

"Aku benci gaya rambut itu. Cepat ganti!" kata Sehun acuh lalu mulai menatap jidat Luhan yang terpampang di depan matanya.

Luhan merengut kesal. "Tidak mau! Ini hasil karya ku sendiri." Katanya. Lalu merapikan kembali tatanan rambutnya.

"Kalau ku bilang Ganti ya Ganti. Kau tidak mau menurutiku?" sungut Sehun tanpa sadar membentak Luhan.

Luhan mengerutkan bibirnya menahan isak. Matanya mulai berkilau karena air mata. Ekspresi wajahnya sekarang jauuuh berbeda daripada saat baru menelepon Sehun. Kenapa dia membentak ku? Batin Luhan sedih, rasanya ia ingin menangis kencang sekarang juga. Baru tadi malam mereka mengungkapkan kata cinta, apa sekarang telah berubah?

"Kenapa hanya masalah gaya rambut kau marah seperti ini, hiks—" Luhan cepat-cepat menghapus lelehan airmata nya. "—Kalau kau, ti-tidak mencintaiku lagi. Tidak perlu membentakku seperti ini."

Dan sambungan videocall itu pun diputus begitu saja oleh Luhan. Sehun termangu dalam keterdiamannya disisi ranjang.

Luhan menangis?

Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Aissh, semua gara-gara Tao.

Kesal Sehun dalam hati. Jemarinya dengan cepat menghubungi Luhan kembali. Namun yang terdengar adalah suara operator yang menyuruhnya meninggalkan pesan suara.

Dasar Keparat!


Sedangkan yang terjadi pada Luhan saat ini adalah menangis di dalam mobilnya dengan posisi menyandar pada pintu mobil. Semua kaca Luhan tutup agar tidak ada yang mendengar. Ia ingin menangis lebih leluasa.

Siapa yang tidak sedih dan terluka jika dibentak dihari pertama setelah mereka merayakan hari jadi? Tentu saja Luhan tidak bisa diperlakukan seperti itu.

Luhan sudah berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya namun tidak bisa. Airmatanya terus meleleh seperti lilin yang sumbunya dibakar. Tissu didalam mobil bahkan hampir habis.

Lalu datanglah Laogao yang memasuki mobil dan duduk dikursi depan. Mendengar suara isakan dari belakang membuatnya menoleh dan terperanjat kaget.

"Astaga. Apa yang terjadi, Lu?" dengan panik Laogao berpindah kesamping kursi yang Luhan duduki lalu mulai mengambil ponsel yang digenggam pria cantik itu.

Tapi ponsel dalam keadaan mati.

"Ada apa, Lu?" tanyanya lagi. Luhan hanya menggeleng dengan lelehan airmata yang semakin menjadi.

"Ponselmu mati atau dimatikan?" tanya Laogao lagi hati-hati.

Lagi Luhan hanya menggeleng. Sudut bibirnya semakin menukik ke bawah.

"Apa karena —Sehun?"

Dan Luhan sukses menangis kencang lagi. Masih terekam dengan jelas bagaimana bibir favoritnya itu membentaknya tadi. Juga mata tajam Sehun yang menatapnya. Astaga, benar-benar menakutkan.

"Sudah tenanglah, Lu. Jangan semakin membuat matamu sembab. Kau ada acara setelah ini."

Laogao membantu menghapuskan airmata Luhan dengan tissu. Lalu memberikan Luhan sebotol air. Setelahnya ia membawa keluar kain dan air botol minum sisa Luhan untuk membuat lap basah.

Pria cantik itu mengusap wajahnya dengan kain itu. Hilang sudah semua make-up nya pagi ini. Luhan berusaha untuk menenangkan diri, ia bersandar pada jok kursi dengan mata terpejam. Dan Laogao kembali pindah ke kursi depan. Membiarkan Luhan untuk tidur sejenak.

Ditengah jalan, Luhan terbangun dengan wajah masih sembab. Melihat ada kain di jok serba guna, Luhan menjulurkan kain itu dan meminta Laogao untuk membasahinya lagi dan Luhan langsung mengelap wajahnya beberapa kali sebelum mengelapnya menggunakan tissu.

"Mana ponselku?" sssttt. Semua orang pasti akan meringis. Suara Luhan benar-benar parau, serak khas sebahis menangis. Laogao memberikan ponsel Luhan kembali yang masih dalam keadaan mati.

Luhan menghidupkannya. Dan tampil lah sederet pesan juga panggilan yang memenuhi notifikasi ponselnya tapi Luhan mengabaikan semua itu. Tangannya tergerak untuk mengambil sebuah foto dirinya sehabis menangis.

Moment pertama yang tidak menyenangkan. Sehun membentakku. Batin Luhan miris dan menyimpan ponselnya kembali, tidak jadi untuk mengunggah foto dirinya yang sangat menyedihkan. Nanti saja.


Aku sangat membenci mu, Tao. Aku sangat membenti mu. Dengan amarah yang membuncah. Sehun berkomat-kamit juga menghapus semua postingan yang berbau Tao di dalam akun Instagram miliknya.

Terus menghapus hingga enam foto. Dan ia baru tersadar jika foto terakhir yang ia hapus adalah foto dirinya bersama Luhan yang ada Tao dibelakangnya. Aiiiisssh kenapa jadi ikut terhapus. Batin Sehun semakin kesal.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Terlihatlah Chanyeol yang berdiri tegak di depan pintu. "Mau ikut menonton?"

Alis Sehun naik sebelah, "Film atau Drama Musical?"

"Okepi."

Dan Sehun tahu jika itu adalah drama musical. "Oke!"

Dan kegiatan menghapus foto itu berlanjut sebelum pemantasan drama musical di mulai, terus memilah mana kiranya foto 'Setan Tengik' –Sehun memanggilnya seperti itu- yang harus ia hapus. Namun kegiatannya harus terhenti ketika panggung mulai terisi oleh beberapa pemain. Sehun itu sangat suka dengan seni peran, tidak heran jika ia lebih memilih drama musical daripada menonton film di bioskop.

Sehun terus menikmati jalannya setiap cerita, menonton penuh hikmat adegan per adegan yang dipersembahkan. Ia tidak bisa untuk tidak ber-wah-ria saat penampilan para pemain terlihat sangat keren menurutnya.

Sehun berniat memfoto semua pemeran diatas panggung namun tidak jadi, saat matanya tidak sengaja melihat jika foto yang telah ia hapus sudah mencapai 11foto. Karena seingatnya ada 193 foto di dalam akunnya dan sekarang menjadi 182. Sehun mengernyit, ia menatap angka-angka yang terdapat pada akun instagram nya. 182?

18 + 2 = 20

20 bukankah itu Luhan?

Lalu jika melirik ke samping, ia akan menemukan angka sakral.

52 dan 0.

520 = I Love You

Jadi jika disambung akan bermakna,

Luhan, I Love You

Sehun mengangguk-angguk dengan analisanya sendiri. Sehun langsung saja meng-screen layar ponselnya, melirik pada jam tangan couple miliknya bersama Luhan sekilas yang sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam.

Menandakan jika pertunjukan sebentar lagi akan selesai. Dan benar saja, semua penonton berdiri memberikan tepuk tangan. Begitu juga Chanyeol yang duduk disebelahnya, Sehun bangkit dan ikut bertepuk tangan. Lalu pria jangkung disebelahnya mengajak untuk ke backstage.

Itu berarti akan ada foto bersama. Yuhuuuu~ Sehun bersorak senang dalam hati bisa berfoto bersama pemain.

Sehun kembali melihat pada angka-angka sakralnya, dan tidak dapat menyembunyikan senyum diwajah ketika melihat jika angka-angka itu terlihat sangat sempurna. Jjang!

Luhan, Wo Ai Ni

Tulisnya lengkap dengan hasil foto screen instagram miliknya yang ia kirimkan pada Luhan.


Luhan berdecih kesal melihat pesan yang Sehun kirimkan padanya. Dasar Cadel Idiot. Maki Luhan mengetuk-ngetuk layar ponsel retaknya bringas.

"Layar itu akan semakin pecah jika kau seperti itu." Kata laogao.

"Aku tidak perduli."

Sebenarnya hati Luhan sedikit berdesir melihat bagaimana Sehun mencoba meminta maaf padanya namun ia abaikan dan mulai mengupdate foto dirinya sendiri yang sempat ia ambil sehabis menangis tadi pagi. Sehun bilang ia tidak menyukai gaya rambutnya kan? Terserah. Ia tidak perduli.

Semoga Sehun berubah pikiran dan memuji bahwa hasil karyanya itu adalah yang paling indah. Heuuung!

'Tidak masalah seberapa jauh jarak untuk pulang ke rumah, biarkan permohonan menyertai di setiap langkahmu, tekunlah dalam mewujudkan harapanmu, itu semua akan menjadi kenyataan suatu hari nanti~'

Tulis Luhan dengan beberapa emoticon senyum manis disana. Berbanding terbalik dengan senyumnya sekarang ini, yang seperti menyeringai. Haha~

Tak lama kemudian Sehun menyusul ikut mengunggah foto tapi pada akun instagram nya. Dan Luhan melihatnya karena awalnya memang ingin melihat-lihat.

'Okepi. Kalian benar-benar keren.' Tulis Sehun.

Oh jadi sedang menonton drama musical. Luhan berdecih sekali lagi. Tiba-tiba ponselnya berdering ribut. Luhan jadi semakin kesal, ia terus menekan tombol merah menolak panggilan dari Sehun. Hingga jemari Luhan lelah dan membiarkan ponselnya begitu saja.

Sehun meneleponnya lagi lalu meninggalkan pesan suara.

'Kau tidak ingin memaafkan ku?'

'Hei... jawab aku!'

'Luhan, jawab panggilanku atau aku akan pergi ke Beijing sekarang juga dan menyerangmu.'

'Yaak! Angkaaaaat!'

Terus seperti itu dan Luhan dengan rutin berselang seling dengan timer Sehun. Jadi ia bisa mendengar lalu mengabaikan panggilan Sehun beberapa kali hingga tanpa sengaja panggilan itu tersambung karena Luhan kalah cepat malah jadi menerima panggilan Sehun.

"Hallo~ Hei sayang, maafkan aku. Kumohon." Terdengar jelas jika Sehun agak linglung saat panggilannya terjawab.

"Aku tidak mau. Kau jahat padaku!"

"Astaga sayang, Maafkan aku ya."

"Tidak!"

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Jangan meneleponku!"

"Baby Lu~ Maafkan aku. Sumpah demi tuhan itu tidak sengaja. Seseorang habis membuat ku kesal dan—"

"Dan aku tempat pelampiasanmu begitu? Oh Bagus Sekali. Bye."

Tutup Luhan lagi-lagi mengakhiri panggilan telepon secara sepihak. Tanpa tahu menahu jika Sehun sedang menjambak rambutnya frustasi dan mengumpat kesal pada Tao.

Uuugh~ Tragis sekali.

.

.

.

TBC or END

Yeeeeeeey ff apa ini. Duuh akhirnya jadi juga wkwkwk :p

Saya bener2 kaget saat ngeliat postingan ohsehunoona yang nge-notice ini ff. Omayaa... makasih noona talangehhh chu chu :*:*:*

Makasih juga buat yang Follow, Fav, and Review nya. Maaf gak bisa sebutin satu-satu di chapter ini tapi dichapter depan saya bakalan tulis semuanya. Pasti. :* btw semua tulisan nya udah saya baca kok. Semua pujian, saran, kritik sama koreksiannya bener-bener membantu saya untuk semakin memperbaiki tulisan.

Dan jangan takut untuk ngetik panjang2 di review, saya malah seneng, duuuh makasih masyaAllah... :*:* makasih juga yg udah mau coret2 dari chap1-7 huwaaa talangeeh :*:*

Terus ada yg nanya, author capek gak sih ngetik segini panjang? Tentu aja gak dong. Saya ikhlas buat hunhan mah maklum haus moment mereka yg udh gak ada hiks hiks.

Ada juga yg bilang males baca ff ini klo chapter depan isinya ttg irene. Yakin males baca? Baca dulu dong. Siapa tahu jatuh cinta. Eeh xP

Terus ada yg bilang klo saya Sasaeng & Mother of HunHan Shippers wkwkwk OMAYAA bisa jadi bisa jadi duuh lucu bgt sebutannya jadi terharu xP

Pokoknya makasih banyak ya all :*:*:*

Love you Chuuu~