Disclaimer : I do not own Naruto

.

.

.

Chapter 8 : The Simplest Mission, huh?

.

.

"Menurutku Shikamaru tidak curang, Kazekage-sama. Ia mentraktirku 12 mangkuk Barbeque. Dan semua itu tidak murah." Chouji tiba tiba membantah Gaara yang kini menatap Shikamaru dengan pandangan sinis. Lalu, Gaara dengan datarnya menoleh kearah Chouji tanpa mengubah ekspresinya.

"Kalau begitu ia menyuapmu." Lanjut Gaara.

"Tidak, Kazekage. Aku bahkan belum mengerti apa yang Shikamaru kejar saat itu. Jika aku mengetahui bahwa ia ingin mendapatkan Temari-senpai, dengan hormat, aku menolaknya."

"Tapi kau menerimanya. Dan dia curang."

"Iya. Aku menerimanya karena anda curang."

Kemudian Gaara terdiam menatap Chouji. Chouji pun begitu. Gaara tidak bisa berkata kata. Yang dilakukan Chouji adalah membalikkan kata-katanya sendiri menuju dirinya. Ini seperti boomerang. Sejak kapan Chouji tertular penyakit pintar Shikamaru?

Kankurou dan Temari bertatapan mata satu sama lain. Gaara memasang tampang datar, namun dalam hatinya, ia bingung harus berkata apa.

Akhirnya ia menghela nafas.

"Baiklah. Nara Shikamaru, selamat. Kau berhasil melewati tantangan yang kedua. Beristirahatlah mala mini. Besok, aku akan menentukan tantangan terakhir."

Shikamaru menyunggingkan senyum kemenangan. Chouji mengeluarkan cengiran bahagia, menoleh kearah Shikamaru, dan mengacungkan jempolnya kearah sahabatnya itu. Shikamaru memberikan senyuman hangat untuk sahabatnya itu, seperti perkataan 'terimakasih' yang tidak diungkapkan secara langsung.

Temari tersenyum bahagia dan mencuri-curi pandang kearah Shikamaru yang sekarang memasukkan kedua tangannya didalam saku. Wajahnya kembali datar lagi. Tidak lama kemudian, dia menguap. Temari sweatdropped. Kapan ia bisa membuang sifat malas-nya itu, bahkan ketika suasana tegang?

"Selamat bocah. Hari ini hari keberuntunganmu." Kankurou menyindir Shikamaru sambil tersenyum. Mungkin saat ini, Kankurou sudah mulai menyukai Shikamaru yang berhasil melumpuhkan akal Gaara dua kali berturut-turut. Ah, bukan 'suka' dalam arti yang itu.

"Hn. Aku tau aku keren." Shikamaru langsung menggaruk belakang lehernya dengan ekspresi malas. Kankurou mendelik kesal.

"Aku menyesal berkata seperti itu." Ujar Kankurou lagi, membuat Temari tertawa kecil disebelahnya, kemudian Kankurou memberikan lirikan sebal kearah kakak perempuannya itu.

"Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginapan." Ujar Gaara dingin. Kankurou menghela nafas, kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam saku, dan berjalan mendekati Gaara. Sementara Temari tetap pada posisi semula. Matanya tidak lepas dari Shikamaru, yang membuat Shikamaru sedikit….err…salah tingkah?

"Hey, nee-chan, kau ikut tidak?" seru Kankurou dari luar ramen Teuchi. Temari menoleh kearah sumber suara. Kemudian menyusul Kankurou.

Shikamaru hanya mengikuti Temari dengan pandangannya saja, begitu juga Chouji yang masih ada disana untuk menemani Shikamaru.

Tidak lama kemudian, Temari kembali masuk kedalam, membuat Shikamaru mengangkat sebelah alisnya, bingung. Temari tersenyum kearah pacar-belum-resmi-nya itu. Shikamaru membalas senyumannya dengan senyuman entah senyuman apa itu. Kemudian, Gaara kembali memunculkan kepalanya dibalik gorden.

"Jangan macam-macam." Ancam Gaara kearah Shikamaru. Shikamaru otomatis langsung mengeluarkan kata 'Hah?', kemudian Gaara dan Kankurou beranjak pergi dari tempat ramen, meninggalkan kakak perempuannya yang masih ada disana. Shikamaru mengalihkan pandangannya dari kaki mereka berdua, menuju wanita cantik yang ada di depannya. Kemudian tangan kirinya menunjuk keluar, sementara tangan kanannya berada di saku.

"Kau tidak ikut?" Tanya Shikamaru. Temari menggeleng.

"Aku akan menemanimu untuk beberapa saat ini. Kau pasti lelah."

"Aaa. Masih merindukanku rupanya…" goda Shikamaru tanpa merubah ekspresi wajahnya. Temari mengedipkan matanya, kemudian menyiniskan pandangannya kearah Shikamaru. Chouji hanya menyengir tidak berdosa kearah mereka berdua. Tidak lama kemudian, Temari berjalan keluar dari ramen Teuchi.

"Ah! Eh! Temari-senpai!" seru Chouji panik. Shikamaru membelalakkan matanya yang semula tertutup. Kemudian membuka mulutnya cukup lebar.

"Aku salah ya?" Tanya Shikamaru innocent.

"Kau ini. Cepat kejar dia! Sudah bagus ia mau menemanimu, Shikamaru!" seru Chouji, ikut kesal. Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan keluar dengan malas.

'Kenapa jadi Chouji yang marah?' batinnya.

Shikamaru menoleh kearah kanan dan kiri ketika keluar dari ramen Teuchi, kemudian menemukan Temari sedang berjalan dengan santainya menjauh dari tempat ramen itu. Sepertinya ia akan menyusul Gaara dan Kankurou yang ada didepannya, namun tidak menyadari akan adanya Temari dibelakangnya yang berjarak cukup jauh.

Shikamaru berlari mengejar Temari, kemudian menepuk pundaknya.

"Maaf maaf, aku cuma bercanda tadi. " ujar Shikamaru datar, namun ada perasaan yang tidak enak pada Temari saat itu. Temari hanya mendelik kesal Shikamaru.

"Aku itu bukan wanita yang mudah memaafkan orang." Ujar Temari bernada angkuh. Shikamaru menghela nafas malas.

"Yah…." Akhirnya Shikamaru mengeluarkan desahan pasrah. Temari mengangkat sebelah alisnya. Shikamaru terus mengikuti Temari disampingnya. Entah mereka akan menuju kemana.

"Traktir aku makan dango, baru aku memaafkanmu, bocah."

Shikamaru menoleh kearah Temari. Kemudian ia menatap mata Temari, yang dibalas pandangan licik oleh sang wanita. Mata Shikamaru langsung menyiratkan 'Jangan kuras uangku dong…'. Yah, mengingat Chouji yang makan 12 mangkuk Barbeque tadi siang dan ia yang membayar…

Temari menghela nafas pasrah melihat tatapan puppy-eyes gagal pacarnya-yang belum resmi-itu.

"Yasudah aku akan mentraktirmu. Tapi, hari ini kau tidak boleh bermalas-malasan menemaniku, dan jauhkan tampang bodohmu jika sedang malas itu." Perintah Temari. Shikamaru entah harus senang atau malah berkata 'Yah' lagi.

"Aku ini tampan tau."

"Kankurou dan Gaara jauh lebih tampan daripada kau."

"Eeeh? Kankurou?"

Temari mengangguk.

"Temari, aku tahu dia adikmu. Tapi buka mata hatimu sedikit….."

"Apa maksudmu? Kau ingin bilang kalau dia itu jelek karena cemongnya, begitu?" Tanya Temari kesal, dan tepat sasaran. Shikamaru menundukkan kepalanya kalah.

"Nggak gitu juga, sih. Tapi…..beneran dia ganteng?"

"Kankurou itu sangat mirip dengan ayahku….dan kau tahu, ayahku itu termasuk Kazekage yang berwajah tampan, selain Gaara. Dulu ia sangat dipuja-puja oleh wanita dan pada akhirnya ia memilih ibuku, wanita sederhana yang tidak memiliki perasaan apapun pada ayahku saat itu." Jelas Temari. Shikamaru tentu pernah melihat wajah Kazekage ke-4. Yah, memang wajahnya tergolong tampan dan muda untuk usia ayah yang memiliki tiga anak yang….mematikan. Shikamaru tertawa kecil.

"Ibumu pasti sangat mirip denganmu, ya?" Tanya Shikamaru, membuat Temari tersenyum.

"Banyak orang yang berkata seperti itu." Kata Temari lagi.

"Pasti ia cantik sepertimu." Kata Shikamaru….errr…gombal. Secara tidak langsung membuat pipi Temari mengeluarkan semburat merah, kemudian ia tertawa kecil.

"Lalu, Gaara mirip siapa?" Tanya Shikamaru lagi.

"Ia sangat mirip dengan ibuku…namun di sisi lain, ia memiliki sosok ayahku. Walaupun ia dibenci saat ia masih kecil, tapi ia memiliki kasih sayang ibu kami walaupun ia sudah tidak ada. Pasirnya." Ujar Temari sambil tersenyum lemah. Shikamaru mengangguk.

"Gaara adalah anak yang patut dicintai, bukan dibenci." Tambah Shikamaru kemudian. Temari mendongakkan matanya kearah pria yang lebih tinggi darinya, walau lebih muda darinya. Shikamaru menatap mata Temari dengan pandangan bingung.

"Apa?"

"Tidak apa-apa. Ayo cepat kita jalan!"

Tanpa aba-aba, Temari langsung menarik tangan Shikamaru menuju ke kedai dango.

~oOo~

Hari sudah mulai gelap.

Seharian ini, Temari menemani Shikamaru bersantai. Mulai dari makan di kedai dango, sampai sekarang, menemaninya berbaring di rerumputan dibawah langit yang kemerahan. Menatap awan yang bergerak, dan entah apa yang menarik dari menonton fenomena alam seperti ini.

Shikamaru memejamkan matanya. Angin berhembus melewatinya dan membuat perasaannya sangat sejuk, ditambah lagi, Temari berada disampingnya.

Shikamaru bukanlah laki-laki romantis. Tapi dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin membahagiakan wanita disampingnya ini walaupun tidak bisa mengungkapkan keinginannya itu. Yang terjadi selama ini hanyalah permainan ejek-ejekan antar pasangan. Kebiasaan lama mereka sejak genin. Shikamaru benar benar tidak romantis.

Sementara Temari, menikmati kebersamaan mereka saat ini. Walaupun sering terjadi perselisihan yang sepele, tapi jauh di lubuk hatinya, ia sangat menyayangi bocah ini. Ia sangat bahagia ketika melihat Shikamaru berjuang untuk hubungan mereka. Itu membuatnya percaya bahwa Shikamaru benar-benar menyayanginya.

Temari melirik Shikamaru yang masih memejamkan matanya. Kedamaian terlukis di wajah tampannya itu.

"Hey, bocah." Panggil Temari.

"Hn?" respon Shikamaru. Matanya masih terpejam.

"Apa yang akan kau lakukan jika kau gagal dalam tantangan ketiga ini?"

Shikamaru membuka matanya. Pandangannya tertuju ke awan-awan yang bergerak bebas di langit yang kemerahan itu. Tapi matanya menerawang kosong, seperti memikirkan sesuatu. Temari senantiasa menunggu jawaban Shikamaru.

"Aku akan merelakanmu. Perjanjian adalah perjanjian. Gaara dan Kankurou adalah keluargamu dan aku…harus menghormati keputusan mereka. Lagipula, aku tidak akan menyerah di tantangan terakhir ini, apapun tantangannya." Jawab Shikamaru, membuat Temari tercengang untuk sesaat. Dan kemudian Temari menghela nafas.

"Bagaimana denganmu?" Shikamaru balik bertanya. Temari mengeluarkan senyuman yang tak terbaca.

"Aku akan kabur dari rumah dan tinggal denganmu di Konoha."

Shikamaru melompat dari posisinya semula.

"Apa?" serunya terkejut. Temari tertawa melihat ekspresi panik Shikamaru yang cukup lucu. Jarang melihatnya seperti ini, fikirnya.

"Aku bercanda, bocah. Tidak mungkin aku meninggalkan Sunagakure hanya untuk laki-laki pemalas sepertimu, 'kan?" sindirnya. Shikamaru memiringkan mulutnya, wajahnya merengut datar.

"Jadi, kau tidak mau ke Konoha, gitu? Yasudah."

"Eh, bukan begitu."

"Lalu?"

"Ya…karena kau merelakanku pergi…aku akan merelakanmu juga. Mungkin akan membutuhkan waktu lama, tapi….aku akan mencari penggantimu, jika aku sanggup. Dan berdoa, kau akan mendapat pasangan yang lebih baik dariku." Ujar Temari lembut, membuat Shikamaru membuka mulutnya dengan wajah datar untuk sesaat. Kini ia seperti orang bodoh yang tidak mengerti perkataan orang lain.

"Sebaiknya kita jauhkan fikiran itu. Tidak enak rasanya." Kata Shikamaru sambil kembali berbaring di rerumputan. Temari tertawa kecil.

Tiba-tiba, kehangatan muncul di pipi Shikamaru.

Ia membuka matanya.

Temari mencium pipinya.

Dan bagian yang memalukan, ia blushing.

"Aku yakin kau akan berhasil, Shikamaru." Yakin Temari. Shikamaru menatapnya untuk sesaat. Kemudian tersenyum.

"Aku akan berusaha semampuku, aku janji."

~oOo~

Gaara dan Kankurou sekarang berdiri didepan Shikamaru dengan deathglare. Entah apa salahnya. Shikamaru hanya menatap mereka dengan pandangan santai. Sementara Temari hanya menatap mereka bertiga bingung. Kenapa setiap mereka bertiga dipertemukan, selalu saja mengeluarkan aura membunuh?

Hari ini adalah hari penentuan tantangan terakhir untuk Shikamaru. Walaupun terdengar menegangkan, namun Shikamaru terlihat tenang-tenang saja, bahkan cenderung terlihat sangat santai.

Gaara menatap Shikamaru dengan pandangan menantang, sementara Shikamaru tersenyum tidak berdosa.

"Jadi, kau sudah siap dengan tantangan berikutnya?" ujar Gaara. Kankurou mengeluarkan senyum kemenangan, seakan-akan tahu bahwa tantangan kali ini akan sulit.

"Kapan saja, Kazekage-sama." Jawab Shikamaru tidak kalah siap. Temari hanya menarik nafasnya saja melihat sikap Shikamaru yang sangat santai. Gaara tersenyum simpul, kemudian berjalan mendekati Shikamaru yang berdiri disamping sofa penginapan mereka.

"Baiklah…. Sepertinya misi ini akan membuat kakakku senang." Ujar Gaara, dingin. Temari menoleh kearah Gaara dan memasang pandangan tidak suka.

"Dari awal aku tidak suka tantangan ini, Gaara." Selak Temari dengan nada sinis. Gaara yang sedari tadi memperhatikan Shikamaru, perlahan memutar bola mata-nya dan memandang kakak pertamanya itu.

"Bukan kau, nee-chan." Ungkap Gaara singkat, membuat Temari mengangkat sebelah alisnya. Lalu, Gaara dan Temari menolehkan kepala mereka kearah anak kedua Kazekage Sunagakure ke-4.

Kankurou mengedipkan matanya berkali-kali. Kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan bingung.

"Aku?"

Gaara mengangguk. Kankurou tersenyum puas.

"Apakah ini soal bunuh-membunuh? Apa aku harus bertarung dengan bocah ini sampai ia habis?" ledek Kankurou sambil mengepalkan tangannya didepan dadanya dan melirik Shikamaru sinis. Shikamaru hanya menaikkan satu alisnya dan memasukkan tangannya kedalam kantung dengan ekspresi datar. Sementara Gaara, hanya memasang pandangan aneh pada kakaknya itu.

"Bukan itu."

Kankurou menoleh cepat kearah Gaara.

"Lalu?" tanyanya, mulai penasaran.

Gaara tersenyum simpul, dan kembali menatap Shikamaru. Ia kembali berjalan mendekati Shikamaru, sehingga wajah mereka berdekatan. Shikamaru yang lebih tinggi daripada Gaara, menunduk sedikit untuk bertemu mata membunuh Gaara. Sementara Gaara, menatap tajam mata Shikamaru. Kemudian mulutnya terbuka untuk berbicara.

Atur kencan Kankurou dengan anak Teuchi, Ayame. Apapun yang terjadi, kau harus berhasil

"HAAAAAAAAAAAAAH?" Kankurou langsung histeris. Gaara meliriknya dengan senyum simpul tersungging di sudut bibirnya. Shikamaru hanya membuka mulutnya.

Temari yang awalnya hanya terdiam membeku, mulut terbuka, mata terbelalak, lama kelamaan memunculkan senyum, dan kemudian…..tertawa terbahak bahak.

"WAHAHAHAHAHAHAHA! KANKUROU MENYUKAI WANITA!" Temari terbahak sambil menunjuk Kankurou yang sekarang wajahnya merah padam, dan rasa malu yang tidak terbendung akibat ulah Gaara.

"Hanya itu, Kazekage?" Shikamaru langsung bertanya. Gaara mengangguk. Kankurou berjalan mendekati Gaara.

"Gaara! Kau apa-apaan! Kenapa jadi aku?" seru Kankurou didepan wajah Gaara yang masih memasang wajah datar. Gaara hanya menaikkan bahunya, kemudian tersenyum lagi kearah kakaknya.

"Aku tahu kau tertarik dengan wanita itu sejak pertama kali kau bertemu dengannya. Jadi…apa salahnya jika ini dijadikan….sebuah tantangan untuk Nara-san."

"Kau gila, Gaara, kau gila!" Kankurou mengacak rambut coklatnya. Temari masih tertawa terbahak-bahak. Kankurou mendelik kesal kearah kakak perempuannya.

"BERHENTI TERTAWA, TEMARI!"

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Gaara dan Shikamaru hanya tersenyum melihat mereka yang bertengkar lagi, sebelum Shikamaru kefikiran sesuatu.

"Tunggu, Kazekage-sama. Ayame nee-chan kan…sudah punya pacar. Terlebih lagi…pacarnya adalah seorang bandit…" Shikamaru tertawa kecil di sela-sela perkataannya. Kankurou menoleh, tampak patah hati. Temari berhenti tertawa, kemudian menatap Gaara yang masih memasang senyum yang hanya tampak di sudut bibirnya.

"…lagipula jika kupinta ia memutuskan hubungannya dengan pacarnya untuk seorang laki-laki yang kukenal…" Shikamaru melirik Kankurou. "…Ayame-nee-chan mungkin hanya menerima Kakashi-sensei." Lanjutnya. Kali ini perkataannya membuat Kankurou seperti batu yang dihancurkan. Temari melirik Kankurou dengan pandangan canggung, dan sedikit kasihan. Gaara tertawa kecil dengan nada dingin.

"Justru itu tantangannya."

"Hah?"

"Kelompok bandits adalah kelompok yang tidak mau memberikan sesuatu milik mereka secara cuma-cuma. Mungkin kalian harus bertarung dengan mereka. Tidak sulit 'kan?" ujar Gaara. Shikamaru menghela nafas.

"Tapi pacar Ayame-nee chan adalah ketua dari salah satu kelompok bandit. Mungkin agak sulit untuk mengalahkannya tanpa membuatnya luka parah." Kata Shikamaru lagi.

"Karena itu kalian harus memikirkan caranya." Ujar Gaara santai. Kankurou mengangguk-angguk…kemudian ia menyadari kejanggalan dari kata-kata Gaara.

"Gaara….apakah kau tadi bilang 'kalian'?" Tanya Kankurou sambil menunjuk Gaara dengan pandangan bingung. Gaara mengangguk. Kankurou terdiam lima detik sebelum ledakan muncul di ruangan itu.

"KALAU BEGITU AKU JUGA IKUT BOCAH INI BERTARUNG?" Kankurou berteriak, lagi, membuat Temari menutup telinganya. Gaara mengangguk lagi. Shikamaru menghela nafas bosan.

"Ini tidak adil, Gaara! Ini kan tantangan Shikamaru! Kenapa aku harus ikut membantunya?"

"Justru Nara-san akan membantumu juga mendapatkan Ayame-san. Bukankah saling menguntungkan jika kalian berhasil?" kata Gaara santai. Shikamaru mengangguk setuju. Kankurou masih memasang ekspresi Apa-maksudnya-ini-bunuh-aku-sekarang-juga.

"Ya. Jadi, kalian bisa mulai besok. Silahkan atur rencana kalian."

"GAARA!"

TBC

.

.

.

A/N : AAAAAAAAAAAAAAIIIISHHHHH. Maaf readers kalo update-nya kelamaan! Banget bangetan malah ya -_- udah setahun ga di update eeee… tapi serius. Emang akhir akhir ini jarang nulis fic. Baru mulai bulan Maret atau Februari lalu gitu. Jadi maaf ya baru punya ide sekarang. Eee -_- Yosh. Seperti biasanya, reviews are welcome!