With You (Together)
Maincast :
Bang Yongguk
Kim Himchan
Other cast :
Jung Daehyun
Yoo Youngjae
Choi Zelo
Moon Jongup
(cast akan bertambah searah alur cerita)
Rating : T
Disclaimer :
BAP's cast TS Entertaiment and another cast their own agency. This FF are Mine (Miyu a.k.a Himkyu) ^^
.
.
.
.
.
.
.
**Sebelumnya**
Kedua tatapan tulus Daehyun, benar benar meyakinkan Lee Seongsangnim saat itu. Terasa kehangatan dari arti permintaannya tersebut. Karena hanya Jung Daehyun, yang mau menjadi seorang Dokter pribadi bahkan 'Wali' sementara untuk Zelo yang begitu asing tanpa sosok orang tua.
"Saya percayakan ini padamu, Dokter Jung. Kamshamnida."
Daehyun tersenyum lega. Sembari beranjak keluar ruang guru.
Ia tak perlu menunggu mereka mengerti tentang semua perhatian dan kepedulian Daehyun pada sosok Zelo.
Ini bukan karena tuntutan pekerjaan. Ia bukan sosok dokter yang peduli pada kesehatan seseorang dan kehidupan sosial orang lain.
Karena saat ini ,
.
.
.
.
.
.
Zelo memang membutuhkannya.
.
.
.
.
.
Himkyu present :
WITH YOU (TOGETHER) Ch. 8
Himchan menendang nendang kecil kerikil yang terhampar di atas tanah. Membuat debu seketika tercipta dari sepatu hitamnya. Dengan malas , berjalan kesana kemari tak tentu arah , seperti menunggu seseorang. Ia sedikit bersenandung menemani kesepiannya saat itu.
"Rindu padaku?"
Himchan seketika mendongak. Mengalihkan pandangannya dari sepatunya yang telah berdebu itu pada sepasang tatapan penuh karisma di hadapannya. Namja itu tersenyum ramah , sembari memperlihatkan gigi putihnya yang terawat. Sedangkan Himchan sendiri, jengah melihatnya.
"Kau membuang waktuku, Bang!"
"Siapa suruh kau kemari? Aku tidak menyuruhmu kemari kok."
"Mana mungkin aku kembali ke kamar sementara kuncinya kau yang pegang. Tsk..."
Yongguk tertawa kecil. Ada benarnya ucapan namja manis itu. Kenapa ia begitu bodoh mempertanyakannya. Namun rasanya, ia kecewa saja mendengar alasan Himchan datang ke lapangan sekedar mengambil kunci kamar di tangannya.
"Apa tidak usah beristirahat dulu di bangku penonton? Aku ingin merentangkan kaki dulu sementara waktu sebelum kembali berjalan menelusuri lorong asrama." Yongguk berucap lesu karena tenaganya yang terkuras. Peluhnya menetes hendak menunjukkan kesungguhan permintaannya.
Himchan memutar bola matanya malas. Kenapa ia mau patuh dengan permintaan konyol Yongguk yang justru hanya membuang waktu tidur sore nya saja?
"Kau lama , Channie!" Yongguk tak habis pikir hanya menarik tangan Himchan menuju bangku penonton. Yang saat itu tak ada siapapun. Jadi sangat leluasa keduanya dapat berdua saja.
"YAK! KAU PANGGIL AKU APA TADI?!"
.
.
.
.
.
.
"Ige... Kusiapkan minuman untukmu."
"Kenapa kau hanya beli dua?"
"Karena disini hanya kita berdua kan? Memangnya ada lagi yang mau minum disini? Hantu?"
"Yak! Jangan bicarakan itu disaat mau malam begini, bodoh!"
Yongguk rasanya ingin mencubit pipi Himchan saja saat itu. Menggemaskan sekali ketika ia sedang merasa ketakutan. Memang yang ia tau kalau Himchan takut malam hari, jadi ia takut hal hal mistis juga. Sangat disayangkan sekali, padahal dia ingin sekali mengerjai Himchan. Tapi, dia kasihan pada namja itu.
Himchan meneguk perlahan minuman bersoda miliknya. Ada beberapa tetesan minuman tersebut mengalir tertumpah dari sudut bibirnya. Seketika terpancar penampilan menggoda Himchan. Yongguk hanya bisa memandang intens pemandangan di hadapannya itu.
"Slurpp..." Himchan mengelap beberapa tetes air yang tertinggal di sudut bibirnya. Lalu tak sengaja menangkap sepasang tatapan tak berkedip mengarah padanya.
"Mwo?! Kau haus?! Minum milikmu, bodoh!"
Sepertinya Himchan tak mengerti arti pandangan yang didapatnya. Ya.. Tatapan seolah ia menemukan suatu ornamen cantik menyilaukan mata oleh cahaya sore saat itu. Ornamen cantik terpantul di mata indah milik Yongguk.
Aigoo.. Apa yang saat ini dipikirkannya?
Yongguk menggeleng cepat, mengembalikan kesadarannya.
Akhir akhir ini, ia merasa ada hal yang aneh.
"Oh ya, Bang! Besok gerbang sekolah akan dibuka, ya? Wahhh.. Aku tak sabar keluar lagi dari asrama ini untuk menghirup udara segar!" Himchan merentangkan kedua tangannya tinggi tinggi.
"Hei... Kau kira disini sedang menghirup udara apa, eoh? Nee... Mau kuajak ke Myeondong lagi?"
"Aniyo... Aku mau bertemu ayahku! Bagaimana?!"
Air muka Yongguk berubah. Seketika saja ia teringat dengan cerita Himchan saat itu. Tentu saja Himchan masih memiliki sosok Ayah ,bukan?
Yongguk tersenyum kecil. Ia tau bahwa Himchan pasti merindukan sosok orang tua saat ini.
"Perlu kutemani?"
"Mwo? Untuk apa? Memangnya kau mau kenal dengan ayahku yang SUPER DUPER galak itu?! Lagipula, ia pasti akan banyak menginterogasimu karena bagaimana pun kau yang selama ini bertanggung jawab selama ayahku tidak ada ,bukan?"
"Kau kira aku pengasuhmu,hah?! Aku sekedar menemanimu agar kau tak tersesat tau! Masih baru di Seoul, tidak usah sok tau!"
Perdebatan demi perdebatan pun tercipta. Walaupun begitu, perdebatan inilah yang setidaknya memberikan ruang keakraban antara keduanya.
Himchan dan Yongguk ...
Saat ini sedang dalam masa , Pendekatan?
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
FREE SCHOOL TIME!
#Ceklek
#Gerrrrrrr
Suara besi roda pagar mengalun sempurna. Menggema di tengah lapangan asrama sampai ke dalam ruang kamar para penghuni asrama.
Saat itu masih cukup pagi untuk yang terbiasa bangun sekitar jam 8 atau 9 kurang. Namun ini adalah HARI BEBAS SEKOLAH! Hari dimana setiap 2 minggu sekali, pagar asrama akan terbuka lebar, dan itu berarti... Tanpa pelajaran, tanpa guru bimbingan, tanpa peraturan harus memakai seragam di sekitar lingkungan sekolah, atau bahkan ancaman untuk kabur dari sekolah pada jam pelajaran.
WAKTUNYA HIDUP BEBAS!
Para penghuni asrama ada yang baru bangun hanya dengan mendengar suara geretan pagar terbuka. Mereka serentak menyembulkan keluar kepala mereka dari jendela kamar sekedar melihat momentum seperti itu. Seolah , terbukanya pagar asrama adalah hadiah tahun baru atau hadiah natal -yang hanya setahun sekali- dihadiahkan untuk mereka.
Beberapa siswa pun ada yang sudah berhamburan keluar asrama. Tak peduli sudah mandi ataupun belum. Ada yang berharap keluar asrama hanya sekedar bermain bersama teman mereka dari luar sekolah, atau menikmati musim semi di luar sana.
Senyum lebar Yongguk tersungging dengan sangat antusias. Bertepuk tangan senang karena akhirnya momentum bebas dari sekolah ia rasakan kembali untuk minggu ini.
Walaupun ia sendiri bingung, dia akan pergi kemana habis itu.
Yongguk menoleh pada ranjang Himchan. Tepat dimana sosok malaikat cantik masih tertidur pulas di atasnya. Sama sekali tak mengenal waktu ketika sudah jatuh tertidur.
"Padahal dia sendiri yang bersemangat kemarin. Hufttt... " Yongguk sekedar memaklumi saja. Mungkin namja manis itu sedang bermimpi indah sehabis dinyanyikan lagu lullaby (nyanyian sebelum tidur) tadi malam.
.
.
.
.
.
.
.
**Flashback**
"Baiklah.. Kau boleh ikut aku bertemu ayahku. Tapi awas kalau kau bersikap macam macam!"
"Astaga... Kau kira aku psikopat,hah?! Sebegitu ngerinya kau sehingga tak suka aku bertemu ayahmu. Lagipula , aku ingin berterima kasih pada beliau"
Himchan seketika mengeryitkan dahinya. Berterima kasih? Bertemu saja belum pernah.
"Berterima kasih? Untuk apa?"
Yongguk membungkam mulutnya sangat erat. Entah kenapa kalimat itu keluar dengan sendirinya tanpa di rem. Ini sangat memalukan jika Himchan tau apa yang akan ia utarakan pada ayah Himchan nantinya.
"A..ani... Aku hanya ingin berterima kasih karena beliau, kau jadi mengacak ngacak kamarku."
"MWO?! BELUM PERNAH MENELAN GULING RUPANYA!"
Himchan melempar cepat guling ditangannya ke arah Yongguk. Membuat Yongguk seketika jatuh kembali ke ranjangnya karena lemparan kuat itu. Haha... Yongguk tertawa melihat reaksi tersebut.
"Sudahlah.. Ini sudah jam 10, Himchan. Aku tidur duluan,ya." Yongguk hendak mematikan lampu di nakasnya, namun Himchan segera menahannya. Membuat Yongguk segera menatap bingung tindakan Himchan tersebut.
"Aku tak bisa tidur, Bang."
"Mwo? Jangan bilang kau belum makan malam. Aigoo.. Kan sudah kubilang kalau aku sudah menyiapkan-"
"Aku takut ..."
Yongguk segera membungkam ucapannya. Melihat tundukan lesu dari Himchan, menyentuh pelan hatinya kembali. Yongguk menjauhkan tangannya dari tombol lampu dan kembali menatap Himchan yang tengah malu menunduk di ia benar benar tak sanggup terlihat perlu dikasihani saat ini.
"Baiklah... Biar kuhidupkan lampunya saja. Lagipula tidur saat lampu menyala, akan menerangi mimpi kita kan? Haha..." Yongguk mencoba menghilangkan kecanggungan ini. Walaupun ia ingin mengakui, ucapannya sangat garing sekali -_-
"Yongguk-ah... Boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Mwo? Ya.. Apapun yang kau mau, Himchan."
Himchan menautkan kedua jari telunjuknya. Seolah ia sedang mempertimbangkan, apa ia perlu mengucapkannya atau tidak. Ughh.. Sangat menggemaskan sekali sikapnya itu.
"Nyanyikan aku lagu 'Lullaby', Bang.."
"MWO?!"
Yongguk ingin sekali terjun dari kamarnya saat itu juga. Lebih baik ia terjun dari atap asrama daripada bernyanyi lagu seperti itu.
Yongguk tak suka bernyanyi lagu lagu yang terkesan cute, soft melody. Karena ia tau ia tak pintar bernyanyi. Ia bahkan pernah menghajar Namjoon karena menyuruhnya menyanyikan lagu Gwiyomi dengan nada seimut mungkin.
Tapi melihat tatapan mohon penuh simpati milik Himchan, rasanya...eghh... Kenapa Tuhan kau jatuhkan aku seperti ini?!
"Ta.. Tapi Himchan... Suaraku terlalu berat untuk menyanyikan lagu itu. Bagaimana kalau kau bermimpi buruk setelah aku menyanyikannya?" Yongguk beralasan. Walaupun itu berarti ia harus mengejek suara beratnya yang berharga.
Namun Himchan tetap bersih keras. Lagi lagi melakukan jurus 'imutnya' seperti yang ia pernah lakukan ketika berbelanja di Myeondong saat itu.
"AKU INGIN KAU BERNYANYI SEKARANG JUGA!" Himchan merengek. Astaga... Dimanakah Himchan penuh ambisi untuk melindas siapapun yang mengatakan ia 'imut'?! Kalau Himchan tak pernah ada ambisi seperti itu, sudah sejak dulu Yongguk mengatai Himchan .
Yongguk jadi kebingungan sendiri. Ia tak akan bisa tidur melihat Himchan yang terus menarik narik gemas tangannya. Ia merengek bak anak 5 tahun. Atau seperti seorang istri yang sedang mengidam.
"NEE! AKAN KUNYANYIKAN ! Tapi jangan tertawa saat aku bernyanyi! ARRASEO!?"
Himchan menunjukkan senyum tanpa dosa serta eye smilenya yang indah itu. Layaknya seekor kelinci yang puas mendapat asupan wortel saat itu juga.
Yongguk menghela nafas. Mencoba menahan sabar serta menyiapkan diri untuk suatu momentum sejarah yang bahkan ia ingin hindari. Sementara Himchan sudah merebah dan bersiap untuk membawa diri ke alam mimpi. Saat ini biarkan image 'Cowok cool' yang disandang Yongguk, harus dilepas dahulu.
"Tidurlah... Tidurlah... Tidurlah yang nyenyak
Bawalah.. Bawalah ... Kau ke alam mimpi..
Tidurlah.. Tidurlah... Hingga pagi hari...
Bawalah ... Bawalah... Kau ke alam mimpi.." (Melodinya dibayangin aja ^^)
Yongguk mengulang terus lagu tersebut hingga Himchan benar benar tertidur. Ia bahkan tak percaya, menyanyikan lagu selembut itu berkolaborasi dengan suara beratnya, menghasilkan alunan sempurna yang siap membawa tidur siapapun. Namun setidaknya ia berlega diri, ia tak ditertawakan oleh Himchan karena menyanyikan lagu tersebut. Karena lagu yang dibawanya pun, hanya asal ciptaannya saja.
Himchan terlihat damai ketika sedang tertidur, tak tampak kembali perasaan gelisah atau takut akan 'malam hari' yang sebelumnya diperlihatkannya. Ia bahkan tampak menikmati kegiatan tidurnya.
Yongguk tersenyum. Ada perasaan kasihan ketika melihat momentum seperti ini. Seperti inikah keseharian mendiang ibu Himchan menidurkan aegya nya itu? Namun bagaimana setelah sang ibu telah tiada? Masihkan Himchan dinyanyikan lagu lullaby seperti ini?
Yongguk menunduk lesu. Kembali pikirannya melayang ke masa lalu. Ia amat sedih karena suatu hal. Suatu yang juga seharusnya memberatkannya...
.
.
.
.
.
Bagaimana dengan dirinya yang juga dahulu dinyanyikan lagu Lullaby? Apa ia seperti Himchan? Yang akan merasa takut jika tak dinyanyikan seperti itu setiap malam?
Yongguk bukan seorang yang trauma akan 'malam hari' . Namun, kesendirian yang justru menakutinya...
.
.
.
.
.
.
.
.
**Unflashback/Now**
Yongguk memandang lekat pada sang malaikat yang tertidur. Semai cahaya mentari cukup menyilaukan saat itu. Mungkin efek ketika terbit di musim semi.
"Haruskah aku membangunkannya?" Yongguk tampak berpikir. Cukup kasihan membangunkannya disaat liburan seperti ini. Tampak wajah melelahkan milik Himchan itu, sangat menyentuhnya.
"Lebih baik aku mandi dulu. Mungkin ia sudah bangun setelah itu."
.
.
.
.
.
Sudah dari setengah jam lalu, Yongguk menyelesaikan kegiatan mandi paginya. Matahari semakin meninggi di peraduannya. Sedangkan Himchan masih bergelung di bawah selimutnya.
Yongguk teringat dengan janjinya menemani Himchan menemui ayahnya. Gerbang sekolah pun akan ditutup kembali setelah jam 8 malam. Waktunya akan terbuang begitu saja melihat Himchan tertidur?
Sebenak pikiran menghampirinya. Seperti ada saja ide untuk mengerjai, sekaligus membantu Himchan bisa bangun.
Yongguk menghampiri ranjang Himchan. Mendekati keberadaan namja cerewet itu tertidur.
Tangan kirinya memegang bagian bantal sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya terentang -melewati kepala Himchan- memegang bagian sisi lain dari bantal tersebut. Sedikit membungkuk agar memudahkannya menarik bantalnya. Ia hendak menarik bantal tersebut sehingga kepala Himchan jatuh ke ranjang cukup keras dan membangunkannya. Walaupun posisinya agak... Err... Membuat Yongguk sendiri ragu melakukannya.
#Settt
Hendak Yongguk mengangkat cepat kedua tangannya menjauh, tubuhnya justru tak bisa menyeimbangkan diri. Sontak membuatnya terpleset kembali ke atas ranjang.
Menindih Himchan.
Syukurlah kedua tangannya langsung menahan di antara tubuh Himchan, setelah sebelumnya bantal di tangannya ia lempar ke atas lantai. Sehingga ia tak benar benar menindihnya.
.
.
"UMMA!"
#Deggg
#Deggg
Himchan pun terbangun.
Tepat ketika ia membuka matanya, sosok tampan Yongguk berada di atas tubuhnya.
Dengan tatapan penuh arti tertuju padanya.
Bahkan wajah mereka hampir saja bersentuhan jika Himchan tak mengerem mengangkat kepalanya.
Nafas keduanya saling bertemu. Saling terdengar begitu dekat. Tatapan intens memandang satu sama lain. Sementara keduanya pun sedang sibuk mengatur pikiran mereka. Apa yang harus mereka lakukan selanjutnya?
"KYAAAAAAAA!"
.
.
.
#Plakkk
#Brukkk
.
.
.
Yongguk merintih kesakitan dengan balasan yang ia terima. Sebuah tamparan dan dorongan kuat membuatnya jatuh dengan mantapnya ke atas lantai. Tanpa ada rasa kasihan diterimanya. Sungguh menyakitkan...
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Himchan mengangkat selimutnya , menutupi seluruh tubuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Ia berpikir tak jernih, dan mengira Yonggguk telah melakukan 'sesuatu' padanya.
"Kau sendiri, mengira aku sedang melakukan apa?" Yongguk mengernyitkan dahinya dengan kesal. Ia malas dibentak apalagi ketika sedang merasakan sakit luar biasa di pipinya.
"Kau tau, seharusnya aku menyeretmu saja sehingga kau jatuh dari ranjang. Atau aku menyirami dengan air agar kau bangun. Tsk..."
Himchan terkejut mendengarnya. Rupanya apa yang ia kira, meleset terlalu tajam. Yongguk hanya ingin membangunkannya. Apalagi setelah melihat bantalnya tergeletak di atas lantai.
Tapi cara apa yang dilakukan namja bodoh ini sehingga membuat jantungnya tak dapat berdegup sabar saat ini,hah? -pikir Himchan.
"Maafkan aku..." Himchan menunduk malu. Ia cukup menyesal karena terlalu banyak membentak bagi seseorang yang berbaik hati padanya.
"Tak apa.. Oh ya, tidurmu nyenyak? Tadi kau memanggil 'Umma'?"
Himchan mendongak cepat pada sepasang manik tegas Yongguk. Ia mengerjab polos. Pernahkan ia memanggil 'Umma' nya di hadapan Yongguk.
Oh ya... Itu...
"Aku bermimpi tentang ibuku tadi malam."
"Tuh kan! Sudah kubilang , jika aku menyanyikannya, kau akan bermimpi buruk!" Yongguk bersih keras dengan ucapan pembelaan. Sekalipun itu harus merendahan dirinya sendiri. Yongguk memang tak suka melakukannya.
"Ani! Aku justru bermimpi indah tentang ibuku. Mana mungkin aku tertidur nyenyak, jika aku bermimpi buruk?" ucap Himchan. Yongguk pun ikut mengangguk. Benar juga yang diucapkan Himchan. Ia tak akan susah membangunkan Himchan jika namja itu memang bermimpi buruk, bukan?
"Bermimpi apa?"
Yongguk merangkul lututnya , menajamkan telinga dan matanya pada sosok namja manis di atas ranjang. Sekedar memberikan perhatian besar bagi cerita yang akan dibawa Himchan padanya.
Himchan tersenyum dan memandang ke atas langit langit kamar. Momentum indah dibalik mimpinya terasa di dunia nyatanya. Sehingga tak patut untuk dilupakan.
"Aku dan ibuku seperti sedang menikmati musim semi. Kami berjalan di antara pohon sakura yang sedang menjatuhkan bunganya. Kami saling merangkul, dan aku masih bisa merasakan kehangatan rangkulannya." Himchan menghela nafas pelan. Seolah hal ini begitu apik terurai dalam 1 paragraf. Ia begitu bersemangat mengungkapkannya.
"Bahkan aku bertengkar dengan ibuku karena ia tak ingin memakan tteokbokki pedas yang kutawarkan. Sama seperti yang kulakukan pada saat kau dan aku di Myeondong. Tapi setelah itu kami menghabiskan waktu di karnaval, menaiki bianglala dan berpeluk bersama. Sampai akhirnya..."
Yongguk terkesima sekaligus terkejut ketika ...
Air mata Himchan mulai menggenang di sudut mata miliknya.
"... Ia melambai padaku, dan pergi meninggalkanku."
Yongguk hendak bangun dari posisi duduknya dan meraih tubuh Himchan. Merangkulnya kembali setelah kejadian Himchan menangis saat itu.
Namun Himchan langsung mengusap air matanya dan tersenyum. Hendak mempertontonkan kesungguhan hatinya , bahwa dirinya sedang tak ingin terlihat lemah saat ini.
"Itu gara gara kau yang menganggu mimpi indahku, pabo!"
Yongguk mendengus kesal. Momentum terlalu melankolis itu, sekedar menyapa lalu pergi entah kemana, membawa kembali pada sikap menyebalkan Himchan.
"Mianhae! Lagipula aku tak mau membuang waktuku disini sekedar menunggumu terbangun. Kau kan juga punya janji dengan ayahmu."
"MWO?! AYAH?! ASTAGA JAM BERAPA INI?!"
Himchan terperanjat dan segera bangkit dengan semangat membaranya. Ia begitu terkejut ketika jam sudah menunjukkan jam 9 pagi. Terlalu siang baginya...
Sementara Yongguk hanya menghela nafas memakluminya. Melihat Himchan yang mondar mandir tak karuan dengan sangat panik.
.
.
.
.
.
.
Yongguk dan Himchan , keduanya sudah terlihat sangat siap dengan penampilan santai mereka. Menelusuri -kembali- kota Seoul, tanpa cemas diperhatikan orang orang karena keluar sekolah menggunakan seragam sekolah.
Yongguk berbalut kaus putih oblong dengan kemeja longgar yang ia sengaja buka kancingnya. Jadi, begitu angin berhembus kencang, cukup menyentakkan kemeja miliknya dan memperlihatkan tubuh gagah nan seksi Yongguk di balik kaus oblongnya. Inilah penampilan 'cowok cool' bagi seorang Bang Yongguk.
Sementara Himchan, cukup menarik setiap pandangan di sekitarnya. Yeoja maupun namja. Ia memakai sweater tipis berwarna merah muda bergaris. Dan celana denim yang sangat cocok dikenakannya. Memperlihatkan penampilan santai, menawan, dan elegan. Walaupun sederhana, namun ketika Himchan memakainya, terlihat Fashionista.
"Hei kalian berdua!" seseorang namja manis lainnya berseru. Menghampiri mereka dengan semangat yang tak kalah menyala.
Tak lain tak bukan si Yoo Youngjae.
Jangan lupakan Jongup yang mengekori Youngjae dengan gaya kerennya memasukkan kedua tangannya di kantung celana. Memang mengherankan, seorang kutu buku, sama sekali tak terlihat aura 'membosankan'. Justru cukup menarik perhatian saking 'Keren' nya.
"Kalian ingin pergi kemana pagi ini?" Youngjae bertanya pada 2 namja tinggi di hadapannya. Yongguk dan Himchan.
"Aku ingin menuntun si 'Buta arah' ini ke rumah ayahnya."
"Mwo?! Kau kira aku mau dituntun 'namja bodoh' sepertimu?!"
Youngjae terkekeh melihat pertengkaran kecil keduanya. Sungguh menggemaskan. Kenapa mereka sangat cocok sekali jika sedang bertengkar begini.
"Kau sendiri ingin pergi kemana?" Himchan mengendus di dekat Youngjae. "kau pakai parfum?"
"Hehehe... Nee... Aku diajak Daehyun hyung ke rumahnya. Jadi aku harus terlihat rapih."
Jongup mengerling curiga pada Youngjae yang berdiri di sampingnya. Namun ia segera menepis pikiran tersebut. "bukan berarti kau harus memakai parfum. Kenapa kau tak memakai obat alkohol di seluruh bajumu? Daehyun hyung lebih terbiasa dengan bau itu."
Sontak Yongguk dan Himchan tertawa terpingkal mendengarnya. Tak begitu dengan Youngjae yang langsung menjotos tangan kekar milik Jongup.
Sementara keempatnya masih sibuk sendiri dengan percakapan dan pertengkaran kecil juga,
Namjoon menghampiri mereka. Ditemani senyum 3 jari yang selalu terlihat menyebalkan itu.
"Pagi, semuanya! Sedang bercanda tanpa kehadiranku ya?"
Selalu saja kehadiran Namjoon dibalas tatapan jengah dari keempatnya. Apalagi Himchan yang tak melihat kehadiran namja menyebalkan itu setelah kejadian 'pemukulan' saat itu.
"Tampaknya pipimu sudah mulai membaik." ucap Yongguk sembari memegangi pipi Namjoon. Ia tatap lekat saja keadaan namja itu setelah pemukulan tersebut. Lalu matanya melirik pada Himchan di sampingnya. Sekedar mengingatkan...
"Ouch... Jangan kau pegang, bodoh! Masih agak sakit. Tapi Daehyun hyung bilang , perban ini masih tak boleh dibuka sampai minggu depan. Jadi kukira, tak akan membaik dulu."
Himchan menghembuskan nafasnya dengan malas. Ia lalu menghampiri Namjoon. Walaupun yang ia lakukan, sontak membuat Namjoon ingin menjaga jarak.
"Maafkan aku Namjoon-ah soal kejadian saat itu. Aku hanya terbawa emosi. Tapi itu kalau kau memanggilku 'CANTIK' lagi...
Aku akan memenggal kepalamu." Himchan menepis tatapan tulusnya menjadi tatapan menakutkan. Namjoon menelan air ludahnya begitu payah, dan mengangguk ngeri. Sementara 3 namja yang menonton ketidakberdayaan tersebut, hanya terkekeh kecil.
.
.
.
.
.
Tak jauh dari 5 namja yang sedang bercakap ria tadi, 3 trio wartawan sudah mengawasi mereka. Memandang takjub ketika sekumpulan namja tampan dan cukup terkenal seantero Asrama , bersatu padu memberikan kombinasi yang sangat menawan siapapun.
Yongguk yang seorang atlet tampan dan paling dibanggakan.
Youngjae seorang ketua kelas. Yang manis , tampan, dan menawan dengan senyumnya.
Jongup. Seorang namja yang terkenal pintar dan tampak keren itu.
Tak mengira mereka adalah sahabat baik.
"Siapa yang berada di samping Yongguk hyung? Kakak itu sangat manis sekali..." V menatap lekat pada Himchan yang tengah tertawa di kejauhan sana. Namja berambut cokelat terang itu bahkan sesekali memotret dengan kamera pribadi miliknya. Saking terpesonakah?
"Coba kuingat ingat... Berdasarkan informasi yang kudapatkan, dia adalah teman sekamar Yongguk hyung. Kim.. Kim... Hi... Him..."
"Kim Himchan maksudmu?"
"NEE! Kim Himchan hyung!" Jungkook membenarkan pernyataan Jimin. Namja dengan eye smile khas di samping Jungkook, hanya memutar bola matanya malas. Bagaimana mungkin seorang wartawan lupa dengan informasinya sendiri?
"Jinja?! Waaa... Ini bisa jadi topik wawancara selanjutnya! Lagipula ia terlihat manis sekali! Ia adalah hyung kesayanganku!" V mengangkat tangannya tinggi tinggi. Begitu meyakinkan hak kepemilikan 'hyung kesayangan' telah ditautkannya.
"Hai, jaga bicaramu, Kim Taehyung! Apa kau tega memutuskan hubunganmu dengan Hoseok hyung demi namja manis sahabat Yongguk hyung itu? Dasar playboy..." Jimin tepat menyindir V , membuat namja berambut brown light tersebut mendengus kesal padanya.
"Siapa bilang? Himchan hyung mungkin hyung 'kesayanganku' karena ia sangat manis. Tapi, Hoseok hyung adalah namja yang SANGAAAATTT Kucintai. Saranghae Hoseok hyung!" V memeluk sendiri tubuhnya. Melampiaskan rasa rindunya pada namja tampan sekaligus kekasihnya itu. Jung Hoseok (J-Hope).
Sementara Jimin dan Jungkook, memandang miris perilaku sahabat nya itu. Sungguh miris, karena mereka tak mengira memiliki sahabat seorang 'Gay'. Bahkan namja yang diincarnya pun tak main main...
Seorang kakak kelas yang bergelut di ekskul dance.
"Oh ya... Bukankah Jin hyung masih menawarkan tawaran bagus untuk mewawancarai Yongguk hyung? Apakah tak seharusnya kita lakukan sekarang juga?" Jungkook menunjuk nunjuk pada Yongguk yang sedang konsen dengan percakapan teman temannya.
"Tentu saja.. Kita berdoa kali ini tak akan ada penolakan lagi... HEI ! HENTIKAN MEMOTRET HIMCHAN HYUNG, EOH!"
V menurunkan posisi memotretnya. Mengerucut bibir kesal karena aksinya diinterupsi oleh sahabatnya sendiri. Padahal ia sedang melakukan aksi 'Fanboying'. Tidak bisakah diberi waktu beberapa menit saja?
Ketiganya pun secara mantap melangkah mendekat pada kelima namja tersebut. Tampak ragu, namun keberanian menuntun mereka.
.
.
.
.
.
.
"Sebaiknya aku segera ke rumah Daehyun hyung. Ia pasti menungguku. Galgae!" Youngjae melambai pada keempat sahabatnya. Dan berlari menjauh walaupun beberapa pasang mata melihatnya curiga. Parfum? Dan semangat membara begitu? Sangat mencolok bagi seseorang yang hanya ingin bertemu dengan dokter asramanya.
"Ngomong -ngomong kau sendiri mau kemana, Jongup -ah?" Namjoon bertanya pada Jongup yang sedang sibuk memperhatikan pohon sakura.
"Aku tak kemana mana..." Jongup tersenyum menjawabnya. Padahal di balik senyuman itu, ia ingin mengatakan bahwa ia sedang ingin menyelesaikan 'sesuatu' yang sangat berat untuk diakui.
"Sayang sekali, eoh..."
"Selamat pagi, sunbaenim..."
Keempat namja tampan tadi begitu terkejut dengan kehadiran 3 namja manis serentak membungkuk hormat pada mereka.
"Kami dari ekskul wartawan sekolah." V memperkenalkan diri.
"Aku Jungkook, ini Jimin, dan Taehyung. Mohon bantuannya."
Keempat hyung hanya tersenyum canggung membalas keramahan mereka.
"Kami datang kemari untuk..."
"HIMCHAN HYUNG! MAUKAH KAU BERFOTO DENGANKU!?" tak terduga. Kegiatan mewawancari mereka harus diinterupsi oleh namja berambut brown light yang tengah memperlihatkan jurus menggemaskannya di hadapan Himchan. Memasang ekspresi polos nan senyum terkembang, menjatuhkan rahang ketiga hyung lainnya. Sementara Himchan hanya menggaruk tengkuknya tak gatal. Tak tau harus membalas apa.
Jimin dan Jungkook menggeleng kepalanya dengan sangat kesal.
"Te...tentu saja..." pada akhirnya , si namja narsis -Kim Taehyung- berhasil mendapatkan foto bersama dengan sang 'idola' - maksudnya sang 'Hyung kesayangan'. Padahal baru pertama kali mereka bertatap muka.
Beberapa menit terpotong dengan aksi 'tak ada artinya' tersebut, tiga wartawan muda itu kembali serius dengan tujuan mereka. Walaupun ada sedikit aksi V sibuk dengan foto foto hasil jepretannya.
"Kami kesini ingin mewawancarai seputar kehidupan pribadi Yongguk hyung."
#Glekk
Tepat yang diperkirakan Yongguk , tiga namja itu pasti akan memaksanya kembali untuk diwawancara. Ia tak suka jika kehidupan pribadinya dipertanyakan. Tapi ia juga tak bisa menolak keras permintaan tiga namja manis di hadapannya terus.
"Kami mohon, hyung... Sekali iniiii saja!"
Yongguk tampak berpikir dengan permohonan tersebut.
Namun, sekalipun dengan pandangan polos mengarah padanya...
Masih tak akan mengganti pemikirannya.
"Lain kali saja, ya!"
#Grebbb
Yongguk tiba tiba menarik tangan Himchan. Menariknya menjauhi tiga namja yang tengah merengek -kembali- karena mereka kembali gagal mendapatkan apa yang seharusnya mereka bisa dapatkan.
"HUAAAA! HYUNG! JEBAL!" Mereka benar benar merengek manja sambil melihat aksi kabur dari 2 hyung yang sangat dikagumi mereka itu.
Jongup hanya memandang miris ketiganya lalu kembali pergi memasuki asrama. Sementara Namjoon tengah menonton ketiganya dengan sangat heran.
"Kenapa kalian ingin sekali mewawancarai Yongguk?"
"Hiks... Karena Yongguk hyung yang belum menjadi topik wawancara pribadi kami!" ucap V sesenggukan.
"Yongguk hyung satu satunya harapan kami demi ekskul ini!" Jungkook merengek payah.
Namjoon berdecak ria , menggeleng kepalanya maklum. "Aku ingin sekali membantu kalian jadinya..."
Sontak trio wartawan menoleh cepat pada Namjoon. 3 namja manis tersebut terkesima dengan ucapan yang Namjoon katakan. Cukup menarik perhatian 'tawaran' ini.
"SUNGGUH?!"
Namjoon terperanjat melihat kekompakan ketiganya. "A...aku tak yakin..."
"JEBAL, NAMJOON HYUNG! BANTU KAMI!"
"YAK YAK! LEPASKAN TANGANKU, EOH! ANAK NAKAL!"
Namjoon mungkin begitu menyesal dengan tawaran yang ia berikan.
Seolah tawarannya ini dapat menariknya ke jurang terdalam...
.
.
.
.
.
.
Zelo mengunyah pelan. Menikmati daging tomat yang lembut dan berair di rongga mulutnya. Sentuhan angin berhembus , menerpa tubuhnya yang sedang duduk di tepi pembatas atap asrama. Ia sangat suka bersenandung di tempat itu -sekalipun akan sangat berbahaya. Inilah yang akan ia lakukan ketika semua orang mulai menikmati kehidupan di luar sana.
Matanya memandang tajam pada pagar sekolah, lalu siswa siswa yang berlalu lalang , melewati benda tersebut. Mereka berlari riang, seperti habis keluar dari penjara.
Sayang sekali Zelo sudah melakukannya kemarin, jadi dia tak mau melakukannya untuk kedua kalinya.
Tiba tiba..
Zelo menemukan sosok namja yang tak lain tak bukan adalah sosok yang sangat ia ingin lupakan. Karena ketika ia melihatnya, kejadian 'lalu' teringat kembali.
Jongup sedang berjalan santai kembali ke dalam asrama. Ia sama sekali tak menindakkan ajakan ajakan siswa lain agar ikut keluar dari asrama.
Apa yang dilakukannya? Sama sekali tidak punya mood untuk berlibur?
.
.
.
.
.
.
Sementara itu...
TING TONG... TING TONG... TING TONG...
"APPA !? APPA?! HIMCHAN PULANG!? ADA ORANG DI RUMAH?!"
Yongguk melempar tatapan heran. Melihat namja di sampingnya itu sedang memaksa pintu itu untuk terbuka. Ia tengah membuat pintu itu sebagai bulan bulanan kerinduan pada ayahnya. Jika pintu itu manusia, entah berapa banyak memar yang akan bermunculan.
Sebuah rumah minimalis. Tak terlalu besar, namun terlihat kenyamanan yang menjadi pemandangan kepada siapapun yang hadir di rumah ini. Rumah itu terbaring suasana asri dan terawat. Rumput di taman tamannya masih hijau, sementara lantai berkayu menemani kesan asri rumah tersebut. Bahkan harum bunga bunga sakura yang tertanam, menambah nilai plus. Untuk rumah baru yang ditempati oleh 2 namja, bisa dibilang ini SANGAT SEMPURNA.
#Ceklekk
"Ye... AH! HIMCHAN?!"
Satu pria dengan namja di sampingnya saling bertukar pandangan. Tampak terdiam dengan ekspresi kebingungan yang diberikan sang ahjussi tersebut. Bahkan ditemani dengan jatuh nya beberapa kelopak bunga sakura, seolah memberikan efek dramatis untuk pertemuan ayah dan anak ini.
"APPAAAAAA?!"
Himchan memeluk erat ayahnya. Sangat erat. Padahal tinggi badannya sama dengan ayahnya, namun ia memeluk ayahnya layak seorang anak 5 tahun. Begitu menggemaskan, tapi juga menakutkan.
Ayah Himchan melonggarkan pelukan sang aegyanya. Lalu pria kekar itu mengelus pelan surai pirang Himchan. Tatapan tulus yang diberikannya, membuat Himchan tersenyum lebar. Begitu bahagia.
"Aigoo... Tak terasa kau sudah tumbuh besar saja, Himchannie... Padahal baru 2 minggu appa meninggalkanmu di asrama Jungjeon."
Himchan sontak mengembungkan pipinya. Ia tak suka dipanggil manja seperti itu oleh appanya. Tapi ajaibnya, ia tak akan mengeluh atau mengamuk seperti biasa. Tentu saja karena ia berhadapan dengan ayahnya sendiri.
"Dan siapa namja tampan ini?" Kangin beralih memandangi Yongguk yang tengah hormat membungkuk padanya. Terlihat aura sopan santun yang begitu melekat pada dirinya, dan Kangin menyukainya.
"Bang Yongguk imnida... Teman sekamar Himchan."
"Jinja? Jadi selama ini kau yang menjaga Himchan? Aigoo.." Kangin beralih menyalami Yongguk dan mengelus sayang punggung bidang miliknya. Seperti perilaku ayah kepada anaknya. Himchan tersenyum senang karena kehadiran Yongguk begitu diminati oleh ayahnya.
"Silahkan masuk... Pasti kalian sangat lelah habis berjalan kemari." Kangin memberikan ruang untuk Himchan dan Yongguk masuk ke rumahnya.
Barulah Yongguk menyadari, kenyamanan rumah tersebut tak berasal dari luarnya saja. Suasana nyaman pun terasa di dalamnya.
Isinya begitu tertata. Bahkan sofanya tampak bersih, dan meja kacanya masih sangat mengkilap. Cat cokelat kayu di semua dinding, memberika efek klasik dan sederhana. Sangat melegakan. Yongguk seperti berada di rumahnya sendiri...
"Yongguk-ah kau tidak ingin mengobrol dengan ayahku?" Himchan menghentikan aksi 'melihat lihat' Yongguk. Membuat namja bersuara berat tersebut, menoleh cepat membalas tatapan Kangin yang tengah memandangnya penuh wibawa.
"Jeongsonghamnida (Maafkan aku) , ahjussi. Tapi rumahmu begitu sangat nyaman."
"Hahaha... Ini hanyalah rumah dinas. Kami tak menetap disini, karena kami hanya tinggal sementara saja."
Yongguk sontak terkejut. Apa yang dipikirkannya akan menjadi kenyataan? Yongguk lalu mengalihkan pandangannya pada Himchan. Menelisik apa ia pun menyetujui ucapan ayahnya.
"Ngomong-ngomong... Perkenalkan nama saya adalah Kim Young Woon. Tapi saya biasa dipanggil Kim Kangin. Himchan pun juga lebih menyukai nama itu."
"Appa!"
Yongguk terkekeh kecil melihat aksi ngambek Himchan. Sementara Kangin hanya tersenyum simpul membalasnya.
"Himchan-ah , kebetulan kau disini. Appa ingin memberitahumu sesuatu." Kangin mulai mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. Himchan tak enak hati melihatnya. Apalagi Yongguk.
"Mwoya, appa?"
"Ini soal keberangkatan appa ke Amerika."
"Mwo?! Appa jadi ke Amerika? Cepat sekali..."
Himchan menunduk sedih. Ia sangat tak suka ditinggali oleh ayahnya. Apalagi ditinggal jauh. Amerika bukanlah tempat yang dekat. Ini sudah melibatkan beda benua.
Sementara Yongguk sudah berpikiran lain.
"Mwo? Ahjussi ingin pergi ke Amerika? Apa itu berarti Himchan akan ikut?" Yongguk berbicara panik. Seolah berita ini begitu berat diterimanya.
Himchan maupun Kangin pun hanya merasa keheranan dengan sikap Yongguk.
"Aniyo... Himchan tak ikut denganku. Kepergiannya ke luar negeri, akan sangat menganggu pendidikannya. Jadi kubiarkan dia di Korea saja."
Yongguk menghela nafas pelan.
"Tapi , appa..." Himchan memotong percakapan.
"Appa akan menghubungi pihak asrama bahkan kepala sekolah sesekali untuk menanyakan keadaanmu. Dan juga, appa tak akan lupa memberikanmu paket dan surat sebagai hadiahnya sampai disana. Rumah ini sepenuhnya appa titipkan padamu. Jadi, jika kau butuh tempat beristirahat selain asramamu, datang saja kemari. Nee?"
Himchan masih menunduk. Ia sangat sedih sekaligus berat menerima keputusan ayahnya untuk pergi. Ia belum terbiasa ditinggali sendiri ke tempat yang sangat jauh. Walaupun sudah terbiasa tinggal di asrama tanpa kehadiran ayahnya, tapi ada saatnya ia merindukan sang appa. Kepada siapa ia akan lampiaskan kerinduannya jika appanya berada di luar negara kelahirannya?
"Gwaenchanayo, Himchan-ah?" Yongguk mengelus pelan punggung Himchan. Meyakinkan namja itu untuk menerima keputusan appanya. Lagipula ia tak perlu bersedih. Bukankah ada Yongguk yang menemaninya?
"Gwaenchana... Lebih baik aku ke dapur untuk membuatkan kalian minuman." Himchan mungkin masih merasa terpukul. Namun saat ini, ia harus mencoba untuk mengabaikannya.
"Himchan memang sangat mudah tersentuh. Semenjak kepergian ibunya, ia sering merasa sedih ditinggali lagi oleh orang tersayangnya. Saya sangat menyesal. Tapi saya juga tak bisa menghindari pekerjaan ini terus menerus. Himchan juga perlu bersikap dewasa dan mandiri." Kangin membangun percakapan kembali di tengah keterdiaman tadi. Yongguk mengangguk mengerti. Menyetujui ucapan ayah Himchan itu benar adanya. Himchan harus belajar mandiri dan dewasa walaupun ditinggali oleh orang yang paling disayangnya.
Seperti Yongguk sendiri..
"Yongguk-ah..."
"N-nee, ahjussi?"
Kangin tampak mempertimbangkan sesuatu.
"Adakalanya perasaan tak enak itu tiba. Kepergianku ini , akan membuat Himchan semakin bersedih. Apa kau tau yang terjadi dengan Himchan?"
Tentu saja... Setiap liputan masa lalu Himchan, sudah didengarnya. Itu bukan reflek Himchan yang menceritakannya, atau sebuah paksaan.
Tapi itu karena Himchan menemukan curahan hatinya. Bang Yongguk.
"Tentu saja, ahjussi."
Kangin meraih sebuah bingkai foto dari nakas di sampingnya. Sebuah foto yang memperlihatkan kebahagiaan keluarga kecil nan bahagia.
Kim Kangin, Kim Jung Soo, dan Kim Himchan.
Keluarga Kim yang begitu bahagia ketika Himchan saat itu masih berusia 8 tahun. Kangin mengelus pelan 'moment' yang dilihatnya dari balik bingkai foto. Tersenyum kecut, dengan perasaan sedih kembali menggelunginya.
"Himchan butuh seseorang yang dapat menjaganya. Menjaganya dalam perasaan suka dan dukanya. Merasa cemas jika sesekali melihat dirinya menangis atau sedih. Traumatis yang dimiliki Himchan, membuatku tak tega untuk meninggalkannya. Tapi, bagaimana jika aku tiada nanti? Aku butuh seseorang yang akan menjaganya hingga ia dapat mati bersama dengan anakku nantinya."
Ucapan Kangin menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang pilu, tapi ada benarnya yang diucapkan Kangin. Himchan perlu seseorang yang akan menemaninya. Bahkan sampai mati bersama. Siapa orang itu?
"Bang Yongguk... Kupercayakan kau yang menjadi 'orang' tersebut."
Yongguk membalas tatapan tegas Kangin,"Na-naega?"
Yongguk tergagap. Benarkah barusan Kangin menyebut namanya? Atau ini hanya harapan semata?
"Aku percaya kau bisa menjaganya. Himchan tak pernah menceritakan tentang masa lalu kelamnya pada orang lain selain diriku. Dan kau orang kedua yang mengetahuinya. Itu berarti, Himchan benar benar melihatmu sebagai seseorang yang bisa menjaga dan melindunginya."
"Tapi, ahjussi... Aku hanyalah teman sekamarnya..."
"Nee.. Teman sekamar. Bukankah itu berarti kalian berbagi ruang bersama. Bukankah akan lebih banyak hal yang kalian bagi bersama? Bukankah kau akan lebih banyak tau tentang apa yang Himchan butuhkan selama aku dan ibunya tak ada?"
Yongguk menunduk lemah. Ia tak bisa menepis maksud dari ucapan Kangin padanya. Ini berarti, Kangin benar benar memberikan tanggung jawab 'besar' padanya?
"Yongguk-ah.. Kumohon.. Jangan buat ia sedih jika aku tak ada. Buat ia selalu tersenyum dan tertawa bersamamu. Aku tak mau menyesali perbuatanku karena membuatnya menangis setiap waktu. Aku tak mau posisi seorang ayah yang ku bina, runtuh sudah."
Yongguk mendongak rendah membalas tatapan tulus pada Kangin. Ia lalu tersenyum sebagai 'teman' untuk jawabannya. "Akan kulakukan yang terbaik untuk Himchan. Percayakan saja padaku, ahjussi."
Yongguk benar benar seorang malaikat. Senyum angelic serta jawaban yang begitu menyiratkan kejujuran dalam hatinya, terkuak sudah.
Ia merasa bahagia...
Ia benar benar menurunkan perilaku 'Noona' nya ...
"Hei, kalian sedang bicara apa?" Himchan tiba tiba muncul dengan nampan berisi minuman di tangannya. Mengernyit heran melihat tingkah serius yang dilihatnya. Bahkan tak lama kemudian, sikap mereka berubah menjadi sangat santai setelah kehadiran Himchan.
"Eh, Himchan.. Kau sudah buat minumannya? Ige.. Taruh disini saja." Kangin mempersilahkan nampan tersebut berlabuh di atas meja tamunya.
"Kalian aneh sekali... Hayo... Apa yang sedang kalian bicarakan saat aku tak ada?" Himchan memandang selidik pada 2 namja di hadapannya. Keduanya pun hanya tertawa garing entah harus apa yang bisa mereka lakukan untuk menepis pikiran Himchan pada mereka.
"Ayahmu ini.. Dia menanyakan , apa saja yang harus ia bawa untuk ke Amerika nanti. Karena Kim ahjussi tak berpengalaman ke Amerika." Yongguk buka suara memberi alasan.
"Hei! Memangnya kau sendiri pernah ke Amerika? Sok tau sekali mengajari appaku."
"Enak saja! Jelas jelas bahasa inggrisku lebih jago daripada kau! Kau yang justru sok tau. Punya pengalaman ke Amerika saja belum pernah." yongguk melakukan pembelaan.
"APA?! Kau kira aku buta dalam pelajaran bahasa inggris ?! Kau bahkan tak pernah melihatku berbicara bahasa itu. Lagipula nilaiku selalu lebih bagus! Ya kan appa!?" Himchan melempar pandangan meyakinkannya pada sang ayah.
"Ehmm... Entahlah , Himchan-ah. Tapi ucapan Yongguk ada benarnya. Kau tak punya pengalaman ke Amerika sama sekali. Jadi kurang meyakinkan jika appa bertanya padamu."
"YAK! APPAAAA!"
Yongguk tertawa melihat balasan Himchan. Membuat namja itu semakin menggemaskan saja dilihat. Namun tak berapa lama, Yongguk mengubah ekspresinya. Tersenyum simpul menatap himchan yang masih menggerutu.
Lalu beralih memandangi sebuah lukisan besar tergantung di dinding sisi ruang tamu. Memperlihatkan lukisan keluarga bahagia.
Yongguk tersenyum -kembali- pada sosok wanita paruh baya dengan senyum cantik seperti yang dimiliki Himchan. Pandangan Yongguk , seolah hendak berbicara sesuatu pada wanita cantik di lukisan tersebut.
.
.
.
.
.
.
"Ahjumma... Himchan akan baik baik saja bersamaku. Percayalah..."
.
.
.
.
.
.
TBC/END?
Hiks... Himchan jangan sedih, eoh! (efek dramatisir lewat/?)
semoga chapter ini berkenan nee ^^
WAH REVIEW SUDAH MENCAPAI RATUSAN!
Bagi yang sebelumnya sudah REVIEW, terima kasih banyak ! Miyu akan semakin semangat melanjutkan chapter*bow*
Untuk moment lainnya , ditunggu di chapter selanjutnya ^^
.
Akan ada kejutan untuk chapter selanjutnya... Apa itu? hehe *evil smile*
.
.
.
.
.
.
Chapter 9?
MAY TO REVIEW ?
