Taeyong's Mark ( Chapter 8 − END)
Main cast: Lee Taeyong, Mark Lee, Johnny Seo, other NCT member, and OC
Genre: Romance, School life, Fantasy
Lenght: Chaptered
Rated : T or More(?)
.
.
Putih.
Ruangan itu dihiasi warna putih. Menunjukkan betapa sterilnya ruangan itu dengan aroma obat juga antiseptik yang pekat.
Hanya hembusan mesin penghangat ruangan juga tetes cairan infus yang mengatasi keheningan di ruangan tersebut.
Lee Taeyong disana. Duduk di sebuah kursi di samping ranjang yang ditempati oleh Mark yang terpejam, Taeyong menggenggam lembut jemari putih yang kini ditancapi jarum infus.
Selimut putih yang hanya menutup hingga batas perut menampakkan pakaian khas rumah sakit yang dikenakan Mark.
Lee Taeyong disana. Menatap sendu wajah pucat Mark yang lagi-lagi terluka karenanya. Ini bukan yang pertama kalinya. Meskipun secara tidak langsung, Taeyong tetap merasa bersalah karenanya. Bayangan dirinya yang menikam Mark dulu berkelibat di benaknya. Tangannya yang penuh darah dengan tubuh dingin Mark dalam pelukannya. Pikirannya melayang jauh. Kenangannya bersama Yuhee dulu juga masih terngiang jelas.
Taeyong tak dapat menampik bahwa dirinya dilanda kalut dan dilemasaat ini. Meskipun ia meragukan perasaannya untuk Yuhee hanya sekedar rindu. Karena ia yakin ia sangat mencintai Mark. Dan ia harus memutuskan pada siapa hatinya tertambat.
Lenguhan Mark menyadarkan Taeyong dari lamunannya. Refleks ia segera bangkit dan menuntun jemarinya mengusap surai Mark yang sedikit basah oleh peluh.
Mata indah kesukaan Taeyong itu perlahan membuka, mengerjap pelan mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu yang menyilaukan.
"H-hyungie?", suara Mark begitu pelan. Namun meskipun begitu, Taeyong dapat menangkapnya dengan jelas.
"Ya. Aku disini, sayang. I'm here.", ujar Taeyong dengan senyum lembutnya. Jemarinya masih setia mengusap kening Mark yang sedikit berkerut menahan pusing yang mendera. Mengecup pelan puncak kepala Mark frekuentif.
Taeyong tersentak ketika telinganya menangkap suara isakan. Mark-nya menangis.
"H-hey baby. Ada apa? Ada yang sakit? Perlu kupanggilkan dokter?", tanya Taeyong panik namun Mark justru menggeleng.
Taeyong mendesah lega sambil meraihtubuh Mark ke dalam pelukannya.
"Ssstt, tidak apa-apa. I'm here, see? I'm here, baby lion", Taeyong berujar menenangkan.
"Jangan pergi lagi. I'm sorry so i beg you please don't leave me."
Taeyong mengusap punggung Mark lembut.
"Ya, aku tidak akan pergi. Aku janji.", balas Taeyong sebelum mempertemukan bibir mereka. Ia akui ia memang tak bisa lepas dari Mark. Pun sebaliknya. Karena mereka telah terikat oleh sebuah benang merah bernama cinta.
.
.
Johnny menurunkan jemarinya dari gagang pintu dengan tulisan Mark Lee disampingnya. Meskipun buram, kaca di pintu itu tetap menampakkan adegan romantis dua sejoli di dalamnya.
Haruskah ia menyerah? Karena meskipun ia menunggu seribu tahun pun Mark tak akan membalas cintanya.
Johnny melangkah tanpa suara menuju tempat sampah di sudut lorong berubin putih itu, melemparkan sebuket bunga mawar putih yang sebelumnya berada di tangan kanannya. Dengan tangan di dalam saku, ia melenggang keluar dari bangunan rumah sakit itu, mengabaikan tatapan kagumpara perawat.
Namun langkahnya harus terhenti ketika ponselnya berdering tanda pesan masuk. Jemarinya bergerak lincah di atas benda pipih berbahan metal itu. Seketika maniknya membola membaca pesan yang ternyata dikirim oleh Jaehyun. Jemarinya mengepal erat. Benaknya melayang pada Mark. Sanggupkah pemuda itu bertahan tanpa Taeyong?
.
.
Mark menutup rapat mulutnya ketika Taeyong menyodorkan sesendok penuh bubur khas rumah sakit itu. Ayolah, melihatnya saja Mark sudah mual apalagi menelannya.
"Ayolah, Mark. Kau harus makan, baby", Taeyong memasang raut memelasnya berharap Mark akan menurut, namun nyatanya pemuda manis itu justru mengernyit.
"I won't eat that thing. It looks disgusting, hyungie"
"But you have to eat, Markie, my love, my baby lion". Sekilas, pipi Mark dibuat merona oleh panggilan Taeyong.
"Lambungmu terluka. Itu sebabnya kau tidak bisa makan makanan lain selain bubur. Ayolah, sayang. Lima suap saja, okay?"
"Dua", tawar Mark yang dibalas gelengan oleh Taeyong.
"Tiga?"
"Lima atau aku akan pergi", ujar Taeyong tegas membuat Mark mengerucutkan bibirnya. Hampir saja Taeyong bersorak jika tidak mengingat Mark akan merengek lagi nantinya.
"Tapi pinjam ponsel hyung. Aku harus mengalihkan perhatianku dari benda menjijikkan itu."
Taeyong hanya terkekeh pelan sambil memberikan ponselnya pada Mark.
"Memangnya ponselmu kemana?", Taeyong bertanya sambil menyodorkan sesendok bubur kearah Mark yang langsung diterimanya dengan berat hati.
"Di dalam tas, kurasa"
Taeyong mengangguk mengerti. Jemarinya terus bergerak menyuapi Mark. Sesekali ia mengusap sudut bibir Mark yang terdapat sisa bubur dengan ibu jarinya. Mark bahkan lupa sudah berapa suapan yang ia telan karena terlalu larut dalam memainkan ponsel Taeyong. Sementara Taeyong hanya tertawa dalam hati sembari berharap Mark tak menyadarinya.
Pada akhirnya Mark tetap tak menyadarinya. Taeyong meletakkan mangkuk kosong itu kembali ke atas nampan di meja nakas, mengulurkan segelas air pada Mark yang langsung ditandas habis oleh pemuda manis itu.
Tiba-tiba saja Mark dibuat terkejut oleh ponsel Taeyong yang berdering. Melihat nomornya tidak memiliki identitas, Mark segera mengulurkannya pada sang empunya.
Taeyong menggumamkan ucapan terima kasih sambil mengusak surai Mark sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Mark sibuk memainkan jemari Taeyong, membandingkannya dengan jemarinya yang mungil sementara Taeyong berbicara pada si penelpon.
"Baiklah. Aku akan kesana", dilanjutkan dengan gumaman, kalimat itu mengakhiri komunikasi Taeyong dengan si penelpon.
"Hyung akan pergi?", suara Mark mengalihkan atensi Taeyong. Ia usap pelan pipi Mark yang masih merona pucat itu lalu mengangguk.
"Ya. Boleh kan? Aku janji hanya sebentar."
Raut sedih Mark membuat Taeyong tak tega untuk meninggalkannya sendirian.
"Cheesecake medium"
"Huh?", kening Taeyong berkerut bingung.
"Pulangnya hyung harus belikan aku cheesecake ukuran medium. Plus vanilla milkshake. Deal?"
Taeyong tergelak. Ia mengangguk sambil terus tertawa. Ia tak menyangka Mark bisa bertingkah menggemaskan.
Setelah menghadiahi Mark dengan kecupan di kening juga bibirnya, Taeyong pun meninggalkan pemuda manis itu.
.
.
Terdengar bunyi gemerincing ketika Taeyong mendorong pintu kaca kafe bernuansa vintage itu. Aroma pastry juga coklat memenuhi indra penciumannya. Sudut matanya dapat menangkap seorang gadis bersurai hitam tengah melambaikan tangan kearahnya. Sontak saja ia melangkahkan tungkainya kesana.
"Aku kira oppa tidak akan datang.", ujar gadis itu dengan senyum di wajah berparas manis miliknya. Gadis itu tidak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Ya, gadis itu adalah Yuhee, mantan kekasih Taeyong. Gadis itu tampak cantik dalam balutan dress selutut berwarna mint dengan rambut hitamnya yang tergerai bebas.
"Ada apa memanggilku kemari?", tanya Taeyong to the point membuat Yuhee meringis pelan.
"Oppa sibuk ya? Maafkan aku. Aku hanya terlalu merindukan oppa. Sekaligus tidak sabar dengan jawaban oppa. Sekali maaf ya, oppa.", rautmenyesal tergambar jelas di wajah Yuhee, membuat Taeyong mendesah pelan.
Kalimat yang selanjutnya keluar dari bibir berpoles lipstik pink itu berhasil membuat Taeyong tersentak.
"Aku tahu oppa pasti akan menolakku. Oppa terlihat tidak nyaman seolah ada yang sedang menunggu oppa sekarang. Apa aku benar?", meskipun tersenyum, Taeyong tetap dapat melihat binar kesedihan di mata Yuhee. Ia tak tega, namun ia harus melakukannya.
"Ya, namanya Mark. Dia sedang sakit, itu sebabnya aku terlambat. Maaf Yuhee-ah."
Yuhee menghela nafas pelan, "Tidak apa-apa, Oppa. Bisa bertemu denganmu saja aku sudah senang. Dia pasti manis sekali sampai oppa jatuh hati padanya. Aku jadi ingin bertemu dengannya."
Taeyong tertawa pelan. Ia sempat takut gadis di hadapannya ini akan marah atau menangis. Meskipun seorang gadis, Yuhee tetaplah Demion yang kuat.
"Dia begitu mirip denganmu, Yuhee-ah. Awalnya aku menyukainya karena alasan itu, namun lama-kelamaan −"
"Oppa jatuh cinta padanya. Aku benar-benar akan memukul Oppa jika sampai sekarang masih sama.", ancam Yuhee membuat Taeyong sedikit bergidik . Mereka kemudian terdiam sebelum Yuhee kembali berbicara.
"Iblis itu sudah datang ya?"
Taeyong menatap Yuhee sebentar sebelum mengangguk.
"Lalu apa rencana Oppa?", Yuhee kembali bertanya.
"Aku sempat berpikiran bodoh dengan menyerahkan Mark pada sahabatku yang juga mencintainya. Namun masalahnya justru semakin rumit. Aku tidak bisa jauh darinya.", Taeyong tersenyum miris. Sementara Yuhee memutar bola matanya jengah.
"Dasar bodoh! Ternyata Oppa sama sekali tidak berubah ya? Oppa justru akan kehilangannya jika berpikiran pendek seperti itu. Karena dia akan meninggalkan Oppa, sepertiku."
Ya, hubungan mereka kandas juga karena alasan yang sama. Pada akhirnya Yuhee marah dan pergi meninggalkannya.
"Ya, aku tahu itu. Itu sebabnya kini aku kembali padanya. Maafkan aku karena dulu aku tidak mencegahmu pergi, Yuhee-ah."
Yuhee diam. Pandangannya mulai buram oleh airmatanya yang siap tumpah. Jujur hatinya sakitsaat Taeyong sama sekali tidak mencegahnya saat itu. Namun cinta tak harus memiliki bukan? Setidaknya ia pernah menjadi penghuni hati Taeyong. Dan kali ini ia harus membiarkannya bahagia bersama orang lain.
"Oppa harus berjanji oppa takkan pernah melepaskan Mark lagi. Cukup aku yang merasakannya. Oppa harus berjuamg demi dirinya. Arrachi?", bersamaan dengan itu setetes airmata jatuh menuruni pipi putih Yuhee.
Cinta itu memang menyakitkan. Tapi perpisahan jauh lebih menyakitkan.
.
.
Taeyong tak bisa berhenti tersenyum gemas melihat Mark yang tengah sibuk memakan cheesecake-nya. Beruntung dokter mengizinkannya memakan makanan tinggi gula itu. Taeyong tak sanggup membayangkan rengekan Mark juga matanya yang seperti anak kucing dibuang itu.
"Pelan-pelan saja, sayang. Takkan ada yang mengambilnya darimu", ujar Taeyong sembari mengusap sudut bibir Mark yang terdapat sisa krim. Mark hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok Jaehyun dalam balutankemeja putihnya. Di tangan kanannya terdapat sebuket bunga mawar merah.
Mark menaikkan sebelah alisnya," Wow hyung, red rose? Is that for me?"
Jaehyun mengulas senyum lalu mengangguk, "Ya. Kau tidak suka ya?", raut wajah Jaehyun membuat Mark tak tega meskipun sebenarnya ia tak begitu menyukainya karena terlalu identik dengan wanita.
"Ya/Tidak", Mark sontak mencubit lengan Taeyong sambil mendelik. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Jaehyun sambil tersenyum manis.
"Aku suka kok hyung. Terima kasih bunganya."
Mark berbohong. Tapi meskipun begitu, ada satu bunga yang ia suka. Mawar putih.
.
.
Tatapan tajam Taeyong yang tertuju padanya tak Jaehyun gubris. Ia lebih memilih duduk di samping ranjang Mark sambil mengobrol bersama pemuda manis itu.
Namun akhirnya Jaehyun mulai jengah ditatapi seperti itu. "Lupakan masalah kita sejenak, Taeyong-ssi. Aku janji dia takkan terluka."
Mark menatap bingung Jaehyun dan Taeyong. Siapa dia yang mereka bicarakan? Masalah apa?
"Hey, ada yang ingin memberitahuku 'dia' itu siapa? Kalian tampak mencurigakan.", obsidian Mark yang memicing justru membuat pemuda itu tampak semakin manis. Membuat senyuman terulas di wajah tampan dua orang pemuda di sampingnya.
"Bukan apa-apa, sayang. Habiskan cheesecake-mu. Aku tidak mau ada yang merengek memintaku menghabiskannya. Kau tahu aku tidak suka makanan manis. Yah, meskipun kau juga termasuk kategori manis."
Taeyong tergelak melihat pipi Mark yang merona.
"Jangan khawatir, Mark. Aku bisa membantumu."
Tatapan Mark langsung berbinar mendengar ucapan Jaehyun. Taeyong hanya bisa tersenyum menyaksikan momen di depannya. Ia putuskan untuk merahasiakan identitas Jaehyun yang sebenarnya. Meskipun Taeyong sangat ingin mengatakan semuanya pada Mark, namun ia tak ingin senyuman dan tawa yang sedang ia lihat saat ini sirna. Ia tak ingin Mark bersedih nantinya. Kebahagiaan Mark adalah yang terpenting.
Karena Mark adalah segalanya untuk seorang Lee Taeyong.
.
.
Hanya terdapat dua insan di dalam ruangantersebut. Taeyong sibuk memandangi wajah manis Mark yang terpejam. Senyuman tersungging di wajah tampan Taeyong. Berbanding terbalik dengan manik onyx-nya yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Mark. Meskipun nanti kau akan melupakanku, tetaplah ingat bahwa aku mencintaimu. I love you, my baby lion."
Setetes airmata jatuh menuruni pipi Taeyong. Pemuda itu mendekatkan wajahnya kearah Mark, mencium bibir manis favoritnya itu lama sebelum beralih mengecup kening Mark hingga akhirnya menghilang setelah ponsel hitam miliknya kini berada di tangan Mark.
.
.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya. Matanya memanas, pandangannya memburam oleh airmatanya yang siap tumpah. Luka di hatinya kembali berdarah. Begitu banyak hingga memenuhi dadanya hingga terasa sesak.
.
Hai my lovely Mark. Saat kau mendengar pesan ini mungkin aku sedang bertarung dengan iblis itu. Atau yang paling buruk, mungkin aku sudah mati.
.
Mark melepas paksa jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Tergesa-gesa turun dariranjangnya.
Tanpa memperdulikan penampilannya yang kacau, ia berlari. Lorong, tangga hingga lorong lagi. Tak peduli sudah berapa orang yang ia tabrak. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Taeyong.
.
Sebenarnya aku ingin merahasiakan hal ini lebih lama, tapi kurasa aku harus mengatakannya sekarang. Kau tahu siapa iblis yang bisa membunuhku? Dia Jaehyun. Kau pasti terkejut kan?
.
Johnny menarik lengan Mark yang hampirnya tertabrak mobil. Wajah manisnya telah basah oleh airmata. Mata bulat itu memandangnya dengan tatapan memohon.
"Hyung.."
"Bawa aku ke tempat Taeyong hyung.."
Johnny memang takkan pernah bisa menolak permintaan Mark. Oleh sebab itu ia hanya bisa menurutinya.
.
Aku yakin kau sedang menangis saat ini. Berhentilah Mark.. Kau tahu aku sangat menyukai senyumanmu kan? Jadi tersenyumlah. Jangan terlalu sering melupakan sarapanmu. Selalu pakai pakaian hangat jika keluar rumah meskipun sekarang musim semi. Padahal aku ingin mengajakmu melihat bunga Cherry blossom berguguran. Tapi kurasa itu tidak mungkin.
Dan ada satu hal lagi. Mungkin setelah aku mati, kau akan , kuharap kau tetap ingat bahwa aku sangat mencintaimu, Mark.
I'm so sorry. I love you so much, Mark.
.
Sakit.
Itulah yang saat ini Mark rasakan. Melihat pedang Jaehyun menancap di dada kiri Taeyong membuatnya merasakan hal yang sama.
Tatapan mereka bertemu. Mark dapat melihat Taeyong tengah tersenyum kearahnya. Bibir berlumuran darah itu merapalkan satu kata. Satu kata yang membuat airmata berlomba-lomba menuruni pipi Mark.
.
Mianhae
.
Mark berlari agar tubuh penuh luka itu jatuh ke pelukannya. Matanya terpejam tak peduli dengan Mark yang terus meneriakkan namanya.
"Taeyong hyung! A-andwae hyung.. Hyung, bangunlah.. Kumohon.. Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini.."
"HYUNG!"
Menangis, berteriak, meracau. Hanya itulah yang bisa Mark lakukan. Ia memeluk erat tubuh Taeyong yang menumpukan beban kepalanya pada bahu Mark.
"Hyung, please stay with me".
Kelopak bunga berwarna merah muda khas Cherry Blossom itu berterbangan bersama angin. Pun dengan tubuh Taeyong yang perlahan berubah menjadi butiran kecil. Tak ada yang bisa Mark lakukan untuk menahannya. Ia hanya menangis menyaksikan tubuh Taeyong yang perlahan menghilang.
Mark kemudian berlari mengambil ponselnya yang terjatuh, mencari aplikasi perekam suara. Ia harus tetap mengingat Taeyong.
"Namanya Taeyong. Lee Taeyong. Jangan lupakan mata indahnya, senyumannya yang tampan. Ingatlah bahwa Mark Lee milik Lee Taeyong. Kau mencintainya. Kau sangat mencintainya. Remember that you're Taeyong's Mark."
Setelahnya tubuh mungil Mark limbung dan langsung ditangkap oleh Johnny.
Jaehyun terpaku di tempatnya. Ia menatap wajah Mark yang tengah terpejam di pelukan Johnny. Tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran seperti Taeyong.
Jadi seperti ini akhirnya? Pada akhirnya Jaehyun tetap tak bisa memiliki Mark. Karena tugasnya hanyalah membunuh Taeyong. Ia harusnya tidak pernah jatuh cinta pada Mark, agar ia tak merasakan sakitnya. Namun semuanya terlambat. Pada akhirnya ia juga mati bersama Taeyong karena tugasnya telah selesai.
"Aku mencintaimu, Mark"
Itu adalah kalimat terakhir Jaehyun sebelum menghilang. Setidaknya ia tidak mendapatkan tatapan benci Mark.
.
.
Johnny menumpukan tubuh Mark pada lengan kekarnya. Ia menatap langit diatasnya yang berwarna keabu-abuan.
"Terima kasih telah percaya padaku, Taeyong-ah."
.
.
'Aku tahu kau takkan mengikuti rencanaku. Tapi ada yang ingin kuberitahukan padamu. Kau takkan bisa mencegah kematian Taeyong, Johnny-ah. Karena malam ini aku akan membunuhnya. Setelah itu, aku juga akan membunuhmu. Bersiaplah'
Taeyong mengembalikan ponsel Johnny pada pemiliknya setelah membaca pesan dari Jaehyun.
"Maaf, Taeyong-ah. Kau tahu aku juga mencintai Mark. Sekarang aku sadar. Mark takkan pernah membalas cintaku, jadi aku menyerah. Aku akan membantumu nanti malam.", Johnny berkata yakin. Ia memutuskan untuk menjaga kebahagian Mark.
"Tak apa. Terima kasih sudah memberitahuku. Tapi kuharapkau tidak membantuku, Johnny. Lindungi saja Mark. Kau tahu dia pasti akan bertindak gegabah. Lindungi dia untukku, dan kita impas."
Manik Johnny membola, "B-bagaimana jika aku tidak bisa melindunginya? Kau tahu−"
"Kau bisa.", ujar Taeyong cepat memotong kalimat Johnny.
"Kau bisa melindunginya, Johnny. Karena itu, aku percaya padamu", lanjutnya. Taeyong mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana. Begitu pula Johnny. Satu objek ditangkap oleh mata mereka. Jaehyun.
"Sepertinya aku harus kembali ke kamar Mark.", Taeyong mengambil paperbag berisi cheesecake di atas pembatas atap yang tadi ia tinggalkan. Ia menyempatkan dirinya untuk menepuk pundak Johnny sebelum menghilang.
.
.
Johnny memang mencintai Mark, ia ingin memiliki Mark, namun bukan seperti ini caranya. Tidak dengan kematian Taeyong.
Ia kembali menatap wajah Mark, mengecup kening pemuda manis itu sebelum beranjak dari tempat itu.
.
.
"Kau harus kembali, Taeyong-ah. Sampai saat itu tiba, akan kujaga Mark untukmu."
.
.
END
