AFFAIR

MASASHI KISHIMOTO

Pair : NaruHina

Genre : Romantic/Drama

Rated : T

SELAMAT MEMBACA

Chapter 8

Hinata pergi dengan sangat cepat dan sampai ditempat tujuan. Disana Naruto sudah menunggu, dia melihat Hinata, dari kejauhan pun dia terlihat sangat jelas, sangat cantik. Mungkin ada sedikit yang berubah darinya, rambutnya kini semakin panjang, dulu dibawah bahu, kini sudah sepinggang. Hinata yang dulu dan sekarang, dua-duanya tetap sama. "kau menunggu ku lama?"

"Sangat."

"Kau terlalu berlebihan. Apa yang berubah dari mu, sepertinya tidak ada."

"Hey, kau tidak lihat kemarin, aku sekarang diatas mu,, status ku lebih tinggi."

"Ooooh, begitukah, kau masih tetap sombong rupanya."

Naruto tersenyum sinis. Dan Hinata juga tersenyum, "pesanlah sesuatu!" kata Naruto, "ooh, aku tahu makanan mu, jika kau masih suka, aku akan memesankan tumis cumi untuku mu!"

"Aku suka." Hinata senang karena Naruto masih mengingat makanan favoritnya. Beberapa menit setelah mereka menyelesaikan makannya, kini Naruto hendak mengajak Hinata ke suatu tempat, tapi tiba-tiba hal buruk pun datang. Wanita itu tepat berdiri dihadapan Naruto dan Hinata, dia terkejut melihat Naruto ada disana dan dia menghampiri Naruto lalu memeluknya, Hinata terkejut dengan tindakan wanita itu dan dia bertanya-tanya, siapa dia?

Naruto langsung melepaskannya, "apa yang kau lakukan Shion, dan kenapa kau ada disini?"

"Aku sedang berjalan-jalan saja, lalu aku mampir ke caffe dan melihat mu dan. . . siapa wanita ini?"

"Nama ku Hyuuga Hinata."

"Ooh begitu, aku Shion, apa kau teman Naruto?"

"Aku. . ."

"Kau tidak perlu tahu siapa dia Shion!"

"Baiklah kalau begitu, tapi kau harus tahu siapa aku. Aku adalah kekasih Naruto."

Hinata menelan ludah dengan susah payah, begitu juga dengan Naruto yang terkejut dan wajahnya menampakkan kemarahan, "jaga bicara mu, kapan kita memiliki hubungan seperti itu, aku tidak memulainya Shion, kau mengada-ada!" ujar Naruto. kalau memang benar itu adalah bohong, tapi kenapa wanita ini serius sekali, apa dia menyukai Naruto?

"Apa? Tentu saja kita sepasang kekasih, hanya saja kita belum memperjelas hubungan itu. Kalau kau ingin kita bisa berkencan, kau mau?"

"Maaf, tapi akhir-akhir ini aku sibuk."

"Sibuk? Benarkah, lalu apa yang sedang kau lakukan dengan wanita ini, kau sibuk bersamanya hah, kau akan meninggalkan ku dan berpaling pada nya, tega sekali kau."

"Apa yang kau bicarakan Shion, kita hanya teman, dan jangan bawa-bawa Hinata dalam hal ini!"

"Cukup!" kata Hinata menengahi. "sebaiknya aku pergi, maaf jika aku menjadi pengganggu antara kalian berdua, permisi!"

"Hinata tunggu, dengarkan aku, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, aku mohon percaya padaku!"

"Itu bukan urusan ku, selamat tinggal." Setelah Hinata mengatakan itu ia langsung pergi ke suatu tempat dan merenung disana, memandang langit sore yang kelam, seperti hatinya saat ini. Andai saja dia tidak kembali kesini mungkin dia tidak akan sedih, baru saja dia merasakan kebahagiaan beberapa hari yang lalu, tapi kini kesedihan ternyata melandanya juga. Dia tidak menyangka kalau Naruto mempunyai kekasih, apakah dia benar-benar melupakan Hinata.

"Dasar bodoh, memang siapa dia bagi mu Hinata, kau bodoh sekali."

Hinata memaki dirinya sendiri, dia sempat berpikir, apakah harus dia menerima kembali perjodohan yang bibi Kushina tawarkan padanya, siapa tahu anak bibi Kushina lebih baik dari Naruto. tapi apakah dia akan menerima Hinata sepenuhnya, mengingat dirinya saat masih SMA dulu melakukan. . . ."jangan pikirkan itu Hinata, tolong!" ujarnya pada diri sendiri. Dia akan mengingat kembali pengakuan Naruto tentang malam itu, "please Hinata, jangan ingat kembali masa kelam itu!" kelam? Apakah itu yang selalu ia pikirkan jika mengingatnya kembali.

"T-tidak, bukan kelam, sesuatu yang seperti. . , aaahhhh, aku tidak bisa berpikir, hapus dia dari memoriku Tuhan, aku mohon!"

"Mohon kenapa?"

Hinata menoleh kebelakang dan disanalah Naruto berada. Dia berharap hari ini ataupun seterusnya dia tidak melihat wajah itu, bahkan ingin sekali dia melupakannya, tapi . . . "apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata dengan nada marah. Naruto terkekeh, "apakah aku mendengar nada kemarahan dalam suara mu atau hanya telinga ku saja yang telah rusak?"

"Telinga mu tidak cukup baik, kau seharusnya pergi ke dokter." Kata Hinata

Naruto mendekatinya, "jangan mendekat!" kata Hinata, tapi tetap saja Naruto tidak berhenti berjalan kearahnya, "aku bilang jangan mendekat atau . . ."

"Atau apa?" Naruto sudah ada dihadapannya.

Hinata berbalik membelakangi Naruto dan hendak pergi, tapi Naruto menarik tangannya, hingga punggung Hinata merasakan dada kekar Naruto, Hinata terkejut, "lepaskan aku!" kata Hinata. Naruto semakin mengeratkan pelukannya, "aku tahu kau marah, karena wanita itu, dia hanya seorang teman yang tidak ingin aku jadikan teman atau apapun, tapi karena dia selalu menghubungi dan ingin bertemu, apa boleh buat, aku bertemu dan. . ."

"Dan kau berhubungan dengannya." Kata Hinata melanjutkan.

"Tidak ada hubungan."

"O yah, dan kau berpikir aku keberatan. Silahkan jika kau mau berhubungan dengannya, aku tidak peduli!"

"Benarkah, tapi kenapa kau pergi dan marah?"

"Aku tidak marah. Aku senang karena kau sudah bersama seseorang, selamat!"

"Aku tidak butuh ucapan selamat mu."

"Benarkah, kalau begitu, kau harus mengucapkan selamat padaku, karena aku masih memegang janjiku pada seseorang mengenai perjodohan. Kau lupa. Bukankah masing-masing dari kita telah dijodohkan, mungkin saja dia wanita yang orang tua mu jodohkan untuk mu!"

"Tidak, bukan dia. Dan aku tidak percaya kau masih ingin menepati janji mu. Kau membatalkannya kan, tapi karena kau melihatku dengan Shion, kau . . ."

"Jangan sebut nama itu!"

"Kenapa. Kau cemburu?" kata Naruto, Hinata terdiam, "aaahh, aku tidak salah. Kau benar-benar cemburu!"

Hinata memaksa melepaskan diri dan akhirnya berhasil, "lupakan ucapan mu. Aku tidak mungkin cemburu, aku akan menepati janjiku, dan sebaiknya kita harus saling menjauh. Aku tidak mau lagi melihat mu!" itu adalah kata-kata terakhir Hinata sebelum dia menghilang di kegelapan malam dan meninggalkan Naruto sendirian.

~~~~~~~~~~###~~~~~~~~~~~

"Oooh tentu saja, aku tidak mungkin memberitahu Naruto, biarkan waktu menyatukan mereka berdua. . . aaaahh, itu ide yang bagus. . . baiklah Hiashi, kita bicarakan hal ini secara rahasia, hanya kau, aku, Minato dan Tuhan yang tahu, mengerti!"

"Kau serius sekali." Kata Minato.

"Itu harus. Demi menyatukan mereka berdua. dengar sayang, disini kita berperan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, biarkan mereka menentukan nasib mereka masing-masing, dan sisanya kita yang urus nanti, mengerti!"

"Aku mengerti."

Biarkan orang tua yang mengurus, anak muda hanya diam saja dan tentukan nasibnya masing-masing, jika tidak sesuai maka peran orang tua untuk meluruskan adalah hal yang paling penting. Dan bagi dua sejoli ini, Naruto dan Hinata, biarkan mereka yang menjalani roda yang baru berputar ini, semoga berputar pada porosnya.

Di kantor Naruto, di ruangannya, kini sudah ada yang duduk disana menunggu Naruto keluar dari ruang meeting, setelah memasuki ruangannya disana sudah ada Shion, "aku menunggu mu, bisakah kita berjalan-jalan hari ini, aku mohon!"

"Shion, dengarkan aku. Aku sedang sibuk dan sudah aku katakan berkali-kali, aku bukan pria yang tepat untuk mu, jadi aku mohon tinggalkan aku!"

"Kau mengatakan hal itu karena wanita yang kemarin itu kan, siapa dia, dan apa sebenarnya hubungan kalian?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Aku harus tahu!" kata Shion lalu melangkah pergi dari ruangan Naruto, dia berjalan keluar sambil marah-marah ke semua pegawai kantor, itulah mengapa dia sangat dibenci pada semua karyawan. Tepat apa yang tadI Shion ucapkan bahwa dia harus tahu siapa Hinata, dan kesempatan emas tengah ia dapat. Shion melihat Hinata turun dari taxi dan entah kemana arah tujuannya. Sebelum itu, Shion sudah menarik tangannya terlebih dahulu dan membawa Hinata ke tempat yang sepi. Hinata menolak dan menghempaskan tangan Shion, tapi mereka berada di tempat yang jauh dari keramaian.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku ingin berbicara dengan mu, mengenai Naruto."

"Aku sudah bilang pada mu kalau aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya."

"Baik. Kau menyangkalnya, tapi tidak dengan Naruto. sebenarnya apa sih hubungan kalian berdua, kau tahu, aku mengenalnya lebih dari dirimu, aku dan dia sudah bersama selama empat tahun lebih, kau tahu apa tentangnya?"

"Aku tahu semuanya." Kata Hinata. Mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi pembicaraan mereka tengah didengar orang, "memang aku hanya mengenal Naruto selama dua tahun, tapi itu sudah cukup untuk aku tahu semuanya tentang dirinya. Dan jika kau bertanding dengan ku mengenai dirinya, aku yang akan menang!" seseorang tersenyum ketika Hinata mengatakan hal itu.

"Ooh yah, kalau begitu, kita buktikan saja, siapa diantara kita yang berhak mendapatkannya."

"Aku tidak mau. Aku tidak berniat merebutnya dari mu, lupakan bahwa aku pernah masuk dalam hidup kalian berdua, jangan pernah mengganggu ku, aku mohon!"

Kata-kata terakhir itu membuat Shion terdiam, dia juga berlunak hati kala Hinata meninggalkannya sendirian. Orang yang mendengar tadi kini mengikuti kegiatan Hinata dari awal hingga akhir kegiatan. Hari itu Hinata pulang terlalu malam, dia hanya menilik kantor ayahnya dan sedudah itu pergi menemui semua teman-temannya dan mengobrol banyak dengan mereka. Salah satu teman Hinata yaitu Sakura ingin mengantarnya tapi sayang Hinata menolak, akhirnya dia pulang sendiri dengan menaki taxi.

Ditengah jalan taxi itu mogok dan ternyata hujan turun dengan sangat deras. Sang supir tengah memperbaiki tapi sayang tidak juga bisa, akhirnya Hinata berjalan seorang diri ditengah hujan deras, dia tahu betul dan masih ingat daerah ini, "semoga dia sudah tidur, aku tidak mau melihat wajahnya. Melihat wanita itu membuatku ingin mencakarnya apalagi dia yang ingin sekali aku lenyapkan." Kata Hinata. Dia berbicara cukup keras, tapi suara hujan meredam suaranya, hingga orang yang sedari tadi membuntutinya tak bisa mendengar.

Hanya gumaman kecil dan Naruto, orang yang membuntuti tidak peduli apa yang Hinata katakan. Ketika Hinata merasakan ketidaknyamanan dia akhirnya menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya dia melihat Naruto yang juga hujan-hujanan ditengah malam.

"Kau punya hobi yang unik sekali, terus mengikuti ku apakah hobi baru mu tuan?"

"Kurasa itu hobi lama." kata Naruto. Mereka berbicara agak sedikit keras. "aku mohon Naruto, jangan ganggu aku lagi, bukankah kau sudah bersama wanita itu, mengapa kau. . . kau ada disini?"

"Ini daerahku." Dan itu adalah kenyataan, "baiklah, ini daerah mu. Tapi bisakah kau pergi?"

"Dan meninggalkan mu sendirian? Aku bukan dirimu yang begitu saja pergi."

Hinata tersentak dengan pernyataan itu, dia pergi, itu memang benar, tapi Hinata sudah memberikan alasan mengapa dia pergi. Tapi apa hubungannya dengan Naruto, apa dia juga orang yang selalu memikirkan Hinata? Entahlah. Yang pasti Hinata merasa bahwa Naruto memang memikirkannya.. "itu bukan urusan mu, sekarang pergilah. Aku senang karena bisa kembali lagi kesini, tapi setelah aku menikah nanti mungkin aku akan pergi dan menetap di negara lain." Hinata sedikit tertawa, "aku akan menikah dengan orang itu!"

"Orang yang mana?"

Hinata kini mulai tertawa, "tentu saja orang pilihan ku. Kenapa kau. . . kenapa kau serius sekali, kau tidak pernah melihatku tertawa, bukankah saat SMA aku juga sering tertawa, aneh."

Hinata terdiam karena sedari tadi Naruto juga terdiam, "Naruto!" panggil Hinata. Naruto mendengarnya, dia menatap Hinata tajam, dibawah hujan deras rambut Hinata basah dan seluruh tubuhnya juga basah, Naruto mengingat saat-saat dimana hal ini pernah terjadi, dan dia akan mengulang kembali peristiwa itu, dia melangkah kedepan dan tepat dihadapan Hinata, tangannya meraih rahang Hinata dan menciumnya, secara tiba-tiba.

^^Bersambung. . . ^^