.

Trouble Maker

Naruto © Masasshi kisimoto

High School DxD © Ichie Ishibumi

WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, dan sebagainya.

Pair : [ Naruto Uzumaki X Sona Sitri ]

-o0{[ Iblis Betina Kedua ]}0o—

.

Chapter 8

.

"Ne.. ne.. kau dengar? Katanya si Uzumaki terlibat penangkapan teroris loh." Ucap salah seorang siswi pada sesama temannya. Dan orang yang diajak bicara juga terlihat sangat antusias menanggapi masalah itu. "Iya, aku lihat sendiri di TV kemarin, tapi ada urusan apa si Uzumaki ke Amerika?" sahut siswi satunya.

"Tapi aku sangsi jika si Uzumaki itu yang menangkap para penjahat itu, kalau dia yang terlibat sebagai pelakunya aku baru percaya," ujar salah seorang siswi lagi yang ikut nimbrung ke acara gosip mereka.

"Benar. Aku juga berpikiran begitu,"

"Soalnya yang kita bicarakan ini Uzumaki,"

Semua perkataan dari para teman sekelasnya itu membuat dada Asia terasa sesak, dia tidak suka jika orang yang paling dia sayangi di jelek-jelekan seperti itu tanpa bukti yang valid. Mereka semua tidak tahu siapa kakaknya, mereka semua hanya menilai dan memberi label tanpa tahu apa isinya. Dan itu membuat Asia muak, dia marah, dia tidak bisa menerima hal ini.

"Kau tahu mungkin-"

"DIAM!"

"Asia? Ada apa?" Semua bertanya-tanya mengapa sosok yang ramah dan pemalu seperti Asia dapat berteriak seperti itu. Bahkan Issei yang tengah tidur dengan wajah mesumnya langsung jatuh dari meja akibat teriakannya itu.

"Hey Asia. Ada apa?" Tanya Issei sambil mendekat kearah Asia yang mulai mengeluarkan air matanya. "Kalian tidak mengenalnya, kalian tidak tahu siapa dia.. jadi jangan seenaknya menjelek-jelekannya seperti itu!" Tukas Asia dengan air mata berlinang.

"Apa maksudmu Asia. Oh, apa yang kau maksud adalah Uzumaki? Jika iya bukankah kau bahkan belum pernah melihatnya, karena dia selalu bolos pelajaran,"

"Tidak, aku mengenalnya lebih dari kalian semua mengenalnya," bantah Asia.

"Tunggu jangan-jangan kau menyukainya?" Tebak salah seorang siswi. Asia mengangkat wajahnya dan menatap teman sekelasnya itu dengan serius. "Ya. Aku menyukainya, menyayanginya. Dan aku tidak dapat membiarkan orang yang tidak tahu apa-apa menghinanya seperti itu!"

Semua orang disana kaget bukan main mendengar pernyataan dari Asia, karena Asia yang biasanya selalu pendiam dan tersenyum dengan ramah kepada semua orang kini dapat berteriak marah seperti itu.

"Hoy Issei, apa kau tidak apa-apa melihat pacarmu menyukai si Uzumaki itu," ujar Matsuda sembari menyenggol bahu Issei yang ada di sampingnya. Namun Issei tidak merespon sama sekali, dia malah tersenyum melihat Asia yang seperti itu, dia senang jika melihat Asia sampai berteriak seperti itu untuk kakaknya.

"Naruto-niisan, tidak pernah melakukan apa yang kalian semua tuduhkan, dia itu tidak pernah ingin melukai orang lain, dan dia tidak akan bertindak jika tidak ada yang membuat masalah padanya." Ujar Asia panjang lebar.

"Tapi Asi- tunggu apa kau bilang tadi?"

"Naruto-niisan tidak pernah melakukan semua yang kau tuduhkan itu?" Ucap Asia sembari memiringkan kepala bingung melihat wajah aneh dari teman-temannya.

"Niisan? Kau bilang tadi niisan?"

"Hmm.. Uzumaki Naruto adalah kakak kandungku,"

"APAA!"

"Are.. kenapa?" tanya Asia sembari menghapus air mata yang tadi sempat meluap tanpa bisa dia kendalikan.

"Tapi, tapi... nama kalian saja berbeda."

"Oh maksudmu nama keluarga kami? Kalau itu Argento adalah nama panti asuhan tempat dimana aku dibesarkan, namaku yang sesuangguhnya adalah Namikaze Asia," ujar Asia.

"Namikaze? Siapa lagi itu?"

"Itu nama keluarga kami, sedangkan Uzumaki adalah nama keluarga dari ibu kami, dan ada sedikit masalah yang membuat niisan tidak menggunakan nama Namikaze sebagai nama keluarganya," Asia kembali menjelaskan. Dan semua siswi yang mendengar hal itu tidak dapat mengatakan apa-apa. Dan hanya menunduk ragu.

"jika kau bilang begitu.. Asia gomen,"

Sementara senyuman di wajah Issei semakin berkembang, tanpa halangan sama-sekali, sedangkan Matsuda dan Motohama malah menatapnya dengan pandangan aneh seolah mengatakan jika pemuda itu sudah tidak waras akibat pernyataan dari Asia tadi.

.

-o0o-

.

Sona duduk termenung dengan sebuah buku ditangannya, sama seperti sebelumnya dia bukanlah sedang membaca, melainkan pikirannya sedang berada di tempat lain. Tsubaki yang melihat itu hanya mampu mendesah bosan. Dia harus sabar menghadapi ketuanya yang sedang dalam keadaan labil seperti ini.

"Kaichou, jika memang khawatir kenapa tidak disusul saja kesana, dengan sihir tidak akan memakan waktu lebih dari satu menit kok," saran Tsubaki.

"Hah, k-kenapa aku harus me-me-mengkhawatirkan orang itu, seperti aku tidak punya pekerjaan lain saja!" Tukas Sona dengan agak tergagap. Ia tidak menyangka jika akan langsung di tujam seperti itu oleh wakilnya sendiri.

"Kaichou. Jika kau terus bersikap seperti itu terus dia pasti akan direbut perempuan lain loh,"

"A-apa maksudmu Tsubaki!?"

Tsubaki melipat tangannya di depan dadanya. Ia memandang ketua sekaligus rajanya itu dengan sebuah alis terangkat. "Tuh kan. Kau tidak jujur dengan perasaanmu sendiri, itulah mengapa Serafall-sama selalu mengerjaimu,"

"Ini dan itu tidak ada hubungannya! Lagipula meskipun aku khawatir bukan berarti aku harus selalu di sampingnya setiap saat." Gumam Sona pelan.

"Tuh kan kau benar mengkhawatirkannya,"

"I-ini bukan berarti aku mengkhawatirkannya," ucap Sona dengan gugup.

"Tsundere?"

"Aku tidak akan mengkhawatirkan orang itu, tapi jika dia tidak kembali maka akan aku pastikan kepalanya akn terpisah dari badannya," ucap Sona dengan aura keunguan yang mengitarinya.

"Sekarang Yandere?"

"Tsubaki.."

"Ya?"

"Bisa kita kurangi bagian komedi pada cerita ini? Karena itu bukanlah sifatku dan terus tersenyum dapat membuat pipiku keram." Tukas Sona kembali ke ekspresi datarnya.

"kurasa kau benar,"

Sona memandang langit biru lewat jendela di sampngnya dengan sebuah senyum. "Dia bukanlah anak kecil yang perlu dikhawatirkan, dia adalah pemuda kuat, bahkan lebih kuat dari pada kau maupun aku."

Tsubaki tersenyum saat melihat ketuanya yang kembali seperti semula.

.

-o0o-

.

Suara bising orang yang berlalu-lalang, suara beberapa orang berpakaian putih yang sedang membicarakan sesuatu, serta bau obat yang menyengat terasa memenuhi seluruh gedung itu.

"Bagaimana dokter?" kata Naruto dengan raut serius pada pria yang dia perkirakan berusia lebih dari 40 tahun itu, terbukti dari uban yang terlihat memenuhi kepalanya. Orang yang dipanggil dokter oleh Naruto itu mendesah pelan dan melemparkan ketas dokumen hasil pemeriksaan itu kedepan Naruto dengan pelan.

"Sulit. Karena ini merupakan kasus pertama dalam sejarah kedokteran, karena kerusakan pada otak itu biasanya diakibatkan oleh kanker, tumor, maupun benturan yang keras..." dia mendesah lagi. "Namun yang terjadi disini... tidak ada luka, gejala kanker, maupun tumor. Tapi sangat jelas kerusakan yang nyata terdapat di dalam beberapa bagian otakmu, dan jika di biarkan begini terus kau tidak akan bisa bertahan sampai satu tahun."

Mendengar itu genggaman di kedua tangan Naruto menguat hingga dokter itu yakin jika dia mendengar suara gemertak dari sana. Namun dia hanya dapat memaklumi perasaan pemuda itu, harus berurusan dengan sebuah masalah yang sangat amat menyulitkan, yaitu nyawanya sendiri.

"Jadi begitu ya.." gumaman pelan itu terdengar seperti sebuah ucapan dari orang yang putus asa. Namun ada sedikit rasa lega di hati Naruto pasalnya dia bisa terlepas dari segala hal yang tidak masuk akal hingga membuat kepalanya pusing setiap kali memikirkannya.

Tapi kenapa... kenapa ada rasa tidak rela jika dia pergi secepat ini. Apa dia masih ingin menikmati dunia yang sudah terlalu lama mempermainkannya itu. Apa dia masih sanggup menatap wajah adiknya dan juga orang-orang yang dia kenal, bahkan dia tidak tahu apa yang akan dia katakan jika bertemu dengan Sona.

Bayangan-bayangan dari semua orang yang dia kenal terus berkelebat dengan sangat cepat dalam kepalanya.

Dokter yang melihat Naruto yang menunduk mulai sadar jika dia memiliki sebuah kasus yang agak mirip dengan pemuda itu, namun kerusakan otak itu diakibatkan karena sebuah benturan keras. Dengan cepat dia mengobrak-abrik kertas dokumen yang ada disampingnya.

"Apa yang sedang kau lalukan, Dok?" Kata Naruto yang melihat dokter itu terus memilah-milah tumpukan kertas di sampingnya.

"Ah.. ketemu," teriaknya sembari menunjukan sebuah map merah yang di dalamnya terdapat sebuah informasi yang mungkin dapat membantu.

"Pergilah ketempat ini, kurasa dia mempunyai apa yang sedang kau butuhkan," ujar dokter itu dengan sebuah senyum simpul diwajah keriputnya. Naruto menerima itu tanpa banyak bicara, dia berdiri dari kursinya dan membungkuk berterimakasih pada dokter itu.

"Thank you. Dok, aku akan kesana setelah ini." Ucap Naruto dan keluar dari ruang pemeriksaan dengan sebuah dokumen di tangannya. Langkahnya terhenti saat dia melihat seorang yang dia kenal sebagai iblis betina kedua yang dia temui di dunia ini.

"Gezz... kenapa kau terus mengikutiku sih. mau jadi stalker apa? Tukas Naruto dengan ketus. Namun Lilith tidak menanggapi itu malah dia membalasnya dengan sebuah senyum manis di wajahnya.

"Aku cuma mau lihat seorang pemuda yang menarik saja kok," ujar Lilith sembari menunjuk pipinya sendiri. "Lalu kau mengikutinya kemana pun dan kau masih menyangkal jika dirimu stalker, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau mau tapi aku tidak punya waktu untuk meladenimu tahu,"

"Jahatnya. Padahal aku datang dengan niat baik loh,"

"Jadi niat baik apa yang kau maksud." Tanya Naruto.

Tanpa menjawab Lilith langsung menarik tangan Naruto dan meyeretnya keluar dari area rumah sakit. Dengan agak cepat serta sebuah senyum sumringah di wajahnya. "Hey sebenarnya kita mau kemana sih?"

"Date!"

"Hah!"

.

-o0o-

.

Angin kering berhembus diantara pemuda pirang yang tengah berdiri dengan sebuah kacamata aneh, atau lebih tepatnya sebuah kacamata yang biasa digunakan untuk olahraga paintball maupun airsoftgun dan seorang gadis pirang yang tengah berdiri dengan ekspresi penuh percaya diri diwajahnya.

"Satu pertanyaan... kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Naruto dengan sebuah kedutan di sebelah alisnya.

"Aku hanya mau melihat kemampuanmu yang sesungguhnya. Karena tidak mungkin aku kalah dalam urusan menembak dengan orang sepertimu," tunjuk Lilith pada Naruto.

Naruto mendengus. "Itu sih masalahmu. Dan apa-apaan kacamata aneh ini?" Sungut Naruto sembari melepas kacamata yang pada awalnya dipasang oleh Lilith pada saat Naruto masih tidak mengerti alasan kenapa dia dibawa ke sana. "Itu untuk melindungi matamu, agar tidak terluka jika terkena-hey apa yang kau lakukan!"

"Aku tidak mebutuhkannya," ujar Naruto sambil melempar kacamata itu kesamping. "Tapi kalau matamu terkena dan kau buta bagaimana!?" Sungut Lilith. Naruto terlihat seperti menimang-nimang ucapan dari Lilith barusan. "Kurasa julukan Shinigami Bermata Satu akan cocok untuku," ujar Naruto dengan tampang polos.

"Ano nee... bagaimana jika kedua matamu yang kena, lalu kau mau mendapat julukan Si Buta Dari Gua Hantu!?" sungut Lilith menanggapi perkataan Naruto yang nyeleneh itu. "Hm.. sayangnya aku tidak punya monyetnya, jika aku jadi Si Buta maka kau jadi monyetnya, gimana?"

"Kau ini-"

"Bagaimana kalau kita mulai saja, aku ingin cepat-cepat kembali ke hotel dan tidur," Naruto berucap dengan nada bosan, ia merasa jika ini adalah sebuah pertarungan sia-sia, dan tentu saja dia sendiri sudah tahu siapa pemenangnya di sini. Sementara Lilith yang terlihat cemberut karena ucapannya dipotong begitu saja.

"Heh, jangan kau pikir hanya karena aku perempuan kau dapat mengalahkanku dengan mudah ya," Lilith mengatakan itu dengan kedua tangan di pinggang. Tangan kanannya kini telah memegang sebuah airsoftgun berjenis FN 57 yang sama persis dengan miliknya yang asli. 'oi..oi apa lagi ini. Kemampuan membaca pikiran?' batin Naruto lengkap dengan sebuah keringat menetes di kepalanya.

"Bukan bermaksud sombong, tapi aku belum pernah kalah dalam permainan FPS. Jadi jangan kecewa jika nanti kau kalah," ejek Naruto.

Lilith mendengus mendengar itu. "Sayangnya ini adalah dunia nyata, jadi maaf saja aku tidak akan kalah darimu, Game Boy." Alis Naruto berkedut mendengar julukan yang diberikan Lilith untuknya. Pertama kali. Untuk pertama kali ada orang yang mengejeknya seperti itu kecuali Sona dan kepala sekolah brengsek itu.

Sebuah catatan tambahan yang harus dia masukan dalam buku daftar julukan Naruto edisi terbaru.

"Hah, kalau begitu kita mulai saja..." Naruto terlihat merogoh kantong celananya seperti mencari sesuatu. Dan dia mengangkatnya kedepan, menunjukan pada Lilith sebuah koin berwarna perunggu itu.

"... Saat koin ini menyentuh tanah, kita sudah boleh menembak satu sama lain. Kita pakai metode One Hit KO, jadi siapa yang terkena tembakan sekali atau menyerah dia yang kalah," Lilith mengangguk mengerti. Karena pada dasarnya permainan airsoft gun memang seperti itu.

"Baiklah."

Naruto melempar koin itu keudara berputar dengan pelan dan berhenti saat sudah mencapai batas ketinggian lalu jatuh akibat gaya gravitasi bumi. Lilith yang melihat jarak antara koin dan tanah yang mulai terpangkas langsung mengokang pistol itu dengan cepat dan mengarahkannya ke Naruto yang masih saja diam lengkap dengan senyum menjengkelkannya.

Ping!

Dusstt!

Peluru itu melesat dengan cepat kearah Naruto, tanpa ada niat sedikitpun untuk berhenti atau berbelok. Seperti sebuah peluru kendali yang sudah terkunci pada satu target. Namun yang membuat Lilith terdiam seribu bahasa serta mulut yang terbuka lebar adalah peluru BB itu hanya melewati Naruto, atau lebih tepatnya samping kepala Naruto.

"Tidak mungkin!?" Ucap Lilith tidak percaya pasalnya jarak antara mereka yang dekat serta akurasi tembakannya seharusnya sudah tidak dapat diragukan lagi. Sudah banyak kejuaraan menembah yang dia menangkan di inggris. Dia bahkan memiliki julukan Exception yang merupakan gelar tak terkalahkan dalam urusan tembak menembak.

Namun kali ini. Dia meleset dalam jarak tembak yang kurang dari 10 meter. Dan yang lebih parahnya lagi lawanya itu tidak berpindah satu langkahpun dari tempatnya berdiri. Senyum mengejek Naruto kian lama kian melebar, seolah ingin menambah rasa kesal dari Lilith.

"Are.. meleset? Kurasa kau harus pergi ke dokter mata dulu untuk memeriksakan keadaan matamu, kurasa kau sudah mulai rabun dekat!" Ujar Naruto dengan menekankan kata dekat pada kalimatnya.

Lilith mengedarkan pandangannya kesegala arah karena guna melihat apa yang mungkin membuatnya meleset, pasalnya meleset adalah hal paling mustahil dalam hidupnya. Dan dia melihat sebutir peluru BB yang berada tepat disamping kakinya. Dia yakin jika pelurunya tadi melesat kearah Naruto dan melewatinya, lalu peluru siapa ini? Apa mungkin..

Senyum Naruto makin lebar hingga membuat bibirnya berkedut saat melihat Lilith yang menoleh kearahnya dengan sangat cepat dan menatapnya dengan pandangan yang tidak percaya. "Kau..."

"Sepertinya kau sudah mengetahuinya," ujar Naruto sembari mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah airsoft gun jenis Desert Eagle putih bersih. "Tapi itu tetap tidak mungkin pasalnya dengan jarak sedekat ini dan diameter BB yang hanya 6mm. Itu tidak mungkin!" bantah Lilith.

Sedangkan Naruto hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sayangnya fakta membuktikan. Jarak antara kita berdiri adalah 9,7 meter, kecepatan angin 0,04 knot, serta tingkat kelembaban 52,7%. Dengan kecepatan 328 FPS dari jarakmu hingga mengenaiku membutuhkan waktu 0,10 detik. Namun sayang aku sudah memikirkannya sejak aku mengambil koin dari saku tadi. Jadi aku menembak tepat setengah kali lebih cepat dibandingkan dirimu dan membelokan pelurunya." Jelas Naruto dengan wajah tenang, tidak menghiraukan tatapan tidak percaya dari Lilith.

"Uso! Kau bahkan tidak mengangkat senjatamu sama sekali."

Duk! Duk!

Perempuan pirang itu langsung mengalihkan tatapannya pada kaki Naruto yang dia hentak-hentakan di tanah. "Pijakan kita ini terbuat dari aspal dan aku menembak sepersekian detik sebelum jarimu menekan pelatuk itu kearah aspal lalu memanfaatkan pantulan yang terjadi, namun sayang aku perhitunganku sedikit meleset." Naruto kembali menghembuskan nafasnya.

"Padahal awalnya aku ingin membuatmu kalah karena pelurumu sendiri, tapi yah... seperti yang kau tahu tidak semua hal akan sesuai dengan apa yang kau rencanakan,"

Melihat itu ekspresi Lilith langsung berubah seketika, sebuah senyum tersungging dengan jelas di wajah cantiknya. Dia menurunkan senjatanya. "Sudah lama sekali semenjak hari itu, aku tidak pernah mendapat lawan yang dapat lolos dari peluru pertamaku," senyum miring itu dia tunjukan kepada Naruto yang mengangkat senjatanya dengan satu tangan di dalam saku.

"Sepertinya kau sudah mau serius," gumam Naruto.

"Mau bagaimana lagi, kau mengingatkanku dengan pria itu," Naruto memiringkan kepalanya saat mendengar nada aneh yang dilontarkan gadis pirang didepannya. "Apa kau mau tahu alasan sebenarnya aku ke jepang kemarin?"

"Tidak!" Ujar Naruto dengan datar.

"Sebenarnya aku mau mencari orang yang telah mengalahkanku dalam turnamen menembak tingkat internasional setahun yang lalu..."

"Perasaan aku tadi sudah mengatakan tidak deh," gerutu Naruto saat melihat Lilith yang terus saja mengoceh tentang seorang yang mengalahkannya dalam sebuah pertandingan.

"... Dan namanya adalah Kurokami Kin!"

Naruto lagsung terjengkang saat mendengar nama itu. Dia tidak pernah berharap bahwa kejadian seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Kurokami Kin adalah nama samaran Naruto yang diberikan oleh pihak sekolah sebagai identitas Naruto saat melakukan pertandingan.

"Postur itu, gaya menembak yang kau gunakan sama persis dengan yang dia gunakan satu tahun yang lalu..." Lilith menunjuk Naruto dengan tatapan serius, bak seorang detektif yang telah menemukan siapa tersangka dari sebuah kasus besar. "Kau pasti kenal, dengan pria itu bukan. Atau bahkan dia adalah gurumu!?"

Naruto mendesah lega saat mendengar pernyataan Lilith yang meleset itu. 'Untung saja dia bodoh,'. Naruto kembali menurunkan senjatanya. Memasang sikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Tidak. Apa dia itu sejenis alien?"

"Dan yang lebih penting lagi. Ayo cepat kita selesaikan pertandingan tidak berarti ini. Karena setengah jam lagi aku masih ada urusan di rumah sakit." Dia mengetuk-ngetuk kepalanya yang sepertinya sudah mulai kambuh lagi. Rasa sakit yang selama ini terus dia tahan dengan sebuah wajah datar dan bosannya.

Karena dia tahu jika hal itu bukanlah yang pantas untuk diketahui oleh orang lain. Biarlah hal ini menjadi rahasia hingga waktunya tiba. "Kalau begitu akan aku mulai!" Tukas Naruto sembari salto kebelakang dua kali selayaknya pemain sirkus, lalu memasang postur seperti pelari olimpiade.

Lilith tahu jika pemuda itu pasti merencanakan hal gila lagi, rencana yang sangat tidak masuk akal dan cenderung mustahil. Tapi entah kenapa jika pemuda itu yang melakukannya dia merasa apapun yang dia rencanakan pasti akan berhasil.

Dia tidak bisa tinggal diam. Lilith langsung menodongkan senjatanya pada Naruto yang seperti hendak melesat kearahnya.

Dengan sangat cepat Naruto berlari kearah Lilith dengan gaya seperti seorang ninja yang berlari. Dia melihat postur tubuh Lilith dengan sangat jelas. 'postur tubuhnya sangat sempurna, kemungkinan tembakan meleset adalah 0. Namun karena itu...'

Dust! Dust! Dust!

'Aku bisa melihat semua arah tembakanmu,' batin Naruto.

Tiga tembakan melesat kearah Naruto yang tengah berlari. Dengan kecepatan yang dia bisa Naruto langsung mengayunkan Desert Eaglenya kesamping, dan dengan sekali ayunan itu terlihat tiga buah Bullet Ball yang melesat dengan akurasi sempurna. Hingga mementalkan seluruh peluru yang di tembakan Lilith. Namun yang membuat Lilith lebih terkejut adalah sosok Naruto yang sudah berada di depan matanya dengan senjata tertodong kedepan dahinya dengan gaya yang sama seperti tadi. Tangan kanan yang membawa desert eagle itu terarah ke dahinya dan tangan kiri yang dia kantongi.

"Checkmate!"

.

-o0o-

.

Naruto keluar dari apotek dengan sebuah kantung plastik berwarna putih yang berisi beberapa botol obat berisi kapsul-kapsul yang cukup banyak jumlahnya. Lilith yang melihat itu menaikan alis bingung. "Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sejak awal tapi kau sebenarnya sakit apa sih?"

"Hanya sakit kepala biasa tidak lebih," bohong Naruto.

"Oh.."

Entah itu bohong atau tidak Lilith tidak punya hak untuk protes, karena dia bukan siapa-siapa pemuda di depannya itu. Dia hanyalah orang asing yang kebetulan saling kenal saat di pesawat. Namun dia merasa sakit saat menyadari kenyataan itu.

Namun, dia ingin lebih dari sekedar itu, lebih dari sekedar kenalan, teman atau bahkan sahabat. Karena dia sadar jika dia menyukai pemuda itu. Dia tidak melihat pemuda itu dari perawakan maupun penampilannya, melainkan dari sisi yang bahkan Lilith sendiri sulit untuk menjelaskannya.

Dia melihat Naruto itu seperti Jack In The Box yang kadang kala mengeluarkan wujud yang baik dan kadang menunjukan wujud yang mengerikan. Namun itulah yang membuat Lilith penasaran, serta kemampuan yang dimiliki oleh pemuda kelahiran jepang itu sudah cukup untuk membuat Naruto lebih dari pantas berdiri di sampingnya.

Mereka berdua masuk kedalam taksi yang telah menunggu mereka semenjak dari arena airsoftgun siang tadi. Dan kini mereka sedang pergi menuju tempat yang di rekomendasikan oleh dokter yang memeriksanya tadi siang.

"Ngomong-ngomong, tempat seperti apa yang akan kau datangi?" Lilith memecahkan keheningan yang terjadi semenjak taksi itu berjalan. Sementara Naruto masih saja melihat awan biru dibalik kaca jendela taksi itu. "Sebuah institut penelitian teknologi. Selain itu, kenapa kau masih saja mengikutiku, hah?"

"Setiap orang memiliki rahasia masing-masing bukan, jadi anggap saja alasannya adalah rahasia yang kau sendiri tidak perlu mengetahuinya," ucapnya dengan senyuman terbaiknya.

Naruto mendengus. Entah kenapa perempuan ini mengingatkannya pada sosok ketua OSIS berkacamata itu. Yah, meskipun sifat mereka berbanding 180 derajat. Namun satu hal yang pasti, dia meyebalkan.

Tak berselang lama taksi itu berhenti di depan sebuah gedung megah dengan nama FA Corp di depan gedungnya. Pada dokumen yang di berikan oleh dokter siang tadi mengatakan jika institut ini mengembangkan sebuah alat bantu berpikir semacam kecerdasan buatan yang dapat menggantikan beberapa fungsi dari otak.

Dan sepertinya itu merupakan sebuah berita yang sangat baik bagi Naruto. Jika bagian otaknya yang rusak itu di ganti dengan alat itu, mungkin dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan resiko rusaknya otak Naruto pada saat berpikir dengan keras maupun membuat strategi yang matang.

Lilith menatap takjub perusahaan didepannya. Dia memang sering melihat gedung-gedung besar seperti ini di eropa, namun desain arsitekturnya yang uniklah yang membuatnya takjub.

"Besarnya... eh Naruto tunggu!" Teriak Lilith saat menyadari bahwa Naruto telah berjalan masuk kedalam ruangan.

Naruto menunjukan tanda pengenal serta memberitahukan tujuannya kesini pada resepsionis. Dan setelah itu dia di suruh masuk saja kedalam karena orang yang sedang dia cari sedang ada di dalam ruang pengerjaan.

Di sana berdiri seorang pria paruh baya berambut hitam dengan bagian depan yang berwarna pirang. Serta sebuah setelan jas hitam selayaknya bos perusahaan pada normalnya. Keringat menetes saat mengetahui siapa orang itu.

"Teh... Azazel. Apa yang kau lakukan di sini?"

Azazel yang merasa dipanggil namannya menengok kebelakang dan menunjukan ekspresi seperti orang yang melihat hantu di siang bolong.

"Naruto! Kenapa kau ada disini?" Tanya balik Azazel.

"Itu yang aku tanyakan tadi pak tua!" Teriak Naruto.

Sementara Lilith hanya mampu memiringkan kepalanya bingung melihat kedua orang yang terlihat seperti adu ejek dengan bahasa jepang yang masih sulit dia mengerti. Namun satu hal yang pasti, Naruto mengenal pria ini. Dan jika dilihat dari interaksinya mereka pasti lebih dari sekedar kenalan biasa.

"Permisi. Sepertinya aku punya sebuah pertanyaan di sini?"

Kedua pria itu menengok kearah satu-satunya perempuan di sana. Tanpa banyak omong Azazel langsung mengapit leher Naruto dan berbalik dengan cepat. "Hoy Naruto. Jangan bilang bahwa dia adalah pacarmu?"

"Tentu saja bukan, bodoh!"

"Jadi apa hubungan kalian, atau jangan-jangan kau menculiknya guna memuaskan hasrat terpendamu selama ini, lalu bagaimana dengan si adik Serafall itu?"

"Tentu saja tidak kampret! Dan siapa lagi itu?" jujur Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Azazel. "Itu loh, gadis Sitri itu." Jelas Azazel.

"Kenapa kau harus bawa-bawa Sona sih?" Sungut Naruto kesal.

"Nah.. bukannya kalian pacaran?" Ucap Azazel dengan tampang watados yang membuat Naruto hendak memukul wajahnya. "Pacaran pantatmu! Kami tidak seperti itu,"

Azazel mengangguk paham dengan situasinya. Dia kembali berbalik kearah Lilith yang memandang mereka berdua aneh. "Ahaha... I'm sorry, young lady. Kami hanya sedang membicarakan sesuatu. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sebenarnya apa hubungan kalian?" Tanya Lilith dengan tatapan menyelidik yang menurut Naruto pasti menjurus ke suatu hal yang negatif. Melihat itu Naruto memicingkan matanya kearah Lilith. "Jangan menatapku seolah aku ini Homo. Asal kau tahu aku masih waras!" Tegas Naruto.

"Ahaha... gimana bilangnya ya, bisa dikatakan pemuda ini..." ucap Azazel sembari menepuk bahu Naruto dengan sebuahsenyum lebar. "... Dia adalah muridku," terang Azazel.

Mendengar kata murid mata Lilith langsung berkilat tajam penuh dengan rasa penasaran. "Murid, jadi anda yang mengajarkan Naruto tekhnik menembak itu?" Tanya Lilith dengan antusias.

Kening Azazel mengkerut mendengar pertanyaan Lilith. "Menembak? Apa maksudmu?" Azazel masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dimaksud oleh gadis pirang di depannya.

"Jadi bukan anda yang mengajarkan Naruto menembakan tiga buah peluru sekali ayun dan semuaya tepat sasaran, kalau bukan anda berarti siapa?"

Azazel menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. "Bahkan jika kau bilang begitu, aku tetap tidak mengerti apa yang kau maksud. Ah, begini saja kita pergi ke ruanganku dulu, lalu kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Mereka bertiga pergi ke ruangan yang merupakan tempat kerja dari Azazel. Di sana Naruto berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tempo hari serta masalah yang sedang dia hadapi.

...

Azazel menganggu-angguk pertanda paham dengan penjelasan Naruto. "Aku mengerti pokok masalahnya, jadi di hari pertamamu keluar negeri kau sudah terlibat dalam insiden besar. Dan yang paling penting kau telah menunjukan sedikit warnamu pada dunia, heh."

Azazel menyeruput teh yang baru saja dihidangkan oleh salah seorang bawahanya. "Tapi kenapa kau harus menyembunyikan tentang masalah penyakitmu, kau tahu itu bukan sebuah penyakit sepele seperti panu maupun kudis kau tahu," lanjut Azazel dengan menunjuk tepat di wajah Naruto.

Lilith sendiri masih terlalu kaget untuk menyuarakan pendapatnya akan masalah ini. Dia tidak menyangka jika pemuda itu mengidap penyakit yang bahkan belum teridentifikasi di dunia kedokteran.

Dia memang sempat curiga jika pemuda itu tidak hanya mengalami sakit kepala biasa, karena jika memang begitu tidak mungkin pemuda itu membeli obat penghilang rasa sakit dengan jumlah besar di apotek. Dia memang tidak tahu apa jenis penyakitnya, namun dia tahu jika obat itu adalah obat penahan rasa sakit.

"Karena itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk di katakan, bukan?" Ucap Naruto pelan.

"Aku tahu itu. Jadi bagaimana kalau kita menyebutnya Brain Breaker," usul Azazel tentang nama penyakit Naruto. Namun pemuda itu sendiri tidak menanggapi pernyataan yang dilontarkan Azazel, malah memilih diam termenung.

"Hah, aku yakin kau pasti sedang memikirkannya lagi, bukan? Tenang tidak akan lama lagi alat itu akan selesai, jadi tunggu saja sampai hari itu datang," ucap Azazel.

"Kuharap kau benar, karena jujur aku cukup depresi di sini,"

"Tunggu, memangnya Naruto sedang memikirkan apa?" Tanya Lilith yang merasa seperti terabaikan sejak tadi. Meskipun itu juga salahnya sendiri karena tidak mengeluarkan sepatah katapun dari tadi. "Oh, kau pasti belum tahu. Kurasa si bocah ini sedang memikirkan orang yang paling dia cintai di dunia ini," ucap Azazel sembari menatap Naruto dengan senyum mengejek.

"Oh. Jadi begitu," ucap Lilith pelan sambil menundukan kepalanya. Entah kenapa dia merasa sakit di bagian dadanya. Apa ini yang orang-orang bilang dengan cemburu, mungkin karena ini pertama kalinya dia merasakan rasa sakit seperti itu sehingga membuat air matanya terus mendongkrak ingin keluar.

Azazel yang melihat perubahan ekspresi yang terjadi pada Lilith langsung mengerti jika perempuan ini jatuh hati dengan bocah pembuat onar ini. Dan mungkin dia telah salah mengambil kesimpulan dari apa yang dia katakan tadi.

"Tapi jangan kawatir. Karena dia sudah memiliki keluarga sendiri sekarang, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi." Ucap Azazel.

Mempunyai keluarga? Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Azazel itu, Lilith sungguh makin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria pirang abal-abal itu. Dan dia dapat melihat sebuah kedipan sebelah mata dari pria paruh baya itu. Dan itu membuatnya kesal, secepat itukah perasaannya di ketahui oleh orang lain. Atau bahkan...

Lilith langsung menoleh dengan cepat kearah Naruto yang masih saja termenung dengan tenangnya. Syukurlah karena Naruto terlalu cuek akan keadaan sekitar hingga tidak menyadari perasaan dari Lilith.

"Kuharap kau benar,"

"Kalau begitu besok kau pulanglah ke Jepang," saran Azazel dan itu membuat Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?"

"Aku punya firasat buruk,"

"Maksudmu masalah seputar itu lagi?" Naruto memastikan.

"Kau tahu sendirikan,"

"Kurasa kali ini kau ada benarnya, lagipula kepala sekolah tidak akan membiarkanku bebas lebih lama dari ini," dan hal itu membuat tawa Azazel meledak, "Meskipun dia begitu, dia bukanlah orang jahat," ucap Azazel.

"Hoi, aku lebih mengenalnya dari pada kau tahu,"

Sementara Lilith dibuat tidak mengerti lagi oleh kedua laki-laki di duarangan itu. Inilah yang dia benci dari laki-laki. Selalu tenggelam dalam percakapan mereka sendiri dan melupakan seseorang. Namun itu sama halnya dengan para perempuan yang sibuk ngerumpi tidak jelas.

"Laki-laki.." desah Lilith.

.

-o0o-

.

"Jadi kau benar-benar akan pulang," tanya Lilith yang kini mengantar Naruto ke bandara. Walau sebenarnya dia agak ragu apakah dia mampu mengantar kepergian Naruto sekarang ini.

"Oi oi.. apa-apaan ekspresimu itu?" Melihat Lilith yang menatapnya dengan ekspresi seolah-olah menyuruhnya untuk tidak pualng.

"Pastikan kau makan dengan teratur," saran Lilith

"Aku tahu," balas Naruto dengan malas.

"Jangan bangun kesiangan,"

"memangnya kau ibuku apa," ucap Naruto dengan sebuah keringat menetes di kepalanya.

"Jangan selingkuh,"

"kau pikir aku suamimu!"

"Jangan terlibat pembajakan pesawat lagi,"

"Tolong jangan ungkit-ungkit hal itu lagi,"

"Jangan-"

"Oke-oke aku tahu! Sekarang boleh aku pergi?" Potong Naruto cepat, dia merasa jika percakapan mereka akan menjalur ke arah yang tidak beres dan cenderung merepotkan. "Hihihi.. kurasa kau benar.." Lilith tertawa kecil.

"..Oh iya aku lupa."

"Apa yang kau lupakan?"

Bukannya menjawab Lilith mengulurkan tangannya kedepan. "Senang bertemu denganmu, Naruto," Naruto meraih tangan Lilith yang ter ulur itu. "Aku juga," jawab Naruto sembari menjabat tangan Lilith.

Namun sesuatu yang tidak dia duga adalah Lilith menariknya dengan kuat kebawah hingga membuatnya hampir jatuh, dan..

Cup

Naruto hanya dapat terbengong saat merasakan sensasi kenyal dan basah dari bibir Lilith di pipinya. Dia tidak menyangka jika Lilith akan melakukan itu, dan yang lebih parah lagi di tempat ramai seperti ini. Dengan cepat dia menarik wajahnya dan melihat orang-orang di sekitarnya yang menatap mereka dengan senyum serta beberapa tepuk tangan.

"U-untuk a-apa itu?" tanya Naruto dengan gagap serta wajah merah padam. Berbeda dengan Lilith yang tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. "Apa maksudmu? Hal itu biasa di inggris dan Amerika," jawab Lilith dengan tenang.

"Aku bersyukur lahir di jepang," tukas Naruto pelan. Dia tidak dapat membayangkan jika di jepang memiliki tradisi seperti itu.

"Jika aku datang ke jepang aku akan mampir ketempatmu!" teriak Lilith pada Naruto yang sudah berjalan menjauh.

"Tidak, kau tidak boleh mampir ketempatku apapun yang terjadi!" balas Naruto dengan lidah terjulur.

...

Lilith melihat pesawat Naruto yang sudah dengan sebuah senyum misterius di wajahnya. Tangannya kini memegang sebuah map coklat besar yang memiliki tulisan samar.

Perekrutan Anggota Baru

Lengkap dengan label FBI dan CIA. Lalu pergi dengan sebuah mobil Audi hitam yang terparkir dengan rapi di sana. "Apa semua sudah siap?" Tanya Lilith pada orang yang berada di depan kursi emudi, pria itu berperawakan tinggi besar serta memakai setelan jas hitam dan sebuah kacamata hitam yang membingkai di wajahnya.

"Yes my lady,"

Dengan pelan mobil itu berjalan meninggalkan area parkir, lalu di ikuti oleh banyak sekali mobil polisi di belakangnya.

.

To be continue...

.

Telat? Sudah pasti. Jujur aku mungkin tidak akan meminta maaf atas keterlambatan kali ini, karena aku sendiri tidak dapat meluangkan sedikit waktu untuk mengetik sepatah katapun. Yang sama-sama kelas 3 ataupun setidaknya yang pernah mengalaminya pasti akan tahu apa yang aku maksud.

Tapi satu hal yang jelas, sekarang sudah update. Dan aku tidak tahu apakah ini sudah cukup untuk membalas keterlambatan update selama ini. Tapi aku akan sangat menghargai jika kalian semua mau mengkritik kekurangan saya serta menuangkan pendapat di kolom review.

Oh ya.. bagian perhitungan pada pertarungan antara Naruto dan Lilith itu benar-benar saya hitung, dan bukannya asal tulis. Jadi jika ada kesalahan harap kasih tahu, soalnya aku masih kurang yakin apakah perhitunganku itu sudah benar.

Re for guest...

Guest : Oke...

Shizuka : makasih..

Aaaku : ahaha.. siapa tahu ada suku cadangnya di pasar loak :v

Guest : mungkin kesialan adalah nama tengah naruto :v

Guest : Oke..

Guest : karena itu memang ciri khas naruto. Dimana ada dia pasti ada insiden :v

Genji : tidak, bisa.

Genji : sulit, kalau itu bisa di atur

Damar wula : saya juga berpikiran serupa.

Guest : karena sifat lilithlebih aktif dibandingkan tomoe maupun julie yang cenderung lebih ke pasif.

Asd : siap..

S 4us : sayangnya doamu telah terkabulkan walaupun dalam bentuk dan situasi yang berbeda :v

Mr. Galau : oke gan..

GilaBanGETZ : siap...

Pendy : wah kalau sama vali narutonya pasti akan kalah dengan mudah nih. Dan untuk kakak naruto masih ane rahasiakan :3

TOBI THE GOOD BOY : yang jelas tidak harem.

Kuroneko : sona tidak ikut, dan pairnya tetep kog.

Raihan : oke..

Yadi : tidak. Naruto tidak akan mendirikan harem

Ryal : makasih..

Uzuku2309 : saya senang jika humornya menghibur.

.

Oke see you next time pokoknya...

Epiloge

Lilith sudah tiba di kediamannya dan kini dia tengah berbaring di atas kasur berukuran besarnya. Dia meraih guling di sampingnya lalu memeluknya dengan erat, sangat erat. Lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik guling itu.

Dia tidak menyangka jika tubuhnya reflek langsung menyambar pipi bertanda lahir kumis kucing itu. Walaupun dia mengatakan jika itu adalah hal yang biasa, namun jantungnya masih belum dapat berhenti berdebar dengan cepat.

"Oh iya, aku lupa mengingatkannya.." dengan cepat dia mengeluarkan handphonenya lalu mengetikan beberapa kata di sana.

Jangan lupa matikan Hpmu saat di pesawat, atau kau akan mengganggu jalur komunikasi pesawat, oke? ;)

.

Dan pada keesokan harinya tersiar berita jika sebuah pesawat yang menuju Jepang jatuh di sekitar laut China Selatan.

...

...