"Akan kubiarkan kau mengerti dengan sendirinya, Rose."
Rose memijat-mijat dahinya yang penat. Ia sedang mengerjakan essai Rune Kuno dengan -tumben-tumbennya- tidak semangat. Semakin Rose berurusan dengan Malfoy, semakin Rose merasa kehilangan jati dirinya sendiri.
Kalimat yang diucapkan Scorpius kemarin malam masih terngiang-ngiang di pikiran Rose. Mengerti tentang apa, ya? batin Rose dalam hati. Tidak biasanya Rose tidak mengerti akan sesuatu, dan ketika Rose tahu ada sesuatu yang tidak ia mengerti, ia akan mengejar hal itu sampai dapat (atau setidaknya sampai Rose bisa mengerti).
Aku tidak boleh kalah dari Malfoy, batin Rose penuh tekad.
Kalau Malfoy mengerti, aku juga harus mengerti.
Ambition
By : LumosAsphodel31
Disclaimer : J. K. Rowling
"Jadi tanggal 20 kita sudah mulai latihan. Aku sudah minta izin pada Professor Longbottom agar lapangan Quidditch bisa dipakai tim kita untuk latihan nanti," ujar James saat sarapan pagi di Aula Besar kepada teman-teman dan sepupunya itu.
"Berharap saja semoga Kapten Ravenclaw itu tidak merusak jadwal yang sudah kita buat," ujar Nicholas setelah meminum susu coklatnya, tanda bahwa ia sudah selesai sarapan.
"Ada untungnya juga bertemu dengan si Hwang oriental itu, berdebat dengannya sangat mengasyikkan," celetuk Fred sambil menghabiskan jatah sarapan yang tinggal secuil itu di piringnya. Wajahnya memunculkan senyum jahil penuh kesenangan saat mengingat kembali bagaimana ekspresi gadis berambut hitam ombak itu ketika sedang dibuat kesal.
"Hati-hati, Fred. Bisa-bisa nanti kau naksir dengannya," sahut Lucy.
"Lalu kenapa? Dia tidak buruk juga. Perempuan yang cantik dan emosional itu seksi, tahu," ujar Fred santai.
"Benar sekali, Fred Weasley."
Mereka semua menoleh ke arah Scorpius Malfoy yang sejak entah kapan telah berdiri di dekat tempat mereka sarapan. Dengan refleks, mereka semua mengambil posisi agar duduk menghadap Scorpius. Yang diperhatikan hanya melangkahkan kakinya ke arah -tentu saja- Rose Weasley.
Scorpius telah berdiri sangat dekat dengan Rose Weasley yang kebetulan duduk menghadap ke arahnya tanpa terhalang meja. Rose hanya bisa mendongakkan kepalanya untuk menjangkau wajah Scorpius yang terlampau ke atas.
"Seperti kau, blossom," ujar Scorpius lugas. Ia mengacak-acak rambut Rose dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal pada Rose, sebelum akhirnya melenggang pergi begitu saja.
Hening sejenak.
"Siapa itu blossom?"
Tadi itu Lily Luna Potter yang pertama angkat bicara.
"Apa itu semacam panggilan sayang Malfoy untuk Rose?" tanya Lucy.
"Kau terlalu banyak membaca novel romansa picisan, Lue," tandas Louis.
Mereka kembali duduk ke posisi semula, yaitu menghadap piring sarapan masing-masing.
"Malfoy sialan!" umpat Rose, dilanjutkan dengan umpatan-umpatan lainnya yang lebih baik tidak dituliskan di sini.
"Sabar Rose," ujar Al. Lily bergidik melihat Rose menusuk tumpukan bacon di piringnya tanpa ampun, seakan ingin membunuh sesuatu -atau seseorang- saat itu juga.
"Tidak diragukan lagi. Freddie, Scorpius Malfoy akan menjadi sasaran utama kita dalam rencana kejahilan besar tahun ini," ujar James disertai kilatan jahil di mata dan senyumnya.
"Perencanaan di tempat biasa?" tanya Fred.
"Tempat biasa," jawab James pasti.
"Apa itu 'tempat biasa'?" tanya Louis.
"Rahasia, Louis. Kalau kau tahu, bisa-bisa kau menggrebek kami saat patroli," jawab James disertai kekehan Fred. Mereka pun berhighfive ria. Louis hanya menggelengkan kepalanya.
"Hugs, mau ikut?" tanya Fred.
"Tidak, deh. Aku memang kesal dengan Malfoy, namun aku tidak mau menerima ratusan howler dari Mum kalau sampai dia tahu aku ikut menjahili orang seperti kalian," jawab Hugo jujur. Lily hanya cekikikan.
"Aku akan menenangkan emosiku di perpustakaan. Al, sampai ketemu di kelas Herbologi satu jam lagi," ujar Rose masih dengan nada kesal lalu mengambil tasnya secepat kilat dan berjalan menghentak menuju perpustakaan.
…
Aku benci Malfoy.
Hanya itu yang ada di pikiran Rose saat sedang membaca di perpustakaan.
Malfoy tak tahu diri!
Yah, Rose hanya bisa mengumpat dalam hati melihat tingkah aneh Malfoy sejak kelas 5 ini.
"Terkutuklah kau Malfoy!"
Beberapa orang di dekat Rose langsung menoleh ke arah Rose yang tanpa sengaja mengucapkan umpatannya. Rose hanya menatap tajam ke arah mereka semua, dan yang ditatap pura-pura kembali fokus ke bukunya masing-masing.
Rose tidak tahu saja kalau Scorpius Malfoy, subjek yang sedang dibencinya mati-matian, sedang menatapnya dari meja seberang di perpustakaan itu.
Yup, trik Scorpius hari ini adalah memberi panggilan khususnya untuk Rose. Yang Scorpius dengar sih, perempuan suka nama julukan khusus saat menjalin hubungan. Ide ini sebenarnya terinspirasi dari sosok Jane Zabini yang sering memanggilnya My Scorpie.
"Hey blossom," sapa Scorpius yang sudah mengambil tempat duduk di samping Rose.
Kau lagi kau lagi, batin Rose jengkel.
"Mau apa sih?!" bentak Rose kesal. Wajahnya tidak ia pindahkan sama sekali dari buku di hadapannya.
"Jangan jutek-jutek dong blossom," goda Scorpius. Rose memutar bola matanya.
"Aku tidak kenal siapa blossom," ujar Rose, masih dengan nada membentak.
"Lalu saat tadi kusapa kenapa kau menyahut?" tanya Scorpius dengan seringai khasnya. Wajah Rose memerah saat mendengar hal ini. Perasaan kesal dan malu bercampur menjadi satu.
Rose menutup bukunya dengan sekali hentakan keras. Ia berjalan cepat untuk mengembalikan buku itu dan keluar dari perpustakaan secepat yang ia bisa. Scorpius hanya terkekeh.
Scorpius mulai berpikir bahwa temperamen Rose itu sangat menarik.
…
Hari ini sepertinya bukan hari keberuntungan Rose. Kelas pertamanya, Herbologi, kebetulan sekali berpasangan dengan asrama Slytherin. Otomatis Rose akan melihat si pirang pucat itu lagi di kelas.
"Murid-murid, kalian akan mendapatkan tugas kelompok. Ini tugas yang cukup penting, jadi kira-kira akan memakan waktu 1 bulan lamanya," ujar Professor Longbottom diikuti suara keluhan serentak dari murid-murid di kelasnya itu.
"Tugas kalian adalah mengamati 4 jenis tanaman yang tumbuh di berbagai tempat dan keadaan. Tanaman Urga Urgii yang tumbuh di tepi tebing Hogwarts, tanaman Bloomhorn di tepi Danau Hitam yang hanya muncul ke permukaan jam 4-4.30 sore, Rumput Blackmuddle di kubangan lumpur dekat gerbang masuk Hogwarts dan terakhir, Pohon Yeagress yang biasanya tumbuh 10 meter di dalam Hutan Terlarang," jelas Professor Longbottom. Callista Rivers mengacungkan jarinya untuk bertanya.
"Ya, Ms. Rivers?"
"Bukankah kita dilarang masuk Hutan Terlarang, professor?"
"Memang, tapi saya sudah dapat izin dari Professor McGonagall bahwa anak-anak dari kelas 5-7 boleh pergi ke Hutan Terlarang untuk alasan kegiatan belajar-mengajar, asalkan dengan sepengetahuan guru yang bersangkutan. Jadi kalian tidak perlu takut," ujar Professor Longbottom disertai senyuman ramah. Kalau saja Professor Longbottom tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan.
"Sekarang pembagian kelompoknya," ujarnya lagi, lalu ia memegang sebuah perkamen bertuliskan nama anak-anak yang masuk ke kelasnya saat itu.
"Callista Rivers - Rick Thomas - Vincent Goyle - Jane Zabini."
Rose sudah bisa membayangkan si cerewet Callista, si canggung Rick, si galak Goyle dan si centil Zabini digabung menjadi satu. Berharap saja mereka tidak membunuh tanaman-tanaman itu alih-alih mengamati.
"Rose Weasley - Albus Potter - Scorpius Malfoy - Miracle Beaumont."
Rose hanya bisa membulatkan matanya terkejut mendengar Scorpius Malfoy akan jadi teman satu kelompoknya, berbanding terbalik dengan sikap Scorpius yang tenang-tenang saja, malah sebenarnya ia senang.
Al pun dilanda kekesalan, bisa-bisanya ia sekelompok dengan gadis macam Miracle Beaumont.
Mereka berempat saling berpandangan satu sama lain sampai Professor Longbottom selesai membaca nama-nama kelompok yang telah ia buat.
"Nah, sisa jam pelajaran ini bisa kalian gunakan untuk berdiskusi dengan teman sekelompok kalian. Tugas dikumpul tanggal 14 Oktober 2021. Selamat mengerjakan," ujar Professor Longbottom sebelum duduk di kursi kesayangannya dan membaca majalah tentang tanaman-tanaman sihir terbaru abad ini.
Rose, Albus, Scorpius dan Miracle mulai bergabung membentuk lingkaran. Dengan canggung, tentunya. Kecuali Scorpius, tentunya.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Scorpius santai. Seperti yang tadi dibilang, hanya Scorpius yang tidak canggung.
"Mungkin kita bisa amati masing-masing 1 tanaman. Jadi kita tidak perlu berkumpul bersama," ujar Albus dengan penuh maksud dan tujuan, meski disampaikan dengan cara sesantai mungkin.
"Tidak bisa, Albus. Semua pertanyaan membutuhkan pendapat dari kita berempat. Intinya, akan jadi repot bila kita mengerjakannya pisah-pisah," ujar Rose.
"Tentukan saja jadwal pengamatan kita, aku akan ikut jadwal yang dibuat," ujar Scorpius.
"Aku yang buat," ujar Rose cepat. Scorpius menyeringai.
"Tipe pengatur, ya? Kau semakin menarik, Rose-blossom," ujar Scorpius dengan nada agak menggoda.
"Jaga bicaramu, Malfoy. Bersikaplah profesional," ujar Al intens.
"Anda tidak berhak mengaturku, Tuan Albus Potter yang Terhormat," sindir Scorpius. Mata Scorpius masih tertuju pada mata biru langit Rose yang berkilat penuh kejengkelan.
Miracle hanya tutup mulut sedari tadi. Tipikal Beaumont.
Kenapa aku harus terjebak di kelompok ini, demi Merlin, batin Rose kesal. Ia segera mencorat-coret perkamennya untuk membuat jadwal pengamatan mereka satu bulan ini.
Rose tidak tahu saja, tugas kelompok ini akan mewarnai hari-hari Rose selama 1 bulan ke depan.
…
"Sekelompok dengan Malfoy?" tanya Hugo untuk memperjelas keadaan.
"Yap. Sepertinya tahun kelimaku benar-benar terkutuk," ujar Rose lelah sambil mengistirahatkan kepalanya di sofa ruang rekreasi. Hugo memasang ekspresi tidak suka, Al memasang ekspresi pasrah akan keadaan (lebih karena Miracle daripada Scorpius), sedangkan Lily memasang senyuman manisnya.
"Mungkin kalian bisa jadi teman setelah ini," ujar Lily ceria.
"Astaga Lils. Kenapa kau jadi terobsesi menjadikan Malfoy dan aku sepasang teman, sih?" tanya Rose frustasi. Apa yang dipikirkan Lily sih sebenarnya?
"Rose, tindakan Malfoy belakangan ini jelas menunjukkan bahwa ia ingin mengenalmu lebih lagi," ujar Lily, masih dengan keceriaannya yang khas.
"Tindakan Malfoy belakangan ini adalah tindakan yang membuatku kena stres berkepanjangan, Lils," sahut Rose tidak semangat.
"Ayolah, kalian berdamai saja. Kalian kan sama-sama pintar, mungkin kapan-kapan kalian bisa belajar bersama untuk OWL," ujar Lily lagi, masih tidak menyerah dengan ide 'Membuat Scorpius dan Rose Berdamai dan Berteman'.
"Kenapa tidak kau saja yang berteman dengan Malfoy, Lils?" tanya Rose.
"Aku berteman dengannya, kok. Aku berteman dengan semua orang," jawab Lily dengan yakin. Al dan Hugo menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Lily.
"Kau masih terlalu kecil dan polos, Lil. Bahkan di usiamu yang sudah 13 tahun," ujar Rose jujur. Lily mengerucutkan bibirnya mendengar pernyataan Rose. Hugo hanya menepuk-nepuk bahu Lily pura-pura prihatin.
Akhirnya Lily berhenti merecokinya dan mengobrol dengan Hugo seputar kelas mereka. Rose bersyukur Lily tidak lagi menjelma sebagai dewi pembawa perdamaian yang menceramahi Rose sedari tadi.
…
Hari ini merupakan hari keberuntungan Scorpius, setidaknya begitu menurutnya.
Ia telah menciptakan nickname baru untuk Rose, dan bonusnya ia dipasangkan sekelompok dengan Rose untuk tugas Herbologi sebulan mendatang.
Ia terkekeh sendiri di kamarnya.
Dengan begitu Rose akan semakin sering memikirkanku, batin Scorpius senang.
Yah, ini baru awal permainannya. Baru permulaan.
Haiii! Maaf ya author updatenya lama pake banget! Soalnya kemaren bener-bener mau fokus UN, jadi yah baru bisa nulis pas selesai UN.
Chap ini mungkin chap terjelek yang ada di fic ini, karena author kan udah lama gk nulis fic ini, jadi feelnya udah agak memudar gitu (diharapkan dengan author menulis chap ini feel author jadi bisa seutuhnya lagi). Maka dari itu juga author lama nulis chap ini, karena awalnya udah bikin selesai, tapi gk sreg, akhirnya diganti deh sama yg dipublish ini :)
Kebanyakan curcol ya? Intinya gitu deh.
Dan sambut nama author yang baru! #plakk Author ganti nama nih dari RenaKudo-chan jadi LumosAsphodel31, bisa dipanggil LA31 untuk singkatnya.
So, review?
