- For You –

Cast: Hunhan slight Sulay

Genderswitch, Typos, No bash and plagiarism

"Iya kau akan menemaniku ke Pulau Jeju sekitar satu minggu" jelas Sehun yang semakin membuat Luhan membulatkan matanya terkejut. Sehun tau jika Luhan pasti akan menolak ajakannya ini.

"Tapi kenapa Tuan? Maksudku bukankah aku tak ada hubungannya dengan pekerjaan anda Tuan?" Luhan berusaha menolak dengan cara yang halus. Ia sebenarnya ingin sekali ikut ke Pulau Jeju yang dari beberapa orang katakan Pulau Jeju adalah surganya orang ke Korea. Namun ia juga masih ingat pada Yixing yang berada di rumah Junmyeon yang menurut Luhan seperti penjara bagi kakaknya.

Sehun tersenyum licik, ia memang menunggu Luhan bertanya hal ini. Karena ia telah menyiapkan jawabannya. "Kau memang tak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Tapi kau ada hubungannya dengan Haowen" Luhan semakin tak mengerti dengan yang dikatakan majikannya itu.

Tau jika Luhan akan membela diri, Sehun segera berkata lagi. "Aku tak akan bisa jauh dari Haowen untuk satu minggu lamanya Luhan. Jadi aku memutuskan akan membawa Haowen ke Pulau Jeju. Jika Haowen ikut bersamaku, kau – " ucap Sehun sambil menunjuk Luhan dengan jari panjangnya.

"Otomatis juga harus ikut untuk mengasuh Haowen" lanjut Sehun yang Luhan tau bahwa ia tak akan bisa membantah ucapan Tuannya itu. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk pasrah.

"Bagus. Kalau begitu suapi Haowen agar ia bisa meminum obatnya" ucap Sehun yang membuat Luhan berdiri lalu membungkuk sopan dan menjauh dari ruang keluarga Oh.

Luhan berjalan ke ruang televisi untuk menyuapi Haowen sambil menemani Haowen menonton acara kartun kesukaannya. Luhan mendudukkan Haowen di sebuah kursi khusus bayi. Itu jelas akan mempermudah saat menyuapi Haowen.

"Ayahmu adalah orang yang ku kenal paling egois setelah Junmyeon tentu saja" kesal Luhan sambil menyendokkan bubur kacang merah ke mulut Haowen. Mulut Haowen terbuka lebar untuk menerima suapan Luhan.

Suapan demi suapan yang Haowen terima bebarengan dengan sumpah serapah yang Luhan lontar begitu saja dari mulut manisnya. Dan tentu saja sumpah serapah itu ia tujukan untuk Ayah Haowen.

"Dasar monster, bagaimana aku bicara dengan Yixing Jie?" ada satu orang yang tersenyum di belakang Luhan ketika mendengar serapah yang ia tau bahwa serapah itu jelas ditujukan padanya.

"Papa..pa" racau Haowen sambil menjulurkan tangannya ke udara. Luhan terkesiap mendengar racauan bayi di depannya.

"Hei kau sudah menyebutkan kata selain 'nyanyanya' ya" Luhan bertepuk tangan kecil seolah memberi penghargaan bagi Haowen.

"Papapapa" tangan Haowen kembali terjulur ke atas, pandangan Haowen pun tak tertuju pada Luhan. Ia lebih suka memandang sesuatu yang berada di belakang Luhan. Luhan akhirnya memutuskan menoleh untuk mengikuti arah pandangan Haowen.

Betapa terkejutnya Luhan ketika melihat Sehun tengah berdiri di belakangnya. Sehun memandangnya dengan senyuman miring seolah sedang memberi Luhan pukulan telak. Sehun mendekat lalu mengangkat Haowen dari kursi bayinya. Tawa Haowen sempat keluar dari bibir pucat nan kering milij Haowen.

"Anak monster sepertinya sudah selesai makan ya" Sehun dengan jelasnya menekan kata monster untuk menyindir Luhan. Dan Luhan tertunduk merutuki kebodohannya.

"Apakah ada yang ingin kau bicarakan dengan monster sepertiku?" Luhan mendongak cepat lalu menggelengkan kepalanya cepat pula.

"Cepat bicarakan padaku" paksa Sehun.

"A – aku hanya keberatan soal pergi ke Pulau Jeju Tuan. A – aku memiliki kewajiban untuk melindungi kakakku" Luhan tergagap menjawab pertanyaan Sehun.

"Aku akan memberi keringanan padamu. Kau bisa ke rumah kakakmu selama tiga hari berturut-turut sebelum kita ke Pulau Jeju. Dan aku akan bertemu dengan kakakmu secara langsung untuk meminta izin" Luhan menjatuhkan rahangnya begitu saja. Ia memandang takjub kepada Sehun. Bisa-bisanya ia kali ini tak mendapat gerutuan dari Sehun.

.

.

Sore ini, tepatnya setelah Sehun pulang dari kantor. Ia mengajak Luhan dan Haowen untuk pergi ke rumah Yixing. Tentu saja ia ingin menepati janjinya meminta izin kepada Yixing untuk membawa Luhan ke Pulau Jeju.

"Setelah perempatan, kita akan berbelok ke kanan. Rumah kakakku berpagar kayu di sebelah kiri" jelas Luhan yang sedang memangku Haowen di samping Sehun.

Sehun hanya mengangguk lalu membelokkan kemudinya sesuai dengan instruksi yang Luhan katakan. "Aku tak menyangka jika kakakmu memiliki rumah di komplek yang sama denganku" ucap Sehun.

"Dan aku bersyukur karena itu" ucap Luhan sambil mengalunkan tawa merdunya.

"Itu rumahnya" tunjuk Luhan ke arah sebuah rumah besar berpagar kayu. Sehun segera menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.

Luhan membuka pintu mobil Sehun dan membawa Haowen masuk tanpa memperdulikan Sehun. "Jie" panggil Luhan sambil mengetuk pintunya. Luhan tersenyum mendengar derap kaki yang mendekat ke arahnya. Sehun terlihat mendekat ke arah Sehun dan berdiri tepat di belakangnya.

"Luhan?" Yixing tampak terkejut melihat kedatangan Luhan sore itu. Tak biasanya Luhan datang sore itu, terlebih dengan seorang bayi di dekapannya dan seseorang lelaki tampan di belakangnya.

"Iya Jie, ini aku" ucap Luhan dengan nada ceria. Sedangkan Sehun memandang Yixing dengan tatapan mempesona dan sopan.

"Dia siapa Lu?" cicit Yixing sambil mengarahkan dagunya ke Sehun. Luhan menengok ke belakang sekilas lalu menatap ke arah Yixing kembali.

"Biarkan kami masuk dulu Jie" Yixing tersadar dengan cepat ia menggeser tubuhnya agar Luhan dan laki-laki itu bisa masuk.

Luhan kemudian mengajak majikannya itu duduk di ruang tamu. Mata Sehun menyusuri seluruh bagian rumah Yixing. Ia terpaku melihat sebuah foto berukuran cukup besar yang menampilkan kakak Luhan bersama seorang lelaki yang tak asing baginya. Ia menyipitkan matanya agar ia bisa melihat lebih jelas siapa lelaki itu.

Yixing menyusul lalu duduk di samping Luhan. "Jie, ini majikanku. Oh Sehun" ucapan Luhan membuat Sehun menunduk hormat kepada Yixing.

"Ah aku Xi Yixing. Kakak Luhan" ucap Yixing.

"Dan ini adalah Oh Haowen, anak majikanku" Luhan mengarahkan tangan Haowen ke arah Yixing dan dengan cepat Yixing menyambut tangan Haowen.

"Tak biasanya kau datang pada sore hari Lu?" tanya Yixing sambik mengelus perutnya yang terasa sedikit kram.

"Sebenarnya aku yang meminta Luhan agar bisa bertemu denganmu" jawab Sehun yang membuat Yixing menatapnya bingung.

"Lu kau tak berniat menjodohkanku dengan majikanmu seperti katamu dulu bukan?" Luhan melototkan matanya seakan berkata – berhenti – mengucapkan – lelucon – itu – Jie.

"Maksudmu?" Sehun tampak tak mengerti dengan ucapan Yixing. Dan dengan polosnya Yixing menjelaskan bahwa Luhan berniat menjodohkannya dengan Sehun. Sehun tersenyum menggoda ke arah Luhan yang sempat melihat ke arahnya.

"Ehem – Jadi aku kesini karena aku akan ke Pulau Jeju selama satu minggu Jie" jawab Luhan seolah ingin mengalihkan arah pembicaraan.

"Ah ya, aku ingin meminta izin untuk membawa Luhan ke Pulau Jeju selama satu minggu. Aku khusus meminta izin padamu karena Luhan berat untuk meninggalkanmu. Kau bisa menelpon Luhan sebanyak yang kau mau. Dan Luhan juga bisa ke rumahmu selama tiga hari berturut-turut" jelas Sehun yang dijawab tatapan antusias dari Yixing.

"Ah tak perlu tiga hari berturut-turut, kau harus istirahat Luhan. Aku tak ingin kau kelelahan disana"

"Tapi Jie – "

"Jie tidak apa-apa, tenang saja"

"Berjanjilah jiika kau membutuhkan apa-apa segera hubungi aku. Apalagi jika Junmyeon – mu itu berlaku kasar padamu" cerca Luhan.

"Ah ya Junmyeon" ucap Sehun dengan sedikit berteriak membuat Luhan maupun Yixing berjengit kaget.

"Apa kau mengenal suamiku?"

"Ya dia rivalku dalam dunia bisnis. Bisa dikatakan bahwa perusahaanku bersaing ketat dengan perusahaannya" Yixing mengangguk paham.

"Maafkan segala kesalahannya"

"Apa?" ulang Sehun yang tak mengerti ucapan Yixing.

"Aku tau dia pasti orang nenyebalkan bagimu dan perusahaanmu, jadi aku meminta maaf padamu" jelas Yixing sambil menunjukkan senyum malaikatnya. Sehun memang membenarkan segala ucapan Yixing, tapi ia juga tak menyangka jika Yixing akan meminta maaf akan semua yang telah Junmyeon lakukan.

.

"Aku tak menyangka jika kakakmu adalah istri Junmyeon" ucap Sehun yang kini sedang melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.

Luhan yang sedang mendekap Haowen yang tertidur kini mendengus pelan mendengar perkataan Sehun. "Aku juga tak menyangkan. Bisa-bisanya kakakku mengandung anak dari monster itu" sesal Luhan yang tak mau menaikkan ucapannya karena bisa saja ia akan membangunkan Haowen.

"Kau suka sekali ya mengganti nama orang menjadi monster" Luhan memandang Sehun dengan tak enak hati karena ia juga sempat mengumpat monster kepada Sehun.

"Bahkan kau mendoakan bahwa anak kakakmu menjadi monster? Kau ini benar-benar ya, aku tak habis pikir" Sehun berakting seolah ia sedang memijit pelan pelipisnya.

"Tidak tidak, aku tak pernah bermaksud seperti itu" Sehun terkikik pelan melihat Luhan tergopoh seperti itu.

"Kau akan pergi ke rumah kakakmu selama tiga hari berturut-turut?" tanya Sehun lagi.

"Tidak, aku mungkin akan lebih baik jika beristirahat dan membuat Haowen lebih sehat sebelum ia pergi ke Pulau Jeju. Aku masih bisa menelpon atau video call mungkin" ucap Luhan sambil membelai punggung Haowen lembut.

"Lagi pula jika aku kesana terus, aku akan muak melihat tampang Junmyeon"

"Kenapa kau sepertinya sangat membenci dia?" tau jika Luhan akan bercerita, Sehun memutuskan untuk tidak segera pulang. Ia memutuskan untuk berputar-putar terlebih dulu mencoba mengulu waktu.

"Karena ia bajingan Tuan. Ia lelaki yang paling tak bertanggung jawab. Jika dibandingkan denganmu, Ia kalah jauh. Kau masih mau meluangkan waktumu untuk Haowen, bahkan kau khawatir ketika Haowen masuk rumah sakit" ada rasa senang yang menyelinap masuk ke dalam hati Sehun saat tanpa sadar Luhan memuji dirinya.

"Aku juga bajingan bila aku boleh mengingatkan Luhan"

"Tidak Tuan. Dia bajingan, benar-benar bajingan. Ia... ia memperkosa kakakku" ucap Luhan ragu. Sehun tampak terkejut mendengar pernyataan Luhan itu namun ia mencoba menutupi keterkejutannya. Sehun memilih diam saat Luhan kembali berucap.

"Junmyeon memang bertanggung jawab tapi itu terpaksa. Ia melakukan itu semua semata-mata hanya karena paksaan kedua orang tuanya. Ia hanya peduli dengan wanita berambut merah, bukan dengan kakakku. Maka dari itu aku ingin sekali membantu Kakakku bercerai dengan Junmyeon" jelas Luhan panjang. Mendengar penjelasan Luhan membuat Sehun sedikit menaruh simpati dengan apa yang ia dan kakaknya dapatkan selama ini. Bagaimana bisa Junmyeon berlaku setega itu terhadap wanita sebaik Yixing?

"Kau ingin membantu dengan cara apa?"

"Dengan cara bekerja dengan baik di rumahmu agar aku mendapatkan bayaranku. Setelah aku menabung semua bayaranku, aku akan meminta bantuan salah satu pengacara untuk memisahkan Yixing Jie dan Junmyeon" Luhan menjelaskan semua rencananya dan itu cukup bisa membuat Sehun takjub dengan kegigihan Luhan.

"Tuan, kenapa kita berputar-putar sedari tadi?" tanya Luhan yang baru sadar jika ia belum sampai ke rumah majikannya yang tak terlalu jauh dari rumah Yixing. Sedangkan Sehun hanya menggaruk tengkuknya ragu.

.

.

.

Hari ini Luhan, Sehun beserta Haowen berangkat ke Pulau Jeju menaiki pesawat. Luhan yang memang takut dengan ketinggian hanya bisa menutup mata sambil memegang lengan Sehun selama perjalanan. Sehun hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah Luhan ini. Bahkan dengan ketakutannya itu Luhan menitipkan Haowen ke majikannya, sedangkan ia lebih senang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Luhan sebenarnya aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya padamu" Luhan yang sedang berjalan beriringan dengan Sehun menolehkan kepalanya dan menatap Sehun bingung.

"Ada apa Tuan?" tanya Luhan sambil membenarkan letak Haowen yang ada di gendongannya.

"Karena kita berangkat saat masa-masa liburan, jadi kita kehabisan hotel. Dan beruntungnya kita bisa mendapatkan sebuah kamar hotel disini" Luhan menghembuskan nafasnya lega, namun sedetik kemudian ia diam. Lalu menatap Sehun dengan tatapan terkejut.

"Se – sebuah?" tanya Luhan tergagap. Dan dapat dilihat Luhan bahwa Sehun mengangguk dengan wajah penuh dengan penyesalan.

"Kita. Aku, Haowen dan kau akan berada dalam satu kamar"

TBC

Oke aku akan meminta maaf soal chap kemarin yang begitu banyak typo entah kenapa chap itu sebenarnya lengkap saat aku ngetik di hp, tapi begitu aku upload lewat pc kenapa beberapa jadi hilang. Aku emang ga sempet meriksa lagi sih saat di pc, karena aku udah yakin sama koreksian aku yang ada di hp, jadi aku minta maaf atas ketidaknyamanan yang tidak sengaja aku buat

Untuk semua yang telah mendukungku dan cerita ini aku ucapkan terima kasih. Yang sudah mereview, memfav, atau memfollow satu kata buat kalian sarranghae :*

Aku emang ga nulisin balasan komentar kalian tapi aku baca, aku baca setiap review kalian. Dan ga jarang aku juga senyum-senyum sendiri hehe

Baiklah, silahkan baca dan jangan lupa review lagi ya biar aku semangat :*