M
.
.
.
Baekhyun mulai berpikir jika dirinya akan selalu menjadi si pasrah ketika Chanyeol mendominasi. Dia harus memiliki banyak tenaga dimana meladeni segala nafsu Chanyeol tidak hanya butuh satu pencapaian. Karena ketika Chanyeol berkata akan masuk, Baekhyun bisa merasakan gairah lelaki itu yang bahkan lebih luas dari samudera.
Sesuatu yang keras dan tumpul mulai menelusup perlahan di dalam pusat kewanitaan Baekhyun. Jika di percintaan sebelumnya Baekhyun tidak sanggup mendeskripsikan bagaimana rasanya kelelakian yang merobek pertahanan sensitif Baekhyun, kali ini Baekhyun mulai menemukan berbagai pendeskripsian tentang semua itu.
Sakit, memang. Tapi kepasrahan Baekhyun dan cara Chanyeol yang mulai masuk dengan tempo yang dibuat sangat hati-hati, yang tercipta dari semua itu hanya kumpulan kabut kenikmatan yang membuat nafas tercekat.
"Sakit?" Chanyeol bertanya ketika beberapa kali ia melihat Baekhyun menahan pekikan atas kewanitaannya yang telah dimasuki.
Wanita itu menggeleng sedikit—hanya berkata jika memang sakit maka Chanyeol tidak akan memaksa. Karena menyakiti Baekhyun secara fisik mulai mendapat teguran keras dari hatinya.
"Lanjutkan. Aku tidak apa. Ah..." begitu saja hingga desakan terkahir kelelakian Chanyeol membuat Baekhyun melepas desahan.
"Kau yakin? Aku tidak ingin memak—"
Lalu yang terjadi adalah Baekhyun yang memiliki keberanian di atas langit ke tujuh dengan meraup rahang Chanyeol dan membubuhi sebuah ciuman panas di bibir. Cara Baekhyun melakukan masih terasa sedikit amatiran, tapi Chanyeol sudah terlanjur dibalut gairah karena merasa Baekhyun mulai membuka pintu agar Chanyeol bisa bergerak atas gairahnya.
Sebelah tangan Chanyeol mulai merambat ke belakang tubuh Baekhyun dan membuat wanita itu sedikit mengangkat tubuh di sela-sela ciuman mereka. Bentuk rabaan Chanyeol yang menyengat membuat Baekhyun sedikit terengah dan secara otomatis membuat tangannya merangkul penuh leher Chanyeol.
Chanyeol masih belum menunjukkan dominasinya secara penuh. Dia masih ingin menjamah Baekhyun dengan meningkatkan sengatan dari tangannya yang bisa membuat Baekhyun melenguh.
Sebelah tangan Chanyeol yang lain mulai menelusuri payudara Baekhyun yang padat. Dia suka berada di sana untuk sekedar meremas atau memberi belaian selembut kapas pada tiap inchi payudara Baekhyun. Lenguhan Baekhyun di nada terendah menjadi pemicu gairah yang semakin meninggi. Untuk itu, Chanyeol mulai bermain sedikit intim pada puting Baekhyun yang menegang. Dengan menggunakan ujung kuku Chanyeol lalu menggesek puting Baekhyun adalah hal yang membuat ciuman itu terlepas. Baekhyun mulai kehilangan akal karena gelenyar-gelenyar gairah mulai menguasainya. Baekhyun merintih, melenguh, dan sedikit berteriak ketika ujung kuku Chanyeol memperlakukan payudaranya sedemikian dalam. Seperti sebuah sentilan pada biji jagung, tapi hal itu bisa membuat puting Baekhyun mengeras dan bisa dipastikan jika rintihannya akan semakin dalam.
Kelelakian Chanyeol belum sepenuhnya bekerja, tapi Baekhyun sudah mendapat pencapaian pertama setelah sebelumnya dinding-dinding kewanitaan Baekhyun melakukan remasan. Chanyeol mulai berpikir untuk suka dengan cara Baekhyun melepas nafas yang berkontaminasi dengan desahan. Matanya juga mulai terpejam ketika sesuatu yang hangat mulai mengucur di bawah sana dan hal itu membuat Chanyeol tersenyum puas.
"Kau sangat hangat, Baekhyun."
Hanya semu merah yang bisa Chanyeol lihat dari wanita di bawahnya. Dia senang mendapati reaksi Baekhyun yang sebegitu terbuka dengan pencapaiannya.
Chanyeol menyibak anak rambut Baekhyun di sekitar wajahnya. Dia suka melihat Baekhyun dengan jarak sedekat ini karena jauh dalam dirinya mulai bergetar untuk semakin memperdalam sesuatu bernama cinta.
"Kalungkan kakimu, Baek."
Baekhyun tampak ragu melakukannya. Menjadi pihak bawah membuat Baekhyun takut mengambil setiap pergerakan. Dia tidak ingin mengganggu gairah Chanyeol jika ada sesuatu yang salah dilakukan.
"Jangan ragu."
Baekhyun terlalu lama memutuskan sedang Chanyeol butuh cepat untuk segera memulai. Untuk itu, dia menuntun kaki Baekhyun untuk melingkar di pinggangnya sehingga penyatuan mereka semakin menuju pada ujung kenikmatan.
Chanyeol bergerak—memulai perlahan agar Baekhyun mulai terbiasa. Chanyeol tidak melakukannya secara menuntut karena dia berharap ini semua akan sama-sama merasa terbang. Untuk itu, Chanyeol akan mempermanis keadaan dengan mencium bibir Baekhyun dan menggoda setiap inchi rongga mulutnya. Tanggapan Baekhyun cukup menyenangkan, dimana ketika Chanyeol secara aktif menyapu atau menggigit bibir Baekhyun, wanita itu memberi reaksi dengan menghisap bibir bawah Chanyeol.
Titik terdalam Baekhyun mulai terjamah saat wanita itu melepas pagutan Chanyeol dan melenguh. Dia mulai lupa bagaimana dunia bisa berputar, bagaimana oksigen menjadi kebutuhan manusia, dan dia juga lupa bagaimana hatinya mulai menjamah sesuatu bernama cinta.
Keduanya mengerang, menyesap indahnya berbagi kehangatan sampai Baekhyun kembali mereaksikan dinding kewanitaannya untuk mencengkeram darah pemanas Chanyeol.
Wanita itu sampai dan Chanyeol masih melakukan proses untuk mencapai kepuasannya. Ketika Baekhyun mulai lengah dengan deru nafas memburu, maka Chanyeol baru memulai hentakan yang memabukkan.
Lalu ketika Chanyeol merasa penuh dan gairah Baekhyun kembali tergoda, dia jatuh dengan kepuasan yang sama memburunya dengan nafas.
"Kau...luar biasa, Baek."
Baekhyun tersipu. Dia tidak tau jika berbagi desahan dengan Chanyeol akan senikmat ini. Karena ketika keduanya kembali selaras dengan kesadaran mereka, Chanyeol sudah kembali bangkit. Tidak hanya itu, posisi Chanyeol yang sekarang duduk dan menarik Baekhyun untuk bangun untuk berada di atas pangkuannya, penjemputan kepuasan malam ini akan berakhir panjang.
Baekhyun berniat menarik selimut untuk tubuh polosnya dan meminta waktu untuk sedikit istirahat, pinggangnya justru di tarik kembali dan titik terdalam kewanitaan Baekhyun mulai tersentuh kembali.
"AAAHHHH.."
.
.
Bagaimana mendeskripsikan semua ini? Sebenarnya Baekhyun terlalu takut untuk bersemu dengan apa yang sudah terjadi semalam. Entah sudah berapa pencapaian yang dia dapat, tapi yang jelas Baekhyun sadar akan gairah Chanyeol yang tidak pernah putus.
Empat jam yang lalu mereka baru selesai dengan persetubuhan panas. Jangan ditanya bagaimana keadaan ranjang saat ini, aroma kuat sperma juga peluh menyeruak dan tidak ada yang bisa menoleransi.
Setelah mengerang untuk kesekian kalinya didalam kewanitaan Baekhyun, Chanyeol berguling kesamping dengan nafas tak karuan. Seluruh tenaganya seakan tak berbatas ketika remasan dinding pusat kewanitaan Baekhyun bergerak secara konstan. Dia menginginkan persetubuhan lagi, tapi melihat keadaan Baekhyun yang sudah lemah tak bertenaga, Chanyeol memutuskan untuk mengakhirinya.
Baekhyun sudah tertidur pulas dan Chanyeol mulai mengangsur selimut untuk menutupi tubuhnya juga tubuh Baekhyun yang masih polos.
Dan pagi ini, setelah merasa tubuhnya hampir remuk beribu-ribu, Baekhyun membuka mata dan melihat keadaan kamar masih gelap. Tirai belum tersingkap sehingga matahari masih tertahan di luar sana.
Dia mengerang sebentar sebelum akhirnya sadar dimana dirinya kini berada. Ya, dia berada di atas ranjang penuh aroma sperma dengan sebuah pelukan dari lengan panjang tak berkain. Ingatan Baekhyun masih cukup kuat tentang ketelanjangan tubuhnya ini, untuk itu Baekhyun hanya diam sebentar dan memperhatikan bagaimana wajah tampan yang terpahat sempurna itu berada sangat dekat.
"Tidurlah. Masih pagi." Kata Baekhyun saat si tampan berusaha keras membuka mata. "Mau sarapan apa?"
"Mau memasaknya untukku?"
"Aku ahli membuat roti bakar dan susu coklat."
"Susu lain boleh?"
"Hm?"
Chanyeol mengangsur tubuhnya untuk mempererat pelukan pada Baekhyun dan diam-diam tersenyum dengan percakapan pagi yang menyenangkan seperti sekarang.
"Roti bakar dan susu coklat, jangan terlalu manis." Kata Chanyeol.
"Ada yang lain?"
"Kiss."
"Ya!"
Dan semu bodoh itu kembali muncul—membuat Baekhyun sedikit kepanasan meski suhu ruangan cukup dingin menyapu tubuh polosnya.
.
Mandi dewi Baekhyun memakan waktu hampir 45 menit. Baekhyun suka bagaimana tekstur hangat air dalam bathtup yang bergabung dengan harum mawar merah membasahi kulitnya. Dua hal itu membuatnya merasa sedikit egois untuk meraup kenyamanan lebih banyak dari yang lain.
Beberapa kali Baekhyun menelisik kulit sekitar dadanya. Warna keunguan pekat nampak di beberapa tempat dan siapa saja yang melihat itu akan begidik ngeri, atau pada akhirnya akan berpikir tidak senonoh. Untuk bagian ini Baekhyun lupa seberapa kuat Chanyeol menghisapnya hingga berbekas sangat parah.
Kesialan dari segala hal sial di dunia ini adalah ketika Baekhyun tidak mungkin mengenakan baju tertutup ketika cuaca sedang panas. Benar-benar sialan!
Meski kemungkinan terbesar Baekhyun keluar dari labirin Chanyeol hanya sebesar biji kacang hijau, tapi di rumah ini tidak hanya hidup satu nafas. Ada banyak maid juga pion-pion keamanan yang dipekerjakan Chanyeol sedang berlalu-lalang. Akan sangat malu jika mereka mengetahui bercak keunguan yang terpampang nyata di sekitar leher.
Dan sebenarnya Baekhyun tidak tau bagaimana harus meletakkan keterkejutannya. Keberadaannya di labirin Chanyeol sedari awal menjadi hal yang tidak terduga sehingga tidak ada hal apapun yang bisa disiapkan. Contohnya pakaian.
Lemari berpintu jati mewah itu menampilkan sederetan dress-dress yang cukup elegan. Baekhyun tidak terbiasa dengan pakaian seperti itu. Dia lebih suka sesuatu yang lebih santai dan tidak membutuhkan kesulitan yang berarti, tapi tidak ada pilihan lain yang bisa dipilih. Jadilah Baekhyun memilih satu untuk mengawali paginya dan...
"Pagi, Baekhyun."
...tubuhnya spontan terlonjak saat dipantulan cermin dari pintu lemari menampilkan sosok lelaki dengan dada bidang dan selimut mengepul sekitar perut sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ku kira hantu."
Lelaki itu tersenyun kecil sambil memeriksa ponselnya.
"Kenapa bangun? Jam kerjamu masih 2 jam lagi, kan?" Baekhyun mendekat sambil menyerahkan sebotol air mineral yang selalu tersedia di meja ujung.
"Tadi aku mencium bau wangi dan, ya...aku tertarik untuk melihat sumber kewangian itu." Baekhyun terkekeh untuk perkataan itu. "Mau pakai warna biru?"
"Dress ini?"
"Ya. Ku kira kau suka warna pasta."
"Bosan." Kata Baekhyun sambil menimbang sebentar potongan dress yang ia bawa. "Aku ingin terlihat mencolok di mata orang-orang."
"Mau kabur lagi?"
Satu cubitan mampir di perut Chanyeol dan membuat si empunya perut berotot itu harus meringis kesakitan. Cubitan Baekhyun sungguh terlatih karena dalam sekejap warna keunguan samar mulai muncul.
"Bisakah berhenti membahas hal itu?! Atau kau ingin aku benar-benar kabur lagi?!"
"Ku pastikan akan kembali gagal. Radarku cukup bagus untuk menemukanmu."
Baekhyun berdecih lalu meninggalkan si lelaki bangun tidur untuk mengenakan pakaiannya. Tapi Baekhyun menemui kesulitan dengan resleting di belakang—tangannya tak cukup panjang untuk menjangkau.
"Biar ku bantu." Sekali lagi Baekhyun cukup terkejut dengan kemunculan Chanyeol yang sudah bersandar di pintu ruang ganti. Beruntunglah lelaki itu sudah mengenakan celana tidurnya. Karena jika tidak...jika tidak...ah, sudahlah. Jangan dilanjutkan atau Baekhyun akan kembali tersipu dengan bodohnya.
Baekhyun hanya butuh bantuan pada resleting, bukan sentuhan-sentuhan halus di punggung yang membuatnya harus mengepalkan tangan karena gelisah. Dia mengakui tingkat gairah Chanyeol yang parah, tapi bisakah Chanyeol berhenti sejenak? Rasa lelah semalam masih menempel dan Baekhyun tidak mau pagi ini dia kembali tak berdaya karena gairah Chanyeol.
"STOP!" Baekhyun berteriak di balik nafasnya yang terengah. Sedang Chanyeol, entah jenis setan pagi apa yang merasukinya hingga dia hanya bisa berkedip dengan raut wajah polos. "Aku tidak ingin mandi dua kali pagi ini, Chanyeol! Lebih baik kau cepat-cepat mandi dan akan ku siapkan sarapan."
Setelah mendorong pelan tubuh Chanyeol yang ada di belakangnya, Baekhyun cepat-cepat pergi bersama semu merah pipinya. Dia tidak sanggup bertahan lebih lama di sana atau pagi ini dia harus mendesah di bawah kuasa Chanyeol.
.
.
Sudah pukul delapan malam dan Baekhyun baru saja selesai dengan mandi dewinya. Satu jam lagi jam kerja para maid dan pion penjaga di rumah Chanyeol akan berakhir, itu tandanya keadaan rumah akan hening—tidak ada kesibukan yang berarti.
Diam-diam Baekhyun mulai menanti seseorang menyibak pintu kamarnya dan meminta untuk melepas lilitan dasi lalu berakhir dengan meminta menyiapkan air hangat untuk mandi. Sejak persetubuhan panjang malam itu, Baekhyun tidak bisa berbuat banyak kecuali pasrah pada hatinya. Dia tidak berniat melawan ketika kelembutan yang Chanyeol janjikan nyatanya sangat menyenangkan.
Tapi ini sudah pukul delapan, bahkan lewat sepuluh menit. Tidak ada lelaki yang menerobos pintu kamarnya. Apa Chanyeol lembur? Ya, itu bisa saja mengingat Chanyeol memiliki jabatan pemimpin tertinggi di kantornya. Dan untuk itu, Baekhyun kembali merasa bosan karena tidak ada yang bisa dia lakukan. Mandi, sudah. Makan malam, sudah. Lalu bagaimana setelah ini?
Baekhyun memutuskan untuk turun dan siapa tau ada sesuatu yang bisa dia lakukan. Semisal mengganggu Kyungsoo di dapur atau mengerjai beberapa pion Chanyeol dengan gaya bos yang sengaja Baekhyun ciptakan ketika mereka berkumpul.
"Mau kemana, Soo?" Baekhyun melihat Kyungsoo dan beberapa maid yang sudah berganti pakaian lebih santai.
"Kami mau keluar sebentar membeli makanan, Nyonya."
"Kalian belum makan? Apa stok makanannya habis?"
"Tidak, nyonya."
"Lalu?"
Para maid itu saling berpandangan dan tidak ada yang berani berkata meski mulut mereka sudah memiliki alasan yang pas untuk pertanyaan Baekhyun.
.
"Lain kali jika kalian ingin makan jajjangmyeon, kalian bisa memintaku untuk membuatkannya." Baekhyun berkata sambil mengupas beberapa kulit bawang. "Aku cukup ahli membuatnya."
Para maid yang membantu mempersiapkan bahan hanya manggut-manggut tidak percaya jika Baekhyun bisa melakukannya. Mereka kira tawanan cantik Tuan besar mereka adalah sejenis wanita manja yang akan merepotkan. Tapi melihat bagaimana Baekhyun tidak segan menyentuh peralatan dapur juga beberapa bahan masakan, mereka cukup senang karena Baekhyun bukan jenis wanita yang rumit. Beruntunglah wahai Tuan besar mereka yang bisa memiliki Baekhyun.
"Nyonya, biar saya saja yang melakukannya." Berbeda dengan para maid yang bangga dengan skill Baekhyun memotong tipis bawang, Kyungsoo sedari tadi gelisah dan merasa tidak enak jika Baekhyun melakukan semua ini.
"Kyungsoo, duduk." Perintah Baekhyun sambil mengarahkan pisau yang ia pegang pada kursi kosong di belakang Kyungsoo.
"Bagaimana jika Tuan Chanyeol marah mengetahui Nyonya memasak untuk kami?" Kyungsoo mengungkapkan ketakutannya.
"Tenanglah. Dia bisa ku atasi. Sebaiknya kau duduk atau bantu aku mencincang daging. Oke?"
Kekhawatiran Kyungsoo hanya serupa jeritan cicak di dinding—tidak didengar dan bahkan terkesan di abaikan. Tapi Kyungsoo bisa apa, dia tidak mungkin membantah lebih lanjut karena Baekhyun dirasa cukup keras kepala.
Baekhyun tidak main-main dengan ucapannya. Dia tidak hanya ahli, bahkan ia sudah sangat tampil profesional mengolah semua bahan yang tersedia hingga menjadi satu olahan mi bersaus hitam. Semua yang ada di dapur terkagum-kagum dengan kemampuan Baekhyun menciptakan visual makanan semenarik ini ditambah dengan aroma sedap yang membuat cacing di perut berdemo.
"Banyak sekali, Nyonya." Seru salah seorang maid. "Kami tidak akan bisa menghabiskan semua ini."
"Kata siapa ini semua untuk kalian?" Baekhyun mulai menuangkan saus terakhir yang baru saja ia angkat dari perapian. "Aku membuatkannya untuk semua orang yang ada di rumah ini."
"B-benarkah?"
"Ya." Jawab Baekhyun mantap. "Panggil semua orang yang ada di rumah ini. Dan, Soo,"
"Ya, Nyonya?"
"Bisa minta tolong ambilkan piring? Aku akan menyiapkan satu untuk Chanyeol."
"Baik, Nyonya."
.
Kemampuan Baekhyun mengolah makanan mendapat apresiasi dari siapa saja yang mencicipinya. Tidak ada sesuatu yang aneh dan semua bumbu tertata pas. Baekhyun cukup senang dengan hal itu dan dia berjanji lain kali akan membuatkannya lagi.
Bukan makanan sekelas steak daging sapi mahal dan bumbu-bumbu yang hanya bisa di temui di supermarket tertentu, hanya jajjangmyeon dengan ketulusan yang diberi Baekhyun pada setiap inchi bahan yang di gunakan. Semua mengakui jika jajjangmyeon Baekhyun adalah yang paling enak.
"Nyonya tidak makan?"
"Aku sudah kenyang melihat kalian makan." Kata Baekhyun sambil tersenyum. "Habiskan semua makanan ini. Jangan sampai ada sisa."
"Siap, nyonya!"
Baekhyun beranjak—meninggalkan para costumer-nya untuk kembali ke kamar sambil membawa piring berisi jajjangmyeon yang dia siapkan untuk Chanyeol. Besar harapan Baekhyun jika Chanyeol juga akan memiliki reaksi yang sama dengan para costumer Baekhyun di bawah.
Namun sepertinya Baekhyun harus memupuk semua itu di dasar bumi paling dalam ketika seseorang mengangsur pintu dengan raut wajah aneh.
Baekhyun tau itu Chanyeol, maka dari itu dia berlari kecil menyambut si lelaki pulang kerja lalu mengulurkan lengan untuk menerima jas yang tertanggal.
"Bau apa ini?" tanya Chanyeol.
"Coba tebak bau apa?" Baekhyun bertanya balik sambil sedikit berjinjit untuk membantu melepas lilitan dasi milik Chanyeol. Dia berharap Chanyeol akan membelalakkan matanya sembari berkata 'Wow, ini pasti lezat' bukan malah bereaksi menyebalkan dengan menutup hidungnya.
"Astaga! Apa itu hitam-hitam di atas piring?!" pekiknya yang disambut dengusan kesal Baekhyun. "Benda aneh apa ini, Baekhyun?"
"Itu jajjangmyeon."
"Apa?"
"Kau belum pernah melihatnya?"
"Aneh."
"Bagaimana bisa kau menyebut makanan ini aneh?! Asal kau tau rasanya sungguh enak. Cobalah!"
Chanyeol menggeleng, merapatkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan menutup hidungnya rapat-dapat.
"Sedikit saja, Chanyeol. Ku jamin ini higienis. Aku mencuci tangan sebelum memasaknya."
"Kau yang membuatnya?"
"Ya! Aku memasaknya untuk semua orang di rumah ini." kata Baekhyun penuh kebanggaan.
"Lain kali jangan melakukan uji coba yang seperti ini, Baekhyun. Masaklah sesuatu yang lain."
"Kalau tidak mau makan ya sudah. Jangan menghina masakanku. Lagi pula semua orang mengakui kalau jajjangmyeon buatanku sangat enak."
Dasar lelaki tidak peka! Seharusya Chanyeol bersikap lebih baik daripada berkata jujur yang menyakiti telinga. Atau paling tidak jika tidak mau makan, tidak usah memberi penghinaan seperti itu. Jajjangmyeon bukan makanan mahal, tapi semua orang di negara ini mengakui jika makanan itu sangat enak.
Dari pada membuang makanan tak berdosa ini, lebih baik Baekhyun menghabiskannya. Mengharap Chanyeol untuk mencicipi sama saja menunggu minyak dan air bersahabat—percuma. Lelaki itu sudah terbiasa dengan makanan mewah hingga jajjangmyeon sederhana ini ia lihat sebelah mata.
"Bisa siapkan aku air hangat?"
"Siapkan saja sendiri!"
"Kau marah?"
Apa perlu di jawab?!
Baekhyun mengambil sehelai mi setelah mengaduk rata saus hitamnya. Sebenanrnya Baekhyun sudah kenyang, hanya saja Baekhyun bukanlah orang yang tega menyia-nyiakan makanan. Jadilah dia memakannya dengan sedikit rasa kesal pada si lelaki di sampingnya yang berkata jika...
SRUP!
Keterpakuan Baekhyun cukup membuat matanya terbuka lebar. Dia hanya tidak tau bagaiama ujung sehelai mi ini bisa membuat kesadarannya berwarna abu-abu. Chanyeol terlalu abstrak dengan deru nafas hangatnya yang bisa di rasakan wajah Baekhyun. Dan juga lelaki itu seperti menggunakan racun dosis tinggi yang memabukkan sehingga ujung mi yang seharusnya terasa gurih, justru terasa lembut dan manis.
Kenapa Chanyeol selalu datang dengan kemanisan yang membuat jantung Baekhyun berdetak cepat? Jangan sering-sering melakukannya atau Baekhyun akan mendapat serangan jantung. Dan jangan pernah lagi menggigit bibir Baekhyun ketika wanita itu tidak memiliki kontrol yang bagus karena ciuman yang Chanyeol beri. Akibat yang akan di terima tidak akan pernah baik dan di jamin akan merugikan. Misalnya seperti refleks tubuh Baekhyun yang mendorong Chanyeol menjauh dan tidak pernah sadar jika piring jajjangmyeon itu akan terlepas dan membuat noda hitam menyeramkan di sekitar wajah Chanyeol.
"Astaga, Chanyeol! Maaf!"
.
Perdebatan atas jajjangmyeon itu berlanjut di kamar mandi. Maksudnya, ketika Chanyeol meminta Baekhyun menyiapkan air hangat sedang dia membersihkan sisa saus hitam di wajahnya, Chanyeol terdengar seperti beo yang cintanya bertepuk sebelah tangan—menggerutu dengan tingkat menyebalkan yang parah.
"Marah, ya?" tanya Baekhyun sambil meletakkan handuk di atas wastafel. Dari bayangan kaca di hadapannya, Baekhyun bisa melihat raut kesal seram yang Chanyeol tunjukkan. Lelaki itu masuk ke dalam bathtup dalam keterdiaman dan tidak peduli jika air di dalamnya sudah terlalu penuh. "Kan aku sudah minta maaf."
"Kau yang pertama."
"Hm?"
"Orang pertama yang berani melempar makanan hitam di wajahku!"
"Aku tidak sengaja, Chanyeol." Bela Baekhyun sambil mematikan air. "Salahmu sendiri kenapa melakukan hal itu."
"Melakukan apa?"
"I-itu..."
"Apa?"
MENCIUMKU! Haruskah berteriak untuk mengatakannya? Tidak, Baekhyun tidak mau mengatakan jika sebenarnya Chanyeol paham apa maksudnya. Jadilah dia memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi sebelum Chanyeol memecah sesuatu yang aneh dari otaknya.
"Mau kemana?" pergelangan tangan Baekhyun di tarik hingga wanita itu terduduk di pinggiran bathtub.
"A-aku.."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?"
Chanyeol terkekeh untuk reaksi gugup Baekhyun yang menggemaskan. Ayolah, mereka tidak hanya sekali bertindak intim yang memicu gairah. Jika hanya sekedar membicarakannya, Chanyeol rasa itu bukan sesuatu yang patut di hindari.
"Baekhyun.."
"I-iya.."
Sumpah demi seluruh dewi kebahagiaan dimanapun berada, Baekhyun tidak sanggup lama-lama berada di sini. Chanyeol terlalu berlebihan dengan kilat matanya yang menyayat setiap keberanian Baekhyun. Tidak taukah lelaki itu jika Baekhyun sudah seperti lelehan aspal? Panas dan lengket.
Lalu semua semakin tidak terkendali ketika tangan Chanyeol mulai bekerja; masuk perlahan dengan gemelitik rasa yang membuat Baekhyun harus memejamkan mata. Secepat itukah Baekhyun tersihir?
Baekhyun sempat melarang Chanyeol untuk berhenti mengusik celana dalamnya. Tapi lelaki itu justru menulikan pendengarannya dengan tidak berhenti menarik kain pembungkus kewanitaan Baekhyun. Yang terjadi setelah itu adalah Baekhyun hampir kehilangan kendali sehingga dia harus merelakan tubuhnya terjatuh dalam bathtub.
"Kau mau ap-AH.."
Apalagi? Semua yang sudah terjadi menjelaskan apa yang akan mereka rasakan. Misalnya erangan tertahan Baekhyun ketika Chanyeol memasukkan jemarinya untuk mengusik biji kacang di dalam sana. Baekhyun tercekat dengan mulut terbuka. Tapi hal itu tidak berlangsung lama ketika Chanyeol dengan sangat terlatih mengikis jarak dan mencium penuh bibir Baekhyun.
Baekhyun mati kutu dan semakin tidak memiliki pergerakan ketika Chanyeol melepas ciumannya hanya untuk membenamkan kepala di dasar bathup. Untuk apa lagi jika tidak menyusup dalam selangkangan Baekhyun dan bermain lidah.
Tubuh Baekhyun bergetar hebat ketika Chanyeol menyinggung sesuatu yang tepat. Tangan Baekhyun mulai mencari sesuatu untuk di cengkeram demi menahan efek darahnya yang mendidih. Dan dia semakin kebingungan ketika sesuatu yang lembut menyisir setiap inchi kewanitaannya.
"AH..C-chan.."
.
.
.
TBC
Yow, man! Gimana? Udah panas? Haha.. kalo belum panas, bacanya bisa sambil duduk di atas perapian hehe..
Chap ini sengaja hadir dengan taraf pendek-pendek aja karena Ayoung udah bosen ama yang panjang (?) hahaha...
Mari bermanis-manis di chap ini sebelum masuk ke celana Sehun. Eh, maksudnya masuk ke konflik hehe..
Yang kemarin tanya kapan Baekhyun hamil dan gimana kuliah Baek, akan di jelaskan di chapter-chapter setelah ini hohoho.. so, mohon bersabar ini ujian =D
.
Semoga kalian BASAH baca ini wkwk
.
.
.
Thalanghae~
