*~*~..:Shounen Heart:..~*~*

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: ItaHina

Genre: Romance/Humor

Warning: AU, OoC, kisruh, over dosis Gaje, lebay bin hiperbolis, bahasa campur aduk dan semua-semua yang berhubungan dengan kejiwaan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

So, happy reading, Minna-san~

Just For Fun


.

.

Itachi menjejakkan kaki untuk pertama kali di tanah kelahirannya setelah lima tahun berlalu ia pergi meninggalkan Konoha tercinta dan menetap di Kirigakure untuk menyelesaikan pendidikannya demi menggapai cita-cita.

Seharusnya sekarang ini si sulung Uchiha sudah sampai di rumahnya dan melakukan aktivitas seperti mandi, makan dan beristirahat. Karena sejujurnya Itachi sudah sampai di bandara Konoha sekitar empat jam yang lalu.

Ya, saat itu Itachi memang melakukan se-di-kit kesalahan yang tidak fatal. Salah naik bus. Itachi yang dari dulu sudah terbiasa naik bus semasa sekolah, dengan penuh percaya diri langsung menarik tasnya masuk ke dalam bus yang berhenti di depannya. Dan ia baru sadar setelah dibangunkan oleh seorang om-om berwajah gembel yang menanyakan tujuannya kemana. Itachi langsung bangkit dan shock setelah kurang lebih dua jam dia tewas di bus tersebut saat si om-om memberitahukan kalau bus yang ditumpanginya sekarang, bukanlah bus untuk jurusan yang ditujunya.

Jadi begitulah. Itachi langsung diturunkan seorang diri di perkebunan teh yang luas yang dia yakin betul jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari kediaman Uchiha. Itachi sama sekali tak tahu kalau selama lima tahun belakangan ini transportasi Konoha banyak yang berubah.

Dan ia juga mulai curiga adanya sabotase antara sang sopir bus dengan yang bikin cerita ini.

"Uhuk! Uhuk!"

Itachi langsung batuk-batuk saat ada mobil angkutan umum yang menyemburkan asap knalpot ke udara.

"Ukh!"

Kali ini bukan karena asap knalpot, tapi karena bau menyengat yang bisa merontokkan bulu hidung. Itachi menengokkan kepalanya ke sebelah kiri. Kalau tak salah dulu tempat ini pernah berdiri sebuah rumah makan yang cukup terkenal akan masakannya yang lezat. Itachi sering sekali mengambil jalan pulang ke sini karena ia suka dengan aroma masakan yang berasal dari rumah makan itu (sebenarnya ini ide dari Kakuzu. Tapi entah kenapa Itachi jadi ketagihan juga). Dan sungguh tak bisa dipercaya kalau sekarang rumah makan tersebut berubah menjadi tempat pembuangan sampah seperti ini. Huek!

Angin sore mulai berhembus pelan. Itachi mempercepat langkahnya. Terdengar cekikikan centil dari berapa gadis yang kebetulan berpapasan dengannya. Itachi jadi merasa seksi. Tapi ia tak tergoda, makanya Itachi mengabaikan gadis-gadis tersebut–yang sejujurnya cekikikkan gara-gara melihat resleting celananya yang terbuka. Gosh!

Bau sampah yang sudah menganiaya hidungnya beberapa waktu lalu pun berangsur-angsur hilang dan tergantikan dengan aroma bunga yang segar. Itachi menghentikan langkahnya. Taman bunga Konoha. Salah satu tempat favoritnya. Sebuah taman yang tak pernah absen dikelilingi kupu-kupu yang lucu dan kupu-kupu malamnya yang seksi. Ah, sungguh pemandangan yang seperti inilah amat dirindukan oleh Itachi. I love Konoha!

Ahem, jika ada yang berpikiran kalau barusan Itachi sangat lebay, mohon maaf sebesar-besarnya. Maklum lah, spesies Kirigakure itu didominasi oleh cowok-cowok tomboy(?). Jadi begitu menemukan hal yang tak biasa dilihatnya tiap hari di Kiri, Itachi merasa takjub!


Kediaman Uchiha


"Mikoto, hari ini giliranku nonton sinetron!"

"Tapi aku maunya nonton tinju, Fugaku!"

"Sinetron!"

"Tinju! Sekarang ini pertarungan yang ditunggu-tunggu oleh ibu-ibu tetangga, Fugaku. Athrun Zala melawan Nagato. Aku bisa dibilang kampungan kalau tidak nonton!" Mikoto tak mau kalah. Dimasukkannya remote televisi itu ke balik bajunya. Ambil nih, kalau berani!

"Tidak bisa! Kemarikan remote-nya atau aku akan bunuh diri!" ancam Fugaku penuh penekanan. Bisa dibilang, saat ini Fugaku sedang tidak main-main dengan ucapannya. Ia sedang tidak berselera untuk berdebat apalagi hanya karena sebuah remote televisi.

Mikoto manyun. "Hanya karena soal seperti ini saja kau mau bunuh diri?" tapi diberikannya juga remote TV yang disembunyikannya pada Fugaku. Ia mengalah. Takut kalau sampai suami tercintanya ini benar-benar memutuskan untuk bunuh diri.

Fugaku tertawa menang. Ia tahu kalau isterinya itu sangat mencintainya (apaan sih si Fugaku gaje banget). Sementara Mikoto menyilangkan tangannya di dada dengan raut wajah yang super kesal, terpaksa harus nonton sinetron.

"AYAAAAH! IBUUUU! SASUKEEE! AKU PULAAANG!"

Itachi berteriak sekeras-kerasnya saat memasuki pintu rumahnya yang terbuka lebar. Tapi tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah suara berisik "Aku tidak mencintaimu!" dan "Apa gara-gara laki-laki berwajah cabul itu?" dari televisi yang menyala di ruang tamu. Fugaku hanya menengok sebentar dari balik sofa dan hanya menyahut pendek. "Oh, kau sudah pulang, Itachi?" kemudian fokusnya kembali ke layar televisi. Mikoto bahkan tak menengok sama sekali, mungkin masih kesal dipaksa nonton sineron.

Si sulung mematung di tempat. "A-ayaah…Ibu…aku pulang…" suara Itachi terdengar mencicit, berharap mendapat respon yang diharapkan. Tapi hasilnya tetap saja nihil! Fugaku dan Mikoto tetap tidak menoleh.

Itachi tercekat, dadanya terasa dibor saat itu juga melihat reaksi kedua orang tuanya yang cuek-cuek saja begitu ia pulang ke rumah. Setelah sekian tahun menetap di negeri orang, apa mereka tidak merindukannya sama sekali? Kenapa sapaan dari ayahnya terdengar seperti Itachi baru saja pulang bermain di rumah tetangga beberapa jam yang lalu?

Itachi kecewa. Tentu saja. Niat awal ingin memberi kejutan pulang ke Konoha tanpa menelpon dulu keluarga, malah jadi seperti ini. Tidak ada satu orang pun yang menyambut kedatangannya. Bahkan satpam di depan rumahnya pun tampak biasa-biasa saja. Kalah deh sama tetangganya yang jadi TKW di Suna tapi kepulangannya disambut sama marching band. Tapi Itachi tidak mau jadi orang yang sombong yang berteriak-teriak kesetanan bilang kalau dia sakit hati. Makanya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya saja untuk mengistirahatkan diri/menghibur baru saja berniat melangkahkan kakinya naik ke tangga, telinganya mendengar suara kecipakkan air dan tawa anak-anak dari halaman belakang. Itachi mengernyit. Sejak kapan keluarganya melihara tuyul?

Ragu-ragu, Itachi mengintip dari kaca jendela rumah setelah sampai di tempat suara-suara tersebut berasal. Tampak adiknya-si Sasuke-dengan kacamata hitam, bertelanjang dada dan celana pendek biru, tengah tidur-tiduran di kursi dekat kolam renang. Sepertinya hari ini ia sedang bebas tugas. Dan adapun tawa gembira anak-anak yang cukup mengusik Itachi itu ternyata tak lain dan tak bukan berasal dari ketiga anak Sasuke sendiri yang sedang bermain air di atas perahu karet.

Setelah Sasuke memutuskan untuk menikah dengan Kurenai, janda beranak tiga yang juga merupakan salah satu guru Itachi semasa SMA, maka saat itu juga Yuuhi(Sarutobi)Kurenai berganti marga menjadi Uchiha. Dan jangan lupakan paksaan dari Mikoto agar menantunya itu membawa serta ketiga puteranya dari alm. suami pertama, Sarutobi Asuma, untuk tinggal di kediaman Uchiha.

Sebenarnya Itachi ingin sekali menyapa ketiga keponakan laki-lakinya yang lucu-lucu itu, tapi rasa-rasanya waktunya kurang tepat. Karena dibutuhkan fisik dan mental yang kuat sebelum menghadapi ketiga keponakannya dan memperkenalkan dirinya sebagai 'Om Itachi' kepada mereka. Kurenai juga tak tampak batang hidungnya sama sekali. Apa hari ini dia masih mengajar ya? Padahal beberapa bulan yang lalu Sasuke mengabarinya kalau isterinya itu sedang hamil tiga bulan.

Dasar Sasuke kecil-kecil jadi manten!

Itachi menggeleng-gelengkan kepalanya, geli juga saat ingat dulu banyak sekali teman sekelas bahkan adik-adik kelasnya yang minta nomor telepon Sasuke sekadar untuk berkenalan. Karena siapa sangka, si ayam bujang yang enak dilihat, sulit dicicipi itu, malah janda lah yang memiliki. Miris memang. Tapi bagi Sasuke, perbedaan usia yang sampai sebelas tahunan dengan Kurenai itu tidak menjadi penghalang. Meski terkadang perbedaan usia selalu dikait-kaitkan dengan perbedaan pola pikir, minat dan yang lainnya, selama Sasuke dan Kurenai siap menerima perbedaan tersebut sambil saling melengkapi, memaklumi dan memperbaiki, maka perbedaan usia tidak akan jadi masalah.

Loh, kenapa juga Itachi harus repot-repot memikirkannya? Toh, adiknya itu sudah bahagia ini. Yang harusnya dipikirkan kan masa depan dirinya dan Hinata!

Hm. Ngomong-ngomong soal Hinata, sekarang bagaimana kabarnya ya?


.

.

Itachi shock sesaat setelah keluar dari kamar mandinya, seseorang memukul kepalanya dari belakang cukup keras. Tapi sialnya saat itu Itachi tidak langsung pingsan, jadi ia harus menerima kembali sakitnya dipukul untuk yang kedua kalinya. Belum pingsan juga, samar-samar Itachi ingat tubuhnya digotong kemudian dimasukkan ke dalam karung bekas rambutan.

"Itachi, bangun! Kita sudah sampai, nak!" seseorang mengguncang-guncang tubuhnya.

"Nggg?"

"Banguuun! Kita sudah sampai di kediaman Hyuuga!" kali ini suaranya lebih keras lagi.

"HAH?"

Itachi terlonjak bangun. Tahu-tahu ia sudah mendapati dirinya berjas rapi dan duduk di jok mobil paling belakang. Di sampingnya, Fugaku sudah berwajah kesal.

"Cepat turun! Jangan mempermalukan ayah, Itachi!" bentak Fugaku, menggeret tubuh Itachi memasuki halaman depan kediaman Hyuuga.

"Tapi…" protes. "Untuk apa kita ke rumah Hyuuga malam-malam begini?"

"Tentu saja untuk meminang Hinata!"

"Ap—"


.

.

Keduanya sudah terduduk manis di sebuah sofa besar milik keluarga Hyuuga. Aroma teh hijau menguar lembut dari dua buah cangkir berisi minuman menenangkan yang disiapkan oleh para pelayan di rumah tersebut. Fugaku menghirup dalam-dalam aroma daun teh sebelum menyeruput isi cangkirnya dengan khidmat. Rumah ini besar dan nuansa tradisionalnya masih terasa kental sekali.

"Aku tidak tahu apa yang ayah pikirkan," Itachi menghela nafasnya. "Tapi kurasa ini…sangatlah terburu-buru." Ia bahkan baru selesai mandi.

Fugaku meletakkan kembali cangkirnya.

"Ayah bahkan belum mengajariku tentang apa-apa saja yang harus dan tidak boleh dikatakan di depan Hiashi-san. Bagaimana kalau aku salah bicara?"

"Tidak akan."

Sigh

Itachi tidak sepenuhnya percaya begitu saja pada perkataan ayahnya. Ayahnya itu memang sudah memberitahukan kepadanya kalau selama tiga tahun belakangan ini Uchiha sudah kembali menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan pihak Hyuuga. Dan tentu saja, kembali pada misi yang sudah direncanakan oleh para orang tua sebelumnya, untuk memperkokoh dan mempererat tali silaturahmi antara Uchiha-Hyuuga, ikatan pernikahan antara putera Uchiha dan Puteri Hyuuga adalah ide yang paling brilian.

Pernikahan Itachi dan Hinata harus dilaksanakan secepat mungkin!

Hiashi menyetujuinya dengan syarat, Itachi harus datang sendiri menghadapnya untuk meminang puterinya. Dan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Itachi, Fugaku berkata kalau hal itu tidaklah menjadi masalah bagi puteranya.

Dalam hati, Itachi kembali menggerutu. Kalau saja acara pertunangannya dulu tak dirusak oleh Deidara, mungkin Itachi tak usah repot-repot melakukan hal ini segala.

"Tapi ayah, umurku baru 23 tahun. Hinata apalagi. Dia masih sembilan belas tahun," keluh Itachi.

Lalu Sasuke? Dia baru dua puluh tahun dan(hampir)punya empat orang anak.

Fugaku mendengus mendengar Itachi yang terus-terusan saja mengeluh. Membuat kepalanya pusing saja. Padahal menurutnya, umur 23 tahun itu sudah cukup matang untuk berkeluarga. Karena guru spiritual Fugaku pernah mengatakan kalau seburuk-buruknya manusia adalah ketika meninggal, dia sedang dalam keadaan sendirian. Dalam artian ia bujang lapuk atau perawan tua (misalnya umur 79 tahun belum menikah).

Tak heran kalau Fugaku menikah di usia tujuh belas tahun.

"Sudahlah, Itachi. Kau jangan banyak protes lagi!" ujar Fugaku geram. "Siapkan dirimu. Hyuuga-san mulai berjalan kemari."

Buru-buru Itachi membenarkan penampilannya yang kurang oke begitu melihat Hiashi turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka. Keduanya langsung berdiri. Di belakang Hiashi, tampak Hinata berjalan dengan wajah menunduk.

"Hinata!"

Duk!

"Awww!"

Tendangan kecil di kaki Itachi akibat ketidaksopanannya.

"Sssttt!"

"Lama menunggu, Fugaku?" Hiashi menjabat tangan Fugaku dan mempersilakan keduanya duduk kembali. Hinata memilih tempat duduk di samping ayahnya.

"Lama tak bertemu ya, Itachi-san?" sapa Hiashi. "Kau tampak berubah."

"Eh?" Itachi mengangkat wajahnya. "Iya…lama tak berjumpa, Hiashi-san. Anda juga sama."

"Maksudnya?"

Putar otak!

"Emm… Anda terlihat lebih muda sekarang," jawab Itachi asal.

Hiashi terkekeh mendengarnya. "Kalau Hinata?"

Kalau sih Hinata jangan ditanya!

"Hinata…semakin cantik saja," ungkap Itachi langsung.

Pipi Hinata merona. "Te-terima kasih."

"Aku dan Fugaku memang sudah membicarakan hal ini dari dulu. Tapi aku ingin mendengar sendiri langsung dari Itachi-san. Tentang maksud dan tujuannya datang ke rumah kami untuk apa."

Tadinya Hiashi agak panik begitu melihat banyak mobil dengan lambang Uchiha yang berhenti di depan rumahnya. Ia pikir akan dilakukan unjuk rasa besar-besaran.

Tapi unjuk rasa yang ini bukan sembarang unjuk rasa. Kali ini Uchiha akan melakukan unjuk rasa soal asmara.

Dan Hiashi sama sekali tak berpikir sampai ke situ. Karena sejujurnya Fugaku sama sekali tidak memberitahu dia kalau Itachi sudah pulang dari Kiri.

Itachi mulai gugup ketika Hiashi mulai menanyakan maksud dan tujuannya datang kemari. Tiba-tiba saja hidungnya terasa gatal. Gataaaal sekali! Rasanya kalau tidak mengupil sekarang tuh, Itachi akan mati saat itu juga.

"Itachi-san."

Setelah mengupil, Itachi akan menempelkannya ke sofa besar milik Hiashi ini. Karena demi apa Itachi bukanlah orang yang kerajinan selalu membuang kotoran hidungnya ke tempat sampah apalagi kloset.

"Itachi!"

"Y-ya?" sadar dari lamunannya, Itachi melirik Fugaku yang pasang tampang jengkel.

Hiashi tetap tenang. Itachi menghela nafas panjang sebelum memulai.

"Langsung saja Hiashi-san," Hiashi menatap Itachi yang mulai serius.

"Kedatangan saya kemari tak lain dan tak bukan adalah untuk memperbunting"—guoblok! Harusnya kan mempersunting!

Tatapan ala raptor, Fugaku layangkan pada putera sulungnya itu. Ia lupa kalau semenjak Itachi memasuki masa-masanya puber, nilai bahasanya adalah 100 (teori) dan 45 (praktek).

"Sa-sakitt…" ringis Itachi setengah berbisik. Pastilah saat ini jempol kaki Itachi tengah mengalami pendarahan yang cukup serius akibat injakkan dari orang yang duduk di sebelahnya.

Hinata hampir pingsan mendengar kata-kata Itachi yang terbilang frontal. Sementara itu kepala keluarga Hyuuga hanya berdeham tanda tak nyaman.

Dan berita dukanya saat ini adalah Neji sedang berpulang ke salah satu kerabat Hyuuga yang bertempat tinggal di Suna. Jadi tak ada lagi orang yang biasa membantunya berkomentar tentang suatu hal terkait masalah yang melibatkan pelecehan nama baik Hyuuga seperti ini.

Sejujurnya, Hiashi kurang bisa mempercayai Itachi. Ia ingat betul anaknya si Fugaku itu pernah mencoba menyatroni kamar Hinata. Untungnya dia salah masuk kamar.

Bagaimana kalau selama lima tahun ini Itachi sama sekali tak berubah? Bagaimana kalau lebih parah lagi? Siapa yang tahu pergaulan Itachi di Kiri beberapa tahun terakhir ini? Bagaimana kalau Itachi tetap membawa kebiasaan buruknya itu meski ia sudah menikah dengan Hinata? Karena Hiashi tak mau kalau sampai Hinata menikah nanti kehidupan rumah tangga puterinya itu langgeng sengsara atau orang Belanda sering menyebutnya 'awet rajet'.

Kalau Hinata sih, Hiashi percaya. Tentu saja. Karena Hyuuga sudah terdidik untuk bisa menjaga diri.

Bukan bermaksud mendoakan. Meski sudah membereskan segala urusan dari yang terkecil sekalipun, termasuk masalah pembagian harta gono-gini jika mereka bercerai nanti, tapi Hiashi tetaplah seorang ayah yang menginginkan puterinya itu kelak bisa hidup bahagia dengan pasangannya.

Itachi…apakah bisa dipercaya?

"Percayakan saja Hinata padaku, Hiashi-san," tiba-tiba saja Itachi langsung menggenggam tangan calon mertuanya. Matanya berapi-api. Fugaku membuang muka. Ia tak pernah mengajari Itachi memohon-mohon dengan cara memalukan seperti itu.

"Aku berjanji aku membahagiakan Hinata!" kali ini Itachi mengguncang-guncang kerah baju Hiashi. Hiashi terlihat shock.

"Se-senpai!" Hinata berusaha menghentikan aksi Itachi yang semakin menggila.

"Aku juga berjanji akan memberikan cucu yang lucu-lucu untuk Anda, Hiashi-san!(Karena aku ganteng dan Hinata cantik)" untuk bagian ini, Fugaku permisi ke toilet sebentar.

Bola mata Hiashi membulat, keringat turun dari pelipisnya. Ia mengangguk setengah sadar sambil berkata dengan sedikit terbata. "A—aku setuju kok…aku setuju…"

Benarkah? Cihuy!

Dan sudah diputuskan. Pesta pernikahan Itachi dan Hinata akan dilangsungkan di kediaman Uchiha hari Minggu ini.


.

.

Itachi berjalan cepat menyusuri tangga rumahnya sambil melonggarkan dasi yang hampir seharian ini setia mencekik lehernya. Ia ingin segera sampai di kamar dan beristirahat saat ini juga. Pesta pernikahannya yang diselenggarakan meriah benar-benar menguras habis tenaganya.

Bayangkan saja, kau diancam agar selalu tersenyum dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore pada setiap tamu yang hadir ke pesta pernikahanmu dengan membawa ucapan 'Selamat Menempuh Hidup Baru' atau dari mantan pasanganmu yang mengucapkan 'Kutunggu Jandamu' dengan harapan mereka yang masih jomblowan dan jomblowati bisa mengikuti jejakmu selanjutnya dengan taruhan gigimu terlihat kering. Meski hanya segelintir orang yang kau kenal karena kebanyakan yang datang adalah kenalan orang tuamu, bagaimana mungkin hal itu tidak melelahkan? Diperparah lagi kau juga harus mengatasi urusan kecil yakni menghadapi salah satu temanmu (si Hidan) yang ngebet banget pengen nonton film Tali Puser Pocong karena DVD di rumahnya sedang rusak. Haissshh…

Itachi semakin mempercepat langkahnya. Tak mau kalau sampai ketahuan dia kabur duluan menghindari wawancara bersama rekan kerja ayahnya itu demi kelangsungan hidupnya. Lorong rumahnya tampak begitu gelap. Entah sengaja dimatikan atau karena apa, Itachi tak peduli. Tak disangka perjalanan menuju kamarnya sendiri terasa begitu melelahkan. Pagi-pagi buta, Mikoto sudah mencekokinya dengan jamu kuat dicampur kuning telur juga madu. Dan ia sama sekali belum makan nasi dari tadi pagi. Pantas saja ia lemas begini.

Langkah Itachi baru terhenti ketika melihat sesosok makhluk berambut panjang, bergaun putih yang tengah memandang keluar jendela rumahnya yang besar. Rambut birunya tampak bersinar ditimpa cahaya rembulan. Ia berdiri beberapa meter di depannya.

Pipi Itachi merona. Seperti yang dikatakan oleh teman-temannya tadi sore kalau Itachi sedang mengalami demam panggung dan akan berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi yaitu demam kamar. Benarkah begitu? Karena kenyataanya wajahnya selalu bereaksi seperti ini bila melihat Hinata.

Kebetulan malam ini bulan purnama. Indah sekali. Ah, sungguh waktu yang tepat untuk merajut romantisme berdua dengan Hinata-ohok-isterinya. Memeluk Hinata dari belakang terdengar cukup romantis juga, bukan?

Baiklah…

Tapi karena saking semangatnya untuk menjalankan niat jahatnya untuk mengagetkan sang isteri dari belakang, Itachi kena batunya. Kakinya tersandung karpet dan wajahnya jatuh duluan menghantam lantai. Suara gubrak yang cukup keras menggema di sepanjang lorong Uchiha.

"Sakiiiiit~" ringis Itachi sambil memegang hidungnya. Ia gelundungan di karpet.

Hinata membalikkan badannya. "I…Itachi-kun?" cukup kaget juga ia melihat Itachi sudah ada di belakangnya dan jatuh tersungkur seperti itu. "Kenapa?" tanyanya sambil terkekeh, dalam hati ngakak.

Itachi tertawa garing macam 'Ehehehehe'. Malu dengan posisinya saat ini.

Tapi beruntung, Hinata bukanlah seorang isteri kejam yang sering menyiksa suaminya sampai mati. Misalnya dalam posisi Itachi yang sudah sial seperti ini, Hinata akan menginjak dan menendang kepala Itachi berkali-kali, memukul pantatnya dengan sapu dan meniban punggung Itachi dengan kulkas.

Tidak, tidak. Hinata tidak dilahirkan untuk menjadi orang yang jahat seperti itu.

Hinata lebih memilih berjalan mendekat ke arah Itachi, berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk membantu Itachi kembali berdiri. Dibersihkannya jas putih yang kotor itu dengan sapu tangan miliknya kemudian ia memandang Itachi dan tersenyum manis.

Itachi terharu. Hinata tampak indah di matanya.

"Itachi-kun kemana saja?" tanya Hinata.

Suaranya…suaranya bahkan sempat membuat Itachi oleng. Tiba-tiba…

Tes

Wajah Hinata memucat. "Hi-hidungmu be-berdarah!" pekiknya.

"Apa?" tersadar, Itachi segera mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Me-ma-lu-kan! Baru kali ini Itachi merasa sebegitu malunya semenjak Konohagakure merdeka. Bisa-bisa harga dirinya hancur berantakan kalau ada yang tahu ia mimisan hanya gara-gara melihat Hinata. Untung insiden jatuh tadi bisa dijadikan alasan yang super kuat.

"Eh, maaf ya, Hinata," Itachi membalikkan tubuhnya. Hinata masih berwajah cemas memperhatikan Itachi yang sedang membersihkan bekas darah di hidungnya.

"Tidak apa-apa? Ma-masih sakitkah? Ba-bagaimana kalau…umm..ke rumah sakit saja?"

APA? Rumah sakit?

"TIDAK!" teriak Itachi, Hinata hampir jantungan.

"Ma..maaf kalau aku mengagetkanmu, Hinata. Tapi aku baik-baik saja," Itachi memegangi pundak Hinata, merasa tidak enak hati karena sudah membuatnya ketakutan akibat suara horornya. Mana mungkin kan ia rela menghabiskan malam pertamaxnya di rumah sakit?

"Be-benarkah?" tanya Hinata. "kalau begitu…Itachi-kun harus segera tidur dan beristirahat," ucapnya lembut.

Mendengar Hinata yang entah sadar atau tidak mengucapkan kata kramat tersebut, mau tak mau pikiran Itachi sudah melanglang buana membayangkan suasana kamar, lampu temaram bahkan ia tidak tahu harus memasang wajah rated TM(Tidak Mesum), semi M(Semi Mesum), M(Mesum), atau MA(Mesum Abis) untuk saat ini.

Hinata langsung menutup mulutnya. Kakinya mundur beberapa langkah begitu tersadar dari ucapannya. "Aaa..ma-maksudku bukan..a-aku.." penyakit gugupnya tambah parah! Hinata sama sekali tidak bermaksud memancing Itachi. Sungguh.

Kemudian mengheningkan cipta.

Itachi tak beranjak dari tempatnya berdiri.

Hinata salah tingkah.

Lima menit serasa satu abad.

"Haaah…" terdengar Itachi menghela nafas lelah. "Ya sudah kalau begitu. Aku tidur duluan, Hinata," ucapnya sambil melangkah memasuki kamar.

"Eh?" Hinata tercekat begitu melihat Itachi yang tampak kecewa. Makanya tanpa sadar ia menarik lengan Itachi dan menahannya sebelum si suami meraih handle pintu kamar. "Tunggu dulu!" serunya.

Itachi menoleh. Menatap Hinata dengan tampang (pura-pura) bingung.

Gluk! Hinata menelan ludahnya. Engg… matanya tertuju pada guci besar yang sengaja diletakkan di bagian sisi pintu kamar Itachi.

Tarik nafas!

"Aku juga ingin tidur!" dengan modal keberanian yang cukup besar, Hinata berhasil juga mengucapkan hal yang ingin disampaikannya dari tadi dengan suara lantang. Tapi dua detik kemudian suaranya kembali memelan. Ia menunduk malu. Pegangannya di lengan Itachi terlepas. "Itachi-kun…" ucapnya kikuk.

Segelas senyuman kemenangan dicampur bubuk seringai diaduk-aduk kemudian dipoleskan di atas bibir, itulah gambaran Itachi saat ini.

"Eh—?"

Hinata sedikit kaget saat dunianya terasa melayang karena tiba-tiba saja tubuhnya sudah ada diantara kedua lengan Itachi. Itachi menggendongnya ala Tuan Putri dan Hinata merasa lega karena Itachi tidak menggendongnya ala kuli angkut beras di pasar. Setidaknya Hinata yakin Itachi pernah menonton drama romantis. Senyuman paling menawannya ditampilkan pada Itachi. Pipinya bersemu merah.

Tanpa banyak kata, Itachi membuka pintu kamarnya dengan cara menendangnya kemudian menutupnya kembali dengan cara ditendang (lagi) hingga yang tersisa hanyalah suara berdebam dari pintu kamar yang bertuliskan: Harap Tenang Sedang Ujian.

Yah, karena seperti para peserta ujian pada umumnya, Itachi dan Hinata pun butuh ketenangan untuk saat ini.


-FIN-

Akhirnyaaaa tamat(dengan tidak elit)juga ini fanfic! Dan ini adalah chapter/fic terabsurd, tergaje yang pernah saya buat! Mana agak menjurus lagi!*ditembak mati* Hm, karena satu dan dua hal, fic ini harus(dipaksa)tamat, sodara-sodara! xD mohon maaf lahir dan batin yaaa~#eh

Pelukan dan ciuman Author berikan buat yang udah ngikutin perjalanan fic ini dari awal! :') Yang udah alert, fave, baca sembunyi-sembunyi, cuma lewat, numpang cuci muka(?) dan yang udah nyempetin review:

Gaara Kecil

Hoshi Yukinua

Mamoka

Mimi sok cantik Kisame yang punya

SasyaTazkiya Lawliet

Rosecchi

Minatsuki heartnet

lightning

NafeesaOcha

jendai

Ay

Hasegawa Nanaho

Uchiha The Tomato Knight

Nee-chan

Kirei Atsuka

Makasiiiih semmmuanya~ selamat hari raya idul Fitri. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaaa…

Ciao! ;D