There's no tomorrow for us
Park Jimin
Min Yoongi
.
,,,
.
Yoongi berlari secepat yang ia bisa menembus malam. Ia tidak punya uang sama sekali untuk pergi ke tempat Jimin bertanding. Semua uangnya entah dimana juga ia tidak ingat. Mobil juga Jimin yang membawanya. Jadilah ia berlari semampunya untuk mencapai tempat Jimin.
"Uhh.." pemuda bersurai mint itu terengah dan menghentikan langkahnya. Mengelap keringat di keningnya dan menarik nafas dalam dalam. Ia harus berlari lagi. Ia harus sampai di tempat Jimin. Ia harus menjelaskan semua pada Jimin. Bahwa ia tidak ada apa apa dengan Hoseok.
Yoongi menarik nafas panjang dan mulai berlari lagi.
"Haah... haaah..."
Hampir 2 jam Yoongi berlari. Ia merasakan kakinya akan patah dan terlalu lemas. Nafasnya hampir putus dan pandangannya mulai berkunang kunang.
"Min Yoongi? Kau Min Yoongi kan?" Seseorang menepuk bahunya.
Yoongi berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya menyipit berusaja memfokuskan pandangan pada sosok tinggi di hadapannya. "Kim... Seokjin?"
"Ya kau mengenaliku. Sedang apa kau berlarian tengah malam begini?" Seokjin terlihat khawatir karena wajah Yoongi yang memang pucat itu semakin terlihat seperti mayat hidup dengan baju yang basah keringat.
"Aku... Jimin..."
Seokjin memandangnya dengan raut bingung. "Kau tidak menyusul Jimin? Dia ditangkap polisi. Tadi tempat kita di datangi polisi. Tapi.. astaga! Yoongi! Yoongi!"
Yoongi tidak bisa mendengar ucapan Seokjin lagi karena pandangannya mendadak gelap.
.
,,,
.
"Yoongi? Syukurlah kau sadar. Kau pingsan hampir 4 jam! Mana yang sakit? Kau ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?" Seokjin memberondong Yoongi dengan pertanyaannya saat mata Yoongi baru saja terbuka dan menyadari bahwa ia ada di apartment Seokjin.
"Aku..." Yoongi memejamkan matanya. Lalu membukanya kembali dan melihat jam. Pukul 5 pagi...
"Antarkan aku pada Jimin sekarang..."
.
,,,
.
"Tae, apa apaan ini? Tae tolong bantu aku!" Jimin berusaha menggapai Taehyung dari luar sel nya. Taehyung sendiri hanya berusaha menggigit bibir menahan air mata dan seluruh amarahnya.
"Jeon Jungkook.. dia pasti merencanakan ini..." Taehyung mendesis marah.
Jimin menggertak kan giginya. "Jeon Jungkook..."
"Jimin!"
Yoongi berlari dan mengabaikan penjaga disana dan berlari menghampiri sel Jimin yang memang hanya di isi dia sendiri. "Jimin astaga Jimin..."
Taehyung terkejut dan segera menyingkir. Dia berbisik pada Seokjin yang berada di belakang Yoongi. "Hyung menemukannya? Dimana?"
Seokjin tersenyum. "Kutemukan dia berlari dan pingsan dijalan. Menggumam sepanjang pingsannya ingin bertemu Jimin. Sesuai perkiraanmu."
Sementara itu Yoongi menggenggam jari jari Jiminyang terulur dari celah besi penjara. "Jimin... hiks Jimin..."
Hati Jimin kembali teremas kuat. Yoongi menunduk dalam dalam dan ia tau kekasih manisnya sedang menangis. Ia ingin sekali memeluk kekasihnya itu jika besi sialan ini tidak menghalanginya. "Hyung..."
Yoongi mengangkat wajahnya dan merengut pada Jimin. Memperlihatkan wajah pucat yang sudah penuh air mata. "Kenapa kau bisa masuk penjara?"
Jimin tersenyum kecil. "Aku membunuh orang yang mencoba menyentuh milik ku. Dan sialnya aku dijebak."
"Preman yang ingin memperkosa ku itu?"
Jimin mengangguk. "Aku tidak ingin kekasihlu melihatku di penjara seperti ini.. pergilah. Taehyung akan menjelaskan segalanya."
.
,,,
.
"Jadi.. Jimin saat itu langsung membunuh preman preman itu?"
Taehyung mengangguk. "Aku sendiri yang mengantarkanmu ke rumah sakit saat Jimin dengan kepanikan menggendongmu kesana kemari mencari pertolongan. Memaki ku sepanjang jalan agar lebih cepat. Mengumpat pada semua orang agar membiarkannya terus menemanimu.."
Yoongi terdiam. Kepalanya pening sekali. Ia memukul dashboard mobil Taehyung. "Sial!"
"Aku tidak tau siapa yang melaporkan. Tapi aku tau siapa yang terlibat..."
Yoongi memandang Taehyung dalam dalam. "Jeon Jungkook..."
.
,,,
.
"Jeon Jungkook! Keluar kau!" Yoongi mendobrak pintu bar yang tertutup rapat di pagi yang cerah ini.
"Jeon Jungkook!" Yoongi masih berteriak dan mendobrak semua pintu disana.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak teriak?"
Yoongi menggeram dan berlari menghampiri Jungkook yang ternyata berada di lantai dua. Dengan segera mendobrak pintu kamar pribadi Jungkook dan menamparnya hingga pemuda kelinci yang sedang duduk santai di sofa itu tersungkur. "Apa ini?! Apa kau gila?" Jungkook meringis merasakan sudut bibirnya berdarah dan pipinya panas.
"Apa yang kau lakukan pada Jimin?" Taehyung yang sedari tadi hanya berdiri diam dan menjadi 'pengawal' Yoongi akhirnya membuka mulut.
Jungkook berdecih dan meludahkan darah di mulutnya. "Kau membelanya?"
Yoongi menggertak kan giginya. "Menurutmu?" Aku tau kau menyuruh tiga preman itu. Sekarang Jungkook, cabut tuntutanmu karena kau yang bersalah!"
Jungkook mulai tertawa. "Hahaha kau bodoh. Sangat bodoh. Pantas saja Jimin selalu lebih memujiku daripada kau. Menjijik kan."
Yoongi maju selangkah untuk menghajar Jungkook lagi. Tapi Taehyung menahan lengan mungilnya. "Jangan.."
"Andai kau tau. Apa yang dikatakan Jimin dimalam malam saat kami saling berbagi kehangatan." Jungkook memandang Yoongi dari atas ke bawah lagi ke atas lagi. "Menjijikkan."
"Jika kau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Yoongi hyung, aku akan merobek mulutmu Jungkook." Taehyung menggeram rendah.
"Ya! Katakan itu katakan! Bela saja pemuda pucat itu!"
"Kau harus bebaskan Jimin. Kau yang melaporkannya!" Yoongi menaik kan nada suaranya.
"Aku? Aku? Hahahaha" Jungkook memandang remeh dua orang di hadapannya. "Aku hanya melakukan hal yang benar dengan banyak dukungan."
Yoongi dan Taehyung terbelalak. "Hoseok..."
"Oh! Dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia hanya mendukungku dan memastikan malam kemarin Jimin hyung datang."
Yoongi mengepalkan tangannya. "Sial..."
.
,,,
.
Hoseok terduduk lemas di depan televisinya sambil menghembuskan asap rokok. Apartment lamanya biasanya ramai karena Taehyung yang heboh kini sepi senyap. Kadang Hoseok berfikir, apa yang selama ini ia anggap ke pura puraan itu sesungguhnya nyata? Taehyung yang dengan telaten membangunkannya setiap pagi. Membuatkannya sarapan. Menyiapkan pakaiannya. Mengurus Apartment nya. Apa itu palsu?
Pemuda tinggi itu memejamkan mata dan berusaha membayangkan sosok Yoongi. Tapi yang terlintas adalah senyum kecewa Taehyung saat ia memutuskannya sepihak di rumah sakit.
"Ini hanya sementara... hanya sementara."
.
,,,
.
"Hyung... Hoseok tidak bisa di hubungi. Aku menghubungi pihak Apartment dan mereka mengatakan Hoseok tidak kembali ke Apartment kami." Taehyung mengacak rambutnya frustasi.
"Aku akan mematahkan leher pemuda tinggi itu.." Yoongi menggeram frustasi sambil memacu mobil Taehyung lebih cepat.
"Kita sebaiknya fokus pada Jimin saja dulu. Dia butuh kau untuk menenangkannya... kita juga harus tau apa hukumannya..."
Yoongi mengangguk. Setelah sampai di tempat Jimin di penjara untuk menanti persidangannya, Yoongi langsung berlari keluar. Taehyung menutup pintu mobil dan segera menyusul Yoongi.
"Aku ingin bertanya." Yoongi tanpa basa basi mendatangi kepala kepolisian disana.
Polisi bername tag 'Park Yoochun' itu memandang Yoongi dengan raut bingung. "Ya?"
"Berapa lama hukuman Jimin?" Yoongi bertanya tidak sabar.
Yoochun membuka berkas Jimin dengan tenang. "Dia membunuh tiga orang preman. Hukuman terberat adalah... hukuman mati."
Mata Yoongi dan Taehyung membola seketika. "Tidak! Tidak mungkin hukuman mati!" Yoongi menggebrak meja di hadapannya emosi.
"Hyung..." Taehyung tidak sempat menahan lengan Yoongi. Dia shock dengan perkataaan orang dihadapannya itu. Hukuman mati?
"Jika kami membuktikan Jimin tidak bersalah bagaimana?" Taehyung berusaha mencari jalan keluar.
"Bukti terlalu kuat. Jimin membunuh mereka. Dna Jimin ditemukan di tempat kejadian. Apa yang kalian sangkal?" Park Yoochun menatap tegas Taehyung.
"Jaminan... bagaimana dengan jaminan?" Yoongi teringat fakta itu. Mungkin dengan jaminan...
"Ya bisa saja. Kalian memberikan uang jaminan dan salah satu orang menjamin di bawah sumpah bahwa Jimin tidak akan melakukan kesalahan. Ia juga di beri masa percobaan selama 3 bulan. Jika dalam 3 bulan, ia melakukan keaalahan, ia akan diadili."
"Berapa jaminannya?" Yoongi menyela.
Park Yoochun tersenyum tipis. "30 juta won..."
Bola mata Yoongi hampir terjatuh dari tempatnya saat mendengar jumlah yang di sebut orang di hadapannya. "30 juta?"
"Itu adalah jaminannya. Terserah kalian."
.
,,,
.
Yoongi mengusak rambutnya kasar. Darimana ia harus mendapat uang sebanyak itu? Sial ini sial!
"Hyung..."
"Diam Tae. Aku sedang berfikir."
Taehyung menghela nafas berat. "Aku bisa menjual Apartment ku.. mungkin akan membantu..."
Yoongi menggelengkan kepalanya. Ia rasa kepalanya akan meledak saat ini juga. "Jangan Aku akan menjual rumah ku dan isinya. Aku yakin itu akan terjual paling tidak 10 juta won... dan.. aku akan berusaha mencari pinjaman..."
"Aku bisa membantumu mencari pinjaman." Taehyung ingat banyak orang yang sering meminta pinjaman uang pada Jimin. Ia pasti bisa menagih mereka.
Yoongi mengangguk lemah. "Alternatif terakhir... aku akan minta uang ayahku..."
"Tapi..."
"Taehyung-ah, percaya saja padaku.. omong omong, bisakah aku tinggal di apartment sementara waktu?"
.
,,,
.
"Ayolah ahjussi... rumah ini besar... apa hanya 9 juta won?" Yoongi masih berusaha membujuk sepasang suami istri di hadapannya. "Rumah ini... banyak sekali kenangan..."
"Min Yoongi... aku mengenalmu dan keluargamu sangat baik. Tapi itu sudah sangat besar..." Sepasang suami istri yang memang kenalan lama Yoongi itu berusaha memberi pengertian padanya karena sungguh, 9 juta won untuk sebuah rumah itu adalah nominal sangat besar.
"Juniel ahjumma... tolong aku..." Yoongi menggenggam tangan ahjumma itu sambil memohon.
Juniel memandang suaminya. Lalu mereka mengangguk perlahan. "10 juta won. Itu penawaran terbaik kami Min Yoongi."
Yoongi mendesah lega. "Terima kasih ahjumma... terima kasih..."
Setelah pembayaran dilakukan, Yoongi segera mengemasi bajunya. Sekilas memandangi rumah yang sudah di tinggalinya bertahun tahun dengan Jimin. Semua kenangannya bersama jdi ada disini...
"Yoongi, apa kau baik baik saja?" Juniel mengkhawatirkan Yoongi yang semakin hari semakin kurus dan pucat sejak terakhir mereka bertemu.
"Ya ahjumma... tolong jangan katakan apapun pada appa dan eomma nde... dan terima kasih atas bantuannya..."
.
,,,
.
"Aku tidak mendapatkan banyak uang hyung.." Taehyung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat Jimin ditahan. "Orang orang itu tidak mau membayar hutang mereka dan malah memakiku.. aku hanya mendapatkan kurang dari dua juta won.."
Yoongi menghela nafas berat. "Apa yang harus aku lakukan..."
Taehyung merasa hatinya diremas kuat. Dia ingin melacak Hoseok dan memenggal kepalanya. Ini semua karena Hoseok!
Taehyung memacu mobil nya lebih cepat. Ia tau Yoongi merindukan Jimin hingga pemuda pucat itu menangis pelan di mobil. Setelah sampai, Taehyung langsung memarkir mobilnya begitu saja.
"Jiminie..." Yoongi berlari menuju tempat kunjungan untuk terdakwa. Mereka duduk di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat dan tangan Jimin di borgol.
Jimin tersenyum. Tapi senyum nya terasa menyakitkan untuk Yoongi. Jimin terlihat sangat pucat. Kantung matanya kentara sekali. Tapi ia tetap berusaha tersenyum untuk Yoongi. "Apa kau sudah makan sayang?"
Yoongi menggigit bibirnya. Matanya berkaca kaca menatap Jimin. "A-aku.. aku.."
"Hei hei, apa kau menangis sayang?" Jimin mulai panik saat air mata Yoongi menetes begitu saja.
"Aku.. aku tidak bisa... hiks.." Yoongi menutup wajahnya. Menyembunyikan tangisnya.
Jimin membawa tangannya yang terborgol untuk mengelus surai lembut kekasihnya. "Jangan menangis oke? Aku tidak apa apa sayang. Tidak apa apa."
Yoongi dapat merasakan dinginnya borgol itu di kepalanya. "Aku akan mengeluarkan mu.."
Jimin masih mempertahankan senyumnya. "Tidak apa apa sayang. Berjanjilah kau akan bahagia."
"Waktu kalian 5 menit lagi."
Suara penjaga itu menginterupsi mereka. Tapi Jimin memandang penjaga itu dan terkekeh. "Make it ten. "
Yoongi memandang Jimin. "Aku membawakanmu jeruk. Kau suka jeruk? Ini dapat membuat mood mu meningkat. Aku membacanya di majalah."
Jimin terkekeh dan mengangguk. "Kupaskan untuk ku."
Yoongi tersenyum manis dan mengupas jeruk segar yang di bawanya itu. Menyuapkan ke Jimin yang di sambut Jimin dengan gigitan kecil pada jari Yoongi yang membuat pemuda bersuari mint pudar itu merona dan cepat cepat menarik tangannya.
"Ingatlah hyung, kau harus bahagia oke? Dengan atau tanpa aku." Jimin mencondongkan badan dan mencium kening kekasihnya lama.
Yoongi menggenggam erat kaus tahanan yang dipakai Jimin. Berusaha keras menahan isakannya.
"Waktumu habis." Suara penjaga mengakhiri moment mereka. Jimin tersenyum pada Yoongi dan akhirnya kembali hilang dan meninggalkan Yoongi dalam keheningan lagi.
"Yoongi hyung, ayo kita pulang..." Taehyung yang sedari tadi hanya diam di pojok ruangan kini menepuk bahu Yoongi. Sekedar untuk menguatkannya.
.
,,,
.
Yoongi sudah kehabisan akal. Ia tidak punya apapun sekarang. Bahkan setiap harinya ia terlalu di sibuk kan dengan bekerja demi mengejar uang untuk menebus kekasihnya yang seminggu lagi akan di sidang.
"Hanya 18 juta won.. masih kurang 12 lagi..." Yoongi menghitung hasil nya selama ini.
Tubuhnya serasa remuk. Pukul 6 hingga 3 sore, ia bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu bar. Pukul 4 hingga 11 malam, ia menjadi penjaga minimarket. Terkadang jika bar tempatnya bekerja libur, ia akan menjadi pengantar susu atau pelayan yang di bayar harian oleh penghuni apartment di sekitar apartment Taehyung ini.
Yoongi memandangi tangannya. Tangan yang dulu putih mulus dan halus. Kini terasa sedikit kasar dan kapalan hasil kerja kerasnya mencuci, menyapu dan pekerjaan berat lain.
Taehyung sendiri terlalu sibuk berusaha menarik hutang dari orang orang yang dulu pernah berhutang pada Jimin dan berusaha melacak Hoseok.
Tapi apapun usaha mereka, tidak akan cukup mengumpulkan 12 juta won dalam waktu satu minggu...
Tiba tiba Yoongi berjengit. Hoseok.. Dia ingat Hoseok pernah menyebutkan sebuah nomor yang ia katakan 'nomor darurat' agar Yoongi bisa selalu menghubunginya.
Tapi ia tau. Ia harus menahan semua emosinya agar dapat menemukan pemuda itu. Apaoun demi Jimin...
Tanpa pikir panjang, di tengah malam yang sepi itu, Yoongi membuka ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Tanpa memperdulikan apapun resikonya.
"Halo?"
.
,,,
.
Hoseok menegak alkohol di tangannya sekali lagi. Kepalanya mulai pening. Ia sudah menghabiskan hampir 3 botol. Tapi ia tetap merasakan sebuah kekosongan.
"Halo?" Hoseok mengangkat panggilan pada ponselnya itu dengan sisa kesadarannya.
"Yoongi hyung?" Mendadak ia mendapatkan seratus persen kesadaran saat memdengar suara Yoongi.
"Kau membutuhkan uang? 12 juta dollar? Ya. Aku bisa memberikannya. Tapi tentu saja tidak gratis. Ya aku menginginkan bayaran. Kau yakin ingin tau apa yang ku inginkan? Datanglah besok. Ke cafe biasa. Jangan ajak siapapun termasuk Taehyung."
Hoseok menutup panggilan Yoongi dengan senyuman atau tepatnya seringai terpatri di bibirnya.
"Aku ingin tubuhmu. Min Yoongi. Kau akan menjadi milik ku."
.
,,,
.
TBC
.
Daaah chap depan mungkin bakal end ^^ plz jangan kutuk hosiki. Dia baik kok T.T cuma terlalu cinta Yoongi. Siapa sih yang ga suka badan mulus Yoongi? :( /peluk hosiki
Aku makasih banyak yg suka ff absurd ini T.T makasih buat reader nim yang udh mau baca apalagi mau review / fav / follow :* aku saaayang yoonmin~
makasih juga buat inspirasiku nulis ff ini. Aku sayang kamu wkwkwk.
Last but not least, review please ^^
