Hinata mengernyit saat menemukan mobil asing di halaman rumah Sakura. Matanya memundar hebat saat menemukan lambang kipas besar dikaca mobil bagian belakang. Siapa yang tidak tahu lambang kebesaran klan Uchiha itu. Mobil mewah itu bukan mobil yang biasa dipakai Sasuke. Dan Hinata buru-buru masuk saat perasaannya mulai tak karuan.

"Sakura!" Gadis mungil itu tahu bahwa berteriak di kediaman orang lain itu tidak sopan. Tapi saat ini ia butuh sahabatnya itu sekarang juga. "Sakura! Kau dim—"

Teriakan Hinata terhenti saat menemukan Sasuke di ruang tengah. Ia bernafas lega. Setidaknya, itu masih Sasuke.

"Hinata," Sasuke berujar. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Hinata yang berdiri tak jauh dari sofa yang tadi ia tempati.

"Syukurlah," kata Hinata lega. "Ku kira mobil di depan bukan milikmu, Sasuke."

Sasuke tersenyum tipis. "Kau berpikir aku hanya punya satu mobil?"

Dengan canggung Hinata tersenyum. Benar juga, orang sekelas Sasuke tidak mungkin hanya punya satu mobil mewah dibagasinya.

"Y-ya… begitulah."

"Duduk dulu," tubuh tegap Sasuke berbalik, kembali duduk di sofa nyaman milik Sakura. Diikuti Hinata yang duduk berhadapan di depannya. Saat bibir ranum itu ingin terbuka, Sasuke buru-buru menyela. "Di dalam ada Itachi."

Serangan listrik mencubit hati Hinata. Tubuhnya membeku untuk hitungan detik, sampai nafas pun terasa terhenti. Hinata ingat ia pernah bilang pada Sakura bahwa dirinya sudah memberikan izin untuk Kou bertemu dengan Itachi. Dan ia tak menyangka akan secepat ini sahabat merah jambunya memberitahu Sasuke.

Tapi, disisi hati Hinata yang lain, ia merasa lega. Setidaknya, rasa bersalah karena mencegah Kou bertemu ayah kandungnya sudah terbalas. Belakanganpun, keadaan lebih membaik. Dirinya yang sudah mendapat pekerjaan layak hingga waktu bersama Kou lebih banyak tanpa harus kekurangan biaya dan juga kesehatan Itachi yang Hinata tahu dari Sasuke dan Sakura sekarang jauh lebih baik.

Dan mungkin, dengan bertemu anaknya bisa membantu Itachi lebih membaik lagi.

"S-Sakura juga di dalam?" mendapat anggukan Sasuke, Hinata merasa lega.

"Aku nyaris menangis tadi melihat baka aniki itu begitu bahagia. Jadi, aku keluar dan meminta Sakura menjaga Itachi dan Kou." Senyum lebar Sasuke tidak bisa ia sembunyikan saat menceritakan kakak satu-satunya itu. Hinata mengerti bahwa Sasuke sangat menyayangi Itachi, dan mungkin sama besar dengan rasa cinta dan kasih dirinya pada Hanabi.

"Maaf," Hinata melirih, membuat Sasuke mengerutkan dahinya bingung. "Maaf selama ini mencegah Itachi bertemu dengan Kou."

Kenapa belakangan Sasuke merasa dirinya cengeng sekali? Mati-matian ia menahan tangis tadi saat melihat pancaran wajah Itachi lebih hidup saat bertemu Kou. Dan sekarang, dia ingin menangis lagi melihat Hinata begitu rapuh di depannya. Setidaknya, Sasuke masih memiliki ibunya dan Itachi. Tapi perempuan didepannya itu sendiri. Menanggung akibat atas kelakuan Itachi dan Hanabi sendirian.

"Berjanjilah Hinata, untuk terus menjadi bibi yang kuat bagi Kou. Aku, Itachi dan Sakura selalu ada untukmu. Dan aku mewakili keluarga Uchiha, meminta maaf atas semua yang terjadi pada keluargamu."

Seorang Sasuke tentu sangat berat merendahkan harga dirinya yang sudah tinggi sejak ia lahir. Tapi Hinata tentu tahu setiap ucapan Sasuke yang masih terdengar kaku itu tulus. Pancaran oniksnya yang hitam legam meneduh, penuh dengan penyesalan yang sudah Hinata maafkan bahkan sebelum permintaan maaf itu diantarkan untuknya.

"Tentu, tentu saja, Sasuke."

OWNER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY : LLYCHU

PAIR : NARUTO X HINATA

Rated : M

HAPPY READING!

Part VIII : Meeting and Reasons

.

.

.

"Lihat Sasuke! Dia menguap!"

"To-to…chan."

"Kau dengar Sasuke?! Dia memanggilku tou-chan!"

Sasuke mengangguk semangat. Meladeni semua kegembiraan Itachi dengan senyum lebar diwajahnya. Sekarang Itachi sedang bermain dengan Kou di ruang TV rumah Sakura. Kedua wanita itu sedang sibuk menyiapkan makan malam bersama di dapur.

"Ayo sana, Kou! Jalan ke Sasuke-jisan,"

Sigap, Sasuke mengambil jarak. Dua tangannya ia rentangkan, siap menangkap Kou yang berjalan tertatih ke arahnya. Umur Kou baru setahun lebih, tapi batita itu sudah sangat aktif dan rewel sekali. Saat Kou sudah dekat dengannya, Sasuke dengan sigap menggendong Kou. Dengan candaan pelan, Sasuke tertawa saat melihat Kou terkekeh geli karena gelitikannya.

"Makan malam sudah siap." Hinata muncul dari sekat dapur, masih memakai celemek ungu mudanya.

"Ayo, Kou." Itachi berdiri, lalu mengambil alih Kou dari Sasuke. Sejak tadi Itachi tak membiarkan siapapun menggendong Kou lama-lama. Bahkan Hinata saja belum menggendong Kou sejak ia sampai di rumah Sakura.

"Hinata," suara berat Itachi melembut, ia tersenyum pada Hinata yang memiliki warna mata mirip dengan Hanabi. Sasuke, yang mengerti segera melangkahkan kakinya lebih dulu ke dapur.

"Ada apa, Itachi-san?"

Wajah tegas seorang Itachi sekarang terlihat sangat teduh. Bibirnya tersenyum, membuat garis di kedua sisi hidungnya terlengkung indah.

"Terimakasih dan… maaf."

Kali ini Hinata yang tersenyum. "Aku juga berterimakasih sudah mencintai adikku, Itachi-san."

"—baba-chan.."

Racauan Kou memecahkan keheningan yang sempat terjadi antara Hinata dan Itachi.

"Kau lapar, sayang? Ayo makan." Itachi lebih dulu melewati Hinata menuju dapur dengan sesekali bercanda dengan Kou. Hidupnya lebih bersemangat saat sumbernya sudah di dekatnya, Kou. Kali ini ia berjanji akan mempertaruhkan apapun agar tidak lagi kehilangan orang terkasihnya. Cukup Hanabi, tidak lagi Kou.

Hinata sendiri masih berdiri dan menatap punggung tegap Itachi. Air matanya mengalir saat membayangkan sang adik ada disebelah Itachi. Mereka akan jadi keluarga bahagia jika saja Hanabi masih hidup.

'Hanabi… kau bahagiakan di sana?'

.

.

.

Denyutan dikepalanya tak berhenti sejak mendengar sang ibu terbaring lemah di rumah sakit. Naruto sama sekali tak tahu bahwa selama ini asma ibunya semakin parah. Ia memang tahu ibunya yang hiperaktif itu memiliki masalah pada pernafasannya. Tapi tak menyangka bahwa belakangan kondisi kesehatan ibunya itu menurun. Ditambah faktor umur yang membuat kadar parahnya lebih cepat.

'Berhenti merokok! Kau mau sesak nafas apa?!'

Itu kalimat yang sering Kushina sindir pada Naruto saat mendapati anak satu-satunya menghisap nikotin disertai bahan kimia lainnya. Naruto sendiri sudah berusaha berhenti merokok, tapi tetap saja jika tertekan ia akan mencari ketenangan dengan hisapan asap rokok.

Seperti sekarang. Sudah sebungkus lebih setengah ia habiskan hanya dalam waktu dua jam. Apartemennya sudah penuh dengan asap rokok. Beruntung pintu balkon ia buka hingga asapnya tak memancing alarm kebakaran otomatis yang terpasang di langit-langit apartemennya.

Biarpun ia keras kepala, tapi Naruto tetap menyayangi kedua orang tuanya. Terlebih ibunya. Mendengar sang nyonya besar sakit saja sudah membuat Naruto luluh, bagaimana sekarang saat ibunya sudah tak sadarkan diri nyaris sehari. Lain kali Naruto akan buat perhitungan pada asisten ibunya agar membatasi semua kegiatan yang di ikuti wanita berharga dalam hatinya itu.

Ponsel pintar milik Naruto berdering. Menampilkan nama sepupu bar-barnya di layar lima inchi itu. Seputung rokok yang tersisa setengah ia matikan, lalu menjawab panggilan dengan menggeser tanda hijau.

"Hm?"

"Kau dimana?" suara Karin tak seperti biasanya. Nadanya rendah dan penuh kehati-hatian.

"Di apartemen." jawab Naruto singkat.

"Bibi—" terdengar suara tarikan nafas berat, disusul hembusan yang tak kalah berat dari sebelumnya. "Sudah sadar dan mencarimu."

Naruto diam sebentar, entah mengucap syukur atau merasa kaget. Tapi ia tak bisa mengelak bahwa ia senang ibunya sudah sadar.

"Aku akan kesana sebentar lagi."

Sambungan terputus. Naruto tak langsung bangkit dari duduknya. Ia termenung sebentar, lalu memandang langit malam yang terlihat dari pintu balkon yang terbuka lebar. Jika suara Karin terdengar begitu lemah, berarti belum ada berita bahagia yang bisa membuat Naruto merasa lega. Biarpun ibunya sudah sadar, tapi dari nada Karin yang begitu, Naruto bisa menebak ada hal lain yang terjadi.

Kalau seperti ini, ia jadi ingat dulu saat dirinya menginjak umur sepuluh tahun. Tepat enambelas tahun yang lalu. Saat itu Naruto sudah diperingati bahwa kandungan ibunya lemah. Melahirkan dirinya saja harus melewati suasana tegang yang membuat sang ayah terus menerus merasa gelisah. Ya, dulu ibunya nekat untuk melakukan secara normal. Dan untungnya, semua berjalan dengan itu, karena melihat perjuangan penuh peluh istrinya, Minato memutuskan menggunakan marga istrinya pada anak pertama mereka.

Melihat Sasuke yang memiliki kakak, Naruto ingin sekali memiliki saudara. Ia meminta pada ibunya seorang adik. Dan jika bisa, ia ingin adik perempuan yang manis dan diberi nama Himawari. Saat itu Naruto sudah diberi pengertian bahwa kandungan ibunya sudah cukup lemah, dan juga umur yang makin menua. Tapi, melihat raut kecewa dari Naruto tentu membuat Kushina tak tega.

Akhirnya, Kushina menjalani program keluarga berencana. Dengan pantauan ketat dokter, akhirnya Kushina hamil. Awalnya semua berjalan baik. Naruto yang paling bersemangat tentang kehamilan Kushina. Tapi akhirnya, saat janin sudah terbentuk dan berjalan lima bulan, Kushina keguguran. Sebabnya karena Kushina kelelahan saat pergi berbelanja kebutuhan bayi bersama Naruto.

Saat itu, persis sama seperti sekarang, Naruto harus menyaksikan ibunya terbaring lemah dan tak sadarkan diri. Hingga sebagai laki-laki Naruto mulai berjanji untuk terus menjaga ibunya. Ia tak akan meminta yang aneh-aneh lagi. Ia akan menomor satukan ibunya apapun yang terjadi.

Dan melihat ibunya menangis karena bentakan dirinya tempo hari, Naruto merasa sangat bersalah setelahnya. Terlebih sekarang saat dirinya lengah dan membuat ibunya sibuk diluar sana karena kesepian.

Jadi sebagai lelaki… Naruto rasa ia belum menjadi anak yang berbakti.

.

.

.

"Kenapa kau ada di sini?"

Gadis berambut indigo itu menoleh cepat saat suara berat tepat berada di belakangnya. Mata peraknya mengerjap, lalu sadar bahwa dihadapannya adalah boss besar yang harus ia hormati. Maka dengan cepat Hinata membungkuk dan mengucapkan selamat malam.

Sasuke yang saat itu ada di sebelah Hinata ikut menengok ke arah Naruto. Sahabatnya itu tampak kacau, walaupun Sasuke akui karisma seorang Uzumaki Naruto masih mampu menyaingi karisma miliknya.

"Kami menjenguk ibumu, tidak boleh?" Ujar Sasuke santai.

Naruto yang memang balas berdebat hanya melongos masuk ke dalam ruangan dimana ibunya dirawat. Ia sudah tahu hubungan apa antara Sasuke dan Hinata. Jadi pertanyaan kenapa mereka bisa berdua itu tak perlu lagi diminta jawabannya. Yang Naruto herankan, kenapa juga mereka berdua harus menjenguk malam-malam begini?

"Naruto," suara lirih sang ibu meredakan lamunan Naruto tentang dua orang yang sekarang sudah ada dibelakangnya. Bibir tegas itu dipaksa tersenyum. Tak mau menampakan raut lemah di depan sang ibu.

"Dimana tou-san, kaa-san?"

Minato memang sudah pulang beberapa hari lalu. Tapi sejak kemarin ia tak bertemu ayahnya itu.

"Minato-kun tadi ke sini. Terus ibu suruh pulang." Kushina tampak bersemangat walaupun bicara dengan terbatas. Selang yang menusuk dua lubang hidungnya membuat rahangnya sulit digerakan. "Ne, Hinata-chan. Suamiku tampan, kan?"

"I-iya, ba-san. Minato-sama tampan." jawab Hinata hati-hati. Pasalnya ia bisa melihat Naruto meliriknya cukup tajam tadi.

"Naruto, tadi Karin ingin bicara padamu. Dia belum pulang dan menunggumu di ruangannya."

Anggukan singkat Naruto berikan sebagai jawaban pada Sasuke. Ia kembali tersenyum pada sang ibu. "Aku bertemu Karin dulu, kaa-san."

Kushina yang mendengar nama ponakannya itu segera cemberut. "Jangan dengarkan anak nakal itu. Ibu baik-baik saja, mengerti?"

"Aku mengerti." Jika saja Naruto tak memiliki pengendalian diri tinggi, mungkin saja kali ini ia ingin sekali menangis. Hey, laki-laki juga punya hati. Melihat sumber kehidupanmu terbaring lemah begitu mana bisa Naruto tidak sedih.

"Aku akan menemanimu. Biar Hinata yang menjaga ba-san." Sasuke tentu mengerti bagaimana perasaan Naruto saat ini.

Naruto membalikan tubuhnya. Pancaran biru matanya jelas sekali terlihat kosong. Hinata yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan memberikan semangat lewat tatapan mata.

"Tolong jaga sebentar ibuku."

Hinata mengangguk pasti. Gadis manis itu tersenyum lebar dan menghampiri Kushina dengan semangat. Mendengar ibunya yang terkekeh pelan karena kehadiran Hinata membuat Naruto merasa sedikit tenang. Setidaknya ibunya memiliki teman dan tidak kesepian lagi.

"Ayo," tepukan pelan Sasuke berikan sebagai tanda penyemangat untuk sahabat pirangnya itu.

.

.

.

Sebenarnya Hinata sudah sangat mengantuk. Dua hari ini ia tidak tidur dengan baik karena kerjaan kantor yang ia kerjakan cukup banyak hingga harus dibawa pulang dan dikerjakan di apartemennya. Dan juga ini sudah lewat dari jam sebelas malam.

Tepat pukul sembilan, Hinata mendapat telpon dari asisten Kushina dan mendengar kabar bahwa Kushina masuk rumah sakit. Hinata saat itu mengernyit bingung. Seingatnya Kushina termasuk orang tua enerjik yang tidak ada tanda-tanda sakit dan juga Hinata merasa tidak memiliki ikatan kerabat yang kuat hingga ia harus diberi tahu oleh asisten Kushina sendiri.

Dan saat dirinya diceritakan bahwa Kushina saat ini sendiri membuat Hinata tak tega. Saat itu memang ada Minato. Tapi pria yang sangat mirip dengan Naruto itu terduduk lemas di ruang tunggu tepat di depan kamar Kushina dirawat. Lagi-lagi Hinata bingung dengan suasana tegang yang sangat kerasa saat dirinya sampai bersama Sasuke.

Sasuke yang pada awalnya menegur pria tua pirang itu. Walaupun pertama kali bertemu, tapi dari cerita Kushina yang pernah Hinata dengar, Minato termasuk pria tenang yang memiliki perawakan ramah. Tapi pria yang sekarang menangis pelan itu sama sekali jauh berbeda dari perkiraan Hinata. Singkat kata, akhirnya Hinata mengerti kenapa Minato terlihat sangat sedih.

"…Kushina-basan terkena asma akut dan gagal ginjal."

Semua itu diakibat karena Kushina yang selalu memiliki jadwal segudang dalam agendanya hingga kadang kelelahan dan mengakibatkan asmanya sering kali kumat. Tidak makan dengan teratur, bahkan dari aduan sang asisten kadang tidak makan sama sekali karena merasa sedih setiap makan sendiri. Kebiasaan dulu saat mengkonsumsi obat-obat yang cukup keras karena ingin hamil juga memicu wanita berambut merah itu gagal ginjal.

Hinata tentu sangat mengerti bahwa sendiri itu tidak enak. Tak ada teman berbagi, bercerita dan menjadi sandaran saat kita sedih. Gadis itu kira Kushina mempunyai kehidupan yang enak dan menjadi idaman. Tapi tak disangka ia kesepian karena suami dan anaknya yang sibuk bekerja.

"Ne, Hinata-chan. Kenapa melamun? Tidak mendengar cerita bibi, ya? Apa kau mengantuk?"

Teguran Kushina membuat Hinata sadar bahwa ia sudah mengabaikan Kushina yang sedari tadi bercerita. Sebenarnya tidak mengabaikan juga karena Hinata cukup menyimak tentang keinginan Kushina memiliki anak perempuan.

"Aku dengar kok, ba-san. Dan aku memang sedikit mengantuk." Hinata terkekeh pelan. "Jadi ba-san dulu sempat keguguran?"

"Iya, padahal Naruto sudah sangat ingin memiliki adik." Wajah ayu Kushina menyendu. "Aku sudah ingin mengikuti program hamil lagi, tapi Minato dan Naruto melarang keras."

"Minato-sama dan Naruto-sama khawatir pada ba-san. Aku juga akan melarang keras jika itu membahayakan nyawa sang ibu." Dengan tulus Hinata berujar.

"Ya, aku mengerti itu. Jadi, aku yang tidak bisa hamil lagi ini menuntut Naruto untuk segera menikah dan memiliki anak. Setidaknya itu bisa mengobati keinginannya pada adik dulu. Tapi semakin dewasa anak itu semakin susah untuk dibilangi."

Hinata lagi-lagi terkekeh karena wajah eskpresif Kushina.

"Anak laki-laki biasanya sulit untuk diarahkan, ba-san. Mereka cenderung memilih jalan sendiri dan keras kepala. Menurutku sih, itu bagus karena laki-laki harus memiliki pendirian. Kalau jalan yang diambil masih benar, sang ibu wajib mendukung. Tapi jika salah, aku yakin seorang ibu akan mati-matian mengarahkan anaknya kembali ke jalan yang benar."

Pancaran mata Hinata sangat menawan saat mengatakan kata-kata penuh kebijakan itu. Walaupun tak seberapa dalam mengasuh, tapi Hinata sudah banyak belajar dari ayah dan juga ibunya dulu. Membuat Kushina menarik tulus bibirnya hingga terbentu senyuman lebar.

"Kau akan jadi ibu yang hebat, Hinata-chan."

Rona merah tersemat di kedua pipi Hinata. "T-terimakasih, ba-san."

"Ku harap kau bisa menikah dengan Naruto dan memiliki anak-anak yang lucu."

.

"Ku harap kau bisa menikah dengan Naruto dan memiliki anak-anak yang lucu."

Tangan Naruto berhenti di udara saat mendengar ibunya. Ia mematung di depan pintu yang sedikit terbuka, memperlihatkan ibunya yang sekarang tertawa lepas karena berhasil menggoda Hinata. Sudah berapa lama dirinya sebagai anak membuat ibunya bisa tertawa begitu senangnya? Sudah lama sekali. Bahkan Naruto tak ingat itu terakhir kali kapan.

"Kau harus membahagiakan Kushina ba-san, Naruto. Kau anak satu-satunya." Sasuke berbisik pelan, menepuk bahu Naruto dan berjalan pergi. Ini sudah malam dan besok ia harus ke kantor. Tadi ia sudah menitipkan Hinata pada Naruto sebelumnya.

Naruto sendiri memilih duduk di ruang tunggu sebelum mengganggu acara perbincangan antar wanita itu. Memberi waktu pada sang ibu untuk bercerita dan juga memberi waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir tentang perkataan Karin sebelumnya.

"Ba-san dari dulu memang memiliki pernafasan yang lemah. Gagal ginjal yang dideritanya cukup parah karena ba-san tak mau berobat dengan teratur."

Terngiang lagi nada Karin yang sinis padanya.

"Kau sebagai anak laki-lakinya berbuat apa saja selama ini? Oh aku lupa—" Karin melirikan matanya sinis. "Bahkan mengurus tubuhmu saja tidak bisa. Bagaimana menjaga Kushina ba-san."

Kalau saja tak ada Sasuke yang menahan bahunya disana tadi, bisa saja Naruto menggebrak meja kerja Karin yang terbuat dari kaca.

"Aku bukan Tuhan yang bisa membaca umur seseorang. Tapi ku peringatkan padamu untuk memaksa Kushina ba-san mengikuti pengobatan dengan teratur sebelum dirimu menyesal."

Hati Naruto terenyuh saat melihat Karin yang memiliki sifat keras sama sepertinya nyaris menangis saat itu juga. Terlebih mendengar nada lirih dan memohon yang berbeda dari nada sinis sebelumnya.

"Buat ba-san sembuh, Naruto. Ia keluargaku satu-satunya."

Bukannya Karin tak menganggap dirinya dan keluarga Namikaze lainnya itu keluarganya sendiri. Naruto mengerti bahwa maksud Karin adalah hanya ibunya yang tersisa dari keluarga Uzumaki inti selain dirinya.

Tidak pernah selama enam belas tahun terakhir ia merasa sebersalah ini. Ia pria berwatak tegas dan keras. Tak memiliki belas kasihan pada orang-orang yang ia anggap menyusahkan. Tak segan-segan menyingkirkan hal-hal yang menghalanginya. Tapi tentu Naruto sadar dirinya hanya manusia dengan perasaan yang selalu mendominasi. Dan kali ini, titik terlemahnya sedang di uji habis-habisan.

"Naruto-sama," Panggilan kecil dari sebelahnya membuat Naruto mendongak. Hinata sudah berdiri dengan dua gelas kecil yang mengepulkan asap dari atasnya. "Minum teh dulu."

Tangan Naruto terulur dan menerima gelas kecil itu. Dirasanya Hinata duduk disebelahnya dirinya, berjarak satu kursi yang terpisah.

"Bagaimana kaa-san?"

"Kushina-sama sudah tertidur setelah selesai bercerita. Beliau bilang pernafasannya sudah membaik setelah banyak bercerita." Naruto dengar nada senang yang renyah dari Hinata. Dan entah kenapa ia merasa lega sampai tak sadar ikut tersenyum walau kecil."S-saya sudah dengar tentang keadaan Kushina-sama."

"Hm," sahut Naruto singkat.

"B-bukannya mau ikut campur, tapi—" rasanya Hinata sudah lama sekali tak bicara gagap didepannya. Lagipula Naruto mengerti dari nada simpati Hinata kata apa yang akan keluar berikutnya. "Bi-bisakah saya ikut merawat Kushina-sama?"

Dengan cepat Naruto menoleh, menatap Hinata dalam dan mencari niatan jilatan lidah di sana. Naruto rasa ini waktu yang tepat bagi Hinata untuk masuk dan mencampuri urusan keluarganya, berubah sok pahlawan dan ujung-ujungnya mengambil hati ibunya untuk keuntungan sendiri. Ya, sifat curiga Naruto masih kuat, jadi dia hanya ingin melindungi ibunya saja.

Tapi saat mata birunya bertatapan langsung pada lensa perak keunguan itu, Naruto mendapati pancaran tulus yang sama seperti anak ingin merawat ibunya sendiri. Yang ia tahu Hinata memang yatim piatu. Tapi rasanya tatapan Hinata begitu iklas, penuh ketulusan dan kerinduan yang dalam.

"Maaf jika permintaan saya b-berlebihan tapi… saya hanya ingin merawat beliau. Karena selama ini Kushina-sama selalu baik pada saya." Merasa tak ada respon, terlebih Naruto yang terus menatapnya intens, Hinata jadi salah tingkah sendiri. Buru-buru dan menunduk dan menggeleng pelan. "Ka-kalau Naruto-sama t-tidak mengizin—"

"Hinata," ini mungkin pertama kalinya Naruto memanggil nama kecil Hinata secara langsung. Membuat sang empunya nama sedikit terkejut. "Menikahlah denganku."

"A-apa?"

"Mungkin kau yang paling tahu bagaimana ibuku sangat suka pada anak-anak mengingat kau selalu bertemu dengannya di panti asuhan. Dia ingin sekali memiliki cucu sendiri."

Hinata tahu ini bukan saatnya bersemu begitu. Tapi perkataan Naruto yang sedikit frontal itu membuat dirinya malu. Ia cukup dewasa untuk mengartikan arti cucu itu sendiri. Terlebih Naruto memintanya menikah tadi.

Naruto sendiri meminum teh yang tadi diberikan Hinata. Membiarkan gadis itu mencerna semua ucapannya yang memang kurang logis. Tapi mungkin ini memang cara yang ampuh untuk membujuk ibunya itu menjalani pengobatan.

Ya, Naruto berencana menikah dan mengimingi Kushina dengan cucu. Lalu menyuruh ibunya itu berobat agar hidup lebih lama dan bisa memiliki cucu sendiri. Naruto akui rencana itu begitu naif dan kekanakan. Namun dia tidak memiliki jalan lain. Terlebih, ibunya sendiri memang cukup kekanakan.

"Jadi bagaimana?" dirasa cukup, Naruto kembali bertanya. Matanya melirik pada Hinata yang masih diam dan tampak melamun. "Mungkin ini mendadak, tapi ibuku juga tak bisa terus begitu. Aku akan beri waktu padamu, jadi pikirkan baik-baik."

Tak ada jawaban sama sekali dari Hinata. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjap dan melirik kesana-kemari.

"Kau tunggu disini, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang."

.

.

.

TBC…

Author is back.

BOOOO…. Wkwkwk

Hay, sudah lama rasanya semenjak acara ngambek author dengan para haters. Ya, maaf ya author memang memiliki mental tempe #hiks.

Karena saya sempat kehilangan plot, dan mungkin akan kehilangan lagi, wkwkw, jadi ya jika dirasa cerita mulai ngawur, author cuma bisa nyanyi : MAAFKANLAH BILA KU SELALU MEMBUATMU MARAH DAN BENCI PADAKU~ KULAKUKAN ITU SEMUA… HANYA UNTUK BUATMU BAHAGIA by tangga.

Author minta maaf jika karya saya ini membuat kalian dongkol atau apa karena cerita yang asemeleh asemeleh… but, many people want this story to be finished.

Dan saat saya membaca semua komentar dari kalian, yang saya bisa lakukan hanya menahan tangis dan mengucap terimakasih banyak.

Thanks to ALL READERS. Maaf jika gak bisa sebut satu-satu. I know you know that I love yaaaa! Wkwkw

So, sampai ketemu lagi di next chapter. Phaaay!

Salam, llychu.

* And haters, i know people just sh*t for you because nobody can beat your arrogance. But please, don't be hypocrite. Get angry because my story isn't like your expectation but you keep reading it. If you want read story like your hope, just make it by yourself. Boo!