disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. shoujo-ai; fragmentatif; alur aneh; ooc.


.

{VIII. Rinai rekat}

Ketiga pendatang itu segera mengeluarkan Glock milik mereka masing-masing, mengeluarkan pelurunya dan membuka kuncinya kemudian menaruhnya di atas meja. Petra diperintahkan oleh Jean untuk selalu ada di belakangnya.

"Ymir," bisik Bertholdt. "Jangan gegabah. Aku beruntung hari ini Jean berkepala dingin."

Sang asisten tahu betul raut gusar yang dibuat sang detektif ketika mereka diminta sang teroris menaruh senjata mereka dan berdiri diam ketika satu-satunya pemegang senjata itu tampak tengah memaksa sang pria tua menandatangani beberapa berkas. Bertholdt Fubar sudah hafal bagaimana ekspresi sang detektif yang kasar, tidak sabaran, lagi tidak memperhitungkan peluang. Lagi, ia benar-benar bersyukur karena pengacara di sebelah kirinya mulai berkilah pandang dan berlaku sendirian.

{Tenang, Bertl, tenang. Kau sudah menyuruh Petra memanggil polisi tanpa diketahui; kau hanya perlu menjaga keharmonisan diam.}

"—Persetan denganmu, Bertl."

Telinganya tidak absen dari umpatan sang detektif.

"Ymir, tolong. Ini bukan taruhan; kau bisa saja mengancam nyawa CEO itu—"

"Persetan."

Detik berikutnya, senjata mulai meletup di tangan Ymir. Memecah konsentrasi dua yang bertransaksi tanpa suara pada awalnya. Sang teroris menaikkan senjatanya, Ymir terus berlari mendekat dengan moncong tidak berhenti berorkestra mengorasikan penolakan keras. Jean pun mulai bergerak seirama, ikut menekan, sementara Bertholdt yang ingin hadang menerjang diabaikan.

Memang, Ymir dan Jean dengan mudah membekuk sang teroris—yang bahkan tidak memberikan perlawanan berarti—dengan cepat Ymir membalik tangan pemegang pistol itu dan menahannya dengan hantaman keras ke lantai. Jean dengan sigap melumpuhkan senjata yang dibawa sang teroris dan menjauhkan kursi sang CEO darinya.

"Hah, hanya segitu analisis kalian? Padahal kalian pengacara dan detektif ternama, kan?" sergahnya seraya memuntahkan darah di sekitar mulutnya. "Sudah kuduga kalian akan kemari duluan."

-Bertholdt tahu.

-Bertholdt mengerti dari awal.

Harusnya, sang asisten lebih tahu dari siapapun akan perangkap yang bahkan terlihat di depan matanya.

"Jean, Ymir! Menjauh dari sana! Ia memasang granat di bawah kursi CEO!"

x x x

"Bertl?"

Reiner menepuk bahu sang pelayan kafe itu, tampak ekspresinya memudar, tidak seperti biasanya. Kebetulan saja kedai itu tengah kosong, kesempatan bagi semua staf untuk melepas keringat sejenak sebelum sore datang dan kafe akan dipenuhi oleh pengunjung terutama murid SMA. Mereka berdua tengah mengelap beberapa gelas tinggi yang berjajar di pinggir bar.

"Ah, Reiner, kenapa?"

"Kau tidak apa-apa, kan? Matamu baik-baik saja kan?"

"Tenang saja, aku baik kok." Bertholdt tersenyum seperti biasa. "Aku hanya memikirkan sesuatu."

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa sang pelayan kafe, yang berlaku serbasempurna tanpa jeda itu didera kebutaan permanen karena efek ledakan granat. Yang tahu benar keadaan mata Bertholdt adalah seluruh anggota firma hologram summer. Reiner dan Annie meminta cuti kerja pada Sasha demi mencari terapi untuk kebutaan Bertholdt, dan akan kembali lagi ke dunia hukum setelah segalanya beres; namun hal ini belum membuahkan hasil.

"Nee, Reiner?"

"—Hn?"

"Bagaimana kalau kita sudahi ini dan kembali ke dunia hukum?"


8/17›
sang pengeja kata membakar halaman lama.—


Jemari kecil itu merayap pelan. Jemari itu mendekat. Jemari itu berusaha menggapai.

Tidak ada kata, tidak ada suara yang dapat mengganti.

Telunjuknya hadir di sana, menghalangi linang air yang jatuh dari pelupuk manik cokelat.

"Ah—"

Baru saat itu Ymir melihat netra biru langit itu berkaca-kaca penuh kekhawatiran.

Tidak ada kata, tidak ada suara yang dapat mengganti.

Ymir tidak perlu sang bisu berbicara untuk menepis kekosongan di relung hatinya. Mengingat kejadian itu—mengingat bahwa Jean tak mampu berjalan, Bertholdt kehilangan cakrawala dunia, juga klien yang terbunuh bersamaan dengan teroris yang melakukan aksi bunuh diri.

Kenapa ia—kenapa air mata itu keluar?

"Apa aku—salah?" ia berujar. "Apa aku salah—telah pergi?"

(Sang bisu tersenyum lembut.)

Pemilik surai pirang itu berdiri dari duduknya, kini ia berada di depan Ymir yang masih duduk tertunduk dan mulai bergumam tanpa koherensi. Dikalungkannya kedua belah tangannya ke leher sang penulis, membawanya ke dalam kontak sederhana.

"Krista ..."

.

.

.

Menangislah.
Menangislah kalau itu membuatmu puas, Ymir.
Menangislah bersamaku.
Bagi lukamu denganku,

.

.

.

(tbc.)