HunHan

.

Disclaimer;

Seluruhnya dalam cerita ini 1000000000% adalah milik author HunFabb alias saya sendiri. Kecuali tokoh yang berperan di dalamnya alias HunHan

.


Sepasang kaki kecil itu melangkah menyusuri jalanan setapak desa. Beberapa kresek berisi sayuran dan bahan makanan lain menggantung di lekukan siku tangan kirinya sementara ia menghitung jumlah koin yang merupakan kembalian sisa belanjanya di pasar hari ini.

Luhan mendesah kecewa karena uang itu lagi-lagi tidak cukup untuk membeli sepotong kue sus lezat di toko kue Tuan Zhang di depan sana. Tapi tak apa, ia pikir. Setidaknya Luhan bisa memasukkan koin koin ini ke dalam celengannya. Celengan berbentuk ayam, terbuat dari tanah liat dan berukuran sedang itu adalah hadiah Natal yang dia dapat tahun lalu dari Mama.

Mama adalah pengurus panti asuhan tempatnya tinggal selama 13 tahun hidupnya, semenjak ia pertama kali diantar Papanya kesana. Luhan lupa lupa ingat sebenarnya, umurnya 3 tahun ketika itu. Entah itu Papanya atau bukan, yang jelas itu adalah seorang pria brewok yang membangunkannya satu pagi di hari yang bersalju. Membawanya menuju panti asuhan Mama dengan mobil tuanya yang berisik dan baunya yang tidak menyenangkan.

Seringkali Mama bercerita. Mengenang kembali ketika Luhan pertama kali dibawa padanya. Luhan sangat kurus ketika itu, memakai pakaian seadanya yang tampak lebih mirip seperti kain lap. Bersembunyi takut di belakang pria itu, menatap Mama dengan sorot polos dari sepasang mata berbinarnya yang membuat Mama tersentuh dan ingin memeluknya—melindunginya dari apapun dan siapapun, termasuk pria menyeramkan yang membawa ia padanya.

"Mama tidak tahu itu Papamu atau bukan, namun yang pasti Mama merasa ingin menjauhkanmu darinya. Saat dia pergi, kau menangis seharian, jadi mungkin dia memang Papamu. Namun karena beberapa alasan yang Mama tidak tahu, dia menyerahkan mengurusmu pada Mama. Mama pikir meski dia benar-benar Papamu dan orang baik, itu akan buruk jika kau hidup bersama dia." kata Mama setiap kali Luhan bertanya siapa pria brewok yang membawa ia padanya.

Mama adalah seorang wanita paruh baya berperangai lembut dan baik hati. Ibu dari 20 anak yang hidup panti—terhitung Luhan. Luhan adalah yang paling tua disana, dan sudah sepatutnya Luhan membantu Mama mengurus adik-adiknya yang lain, seperti belanja sayuran dan bahan makanan lain di pasar yang jaraknya sekitar 2 km dari panti.

Mama sudah terlalu tua untuk berjalan sejauh itu, jadi tugasnya hanya memasak sementara berbelanja itu menjadi tanggung jawab Luhan setiap harinya dengan Mama yang membiarkan uang kembaliannya yang tersisa untuk Luhan membeli kue kesukaannya di toko Tuan Zhang yang selalu ia lewati dalam perjalanan. Namun seringkali uangnya habis tidak tersisa atau hanya tersisa sedikit, sehingga tidak cukup bahkan untuk membeli sepotong kue. Maka, Luhan lebih memilih untuk menyimpan uang yang tersisa sedikit itu. Untuk membeli apapun yang dia inginkan di masa depan. Dia ingin membeli sepotong sweater baru untuk Mama di Natal tahun ini.

Terlalu fokus menghitung koin koin di tangannya, Luhan tidak melihat jalan hingga ia terantuk batu. Luhan tidak jatuh, namun koin koin di tangannya berhamburan kemana-mana.

"Oh tidak!" Luhan berjongkok memungut koin koin itu dan menghitungnya kemudian. Ia kehilangan satu. Kepalanya bergerak kesana kemari mencari satu koin yang hilang. Ia berbinar dengan senyum kekanakan ketika menemukannya, menggelinding cukup jauh. Ia berjalan mendekat dan berjongkok hendak mengambilnya namun sepasang sepatu hitam mengkilap lebih dulu menginjak koinnya.

Luhan mendongak, menemukan sosok pria tinggi dengan setelan mahal membalut tubuh sempurnanya menunduk melihat ke arahnya. Orang seperti ini...Luhan selalu melihatnya, mereka berasal dari kota dan sering kali datang untuk mengadopsi salah satu adik Luhan di panti asuhan. Pria itu berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Luhan. Dan Luhan tersentak kemudian, karena wajah orang itu begitu tampan, seperti viaualisasi tokoh pangeran dalam sebuah dongeng tentang kerajaan favoritnya yang selalu Mama bacakan setiap malam ketika ia kecil.

"Kenapa kau tersenyum hanya karena menemukan sekeping koin?" Orang itu bertanya, menyentak Luhan dari lamunannya. Suaranya terdengar tidak bersahabat.

"Hah?" Luhan berkedip, kemudian menghindari tatapannya yang seolah berusaha melubangi kepala kecil Luhan. Untuk beberapa alasan yang tidak ia mengerti, Luhan merasa takut. "A-aku—"

"Siapa namamu?" tanya pria itu, memotong ucapannya.

"L-Luhan," jawabnya gugup.

"Luhan?" Pria itu mengulang, tampak seperti mengingat-ingat. "Apa kau salah satu anak yang tinggal di panti asuhan?"

"Y-ya." Luhan mengangguk. "Tapi Tuan, saya bukan seorang anak, tapi remaja 17 tahun."

Mendengarnya, pria itu tertawa tiba-tiba sementara Luhan mengernyit tidak mengerti alasan kenapa ia tertawa seperti itu. Luhan melihat gigi taring di kedua sudut bibirnya yang melengkung, menambah kesempurnaan wajah tertawa pria itu.

Pria yang tidak Luhan tahu akan mengubah hidupnya sebentar lagi.

"Ya aku bisa melihat itu Luhan."


.


"Lulu hyung, kau akan pergi sebentar lagi." Luhan menoleh pada salah satu adiknya yang baru saja bicara ketika Luhan sedang memotong sayuran. Luhan menunda pekerjaannya dan berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan anak 7 tahun itu.

"Siapa yang bilang begitu?" Ia bertanya.

"Aku mendengar Mama bicara dengan seorang pria asing dan menyebutkan tentang hyung yang akan dibawa olehnya."

Luhan mengernyitkan hidungnya pura-pura marah. "Jungshin-ah jangan dibiasakan menguping, itu tidak baik tahu?" Ia mengacak rambut adiknya.

Jungshin tidak menghiraukan omelan Luhan, tangan kecilnya memeluk leher Luhan. "Hyung, aku tidak mau Lulu hyung pergi,"

"Yak! Aku terlalu tua untuk di adopsi Jung-ie."

Jungshin melepas pelukannya, dan melihat Luhan. "Jadi kau tidak akan pergi?"

"Uh-huh" Luhan mengangguk. "Tidak akan pergi tanpa Jungshin dan yang lain ikut. Hehe." Kemudian Luhan menunjukan cengiran yang membuat ia dan Jungshin tampak seumuran.

"Janji?" Jungshin menunjukan jari kelingkingnya.

"Janji." Dan Luhan mengaitkan itu dengan jari kelingkinya sendiri.

Sayangnya. Tidak seperti dugaannya. Luhan bukan di adopsi melainkan lebih dari itu.

Lebih dari sekedar menjadi anak angkat seorang Oh Sehun.


.

.


Poor!Lulu

.

.

520!