Diamond of Destruction
Eyeshield 21 © Inagaki Riichiro-Murata Yuusuke
Holy Cow Project ©
Warnings: Contain a lot of gaje-ness. Beware.
Flame is allowed with some condition
Eighth: Conflict Torn
Yamato's manor, after incident
"Mamori... diculik?" suara Yamato samar-samar dan terdengar shock, namun pada saat yang bersamaan, ia masih sanggup menjaga suaranya tidak bergetar. Dari seberang ponselnya, dapat ia dengar dengan jelas desahan tak tenang.
"Iya—dan kita berdua gagal mendeteksinya. Sepertinya kita lalai mengawasi Hiruma." Taka berujar. Tak ada ketakutan maupun penyesalan dalam suara beratnya. Kening pemuda berambut acak-acakan ini berkerut, berpikir.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita melapor pada Paduka Ratu?" dengungan singkat menyusul dari balik sana. Yamato mendesah kesal, meninjukan tangannya ke depan—tanda sebal—kemudian mengacak rambutnya.
Jeda keheningan merayapi punggung Yamato yang terbungkus military jacket warna coklat beige. Ia mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangan kirinya, lalu kembali mendesah gelisah. Tak ada yang bersuara. Deru desah angin juga enggan memecah hening. Hingga Taka yang menghidupkan kembali suasana.
"Ya sudah—kita kembali ke Eclat saja. Kurasa kita akan lebih mendapatkan solusinya jika kita ke Eclat." Taka memberi saran. Yamato—yang otaknya buntu karena panik. Dan usul ini, tiba-tiba saja membawa pencerahan pada otaknya yang sempat mampet.
"Y-ya... Iya, kita kembali saja dulu ke Eclat... Kapan kita bisa berangkat?"
"Malam ini juga, dibawah lunar porte. Secepatnya. Kau tahu tempatnya kan?"
...
Meanwhile. Chateau de Obscurite, The Frozen Castle
Hiruma Youichi, nama pemuda itu. Sosoknya yang terbalut bayangan hitam samar-samar menguarkan aroma menyakitkan. Iris tajamnya yang berwarna hijau cerah berkilat-kilat dalam kegelapan yang mencengkeram, membuatnya terlihat seperti predator berbahaya yang tengah mengincar mangsanya. Ada gejolak kemarahan yang sarat terlihat dari tatapan mata itu—yang membuatnya memantapkan langkah kakinya saat menginjakkan lantai berlapiskan es tebal yang dinginnya menusuk tulang.
Tubuh kekar pemuda itu hampir polos, tanpa perlindungan apapun kecuali kemeja tipis berwarna hitam yang kancingnya tak terpasang serta celana jins lusuh. Meski ia tahu koridor yang dilewatinya tak terperikan dinginnya—mulai dari seluruh ornamennya yang terbuat dari es dan salju hingga tiupan angin yang serasa membekukan sel-sel—ia tetap tidak mau melindungi tubuhnya dengan pakaian berbahan tebal.
Bukan keganjilan itu saja yang ditampakkan oleh pemuda beraura hitam ini. Di lengannya yang kekar, bergelayutlah seorang gadis. Kesadarannya terserap habis, matanya terpejam rapat. Satu-satunya indikasi bahwa gadis berambut auburn ini masih hidup adalah deru nafasnya yang minim.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki pemuda itu terdengar berat dan dipaksakan. Dan ketika matanya menangkap bayangan sebuah pintu tembaga yang besar dan raksasa, ia berhenti.
"Izinkan aku masuk." Sergahnya tak sabar, mulai tak tahan dengan kebekuan yang mulai menggerayangi punggungnya. Terlebih lagi, ia sudah tak kuat menahan beban seberat 55 kilogram yang sejak tadi sore terus menggelayutinya.
Dua penjaga berbaju besi itu segera minggir, memberi akses masuk pada pemuda itu. Aura membunuhnya luar biasa. Bergidik, kedua penjaga itu membuka pintu berat itu dan menampakkan ornamen ruangan luas yang didominasi merah itu.
"Silakan masuk, Paduka Pangeran." Disusul dengungan simpel dari pemuda kekar bertitel pangeran itu, kedua penjaga itu membungkukkan badannya. Saat Hiruma melewati mereka dengan aura membunuhnya yang kental, kedua penjaga itu kembali bergidik.
Ruangan itu sangat luas. Dindinginya tidak terbuat dari es seperti ruangan lain di kastil ini. Ruang singgasana Raja adalah satu-satunya tempat yang dindingnya terbuat dari batu rubi merah darah dan lantainya dilapisi karpet tebal yang juga berwarna merah terang. Dan disanalah ia—sang Raja Kegelapan yang telah bertakhta selama bertahun-tahun. Ayah kandung dari Hiruma Youichi, orang yang berbagi nadi dengannya.
Hiruma Yuuya—Paduka Raja.
Pintu dibelakang Hiruma Youichi tertutup rapat—menyisakan sedikit hawa dingin yang terbawa. Namun dua detik berikutnya, Youichi merasa kulitnya terbakar panas yang berlebih. Ia juga mulai merasakan tubuhnya mengeluarkan keringat akibat suhu ruangan yang panasnya ganjil.
Mata Youchi menatap mata Yuuya. Keduanya menyeringai.
"Selamat datang, Youichi, anakku." Ujar Yuuya lambat-lambat sambil berdiri dan merentangakan tangannya—seolah ingin memeluk anak bungsunya itu. Senyum licik terkembang dari wajahnya yang mulai berkeriput.
Reaksi dari Youichi dingin-dingin saja. Ia hanya memejamkan matanya sembari mendesah, kemudian mencibir. Matanya memandang sekeliling, dan pandangannya terhenti sejenak pada kakak beda ibu-nya yang memandang sombong dari kacamata berlensa birunya.
"Yo, kakak sialan. Kupikir kau sudah mati." Celanya, memandang sinis dari sudut matanya pada kakaknya itu. Akaba Hayato—nama resmi, Hiruma Hayato—membalas pandangan adiknya dengan seringaian.
"Fuh. Jangan katakan hal yang tidak penting di depan Ayah, Youichi." Suara Hayato terkesan dimanis-maniskan. Ia pun memaksakan lengkungan ganjil di wajah tampannya. Youichi terkekeh pelan.
"Sungguh reuni yang hangat, anak-anakku. Aku sendiripun sebenarnya sudah rindu denganmu, Youichi. Enam bulan di Bumi—setengah manusia sepertimu mungkin bisa terbunuh. Aku terus memikirkanmu selama kita tidak bertemu..." Yuuya menengahi pembicaraan sengit diantara anak sulungnya dengan anak bungsunya. Ia memasang mimik sedih sembari menatap anak bungsunya yang berbagi warna iris dengannya. Youichi mencibir lagi.
"Aku tahu kau bicara omong kosong, ayah." Ujarnya sinis, menampakkan wajah sengit pada ayahnya. Mendengar perkataan anaknya, Yuuya memasang wajah sedih yang hanya dipermukaan. Bibirnya tetap melengkung membentuk seringai picik.
"Wah—jangan kau berkata begitu, nak. Bagaimana pun juga, aku ini ayahmu. Tentu saja aku sedih jika tak bertemu denganmu." Bisiknya pelan, sarat akan nada kebencian. Hiruma terkikik.
"Ya, kau sedih tidak bertemu dengan mayat-ku." Cibir Hiruma, memandang sebal ke ayahnya. Yuuya tersenyum, kemudian berjalan perlahan, mendekat ke anak bungsunya. Saat ia hanya tinggal tiga inchi dari Youichi, ia berhenti.
"Kau sudah melaksanakan perintahku. Sekarang, letakkan gadis itu di tanah." Yuuya memerintah, mengambil beberapa helai rambut auburn si gadis dan mencium harum shampoo-nya. Tindakan ayahnya ini, entah mengapa, membuat darah Youichi bergolak.
"Cih. Ku harap kau tidak menyentuhnya dengan tangan kotormu itu, ayah sialan." Umpat Youichi, tetapi tetap melaksanakan perintah ayahnya. Dengan berat hati, ia menggeletakkan si gadis di bawah kaki ayahnya.
Yang terjadi selanjutnya, Yuuya membungkuk untuk memastikan wajah si gadis. Ia tersenyum tipis saat mengetahui kebenaran entitas yang sedang tergeletak tak berdaya itu adalah sosok yang ia cari. Kemudian, Yuuya memanggil Hayato—memintanya untuk memastikan.
"Hayato, kau satu-satunya yang bisa melakukan ini." Bisik Yuuya pada Hayato saat sosok bersurai merah cerah itu. Hayato berjongkok, mendekatkan dirinya pada si gadis itu. Jari-jarinya kemudian menyesuri lekuk wajah si gadis. Semakin lama, belaian Hayato pada wajah si gadis turun ke leher, dan berhenti sebelum jarinya menyentuh belahan dada si gadis.
Hening merayap. Semua mata tertuju pada apa yang dilakukan oleh Hayato. Dari jari-jari lentiknya, ia melakukan hal magis. Dari sana, muncul percikan kembang api berwarna hijau terang yang terlihat menyakitkan. Lalu, beberapa saat kemudian, dari tempat dimana bunga api terpercik, muncul pendar yang diyakini berasal dari si gadis.
Semuanya menelan ludah.
"Ya, gadis inilah dia—sesuai legenda, jiwanya terbuat dari kristal." Bisik Hayato akhirnya, mengeluarkan percikan kembang api hijau lagi, kemudian pendar itu meredup.
Seringai kepuasan terpeta di wajah Yuuya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai menangis. Kakinya yang tanpa alas membelai pipi si gadis dengan kasar. Hayato ikut tersenyum puas bersama ayahnya. Hanya Youichi yang tetap kaku. Wajahnya statis, antara ingin marah dengan kecewa.
Tawa terus menggema di ruang singgasana raja—menggetarkan dinding rubinya. Hanya Youichi yang tetap statis. Tak ada sesenti-pun senyum yang mengambang di wajah tampannya. Tawa itu terus mengiang di ruangan itu sampai telinga Youichi muak rasanya.
"Hahaha—aku senang sekali hari ini. Akhirnya mimpi kita semua, Hayato..." ujar Yuuya di akhir gelak tawanya. Ia menyeka beberapa butir air matanya yang menggantung di sudut-sudut matanya.
"Nah, ayah. Kurasa ayah harus mempersiapkan diri untuk ritual cœur melange. Kurasa akan membutuhkan waktu yang lama, jadi... sebaiknya ayah beristirahat saja agar penggabungan jiwanya maksimal." Hayato berujar tenang sembari membetulkan letak kacamata berlensa birunya yang agak miring ke kanan. Seringai bahagia menghiasi ronanya yang tampan. Youichi menggigit bibir, merasa familier dengan kosakata kakaknya.
"Penggabungan jiwa? Maksudmu—?" Youichi bertanya, lambat-lambat. Ia tahu apa itu cœur melange, dan ia tahu persis apa-apa yang dilakukan untuk melakukannya. Ia pernah membacanya di sebuah buku kuno milik perpustakaan kastil.
"Iya, Youichi. Penggabungan jiwa—cœur melange." Hayato menyeringai, menyadari mimik wajah adiknya yang terlihat sedikit tidak tenang. Youichi menatap sengit kakaknya, kemudian memalingkan muka dan badannya. Tapi tindakan Youichi itu dicegah oleh sang ayah—Yuuya mencengkeram erat bahu Youichi, dan memunculkan senyum memuakkan.
"Kau mau kemana Youichi? Aku masih punya satu perintah lagi untukmu." Ujar Yuuya. Youichi memandang benci ke ayahnya itu kemudian mendecak. Mengerti akan maksud Youichi yang sudah muak dengan keadaan ini, Yuuya membuka mulut.
"Bawa gadis ini ke tahanan istimewa. Aku sendiri harus mempersiapkan diri untuk ritual. Gadis ini juga harus stabil keadaannya sebelum ritual cœur melange berlangsung." Bisiknya di telinga mancung anaknya. Tanpa sepatah kata lagi, Youichi membalikkan tubuhnya, menghadap ayahnya. Giginya bergemelatukan menahan amarah ketika ia meraup tubuh ringkih si gadis—merengkuhnya ke lengannya yang kokoh.
Setelah si gadis berhasil teramankan, Youichi membalikkan badannya membelakangi ayah dan kakaknya yang kini, dapat ia tebak, memasang wajah menyebalkan.
"Sel istimewa, eh? Tidak biasanya kau menempatkan tahananmu di sel itu." Celanya, kemudian mulai melangkah menjauhi ruang singgasana ayahnya.
"Karena ia istimewa, anakku. Sama seperti ibumu—yang berada di sel yang sama." Ujar Yuuya lugas, tanpa merasa terbebani sama sekali. Youichi memandang picik kedua entitas yang paling dibencinya di dunia dengan sudut matanya. Lalu, tanpa bercuap-cuap lagi, Youichi melangkahkan kakinya untuk membawa si gadis ke tempat yang diperintahkan ayahnya—sel tahanan istimewa, jauh dibawah lantai hangat ruangan ini.
...
Ville du Eclat—Bijou, Heaven: Crystal Manor
Desah nafas Yamato semakin tak beraturan. Semakin lama, mukanya semakin pucat mengetahui Paduka Ratu akan segera datang untuk berbicara dengannya dan juga Taka—temannya, penanggung jawab Mamori.
Ruang pucat yang terkonstruksi dari berlian berkilauan itu entah mengapa serasa menekan batinnya. Ia dapat merasakan langkah kaki dari ratunya. Setiap detik yang berlalu rasanya bisa membunuhnya. Bagaimanakah reaksi ratu seandainya beliau tahu anaknya diculik oleh pihak musuh.
Krieeet...
Suara berat engsel yang berkarat terdengar, membuat degup jantung Yamato berderu lebih kencang. Kemudian langkah yang ditunggu-tunggu tiba. Kasut paduka ratu yang berkilauan—tersulam benang sutra berwarna emas di ujungnya—terlihat dari balik pintu kristal itu. Menyadari sang ratu yang terhormat masuk ke ruangan yang dihuninya, Yamato dan Taka berdiri dan membungkuk hormat.
"Sudahlah—Yamato, Taka. Kalian boleh duduk kembali." Paduka Mami berujar lembut. Bola mata birunya memancarkan keramahan. Yamato dan Taka-pun menurut—mereka mengenakkan diri di sofa putih mutiara yang empuk—terbuat dari bulu angsa high quality. Sofa itu entah mengapa memberikan sensasi tak menyenangkan di pantat mereka—seolah mereka bisa tenggelam ke dalam sofa super empuk itu.
Mami kemudian melangkah perlahan dengan anggunnya menuju seberang sofa empuk itu—menuju kursi tinggi yang terbuat dari perak berkilauan. Setelah mendapatkan posisi yang ideal, Mami merimpel senyum indah kemudian menatap kedua pasang bola mata cokelat teduh milik orang kepercayaannya. Dia mencari penjelasan—mengapa mereka berdua mendadak datang ke Eclat tanpa bilang-bilang.
"Err... Ratu, kami sebelumnya mau meminta maaf..." ujar Yamato pelan, hampir mendekati bisikan. Mami mencondongkan tubuhnya kedepan, menatap mata cokelat chestnut Yamato yang berkilau.
"Minta maaf untuk...?" tanya Mami lambat-lambat, mencoba mengkorek penjelasan dari mulut pucat Yamato. Merasa sedikit tertekan, Yamato menjilat bibirnya dan melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong.
"...Karena kami lalai menjaga Putri. Dengan bodohnya, kami malah membuatnya diculik oleh keluarga neraka kotor itu. Maafkan kami, Yang Mulia... Kami sungguh, sangat, menyesal..." Yamato akhirnya berhasil menyelesaikan kalimatnya. Setelah itu, ia menundukkan kepalanya ke bawah—terlalu pengecut untuk melihat reaksi dari Mami. Ya, ia tahu ia salah. Tapi ia tak sanggup menerima hukumannya.
Dan seperti yang telah di duga, ada perubahan ekspresi di rona elok Mami. Parasnya yang ayu—yang tadinya menyunggingkan senyum—kini ternodai oleh kehadiran kerutan di pelipisnya. Wajahnya terlihat tak percaya dengan kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh dua anak buahnya.
Lalu, hening merayap masuk. Tak ada suara apapun—hanya sunyi senyap dan deru nafas bening dari ketiga entitas itu.
"Anak-anak, jujur aku kecewa pada kinerja kalian. Bagaimana bisa kalian membiarkan nyawa seorang penduduk Eclat di ujung tanduk?" Mami-lah yang akhirnya menembus selaput keheningan diantara mereka. Namun entah mengapa satu kalimat dari mulut Mami, membuat suasana makin sunyi.
Nafas dari hidung Yamato dan Taka semakin lama semakin tipis—hingga tidak terdengar sama sekali saking pelannya. Yamato tidak berani menatap biru azure Sang Ratu. Begitu pula dengan Taka—sorot matanya yang penuh keberanian meredup, meski masih menyisakan titik-titik keberanian yang tersembunyi di sudut-sudut matanya.
Namun, yang terjadi detik berikutnya sungguh tidak bisa diprediksi oleh Yamato maupun Taka. Yang keluar dari bibir Mami bukanlah hukuman yang bakal diterima oleh Yamato dan Taka atas kegagalan mereka—melainkan sebuah gelak tawa ganjil.
"Hahahahaaa... ekspresi kalian lucu sekali, anak-anak! Iya, memang aku kecewa dengan kinerja kalian. Tapi kalian jangan langsung shock begitu dooong! Tidak kereeen, ahahaaaa." Mami tergelak habis-habisan sampai di sudut matanya terlihat beberapa butir air mata. Yamato dan Taka hanya bisa terbengong-bengong.
"Err... Paduka Ratu? Kita sedang menghadapi situasi krisis dan... Anda tidak menghukum kami?" Taka bertanya lambat-lambat dengan suara beratnya yang khas. Mendengarnya, Mami malah tambah keras tertawanya.
"Justru karena krisis itulah aku membiarkan kalian tetap menjadi jendral depan tentara Eclat, bodoh. Kalau aku menghukum kalian sekarang, daya tempur kita malah akan berkurang drastis." Ujarnya, yang membangkitkan kembali rona ceria di wajah kedua pria tampan itu.
"Tapi tetap saja kalian akan mendapatkan hukumannya nanti." Ucapan Mami kali ini kembali menyurutkan semangat dua pemuda flamboyan ini.
...
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan untuk merebut putriku kembali?" kini Mami, Yamato dan Taka tidak sendirian. Mereka ditemani Maki—tetua Eclat yang dihormati hampir semua orang, termasuk Mami sendiri. Di ruang putih berkilauan itu, mereka membicarakan strategi perang.
"Kami akan menerobos atmosfir dunia bawah fajar nanti. Kekuatan mereka akan berkurang drastis pada saat fajar. Lagi pula, kami tahu persis apa yang akan dilakukan iblis-iblis tak berotak itu—mereka akan melakukan ritual penggabungan jiwa." Jelas Taka berapi-api, disusul siulan singkat dari Yamato. Namun sepertinya, Mami tidak setuju dengan rencana Taka.
"Bukankah lebih baik menunggu mereka naik ke perbatasan? Selain kita lebih mudah menyerang mereka di perbatasan, kita tidak perlu menghabiskan stok buah ajaib itu." Mami membeberkan usulnya. Taka mengerutkan kening—menimbang-nimbang sejenak. Hal yang sama dilakukan pula oleh Yamato. Sedangkan Maki, seolah tak ada, dia hanya terduduk dan dari raut wajahnya saja terlihat jelas kalau dia sedang bosan.
"Tapi, jika mereka telah naik ke perbatasan, ritual penggabungan apalah itu telah berhasil mereka lakukan dan kita kehilangan Mamori? Sama saja dengan senjata makan tuan." Yamato menyeletuk, menegakkan tubuhnya setelah dengan nikmatnya ia menyandarkan dirinya di sofa bulu angsa super empuk.
"Nay, nay, nay... Kalian semua memang anak-anak bodoh. Kurasa kalian bahkan tidak tahu apa definisi dari cœur melange..." terbatuk-batuk, Maki menurunkan cerutu panjangnya dan menatap ketiga malaikat itu dengan sorot mata meremehkan. Mata birunya berkabut.
Semua mata kemudian menoleh pada sosok mini Maki, sang tetua. Maki mendesah kesal ketika melihat tatapan merana dan menuntut dari tiga malaikat generasi bawahnya.
"Baiklah, baiklah. Akan kujelaskan pada kalian bertiga apa itu cœur melange." Maki meloncat turun dari kursi tingginya—yang agak jauh dari komunitas—sambil menyumpah serapah dalam bahasa kuno yang tidak bisa dimengerti apa artinya.
"Seharusnya kalian lebih sering membaca buku ilmu hitam. Kalian sungguh generasi—"
"Tapi buku ilmu hitam dilarang." Sebelum Maki sempat memaki mereka lebih jauh, Yamato memotong perkataan Maki dengan nada tenang yang inosen. Kelakuan Yamato yang ini membuat sudut bibir Maki terangkat menjadi cibiran.
"Huh, terserahlah. Kurasa kalian hanya mengerti bahwa cœur melange adalah ritual penggabungan jiwa yang dilarang. Tapi ritual itu tidak hanya menggabungkan jiwa. Ritual ini adalah untuk memakan jiwa." Berdeham sejenak, Maki kemudian melanjutkan penjelasannya dengan suara membosankan yang dipanjang-panjangkan.
"Memakan jiwa, adalah istilah umumnya. Sebenarnya, jiwa kita tidak memakannya. Hanya menyerap. Jadi, kita seperti memperbaiki jiwa kita sendiri dengan menggabungkan jiwa kita dengan jiwa yang, tentu saja, lebih murni dan baik daripada jiwa kita sendiri.
"Ritual ini dianggap terlarang karena bisa menyebabkan ketidak seimbangan. Jiwa yang kita serap belum tentu juga bisa beradaptasi dengan jiwa kita. Jika kita tidak berhasil mengalahkan jiwa murni yang berhasil kita gabungkan, reaksi rejeksi akan terjadi, dan malah mengakibatkan kerusakan yang parah.
"Yah—jika kita berhasil menguasai jiwa orang lain, kita akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Dan pada saat itu pula-lah, ritual dianggap sempurna. Namun, dalam sejarah sedikit sekali orang—atau malaikat dan iblis—yang bisa menyempurnakan ritual itu. Selesai. Nah, ada yang ingin ditanyakan?" cara menyebalkan untuk menyelesaikan penjelasan panjang lebar adalah tatapan menggurui dari Maki. Namun sepertinya, ketiga malaikat ini tidak merasakan kesebalan itu. Yamato malah dengan antusias mencondongkan tubuhnya kedepan dan menyeringai.
"Nek, berarti jika iblis-iblis itu melakuakn ritual apalah itu, belum tentu mereka bisa mendapatkan jiwa Mamori, kan?" tanya Yamato, menatap mata biru berair Maki dengan penuh semangat. Maki memandang sebal pada Yamato, kemudian mengangkat bahu.
"Entahlah. Jiwa para iblis sama kuatnya dengan kita. Belum tentu juga ritual itu tidak berhasil." Jawab Maki, kemudian menyorongkan cerutu ke mulutnya dan menghisapnya keras-keras.
"Lalu—apa yang terjadi dengan tubuh yang telah ditinggalkan jiwanya? Dan apa yang terjadi jika jiwanya mengalami penolakan?" kali ini Mami yang bertanya—mencoba menenangkan diri. Maki mengerling Mami dari sudut matanya dan meletakkan cerutunya.
"Tubuhnya tentu tidak akan punya jiwa lagi. Tubuhnya akan menjadi wadah kosong yang tak ada isinya jika jiwanya diambil. Dan... jika terjadi penolakan, kedua jiwa itu akan musnah—tak bersisa. Menghilang seperti debu. Tambahan, jika kita membunuh jiwa gabungan itu, kita akan kehilangan kedua jiwa itu sekaligus."
"Itu berarti, sekarang atau tidak sama sekali. Betul kan, Maki?" Taka bertanya, yang disusul anggukan singkat dari Maki.
"Nah—sekarang semuanya kuserahkan pada kalian. Persiapan ritual penggabungan jiwa membutuhkan waktu yang cukup panjang—sekitar lima hari. Kalian bisa kehilangan aset berharga kalian selamanya bila kalian tidak segera bertindak. Tindakan apa yang akan kalian ambil?" nada dalam suara Maki berubah—menjadi keras dan tidak lagi membosankan. Yamato dan Taka mengerutkan kening sejenak. Begitu pula dengan Mami.
"Oke, sudah kuputuskan. Kita akan menerobos berdua saja. Tanpa menyiapkan bala tentara. Kami berdua akan menerobos memasuki sarang iblis dan membawa pulang Mamori sebelum ritual itu sempat berjalan..."
...
Sel tahanan istimewa, The Frozen Castle
Hiruma Youichi masih setia membopong gadis cantik itu. Entah apa yang dirasakan hati Youichi, tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. Ia melangkah perlahan menyusuri koridor gelap yang membawanya ke sel tahanan istimewa yang terkubur jauh dibawah lantai marmer yang diselubungi es tebal.
Hembusan nafasnya yang hangat menerpa leher si gadis, membuat aroma tubuh si gadis menguar dan memasuki lubang hidungnya. Wangi vanilla yang lembut dan manis menggelitik hidungnya, sementara bau angin yang bercampur darah juga turut serta memanjakan hidung mancungnya.
Hati Youichi meretas. Jiwanya yang hampir murni—karena pengaruh si gadis, Memori—kini hancur lebur sudah. Yang bisa ia rasakan saat ini adalah kucuran darah dalam batinnya—yang diretas paksa dengan sebilah belati.
"Aku mendapat izin dari Yuuya. Izinkan aku masuk." Perintah Youichi kasar, yang segera disambut anggukan dari sipir penjara istimewa. Dengan tergesa-gesa, mereka membuka gembok besar yang mengekang pintu besi berat yang berkarat. Menunggu beberapa saat, akhirnya gerbang itu terbuka. Youichi melengang masuk begitu saja—tidak menghiraukan sapaan sipir penjara yang membungkuk hormat padanya.
Dan, disanalah Youichi. Sel tahanan istimewa. Istimewa disini, bukanlah istimewa dalam hal yang baik. Justru sebaliknya. Sel ini gelap, pengap, dan penuh debu. Disana-sini terlihat sarang laba-laba. Penerangan di sel ini hanya dari obor-obor tua yang mulai meredup cahayanya.
Yang paling parah, sel ini adalah bangunan paling dasar di dunia bawah tanah—hingga untuk menutupi panas inti bumi yang membara, diperlukan begitu banyak es. Ruangan inilah yang paling dingin diantara semua tempat di kastil.
Menggigil sejenak, Youichi berjalan menuju sel paling pojok. Sel ini diperuntukkan untuk tahanan paling berbahaya—yang nantinya juga akan dijebloskan ke tiang gantungan. Jadilah sel ini tidak terawat. Bau keringat dan bau busuk bercampur jadi satu—membuat Youichi mengernyit. Namun, dengan gigihnya ia melewati sel demi sel tanpa mengubah ekspresi dinginnya sedikitpun. Mengedik sedikitpun tidak.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Didepan Youichi, kini terlihat pintu besi lain yang tak kalah besar dan berkaratnya dari gerbang utama. Namun, bedanya pintu ini tidak di gerendel. Youichi dengan leluasa bisa memasuki sel itu.
Dengan satu tangan, ia membuka pintu itu. Terdengar suara gesekan yang berat, seolah pintu ini tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Lalu, setelah pintu itu terbuka sepenuhnya, ia melangkahkan kakinya memasuki teritori itu.
Sel tahanan istimewa dari sel istimewa. Ruangannya hangat. Tidak berlantai marmer—bahkan, ada karpet tebal yang melapisi lantainya. Dan yang terpenting, berbau harum. Dan disanalah, Youichi melihat sosok itu. Tengah terduduk.
"Ah, Youichi. Sungguh kejutan yang tak disangka-sangka. Ada keperluan apa kau ke sel-ku?" suara lembut itu berasal dari sosok yang tengah terduduk itu—pojok sel, tertutupi bayangan. Youichi menolah-nolehkan kepalanya, mencoba mencari sosok itu.
"Sedihnya... ibu sudah bertahun-tahun tidak bertemu denganmu, Youichi... Bagaimana kabarmu?" sosok itu lalu menampakkan wujudnya. Dia berjalan perlahan menjauhi spot yang tidak tertimpa cahaya obor—mendekati Youichi.
"Ya, ibu... Sudah delapan tahun, ya?" suara Youichi pelan—hampir seperti bisikan, dan bergetar hebat. Wanita itu berjalan lebih dekat ke Youichi, sampai tangannya berhasil menyentuh pipi rapuh Youichi.
"Kau sudah besar nak... Dan kau mirip sekali dengan ayahmu." Wanita itu tersenyum hangat, kemudian membelai pipi Youichi pelan. Sorot mata Youichi melembut begitu matanya bertemu mata si wanita—yang sama persis dengan miliknya.
"Dan ibu tampak lebih tua..." baru inilah, Youichi bisa memperlihatkan senyum tulus. Ibu Youichi ikut tersenyum.
Wanita itu ayu parasnya. Rambutnya berwarna cokelat gelap, dengan mata hijau tua seperti Youichi. Meskipun sudah bertahun-tahun dia mendekam dalam sel ini, dia tidak kehilangan pesona cantiknya. Youichi sendiri bahkan sedikit terkejut ketika melihat ibunya.
"Lalu, Youichi... siapa gadis yang kau bawa itu? Apakah dia akan menjadi temanku di sel ini?" tanya Ibunya, membelai lembut rambut Mamori. Youichi mendengung pelan, mengiyakan.
"Korban ayah lagi. Namanya Anezaki Mamori. Dimanfaatkan untuk ritual cœur melange. Ayah titip dia pada ibu." Jawab Youichi seadanya. Ia kemudian meletakkan tubuh lunglai Mamori ke karpet dan berjongkok disampingnya—menyeka beberapa helai surai cokelat yang menghalangi paras ayunya.
"Astaga, dia cantik sekali..." ibu Youichi terkesiap, ikut berjongkok disamping anaknya untuk memandang wajah elok Mamori. Youichi tersenyum lemah ketika ibunya mengagumi kecantikan Mamori.
"Ya, kan? Dia cantik kan?" bisik Youichi lemah, menggenggam tangan Mamori kemudian meremasnya lembut. Ibunya menatap Youichi, kemudian membelai pipinya lagi.
"Selamatkan dia, Youichi. Tidak seharusnya dia menjadi korban atas keserakahan bangsa kita..." ibunya ikut berbisik, terhenyak menatap tatapan merana anaknya pada sosok yang terkulai lemah itu. Youichi hanya mengangguk singkat.
"Iya, Bu. Akan kuusahakan..." ujar Youichi, kemudian bangkit dari posisinya yang berjongkok. Ia merapikan kerah kemejanya, lalu tersenyum lagi pada ibunya.
"Kalau sempat—dan diperbolehkan, tentu saja—aku akan mengunjungi ibu lagi." Ujarnya pada sang ibu, lalu melangkah keluar dari sel istimewa itu. Ibunya tersenyum sedih.
"Tentu saja... aku sangat merindukanmu, kau tahu?" dia kemudian menepuk lengan kekar Youichi dan membelainya. Youichi tersenyum sekenanya, kemudian menutup pintu besi itu dan berjalan keluar—dengan pose semula, sebelum ia meletakkan Mamori di karpet lembut itu.
Youichi berjalan perlahan—meninggalkan gaung langkah kakinya yang terdengar menyeramkan. Lagi, aura membunuhnya berkoar-koar menyelubungi awaknya. Dengan seringai licik, ia berjalan kembali ke atas kastil—untuk menyiapkan rencana balas dendam.
To be continued
A/N: Oh yeah, benar. Saya udah lama enggak update yang ini. -,- Adakah yang ingat gimana jalan ceritanya? Pasti gak ada ya... ;;
Maafkan saya ya readers. Keterlambatan ini... tidak saya harapkan kok. Saya jadi buntu ide karena disiksa habis-habisan di SMA. Dan baru sekarang ini, saya tidak disiksa. Makanya, baru sekarang bisa dilanjutkan. Sialnya, saya malah tidak ingat ceritanya, dan mengharuskan saya membaca ulang chapter-chapter sebelumnya yang... euh... super gaje itu.
Dan, disini gaya bahasanya sudah berubah ya? Apakah OOC-nya sudah mulai berkurang? Saya rasa, kalau urusan OOC, sudah agak berkurang. Tapi, kalau masalah ceritanya... masih gak bisa konek ya? ;;
Oke deh, silakan tinggalkan review apapun iu. Kritikan, luapan kekecewaan, tamparan, apa saja. Makasih yang sudah baca :) Makasih juga yang sudah review, maaf belum bisa membalas. :(
Caossu~! :)
-jahe © 2011-
