Prince devil

Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto Sensei
Pairing : NaruHina
Ganre : -
Rated : M for 17+
Warning : Typo(s), EYD, OOC, AU, Pov Naruto, Geje, No flesback, Lemon asem, Dll.

.

.

.

Untk yang dibawah uur dan untuk gak suka lemon atau grape-grape diharap menyingkir, atau tanggung akbat sendiri, bnaru udah memperngati yah, jangan salahkan naru kalau kalian protes ceritanya ancur,, wkwkwk

Chapter 7

"Hai, memangnya kau tau apa yang akan aku katakan?" goda Naruto saat membuka pintu kamar Hinata sudah berbaring di kasur.

Sang wanita yang ditanya hanya melirik tajam kearah lelaki yang sudah membuatnya terjerat di kehidupannya. "Entahlah, yang pasti bukan hal yang baik." memalingkan wajahnya yang merona karena mengatakan kata-kata tabu.

"Waw, benarkah?" berjalan mendekat kearah Hinata, Naruto duduk dipinggir kasur king sizenya.

"Naruto-sama tidur di luar." sambil melempar bantal dan berbalik memunggungi Naruto.

"Aku tidak mau, enak saja!" melompat dan langsung memeluk tubuh Hinata dari belakang.

"Kalau begitu aku saja."

"Tidak boleh." mempererat pelukannya Naruto membisikan lagi. "Nanti malam aku punya kejutan untuk mu." dengan jilatan panjang di leher Hinata, dan sang wanita mendesah selama lidah tuannya masih menjilat lehernya.

"Ke-kejutan? Ah." tidak bisa menahan lagi Hinata menahan kepala tuannya agar tidak meeruskan perbuatan mesumnya.

"Kenapa? Ini hanya seperti biasa?" Naruto protes karena Hinata menahan kepalanya.

"Ta-Tapi tubuhku jangan diraba Naruto-sama." seolah tersadar kedua tangan Naruto sudah masuk kedalam kemeja dan rok Hinata. Membuat Hinata mendesah saat tangan-tangan nakal Naruto membelai kulit yang entah sejak kapan jadi sensitif seperti itu.

"Tapi kau suka." dikecupnya lagi bibir ranum Hinatta yang menurut Naruto sangat mengiurkan itu, melirik kedua tangannya, Naruto menyeringai terus membelai tubuh Hinata yang semakin menjadi. "Kita lanjutkan Hinata." setelah kalimat itu Naruto membuka baju dan rok Hinata secara terburu-buru.

"Kyaaaa, Naruto-sama!" jerit Hinata dan Naruto langsung membungkam Hinata dengan ciuman panas lainnya, mengajak Hinata bermain lidah dan sang pemenangnya tentu saja sang lelaki diatas Hinata. Nafas Hinata tidak teratur menandakan gejolak jantungnya memompat dengan cepat walaupun dia tidak belari namun aktifitas dengan tuannya saat ini membuatnya berkeringat hebat. Udara disekitarnya yang dingin oleh Ac kamar tidak membantu sama sekali. Namun mereka masih terus melakukan aktifitas itu selama 20 menit.

Naruto membelai kemaluan Hinata hingga Hinata dibuat mendesah tak karuan.

"Naruto-sama ah, eh uhh!" mendesah karena dibelai dan dihisap kedua putingnya oleh tangan dan mulut sang tuan, dan bagian bawahnya dimanja oleh tangan kanan sang tuan.

Setelah beberapa saat Naruto membuka baju dan celana yang dipakainya. Menghempaskannya sembarang. Setelah sekejap ditinggalkan Hinata menahan nafasnya melihat tubuh telanjang tuannya. Memang sih Hinata sering melihat tuannya telanjang dada, namun sekarang dia bisa melihat bagian bawah sang tuan, melihat adik kecil tuannya yang menegang dan sepertinya siap untuk menusukannya didalam veginannya. Dan Hinata berfikir apakah akan muat didalamnya adik kecil Hinata. Melihatnya saja membuat Hinata bergidik ngeri.

"Na-Naruto-sama!" memalingkan wajah dari sang tuannya. Hinata ingin menutup tubuh telanjangnya namun, sang tuan sudah memposisikan diatas tubuhnya lagi.

"Tenanglah Hinata, kemarin malam juga masuk kok," seringai tampan tercetak jelas saat menyadari raut wajah Hinata yang mudah saja Naruto baca.

"Ti-tidak, ahh Na-Naruto-sama!" jerit Hinata saat kejantanan Naruto mesuk pelan-pelan kedalam veginannya. Jujur rasanya perih, memaksakan kejantanan yang sebesar itu masuk. Pasti akan sakit sekali bukan.

"Tenanglah Hinata, rileks." suara Naruto lembut, memberikan kecupan-kecupan ringan untuk membiasakan Hinata dimasuki olehnya.

"Ahh, Naruto-sama." lenguh Hinata saat kejantanan Naruto telah masuk sepenuhnya. Naruto mendorong pelan kejantanannya supaya masuk sepenuhnya. Menatap wajah Hinata yang mulai mengeluarkan air mata. Mungkin sangat sakit, sehingga sia menunggu Hinata untuk terbiasa.

"Aku akan bergerak setelah kau tidak merasa sakit seperti tadi." bisik pelan Naruto dan mencium leher kiri Hinata. Meremas kedua puting Hinata dan terus melancarkan pijatan-pijatan di atas tubuh Hinata. Sang wanita yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa mendesah dan terus meracau.

"Na-Naruto-sama bisa bergerak sekarang." dan pinggulnya mulai bergoyang kekanan dan kekiring meminta tuannya untuk bergerak.

Mendapatkan lampu Hijau Naruto langsung menarik dan menusuk vegina Hinata dengan seluruh kejantananya yang terbenam didalam rahim sang wanita.

Hinata sudah beberapa kali Orgasme, dan Naruto masih saja mencumbunya. Bahkan waktu seolah dihiraukan oleh mereka.

Naruto yang masih sangat bernafsu tidak mengindahi Hinata untuk menghentikannya.

"Na-Naruto-sama, ahhhh." orgasme untuk yang ke 20 kalinya Hinata rasakan. Apakah tuannya ini maniak sax pikir Hinata yang terus di cumbu brutal oleh tuannya. Hinata yang melihat jam sudah pukul setengah dua belas malam, melotot kaget. Pasalnya mereka tiba di rumah jam 7 malam, dan istirahat selama 1 jam. Berati mereka sudah melakukannya selama 4 jam lebih. Pantas saja tubuh Hinata rasanya mati rasa. Menahan tubuh Naruto yang akan menyerangnya lagi, membuat sang lelaki sedikit kesal."Aku belum orgasme Hinata!." teriaknya kesal karena orgasmenya dihentikan oleh Hinata.

"Naruto-sama punya pil supaya aku tidak hamil?" tanya Hinata.

"Tidak." jawab acuh Naruto, dan membuat Hinata melotot. Pasalnya sudah lebih dari 10 kali Naruto menyemburkan sepermanya kedalam dirinya.

"Naruto-sama! Kita harus membeli obat pencegah hamil, aku tidak mau hamil diusia muda." memaksa kejantanan Naruto terlepas padahal sedang diujung tanduk. Naruto menatap bosan Hinata. "Dan bila aku hamil aku akan menghajar Naruto-sama." sambil melesat kekamar mandi, Hinata membersikan sisa-sisa seperma yang masih didalam veginanya.

.

.

.

"Sial, ternyata banyak sekali." rutuk Hinata yang tengah melihat cairan cintanya dengan sang tuan. "Dan lagi, kenapa Naruto-sama tidak memakai kondom sih." keluh Hinata, mengingat cerita temannya yang selalu mengenakan kondom supaya aman dari ketakutannya.

Setelah setengah jam didalam kamar mandi. Hinata keluar dengan selembar handuk yang tidak bisa menutupi payudaranya yang besar dengan sempurna.

"Selamat ulang tahun Hinata." Naruto melihat kedua mata Hinata membola dengan sempurna.

"Na-Naru-" sebelum kalimat Hinata terucap.

"Naruto-kun. Panggil aku dengan nama itu, seperti dulu." ujar Naruto mengecup bibir Hinata yang masih melongo.

Dan Hinata hanya bisa tersenyum kaku.

"Tidak jadi mencari obat pencegah hamil?" goda Naruto, sehingga mengingatkan Hinata lagi. Setelah meniup lilinya, Hinata langsung bergegas membuka kopernya dan mencari pakaian untuk keluar malam ini.

"Eh iya aku lupa." dan setelah kalimat itu Hinata mengambil pakaian yang ada di kopernya dan akan berjalan kearah kamar mandi.

"Padahal kalau kau hamil aku akan bertanggung jawab." dan satu delikan dilancarkan oleh Hinata, dan Hinata berjalan kearah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Selama 5 menit Hinata berganti pakaian, dan Naruto menunggu Hinata keluar, dia sudah berpakaian dari tadi, sehingga dia hanya menunggu Hinata di kamar mereka.

"Lama!" kesal Naruto yang menunggu sambil tidur-tiduran.

"Ayo." Hinata tidak menggubris kekesalan Naruto, malahan ia menarik tangan kanan sang lelaki.

"Aku tidak mau." sambil memalingkan mukannya kekanak-kanakan.

"Jangan seperti anak kecil Naruto-kun."

"Siapa yang seperti anak kecil?!"

"Naruto-kun."

"Aku tidak seperti anak kecil!"

Satu helaan nafas Hinata buang dengan kasar. "Baiklah Naruto-kun bukan anak kecil!" suara Hinata sedikit meninggi, dan langsung mendapatkan rengutan kesal sang lelaki.

"Kau menghina ku!" dan Hinata semakin tidak bisa habis pikir dengan tingkah tuannya ini. Hello ini sudah pagi dan Hinata harus mencari obat yang bisa mencegahnya untuk hamil. Dan dilihat dari berapa banyak sperma yang Hinata lihat tadi belum yang diatas kasur mereka, bisa ia pastikan ia akan hamil titik dan itu membuatnya resah, pasalnya dia masih 16 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dia tidak ingin putus sekolah karena insiden hamil dan dihamili ini. Oh god Hinata tidak habis pikir dengan pemikiran Naruto.

"Tidak mungkin Naruto-sama." suflix diganti dan membuat Naruto mendelik tak suka.

"Kau ulangi lagi, sampai besok aku tidak mengijinkan mu untuk pergi."

"Eh?"

"Katakan nama ku, dan aku akan mengantarkan mu."

Owh, dia marah karena itu. "Naruto-kun." ujar Hinata setelah disuruh Naruto.

"Baiklah Kita keluar mencari makan." ujar Naruto cepat, sebelum Hinata protes lagi Naruto sudah menarik Hinata yang terus mengomel diperjalanan keluar mereka.

"Tapi kita akan ke apotek bukan?" walau tubuhnya remuk Hinata masih bisa memaksakan dirinya untuk berjalan. Namun dia tidak bisa mengimbangi Naruto yang berjalan pelan didepannya. Seolah tersadar Hinata nya selalu memaksanya untuk pelan-pelan Naruto menghela nafas menyadari kebodohannya.

"Mau ku gendong?" tawar Naruto kepada Hinata yang masih berjalan pelan.

"Tidak perlu, terima kasih." mendengus kesal, memangnya ini karena siapa coba.

"Kau begini kita tak kan mendapatkan obatnya." melihat jalan Hinata yang dipaksa itu membuat Naruto khawatir dan inginnya sih dia menyuruh Kakashi untuk membelikan keperluan Hinata. "Aku akan menghubungi Kakashi dulu." ujar Naruto pada akhirnya.

/Mosi-Mosi/

"Kakashi bisa kau belikan beberapa obat di apotek terdekat."

/Aku akan cari apotek 24 jam, memangnya ada yang sakit? Kenapa tidak langsung ke dokter saja./ helaan nafas berat terdengar dari sebrang sana.

"Tidak ada yang sakit, hanya saja Hinata tidak mau hamil muda." ujar Naruto sekenanya.

"Na-Naruto!" suara dibelakangnya meninggi, bisa dipastikan Hinata sungguh malu, Naruto dengan seenaknya mengatakan hal-hal yang begitu dengan orang lain, dengan santainnya pula. Meninju punggung tegap didepannya. Hinata berengut kesal.

"Kenapa sih Hinata?" Naruto mengaduh sebentar, karena Hinata benar-benar memukulnya dengan sekuat tenaga, walaupun tidak terlalu sakit sih.

"Kau yang kenapa!" kesal Hinata, dan mengambil ponsel Naruto. "Hallo Kakashi-san." Hinata berucap pelan.

/Iya Hinata-sama./ jawab suara disebrang.

"Anu, bisakah kau membelikan obat untuk pencegahan kehamilan, Tuan mu ini membuat kesalahan semalam." ujar Hinata dan mendapat delikan tajam dari Naruto.

/Bisa Nona, baik lah saya akan segera membelikannya untuk anda. Semoga anda menikmati hari anda./ setelah Hinata meng'iya'kan sambungan diputuskan dari sebrang sana.

"Puas?!" tanya kesal Naruto dan menggeret Hinata kebawah untuk mencari makan. Dan lupakan soal Hinata yang memberontak selama perjalanannya.

.

"Ini Nona." Kakashi menyodorkan sesuatu kearah Hinata, setelah 1 jam menunggu dan sekarang pukul 3 pagi, mereka selesai makan dan apa yang dia dapat ditangannya. Sebuah pil vitamin?

"Kau pasti bercanda Kakashi-san." ujar Hinata melirik kesal pada pemuda yang disampingnya.

"Maafkah hamba, tapi Tuan-muda meminta saya membelikan vitamin ini." ujarnya sambil membungkuk.

"Narutoooo!" mendelik tajam kearah Naruto.

"Apa?"

"Kau ini." Hinata bangkit dan menggebrak meja restoran yang disediakan Apartemen mewah itu yang buka 24 jam.

"Hai, kenapa sih?!" Naruto juga ikut-ikutan kesal.

"Ini salah mu!" Hinata menunjuk wajah Naruto yang dibuat kesal dan terkejut.

"Lalu?"

"Kau, kau." Hinata kehilangan kata-katanya, inginnya sih Naruto bertanggung jawab, tapi Hinata tiba-tiba menghentikan ucapannya dan membungkam mulutnya dengan tangan kanan nya. "Harusnya aku membeli sendiri." rutuknya sambil mendelik kearah Naruto.

"Hai, tadi kau mau bilang apa? Tidak mungkin kau mau mengatakan yang barusan." Naruto berdiri berhadapan dengan Hinata. "Jangan berfikir yang tidak-tidak Hinata." sambil mengecup bibir Hinata sekilas, dan Kakashi sudah pergi saat mereka mulai bertengkar tadi.

"Uhh, hentikan Naruto-kun." ujar pelan Hinata dan memilih kembali keapartemen Naruto.

"Besok kau pindah ke apartemen ku." setelah menyamakan jalan dengan Hinata, Naruto berbisik ditelinga kanan Hinata.

"Aku tidak mau." ujar Hinata pelan dan memalingkan wajahnya. "Dan jangan berharap aku mau tinggal bersama mu, walau kau memaksa pun. Aku tidak mau!" entah kenapa Hinata jadi berani melawan Naruto, padahal biasanya dirinya penurut.

"Kau sekarang suka membangkang yah Hinata-chan." menarik tangan Hinata, mendekapnya erat.

"Se-Sesak Naruto-kun." ujar Hinata saat Naruto mempererat pelukannya.

"Salah sendiri." dilonggarkannya pelukannya, sambil menatap kedua mata lavender Hinata. "Kenapa kau tidak ingin tinggal bersama ku, hah?" tanya Naruto lagi setelah Hinata hanya diam tak menjawabnya.

"Ka-karena nanti Naruto-kun mesum lagi." ucapan Hinata membuat Naruto menyeringai.

"Kau pikir ini salah siapa? Hah!" tawa renyah Naruto berikan atas ucapan Hinata.

"Gerr, berhenti menertawakan ku, dan aku mengantuk, kau melakukannya sampai malam, dan aku tidak sempat untuk tidur dan istirahat." keluh Hinata dan memaksa Naruto untuk membebaskannya dari pelukan mautnya.

"Baiklah." Naruto membiarkan Hinata memasuki apartemennya.

"Aku lupa memberi kabar orang tua ku." keluh Hinata frustasi. "Ini gara-gara Naruto tidak memberikan aku waktu dan istirahat sebentar." keluh Hinata saat dirinya sudah memasuki kamarnya.

"Kau cepat sekali tidurnya Hinata!" Naruto memanggil Hinata yang tengah kealam mimpi.

"Aku ngantuk Naruto-kun." gumam Hinata disaat tidurnya.

"Cih, ya sudahlah." memeluk protektif tubuh Hinata, menyamankan dirinya diatas kasur king size, "Kau hanya milik ku seorang Hinata." bisik Naruto pelan, memberi mantra supaya Hinata tidak pernah berpaling dari dirinya.

T.B.C

#kyaaaa, maaf kan naru,,,, gak bisa ngebela,,, edit

pendek kah? Yap naru cuman bisa nulis segini

Maaf gak bisa bales review, sejujurnya naru kena WB selama 1 bulan ini, tapi entah kenapa pas ada yang review kemaren di fict 'Sang Author' naru langsung buat ceritanya, dan jadinya naru cuman bisa buat segini #hehehe

Happy NaruHina Day

NaruHina Alwas Shipper

[Edit]

16-02-2016